Luthfi Assyaukanie - Al-Quran sudah tidak asli lagi
Satu lagi dari grup Jaringan Islam Liberal / Paramadina - menurut salah satu tokohnya, Al-Quran yang kita pegang pada saat ini sudah tidak asli lagi.
Pada posting ini saya akan lampirkan tulisan Luthfi selengkapnya yang saya kutip dari milis INSIST net. Kemudian saya akan posting juga bantahannya dari Fahmi Salim.
Semoga bermanfaat,
Dikutip dari:
Luthfi Assyaukanie.
Dosen Sejarah Pemikiran Islam
Universitas Paramadina
Jakarta
Sebagian besar kaum Muslim meyakini bahwa Alquran dari halaman pertama hingga terakhir merupakan kata-kata Allah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad secara verbatim, baik kata-katanya (lafdhan) maupun maknanya (ma’ nan). Kaum Muslim juga meyakini bahwa Alquran yang mereka lihat dan baca hari ini adalah persis seperti yang ada pada masa Nabi lebih dari seribu empat ratus tahun silam.
Keyakinan semacam itu sesungguhnya lebih merupakan formulasi dan angan-angan teologis (al-khayal al-dini) yang dibuat oleh para ulama sebagai bagian dari formalisasi doktrin-doktrin Islam.
Hakikat dan sejarah penulisan Alquran sendiri sesungguhnya penuh dengan berbagai nuansa yang delicate (rumit), dan tidak sunyi dari perdebatan, pertentangan, intrik, dan rekayasa.
Alquran dalam bentuknya yang kita kenal sekarang sebetulnya adalah sebuah inovasi yang usianya tak lebih dari 79 tahun. Usia ini didasarkan pada upaya pertama kali kitab suci ini dicetak dengan percetakan modern dan menggunakan standar Edisi Mesir pada tahun 1924. Sebelum itu, Alquran ditulis dalam beragam bentuk tulisan tangan (rasm) dengan teknik penandaan bacaan (diacritical marks) dan otografi yang bervariasi.
Hadirnya mesin cetak dan teknik penandaan bukan saja membuat Alquran menjadi lebih mudah dibaca dan dipelajari, tapi juga telah membakukan beragam versi Alquran yang sebelumnya beredar menjadi satu standar bacaan resmi seperti yang kita kenal sekarang.
Pencetakan Edisi Mesir itu bukanlah yang pertamakali dalam upaya standarisasi versi-versi Alquran. Sebelumnya, para khalifah dan penguasa Muslim juga turun-tangan melakukan hal yang sama, kerap didorong oleh keinginan untuk menyelesaikan konflik-konflik bacaan yang muncul akibat beragamanya versi Alquran yang beredar.
Tapi pencetakan tahun 1924 itu adalah ikhtiyar yang luar biasa, karena upaya ini merupakan yang paling berhasil dalam sejarah kodifikasi dan pembakuan Alquran sepanjang masa. Terbukti kemudian, Alquran Edisi Mesir itu merupakan versi Alquran yang paling banyak beredar dan digunakan oleh kaum Muslim.
Keberhasilan penyebarluasan Alquran Edisi Mesir tak terlepas dari unsur kekuasaan. Seperti juga pada masa-masa sebelumnya, kodifikasi dan standarisasi Alquran adalah karya institusi yang didukung oleh –dan menjadi bagian dari proyek– penguasa politik. Alasannya sederhana, sebagai proyek amal (non-profit), publikasi dan penyebaran Alquran tak akan efektif jika tidak didukung oleh lembaga yang memiliki dana yang besar.
Apa yang telah dilakukan oleh pemerintah Saudi Arabia mencetak ratusan ribu kopi Alquran sejak tahun 1970-an merupakan bagian dari proyek amal yang sekaligus juga merupakan upaya penyuksesan standarisasi kitab suci. Kendati tidak seperti Uthman bin Affan yang secara terang-terangan memerintahkan membakar seluruh versi (mushaf) Alquran yang bukan miliknya (kendati tidak benar-benar berhasil), tindakan penguasa Saudi membanjiri pasar Alquran hanya dengan satu edisi, menutupi dan perlahan-lahan menyisihkan edisi lain yang diam-diam masih beredar (khususnya di wilayah Maroko dan sekitarnya).
Agaknya, tak lama lagi, di dunia ini hanya ada satu versi Alquran, yakni versi yang kita kenal sekarang ini. Dan jika ini benar-benar terwujud (entah kapan), maka itulah pertama kali kaum Muslim (baru) boleh mendeklarasikan bahwa mereka memiliki satu Alquran yang utuh dan seragam.
Edisi Mesir adalah salah satu dari ratusan versi bacaan Alquran (qiraat) yang beredar sepanjang sejarah perkembangan kitab suci ini. Edisi itu sendiri merupakan satu versi dari tiga versi bacaan yang bertahan hingga zaman modern. Yakni masing-masing, versi Warsh dari Nafi yang banyak beredar di Madinah, versi Hafs dari Asim yang banyak beredar di Kufah, dan versi al-Duri dari Abu Amr yang banyak beredar di Basrah.Edisi Mesir adalah edisi yang menggunakan versi Hafs dari Asim.
Versi bacaan (qiraat) adalah satu jenis pembacaan Alquran. Versi ini muncul pada awal-awal sejarah Islam (abad pertama hingga ketiga) akibat dari beragamnya cara membaca dan memahami mushaf yang beredar pada masa itu. Mushaf adalah istilah lain dari Alquran, yakni himpunan atau kumpulan ayat-ayat Allah yang ditulis dan dibukukan.
