<?xml version="1.0" encoding="utf-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	>
<channel>
	<title>Comments on: Bahaya Syiah</title>
	<atom:link href="http://harry.sufehmi.com/archives/2006-01-19-1099/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://harry.sufehmi.com/archives/2006-01-19-1099/</link>
	<description>life is a struggle &#038;&#038; information wants to be free</description>
	<pubDate>Fri, 21 Nov 2008 03:33:07 +0000</pubDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.6.1</generator>
		<item>
		<title>By: Roni</title>
		<link>http://harry.sufehmi.com/archives/2006-01-19-1099/#comment-158061</link>
		<dc:creator>Roni</dc:creator>
		<pubDate>Wed, 05 Nov 2008 23:48:46 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">/?p=1099#comment-158061</guid>
		<description>Assalam, Apakah antum semua yaqin bahwa hanya dengan tidak mempelajari syiah dan mengtaklid buku2 yang menyalahkan syiah maka tidak akan tersesat?. Dan apakah ada jaminan selamat bagi kita yang membaca, mengoleksi,mengaku dan menghafal ajaran ahlu sunnah? 

dalam Quran disebutkan : "PERUMPAMAAN orang-orang yang dipikulkan kepadanya Taurat, kemudian mereka tiada memikulnya adalah seperti KELEDAI yang membawa kitab-kitab yang tebal. Amatlah buruknya perumpamaan kaum yang mendustakan ayat-ayat Allah itu. Dan Allah tiada memberi petunjuk kepada kaum yang zalim." ( Al Jumu'ah : 5 ) 
Masya ALLAH. Semoga kita dijauhkan dari keadaan seperti itu, Kitab2nya mungkin hebat tapi tidaklah hebat keledai yang membawanya. 
Karena jihad akbar kita adalah membuktikan semua perkataan dan ilmu kita dengan amal perbuatan dengan terus menerus berihsan kepada Allah ( Ahsanu Amalan ). 
Dalam Quran disebutkan : 
"Mengapa kamu suruh orang lain (mengerjakan) kebaktian, sedang kamu melupakan diri (kewajiban) mu sendiri, padahal kamu membaca Al Kitab Maka tidaklah kamu BERFIKIR?" ( Al Baqarah : 44 ) La Haula wa la quwwata illa Billah.

Semoga kita diselamatkan dari ke-Musyrik-an sebagaimana menurut Quran : "yaitu orang-orang yang memecah-belah Dien mereka dan mereka menjadi beberapa golongan. Tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada golongan mereka ( Ar ruum : 32 ). 

Ayo.. monggo kita semua mengkaji dengan niat maghrifatullah ( mengenal Allah dengan sebenar-benarnya ) sehingga diperkenankan olehnya untuk mendapatkan Predikat Hamba Allah, bukan hamba ilmu,syahwat dan hawa nafsu kita. karena kenyataannya kita semua adalah abdi ( budak ). 
"yang mendengarkan perkataan lalu mengikuti apa yang paling baik di antaranya. Mereka itulah orang-orang yang telah diberi Allah petunjuk dan mereka itulah orang-orang yang mempunyai akal". ( Az zumar : 18 )

Perjalanan masih jauh dan panjang, begitu banyak PR kita untuk sampai di tujuan sebagai hamba Allah, lihat  ( Al Furqan 63 - 74 ) dan begitu banyak ayat2 yang belum mampu kita baca seperti dalam Quran : "Kami akan memperlihatkan kepada mereka Ayat-ayat Kami di segala wilayah bumi dan pada diri mereka sendiri, hingga jelas bagi mereka bahwa itu adalah Al Haq. Tiadakah cukup bahwa sesungguhnya Tuhanmu menjadi saksi atas segala sesuatu?" ( Fushshilat : 53 )

Subhanallah walhamdulillah.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Assalam, Apakah antum semua yaqin bahwa hanya dengan tidak mempelajari syiah dan mengtaklid buku2 yang menyalahkan syiah maka tidak akan tersesat?. Dan apakah ada jaminan selamat bagi kita yang membaca, mengoleksi,mengaku dan menghafal ajaran ahlu sunnah? </p>
<p>dalam Quran disebutkan : &#8220;PERUMPAMAAN orang-orang yang dipikulkan kepadanya Taurat, kemudian mereka tiada memikulnya adalah seperti KELEDAI yang membawa kitab-kitab yang tebal. Amatlah buruknya perumpamaan kaum yang mendustakan ayat-ayat Allah itu. Dan Allah tiada memberi petunjuk kepada kaum yang zalim.&#8221; ( Al Jumu&#8217;ah : 5 )<br />
Masya ALLAH. Semoga kita dijauhkan dari keadaan seperti itu, Kitab2nya mungkin hebat tapi tidaklah hebat keledai yang membawanya.<br />
Karena jihad akbar kita adalah membuktikan semua perkataan dan ilmu kita dengan amal perbuatan dengan terus menerus berihsan kepada Allah ( Ahsanu Amalan ).<br />
Dalam Quran disebutkan :<br />
&#8220;Mengapa kamu suruh orang lain (mengerjakan) kebaktian, sedang kamu melupakan diri (kewajiban) mu sendiri, padahal kamu membaca Al Kitab Maka tidaklah kamu BERFIKIR?&#8221; ( Al Baqarah : 44 ) La Haula wa la quwwata illa Billah.</p>
<p>Semoga kita diselamatkan dari ke-Musyrik-an sebagaimana menurut Quran : &#8220;yaitu orang-orang yang memecah-belah Dien mereka dan mereka menjadi beberapa golongan. Tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada golongan mereka ( Ar ruum : 32 ). </p>
<p>Ayo.. monggo kita semua mengkaji dengan niat maghrifatullah ( mengenal Allah dengan sebenar-benarnya ) sehingga diperkenankan olehnya untuk mendapatkan Predikat Hamba Allah, bukan hamba ilmu,syahwat dan hawa nafsu kita. karena kenyataannya kita semua adalah abdi ( budak ).<br />
&#8220;yang mendengarkan perkataan lalu mengikuti apa yang paling baik di antaranya. Mereka itulah orang-orang yang telah diberi Allah petunjuk dan mereka itulah orang-orang yang mempunyai akal&#8221;. ( Az zumar : 18 )</p>
<p>Perjalanan masih jauh dan panjang, begitu banyak PR kita untuk sampai di tujuan sebagai hamba Allah, lihat  ( Al Furqan 63 - 74 ) dan begitu banyak ayat2 yang belum mampu kita baca seperti dalam Quran : &#8220;Kami akan memperlihatkan kepada mereka Ayat-ayat Kami di segala wilayah bumi dan pada diri mereka sendiri, hingga jelas bagi mereka bahwa itu adalah Al Haq. Tiadakah cukup bahwa sesungguhnya Tuhanmu menjadi saksi atas segala sesuatu?&#8221; ( Fushshilat : 53 )</p>
<p>Subhanallah walhamdulillah.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: rezana</title>
		<link>http://harry.sufehmi.com/archives/2006-01-19-1099/#comment-156655</link>
		<dc:creator>rezana</dc:creator>
		<pubDate>Thu, 16 Oct 2008 05:51:37 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">/?p=1099#comment-156655</guid>
		<description>jangan begitu donk... kalau begini terus cara mensikapi orang berdebat... ujung-ujungnya malah jumud lagi. biarkan saja semua kritik ditumpahkan disini selama jalan pikirannya jelas, ada dalil dan argumen logis. imam Bukhary mungkin malah sangat setuju kalau ada yang mengkoreksi koleksi hadisnya, para pemuka Syiah tentu akan sangat antusias jika ada yang 'ngulitin' alKaafi. ya pasti donk kaum syiah punya kitab hadis rujukan sendiri (disamping yang di sunni juga tentunya). para Imam as tentu merupakan otoritas mutlak dalam menentukan kebenaran atau kepalsuan suatu hadis, bahkan untuk tafsir al-Qur'an (meskipun dengan resiko ditindas dan ditumpas oleh rezim otoriter saat itu). Mereka (para Imam as) tentu tidak lupa, bahkan cahaya Islam yang sejati tetap terang benderang berkat mereka ketika selubung dinasti muawiyah dan abasyiah dengan ganas menutupi cahaya itu. mengapa jadi lucu begitu? mungkin karena dengan mencintai mereka (ahlu bait) itu orang jadi tampak beda dan asing. ya jangan-jangan ... memang begitulah adanya.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>jangan begitu donk&#8230; kalau begini terus cara mensikapi orang berdebat&#8230; ujung-ujungnya malah jumud lagi. biarkan saja semua kritik ditumpahkan disini selama jalan pikirannya jelas, ada dalil dan argumen logis. imam Bukhary mungkin malah sangat setuju kalau ada yang mengkoreksi koleksi hadisnya, para pemuka Syiah tentu akan sangat antusias jika ada yang &#8216;ngulitin&#8217; alKaafi. ya pasti donk kaum syiah punya kitab hadis rujukan sendiri (disamping yang di sunni juga tentunya). para Imam as tentu merupakan otoritas mutlak dalam menentukan kebenaran atau kepalsuan suatu hadis, bahkan untuk tafsir al-Qur&#8217;an (meskipun dengan resiko ditindas dan ditumpas oleh rezim otoriter saat itu). Mereka (para Imam as) tentu tidak lupa, bahkan cahaya Islam yang sejati tetap terang benderang berkat mereka ketika selubung dinasti muawiyah dan abasyiah dengan ganas menutupi cahaya itu. mengapa jadi lucu begitu? mungkin karena dengan mencintai mereka (ahlu bait) itu orang jadi tampak beda dan asing. ya jangan-jangan &#8230; memang begitulah adanya.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: dewicanda</title>
		<link>http://harry.sufehmi.com/archives/2006-01-19-1099/#comment-156497</link>
		<dc:creator>dewicanda</dc:creator>
		<pubDate>Tue, 14 Oct 2008 06:42:46 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">/?p=1099#comment-156497</guid>
		<description>hare gene masih berdebat secara antah berantah!

kalau diskusi yang jelas donk. yang jelas sumbernya.
kagak usah pade ributin tafsir ayat and hadis sebelum tunjukin kitabnye.

udah jamak orang syiah belaga sibuk ngulitin albukhary, tapi ujung2nye kagak mau buka alkaafy. aneh deh!

syiah punya kitab hadis kagak? didistribusiin dong. biar masyarakat bisa beli, bisa ngebaca sendiri. biar kagak dikira kitab misterius.

kan ada 12 imam yang semestinya udeh kasih tunjuk hadis-hadis nabi yang bener. atau kasih tahu umet kitab mane yang mesti jadi landasan utama syiah.
emang 12 imam nye semua kelupaan ape? ironis banget tuh.

lucu banget kan kalo kita ngeyakinin n muji2 kitab yang blom kita baca?

