Archive for April 14th, 2005

Umur Aisyah ra pada saat menikah

Akhir-akhir ini, umur pada saat Aisyah ra (kadang ditulis sebagai Aisha / A’isyah / Ayesha) dinikahi oleh Rasulullah saw menjadi bahan menarik bagi para penyerang Islam untuk merusak nama Nabi Muhammad saw. Mereka menuduh bahwa Nabi saw telah melakukan praktek pedofilia (na’udzubillah min dzalik).

Berikut ini adalah kutipan diskusi dari milis KIBAR mengenai topik ini, mudah-mudahan dapat bermanfaat bagi yang membutuhkannya.
(nama poster telah dihapus untuk menjaga privacy)

==================

To:
From: “xxxxxxxxx”
Date: Fri, 8 Apr 2005 09:58:20

Mbah putri nikah umur 13. Tapi mbah kakung juga masih muda, 20 th.
Menikah umur 21 th ya pas kuat-kuatnya, hehehe.

salam,

————–

From: xxxxx
Sent: 08 April 2005 08:52
To: kibar@yahoogroups.com
Subject: Re: saudara Newcastle RE: [kibar] Re: Hadis untuk Pak eddy

Nenek angkat saya, sekarang masih hidup menikah dengan kakek angkat saya ketika umurnya 9 tahun.

Jackie satallone, ibunya silvester stallone, sekarang masih hidup juga, melahirkan anaknya ketika berumur 12 tahun. ‘Nikahnya’ kira kira umur berapa ya?

Teman teman saya di gunung kidul, gadis gadis menikah umur 15 - 16 thn sangat normal

Saya sendiri menikah ketika berumur 21 thn (emangnya gue pikirin!, he he he…)

Wassalam,

————-

Harry Sufehmi wrote:

Saya membaca-baca berbagai artikel mengenai hadits ini, kelihatannya ada
salah satu perawi hadits dari A’isyah tsb yang dipercaya, namun ternyata di
masa tuanya menjadi agak pelupa. Sehingga ada kemungkinan dia keliru
menyebutkan umur Aisyah, jadi belum tentu A’isyah sendiri yang memang
menyebutkan umurnya sekian.

Tapi diskusi mengenai hadits yang satu ini kelihatannya baru akhir-akhir
ini agak ramai, karena zaman dahulu menikahnya seorang wanita dalam umur 11
tahun bukanlah masalah. Baru akhir2 ini saja ketika dikritik oleh orang2
Barat, barulah kaum muslimin menjadi gerah. Padahal kalau kita lihat
konteksnya (kebiasaan pada masa tsb, cepatnya menjadi dewasa wanita di
zaman/daerah tsb, dst), kalaupun ternyata Aisyah menikah pada umur 11 tahun
itu bukan masalah.

Mungkin karena inilah yang satu ini lolos dari investigasi lebih lanjut
dari imam Bukhari, karena memang tidak mencurigakan bagi beliau (menilik
kebiasaan di zaman tsb).

Toh lagipula tolak ukur dewasanya seseorang didalam Islam (dus, bisa
dinikahi) adalah apakah telah (bagi wanita) mendapatkan menstruasi. Dari
sejak zaman Rasulullah saw sampai sekarang saya rasa tidak pernah berubah.
Ini kontras sekali dengan standar moral Barat yang selalu berubah-ubah.

Saya pernah berbincang-bincang dengan kawan kantor saya (non-muslim)
mengenai hal ini. Dia berkomentar, bahwa neneknya dulu menikah pada umur 13
tahun, dan masyarakat tidak menganggap kakeknya sebagai paedophile.
Saya cukup terkesima mendengar ini, terutama ketika mendengar bahwa
neneknya menikah sekitar awal abad ini. Jadi bahkan di dunia Barat pun
belum lama ini mereka masih banyak yang melakukan praktek pedofilia ya -
kalau menggunakan standar moral mereka pada saat ini :-)

Hanya sekedar untuk menambah wawasan, trims.