Sebelum Uthman bin Affan (w. 35 H), khalifah ketiga, memerintahkan satu standarisasi Alquran yang kemudian dikenal dengan “Mushaf Uthmani,” pada masa itu telah beredar puluhan –kalau bukan ratusan– mushaf yang dinisbatkan kepada para sahabat Nabi. Beberapa sahabat Nabi memiliki mushafnya sendiri-sendiri yang berbeda satu sama lain, baik dalam hal bacaan, susunan ayat dan surah, maupun jumlah ayat dan surah.
Ibn Mas’ud, seorang sahabat dekat Nabi, misalnya, memiliki mushaf Alquran yang tidak menyertakan surah al-Fatihah (surah pertama). Bahkan menurut Ibn Nadiem (w. 380 H), pengarang kitab al-Fihrist, mushaf Ibn Mas’ud tidak menyertakan surah 113 dan 114. Susunan surahnyapun berbeda dari Alquran yang ada sekarang. Misalnya, surah keenam bukanlah surah al-An’am, tapi surah Yunus.
Ibn Mas’ud bukanlah seorang diri yang tidak menyertakan al-Fatihah sebagai bagian dari Alqur’an. Sahabat lain yang menganggap surah “penting” itu bukan bagian dari Alquran adalah Ali bin Abi Thalib yang juga tidak memasukkan surah 13, 34, 66, dan 96. Hal ini memancing perdebatan di kalangan para ulama apakah al-Fatihah merupakan bagian dari Alquran atau ia hanya merupakan “kata pengantar” saja yang esensinya bukanlah bagian dari kitab suci.
Salah seorang ulama besar yang menganggap al-Fatihah bukan sebagai bagian dari Alquran adalah Abu Bakr al-Asamm (w. 313 H). Dia dan ulama lainnya yang mendukung pandangan ini berargumen bahwa al-Fatihah hanyalah “ungkapan liturgis” untuk memulai bacaan Alqur’an. Ini merupakan tradisi popular masyarakat Mediterania pada masa awal-awal Islam.
Sebuah hadis Nabi mendukung fakta ini: “siapa saja yang tidak memulai sesuatu dengan bacaan alhamdulillah [dalam hadis lain bismillah] maka pekerjaannya menjadi sia-sia.”
Perbedaan antara mushaf Uthman dengan mushaf-mushaf lainnya bisa dilihat dari komplain Aisyah, isteri Nabi, yang dikutip oleh Jalaluddin al-Suyuthi dalam kitabnya, al-Itqan, dalam kata-kata berikut: “pada masa Nabi, surah al-Ahzab berjumlah 200 ayat. Setelah Uthman melakukan kodifikasi, jumlahnya menjadi seperti sekarang [yakni 73 ayat].” Pandangan Aisyah juga didukung oleh Ubay bin Ka’b, sahabat Nabi yang lain, yang didalam mushafnya ada dua surah yang tak dijumpai dalam mushaf Uthman, yakni surah al-Khal’ dan al-Hafd.
Setelah Uthman melakukan kodifikasi dan standarisasi, ia memerintahkan agar seluruh mushaf kecuali mushafnya (Mushaf Uthmani) dibakar dan dimusnahkan.
Sebagian besar mushaf yang ada memang berhasil dimusnahkan, tapi sebagian lainnya selamat. Salah satunya, seperti kerap dirujuk buku-buku ‘ulum al-Qur’an, adalah mushaf Hafsah, salah seorang isteri Nabi, yang baru dimusnahkan pada masa pemerintahan Marwan ibn Hakam (w. 65 H) beberapa puluh tahun kemudian.
Sebetulnya, kendati mushaf-mushaf para sahabat itu secara fisik dibakar dan dimusnahkan, keberadaannya tidak bisa dimusnahkan dari memori mereka atau para pengikut mereka, karena Alquran pada saat itu lebih banyak dihafal ketimbang dibaca. Inilah yang menjelaskan maraknya versi bacaan yang beredar pasca-kodifikasi Uthman. Buku-buku tentang varian-varian bacaan (kitab al-masahif) yang muncul pada awal-awal abad kedua dan ketiga hijriah, adalah bukti tak terbantahkan dari masih beredarnya mushaf-mushaf klasik itu.
Dari karya mereka inilah, mushaf-mushaf sahabat yang sudah dimusnahkan hidup kembali dalam bentuk fisik (teks tertulis).
Sejarah penulisan Alqur’an mencatat nama-nama Ibn Amir (w. 118 H), al-Kisai (w. 189 H), al-Baghdadi (w. 207 H); Ibn Hisyam (w. 229 H), Abi Hatim (w. 248 H), al-Asfahani (w. 253 H) dan Ibn Abi Daud (w. 316 H) sebagai pengarang-pengarang yang menghidupkan mushaf-mushaf klasik dalam karya masahif mereka (umumnya diberijudul kitab al-masahif atau ikhtilaf al-masahif). Ibn Abi Daud berhasil mengumpulkan 10 mushaf sahabat Nabi dan 11 mushaf para pengikut (tabi’in) sahabat Nabi.
Munculnya kembali mushaf-mushaf itu juga didorong oleh kenyataan bahwa mushaf Uthman yang disebarluaskan ke berbagai kota Islam tidak sepenuhnya lengkap dengan tanda baca, sehingga bagi orang yang tidak pernah mendengar bunyi sebuah kata dalam Alquran, dia harus merujuk kepada otoritas yang bisa melafalkannya. Dan tidak sedikit dari pemegang otoritas itu adalah para pewaris varian bacaan non-Uthmani.