emang kenape alkaafy selalu aje ditutup2in. jangan-jangan......</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>hare gene masih berdebat secara antah berantah!</p>
<p>kalau diskusi yang jelas donk. yang jelas sumbernya.<br />
kagak usah pade ributin tafsir ayat and hadis sebelum tunjukin kitabnye.</p>
<p>udah jamak orang syiah belaga sibuk ngulitin albukhary, tapi ujung2nye kagak mau buka alkaafy. aneh deh!</p>
<p>syiah punya kitab hadis kagak? didistribusiin dong. biar masyarakat bisa beli, bisa ngebaca sendiri. biar kagak dikira kitab misterius.</p>
<p>kan ada 12 imam yang semestinya udeh kasih tunjuk hadis-hadis nabi yang bener. atau kasih tahu umet kitab mane yang mesti jadi landasan utama syiah.<br />
emang 12 imam nye semua kelupaan ape? ironis banget tuh.</p>
<p>lucu banget kan kalo kita ngeyakinin n muji2 kitab yang blom kita baca?</p>
<p>emang kenape alkaafy selalu aje ditutup2in. jangan-jangan&#8230;&#8230;</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: sufehmi</title>
		<link>http://harry.sufehmi.com/archives/2006-01-19-1099/#comment-151202</link>
		<dc:creator>sufehmi</dc:creator>
		<pubDate>Mon, 01 Sep 2008 08:25:25 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">/?p=1099#comment-151202</guid>
		<description>@kalasnikov &#038; @budi - raja saudi itu sunni, atau **mengaku** sunni ?
.
Itu adalah 2 hal yang berbeda lho.
.
@All &#038; @Kalasnikov - soal Ghadir Khumm, bisa mem&lt;a href="http://www.ahlelbayt.com/articles/rebuttals/ghadir-khumm"&gt;baca penjelasan detailnya disini&lt;/a&gt;.
.
Secara ringkas, pihak Syiah telah melakukan penafsiran dengan mengabaikan konteks. Plus berbagai pembelokan lainnya.
.
Sehingga hasil interpretasinya pun jadi keliru total - yang dibahas di Ghadir Khumm adalah dukungan Rasulullah saw terhadap protes anak buah / prajurit Ali ra. Namun oleh Syiah diartikan sebagai dukungan Rasulullah saw terhadap kepemimpinan Ali ra.
.
Hasilnya ya menjadi aneh jika mengikuti interpretasi versi Syiah.
Seperti dualisme kepemimpinan (Nabi saw &#038; Ali ra pada saat yang sama), kesalahan jumlah hadirin di acara tsb, tuduhan bahwa nubuwat kenabian tidak terjadi (abu bakar ra, dan bukannya ali ra, yang menjadi pemimpin), khayalan bahwa agama ini belum lengkap tanpa wahyu soal nama pemimpin setelah Nabi saw, dst - dan terus merembet sampai pencaci makian sahabat Nabi saw, penolakan hadits Nabi saw, dst.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>@kalasnikov &#038; @budi - raja saudi itu sunni, atau **mengaku** sunni ?<br />
.<br />
Itu adalah 2 hal yang berbeda lho.<br />
.<br />
@All &#038; @Kalasnikov - soal Ghadir Khumm, bisa mem<a href="http://www.ahlelbayt.com/articles/rebuttals/ghadir-khumm">baca penjelasan detailnya disini</a>.<br />
.<br />
Secara ringkas, pihak Syiah telah melakukan penafsiran dengan mengabaikan konteks. Plus berbagai pembelokan lainnya.<br />
.<br />
Sehingga hasil interpretasinya pun jadi keliru total - yang dibahas di Ghadir Khumm adalah dukungan Rasulullah saw terhadap protes anak buah / prajurit Ali ra. Namun oleh Syiah diartikan sebagai dukungan Rasulullah saw terhadap kepemimpinan Ali ra.<br />
.<br />
Hasilnya ya menjadi aneh jika mengikuti interpretasi versi Syiah.<br />
Seperti dualisme kepemimpinan (Nabi saw &#038; Ali ra pada saat yang sama), kesalahan jumlah hadirin di acara tsb, tuduhan bahwa nubuwat kenabian tidak terjadi (abu bakar ra, dan bukannya ali ra, yang menjadi pemimpin), khayalan bahwa agama ini belum lengkap tanpa wahyu soal nama pemimpin setelah Nabi saw, dst - dan terus merembet sampai pencaci makian sahabat Nabi saw, penolakan hadits Nabi saw, dst.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: budi</title>
		<link>http://harry.sufehmi.com/archives/2006-01-19-1099/#comment-151197</link>
		<dc:creator>budi</dc:creator>
		<pubDate>Mon, 01 Sep 2008 08:05:04 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">/?p=1099#comment-151197</guid>
		<description>bos yang orng sunni,kalo emang sunni bener kenapa raja arab mengizinkan orng kafir(amerika)mendirikan pangkalan militer untuk menyerang irak yang mayoritas orang sunni,kenapa gak di iran aja orang amerika mendirikan pangkalannya...ok disitu sudah jelas siapa yang biadab orang sunni apa orang syiah</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>bos yang orng sunni,kalo emang sunni bener kenapa raja arab mengizinkan orng kafir(amerika)mendirikan pangkalan militer untuk menyerang irak yang mayoritas orang sunni,kenapa gak di iran aja orang amerika mendirikan pangkalannya&#8230;ok disitu sudah jelas siapa yang biadab orang sunni apa orang syiah</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: rezana</title>
		<link>http://harry.sufehmi.com/archives/2006-01-19-1099/#comment-141422</link>
		<dc:creator>rezana</dc:creator>
		<pubDate>Thu, 10 Jul 2008 03:30:33 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">/?p=1099#comment-141422</guid>
		<description>Assalamu'alaikum wrwb.
Semua debat, diskusi dan dialog di atas bagus dan terpuji karena begutulah hakikatnya diberi akal, kecuali ucapan atau tulisan2 yang keluar dengan melindas akal mengumbar emosi.
Bagi saya perbedaan mazhab dalam agama itu seperti perbedaan siapa bertaklid kepada siapa. Bisa dibayangkan pada zaman Nabi Saw masih hidup, semua orang Islam pada zaman itu pasti bertaklid kepada RasulullahSaw (kecuali orang2 munafiq dan fasik). Kemudian pasca Nabi Saw wafat, dengan sendirinya timbul problem di kalangan ummat Islam mengenai siapa yang harus diikuti atau ditaati sebagai pengganti atau pewaris Rasulullah Saw. Tentu saja problem seperti ini sudah diprediksi Rasulullah jauh sebelum wafatnya beliau (pasti dong begitu menurut akal sehat kita). Dan juga tentu Rasulullah Saw sudah mengantisipasi semua kemungkinan timbulnya problem itu agar persatuan ummat tetap terjaga (begitulah menurut akal sehat kita). Tapi apa yang terjadi kemudian  dan berkembang hingga saat ini .... (silahkan baca sejarahnya).
Begitulah mazhab ternyata sekedar siapa bertaklid kepada siapa. Tentu jadi pertanyaan: kepada siapakah imam Abu Hanifah bertaklid ketika beliau menjalankan syariat Islam? Begitu juga para imam mazhab yang lain: Maliki, Hambali dan Syafi'i. Kepada siapa mereka bertaklid? Apakah ketika sekian milyard ummat Islam bertaklid kepada mereka sehingga membentuk mazhab selama berabad-abad hingga saat ini, bisa dikatakan bahwa Islam telah berakhir di tangan mereka? (sementara semua orang mutlak tidak berdaya melampaui mereka dalam penguasaan agama Islam). Jawabannya tentu bisa dipersempit kepada perkembangan perbedaan perspektif hukum ibadah atau fiqih, bahwa masing-masing mereka (imam mazhab) telah menyusun koleksi tersendiri menurut pengetahuan, pemahaman dan interpretasi mereka. Tentu saja terdapat perbedaan-perbedaan yang lumayan serius untuk dibahas untuk menentukan siapakah yang benar atau konsisten sesuai sunnah Nabi Saw. Versi Hanafi, Maliki, Hambali atau Syafi'i? (masa sih tidak ada konsistensi dari sunnah Nabi Saw). Nah, ketika ada satu mazhab dikedepankan (sehiggga mazhab bukannya 4 melainkan 5) tentulah harus disikapi sebagai mazhab alternatif yang (mungkin) bisa dibenarkan dan konsisten sesuai sunnah Rasulullah Saw. Ada keberatan apa bagi orang-orang yang bertaklid kepada salah satu mazhab itu terhadap mazhab lainnya?
Silahkan anda memilih salah satu mazhab itu menurut hasil 'ijtihad' pribadi anda masing. Silahkan anda lebur ke dalamnya sehingga menjadi Syiah atau Sunni. Tokh, pada akhirnya setiap orang akan dinilai menurut niyat dan jerih payahnya demi eksistensi dan kemajuan Islam (ini seruan untuk berlomba agar menjadi yang terbaik menurut Allah dan Rasul-Nya bukan yang lain). Dan setiap orang kelak akan bersama-sama dengan orang-orang yang diikuti dan dicintainya.
Akhirnya mazhab Islam yang benar tentu akan tampil membawa pencerahan sehingga akal (inteklek) seorang muslim lebih unggul di semua bidang kehidupan.

