Archive for April 27th, 2005

Garuda’s Deadly Upgrade

Saya selama ini tertarik dengan investigative journalism (bukan sekedar reporting), jadi acara berikut ini sangat menarik bagi saya :

[ Garuda's deadly upgrade ] - sebuah dokumenter yang menyelidiki keganjilan di seputar kematian Munir.

Tempat: Goethe Haus,
Jalan Sam Ratulangi, No. 9-15
Menteng, Jakarta Pusat

Jadwal Screening:
Rabu, 27 April 2005
Kamis, 28 April 2005
17.00 WIB & 19.00 WIB

FREE ENTRY

Siksaan bagi yang berani melawan Dajjal

Bisa dibaca [ disini ]
Semoga Allah swt memberikan kebaikan di dunia dan akhirat kepada pak Taysir, amin.

Btw, pak Taysir bukan yang pertama, sebelumnya ada misalnya [ pak Kelly ], dan lain-lainnya.

Sumber berita alternatif

Baru sadar ternyata ada [ Indymedia Jakarta ] - selamat membaca.

Tanda-tanda kiamat

Rasulullah S.A.W telah bersabda,
” Hari kiamat itu mempunyai tanda, bermulanya dengan tidak laris jualan di pasar, sedikit sahaja hujan dan begitu juga dengan tumbuh-tumbuhan. Ghibah menjadi-jadi dan merata, memakan riba, banyaknya anak-anak zina, orang kaya diagung-agungkan, orang-orang fasik akan bersuara lantang di masjid, para ahli mungkar lebih banyak menonjol dari ahli haq

Berkata Ali bin Abi Talib,
“Akan datang di suatu masa di mana Islam itu hanya akan tinggal namanya saja, agama hanya bentuk saja,
Al-Qur’an hanya dijadikan bacaan saja, mereka mendirikan masjid, sedangkan masjid itu sunyi dari zikir menyebut Asma Allah.
Orang-orang yang paling buruk pada zaman itu ialah para ulama, dari mereka akan timbul fitnah dan fitnah itu akan kembali kepada mereka juga.
Dan kesemua yang tersebut adalah tanda-tanda hari kiamat.”

Sabda Rasulullah S.A.W,
“Apabila harta orang kafir yang dihalalkan tanpa perang yang dijadikan pembahagian bergilir, amanat dijadikan seperti harta rampasan, zakat dijadikan seperti pinjaman, belajar lain daripada agama, orang lelaki taat kepada isterinya, menderhakai ibunya, lebih rapat dengan teman dan menjauhkan ayahnya, suara-suara lantang dalam masjid, pemimpin kaum dipilih dari orang yang fasik, orang dimuliakan kerana ditakuti akan tindakan jahat dan aniayanya dan bukan kerana takutkan Allah, maka kesemua itu adalah tanda-tanda kiamat.”

Hati-hati antibiotik

Hati-hati membawa anak Anda ke dokter, perhatikan apakah obat yang mereka berikan ? Apakah, lagi-lagi, antibiotik ?

Antibiotik memang menyenangkan pada awalnya, karena sangat cepat menyembuhkan anak Anda. Namun, efek sampingnya di kemudian hari bisa cukup mengenaskan, seperti :

  • Kalau sering tidak habis diminum / dosisnya kecil, maka lama-kelamaan kuman-kumannya bisa menjadi kebal terhadap antibiotik tersebut. Istilahnya adalah superbugs.
    Dosis kecil - contohnya; ada dokter yang benar, kalau memberi saya Amoxicillin selalu 30 butir (3×1 sehari, total 10 hari). Tapi ternyata ada juga yang hanya memberikan 10 butir. Waduh.
  • Kalau sampai kumannya kebal / bermutasi menjadi superbugs, dan menyebar ke orang lain, maka orang lain juga akan sengsara karena antibiotik yang dia minum juga tidak akan mempan.
  • Antibiotik cenderung melemahkan daya tahan alami tubuh. Karena antibiotik yang bekerja membasmi kuman. Saya merasakan sendiri ketika awal berusaha melepaskan diri dari ketergantungan antibiotik - infeksi tenggorokan saja sampai menyebabkan saya terkapar 3 minggu di rumah.
    Alhamdulillah sekarang hanya beberapa hari saja, seiring dengan semakin terbiasanya daya tahan tubuh menghadapi kuman tanpa dibantu antibiotik.
  • Ketergantungan antibiotik : Seperti yang saya sebut diatas, dan untuk mengujinya mudah saja. Ketika Anda sakit lagi, coba tidak minum antibiotik. Dan lalu lihat, berapa lama Anda baru sembuh ?
    Kalau luar biasa lama seperti saya dahulu, maka kemungkinan besar Anda sudah mengalami ketergantungan antibiotik.

Saya rasa Anda tidak akan mau mengalami sendiri hal ini, apalagi jika terjadi kepada anak-anak Anda. Jadi, hati-hati dan lebih selektif lah dengan penggunaan antibiotik. Biarkan daya tahan tubuh anak Anda mendapatkan cukup “latihan”, demi kebaikannya sendiri di masa depan - anak menjadi sehat, kuat, dan tidak mudah sakit; insyaAllah.