Otoritas bacaan bukanlah satu-satunya sumber yang menyebabkan banyaknya varian bacaan. Jika otoritas tidak dijumpai, kaum Muslim pada saat itu umumnya melakukan pilihan sendiri berdasarkan kaedah bahasa dan kecenderungan pemahamannya terhadap makna sebuah teks. Dari sinilah kemudian muncul beragam bacaan yang berbeda akibat absennya titik dan harakat (scripta defectiva). Misalnya bentuk present (mudhari’) dari kata a-l-m bisa dibaca yu’allimu, tu’allimu, atau nu’allimu atau juga menjadi na’lamu, ta’ lamu atau bi’ilmi.
Yang lebih musykil adalah perbedaan kosakata akibat pemahaman makna, dan bukan hanya persoalan absennya titik dan harakat. Misalnya, mushaf Ibn Mas’ud berulangkali menggunakan kata “arsyidna” ketimbang “ihdina” (keduanya berarti “tunjuki kami”) yang biasa didapati dalam mushaf Uthmani. Begitu juga, “man” sebagai ganti “alladhi” (keduanya berarti “siapa”). Daftar ini bisa diperpanjang dengan kata dan arti yang berbeda, seperti “al-talaq” menjadi “al-sarah” (Ibn Abbas), “fas’au” menjadi “famdhu” (Ibn Mas’ud), “linuhyiya” menjadi “linunsyira” (Talhah), dan sebagainya.
Untuk mengatasi varian-varian bacaan yang semakin liar, pada tahun 322 H, Khalifah Abbasiyah lewat dua orang menterinya Ibn Isa dan Ibn Muqlah, memerintahkan Ibn Mujahid (w. 324 H) melakukan penertiban. Setelah membanding-bandingkan semua mushaf yang ada di tangannya, Ibn Mujahid memilih tujuh varian bacaan dari para qurra ternama, yakni Nafi (Madinah), Ibn Kathir (Mekah), Ibn Amir (Syam), Abu Amr (Bashrah), Asim, Hamzah, dan Kisai (ketiganya dari Kufah). Tindakannya ini berdasarkan hadis Nabi yang mengatakan bahwa “Alquran diturunkan dalam tujuh huruf.”
Tapi, sebagian ulama menolak pilihan Ibn Mujahid dan menganggapnya telah semena-mena mengesampingkan varian-varian lain yang dianggap lebih sahih. Nuansa politik dan persaingan antara ulama pada saat itu memang sangat kental. Ini tercermin seperti dalam kasus Ibn Miqsam dan Ibn Shanabudh yang pandangan-pandangannya dikesampingkan Ibn Mujahid karena adanya rivalitas di antara mereka, khususnya antara Ibn Mujahid dan Ibn Shanabudh.
Bagaimanapun, reaksi ulama tidak banyak punya pengaruh. Sejarah membuktikan pandangan Ibn Mujahid yang didukung penguasa itulah yang kini diterima orang banyak (atau dengan sedikit modifikasi menjadi 10 atau 14 varian). Alquran yang ada di tangan kita sekarang adalah salah satu varian dari apa yang dipilihkan oleh Mujahid lewat tangan kekuasaan. Yakni varian bacaan Asim lewat Hafs. Sementara itu, varian-varian lain, tak tentu nasibnya. Jika beruntung, ia dapat dijumpai dalam buku-buku studi Alquran yang sirkulasi dan pengaruhnya sangat terbatas.
** Apa yang bisa dipetik dari perkembangan sejarah Alquran yang saya paparkan secara singkat di atas? Para ulama, khususnya yang konservatif, merasa khawatir jika fakta sejarah semacam itu dibiarkan diketahui secara bebas.
Mereka bahkan berusaha menutup-nutupi dan mengaburkan sejarah, atau dengan memberikan apologi-apologi yang sebetulnya tidak menyelesaikan masalah, tapi justru membuat permasalahan baru. Misalnya, dengan menafsirkan hadis Nabi “Alquran diturunkan dalam tujuh huruf” dengan cara menafsirkan “huruf” sebagai bahasa, dialek, bacaan, prononsiasi, dan seterusnya yang ujung-ujungnya tidak menjelaskan apa-apa.
Saya sependapat dengan beberapa sarjana Muslim modern yang mengatakan bahwa kemungkinan besar hadis itu adalah rekayasa para ulama belakangan untuk menjelaskan rumitnya varian-varian dalam Alquran yang beredar. Tapi, alih-alih menjelaskan, ia malah justru mengaburkan.
Mengaburkan karena jumlah huruf (bahasa, dialek, bacaan, prononsiasi), lebih dari tujuh. Kalau dikatakan bahwa angka tujuh hanyalah simbol saja untuk menunjukkan “banyak,” ini lebih parah lagi, karena menyangkut kredibilitas Tuhan dalam menyampaikan ayat-ayatnya.
Apakah kita mau mengatakan bahwa setiap varian bacaan, baik yang berbeda kosakata dan pengucapan (akibat dari jenis penulisan dan tatabahasa) merupakan kata-kata Tuhan secara verbatim (apa adanya)? Jika tidak terkesan rewel dan simplistis, pandangan ini jelas tak bertanggungjawab, karena ia mengabaikan fakta kaum Muslim pada awal-awal sejarah Islam yang sangat dinamis.
Lalu, bagaimana dengan keyakinan bahwa Alquran dari surah al-Fatihah hingga al-Nas adalah kalamullah (kata-kata Allah) yang diturunkan kepada Nabi baik kata dan maknanya (lafdhan wa ma’nan)? Seperti saya katakan di atas, keyakinan semacam ini hanyalah formula teologis yang diciptakan oleh para ulama belakangan. Ia merupakan bagian dari proses panjang pembentukan ortodoksi Islam.