Wassalam
(jangan tanya apakah aku Sunni atau Syiah karena semua imam yang kita ikuti itu juga bukan Sunni atau Syiah)</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Assalamu&#8217;alaikum wrwb.<br />
Semua debat, diskusi dan dialog di atas bagus dan terpuji karena begutulah hakikatnya diberi akal, kecuali ucapan atau tulisan2 yang keluar dengan melindas akal mengumbar emosi.<br />
Bagi saya perbedaan mazhab dalam agama itu seperti perbedaan siapa bertaklid kepada siapa. Bisa dibayangkan pada zaman Nabi Saw masih hidup, semua orang Islam pada zaman itu pasti bertaklid kepada RasulullahSaw (kecuali orang2 munafiq dan fasik). Kemudian pasca Nabi Saw wafat, dengan sendirinya timbul problem di kalangan ummat Islam mengenai siapa yang harus diikuti atau ditaati sebagai pengganti atau pewaris Rasulullah Saw. Tentu saja problem seperti ini sudah diprediksi Rasulullah jauh sebelum wafatnya beliau (pasti dong begitu menurut akal sehat kita). Dan juga tentu Rasulullah Saw sudah mengantisipasi semua kemungkinan timbulnya problem itu agar persatuan ummat tetap terjaga (begitulah menurut akal sehat kita). Tapi apa yang terjadi kemudian  dan berkembang hingga saat ini &#8230;. (silahkan baca sejarahnya).<br />
Begitulah mazhab ternyata sekedar siapa bertaklid kepada siapa. Tentu jadi pertanyaan: kepada siapakah imam Abu Hanifah bertaklid ketika beliau menjalankan syariat Islam? Begitu juga para imam mazhab yang lain: Maliki, Hambali dan Syafi&#8217;i. Kepada siapa mereka bertaklid? Apakah ketika sekian milyard ummat Islam bertaklid kepada mereka sehingga membentuk mazhab selama berabad-abad hingga saat ini, bisa dikatakan bahwa Islam telah berakhir di tangan mereka? (sementara semua orang mutlak tidak berdaya melampaui mereka dalam penguasaan agama Islam). Jawabannya tentu bisa dipersempit kepada perkembangan perbedaan perspektif hukum ibadah atau fiqih, bahwa masing-masing mereka (imam mazhab) telah menyusun koleksi tersendiri menurut pengetahuan, pemahaman dan interpretasi mereka. Tentu saja terdapat perbedaan-perbedaan yang lumayan serius untuk dibahas untuk menentukan siapakah yang benar atau konsisten sesuai sunnah Nabi Saw. Versi Hanafi, Maliki, Hambali atau Syafi&#8217;i? (masa sih tidak ada konsistensi dari sunnah Nabi Saw). Nah, ketika ada satu mazhab dikedepankan (sehiggga mazhab bukannya 4 melainkan 5) tentulah harus disikapi sebagai mazhab alternatif yang (mungkin) bisa dibenarkan dan konsisten sesuai sunnah Rasulullah Saw. Ada keberatan apa bagi orang-orang yang bertaklid kepada salah satu mazhab itu terhadap mazhab lainnya?<br />
Silahkan anda memilih salah satu mazhab itu menurut hasil &#8216;ijtihad&#8217; pribadi anda masing. Silahkan anda lebur ke dalamnya sehingga menjadi Syiah atau Sunni. Tokh, pada akhirnya setiap orang akan dinilai menurut niyat dan jerih payahnya demi eksistensi dan kemajuan Islam (ini seruan untuk berlomba agar menjadi yang terbaik menurut Allah dan Rasul-Nya bukan yang lain). Dan setiap orang kelak akan bersama-sama dengan orang-orang yang diikuti dan dicintainya.<br />
Akhirnya mazhab Islam yang benar tentu akan tampil membawa pencerahan sehingga akal (inteklek) seorang muslim lebih unggul di semua bidang kehidupan.</p>
<p>Wassalam<br />
(jangan tanya apakah aku Sunni atau Syiah karena semua imam yang kita ikuti itu juga bukan Sunni atau Syiah)</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: sumodirjo</title>
		<link>http://harry.sufehmi.com/archives/2006-01-19-1099/#comment-141257</link>
		<dc:creator>sumodirjo</dc:creator>
		<pubDate>Wed, 09 Jul 2008 08:54:14 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">/?p=1099#comment-141257</guid>
		<description>adakah penganut syiah yang mengamalkan seluruh kepercayaannya? termasuk nikah mut'ah misalnya?</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>adakah penganut syiah yang mengamalkan seluruh kepercayaannya? termasuk nikah mut&#8217;ah misalnya?</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: denjaka syiah</title>
		<link>http://harry.sufehmi.com/archives/2006-01-19-1099/#comment-140060</link>
		<dc:creator>denjaka syiah</dc:creator>
		<pubDate>Fri, 04 Jul 2008 14:23:06 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">/?p=1099#comment-140060</guid>
		<description>saya mau bertanya mas samakah ahlussunnah dan wahabi, kalau anda mengatakan sama saya rasa anda bohong mengatakan ahlussunnah dan wahabi itu sama.
ahlussunnah ada ziarah kubur, tawassul pada rasulullah, ziarah pada para wali, para imam mazhab dll.
sedangkan slogan wahabi adalah ‘berantas bid’ah,’ sampai-sampai ibadah-ibadah sunnah dibid’ahkan oleh wahabi.
saya cuma mau nanya aja mas, misalnya mazhab anda mayoritas apakah anda akan mangkafirkan mazhab2 islam yg berbeda dengan anda, sedangkan mrk meyakini bahwa tiada Tuhan selain Allah, dan tidak ada makhluk yang lebih agung dari Rasulullah Muhammad. maukah anda bersumpah demi Allah, bahwa mereka keluar dari islam, kafir dan akan masuk neraka?</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>saya mau bertanya mas samakah ahlussunnah dan wahabi, kalau anda mengatakan sama saya rasa anda bohong mengatakan ahlussunnah dan wahabi itu sama.<br />
ahlussunnah ada ziarah kubur, tawassul pada rasulullah, ziarah pada para wali, para imam mazhab dll.<br />
sedangkan slogan wahabi adalah ‘berantas bid’ah,’ sampai-sampai ibadah-ibadah sunnah dibid’ahkan oleh wahabi.<br />
saya cuma mau nanya aja mas, misalnya mazhab anda mayoritas apakah anda akan mangkafirkan mazhab2 islam yg berbeda dengan anda, sedangkan mrk meyakini bahwa tiada Tuhan selain Allah, dan tidak ada makhluk yang lebih agung dari Rasulullah Muhammad. maukah anda bersumpah demi Allah, bahwa mereka keluar dari islam, kafir dan akan masuk neraka?</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Kalasnikov</title>
		<link>http://harry.sufehmi.com/archives/2006-01-19-1099/#comment-138607</link>
		<dc:creator>Kalasnikov</dc:creator>
		<pubDate>Sat, 28 Jun 2008 20:15:50 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">/?p=1099#comment-138607</guid>
		<description>Ustadz harusnya anda baca ttg hadist Ghadir khum, si shahih bukhari ada, dan kedua jika dikatakan sejarah ulama syiah ttg Muawiyah, harunya anda baca tarikh islam disitu dengan kelas dikatakan ketika Muawiyah memaksa Baiat kepada yazid keparat anak dari abu bajar menolak dan mengatakan Muawiyah mulutnya berbisa dan ingat ketika Yaxid menyerang madinah dan membunuh  Iman hasan as, karangan Ulama Syiah kah, harusnya anda belajar banyak, memang benar Imam ali as tidak pernah melabelkan dirinya syiah dan Juga iman Syafii apakah dia pernah mengatakan dirinya Syafeii'ah, tidak pengikkutnya yang menamakannya  jadi itu bukanlah sebuah isu kalo anda berpedoman pada Al-kulani dalam Al-kafinya  tau tidak bahwa Syis's tidak pernah menaruh dan Al-kulani tidak pernah menaruh kata Sahih dalam kitabnya dan dalam kitab2 itu dibagi2 dan di kelompokan mana2 yang Shahih dan yang tidak, masalah Syiah mencela sahabat nabi bukan mencela tapi mengkritisi sahabat nabi dan saya pribadi tidak mengingkari hadust jamianan surga Shabat Nabi mengapa karena setiap moslem dijamin masuk Syurga jika punya Iman pertanyaanya kapan dalam hadith itu tidak ada disebutkan tidak di Hisab dan dalam hadith Bukhari juga dukatakan ada sekelompok sahabat yang tertolak dari surga dan Nabi berkata aku tidak bertanggung jawab atas apa yang mereka lakukan setelah diriku, kalo masalah sholat di kuburan orang NU melakukan itu irang tareqat dari Nashaqbandiah sampe satariah juga melakukan apakah mereka Kafir, baca lagi definisi kafir itu kayak mana dana ada berapa cabanngnya, kayaknya ucapan yang mengatkan orang Syiah mabuk2an ketika Umar dibunuh harus dibuktikan lagi kenapa Rokok saja mau diharamkan Khoimeni apa lagi mabuk2an syaikul Islam As Shaikh Ahmad deedat yang pernah ke Iran dan bertemu Khoiemeni mengatakan bahwa Syiah adalah Muslim dan tidak melakukan kesesatan itu Shaikh Ahmad yang mengatakan dengeren aja rekaman pidatonya bisa di unduh di truth TV, kalo dkatakan hadith Syiah palsu semua sanad nya berujung pada Rasullulah kenapa karena mereka mendapatkannya dari para Imam yang nota bene keturunan Nabi, banyak lagi fitnah yang laen yang mengatakan Quran Syiah beda tapi tidak pernah membawa buktinya, Quran syiah sama tidak ada yang beda kalo yang dianggap Mushaf fatimah itu bukan Quran tapi kumpulan Ilham yang diberikan ALLOH kepada Fatimah Azahra dan itu bukan kitab suci sama seperti Ilham Bilal bin rabbah bertenu dengan  Rasuullulah dalam mimpinya dan Ilham dalam Riyadus Shalihin dimana diceritakan seorang Moslem bermimpi melihat bidadari sebagai pahala dari jihadnya.
masalah tentang pertentangan antara hadith Bukhari dan Imam Jakfar as bukan suatu yang aneh dan bukan pertentangan itu bagaimana anda memahaminya " penghuni neraka kebanyakan perempuan" dan Bidadari wanita sholehah apakah anda tau jumlah pasti laki2 dan perempuan yang masuk surga jumlah laki2 sekarang satu berbanding dua dengan wanita bukan akhir jaman satu banding tiga dari tiga itu dua masuk neraka dan dari satu itu setengah masuk surga sekarang bagaimana kompoosisinya masih banyak mana wanita di neraka apa yang di surga dan banyakan mana laki2 di neraka dengan wanita di neraka dan banyakan mana wanita di surga dengan kaum laki, jadi tidak ada pertentangan pada komentar Imam Jakfar
dan saudara harry kalau syiah kafir dia akan ditolak naik haji, tapi pada kenyataanya mereka diperbolehkan oleh wahabi dari jaman Ibnu saud berkuasa sampe jaman Abdullah kemaren Ahmadinejad kesana yang paling puritan aja tidak mengkafirkan kok anda bisa mengkafirkan, istighfar Ustadz</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Ustadz harusnya anda baca ttg hadist Ghadir khum, si shahih bukhari ada, dan kedua jika dikatakan sejarah ulama syiah ttg Muawiyah, harunya anda baca tarikh islam disitu dengan kelas dikatakan ketika Muawiyah memaksa Baiat kepada yazid keparat anak dari abu bajar menolak dan mengatakan Muawiyah mulutnya berbisa dan ingat ketika Yaxid menyerang madinah dan membunuh  Iman hasan as, karangan Ulama Syiah kah, harusnya anda belajar banyak, memang benar Imam ali as tidak pernah melabelkan dirinya syiah dan Juga iman Syafii apakah dia pernah mengatakan dirinya Syafeii&#8217;ah, tidak pengikkutnya yang menamakannya  jadi itu bukanlah sebuah isu kalo anda berpedoman pada Al-kulani dalam Al-kafinya  tau tidak bahwa Syis&#8217;s tidak pernah menaruh dan Al-kulani tidak pernah menaruh kata Sahih dalam kitabnya dan dalam kitab2 itu dibagi2 dan di kelompokan mana2 yang Shahih dan yang tidak, masalah Syiah mencela sahabat nabi bukan mencela tapi mengkritisi sahabat nabi dan saya pribadi tidak mengingkari hadust jamianan surga Shabat Nabi mengapa karena setiap moslem dijamin masuk Syurga jika punya Iman pertanyaanya kapan dalam hadith itu tidak ada disebutkan tidak di Hisab dan dalam hadith Bukhari juga dukatakan ada sekelompok sahabat yang tertolak dari surga dan Nabi berkata aku tidak bertanggung jawab atas apa yang mereka lakukan setelah diriku, kalo masalah sholat di kuburan orang NU melakukan itu irang tareqat dari Nashaqbandiah sampe satariah juga melakukan apakah mereka Kafir, baca lagi definisi kafir itu kayak mana dana ada berapa cabanngnya, kayaknya ucapan yang mengatkan orang Syiah mabuk2an ketika Umar dibunuh harus dibuktikan lagi kenapa Rokok saja mau diharamkan Khoimeni apa lagi mabuk2an syaikul Islam As Shaikh Ahmad deedat yang pernah ke Iran dan bertemu Khoiemeni mengatakan bahwa Syiah adalah Muslim dan tidak melakukan kesesatan itu Shaikh Ahmad yang mengatakan dengeren aja rekaman pidatonya bisa di unduh di truth TV, kalo dkatakan hadith Syiah palsu semua sanad nya berujung pada Rasullulah kenapa karena mereka mendapatkannya dari para Imam yang nota bene keturunan Nabi, banyak lagi fitnah yang laen yang mengatakan Quran Syiah beda tapi tidak pernah membawa buktinya, Quran syiah sama tidak ada yang beda kalo yang dianggap Mushaf fatimah itu bukan Quran tapi kumpulan Ilham yang diberikan ALLOH kepada Fatimah Azahra dan itu bukan kitab suci sama seperti Ilham Bilal bin rabbah bertenu dengan  Rasuullulah dalam mimpinya dan Ilham dalam Riyadus Shalihin dimana diceritakan seorang Moslem bermimpi melihat bidadari sebagai pahala dari jihadnya.<br />
masalah tentang pertentangan antara hadith Bukhari dan Imam Jakfar as bukan suatu yang aneh dan bukan pertentangan itu bagaimana anda memahaminya &#8221; penghuni neraka kebanyakan perempuan&#8221; dan Bidadari wanita sholehah apakah anda tau jumlah pasti laki2 dan perempuan yang masuk surga jumlah laki2 sekarang satu berbanding dua dengan wanita bukan akhir jaman satu banding tiga dari tiga itu dua masuk neraka dan dari satu itu setengah masuk surga sekarang bagaimana kompoosisinya masih banyak mana wanita di neraka apa yang di surga dan banyakan mana laki2 di neraka dengan wanita di neraka dan banyakan mana wanita di surga dengan kaum laki, jadi tidak ada pertentangan pada komentar Imam Jakfar<br />
dan saudara harry kalau syiah kafir dia akan ditolak naik haji, tapi pada kenyataanya mereka diperbolehkan oleh wahabi dari jaman Ibnu saud berkuasa sampe jaman Abdullah kemaren Ahmadinejad kesana yang paling puritan aja tidak mengkafirkan kok anda bisa mengkafirkan, istighfar Ustadz</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Syarif</title>
		<link>http://harry.sufehmi.com/archives/2006-01-19-1099/#comment-135610</link>
		<dc:creator>Syarif</dc:creator>
		<pubDate>Sun, 15 Jun 2008 00:08:36 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">/?p=1099#comment-135610</guid>
		<description>Assalamualaikum

Referensi tambahan mengenai Syiah dalam format word dapat antum dapatkan di sini, insya Allah.

Pokok Aqidah Syiah
http://ilmuislam.net/index.php/syiah/42-syiah/80-pokok-aqidah-syiah.html

Peran Yahudi Dalam Pembentukan Syi’ah
http://ilmuislam.net/index.php/syiah/42-syiah/81-peran-yahudi-dalam-pembentukan-syiah.html

Jazakallah
Wassalm</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Assalamualaikum</p>
<p>Referensi tambahan mengenai Syiah dalam format word dapat antum dapatkan di sini, insya Allah.</p>
<p>Pokok Aqidah Syiah<br />
<a href="http://ilmuislam.net/index.php/syiah/42-syiah/80-pokok-aqidah-syiah.html" >http://ilmuislam.net/index.php/syiah/42-syiah/80-pokok-aqidah-syiah.html</a></p>
<p>Peran Yahudi Dalam Pembentukan Syi’ah<br />
<a href="http://ilmuislam.net/index.php/syiah/42-syiah/81-peran-yahudi-dalam-pembentukan-syiah.html" >http://ilmuislam.net/index.php/syiah/42-syiah/81-peran-yahudi-dalam-pembentukan-syiah.html</a></p>
<p>Jazakallah<br />
Wassalm</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Tasyayu'</title>
		<link>http://harry.sufehmi.com/archives/2006-01-19-1099/#comment-135268</link>
		<dc:creator>Tasyayu'</dc:creator>
		<pubDate>Fri, 13 Jun 2008 10:27:09 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">/?p=1099#comment-135268</guid>
		<description>@mehdi,
Biasakan dialog dengan runtut dan teratur,jangan hanya lempar suatu wacana kemudian jika mentok maka lempar wacana yang lain lagi. Itu hanya kebiasaan para pembohong. Ahli jiwa mengatakan bahwa "seorang pembohong akan selalu berputar dan mencari alasan yang lain,bahkan keluar dari masalah untuk menutupi kebohongan-nya"
Semua wacana yang mehdi lempar adalah sangat ringan dan terlalu banyak dibicarakan oleh ummat,sehingga jawaban ttg pertanyaan itupun sangat mudah dan bersebaran dimana2.

Sekarang coba kita dialog dengan kepala dingin tanpa emosi dan kefanatikan yang berlebih(walaupun ana tau bahwa syi'ah dibesarkan dgn dendam) tapi cobalah berpikir dgn nalar yang sehat hingga diskusi bisa terarah dan runtut.saya coba mulai dgn mengajari anda untuk berdiskusi yang bagus.

Mehdi wrote : tasyayu’
untuk mematahkan kata-kata nt ini ana cukup dgn 1 pertanyaan : [b]nt ketemu ali zainal abidin itu dimana? di warung kopi or diwedangan?
jawaban sebenarnya juga ada pada pertanyaan nt, itu kalau nte mau adil. sama kan dg di suni mang nte ketemu bang Bukhori ato bang Muslim dimana? apa nte pernah berguru langsung?

Lihat betapa naif-nya kamu mehdi,dgn mengeluarkan jawaban seperti itu maka akan semakin menampakan kegelisahan nt dan nafsu amarah nt yang menggebu2.
Pertanyaan ana sangat simple bukan? anda berkata bahwa hadits itu dari Ali zainal Abidin,maka-nya ana tanya lha kok nt tau???Apa nt baca dari buku yang ditulis Ali zainal abidin? atau nt ketemu langsung dgn Ali zainal Abidin? pertanyaan ini sangat logis dan kritis,karena anda tidak menyebutkan referensi pengambilan nash itu.
makanya berkali-kali saya katakan bahwa anda sangat ngawur dan asal !! Sebenernya dgn menanggapi coments orang-orang seperti anda yang bicara tanpa ilmu dan bukti itu hanya membuang waktu ana aja,tapi karena niat ana untuk tunjukin bahwa aqidah yang nt percaya selama ini adalah batil,maka ana masih luangkan waktu untuk tanggapin itu.selanjutnya klu anda masih ngelantur maka saya ga akan tanggapi lagi.

Dan pertanyaan anda: "kapankan nte ketemu Imam Bukhori? apa nte pernah kursus hadits secara privat sama dia?"

