Archive for May 13th, 2005

UU Sumber Daya Air

Akur dengan Gempur, yang [ menentang UU Sumber Daya Air ]. UU ini jelas sangat berpihak kepada pelaku bisnis, mengancam kepentingan rakyat kecil, dan bertentangan dengan UUD ‘45.

Mudah-mudahan ada penguasa yang masih punya nurani, yang mau bersusah payah berjuang untuk merubah UU ini, agar menjadi lebih berpihak kepada wong cilik.

Jalan Tol

Kebetulan baca posting Ben [ soal jalan tol ], jadi ingat beberapa pengalaman apes pribadi.

  • Tikungan terlalu tajam tanpa peringatan : normalnya, di berbagai highway (yang malah gratis), makin tajam suatu tikungan, maka makin besar/jelas peringatannya. Ini tidak berlaku di Indonesia - contoh: saya nyaris celaka ketika pertama kali mencoba jalan tol Serpong - Pondok Indah, ada sebuah tikungan yang ternyata sangat tajam; sehingga saya nyaris menghantam pembatas jalan. Padahal saya tidak terlalu ngebut dan ketika itu cukup waspada.
  • Jalanan rusak : Jasa marga pernah menampilkan beberapa advertorial mengenai bahaya pecah ban di jalan tol - well, menghantam jalan rusak dalam kecepatan lebih dari 100 km saya kira cukup membantu untuk memecahkan ban mobil.
  • Blind summit : Blind summit adalah jalanan yang mendaki dengan cukup curam, sehingga kita tidak bisa melihat apa yang ada di balik puncak jalan tersebut. Seingat saya, saya belum pernah menemukan blind summit di motorway manapun - kecuali di Indonesia. Dan baru saja pagi tadi nyaris celaka - di jalan tol kota arah ke airport, persis setelah blind summit disitu ternyata macet total. Padahal mobil sedang melaju kencang karena jalan tol sedang kosong :( jantung hampir copot.
  • Informasi jalan tol : Jasa marga sangat minim menyediakan layanan informasi keadaan jalan tol, memang pernah ada beberapa papan informasi elektronik tapi jarang. Kelihatannya mereka mengandalkan radio Sonora (92 FM), tapi saya kira kok Metro FM (107.8 FM) lebih bagus tuh, cepat dan tidak bertele-tele. Tapi tetap saja papan informasi itu penting, kalau di negara lain biasanya jika ada kecelakaan kita sudah tahu dari papan informasi jauh sebelumnya. Sehingga kita bisa mengubah rute kita sebelum terjebak macet.
  • Penanganan kecelakaan : 2 poin diatas saya membahas kemacetan total di ruas tol dalam kota - ternyata terjadi karena ada sebuah truk trailer besar yang terbalik. Tetapi, kejadiannya jam 12 malam, namun baru di-handle oleh Jasa marga jam 5 pagi (menurut Metro FM). Duh, ya jelas jam 7 pagi pun (baca: jam sibuk) masih belum selesai. Ini bisa dihindari kalau Jasa marga mau meniru jalan tol lainnya, yang menaruh kamera-kamera monitor, atau patroli yang lebih sering.
  • Jalanan bergelombang : WTF with this one ? Beberapa jalan tol sangat bergelombang, sampai bisa terasa beberapa kali cengkeraman ban pada jalan menjadi melemah. Ini jelas berbahaya, karena bisa menyebabkan kecelakaan karena berkurangnya kontrol pengemudi terhadap kendaraan.
  • Middle-lane hogger : Ada banyak pengemudi kendaraan yang malas pindah ke jalur kiri walaupun kecepatannya pelan, dan tetap di jalur tengah / kanan. Akibatnya, seringkali terjadi traffic jam berkilo-kilometer karena 2 kendaraan berjalan lambat dengan paralel - padahal di depannya jalanan kosong. Di negara lainnya yang seperti ini sudah mulai menjadi sasaran polisi, karena menurunkan efisiensi jalan yang ada, menaikkan polusi udara, membuang percuma bensin & waktu, dll.
  • Penghalang pandangan : Memperindah ruas tol sih sah-sah saja, tapi kalau sampai menghalangi pandangan, duh …
    Beberapa kali saya menemukan tikungan dimana visibility-nya hanya beberapa meter ke depan, karena terhalang oleh tanaman hias di pinggir ruas tol.
  • Etc : Rasanya sih masih ada lagi, silahkan ditambahkan :)

Support your local industry

…buy your local laptop bag: [ Move-X ]

I find it interesting because it looks just like a normal backpack (ignored by laptop thieves), seems to have loads of space, loads of place to put your things, and the price is quite reasonable.

If you wish to buy one, they can be contacted on movepack@yahoo.com or phone/SMS : 0815 938 3936.

Kutitipkan Temanku; Calon Orang Penting di Negeri Ini!

Yang terbaru dari penulis cilik berbakat, Abdurrahman Faiz. Selamat membaca.

——————–
Kutitipkan Temanku; Calon Orang Penting di Negeri Ini!

Rumah mungil yang hanya sepetak itu berada dekat sekali dengan pasar dan kolong jalan tol. Di sekitarnya tampak kekumuhan yang memedihkan mata.
Itulah Rumah Cahaya Penjaringan. Tempat ini dirintis oleh teman-teman Bunda di Forum Lingkar Pena dan Fojis. Yang mengurus Om Andi, penulis yang memakai nama pena Biru Laut itu lho. Om Andi dulu tinggal di dekat sini dan mantan
preman. Aku terkejut juga. Banyak teman preman Om Andi yang suka rela membantu Rumah Cahaya. Ada Om Rojak, Om Tarjo dan banyak Om lainnya. Mereka hebat!