Para selebritis kita

Selebritis IT, yang tong kosong namun nyaring bunyinya, kelihatannya lebih banyak dari yang saya kira. Selama beberapa bulan saya tinggal di Indonesia, makin banyak saja yang saya temukan :)

Orang-orang begini pada awalnya kelihatan lucu, lalu lama-lama menyebalkan ketika makin konyol; namun, mereka bisa juga menyulitkan. Saya pernah paling tidak 2 kali apes ketemu orang seperti ini di tempat kerja.

Yang pertama pada awalnya selalu sibuk bercuap-cuap soal teknologi, namun selalu diputar-putarkan (dan pastinya penuh jargon) sehingga orang menjadi kebingungan dan merasa rendah diri dan mengira bahwa dia ini jagonya IT.
Saya tertawa saja sih melihatnya sambil kasihan juga, habis waktunya cuma untuk membesarkan egonya. Padahal ego besar cuma membuat hidup ini jadi meresahkan, karena jadi makin perlu dielus-elus. Seperti minum air laut, justru membuat semakin haus.
Namun ketika dia mulai menghalangi pekerjaan saya, maka saya segera bertindak. Saya paling tidak senang kalau ada orang yang menghalangi menunaikan kewajiban saya - kalau enggak membantu, mbok ya jangan malah nyusahin mas.
Badut pertama ini kemudian tersingkir dari divisi komputer setelah saya menjelaskan masalah yang ada kepada manager, dan saya bisa kembali bekerja dengan tenang.

Tapi kemudian datang badut berikutnya. Jadi manager saya pula. Duh.
OK, saya tolerir saja… pertama-tama masih saya koreksi, namun lama-lama malas juga. Too much bullsh*t, overload… padahal kerjaan juga banyak. Agak kesal juga melihat orang yang gajinya hampir 2 kali lipat saya tapi kerjaannya cuma omong kosong kemana-mana. Tapi kemudian kasihan kalau pas melihat bagaimana jelas kelihatan hidupnya tidak tenang - iya lah, orang pemalas mana bisa hidup bahagia.

Sayangnya, kemudian dia mulai menghalangi pekerjaan saya :( dan mulai memerintahkan saya mengerjakan berbagai hal yang tidak berguna.
Setelah berminggu-minggu mencoba dengan cara baik-baik (menjelaskan fakta dengan sabar, bicara 2 mata sampai larut malam di kantor, dst) tidak mempan, akhirnya terpaksa saya maju ke managernya. Saya jelaskan bahwa saya akan mengajukan protes resmi ke manager personalia. Konsekuensi ini cukup berat - kalau saya kalah, maka saya akan terpinggirkan di komunitas kantor (karena posisi dia sebagai manager). Tapi kalau saya menang, maka dia bisa dipecat dari jabatannya. Sayangnya, tidak ada jalan lainnya yang bisa saya temukan.

Manajernya kemudian mengambil jalan tengah yaitu dengan memindahkan posisinya ke pos yang lain. Sebetulnya sih tidak benar juga, karena dia tetap makan gaji buta tanpa menghasilkan apapun bagi perusahaan. Tapi ya sudahlah, yang penting saya bisa kembali bekerja tanpa dihalang-halangi.

Sekarang bertemu dengan berbagai badut-badut IT di Indonesia :) smile aja deh. Sambil berdoa mudah-mudahan mereka tidak ada yang menyusahkan kita semua.

Si kaya nan berkuasa

Cuma mau bilang bahwa saya sudah muak melihat orang-orang saling berebut menghormati Bapak Kaya bin Berkuasa (walaupun koruptor), namun saling menginjak-injak teman mereka sendiri. Menyedihkan.

Saya kesulitan mencari kawan yang bijak, walaupun tidak kaya. Dimana sih orang-orang ini berkumpul ? Please let me know.

Ghibah revisited

Ghibah / gosip / menggunjingkan orang lain, sudah menjadi dosa yang biasa kita lakukan secara kolektif. Tanpa rasa bersalah, kita tertawa-tawa ketika tahu bahwa si anu dibukakan rahasianya oleh temannya sendiri.

Padahal ghibah termasuk ke dalam dosa besar, bukan kecil !
Nabi saw menyamakan pelaku ghibah dengan kanibal yang memakan daging saudaranya sendiri.

Dan kalau kita pikir dosa riba itu sudah sangat besar, karena yang paling ringan adalah seperti berzina dengan ibu sendiri - ternyata, dosa riba yang paling berat itu seperti melakukan ghibah :

Nabi saw bersabda :
Riba itu ada tujuh puluh dua pintu, yang paling ringan daripadanya sama dengan seorang laki-laki yang menyetubuhi ibunya (sendiri), dan riba yang paling berat adalah pergunjingan seorang laki-laki atas kehormatan saudaranya”.
(As-Silsilah As-Shahihah, 1871)

(rujukan online: situs as-sunnah, terimakasih juga kepada Hendri Syahrial yang sudah memverifikasinya secara offline)

Pembicaraan itu memang jadi sangat menarik kalau menggosipkan seseorang, tapi bahaya euy. Bisa merusak jiwa & raga.
Tapi kalau tidak bergosip, bisa terkucil di pergaulan. Solusinya ? Banyak sabar deh kayaknya :) ok, selamat berjuang.