Pertanyaan ini semakin memperjelas kebodohan nt yang asal bicara,jelas sekali ummat ini telah mengetahui bahwa bukhori telah menulis kitab hadits yang sampai sekarang dikenal dengan kitab shahih bukhori,jadi adalah aneh klu anda bertanya darimana saya dapat mengetahui hadits bukhori!!
Sebaliknya pertanyaan saya ttg hadits Ali zainal Abidin adalah sama sekali berbeda dgn ini,dikarenakan ummat tidak mengenal adanya "kitab hadits Imam Ali zainal Abidin" atau juga buku yang ditulis oleh ali zainal abidin,jadi harus dipertanyakan darimana anda tau ttg hadits itu sedangkan anda tidak pernah bertemu dgn ali zainal abidin dan tidak pernah menyebutkan dibuku ali zainal abidin yang mana anda ambil hadits itu.
Sbenarnya klu anda dapat berfikir jernih maka saya tidak perlu sampai menjelaskan panjang lebar soal ini,karena org awwam pun akan tau maksud pertanyaan saya.

Kemudian anda melompat lagi dengan berkata : "jawaban ini mestinya akal nte yang jawab sendiri dan ketelitian nte ttg perawi dan sanadnya.
apakah nte mau disuruh makan tai lantaran orang yang nyuruh nte anggap orang terpercaya?"

Jika Anda yang tak pandai menari kenapa Lantai yang disalahkan??
Wacana anda ttg abu hurairah adalah sangat mudah dibantah dan bahkan terlalu banyak tulisan yang ada di umum yang telah mematahkan anggapan ttg abu hurairah tersebut,jadi saya hanya buang waktu jika tanggapin ocehan anda itu.
saya akan layanin semua wacana yang anda mau,tapi kita harus runtut dan teratur dalam diskusi,wacana awal kita diskusi disini adalah untuk buktikan bahwa tidak ada satupun hadits shahih dari literatur syi'ah,nah jika anda bisa, buktikan!,jika tidak bisa maka akui dan kita akan melangkah ke wacana selanjutnya.
saya yakin anda ga akan bisa buktikan itu,karena Ali korani aja ga mampu apalagi sampeyan mas!

Mehdi...Mehdi... belum selesai 1 wacana yang dapat anda rampungkan,eh sdh ada banyak lagi wacana yang anda lempar.
buat apa anda bicara tentang nasab Umar Bin Khotob dari biharul anwar buat menghidar dari buktikan ttg hadits syi'ah??? ana akan jawab dan buktikan kebohongan majlisi tentang nasab Umar bin Khotob,pasti!! 
sebagaimana saya akan buktikan bahwa kisah ttg abu hurairah adalah cuma khayalan kaum rafidhah macam nt.tapi sekali lagi,ana hanya mau diskusi yang teratur dan runtut,satu wacana kita selesaikan baru masuk kewacana yang lain.

Nah sekarang pertanyaan saya,apakah anda bisa buktikan?? Jika tidak ama akui bahwa tidak ada 1nash hadits yang shahih dari literatur syi'ah.
Setelah itu saya akan menanggapi wacana yang anda lempar,mungkin akan saya mulai ttg nasab Umar Ra,atau ttg Abu hurairah,setelah itu kita bisa masuk ke dalam masalah ilmu hadits oke?

Jadi nt jangan malu untuk akui bahwa tidak ada 1 hadits pun dari literatur syi'ah yang secara sanad tersambung sampai kerasulullah  oke??</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>@mehdi,<br />
Biasakan dialog dengan runtut dan teratur,jangan hanya lempar suatu wacana kemudian jika mentok maka lempar wacana yang lain lagi. Itu hanya kebiasaan para pembohong. Ahli jiwa mengatakan bahwa &#8220;seorang pembohong akan selalu berputar dan mencari alasan yang lain,bahkan keluar dari masalah untuk menutupi kebohongan-nya&#8221;<br />
Semua wacana yang mehdi lempar adalah sangat ringan dan terlalu banyak dibicarakan oleh ummat,sehingga jawaban ttg pertanyaan itupun sangat mudah dan bersebaran dimana2.</p>
<p>Sekarang coba kita dialog dengan kepala dingin tanpa emosi dan kefanatikan yang berlebih(walaupun ana tau bahwa syi&#8217;ah dibesarkan dgn dendam) tapi cobalah berpikir dgn nalar yang sehat hingga diskusi bisa terarah dan runtut.saya coba mulai dgn mengajari anda untuk berdiskusi yang bagus.</p>
<p>Mehdi wrote : tasyayu’<br />
untuk mematahkan kata-kata nt ini ana cukup dgn 1 pertanyaan : [b]nt ketemu ali zainal abidin itu dimana? di warung kopi or diwedangan?<br />
jawaban sebenarnya juga ada pada pertanyaan nt, itu kalau nte mau adil. sama kan dg di suni mang nte ketemu bang Bukhori ato bang Muslim dimana? apa nte pernah berguru langsung?</p>
<p>Lihat betapa naif-nya kamu mehdi,dgn mengeluarkan jawaban seperti itu maka akan semakin menampakan kegelisahan nt dan nafsu amarah nt yang menggebu2.<br />
Pertanyaan ana sangat simple bukan? anda berkata bahwa hadits itu dari Ali zainal Abidin,maka-nya ana tanya lha kok nt tau???Apa nt baca dari buku yang ditulis Ali zainal abidin? atau nt ketemu langsung dgn Ali zainal Abidin? pertanyaan ini sangat logis dan kritis,karena anda tidak menyebutkan referensi pengambilan nash itu.<br />
makanya berkali-kali saya katakan bahwa anda sangat ngawur dan asal !! Sebenernya dgn menanggapi coments orang-orang seperti anda yang bicara tanpa ilmu dan bukti itu hanya membuang waktu ana aja,tapi karena niat ana untuk tunjukin bahwa aqidah yang nt percaya selama ini adalah batil,maka ana masih luangkan waktu untuk tanggapin itu.selanjutnya klu anda masih ngelantur maka saya ga akan tanggapi lagi.</p>
<p>Dan pertanyaan anda: &#8220;kapankan nte ketemu Imam Bukhori? apa nte pernah kursus hadits secara privat sama dia?&#8221;</p>
<p>Pertanyaan ini semakin memperjelas kebodohan nt yang asal bicara,jelas sekali ummat ini telah mengetahui bahwa bukhori telah menulis kitab hadits yang sampai sekarang dikenal dengan kitab shahih bukhori,jadi adalah aneh klu anda bertanya darimana saya dapat mengetahui hadits bukhori!!<br />
Sebaliknya pertanyaan saya ttg hadits Ali zainal Abidin adalah sama sekali berbeda dgn ini,dikarenakan ummat tidak mengenal adanya &#8220;kitab hadits Imam Ali zainal Abidin&#8221; atau juga buku yang ditulis oleh ali zainal abidin,jadi harus dipertanyakan darimana anda tau ttg hadits itu sedangkan anda tidak pernah bertemu dgn ali zainal abidin dan tidak pernah menyebutkan dibuku ali zainal abidin yang mana anda ambil hadits itu.<br />
Sbenarnya klu anda dapat berfikir jernih maka saya tidak perlu sampai menjelaskan panjang lebar soal ini,karena org awwam pun akan tau maksud pertanyaan saya.</p>
<p>Kemudian anda melompat lagi dengan berkata : &#8220;jawaban ini mestinya akal nte yang jawab sendiri dan ketelitian nte ttg perawi dan sanadnya.<br />
apakah nte mau disuruh makan tai lantaran orang yang nyuruh nte anggap orang terpercaya?&#8221;</p>
<p>Jika Anda yang tak pandai menari kenapa Lantai yang disalahkan??<br />
Wacana anda ttg abu hurairah adalah sangat mudah dibantah dan bahkan terlalu banyak tulisan yang ada di umum yang telah mematahkan anggapan ttg abu hurairah tersebut,jadi saya hanya buang waktu jika tanggapin ocehan anda itu.<br />
saya akan layanin semua wacana yang anda mau,tapi kita harus runtut dan teratur dalam diskusi,wacana awal kita diskusi disini adalah untuk buktikan bahwa tidak ada satupun hadits shahih dari literatur syi&#8217;ah,nah jika anda bisa, buktikan!,jika tidak bisa maka akui dan kita akan melangkah ke wacana selanjutnya.<br />
saya yakin anda ga akan bisa buktikan itu,karena Ali korani aja ga mampu apalagi sampeyan mas!</p>
<p>Mehdi&#8230;Mehdi&#8230; belum selesai 1 wacana yang dapat anda rampungkan,eh sdh ada banyak lagi wacana yang anda lempar.<br />
buat apa anda bicara tentang nasab Umar Bin Khotob dari biharul anwar buat menghidar dari buktikan ttg hadits syi&#8217;ah??? ana akan jawab dan buktikan kebohongan majlisi tentang nasab Umar bin Khotob,pasti!!<br />
sebagaimana saya akan buktikan bahwa kisah ttg abu hurairah adalah cuma khayalan kaum rafidhah macam nt.tapi sekali lagi,ana hanya mau diskusi yang teratur dan runtut,satu wacana kita selesaikan baru masuk kewacana yang lain.</p>
<p>Nah sekarang pertanyaan saya,apakah anda bisa buktikan?? Jika tidak ama akui bahwa tidak ada 1nash hadits yang shahih dari literatur syi&#8217;ah.<br />
Setelah itu saya akan menanggapi wacana yang anda lempar,mungkin akan saya mulai ttg nasab Umar Ra,atau ttg Abu hurairah,setelah itu kita bisa masuk ke dalam masalah ilmu hadits oke?</p>
<p>Jadi nt jangan malu untuk akui bahwa tidak ada 1 hadits pun dari literatur syi&#8217;ah yang secara sanad tersambung sampai kerasulullah  oke??</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: mehdi</title>
		<link>http://harry.sufehmi.com/archives/2006-01-19-1099/#comment-134942</link>
		<dc:creator>mehdi</dc:creator>
		<pubDate>Wed, 11 Jun 2008 20:33:47 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">/?p=1099#comment-134942</guid>
		<description>Mehdi wrote :[b] “Hadits yang ana kutip diriwayatkan dari Imam Ali Zainal Abidin dari Imam Husein dari Imam Ali bin Abi Thalib dari Rasuulullah SAW”[/b]

untuk mematahkan kata-kata nt ini ana cukup dgn 1 pertanyaan : [b]nt ketemu ali zainal abidin itu dimana? di warung kopi or diwedangan?[/b]

jawaban masalah ini ada pada pertanyaan nte sendiri. kapankan nte ketemu Imam Bukhori? apa nte pernah kursus hadits secara privat sama dia?


Sekali lagi ana tanya,apa hadits itu shahih atau tidak hanya karena ucapan/anggapan nt?
Buktikan klu mmg hadits itu cacat dimana cacatnya sanad hadits itu?? 

Apa nte mau disuruh makan tai lantaran orang yang nyuruh nte orangnya tsiqoh menurut anggapan banyak orang.
nih perhatikan siapa si BAPAK KUCIIIING menurut ulama2 nte dan masayikh nte.


