SEObox: Web Hosting Murah Unlimited Homeschooling Indonesia

Archive for August 16th, 2005

Pengoemoeman penting

To: bemo-batavia@yahoogroups.com
From: kukuhtw
Subject: [batavia] Pengoemoeman penting

salam merdeka. salam perdjoeangan. merdeka ataoe mati.

kita dapat informasi dari radio bahwa djepang soedah mendjerah tanpa
sdjarat kepada tentara sekoetoe tanggal 14 agoestoes kemarin. saat
ini kaoem moeda sedang bergerak membawa pak karno dan kawan-kawan
oentoek mempersiapkan kemerdekaan perdjoeangan negara kita. kita
djoega soedah dengar kabar bahwa djepang mendjerah tanpa sdjarat
karena beberapa minggoe laloe kota kota mereka dibom atom oleh
amerika tapi berita ini beloem bisa kita pastikan benar. kawan-kawan
seperdjoeangan , marilah kita memanfaatkan perkembangan sitoeasi ini
oentoek memerdekaan negara kita. mohon berita baik ini
disebarloeaskan kepada teman-teman seperdjoeangan tanah air. boeat
djang ingin mendjoembangak idendja bagaimana memboeat teks proklamasi
djang baik, mohon soembangan bantoeanndja oentoek bergaboeng dengan
kita2 semoea di rengasdengklok hari ini. kita djoega memerloekan
soembangan printer oentoek mencetak naskah proklamasi. boeat djang
poendja roemah didaerah menteng, kita perloe soeatoe tempat oentoek
mendjakan kemerdekaan kita dimoeka oemoem. akhir kata kami oecapkan,
semoga proklamasi kemerdekaan negara indonesia bisa diselenggarakan
secepat moengkin moelai dari sekarang.
salam Merdeka ataoe Mati !


Merdeka ! (mudah-mudahan dalam waktu yang sesingkat-singkatnya, dari segala belenggu ekonomi, ideologi, dll)

Kisah Sedih Pencuci Piring

Siapa yang paling berbahagia saat pesta pernikahan berlangsung?

Bisa jadi kedua mempelai yang menunggu detik-detik memadu kasih. Meski lelah menderanya namun tetap mampu tersenyum hingga tamu terakhirpun. Berbulan bahkan hitungan tahun sudah mereka menunggu hari bahagia ini. Mungkin orang tua si gadis yang baru saja menuntaskan kewajiban terakhirnya dengan mendapatkan lelaki yang akan menggantikan perannya membimbing putrinya untuk langkah selanjutnya setelah hari pernikahan. Atau bahkan ibu pengantin pria yang terlihat terus menerus sumringah, ia membayangkan akan segera menimang cucu dari putranya. “Aih, pasti segagah kakeknya,” impinya.

Para tamu yang hadir dalam pesta tersebut tak luput terjangkiti aura kebahagiaan, itu nampak dari senyum, canda, dan keceriaan yang tak hentinya sepanjang mereka berada di pesta. Bagi sanak saudara dan kerabat orang tua kedua mempelai, bisa jadi momentum ini dijadikan ajang silaturahim, kalau perlu rapat keluarga besar pun bisa berlangsung di sela-sela pesta. Sementara teman dan sahabat kedua mempelai menyulap pesta pernikahan itu menjadi reuni yang tak direncanakan. Mungkin kalau sengaja diundang untuk acara reuni tidak ada yang hadir, jadilah reuni satu angkatan berlangsung. Dan satu lagi, bagi mereka yang jarang-jarang menikmati makanan bergizi plus, inilah saatnya perbaikan gizi walau bermodal uang sekadarnya di amplop yang tertutup rapat.

Nyaris tidak ada hadirin yang terlihat sedih atau menangis di pesta itu kecuali a ir mata kebahagiaan. Kalau pun ada, mungkin mereka yang sakit hati pria pujaannya tidak menikah dengannya. Atau para pria yang sakit hati lantaran primadona kampungnya dipersunting pria dari luar kampung. Namun tetap saja tak terlihat di pesta itu, mungkin mereka meratap di balik dinding kamarnya sambil memeluk erat gambar pria yang baru saja menikah itu. Dan pria-pria sakit hati itu hanya bisa menggerutu dan menyimpan kecewanya dalam hati ketika harus menyalami dan memberi selamat kepada wanita yang harus mereka relakan menjadi milik pria lain.

Apa benar-benar tidak ada yang bersedih di pesta itu? Semula saya mengira yang paling bersedih hanya tukang pembawa piring kotor yang pernah saya ketahui hanya mendapat upah sepuluh ribu rupiah plus sepiring makan gratis untuk ratusan piring yang ia angkat. Sepuluh ribu rupiah yang diterima setelah semua tamu pulang itu, sungguh tak cukup mengeringkan peluhnya. Sedih, pasti.