Saya cenderung meyakini bahwa Alquran pada dasarnya adalah kalamullah yang diwahyukan kepada Nabi tapi kemudian mengalami berbagai proses “copy-editing” oleh para sahabat, tabi’in, ahli bacaan, qurra, otografi, mesin cetak, dan kekuasaan. Proses-proses ini pada dasarnya adalah manusiawi belaka dan merupakan bagian dari ikhtiyar kaum Muslim untuk menyikapi khazanah spiritual yang mereka miliki.
Saya kira, varian-varian dan perbedaan bacaan yang sangat marak pada masa-masa awal Islam lebih tepat dimaknai sebagai upaya kaum Muslim untuk membebaskan makna dari kungkungan kata, ketimbang mengatribusikannya secara simplistis kepada Tuhan. Seperti dikatakan seorang filsuf kontemporer Perancis, teks –dan apalagi teks-teks suci, selalu bersifat “repressive, violent, and authoritarian.” Satu-satunya cara menyelamatkannya adalah dengan membebaskannya.
Generasi awal-awal Islam telah melakukan pembebasan itu, dengan menciptakan varian-varian bacaan yang sangat kreatif. Jika ada pelajaran yang bias diambil dari sejarah pembentukan Alquran, saya kira, semangat pembebasan terhadap teks itulah yang patut ditiru, tentu saja dengan melakukan kreatifitas-kreatifitas baru dalam bentuk yang lain.


June 8th, 2005 09:40
Assalamualaikum wr,wb.
Saya masih percaya bahwa “Allah yg menurunkan Al’Quran dan Allah juga yang menjaganya”….dan… “Apabila Jin dan Manusia bersekutupun tidak akan sanggup membuat yang serupa dengan Al-Quran”…serta “Apabila Allah menghendaki segala sesuatu didunia ini terjadi maka cukup Allah berkata JADI MAKA TERJADILAH”…amin…semoga Allah melindungi kita dan selalu memberikan hidayan NYA…amin
July 7th, 2005 12:37
Assalamualaikum wr,wb.Segala sesuatu yang terjadi saat ini hanyalah godaan belaka, saya berpendapat bahwa semua itu belum tentu adanya kebenaran. Saya selalu percaya kepada Allah pencipta alam semesta, dia tidak akan membiarkan umatnya untuk mengaduk - aduk Alquran. Apalagi bisa bertahan sampai saat ini dan dipergunakan untuk kepentingan umatnya. Semoga Allah mengampuni kalian, amin
October 10th, 2005 06:52
Assalamu’alaikum Wr. Wb.
Saya masih percaya lo ama alquran sampai sekarang, selebihnya hanya kepada Allah gitu lo!!!!!
January 10th, 2006 14:24
Tulisan As-Syaukanie cukup bagus menurut saya. Hanya saja saya perlu menyarakankan agar beliau lebih memperluas lagi tulisannya dengan menyertakan referensi yg cukup dan jelas, sehingga tulisan tersebut benar-2 bisa ilmiah, insya Allah. Kemudian saya juga menyarakankan agar beliau bisa membaca lebih lanjut dan mendetail seputar sejarah penulisan al-Qur’an yg sudah disepakati oleh para ulama kaum muslimin dan seputar keragamaan qir’aah sejak zaman nabi saw. Sekian semoga bermanfaat.
Al-Qur’an sudah dijanjikan oleh Allah akan tetap seperti sebagaimana diturunkan kepada Nabi dan tidak akan berubah sampai akhir zaman,
dan apabila anda masih bersikeras dengan sifat anda seperti itu, saya tidak dapat berbuat apa-apa dan hanya dapat mendoakan agar anda kembali kejalan yang benar.
Karena apabila anda sudah tidak percaya Al-Qur’an itu kalam Allah dan janji Allah terhadap kalam tersebut saya tidak ikut campur dengan yang akan terjadi pada anda.
Kita lihat saja bagai mana akhirnya anda atau kami kaum muslimin yang benar.
sekian saya
Wassalamualaikum
May 27th, 2006 19:06
masih murni lho, makanya bljr bahasa arab, lagipula pe4maparan argumen sich kurang ilmiah(tdk dicantumkan sumber yang jelas)dan bisa dibilang pendapatnya itulah yang kurang asli.
August 13th, 2006 05:21
Assalamualaikum,
Tuan penulis ini cuba menyogokkan tulisan dengan menyelitkan dongen sejarah supaya nampak ilmiah, siapa siapa pun boleh mencerita sesuatu hikayat yang disaluti sejarah supaya di percayai, masukan sedikit sedikit istilah arab, nama nama tokoh arab, soal nya benarkah sejarah pengumpulan Al Qur’an begitu? Kerana perkara tuduhan ini berat, sepatut nya tuan penulis menulis sejarah dengan lebih detail terperinci beserta dengan rujukan, Sepatutnya beliau membawa naskah sekarang yang tercetak dengan naskah purba tulisan tangan untuk perbandingan. Sepatutnya beliau juga memberi perhatian kepada Al Qur’an yang di hafal.
Ini bukan lah kali pertama Al Qur’an cuba di ragukan, tetapi percaya lah, yang benar tetap benar, matahari tetap bersinar walau pun cuba di selubungi awan.
