SEObox: Web Hosting Murah Unlimited Homeschooling Indonesia

Archive for April 5th, 2005

Fedora Core 3 - some tips

I needed to recover data from a crashed hard drive. Problem is, the data is on NTFS partition, and FC3 doesn’t support NTFS out of the box.

Here’s how to enable it to access NTFS partitions :

### Obtain current kernel version number
uname -r

#make VERY sure that the uname output (above) matches the version string (below)
apt-get install kernel-module-ntfs-2.6.9-1.667

/sbin/modprobe ntfs

# An example on how to mount an NTFS partition
mount /dev/hdb1 /mnt/D_drive -t ntfs -r -o umask=0222

I like using Fedora Core 3 especially after I was able to get apt to work with it. It enable me to keep the computers up to date (very important nowadays, especially with regards to security updates) with little / no work in my part.
But it’s not very obvious on how to set it up on FC3, so here you go :

I just found out that support for apt has been deprecated for FC3 :
[ Merger announcement of Fedora Extras with Fedora Project ]

It’s suggested that you use yum instead of apt. Yum is already included in FC3, and the syntax is quite similar too with apt. It’s quite good actually.

To get access to loads of (previously known as) Fedora Extras packages, just [ follow the instructions here ]

That’s it for now, I’ll continue to share FC3 tips here inshaAllah.

Pedagang yang tidak suka duit

Saat ini saya sedang mencoba berbagai provider CDMA, karena sebal melihat tarif GSM yang tidak masuk di akal. Untuk saat ini kelihatannya Esia yang cocok untuk keperluan saya, tapi pulsanya sudah hampir habis.
Di perjalanan pulang saya melihat-lihat berbagai kios voucher, namun memang sedikit sekali yang menjual esia.

Mendekati rumah tiba-tiba terlihat sebuah kios yang cukup besar, yang menjual pulsa elektronik Esia.
Saya menghentikan mobil, dan kemudian menanyakan voucher Esia seharga Rp 50.000. Um.. tapi kok dia malah mengeluarkan voucher Jempol ya?
Lha, ternyata agak budek :) saya kemudian ucapkan lagi dengan agak keras.

“Oh, Esia enggak ada pak”. Gedubrak.
Duh, kalau gitu ya jangan ditulis dong ada Esia di papannya.

Tapi tidak hanya sampai disitu, kebetulan terlihat ada box handphone CDMA yang cukup bagus, saya pikir mungkin istri saya akan tertarik.

“Bang, yang ini harganya berapa?”. “Oh, itu sudah kejual pak”, katanya.
Yeh.. kalau gitu ngapain juga kotaknya dipajang terus ?

Sekilas mungkin cerita ini terbaca lucu - namun ini adalah kesalahan fatal yang banyak dilakukan oleh para pedagang kecil:

  • Barang dagangan sebaiknya lengkap, karena customer akan lebih memilih toko yang bisa memenuhi semua kebutuhan mereka.
  • Jika toko Anda tidak lengkap, maka para customer akan menghindari datang lagi di masa depan.
  • Kalau ada suatu barang yang kebetulan kita tidak punya, minta maaflah kepada customer tersebut, dan janjikan bahwa barang tsb sudah akan tersedia di toko kita (misalnya) minggu depan. Ini akan menyenangkan mereka dan memperkecil kemungkinan mereka menghindari toko Anda.
  • JANGAN berbohong. Ini mungkin adalah pantangan terbesar bagi seorang pedagang yang ingin sukses.

Dalam cerita ini, Anda bisa menjamin bahwa saya tidak akan mampir lagi ke toko voucher tersebut, walaupun hampir setiap hari melewatinya.

