Translate this page :

Kompas vs Priyadi ?

Mudah-mudahan tidak bertambah daftar orang yang di-somasi oleh Kompas. Tapi cukup surprise ketika tahu bahwa Kompas menayangkan artikel yang secara langsung [ mengkritisi blog /milis /new media secara umum ].
Sayangnya, lagi-lagi artikel tersebut melakukan generalisasi dan/atau asumsi yang tidak tepat.

Tapi “perang” antara Kompas/old media & Priyadi/new media tidak hanya terbatas pada artikel-artikel di Kompas saja. Priyadi mengungkapkan bahwa ada komentar-komentar anonim pro Kompas yang sebetulnya berasal dari kantor Kompas.
Jadi sangat ironis kalau kita mengingat bahwa Kompas menuntut BS karena menyampaikan informasi dari sumber anonim.

Kalau mau satu contoh ironi lainnya lagi, silahkan baca [ posting Ben ] yang satu ini.

Bagi saya, keberadaan new media bermanfaat karena menambah jumlah sumber informasi saya. Reaksi Kompas seperti ini mungkin adalah karena mereka mulai merasa bahwa hegemoni old media mulai terancam. Namun saya, dan Anda, yang akan diuntungkan karena: ada tambahan sumber informasi untuk crosscheck, terkadang lebih cepat dalam penyampaian informasi, dan (yang paling penting) semua orang bisa berbicara -dan- terdengar. Bukan cuma media besar dengan dukungan modal kuat saja. New media memungkinkan the little people untuk menjadi lebih terdengar. Sedangkan di old media ada keterbatasan jumlah berita yang bisa mereka angkat, [ kecenderungan short-term memory ] / cepat dalam melupakan berbagai isu penting, terkadang ada self-censorship, seringkali bias, dll.

New media dan old media sama-sama bisa tidak reliable, yang penting adalah kita kritis dalam menerima berita dari kedua sumber ini.

Apakah kita sedang menyaksikan awal dari menurunnya kekuasaan old media di Indonesia ? Time will tell.

7 Responses to “Kompas vs Priyadi ?

  • 1
    obyektif
    May 11th, 2005 09:46

    Kadang merasa aneh aja memperhatikan orang menyikapi suatu masalah :)

    Apakah kita diharuskan memihak salah satu? Tidak bolehkah kita secara independent memberikan pandangan atau pendapat?

    Contohnya saya, misalnya saya mengkritik pendapat Priyadi, langsung saja mungkin dituduh sebagai pembela Kompas.

    Banyak sekali orang yang melihat permasalahan tersebut dari sudut pandang yang berbeda, mereka mengeluarkan pendapat, mencoba meluruskan asumsi yang salah, mengingatkan agar tidak mengambil kesimpulan yang tergesa-gesa dsb. Apakah hal ini langsung dimusuhi dan dianggap memihak ?

    (Saya memakai kata “musuh” karena Harry menggunakan kata “lawan” dalam tulisan ini. Seolah-olah setiap orang yang tidak sejalan dengan pemikiran Priyadi adalah lawan dari Priyadi).

    Ya, saya sadar sepenuhnya bahwa sebuah blog adalah cerminan dari pendapat pribadi penulis blog tersebut, yang jelas bergantung dari kiblat politiknya (kalau ada), kepercayaan, pengalaman sebelumnya, dsb. Sehingga kadang tertuang secara tidak obyektif, bias, dan tendensius.

    Selebihnya saya setuju bahwa dengan adanya new media ini, jelas sangat bermanfaat karena memberikan kita sumber informasi yang unik.

  • 2
    Subyektif
    May 11th, 2005 13:57

    Tadinya saya mau nulis secara obyektif. Tapi apa saya benar bisa obyektif? Benar-benar obyektif? Hmm, ternyata keobyektifan saya hanya dinilai oleh saya, oleh kesubyektifan saya.
    Bahwa blog itu sering sekedar luapan keisengan, kita sudah tahu. Weblog saya membuktikan itu. Bahwa blog itu sering cuman jadi media katarsis, wow, kita semua sudah tahu. Bahwa ada blog yang ditata rapi dengan keketatan profesional, itu juga ada, sedikit atau banyak, dan tidak mungkin menutup mata publik darinya.
    Tapi bahwa sebenarnya old media juga tidak semua isinya ditata rapi dengan keketatan profesional, berapa gelintir orang yang tahu? Bagi banyak orang, teks dari media lama (media yang secara subyektif diakui kredibel) sudah dianggap nyaris identik dengan the truth. Maka jadi semacam tugas suci siapa pun untuk membuka mata masyarakat: the old media tidak harus benar. Old media bisa dipakai sebagai media katarsis (Bahkan bisa buat memaki-maki monyet). Old media mudah dipakai untuk kepentingan politik atau bahkan kepentingan pribadi sesaat. Old media bisa bikin kesalahan yang memalukan. (Setiap orang berhak salah. Kesalahan memalukan adalah bila kita berkeras atas kesalahan kita, dan balik menyalahkan siapa pun yang berani menyalahkan. Misalnya kasus pemuatan profil AA.)
    Saya tidak punya soal apa pun dengan Kompas. Baca aja jarang. Berita di TempoInteraktif (old media juga) jelas lebih bagus daripada Kompas. Kebeneran yang dipakai contoh terakhir memang Kompas, sekedar biar pas dengan judul artikel Harry.
    Salah sedikit banyak, mohon dimaafkan. Sekali lagi: mohon dimaafkan. Namanya juga tulisan subyektif.

  • 3
    obyektif
    May 11th, 2005 20:44

    #2 Setuju sekali dengan ulasan Anda. Memang sering terasa banget semarak subyektifitas di new media, kebebalan dan kengototan penulisnya, katarsis (narsis ada juga ngga ya? :D ). Tapi ya itulah new media, suka atau tidak suka, minimal berguna buat mengisi waktu luang nulis-nulis “bertarung” adu kebebalan :D

  • 4
    Priyadi
    May 12th, 2005 07:15

    #3: bebal? the same thing can be said about you :)

  • 5
    anonymouse
    May 12th, 2005 07:33

    #4. Yupe, makanya di #3 saya tulis “bertarung” adu kebebalan :D Clear?

  • 6
    obyektif
    May 12th, 2005 07:35

    #5 ditulis oleh obyektif, cookienya lagi ngga beres sepertinya.

  • 7
    Harry
    May 13th, 2005 07:25

    #3 – Mr Obyektif, kok cuma nyebut-nyebut subyektifitas/kebebalan new media ? Itu sih gak usah disebut-sebut juga sudah jelas :)
    Yang parah itu old media, selama ini sudah terlalu banyak yang terkecoh – dikira jaminan mutu. Eh, tunggu dulu…

    #2 – Mohon maaf lahir batin atas kesubyektifan posting ini :)

Leave a Reply

Subscribe without commenting

            








SEObox: Web Hosting Murah Unlimited Homeschooling Indonesia lead retrieval trade show registration