Alhamdulillah, Allah menurunkan kalam terakhir nya dengan bahasa arab yang terperlihara, mudah di baca dan di hafalkan oleh bangsa bangsa seluruh dunia meski pun tidak di fahami semua erti nya. Cuba lah baca Al Qur’an dengan bacaan yang silap sedikit sahaja pun didepan bangsa Cina, batak, negro, jepun atau siapa saja yang muslim, pasti dapat dikesan, meski pun mereka tidak memahami erti nya.
November 28th, 2006 14:22
Asslamualaikum wr wb,
Alhamdulillah masih banyak umat Muslim yang tetap berpegang teguh atas keaslian Al-Quran, namun setelah sya teliti tulisan Sdr. Luthfie Assyaukani ini tidak jauh berbeda dengan yang ditulis dalam Situs Indonesia Faith Freedom (IFF) yang memang secara jantan menyatakan bahwa situs itu bertujuan memurtad kan umat Muslim (tertulis jelas tujuan situs FFI). Penulis dengan Inisial Adadeh menguraikan sejarah penulisan Al-Quran yang intinya nyaris sama dengan yang diuraikan Sdr. Luthfie Sy. Silahkan periksa.
March 6th, 2007 22:19
Assalamu’alaikum wr. wb.
Saya sependapat dengan saudara Alias Ibrahim, pada sisi lain, saya berpendapat memang kedetailan sumber rujukan termasuk bahasa Arabnya sengaja tidak ditulis, karena semuanya itu ditujukan semata-mata untuk meragukan keimanan bahkan bisa memurtadkan kaum muslimin yang awam dan baru belajar. Sperti halnya dengan FFI, sama bahkan juga faithfreedom.org (yg bukan indonesia) juga bertujuan sama, dengan dimotori oleh Dr. Ali Zain, jadi website2 itu memang direkayasa untuk menimbulkan keraguan kepada umat muslim, termasuk menu comment dan menu debate kelihatan direkayasa. Sebagai bandingan telah dibuat website faithfreedom.com yang memberikan informasi tentang agama Islam dengan obyektif. Saya usul dibuat juga website indonesia.faithfreedom.com buat bandingan indonesia.faithfreedom.org. Saya juga orang awam dalam pengetahuan Islam, dan saya bisa mengambil ilmu yang bermanfaat dari FFI, yg membuat sedih adalah kata-kata hujatan yang luar biasa terhadap Allah SWT-Tuhan Semesta Alam, dan Baginda Rasulullah Nabi Muhammad SAW. Kata-kata hujatan mereka menunjukkan rohani yang tidak sehat, dan penuh nafsu dan provokasi. Jadi memang bukan ajang diskusi yang sehat, saya sarankan tidak usah terlibat diskusi, karena tiap kita melihat jawaban2 yg anti Islam kata2 hujatan itu terbaca oleh kita tanpa sengaja. Tentu saja hal itu seperti menyayat-nyayat hati. Masha Allah. Saya sebagai muslim, tidak pernah ingin menghujat Yesus, Budha, Dewa-Dewa org Hindu, karena Allah memerintahkan umat muslim untuk berdiskusi dengan sebaik-baiknya. Saya juga mengalami proses dalam meyakini Islam, dari tidak percaya dengan Tuhan, jadi percaya adanya Tuhan, dari ragu akan perlunya agama, lalu yakin bahwa hanya ada satu jalan hidup (agama) yang pasti diberikan oleh Tuhan., Islam, agama semua Nabi. Dan Insha Allah sampai akhir hayat saya tetap beriman kepada Allah dan Rasulullah dan semua Nabi-Nabi Utusan Allah. Sebaiknya forum semacam FFI dihindari, tapi kalo sudah terlibat diskusi jangan setengah-setengah, cari jawaban tanpa emosi dan nafsu, jangan lupa bismillah dan istighfar, cari sumber-sumber terpercaya dari internet atau tanyakan kepada ustadz sekitar anda, bandingkan, renungkan, dan simpulkan, jangan ragu, itu adalah ilmu, kita akan bertambah dewasa dan bisa memaklumi pandangan dan pemikiran orang lain. Allah akan memberikan petunjuk dan akan menambah iman kita. Islam akan terus bercahaya walaupun dicoba ditutup dengan awan gelap. Insha Allah. Semoga kita berjumpa bersama dengan Allah SWT kelak. Amin. Wassalam.
April 5th, 2007 11:54
Beliau yang dengan jabatan dan kedudukannya, sudah tidak percaya lagi pada keaslian Al Qur’an, padahal Allah jelas sudah menegaskan posisi dan pemeliharaannya pada Al Qur’an.
December 16th, 2007 17:31
Salam,
Wah…ini mungkin firqah ke 74 :D…
belajar lagi yg dalam Kang. TQ.
April 10th, 2008 12:45
Aku heran bagaimana mungkin buku yang berisi hasutan dan kebencian itu masih dianggap kitab dari Tuhan. Apa iya Tuhan itu begitu jahatnya dan begitu haus darah?
April 10th, 2008 13:12
Kitab Injil?
July 4th, 2008 11:24
iNNA nAHNU nAZALNA zIKRO WAINNA LAHUU LAHAFIDZUUN, ” KAMI YANG MENURUNKAN PERINGATAN (AL QUR’AN) DAN KAMI PULA AKAN MENJAGA (kEMURNIA, KEUTUHANNYA).
APAPUN PENDAPATNYA, KITA hanya boleh menganggapnya sebuah pendapat, tapi keimanan tentang keaslian alqur’an tetap harus tertanam dalam hati sanubari kita. Al ladziina yu minuuna bia unzila ilaika wamaa unzila men qoblika (al baqarah 1-5), tidak ada keraguan di dalam al qur’an; dan al qur’an pasti terjaga dari hal-hal yang membuat keraguan dan penjaga mushap ini tidak lain adalah penurun/ pemilik wahyu itu sendiri yakni Allah SWt. semoga kaum muslimin tidak menjadi ragu dengan pendapat as-syaukany.
