Archive for April 1st, 2005

RS, FT, etc - who’s next ?

Duh, ternyata FT masih belum juga tobat. Setelah ditendang dari milis komunitas linux indonesia, kini FT membuat marah komunitas Mac indonesia dengan pernyataan-pernyataan ngawurnya.

Sayang juga ya, padahal dikasih anugrah pintar ngomong & meyakinkan orang, sayang malah doyannya ngomong ngaco. Mudah-mudahan segera “sadar”.

[ adinoto1 ]
[ adinoto2 ]

How much of our money went to Microsoft

Berikut ini adalah sebuah [ posting dari Adinoto ] yang cukup menarik mengenai biaya yang bisa terkenakan kepada Anda jika menggunakan solusi Microsoft.
Cukup menarik, menampilkan contoh kasus di Indonesia.

Parenting tips - How to force your kids without causing them pain

Sometimes (a LOT of times ? :) ) children refuse to do your command because of various reason.
If the reason is valid, then you must be fair. But if it’s not valid, then you need to make them do it.

First you have to speak kindly, but firmly, to them.
Use as little words possible, don’t flood them with angry/irrelevant sayings.
Persuade them to do it, WITHOUT lying (believe me, this will cause you serious problems later).

If they still refuse, you can cancel the order if it’s not important. But if it is, then somehow you need to get them to do it anyway.
Some parents will be inclined to use physical force at this point.

Here’s the tip - if you child is ticklish, just say that you’ll tickle them until they do it :)

No harm’s done, instead they will laugh uncontrollably while getting the job done :D
And it’s fun to both of you. What could be better ? Let me know :)

Khotbah Jumat

Khotbah Jumat di berbagai mesjid cenderung garing, tapi yang kali ini cukup membuat ngilu.
Topiknya mengenai MENGAPA sampai terjadi gempa di Nias.

Apakah khatibnya mungkin sudah diberitahu oleh Allah swt ? Kok rasanya tidak ya.
Tapi tetap saja bpk. Khatib berkhutbah bahwa gempa di Nias adalah azab dari Allah swt, karena manusia telah berbuat jahat. Yaitu golongan elitenya saja (padahal baru kemarin uang kembalian beli bensin saya ditilep oleh petugas pom.bensin) sehingga semua rakyat dari golongan atas sampai bawah dikenakan azab.

Duh.

Apa tidak mungkin bahwa bencana tersebut justru adalah bagian dari proses Kiamat, dimana orang-orang baik dipanggil ke haribaan Tuhannya, sehingga setelah hanya orang-orang jahat yang tersisa di bumi maka terjadilah Kiamat itu ?
Atau apa tidak mungkin bahwa bencana tersebut terjadi karena suatu alasan lainnya ? Atau tanpa alasan, hanya karena Allah swt Maha Kuasa ?
Dst.

It gets better - bpk.Khatib juga salah menjelaskan apa itu gempa vulkanik, beberapa aspek agama, dst. Lalu kadang-kadang seperti bicara dengan diri sendiri, suaranya kecil sekali walaupun sudah di depan mikropon. Sisanya bicara ngalor ngidul yang kurang jelas maksudnya.

Anyway, lumayan ngilu juga mendengar ucapan-ucapan yang cukup sok tahu seperti itu, sampai asma saya jadi kumat di tengah khotbah :(

Bpk.Khatibnya kemudian kena azab oleh Allah swt, yaitu ketika sedang memimpin sholat dan sedang membaca sebuah surat, tiba-tiba tidak tahu apa yang harus dibaca; padahal cuma surat pendek dari juz amma. Terbata-bata cukup lama, sampai saya yang tadinya sempat kesal pun jadi merasa kasihan sekali.
(eh saya cuma bercanda lho, saya belum bisa kok ngobrol-ngobrol dengan / membaca pikiran Tuhan :) )

Kepada para bpk.Khatib yang baik, saya berharap agar Anda sekalian dapat mengabdi kepada umat, dengan menyampaikan ilmu dan hikmah yang bermanfaat bagi mereka. Kami amat, sangat membutuhkan uluran tangan Anda tersebut agar dapat menjadi tercerahkan.
Sebelumnya saya ucapkan banyak-banyak terimakasih.

GIMPshop

Akhirnya, bagi yang tidak mampu membeli Adobe Photoshop, kini telah tersedia [ GIMPshop ].
Salut kepada Scott atas kerja kerasnya.

nb: pada saat ini GIMPshop baru tersedia untuk OS X dan Linux.

Pengumuman

Flamers are going to be made silly instead of getting sent to /dev/null from now on ;)

Semoga anakku menjadi orang yang biasa-biasa saja

Dari milis Balita-Anda, semoga dapat menjadi inspirasi bagi kita semua.