siapakah sosok Abu Hurairah?Bukankah Abu Hura-Hura yang dikatakan oleh khalifah pertama (Umar bin Khatab) sebagai musuh Allah dengan ucapannya: “Wahai musuh Allah dan musuh kitab-Nya, engkau telah mencuri harta Allah”? (ya ‘aduwallah wa ‘aduwa kitabihi saraqta maalallah). (Lihat: at-Tabaqot al-Kubra Jil:4 Hal:335, Siar a’alam an-Nubala’ Jil:2 Hal:612) Lantas kenapa musuh Allah -menurut versi khalifah kedua Ahlusunnah ini- masih dipakai dan dipercaya oleh Imam Bukhari dalam periwayatan hadis? Apakah Imam Bukhari tidak percaya lagi terhadap Umar bin Khatab, atau bahkan meremehkan anjuran-anjuran seorang khalifaurrasyidiin? Bukankah Umar adalah sahabat dan khalifah Rasul yang harus diikuti?. Bukankah Abu Hurairah adalah pribadi yang terkenal dikalangan sahabat sebagai manusia yang tidak dapat dipercaya (baca: pembohong). Hal ini sebagaimana yang telah dinukil dari beberapa sahabat tentang dia, semisal: Ummul mukminin Aisyah, Umar bin Khatab, Marwan bin Hakam, Ali bin Abi Thalib…dsb. Sampai-sampai ummul mukminin Aisyah pernah mengatakan: “Apakah gerangan hadis-hadis yang telah engkau sampaikan atas nama Nabi ini? Bukankah apa yang telah engkau dengar juga sebagaimana yang telah kami dengar? Dan bukankah yang telah engkau lihat juga telah kami lihat?” (Lihat: Siar a’lam an-Nubala’ Jil:2 Hal:604/612/613, at-Tabaqot al-Kubra Jil:4 Hal:335) Pertanyaannya sama, apakah imam Bukhari dan Muslim sudah tidak percaya lagi terhadap istri Rasul yang bergelar ummulmukminin serta sahabat-sahabat besar Rasul di atas tadi? Sehingga dari situlah Ibnu Abil Hadid yang bermazhab muktazilah dalam Syarh Nahjul Balaghah menukil ungkapan beberapa ulama Ahlussunah semisal Abu Hanifah yang menyatakan: “Semua sahabat adil kecuali Abu Hurairah, Anas bin Malik…” (Syarh Nahjul Balaghah, Jil:4 Hal:69). Atau menukil ungkapan Jahidh dari kitabnya yang terkenal “at-Tauhid”, yang menyatakan: “Abu Hurairah adalah pribadi yang tidak dapat dapat dipercaya dalam masalah periwayatan (hadis) dari Rasulullah…sebagaimana Ali tidak mempercayainya, bahkan mencelanya. hal serupa juga yang dilakukan oleh Umar dan Aisyah (terhadap Abu Hurairah)” (Syarh Nahjul Balaghah, Jil:20 Hal:31). Apakah Imam Bukhari mengaku sebagai orang yang lebih mulia dari Umar, Aisyah dan Ali sehingga ia tetap mempercayai Abu Hurairah dalam periwayatan hadis, dan meremehkan pendapat mereka dengan tidak mengindahkan penilaian mereka terhadap Abu Hurairah? Bukankah menurut mayoritas Ahlusunnah menyatakan bahwa para sahabat layak -bahkan wajib- untuk diikuti, sebagai Salaf Saleh?.perlukankah Abu Hurairah juga terkenal sebagai periwayat hadis-hadis yang merendahkan martabat para nabi Allah? Sebagai contoh, hadis yang menyatakan bahwa nabi Ibrahim as pernah berbohong sebanyak tiga kali; “Ibrahim tiada pernah berbohong kecuali sebanyak tiga kali” ( Shahih Bukhari Jil:4 Hal:112). Atau hadis tentang peristiwa nabi Musa berlari dalam keadaan bugil dihadapan Bani Israil sehingga nampak kemaluannya oleh mereka, itu beliau lakukan hanya bertujuan untuk menangkal sangkaan buruk mereka terhadap beliau. (Shahih Muslim No.513, Shahih Bukhari Jil:4 Hal:126 dan pada bab Bad’u al-Khalq Jil:2 Hal:247)…dsb, yang semuanya merupakan kisah-kisah penghinaan atas pribadi para nabi Allah. Dari situlah akhirnya Fakhru ar-Razi dalam at-Tafsir al-Kabir menyatakan: “tiada layak dihukumi pribadi yang berbohong atas nama para nabi kecuali dengan sebutan Zindiq”. Dalam kesempatan lain ia menyatakan: “Menyatakan bohong atas perawi hadis tadi (yaitu: Abu Hurairah) lebih tidak berbeban ketimbang menyandarkannya (kebohongan) pada khalil ar-Rahman (yaitu: Ibrahim as)”. (Lihat: at-Tafsir al-Kabir Jil:22 Hal:186 dan Jil:26 Hal:148) Apakah hanya karena riwayat-riwayat bohong itu terdapat pada kitab shahih Bukhari sehingga kita dipaksa turut serta mendeskriditkan dan menginjak-injak kehormatan para nabi Allah, demi menjaga kesakralan kitab karya Imam Bukhari sebagai kitab Shahih, paling Shahihnya kitab pasca al-Quran?. Bukankah Ibrahim an-Nakha'i pernah menyatakan: “Golongan kita (ashabuna) mereka meninggalkan hadis yang datang dari Abu Hurairah”? Atau pada kesempatan lain ia pernah menyatakan: “Mereka tiada mengambil riwayat dari Abu Hurairah kecuali dalam hal-hal yang berkaitan dengan sorga dan neraka saja”. (Lihat: Siar a’alam an-Nubala’ Jil:2 Hal:609, Tarikh Ibn Asakir Jil:19 Hal:122)Bukankah Fakhru ar-Razi dalam kitab al-Matholib al-Aliyah menukil ungkapan pribadi-pribadi yang memiliki hubungan dekat dengan Rasul sebagai bukti atas kebohongan Abu Hurairah? Fakhru ar-Razi mengatakan: “Banyak dari kalangan sahabat mencela Abu Hurairah, kita sebutkan contohnya; Abu Hurairah meriwayatkan bahwa Nabi bersabda: “Barangsiapa yang di pagi hari bangun dalam keadaan jinabah maka hendaknya tidak berpuasa”. Lantas mereka (para sahabat) mengeceknya kembali kepada dua istri Rasul Aisyah dan Ummu Salamah, mereka berdua mengatakan: “Hal itu (peristiwa itu) pernah dialami oleh Nabi, namun beliau tetap berpuasa”. Mereka berdua (istri-istri Nabi) lebih mengetahui (apa yang diperbuat oleh Nabi)…”. (al-Matholib al-Aliyah Jil:9 Hal:205). Dalam kesempatan lain, Fakhru ar-Razi juga menukil kejadian yang berkaitan dengan Ali bin Abi Thalib. Sewaktu Abu Hurairah meriwayatkan satu hadis dengan mengucapkan: “Kekasihku (Rasulullah saw) telah berbicara kepadaku…”, lantas Ali berkata: “Sejak kapan beliau menjadi kekasihmu?” (al-Matholib al-Aliyah Jil:9 Hal:205).Dan masih banyak lagi kejanggalan-kejanggalan yang dilakukan oleh Abu Hurairah -yang tidak mungkin kita ungkap secara keseluruhan di sini- sehingga dari situ menyebabkan banyak sahabat, dan ulama dari kalangan tabi’in dan tabi’ tabi’in meragukan kejujurannya. Bahkan dalam sebuah riwayat disebutkan Umar bin Khatab sendiri sempat mengancamnya jika ia (Abu Hurairah) sampai meriwayatkan hadis. (Lihat: Tadzkirat al-Huffadz Jil:1 Hal:7, Akhbar al-Madinah al-Munawwarah karya Ibnu Syaibah Jil:3 Hal:800, Jaami’ bayan al-‘Ilm karya Ibnu Abdul Bar Jil:2 Hal:121).Jika kitab Shohih Bukhari -yang dinyatakan kitab yang semua isinya dijamin kesahihannya dan secara mutlak tidak bisa dikritisi dan diganggu gugat- beberapa hadisnya diisi oleh pembohong semisal Abu Hurairah -sebagaimana diakui oleh para sahabat dan beberapa ulama Ahlussunah sendiri- lantas, apakah mungkin yang keluar dari pembohong pasti dijamin kesahihannya? Pertanyaan serupa juga bisa ditujukan kepada kitab Shahih karya Imam Muslim yang bertitel sama dengan sahih Bukhari, juga kitab-kitab standart Ahlusunah lain yang di dalamnya terdapat riwayat Abu Hurairah…jika jawabannya negative, maka apakah kita masih layak menyebut kitab Bukhari dan Muslim sebagai kitab Shahih? Ingat, jika dipaksakan jawabannya positif, niscaya akan terjadi kekacauan dalam pikiran manusia yang berakal sehat. Beranikah dari sekarang ini saudara-saudara kita Ahlusunah meninggalkan riwayat-riwayat yang diriwayatkan oleh Abu Hura-Hura sebagai konsekuensi mereka terhadap penghormatan kepada Ummul Mukminin Aisyah dan Khalifah Umar dan Ali? Beranikah nte hai Ahlusunah menyatakan bahwa dua kitab Bukhari dan Muslim tidak lagi disebut sebagai kitab Shahih karena terdapat ratusan riwayat Abu Hura-Hura, sebagai bukti ketaatan mereka terhadap Ummul Mukminin Aisyah, Khalifah kedua (Umar bin Khatab) dan keempat (Ali bin Abi Thalib)? Mungkinkah mengatakan Umar bin Khatab sebagai Khalifah yang wajib ditaati akan tetapi di sisi lain tetap mengambil riwayat-riwayat dari orang (spt Abu Kuciiiing) yang telah divonis sebagai pembohong, bahkan dilarang untuk meriwayatkan hadis?

ttg hadits yang nte nukil itu sebagai jawabannya. Dalam tradisi Syiah bila suatu hadits matannya bertentangan dengan Qur'an maka hadits itu tdk boleh digunakan.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Mehdi wrote :[b] “Hadits yang ana kutip diriwayatkan dari Imam Ali Zainal Abidin dari Imam Husein dari Imam Ali bin Abi Thalib dari Rasuulullah SAW”[/b]</p>
<p>untuk mematahkan kata-kata nt ini ana cukup dgn 1 pertanyaan : [b]nt ketemu ali zainal abidin itu dimana? di warung kopi or diwedangan?[/b]</p>
<p>jawaban masalah ini ada pada pertanyaan nte sendiri. kapankan nte ketemu Imam Bukhori? apa nte pernah kursus hadits secara privat sama dia?</p>
<p>Sekali lagi ana tanya,apa hadits itu shahih atau tidak hanya karena ucapan/anggapan nt?<br />
Buktikan klu mmg hadits itu cacat dimana cacatnya sanad hadits itu?? </p>
<p>Apa nte mau disuruh makan tai lantaran orang yang nyuruh nte orangnya tsiqoh menurut anggapan banyak orang.<br />
nih perhatikan siapa si BAPAK KUCIIIING menurut ulama2 nte dan masayikh nte.</p>
<p>siapakah sosok Abu Hurairah?Bukankah Abu Hura-Hura yang dikatakan oleh khalifah pertama (Umar bin Khatab) sebagai musuh Allah dengan ucapannya: “Wahai musuh Allah dan musuh kitab-Nya, engkau telah mencuri harta Allah”? (ya ‘aduwallah wa ‘aduwa kitabihi saraqta maalallah). (Lihat: at-Tabaqot al-Kubra Jil:4 Hal:335, Siar a’alam an-Nubala’ Jil:2 Hal:612) Lantas kenapa musuh Allah -menurut versi khalifah kedua Ahlusunnah ini- masih dipakai dan dipercaya oleh Imam Bukhari dalam periwayatan hadis? Apakah Imam Bukhari tidak percaya lagi terhadap Umar bin Khatab, atau bahkan meremehkan anjuran-anjuran seorang khalifaurrasyidiin? Bukankah Umar adalah sahabat dan khalifah Rasul yang harus diikuti?. Bukankah Abu Hurairah adalah pribadi yang terkenal dikalangan sahabat sebagai manusia yang tidak dapat dipercaya (baca: pembohong). Hal ini sebagaimana yang telah dinukil dari beberapa sahabat tentang dia, semisal: Ummul mukminin Aisyah, Umar bin Khatab, Marwan bin Hakam, Ali bin Abi Thalib…dsb. Sampai-sampai ummul mukminin Aisyah pernah mengatakan: “Apakah gerangan hadis-hadis yang telah engkau sampaikan atas nama Nabi ini? Bukankah apa yang telah engkau dengar juga sebagaimana yang telah kami dengar? Dan bukankah yang telah engkau lihat juga telah kami lihat?” (Lihat: Siar a’lam an-Nubala’ Jil:2 Hal:604/612/613, at-Tabaqot al-Kubra Jil:4 Hal:335) Pertanyaannya sama, apakah imam Bukhari dan Muslim sudah tidak percaya lagi terhadap istri Rasul yang bergelar ummulmukminin serta sahabat-sahabat besar Rasul di atas tadi? Sehingga dari situlah Ibnu Abil Hadid yang bermazhab muktazilah dalam Syarh Nahjul Balaghah menukil ungkapan beberapa ulama Ahlussunah semisal Abu Hanifah yang menyatakan: “Semua sahabat adil kecuali Abu Hurairah, Anas bin Malik…” (Syarh Nahjul Balaghah, Jil:4 Hal:69). Atau menukil ungkapan Jahidh dari kitabnya yang terkenal “at-Tauhid”, yang menyatakan: “Abu Hurairah adalah pribadi yang tidak dapat dapat dipercaya dalam masalah periwayatan (hadis) dari Rasulullah…sebagaimana Ali tidak mempercayainya, bahkan mencelanya. hal serupa juga yang dilakukan oleh Umar dan Aisyah (terhadap Abu Hurairah)” (Syarh Nahjul Balaghah, Jil:20 Hal:31). Apakah Imam Bukhari mengaku sebagai orang yang lebih mulia dari Umar, Aisyah dan Ali sehingga ia tetap mempercayai Abu Hurairah dalam periwayatan hadis, dan meremehkan pendapat mereka dengan tidak mengindahkan penilaian mereka terhadap Abu Hurairah? Bukankah menurut mayoritas Ahlusunnah menyatakan bahwa para sahabat layak -bahkan wajib- untuk diikuti, sebagai Salaf Saleh?.perlukankah Abu Hurairah juga terkenal sebagai periwayat hadis-hadis yang merendahkan martabat para nabi Allah? Sebagai contoh, hadis yang menyatakan bahwa nabi Ibrahim as pernah berbohong sebanyak tiga kali; “Ibrahim tiada pernah berbohong kecuali sebanyak tiga kali” ( Shahih Bukhari Jil:4 Hal:112). Atau hadis tentang peristiwa nabi Musa berlari dalam keadaan bugil dihadapan Bani Israil sehingga nampak kemaluannya oleh mereka, itu beliau lakukan hanya bertujuan untuk menangkal sangkaan buruk mereka terhadap beliau. (Shahih Muslim No.513, Shahih Bukhari Jil:4 Hal:126 dan pada bab Bad’u al-Khalq Jil:2 Hal:247)…dsb, yang semuanya merupakan kisah-kisah penghinaan atas pribadi para nabi Allah. Dari situlah akhirnya Fakhru ar-Razi dalam at-Tafsir al-Kabir menyatakan: “tiada layak dihukumi pribadi yang berbohong atas nama para nabi kecuali dengan sebutan Zindiq”. Dalam kesempatan lain ia menyatakan: “Menyatakan bohong atas perawi hadis tadi (yaitu: Abu Hurairah) lebih tidak berbeban ketimbang menyandarkannya (kebohongan) pada khalil ar-Rahman (yaitu: Ibrahim as)”. (Lihat: at-Tafsir al-Kabir Jil:22 Hal:186 dan Jil:26 Hal:148) Apakah hanya karena riwayat-riwayat bohong itu terdapat pada kitab shahih Bukhari sehingga kita dipaksa turut serta mendeskriditkan dan menginjak-injak kehormatan para nabi Allah, demi menjaga kesakralan kitab karya Imam Bukhari sebagai kitab Shahih, paling Shahihnya kitab pasca al-Quran?. Bukankah Ibrahim an-Nakha&#8217;i pernah menyatakan: “Golongan kita (ashabuna) mereka meninggalkan hadis yang datang dari Abu Hurairah”? Atau pada kesempatan lain ia pernah menyatakan: “Mereka tiada mengambil riwayat dari Abu Hurairah kecuali dalam hal-hal yang berkaitan dengan sorga dan neraka saja”. (Lihat: Siar a’alam an-Nubala’ Jil:2 Hal:609, Tarikh Ibn Asakir Jil:19 Hal:122)Bukankah Fakhru ar-Razi dalam kitab al-Matholib al-Aliyah menukil ungkapan pribadi-pribadi yang memiliki hubungan dekat dengan Rasul sebagai bukti atas kebohongan Abu Hurairah? Fakhru ar-Razi mengatakan: “Banyak dari kalangan sahabat mencela Abu Hurairah, kita sebutkan contohnya; Abu Hurairah meriwayatkan bahwa Nabi bersabda: “Barangsiapa yang di pagi hari bangun dalam keadaan jinabah maka hendaknya tidak berpuasa”. Lantas mereka (para sahabat) mengeceknya kembali kepada dua istri Rasul Aisyah dan Ummu Salamah, mereka berdua mengatakan: “Hal itu (peristiwa itu) pernah dialami oleh Nabi, namun beliau tetap berpuasa”. Mereka berdua (istri-istri Nabi) lebih mengetahui (apa yang diperbuat oleh Nabi)…”. (al-Matholib al-Aliyah Jil:9 Hal:205). Dalam kesempatan lain, Fakhru ar-Razi juga menukil kejadian yang berkaitan dengan Ali bin Abi Thalib. Sewaktu Abu Hurairah meriwayatkan satu hadis dengan mengucapkan: “Kekasihku (Rasulullah saw) telah berbicara kepadaku…”, lantas Ali berkata: “Sejak kapan beliau menjadi kekasihmu?” (al-Matholib al-Aliyah Jil:9 Hal:205).Dan masih banyak lagi kejanggalan-kejanggalan yang dilakukan oleh Abu Hurairah -yang tidak mungkin kita ungkap secara keseluruhan di sini- sehingga dari situ menyebabkan banyak sahabat, dan ulama dari kalangan tabi’in dan tabi’ tabi’in meragukan kejujurannya. Bahkan dalam sebuah riwayat disebutkan Umar bin Khatab sendiri sempat mengancamnya jika ia (Abu Hurairah) sampai meriwayatkan hadis. (Lihat: Tadzkirat al-Huffadz Jil:1 Hal:7, Akhbar al-Madinah al-Munawwarah karya Ibnu Syaibah Jil:3 Hal:800, Jaami’ bayan al-‘Ilm karya Ibnu Abdul Bar Jil:2 Hal:121).Jika kitab Shohih Bukhari -yang dinyatakan kitab yang semua isinya dijamin kesahihannya dan secara mutlak tidak bisa dikritisi dan diganggu gugat- beberapa hadisnya diisi oleh pembohong semisal Abu Hurairah -sebagaimana diakui oleh para sahabat dan beberapa ulama Ahlussunah sendiri- lantas, apakah mungkin yang keluar dari pembohong pasti dijamin kesahihannya? Pertanyaan serupa juga bisa ditujukan kepada kitab Shahih karya Imam Muslim yang bertitel sama dengan sahih Bukhari, juga kitab-kitab standart Ahlusunah lain yang di dalamnya terdapat riwayat Abu Hurairah…jika jawabannya negative, maka apakah kita masih layak menyebut kitab Bukhari dan Muslim sebagai kitab Shahih? Ingat, jika dipaksakan jawabannya positif, niscaya akan terjadi kekacauan dalam pikiran manusia yang berakal sehat. Beranikah dari sekarang ini saudara-saudara kita Ahlusunah meninggalkan riwayat-riwayat yang diriwayatkan oleh Abu Hura-Hura sebagai konsekuensi mereka terhadap penghormatan kepada Ummul Mukminin Aisyah dan Khalifah Umar dan Ali? Beranikah nte hai Ahlusunah menyatakan bahwa dua kitab Bukhari dan Muslim tidak lagi disebut sebagai kitab Shahih karena terdapat ratusan riwayat Abu Hura-Hura, sebagai bukti ketaatan mereka terhadap Ummul Mukminin Aisyah, Khalifah kedua (Umar bin Khatab) dan keempat (Ali bin Abi Thalib)? Mungkinkah mengatakan Umar bin Khatab sebagai Khalifah yang wajib ditaati akan tetapi di sisi lain tetap mengambil riwayat-riwayat dari orang (spt Abu Kuciiiing) yang telah divonis sebagai pembohong, bahkan dilarang untuk meriwayatkan hadis?</p>
<p>ttg hadits yang nte nukil itu sebagai jawabannya. Dalam tradisi Syiah bila suatu hadits matannya bertentangan dengan Qur&#8217;an maka hadits itu tdk boleh digunakan.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: mehdi</title>
		<link>http://harry.sufehmi.com/archives/2006-01-19-1099/#comment-134934</link>
		<dc:creator>mehdi</dc:creator>
		<pubDate>Wed, 11 Jun 2008 19:58:13 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">/?p=1099#comment-134934</guid>
		<description>tasyayu'
untuk mematahkan kata-kata nt ini ana cukup dgn 1 pertanyaan : [b]nt ketemu ali zainal abidin itu dimana? di warung kopi or diwedangan?
jawaban sebenarnya juga ada pada pertanyaan nt, itu kalau nte mau adil. sama kan dg di suni mang nte ketemu bang Bukhori ato bang Muslim dimana? apa nte pernah berguru langsung?