July 13th, 2008 21:45
assalamualaikum..liman amanallahu ila akhiri nafsih
Saya mandukung yang terhormat bapak Lutfi, karena apa yang ia cita-citakan sama seperti apa yang saya cita-citakan yakni ingin menjadi merasa terhormat atau terpandang walau dengan cara bagaimanapun. Nah, menurut saya (menurut Lutfi juga) membuka wacana mengenai hal ini mungkin akan jadi sangat menarik. Seandainya wacana ini bisa membuka karir,nama terhormat,terpandang atau keuntungan lain maka dengan segala rencana dan upaya lain mungkin (pasti) saya mempromosikan menjadi nabi. Ini adalah kebebasan yang hakiki menurut kami. Dan seandainya sukses (banyak pengikut dengan segenap keyakinan) mungkin (pasti) saya akan membuat proposal untuk mendirikan agama baru. Namun sebelum berdiri sendiri agama yang kami bangun numpang dulu ama agama islam (bolehkan…..??). Nah, setelah kedua-duanya sukses bisa gak yah kami berusaha menjadi tuhan (tapi saya belum musyawarah ama Lutfi, kira-kira yang pantes jadi tuhan saya atau Lutfi). Sah-sah sajakan? Hidup Lutfi.
July 15th, 2008 21:41
Hanya orang yang mempunyai kepentingan sendiri yang mengatakan Al-Quran tidak asli lagi, jikalau dia mengatakan hal seprti itu berarti dia orang yang harus diberikan siraman rohani kembali. ilmunya selama dia belajar agama telah luntur hanya karena kepentingan materil semata
July 17th, 2008 23:28
Kebanyakan makan uang haram tuh. Liat aja wajahnya persis seperti preman yang sering wara wiri di pasar.si luthfi ini asal ngomong aja.Sama aja lo sama bos mu si Gusdur dan setali tiga uang sama si Yenny wahid.Sama2 tukang fitnah dan pembohong,yang rela menjilat sana sini hanya untuk sekedar uang, baik dari barat maupun Jahudi.Kasihan orang tuamu ,jauh2 sekolah sampai ke Jordania hasilnya seperti kamu sekarang ini.Setelah gusdur dilaknat menyusul kamu dan pengikut JIL lainnya.Liat aja .Tak ada yang kekal di dunia ini.Gusdur aja hancur apalagi kamu.Krtahuan kan sekarang busuknya JIL ini.Pembohong dan rakus duniawi.
August 3rd, 2008 17:36
Assalamualaikum
karscirebon sedang meneliti bahwa ternyata Al_Quran yg turunnya berangsur angsur, mempunyai pola tertentu yang bila dimasukkan komputer dapat menghasilkan grafik mujizat alquran.
Apakah abang bisa menolong saya, dengan cara ikut meneliti dari segi keilmuan abang?
Abang bisa search:
“karscirebon” di google untuk jelasnya.
Trimakasih.
Wassalamualaikum wmwb.
October 31st, 2008 19:59
Upaya ?merongrong? Al-Qur?an terus terjadi. Jika dahulu banyak dilakukan kalangan orientalis yang benci Islam, kini, justru dilakukan para ?santri? pondok pesantren setelah mengaji di kalangan orentalis ?Usaha ?Utsman bin Affan r.a. mengumpul-susun al-Qur?an akan senantiasa dijunjung tinggi, karena hal itu merupakan sumbangannya yang paling besar. Memang di kalangan orang-orang yang menyeleweng ada yang mencelanya, namun justru malah kecacatan mereka yang tersingkap.? (Abu ?Ubayd)
Kata-kata Abu ?Ubayd (224 H/ 838 M) ini muncul lebih dari seribu tahun yang lalu dalam rangka menanggapi usaha sia-sia para perongrong kewibawaan Al-Quran Mushaf Uthmani ketika itu. Ulama yang mempunyai otoritas ilmiah dalam berbagai disiplin ilmu Islam ini, termasuk ?Ulum al-Qur?an, mengisyaratkan bahwa setiap bantahan terhadap Mushaf Utsmani akan senantiasa dijawab-balas oleh para ulama Islam, dan dibongkar kecacatan serta kelemahannya.
Satu abad kemudian, seorang sarjana Al-Quran yang bernama Abu Bakr al-Anbar (328 H/ 939 M), dalam pembelaannya terhadap Mushaf Utsmani pernah menulis buku, al-Radd ?ala Man Khalafa Mushaf ?Utsman(Sanggahan Terhadap Orang yang Menyangkal Mushaf Utsmani). Begitu juga di abad ke tujuh Hijriyah , al-Qurthubi (671 H/ 1272 M), seorang ahli tafsir yang berwibawa dan masyhur, dalam mukadimah kitab tafsirnya menyediakan satu bab khusus mengenai hujah-hujah untuk membalas dakwaan bahwa dalam Mushaf Utsmani terdapat penambahan dan pengurangan.