Wassalam,
Harry

At 18:45 07/04/2005 +0100, Muhammad wrote:
>Nah Ini saudara saya dari Newcastle muncul.
>Silakan dibantah contoh saya pak. Memang biasanya kalau saya bicara
>soal syiah, pak ini kurang rela, he, he, he, :-)
>Hadis Abu Tholib itu sekedar contoh, yang saya pentingkan adalah metoda
>kritik sejarah nya.
>
>Ini saya beri contoh lain yang mungkin sampean suka. Sayangnya saya tidak
>menemukan kembali emailnya, jadi tidak bisa menyebut nama penelitinya. Yang
>jelas penelitinya adalah seorang Barat yang masuk Islam (nah lebih senang lagi
>ini). Dia merasa risau ketika menghadapi tuduhan orang barat tentang
>pernikahan Nabi dengan A’isyah berdasar sebuah hadis yang menyatakan bahwa
>Nabi menikahi A’isyah dalam usia 11 tahun, sementara Nabi sendiri berusia 50
>tahun.
>
>Dari kritik sejara yang dilakukan thd hadis ini, dengan memperbandingkan
>terhadap usia Ashma, kaka A’isyah, dengan memperbandingkan terhadap peristiwa
>hijrah dan saat kelahiran A’isyah, dsb, maka orang barat ini meragukan
>validitas hadis itu. Dia menyimpulkan bahwa hadis itu tidak valid. Dia
>kemukakan alternatif temuannya bahwa ketika menikah, A’isyah ummul mukminin
>berusia 18 tahun.
>
>Ini yang saya maksud, meneliti validitas dan kebenaran hadis dengan metoda
>kritik sejarah. Sekali lagi, informasi yang saya pentingkan adalah metoda
>kritik sejarahnya. Abu Thalib sekedar contoh. Kalau tidak memenuhi selera bagi
>netter kibar, ya saya tarik contoh itu (kasihan Pak Abu Thalib ini, tapi saya
>ingin tetap menghormatinya dan mengharapkan beliau ini benar-2 mukmin :-)),
>saya ganti saja dengan hadis A’isyah ummul mukminin itu :-)
>
>Wassalam,

*******************************************************
* Keluarga Islam Britania Raya dan Sekitarnya (KIBAR) *
* Forum Silaturahmi warga muslim Indonesia di UK *
* Mailing List: kibar@yahoogroups.com *
* Web Site: http://www.kibar.org.uk *
*—————————————————–*
* Unsubscribe: kibar-unsubscribe@yahoogroups.com *
*******************************************************

Diskriminasi umur di dunia pendidikan Indonesia

Hari ini keluarga kami sedang berkabung. Anak kami, Sarah, ditolak masuk ke sebuah sekolah dasar - hanya karena umurnya “baru” 4 tahun 8 bulan.
Padahal dia telah berhasil lulus dengan bagus tes masuk sekolah tersebut (yang menurut direkturnya sendiri, di-desain untuk anak umur 6 tahun), dan sudah jelas kelihatan bosan di TK-nya.

Padahal, sekolah tersebut juga bukan sekolah sembarangan, tapi termasuk salah satu sekolah favorit di daerah tersebut. Tapi sayang sekali wawasannya masih agak sempit dalam soal umur.

Memang direkturnya menjelaskan bahwa memang sudah pernah ada kasus-kasus seperti ini (anak dibawah umur masuk SD), dan kemudian anak tersebut gagal karena belum siap secara mental menghadapi tanggung jawab yang lebih besar (dibandingkan dengan TK yang masih banyak bermainnya).
Tapi kemudian kami sudah menyanggupi untuk membuat perjanjian bahwa kalau anak kami gagal sekitar pertengahan tahun ajaran maka akan diturunkan kembali ke TK, dan kami sudah menyatakan akan memberikan dukungan yang dibutuhkan oleh Sarah.

Ibu saya kemudian bercerita mengenai kakak dan adiknya, yang juga menjadi di bawah umur karena “lompat kelas” - zaman dahulu, ketika prestasi seorang anak dinilai luar biasa dan mampu untuk menjalani kelas di atasnya, maka sekolah akan menaikkan anak ybs walaupun sedang di tengah tahun ajaran.

Saya punya prinsip bahwa sekolah makin baik jika bisa diselesaikan secepat-cepatnya, maka sangat ingin - jika memang si anak tsb mampu dan ingin - jika anak-anak saya bisa menyelesaikan sekolah mereka sebelum umur seharusnya.
Kebetulan saya juga seperti ini dan sudah merasakan sendiri bagaimana nikmatnya; yaitu kita bisa punya lebih banyak waktu untuk mulai berjuang untuk kehidupan pasca sekolah kita. Waktu sangat berharga karena kalau sudah hilang tidak bisa diganti lagi, sehingga saya senang kalau anak-anak saya bisa “mencuri” waktu untuk kehidupan masa depannya.

Kami akan mencoba lagi di sekolah yang lainnya, mudah-mudahan saja kali ini akan berhasil.