Tahukah anda, apa yang paling dibanggakan orang tua dari anak-anaknya?
Boleh jadi adalah kecerdasan scholastic, seperti matematika, bahasa, menggambar (visual), musik (musical), dan olahraga (kinestetik).

Tetapi, pernahkah kita membanggakan jika anak kita memiliki kecerdasan moral, kecerdasan intrapersonal, atau kecerdasan interpersonal?

Rasanya jarang, sebab ketiga kecerdasan yang terakhir hampir pasti uncountable, tidak bisa dihitung, dan sayang sekali tidak ada pontennya (nilainya) di sekolah, karena di sekolah hanya memberikan penilaian kuantitatif.

Ada sebuah cerita tentang seorang anak, sebut saja namanya Fani (6,5 tahun),kelas I SD. Ia memiliki banyak sekali teman.
Dan ia pun tidak bermasalah harus berganti teman duduk di sekolahnya. Ia juga bergaul dengan siapa saja dilingkungan rumahnya. Ada satu hal yang menarik saat ia bercerita tentang teman-temannya.

“Bu, Ifa pinter sekali lho, Bu…! Pinter Matematika,Bahasa Indonesia, Menggambar….pokoknya pinter sekali….!” katanya santai. Vivi juga pintar sekali menggambar, gambarnya bagus …sekali! Kalau si Yahya hafalannya banyaaak… sekali!”

Ya memang fani senang sekali membanggakan teman-temannya. Ketika mendengar celoteh anaknya ibunya tersenyum dan bertanya, ” Kalau mbak Fani pinter apa?” Ia menjawab dengan cengiran khasnya,” Hehehe…kalau aku, sih, biasa-biasa saja”.

Jawaban itu mungkin akan sangat biasa bagi anda, tetapi ibunya tertegun, karena pada dasarnya fani memang demikian. Ia biasa-biasa saja untuk ukuran prestasi scholastic.

Tapi coba kita dengarkan apa cerita gurunya, bahwa Fani sering diminta bantuannya untuk membimbing temannya yang sangat lamban mengerjakan tugas sekolah, mendamaikan temannya yang bertengkar.

Bahkan ketika dua orang adiknya, Farah (4,5 tahun ) dan Fadila (2,5 tahun) bertengkar. Fani langsung turun tangan. “Sudah..! sudah, Dek! sama saudara tidak boleh bertengkar, Hayo tadi siapa yang mulai?” Adiknya saling tunjuk.”Hayo, jujur …Jujur itu disayang Allah..! Sekarang salaman ya… saling memaafkan”.

Pun ketika suatu hari ia melihat baju-baju bagus di toko, dengarlah komentarnya! “Wah bajunya bagus-bagus ya Bu? Aku sebenarnya pengin, tapi bajuku dirumah masih bagus-bagus, nanti saja kalau sudah jelek dan Ibu sudah punya rezeki, aku minta dibelikan …” Ibunya pun tak kuasa menahan air matanya, subhanallah anak sekecil itu sudah bisa menunda keinginan, sebagai salah satu ciri kecerdasan emosional.

Saya sebenarnya ingin berbagi cerita tentang ini kepada anda, karena betapa banyak dari kita yang mengabaikan kecerdasan-kecerdasan emosional seperti itu. Padahal kita tahu dalam setiap tes penerimaan pegawai, yang lebih banyak diterima adalah orang yang mempunyai kecerdasan emosional walaupun dari sisi kecerdasan scholastic adalah BIASA-BIASA SAJA.

Kadang kita merasa rendah diri manakala anak kita tidak mencapai ranking sepuluh besar disekolah. Tetapi herannya, kita tidak rendah diri manakala anak-anak kita tumbuh menjadi pribadi yang egois, mau menang sendiri, sombong, suka menipu atau tidak biasa bergaul.

Maka ketika Fani mengatakan “AKU BIASA-BIASA SAJA”, maka saat itu ibunya menjawab “Alhamdulillah, mbak Fani suka menolong teman-teman, tidak sombong, mau bergaul dengan siapa saja. Itu adalah kelebihan mbak Fani, diteruskan dan disyukuri ya..?” Ya… ibunya ingin mensupport dan memberikan reward yang positif bagi Fani. Karena kita tahu anak-anak kita adalah amanah dan suatu saat amanah itu akan diambil dan ditanyakan bagaimana kita menjaga amanah.

Sebagaimana doa kita setiap hari agar anak-anak menjadi penyejuk mata dan hati. Sudahkah kita mencoba untuk menggali potensi-potensi kecerdasan emosional anak-anak kita? Kalau belum mulailah dari diri kita, saat ini juga.