Perbedaan Riwayat Mengapa ada yang berupaya menyangkal kebenaran Mushaf Utsmani? Jawabannya terdapat pada sejarah Al-Quran itu sendiri, dimana terdapat riwayat ataupun berita-berita mengenai proses penyusunannya yang mengandung perbedaan. Di antaranya adalah berita mengenai adanya beberapa mushaf yang dimiliki Sahabat yang tidak sama dengan Mushaf Utsmani, seperti Mushaf Ubay bin Ka?ab dan Mushaf Ibnu Mas?ud yang satu sama lain agak berbeda dari segi susunannya. Begitu pula dari segi kelengkapan surah-surahnya. Misalnya pada Mushaf Ibnu Mas?ud tidak terdapat surat an-Nas dan al-Falaq. Sementara pada Mushaf Ubay bin Ka?ab ada sejumlah kecil tambahan. Ada juga yang menyusunnya berdasarkan tanggal penurunannya. Misalnya Mushaf Sayidina ?Ali, yang diriwayatkan berawal dengan ?iqra? bismi rabbika? yaitu awal surah al-?Alaq.
Walau bagaimanapun semua itu hanyalah riwayat yang bersifat ahad atau berita-berita yang disampaikan oleh segelintir orang yang disebutkan dalam kitab-kitab tertentu, seperti kitab Tafsir, Lughah, dan Qiraat. Sejauh mana kebenaran riwayat itu memang dapat ditelusuri dari Ulum al-Hadits dan hal itu sudah diperkirakan oleh para ulama Islam. Oleh karena itu mereka tetap melayani kritikan-kritikan yang ditujukan kepada Mushaf Utsmani, selagi ada dasar periwayatannya.
Sebagai contoh, menurut Ibnu Hajar riwayat yang mengatakan bahwa Mushaf Ibnu Mas?ud itu tidak mengandungi Surat al-Falaq dan Surat an-Nas adalah sah. Sementara bagi Fakhruddin ar-Razi dan an-Nawawi, riwayat itu batil. Ar-Razi diantaranya berhujah bahwa jika benar bahwa di dalam Mushaf Ibnu Mas?ud itu tidak terdapat kedua surah tersebut, maka hanya ada dua kemungkinan. Pertama, jika periwayatan Al-Quran secara mutawatir telah tercapai di zaman Sahabat, maka pengurangan itu membawa kepada kekufuran dan tidak mungkin Ibnu Mas?ud berbuat kufur seperti itu. Kedua, jika periwayatan secara mutawatir belum tercapai di zaman Sahabat, ini bermakna al-Qur?an tidak diriwayatkan secara mutawatir sejak awalnya, maka hal ini juga tidak dapat diterima. Oleh karena itu bagi ar-Razi hanya ada satu jawaban yang mungkin, yaitu riwayat yang mengatakan bahwa Mushaf Ibnu Mas?ud itu tidak mengandung al-mu?awwidzatain itu adalah riwayat yang tidak sah.
Ibnu Hazm juga mengatakan bahwa riwayat itu dusta. Ia mengemukakan riwayat lain dari Ibnu Mas?ud sendiri bahwa dalam mushaf beliau terdapat kedua surah tersebut. Al-Bazzar juga menambahkan bahwa tidak ada seorang Sahabat pun yang mengikuti Ibnu Mas?ud jika benar mushafnya begitu. Sedangkan telah sah riwayat yang mengatakan bahwa Rasulullah SAW membaca kedua surah itu dalam shalat.
Ibnu Hajar walau bagaimanapun tetap mempertahankan bahwa riwayat ketiadaan dua surah itu sah. Dan bagi beliau, mereka yang mencela riwayat yang sah tanpa sandaran yang kukuh adalah tertolak. Walaupun begitu, demi mempertahankan Mushaf Utsmani beliau menerima takwil. Ibnu Hajar, yang mengambil takwil Ibnu al-Abbas, mengakui bahwa riwayat kedua surah sebagai bagian dari al-Qur?an memang telah tercapai secara mutawatir dikalangan Sahabat. Tetapi ia sendiri menganggapnya tidak mutawatir, sehingga beliau tidak memasukkannya dalam mushafnya. Begitulah contoh hujah-hujah para ulama Islam yang mempertahankan Mushaf Utsmani.
Mushaf Utsmani, yaitu mushaf yang digunakan oleh seluruh umat Islam sampai hari ini, baik Ahlu Sunnah di kebanyakan negeri-negeri Islam ataupun Syiah di Iran. Ia merupakan mushaf yang disandarkan kepada riwayat yang mutawatir, yaitu suatu jalan periwayatan dari generasi umat Islam terawal kepada generasi umat Islam yang lain yang tiada terputus dari semenjak zaman Khalifah ?Utsman sampai hari ini. Namun perlu juga disebutkan di sini bahwa Mushaf Utsmani ini pun bukan hanya yang terdiri dari satu mushaf saja, tetapi ada beberapa mushaf yang disebut sebagai al-Masahif al-?Utsmaniyah.
Sejarah mengatakan bahwa Khalifah Utsman telah menghantar beberapa naskah mushaf itu ke seluruh kota-kota besar Islam pada ketika itu, yaitu ke Mekah, Syam, Yaman, Bahrain, Basrah, Kufah dan satu disimpan di Madinah sendiri. Walaupun ada perbedaan kecil pada mushaf-mushaf tersebut, seperti kebeadaan dan ketiadaan huruf-huruf tertentu pada masing-masing mushaf itu, para ulama tetap menerima perbedaan itu, dan tetap mengakuinya sebagai Mushaf Utsmani.