Aku sampai pagi itu dan terkejut dengan sambutan meriah dari teman-teman kecil di Rumah Cahaya. Usia mereka antara 5-13 tahun. Aku tersenyum dan menyalami mereka. Wah mereka ramah!. Mereka menatapku seolah aku ini artis. Aku jadi tidak enak sekali. Aku mencoba untuk lebih akrab.

Tante Asma dan bunda membuat beberapa acara. Ruangan mungil itu seakan hampir runtuh karena ramainya sorak anak-anak. Apalagi saat mereka bermain tebak-tebakan dan ekspresi untuk mendapatkan banyak hadiah imut yang kami
bawa. Nah di tengah keramaian itu tiba-tiba aku melihat sesuatu, tepat di sebelah rumah cahaya.

“Tempat apa itu? Peralatan apa?” tanyaku pada teman di sebelahku.

“Itu tempat perjudian,” katanya. “Dan itu alat-alatnya,” tambah anak berbaju biru itu lagi. “Anak-anak suka main di situ. Padahal seharusnya itu tak terjadi.”

Aku sering mendengar di daerah dekat Rumah Cahaya ada tempat perjudian. Tapi aku tak menyangka kalau tepat di sebelah Rumah Cahaya!

Aku menyalami anak berbaju biru itu dan berkenalan. Namanya Hengki Rifai. Lalu tiba-tiba kami sudah mengobrol seperti teman lama.

“Di sini banyak penduduk yang kesusahan. Yang putus sekolah juga banyak,” kata Hengki. “Saya berdoa dan berjuang supaya bisa terus sekolah.”

Hengki berumur 12 tahun dan duduk di kelas 6 SD. Aku baru 9 tahun dan baru kelas III SD, tapi asyiknya obrolan kami nyambung.

“Boleh aku ke rumahmu?” tanyaku.

Hengki mengangguk. “Tapi rumahku aneh. Tidak apa?”

“Aku suka rumah aneh,” ujarku tersenyum.

Hengki tertawa, matanya yang bulat bersinar.

Kami pun berangkat bersama Om Rojak dan Om Tarjo, preman baik hati pendukung Rumah Cahaya.

Perjalanan ke rumah Hengki melewati lorong-lorong kumuh di bawah kolong tol. Aku prihatin karena lorong tersebut kotor, gelap dan bau. Anak-anak kecil buang air besar di got kecil yang cetek itu. Rumah-rumah di sana tidak layak huni. Kumuh sekali. Hampir semua rumah tidak beratap. Atapnya langsung jembatan tol itu. Aduh, aku jadi ingin menangis.

Akhirnya aku sampai juga di rumah Hengki. Aduh rumah Hengki membuatku sedih. Rumah itu kecil, kumuh sekali. Lebih mirip gudang. Di sebelahnya ada kandang-kandang ayam. Tapi kata Hengki tinggal kandangnya, sudah tak ada ayamnya lagi. Aku tidak bisa membayangkan ada orang menempati rumah seperti ini. Ya Allah aku istighfar dan menahan airmataku yang ingin cepat turun.

Ternyata Hengki anak yatim. Yang membuatku ingin menangis lagi, Ibu Hengki sebenarnya masih hidup. Tapi pergi meninggalkannya begitu saja. Hengki hidup bersama kakek dan neneknya. Neneknya punya warung mungil di depan rumah
mereka. Hengki sering membantu neneknya berjualan. Aku juga ngobrol dengan nenek Hengki yang ramah. Hatiku tersayat lagi melihat orang setua itu masih harus bekerja.

Aku kagum, meski mereka kesusahan tapi sangat mengutamakan tamu. Aku minum teh botol tapi mereka tak mau dibayar. Terang saja aku memaksa. Aku paksa Hengki sekalian menerima sedikit tabunganku yang kubawa hari itu. Hengki
kaget. Dia malu tapi bersyukur. Rupanya dia belum bayar uang sekolah beberapa bulan. Aku juga memberikan buku-buku karyaku pada Hengki. Hengki tertawa. Katanya dia sudah membaca semua puisiku di Rumah Cahaya, tapi belum
punya bukunya. Dia berterimakasih sekali. Ah, Hengki. Sebenarnya aku yang berterimakasih padamu. Kamu mengingatkanku lagi akan arti syukur dan peduli pada sesama.

Sayang, aku tak bisa lama mengobrol dengan Hengki. Sebab acara di Rumah Cahaya belum selesai. Aku harus kembali ke sana. Aku menyalami nenek, menyalami dan memeluk Hengki. Aku katakan padanya begini: “Kita terus
bersahabat ya! Apapun yang terjadi!” Hengki mengangguk dan menjabatku erat.

“Kamu tahu Hengki, aku yakin, meski keadaanmu sekarang begini, suatu saat kamu akan jadi orang hebat! Orang penting! Jadi kamu tidak boleh menyerah sekarang!” pesanku padanya.

Hengki tertawa, menampakkan giginya yang putih bersih. Aku senang melihat Hengki yang hitam manis. Dia cerdas dan baik hati. Aku tahu suatu saat, kalau dia tetap berjuang dan dekat dengan Tuhan, dia benar-benar akan menjadi orang penting di negara ini!

“Aku akan datang lagi!” seruku. Aku melambai pada Hengki dan nenek, sambil berusaha menahan haru.

Ditemani Om Rojak, Om Joni, Om Tarjo, preman-preman baik hati itu, aku kembali menuju Rumah Cahaya Penjaringan. Mereka menatapku heran. Aku juga menatap mereka kagum.

Preman pahlawan, aku tahu Allah akan menjaga sahabatku Hengki Rifai. Tapi tolong ya, aku titip juga calon orang penting ini pada kalian!

(Abdurahman Faiz)