dengan berteriak dan semangat nt bawakan hadits-hadits sunni dan dengan lantang nt bilang hadits itu ga shahih….
Sekali lagi ana tanya,apa hadits itu shahih atau tidak hanya karena ucapan/anggapan nt?


jawaban ini mestinya akal nte yang jawab sendiri dan ketelitian nte ttg perawi dan sanadnya.
apakah nte mau disuruh makan tai lantaran orang yang nyuruh nte anggap orang terpercaya?

tentang perawi dan sanad suni nih ana tunjukin kebohongan dan kejanggalan suni. simak baik2



Abu Hurairah di jajaran perawi hadis Ahlussunah yang meriwayatkan tidak kurang dari lima ribu hadis yang bisa dilihat dalam kitab-kitab standart mereka. Imam Bukhari sendiri menukil tidak kurang dari empat ratus hadis yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah. Di sini kita akan lihat, siapakah sosok Abu Hurairah? Bukankah Abu Hurairah yang dikatakan oleh khalifah pertama (Umar bin Khatab) sebagai musuh Allah dengan ucapannya: “Wahai musuh Allah dan musuh kitab-Nya, engkau telah mencuri harta Allah”? (ya ‘aduwallah wa ‘aduwa kitabihi saraqta maalallah). (Lihat: at-Tabaqot al-Kubra Jil:4 Hal:335, Siar a’alam an-Nubala’ Jil:2 Hal:612) Lantas kenapa musuh Allah -menurut versi khalifah kedua Ahlusunnah ini- masih dipakai dan dipercaya oleh Imam Bukhari dalam periwayatan hadis? Apakah Imam Bukhari tidak percaya lagi terhadap Umar bin Khatab, atau bahkan meremehkan anjuran-anjuran seorang khalifaurrasyidiin? Bukankah Umar adalah sahabat dan khalifah Rasul yang harus diikuti?. Bukankah Abu Hurairah adalah pribadi yang terkenal dikalangan sahabat sebagai manusia yang tidak dapat dipercaya (baca: pembohong). Hal ini sebagaimana yang telah dinukil dari beberapa sahabat tentang dia, semisal: Ummul mukminin Aisyah, Umar bin Khatab, Marwan bin Hakam, Ali bin Abi Thalib…dsb. Sampai-sampai ummul mukminin Aisyah pernah mengatakan: “Apakah gerangan hadis-hadis yang telah engkau sampaikan atas nama Nabi ini? Bukankah apa yang telah engkau dengar juga sebagaimana yang telah kami dengar? Dan bukankah yang telah engkau lihat juga telah kami lihat?” (Lihat: Siar a’lam an-Nubala’ Jil:2 Hal:604/612/613, at-Tabaqot al-Kubra Jil:4 Hal:335) Pertanyaannya sama, apakah imam Bukhari dan Muslim sudah tidak percaya lagi terhadap istri Rasul yang bergelar ummulmukminin serta sahabat-sahabat besar Rasul di atas tadi? Sehingga dari situlah Ibnu Abil Hadid yang bermazhab muktazilah dalam Syarh Nahjul Balaghah menukil ungkapan beberapa ulama Ahlussunah semisal Abu Hanifah yang menyatakan: “Semua sahabat adil kecuali Abu Hurairah, Anas bin Malik…” (Syarh Nahjul Balaghah, Jil:4 Hal:69). Atau menukil ungkapan Jahidh dari kitabnya yang terkenal “at-Tauhid”, yang menyatakan: “Abu Hurairah adalah pribadi yang tidak dapat dapat dipercaya dalam masalah periwayatan (hadis) dari Rasulullah…sebagaimana Ali tidak mempercayainya, bahkan mencelanya. hal serupa juga yang dilakukan oleh Umar dan Aisyah (terhadap Abu Hurairah)” (Syarh Nahjul Balaghah, Jil:20 Hal:31). Apakah Imam Bukhari mengaku sebagai orang yang lebih mulia dari Umar, Aisyah dan Ali sehingga ia tetap mempercayai Abu Hurairah dalam periwayatan hadis, dan meremehkan pendapat mereka dengan tidak mengindahkan penilaian mereka terhadap Abu Hurairah? Bukankah menurut mayoritas Ahlusunnah menyatakan bahwa para sahabat layak -bahkan wajib- untuk diikuti, sebagai Salaf Saleh?. Bukankah Abu Hurairah juga terkenal sebagai periwayat hadis-hadis yang merendahkan martabat para nabi Allah? Sebagai contoh, hadis yang menyatakan bahwa nabi Ibrahim as pernah berbohong sebanyak tiga kali; “Ibrahim tiada pernah berbohong kecuali sebanyak tiga kali” (Shahih Bukhari Jil:4 Hal:112). Atau hadis tentang peristiwa nabi Musa berlari dalam keadaan bugil dihadapan Bani Israil sehingga nampak kemaluannya oleh mereka, itu beliau lakukan hanya bertujuan untuk menangkal sangkaan buruk mereka terhadap beliau. (Shahih Muslim No.513, Shahih Bukhari Jil:4 Hal:126 dan pada bab Bad’u al-Khalq Jil:2 Hal:247)…dsb, yang semuanya merupakan kisah-kisah penghinaan atas pribadi para nabi Allah. Dari situlah akhirnya Fakhru ar-Razi dalam at-Tafsir al-Kabir menyatakan: “tiada layak dihukumi pribadi yang berbohong atas nama para nabi kecuali dengan sebutan Zindiq”. Dalam kesempatan lain ia menyatakan: “Menyatakan bohong atas perawi hadis tadi (yaitu: Abu Hurairah) lebih tidak berbeban ketimbang menyandarkannya (kebohongan) pada khalil ar-Rahman (yaitu: Ibrahim as)”. (Lihat: at-Tafsir al-Kabir Jil:22 Hal:186 dan Jil:26 Hal:148) Apakah hanya karena riwayat-riwayat bohong itu terdapat pada kitab shahih Bukhari sehingga kita dipaksa turut serta mendeskriditkan dan menginjak-injak kehormatan para nabi Allah, demi menjaga kesakralan kitab karya Imam Bukhari sebagai kitab Shahih, paling Shahihnya kitab pasca al-Quran?. Bukankah Ibrahim an-Nakha'i pernah menyatakan: “Golongan kita (ashabuna) mereka meninggalkan hadis yang datang dari Abu Hurairah”? Atau pada kesempatan lain ia pernah menyatakan: “Mereka tiada mengambil riwayat dari Abu Hurairah kecuali dalam hal-hal yang berkaitan dengan sorga dan neraka saja”. (Lihat: Siar a’alam an-Nubala’ Jil:2 Hal:609, Tarikh Ibn Asakir Jil:19 Hal:122). bukankah Fakhru ar-Razi dalam kitab al-Matholib al-Aliyah menukil ungkapan pribadi-pribadi yang memiliki hubungan dekat dengan Rasul sebagai bukti atas kebohongan Abu Hurairah? Fakhru ar-Razi mengatakan: “Banyak dari kalangan sahabat mencela Abu Hurairah, kita sebutkan contohnya; Abu Hurairah meriwayatkan bahwa Nabi bersabda: “Barangsiapa yang di pagi hari bangun dalam keadaan jinabah maka hendaknya tidak berpuasa”. Lantas mereka (para sahabat) mengeceknya kembali kepada dua istri Rasul Aisyah dan Ummu Salamah, mereka berdua mengatakan: “Hal itu (peristiwa itu) pernah dialami oleh Nabi, namun beliau tetap berpuasa”. Mereka berdua (istri-istri Nabi) lebih mengetahui (apa yang diperbuat oleh Nabi)…”. (al-Matholib al-Aliyah Jil:9 Hal:205). Dalam kesempatan lain, Fakhru ar-Razi juga menukil kejadian yang berkaitan dengan Ali bin Abi Thalib. Sewaktu Abu Hurairah meriwayatkan satu hadis dengan mengucapkan: “Kekasihku (Rasulullah saw) telah berbicara kepadaku…”, lantas Ali berkata: “Sejak kapan beliau menjadi kekasihmu?” (al-Matholib al-Aliyah Jil:9 Hal:205). Dan masih banyak lagi kejanggalan-kejanggalan yang dilakukan oleh Abu Hurairah -yang tidak mungkin kita ungkap secara keseluruhan di sini- sehingga dari situ menyebabkan banyak sahabat, dan ulama dari kalangan tabi’in dan tabi’ tabi’in meragukan kejujurannya. Bahkan dalam sebuah riwayat disebutkan Umar bin Khatab sendiri sempat mengancamnya jika ia (Abu Hurairah) sampai meriwayatkan hadis. (Lihat: Tadzkirat al-Huffadz Jil:1 Hal:7, Akhbar al-Madinah al-Munawwarah karya Ibnu Syaibah Jil:3 Hal:800, Jaami’ bayan al-‘Ilm karya Ibnu Abdul Bar Jil:2 Hal:121. Jika kitab Shohih Bukhari -yang dinyatakan kitab yang semua isinya dijamin kesahihannya dan secara mutlak tidak bisa dikritisi dan diganggu gugat- beberapa hadisnya diisi oleh pembohong semisal Abu Hurairah -sebagaimana diakui oleh para sahabat dan beberapa ulama Ahlussunah sendiri- lantas, apakah mungkin yang keluar dari pembohong pasti dijamin kesahihannya? Pertanyaan serupa juga bisa ditujukan kepada kitab Shahih karya Imam Muslim yang bertitel sama dengan sahih Bukhari, juga kitab-kitab standart Ahlusunah lain yang di dalamnya terdapat riwayat Abu Hurairah…jika jawabannya negative, maka apakah kita masih layak menyebut kitab Bukhari dan Muslim sebagai kitab Shahih? Ingat, jika dipaksakan jawabannya positif, niscaya akan terjadi kekacauan dalam pikiran manusia yang berakal sehat. Beranikah dari sekarang ini nte hai  Ahlusunah meninggalkan riwayat-riwayat yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah sebagai konsekuensi mereka terhadap penghormatan kepada Ummul Mukminin Aisyah dan Khalifah Umar dan Ali? Beranikah dari sekarang nte hai Ahlusunah menyatakan bahwa dua kitab Bukhari dan Muslim tidak lagi disebut sebagai kitab Shahih karena terdapat ratusan riwayat Abu Hurairah, sebagai bukti ketaatan mereka terhadap Ummul Mukminin Aisyah, Khalifah kedua (Umar bin Khatab) dan keempat (Ali bin Abi Thalib)? Mungkinkah mengatakan Umar bin Khatab sebagai Khalifah yang wajib ditaati akan tetapi di sisi lain tetap mengambil riwayat-riwayat dari orang (spt Abu Hurairah) yang telah divonis sebagai pembohong, bahkan dilarang untuk meriwayatkan hadis? 