Mengapa pula perbedaan-perbedaan itu muncul? Jawabannya ada pada tafsiran mengenai sabda Rasulullah SAW yang mengatakan bahwa Al-Quran itu diturunkan di atas tujuh huruf. Para ulama memang berbeda pendapat mengenai tafsir ayat itu. Imam as-Suyuti, misalnya menyebutkan sekitar empat puluh tafsiran. Pada pokoknya, Rasulullah (s.a.w.) sendiri memberi kebenaran dan kelonggaran akan adanya perbedaan bacaan untuk memudahkan umatnya dalam membaca al-Qur?an. Perkataan ?tujuh? pada ?tujuh huruf? itu menurut para ulama tidak menunjukkan bilangan tertentu, tetapi menunjukkan banyaknya perbedaan itu sendiri. Walaupun begitu perbedaan-perbedaan itu tetap mempunyai batas tertentu yang dibincangkan oleh para ulama.
Berpegang pada tafsiran ?tujuh huruf? tersebut, sebagian mereka berpendapat bahwa ketujuh huruf itu telah terkandung di dalam Mushaf Utsmani, dan sebahagian yang lain pula mengatakan bahwa mushaf itu merupakan satu diantara tujuh huruf tersebut. Namun mereka sepakat bahwa Mushaf Utsmani itu bersandarkan kepada bacaan terakhir yang dikemukakan Jibril kepada Rasulullah sebelum beliau wafat.
Perlu juga dijelaskan di sini bahwa Mushaf Utsmani mengandung keseluruhan bacaan yang disepakati, karena mushaf ini ditulis mengikut bacaan yang mutawatir. Walau begitu ada pula bacaan-bacaan yang kurang disepakati, bergantung pada cara periwayatannya. Para ulama telah membagi bacaan Al-Quran kepada bacaan mutawatir (tidak mungkin salah), bacaan masyhur (terkenal), bacaan ahad (segelintir perawi), bacaan syadz (cacat), bacaan mawdhu? (palsu), dan bacaan mudraj. Bacaan masyhur dan ahad yang sah periwayatannya pada umumnya diterima oleh para ulama sebagai sebahagian dari makna tujuh huruf. Adapun bacaan syadh, mawdhu?, dan mudraj tidak dianggap sebagai bacaan yang sah dan tidak termasuk bagian dari tujuh huruf al-Qur?an.
Para perongrong al-Quran selalu mengemukakan riwayat yang syadz, mawdhu? atau mudraj, tetapi umat Islam tidak mempedulikan riwayat tersebut, sehingga tinggallah riwayat itu dalam lipatan buku-buku yang hanya dibaca oleh para sarjana yang memang tahu bagaimana menyikapinya. Berbeda dengan dahulu, dimana para pengkritik itu terdiri dari orang-orang Islam sendiri, kini golongan perongrong ini didukung pula oleh para pengkaji dari Barat (orientalis) yang telah berputus asa terhadap keaslian kitab suci mereka sendiri.
Golongan orientalis itu, baik yang berpegang teguh dengan agama mereka ataupun yang hanya semata-mata bersimpati tetapi tidak teguh dengan ajaran agama mereka, memang menginginkan agar nasib al-Quran itu sama dengan nasib kitab suci mereka (banyak cacat). Selain menggunakan riwayat dan berita-berita yang telah kita sebutkan di atas, mereka juga mencari dan menggunakan manuskrip-manuskrip al-Quran yang mereka temukan. Kajian dan olahan mereka inilah yang digunakan oleh pengkritik Mushaf Utsmani dari golongan orang Islam untuk menguatkan lagi riwayat dan dakwaan mereka. Karena itu peperangan ilmiah ini masih akan berlanjut sampai hari ini.
Namun ada perbedaan, bila dahulu para ulama kita tinggi kedudukannya dan banyak jumlahnya serta peradaban Islam begitu menguasai kehidupan untuk menghadapi para pengacau, hari ini kita kekurangan para ulama yang berwibawa untuk menghadapi para penentang moden yang kini semakin banyak. Lebih-lebih mereka juga disokong oleh para orientalis dengan kekuatan peradaban Barat yang mendominasi dunia. Kondisi itu membuat kaum muslimin makin rendah diri dengan Islam.
Diantara orang-orang Islam yang lemah imannya dan dangkal ilmunya ada yang keluar dari Islam dan dengan serta merta melancarkan serangan terhadap Islam sambil menyerang al-Quran. Misalnya seseorang yang menggunakan nama samaran Ibnu Warraq, yang konon asalnya seorang muslim, menulis sebuah buku Why I am not a Muslim serta mengkritik Al-Quran dengan mengumpulkan kajian-kajian orientalis yang telah lapuk dalam bukunya The Origins of the Koran.
Dikalangan pemikir muslim ada Mohammed Arkoun, yang berasal dari Algeria dan mendapat Ph.D. dari Universitas Sorbonne. Ia mengkritik, menghakimi dan mencanangkan pembaharuan (tajdid) terhadap Mushaf Utsmani, dan dengan bantuan faham deconstruction Derrida, salah seorang pemikir post-modernism. Arkoun berusaha membongkar (deconstruct) al-Quran.
Taufik Adnan Amal, dari Indonesia juga berusaha mengeluarkan Al-Qur?an Edisi Kritis. Usaha itu sebenarnya terpengaruh dan meniru-niru para orientalis tua yang dahulunya pernah mempunyai ambitious project yang sesungguhnya gagal.
Kini dari Moroko di Afrika Utara hingga ke Merauke di Indonesia kita menyaksikan secara langsung kemunculan penentang Mushaf Utsmani di kalangan orang-orang Islam sendiri. Mudah-mudahan kata-kata keramat Abu ?Ubayd di awal tulisan ini sekali lagi akan menjadi kenyataan pada hari ini, sebagaimana pada masa-masa yang lalu.
Dr. Ugi Suharto, Asisten Profesor Universitas Islam Antarbangsa (UIA), Malaysia (dari majalah Hidayatullah, edisi April 2004)