Tak lama kemudian saya benar-benar mendapati orang yang lebih bersedih di pesta itu. Mereka memang tak terlihat ada di pesta, juga tak mengenakan pakaian bagus lengkap dengan dandanan yang tak biasa dari keseharian di hari istimewa itu. Mereka hanya ada di bagian belakang dari gedung tempat pesta berlangsung, atau bagian tersembunyi dengan terpal yang menghalangi aktivitas mereka di rumah si empunya pesta. Mereka lah para pencuci piring bekas makan para tamu terhormat di ruang pesta.

Bukan, mereka bukan sedih lantaran mendapat bayaran yang tak jauh berbeda dengan pembawa piring kotor. Mereka juga tidak sedih hanya karena harus belakangan mendapat jatah makan, itu sudah mereka sadari sejak awal mengambil peran sebagai pencuci piring. Juga bukan karena tak sempat memberikan doa selamat dan keberkahan untuk pasangan pengantin yang berbahagia, meski apa yang mereka kerjakan mungkin lebih bernilai dari doa-doa para tamu yang hadir.

Air mata mereka keluar setiap kali memandangi nasi yang harus terbuang teramat banyak, juga potongan daging atau makanan lain yang tak habis disantap para tamu. Tak tertahankan sedih mereka saat membayangkan tumpukan makanan sisa itu dan memasukkannya dalam karung untuk kemudian singgah di tempat sampah, sementara anak-anak mereka di rumah sering harus menahan lapar hingga terlelap.

Andai para tamu itu tak mengambil makanan di luar batas kemampuannya menyantap, andai mereka yang berpakaian bagus di pesta itu tak taati nafsunya untuk mengambil semua yang tersedia padahal tak semua bisa masuk dalam perut mereka, mungkin akan ada sisa makanan untuk anak-anak di panti anak yatim tak jauh dari tempat pesta itu. Andai pula mereka mengerti buruknya berbuat mubazir, mungkin ratusan anak yatim dan kaum fakir bisa terundang untuk ikut menikmati hidangan dalam pesta itu.

Sekadar usul untuk Anda yang akan melaksanakan pesta pernikahan, tidak cukup kalimat “Mohon Doa Restu” dan “Selamat Menikmati” yang tertera di dinding pesta, tapi sertakan juga tulisan yang cukup besar “Terima Kasih untuk Tidak Mubazir”.

Mungkinkah?

Hoax: Neraka di perut bumi

Akhir-akhir ini saya kebanjiran email dengan attachment berukuran cukup besar (duh), yang mengklaim adalah rekaman suara jeritan manusia yang sedang disiksa di perut bumi.

Berdasarkan pengalaman sebelumnya (ketiadaan referensi yang valid, dll), saya langsung menebak ini hoax. Apalagi setelah mendengar rekaman suaranya. It could be anything.
Tapi, saya sedang tidak ada waktu untuk meng-investigasi ini.

Trims kepada Priyadi, sekarang kita punya bukti-bukti bahwa email tersebut cuma penipuan.

Ayo dong umat Islam, kok mau ditipu melulu seperti begini… ?

Mind your own business, Uncle Sam

US gov’t and its allies (especially Australia & Singapore gov’t) would love to see Indonesia to crumble apart to small nations. That would mean less one potential threat, and a lot of weak nations to bully for its natural resources.

We have had numerous revolts here, which have enjoyed external assistance. Indonesian army and police have caught many weapons and goods shipment to these rebels.

While we rejoiced at the moment for the peace treaty on Aceh, US gov’t continue its work. Now it demanded that Papua to be given independence.

I saw in Republika newspaper today (last page), that Lynn Pascoe said that Papuan people has not enjoyed good service from Indonesian gov’t.

Excuse me, Sir ! Please stop acting so righteous, Mr I-am-so-Perfect.
Mind your own people first. Stop making your own children’s suffering.

And more importantly, stop acting oh-so-good for YOUR own benefit.
(no problem if it’s really sincere, but history told us that’s not the case)

Forest fire in Indonesia

Indonesian Embassy in Malaysia was protested several times during the forest fire, which caused thick smoke to engulf Singapore, Malaysia, and even as far as Thailand. The smoke has dropped visibility in main Malaysian cities, and caused respiratory problems for Malaysian citizens.

However, it turned out that the offenders are Malaysian-owned companies in Indonesia.
They burned the forest to clear the land. And in the process, caused serious problems for thousands of people.

I sure hope these criminals got the full 15 years sentence. They richly deserved it.