tentang hadits yg nte nukil dari alkahfi. sekali lagi dalam tradisi syi'ah suatu hadits bila matannya bertentangan dengan Qur'an maka hadits itu tdk perlu dipake. Dalam tradisi syi'i perlu nte ketahui tidak ada dalam suatu kitab hadits dihukumi sahih semua isinya lalu seta merta dianggap kitab sahih.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>tasyayu&#8217;<br />
untuk mematahkan kata-kata nt ini ana cukup dgn 1 pertanyaan : [b]nt ketemu ali zainal abidin itu dimana? di warung kopi or diwedangan?<br />
jawaban sebenarnya juga ada pada pertanyaan nt, itu kalau nte mau adil. sama kan dg di suni mang nte ketemu bang Bukhori ato bang Muslim dimana? apa nte pernah berguru langsung?</p>
<p>dengan berteriak dan semangat nt bawakan hadits-hadits sunni dan dengan lantang nt bilang hadits itu ga shahih….<br />
Sekali lagi ana tanya,apa hadits itu shahih atau tidak hanya karena ucapan/anggapan nt?</p>
<p>jawaban ini mestinya akal nte yang jawab sendiri dan ketelitian nte ttg perawi dan sanadnya.<br />
apakah nte mau disuruh makan tai lantaran orang yang nyuruh nte anggap orang terpercaya?</p>
<p>tentang perawi dan sanad suni nih ana tunjukin kebohongan dan kejanggalan suni. simak baik2</p>
<p>Abu Hurairah di jajaran perawi hadis Ahlussunah yang meriwayatkan tidak kurang dari lima ribu hadis yang bisa dilihat dalam kitab-kitab standart mereka. Imam Bukhari sendiri menukil tidak kurang dari empat ratus hadis yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah. Di sini kita akan lihat, siapakah sosok Abu Hurairah? Bukankah Abu Hurairah yang dikatakan oleh khalifah pertama (Umar bin Khatab) sebagai musuh Allah dengan ucapannya: “Wahai musuh Allah dan musuh kitab-Nya, engkau telah mencuri harta Allah”? (ya ‘aduwallah wa ‘aduwa kitabihi saraqta maalallah). (Lihat: at-Tabaqot al-Kubra Jil:4 Hal:335, Siar a’alam an-Nubala’ Jil:2 Hal:612) Lantas kenapa musuh Allah -menurut versi khalifah kedua Ahlusunnah ini- masih dipakai dan dipercaya oleh Imam Bukhari dalam periwayatan hadis? Apakah Imam Bukhari tidak percaya lagi terhadap Umar bin Khatab, atau bahkan meremehkan anjuran-anjuran seorang khalifaurrasyidiin? Bukankah Umar adalah sahabat dan khalifah Rasul yang harus diikuti?. Bukankah Abu Hurairah adalah pribadi yang terkenal dikalangan sahabat sebagai manusia yang tidak dapat dipercaya (baca: pembohong). Hal ini sebagaimana yang telah dinukil dari beberapa sahabat tentang dia, semisal: Ummul mukminin Aisyah, Umar bin Khatab, Marwan bin Hakam, Ali bin Abi Thalib…dsb. Sampai-sampai ummul mukminin Aisyah pernah mengatakan: “Apakah gerangan hadis-hadis yang telah engkau sampaikan atas nama Nabi ini? Bukankah apa yang telah engkau dengar juga sebagaimana yang telah kami dengar? Dan bukankah yang telah engkau lihat juga telah kami lihat?” (Lihat: Siar a’lam an-Nubala’ Jil:2 Hal:604/612/613, at-Tabaqot al-Kubra Jil:4 Hal:335) Pertanyaannya sama, apakah imam Bukhari dan Muslim sudah tidak percaya lagi terhadap istri Rasul yang bergelar ummulmukminin serta sahabat-sahabat besar Rasul di atas tadi? Sehingga dari situlah Ibnu Abil Hadid yang bermazhab muktazilah dalam Syarh Nahjul Balaghah menukil ungkapan beberapa ulama Ahlussunah semisal Abu Hanifah yang menyatakan: “Semua sahabat adil kecuali Abu Hurairah, Anas bin Malik…” (Syarh Nahjul Balaghah, Jil:4 Hal:69). Atau menukil ungkapan Jahidh dari kitabnya yang terkenal “at-Tauhid”, yang menyatakan: “Abu Hurairah adalah pribadi yang tidak dapat dapat dipercaya dalam masalah periwayatan (hadis) dari Rasulullah…sebagaimana Ali tidak mempercayainya, bahkan mencelanya. hal serupa juga yang dilakukan oleh Umar dan Aisyah (terhadap Abu Hurairah)” (Syarh Nahjul Balaghah, Jil:20 Hal:31). Apakah Imam Bukhari mengaku sebagai orang yang lebih mulia dari Umar, Aisyah dan Ali sehingga ia tetap mempercayai Abu Hurairah dalam periwayatan hadis, dan meremehkan pendapat mereka dengan tidak mengindahkan penilaian mereka terhadap Abu Hurairah? Bukankah menurut mayoritas Ahlusunnah menyatakan bahwa para sahabat layak -bahkan wajib- untuk diikuti, sebagai Salaf Saleh?. Bukankah Abu Hurairah juga terkenal sebagai periwayat hadis-hadis yang merendahkan martabat para nabi Allah? Sebagai contoh, hadis yang menyatakan bahwa nabi Ibrahim as pernah berbohong sebanyak tiga kali; “Ibrahim tiada pernah berbohong kecuali sebanyak tiga kali” (Shahih Bukhari Jil:4 Hal:112). Atau hadis tentang peristiwa nabi Musa berlari dalam keadaan bugil dihadapan Bani Israil sehingga nampak kemaluannya oleh mereka, itu beliau lakukan hanya bertujuan untuk menangkal sangkaan buruk mereka terhadap beliau. (Shahih Muslim No.513, Shahih Bukhari Jil:4 Hal:126 dan pada bab Bad’u al-Khalq Jil:2 Hal:247)…dsb, yang semuanya merupakan kisah-kisah penghinaan atas pribadi para nabi Allah. Dari situlah akhirnya Fakhru ar-Razi dalam at-Tafsir al-Kabir menyatakan: “tiada layak dihukumi pribadi yang berbohong atas nama para nabi kecuali dengan sebutan Zindiq”. Dalam kesempatan lain ia menyatakan: “Menyatakan bohong atas perawi hadis tadi (yaitu: Abu Hurairah) lebih tidak berbeban ketimbang menyandarkannya (kebohongan) pada khalil ar-Rahman (yaitu: Ibrahim as)”. (Lihat: at-Tafsir al-Kabir Jil:22 Hal:186 dan Jil:26 Hal:148) Apakah hanya karena riwayat-riwayat bohong itu terdapat pada kitab shahih Bukhari sehingga kita dipaksa turut serta mendeskriditkan dan menginjak-injak kehormatan para nabi Allah, demi menjaga kesakralan kitab karya Imam Bukhari sebagai kitab Shahih, paling Shahihnya kitab pasca al-Quran?. Bukankah Ibrahim an-Nakha&#8217;i pernah menyatakan: “Golongan kita (ashabuna) mereka meninggalkan hadis yang datang dari Abu Hurairah”? Atau pada kesempatan lain ia pernah menyatakan: “Mereka tiada mengambil riwayat dari Abu Hurairah kecuali dalam hal-hal yang berkaitan dengan sorga dan neraka saja”. (Lihat: Siar a’alam an-Nubala’ Jil:2 Hal:609, Tarikh Ibn Asakir Jil:19 Hal:122). bukankah Fakhru ar-Razi dalam kitab al-Matholib al-Aliyah menukil ungkapan pribadi-pribadi yang memiliki hubungan dekat dengan Rasul sebagai bukti atas kebohongan Abu Hurairah? Fakhru ar-Razi mengatakan: “Banyak dari kalangan sahabat mencela Abu Hurairah, kita sebutkan contohnya; Abu Hurairah meriwayatkan bahwa Nabi bersabda: “Barangsiapa yang di pagi hari bangun dalam keadaan jinabah maka hendaknya tidak berpuasa”. Lantas mereka (para sahabat) mengeceknya kembali kepada dua istri Rasul Aisyah dan Ummu Salamah, mereka berdua mengatakan: “Hal itu (peristiwa itu) pernah dialami oleh Nabi, namun beliau tetap berpuasa”. Mereka berdua (istri-istri Nabi) lebih mengetahui (apa yang diperbuat oleh Nabi)…”. (al-Matholib al-Aliyah Jil:9 Hal:205). Dalam kesempatan lain, Fakhru ar-Razi juga menukil kejadian yang berkaitan dengan Ali bin Abi Thalib. Sewaktu Abu Hurairah meriwayatkan satu hadis dengan mengucapkan: “Kekasihku (Rasulullah saw) telah berbicara kepadaku…”, lantas Ali berkata: “Sejak kapan beliau menjadi kekasihmu?” (al-Matholib al-Aliyah Jil:9 Hal:205). Dan masih banyak lagi kejanggalan-kejanggalan yang dilakukan oleh Abu Hurairah -yang tidak mungkin kita ungkap secara keseluruhan di sini- sehingga dari situ menyebabkan banyak sahabat, dan ulama dari kalangan tabi’in dan tabi’ tabi’in meragukan kejujurannya. Bahkan dalam sebuah riwayat disebutkan Umar bin Khatab sendiri sempat mengancamnya jika ia (Abu Hurairah) sampai meriwayatkan hadis. (Lihat: Tadzkirat al-Huffadz Jil:1 Hal:7, Akhbar al-Madinah al-Munawwarah karya Ibnu Syaibah Jil:3 Hal:800, Jaami’ bayan al-‘Ilm karya Ibnu Abdul Bar Jil:2 Hal:121. Jika kitab Shohih Bukhari -yang dinyatakan kitab yang semua isinya dijamin kesahihannya dan secara mutlak tidak bisa dikritisi dan diganggu gugat- beberapa hadisnya diisi oleh pembohong semisal Abu Hurairah -sebagaimana diakui oleh para sahabat dan beberapa ulama Ahlussunah sendiri- lantas, apakah mungkin yang keluar dari pembohong pasti dijamin kesahihannya? Pertanyaan serupa juga bisa ditujukan kepada kitab Shahih karya Imam Muslim yang bertitel sama dengan sahih Bukhari, juga kitab-kitab standart Ahlusunah lain yang di dalamnya terdapat riwayat Abu Hurairah…jika jawabannya negative, maka apakah kita masih layak menyebut kitab Bukhari dan Muslim sebagai kitab Shahih? Ingat, jika dipaksakan jawabannya positif, niscaya akan terjadi kekacauan dalam pikiran manusia yang berakal sehat. Beranikah dari sekarang ini nte hai  Ahlusunah meninggalkan riwayat-riwayat yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah sebagai konsekuensi mereka terhadap penghormatan kepada Ummul Mukminin Aisyah dan Khalifah Umar dan Ali? Beranikah dari sekarang nte hai Ahlusunah menyatakan bahwa dua kitab Bukhari dan Muslim tidak lagi disebut sebagai kitab Shahih karena terdapat ratusan riwayat Abu Hurairah, sebagai bukti ketaatan mereka terhadap Ummul Mukminin Aisyah, Khalifah kedua (Umar bin Khatab) dan keempat (Ali bin Abi Thalib)? Mungkinkah mengatakan Umar bin Khatab sebagai Khalifah yang wajib ditaati akan tetapi di sisi lain tetap mengambil riwayat-riwayat dari orang (spt Abu Hurairah) yang telah divonis sebagai pembohong, bahkan dilarang untuk meriwayatkan hadis? </p>
<p>tentang hadits yg nte nukil dari alkahfi. sekali lagi dalam tradisi syi&#8217;ah suatu hadits bila matannya bertentangan dengan Qur&#8217;an maka hadits itu tdk perlu dipake. Dalam tradisi syi&#8217;i perlu nte ketahui tidak ada dalam suatu kitab hadits dihukumi sahih semua isinya lalu seta merta dianggap kitab sahih.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: tasyayu'</title>
		<link>http://harry.sufehmi.com/archives/2006-01-19-1099/#comment-134813</link>
		<dc:creator>tasyayu'</dc:creator>
		<pubDate>Wed, 11 Jun 2008 11:22:31 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">/?p=1099#comment-134813</guid>
		<description>mehdi...mehdi... nte tu lucu sekali...