Kia Carens II, automatic transmission

JANGAN DIBELI - walaupun saya pakai ini :) tapi saya tidak bisa merekomendasikan :(
Untuk keperluan sehari-hari di Jakarta, pemakaian bensinnya sekitar 1:5

Sialnya, pulang-pergi ke lokasi kerja saya saat ini berjarak total lebih dari 100 km. Walhasil, biasanya saya mengisi bensin sekitar 40 ltr setiap 2 hari sekali :(

Duh… Kia Carens II

Duh.. Blue Bird

Kemarin pergi menjemput anak-anak pulang sekolah tanpa mobil. Rencananya akan pulang dengan memakai taksi. OK telpon Blue Bird, karena sering mendengar cerita seram mengenai operator-operator taksi lainnya. Dijawab oleh seorang operator yang ramah, yang kemudian mencatat nomor telpon dan alamat sekolah kami serta jam ketibaan taksi di lokasi (11:00), dan kemudian menutup pembicaraan dengan mengatakan bahwa dia akan mencarikan taksinya dulu. Fair enough, maka kemudian kami duduk dulu di kantin karena anak-anak sudah pada menjerit kelaparan sedangkan kami tidak membawa cukup makanan dari rumah.
Jam 11 lewat kami mendapat telpon bahwa taksi belum didapatkan, apakah mau menunggu? OK, gak apa-apa deh, kita sabar saja. Operator tersebut kemudian mengucapka terimakasih dan menutup telpon.

Lama menunggu, kami mulai gelisah karena anak-anak mulai kelihatan lelah. Maka kemudian saya menelpon Blue Bird lagi. “Oh, taksinya sudah menuju kesana pak”. Yay. Lah, kok enggak menelpon sama sekali sih ?!
Kita langsung pontang-panting menuju ke lokasi penjemputan yang telah disepakati.

Tapi lama menunggu disitu, tetap saja taksi belum muncul. Untung lokasi penungguannya adalah di TK nya Sarah, jadi anak-anak lupa akan lelahya dan asyik bermain-main di taman bermainnya.
Tiba-tiba handphone saya berdering.

“Hallo, ini dari pool Blue Bird pak. Lokasinya ini dimana ya pak ?”. Lah, udah dijelasin sampai mendetail ke operator yang pertama, kok ditanya lagi.
“Posisi saya saat ini di seberang UIN Syarif Hidayatullah Ciputat”,kata saya. “UIN yang di Rempoa apa bukan ya pak ?”. Errr… “umm, itu lho pak, yang bisa dilihat di pinggir jalan kalau kita menuju ke Ciputat dari Lbk.Bulus”.
Bla..bla..bla.. ternyata kesimpulannya mereka tidak tahu dimana UIN Syarif Hidayatullah itu :(
Padahal yang menelpon adalah pool Blue Bird di Tanah Kusir, bukan pool yang luar biasa jauhnya entah dimana, masih cukup dekat juga.

Tapi lama-kelamaan saya tersadar bahwa mungkin ini cuma cara saja agar mereka tidak perlu mengirim mobil, entah kenapa pembicaraannya berputar-putar terus disitu-situ saja. Akhirnya saya bilang “Ya sudah pak, kalau terlalu merepotkan, gak jadi saja deh”. “OK pak *klik*”
Hiks! Asma saya tiba-tiba terasa akan kumat.

Akhirnya kita mengajak Anisah, Sarah, dan Umar untuk berjalan kaki lumayan jauh ke pinggir jalan besar, dan mencoba menghentikan taksi yang kebetulan sedang lewat.
Banyak taksi yang lewat, namun sebagian besar sudah terisi dan lampu merk taksinya mati. Selagi kami melihat-lihat sambil menghisap asap tebal dari berbagai bus yang lewat, tiba-tiba terlihat oleh saya taksi Blue Bird di depan mata yang lampu merk taksinya mati - namun kosong! Argh.

Akhirnya dengan dongkol kami naik angkot 2 kali sampai tiba di rumah.
Total waktu terbuang sekitar 2,5 jam, namun lebih sedih lagi melihat anak-anak yang sudah kuyu kelelahan. Apalagi ketika angkot kami terhenti karena jalan macet, persis di belakang sebuah bus besar yang menghasilkan polusi yang luar biasa.
Duh… Blue Bird.