nt bilang ana ga ilmiah knp nt justru yang jadi sangat ngawur dan asal??? jangan bicara dengan nafsu dan emosi...karena dgn begitu nt hanya menunjukan kebodohan dan ketidak ilmiahan nt aja.

coba perhatikan kata2 nt baik2 ya....
Mehdi wrote :[b] "Hadits yang ana kutip diriwayatkan dari Imam Ali Zainal Abidin dari Imam Husein dari Imam Ali bin Abi Thalib dari Rasuulullah SAW"[/b]

untuk mematahkan kata-kata nt ini ana cukup dgn 1 pertanyaan : [b]nt ketemu ali zainal abidin itu dimana? di warung kopi or diwedangan?[/b]


dengan berteriak dan semangat nt bawakan hadits-hadits sunni dan dengan lantang nt bilang hadits itu ga shahih....
Sekali lagi ana tanya,apa hadits itu shahih atau tidak hanya karena ucapan/anggapan nt?
Buktikan klu mmg hadits itu cacat dimana cacatnya sanad hadits itu?? sebab jika kamu hanya bicara matan suatu hadits maka akan terjadi penafsiran yang beragam...tapi utk sanad lebih jelas,karena kita memiliki ilmu jarh wa tardil bukan?
Jadi pilihannya ada 2,nt buktikan secara sanad hadits2 diatas adalah batil atau klu nt ga bisa buktikan itu akui aja klu hadits itu shahih,nah baru stlh itu ana akan jelasin ke nt ttg matan hadits itu,gampang kan? katanya nt tu ilmiah...buktikan dong

klu cuma hadits yg aneh ana bisa bawakan ribuan hadits yang aneh dari syiah...nt mau??? ni ana kasi nt contohnya:

الكافي - الشيخ الكليني ج 1 ص 448 :
( أبواب التاريخ )
( باب ) * ( مولد النبي صلى الله عليه وآله ووفاته ) *
27 - محمد بن يحيى ، عن سعد بن عبد الله ، عن إبراهيم بن محمد الثقفي ، عن علي بن المعلى ، عن أخيه محمد ، عن درست بن أبي منصور ، عن علي بن أبي حمزة عن أبي بصير ، عن أبي عبد الله عليه السلام قال : لما ولد النبي صلى الله عليه وآله مكث أياما ليس له لبن ، فألقاه أبو طالب على ثدي نفسه ، فأنزل الله فيه لبنا فرضع منه أياما حتى وقع أبو طالب على حليمة السعدية فدفعه إليها .(إنتهى)

- مناقب آل ابي طالب - ابن شهر آشوب ج 1 ص 31 :
فصل : في منشه صلى الله عليه وآله ابانة بن بطة قال : ولد النبي صلى الله عليه وآله مختونا مسرورا فحكى ذلك عنده جده عبد المطلب فقال : ليكونن لابني هذا شان . كافي الكليني ، الصادق ( ع ) : لما ولد النبي صلى الله عليه وآله مكث اياما ليس له لبن فألقاه أبو طالب على ثدي نفسه فأنزل الله فيه لبنا فرضع منه اياما حتى وقع أبو طالب على حليمة فدفعه إليها . (إنتهى)

/ صفحة 29 /
درست بن أبي منصور ، عن علي بن أبي حمزة ، عن أبي بصير ، عن أبي عبد الله عليه السلام قال : لما ولد النبي صلى الله عليه وآله ، مكث أياما ليس له لبن ، فألقاه أبو طالب على ثدي نفسه ، فأنزل الله فيه لبنا ، فرضع منه أياما حتى وقع أبو طالب على حليمة السعدية فدفعه إليها .

Gila....Masa Rasul menyusu kepada abu tholib????
Ini aneh gak mehdi? atau malah menjijikan dan menghina nabi? masa abu tholib kok menyusui nabi sih????

Mehdi sudahlah,, riwayat ini bukan hanya ga logis dan bahkan menghina nabi sendiri dan para imam ahlulbait, tapi sampe hari ini tidak pernah didengar ada ulama syiah yang memprotes, karena mereka semua pada sibuk mut'ah dan menghitung hasil khumus

lebih baik anda melaksanakan nasehat anda sendiri sebelum menasehati orang lain

tidak ada yang lebih baik dari berfikir tanpa disertai emosi atau fanatik.

Fodhol bicara secara ilmiah,karena selama ini nt hanya ngawur dan neglantur</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>mehdi&#8230;mehdi&#8230; nte tu lucu sekali&#8230;</p>
<p>nt bilang ana ga ilmiah knp nt justru yang jadi sangat ngawur dan asal??? jangan bicara dengan nafsu dan emosi&#8230;karena dgn begitu nt hanya menunjukan kebodohan dan ketidak ilmiahan nt aja.</p>
<p>coba perhatikan kata2 nt baik2 ya&#8230;.<br />
Mehdi wrote :[b] &#8220;Hadits yang ana kutip diriwayatkan dari Imam Ali Zainal Abidin dari Imam Husein dari Imam Ali bin Abi Thalib dari Rasuulullah SAW&#8221;[/b]</p>
<p>untuk mematahkan kata-kata nt ini ana cukup dgn 1 pertanyaan : [b]nt ketemu ali zainal abidin itu dimana? di warung kopi or diwedangan?[/b]</p>
<p>dengan berteriak dan semangat nt bawakan hadits-hadits sunni dan dengan lantang nt bilang hadits itu ga shahih&#8230;.<br />
Sekali lagi ana tanya,apa hadits itu shahih atau tidak hanya karena ucapan/anggapan nt?<br />
Buktikan klu mmg hadits itu cacat dimana cacatnya sanad hadits itu?? sebab jika kamu hanya bicara matan suatu hadits maka akan terjadi penafsiran yang beragam&#8230;tapi utk sanad lebih jelas,karena kita memiliki ilmu jarh wa tardil bukan?<br />
Jadi pilihannya ada 2,nt buktikan secara sanad hadits2 diatas adalah batil atau klu nt ga bisa buktikan itu akui aja klu hadits itu shahih,nah baru stlh itu ana akan jelasin ke nt ttg matan hadits itu,gampang kan? katanya nt tu ilmiah&#8230;buktikan dong</p>
<p>klu cuma hadits yg aneh ana bisa bawakan ribuan hadits yang aneh dari syiah&#8230;nt mau??? ni ana kasi nt contohnya:</p>
<p>الكافي - الشيخ الكليني ج 1 ص 448 :<br />
( أبواب التاريخ )<br />
( باب ) * ( مولد النبي صلى الله عليه وآله ووفاته ) *<br />
27 - محمد بن يحيى ، عن سعد بن عبد الله ، عن إبراهيم بن محمد الثقفي ، عن علي بن المعلى ، عن أخيه محمد ، عن درست بن أبي منصور ، عن علي بن أبي حمزة عن أبي بصير ، عن أبي عبد الله عليه السلام قال : لما ولد النبي صلى الله عليه وآله مكث أياما ليس له لبن ، فألقاه أبو طالب على ثدي نفسه ، فأنزل الله فيه لبنا فرضع منه أياما حتى وقع أبو طالب على حليمة السعدية فدفعه إليها .(إنتهى)</p>
<p>- مناقب آل ابي طالب - ابن شهر آشوب ج 1 ص 31 :<br />
فصل : في منشه صلى الله عليه وآله ابانة بن بطة قال : ولد النبي صلى الله عليه وآله مختونا مسرورا فحكى ذلك عنده جده عبد المطلب فقال : ليكونن لابني هذا شان . كافي الكليني ، الصادق ( ع ) : لما ولد النبي صلى الله عليه وآله مكث اياما ليس له لبن فألقاه أبو طالب على ثدي نفسه فأنزل الله فيه لبنا فرضع منه اياما حتى وقع أبو طالب على حليمة فدفعه إليها . (إنتهى)</p>
<p>/ صفحة 29 /<br />
درست بن أبي منصور ، عن علي بن أبي حمزة ، عن أبي بصير ، عن أبي عبد الله عليه السلام قال : لما ولد النبي صلى الله عليه وآله ، مكث أياما ليس له لبن ، فألقاه أبو طالب على ثدي نفسه ، فأنزل الله فيه لبنا ، فرضع منه أياما حتى وقع أبو طالب على حليمة السعدية فدفعه إليها .</p>
<p>Gila&#8230;.Masa Rasul menyusu kepada abu tholib????<br />
Ini aneh gak mehdi? atau malah menjijikan dan menghina nabi? masa abu tholib kok menyusui nabi sih????</p>
<p>Mehdi sudahlah,, riwayat ini bukan hanya ga logis dan bahkan menghina nabi sendiri dan para imam ahlulbait, tapi sampe hari ini tidak pernah didengar ada ulama syiah yang memprotes, karena mereka semua pada sibuk mut&#8217;ah dan menghitung hasil khumus</p>
<p>lebih baik anda melaksanakan nasehat anda sendiri sebelum menasehati orang lain</p>
<p>tidak ada yang lebih baik dari berfikir tanpa disertai emosi atau fanatik.</p>
<p>Fodhol bicara secara ilmiah,karena selama ini nt hanya ngawur dan neglantur</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: mehdi</title>
		<link>http://harry.sufehmi.com/archives/2006-01-19-1099/#comment-134614</link>
		<dc:creator>mehdi</dc:creator>
		<pubDate>Tue, 10 Jun 2008 13:03:44 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">/?p=1099#comment-134614</guid>
		<description>tasyayu'
Hadits yang ana  kutip diriwayatkan dari Imam Ali Zainal Abidin dari Imam Husein dari Imam Ali bin Abi Thalib dari Rasuulullah SAW.
Tasyayu' ini kayaknya cuma bisa koar2 tentang hal yang sebenarnya ga ilmiah dan seolah-olah apa yang dia omong berbasis data tapi sebenarnya cuma modal ngotot doang. dan nte kayaknya emosionil banget. yaa.... biar otak nte tambah encer nih ana tunjukin kebatilan hadits2 suni dari sisi matan hadits. nte bilang suatu hadits bila udah dilebeli sahih tentu harus dipercaya. perhatikan hadits ini !!!!

Diriwayatkan dari Abu Hurairah:.
Rasulullah saw. bersabda: Pada zaman dahulu, Bani Israel mandi dengan telanjang. Mereka saling memandang aurat masing-masing, sedangkan Musa as. mandi seorang diri. Mereka berkata: Demi Allah, yang membuat Musa tidak mau mandi bersama kita hanya karena buah pelirnya besar. Pada suatu hari Musa pergi mandi. Pakaiannya diletakkan di atas sebuah batu. Tiba-tiba batu itu lari dengan membawa pakaiannya. Musa berlari mengejarnya sambil berteriak: Tinggalkan pakaianku! Tinggalkan pakaianku! Akibatnya orang-orang Bani Israel melihat aurat Musa. Mereka berkata: Demi Allah, ternyata tidak ada (cacat) apa-apa. Setelah batu itu berhenti ia (Musa) mengambil pakaiannya dan memukul batu itu. Abu Hurairah ra. berkata: Demi Allah, pada batu itu terdapat bekas pukulan Musa, tujuh atau enam kepalan. (Shahih Muslim No.513)
Mungkinkah Rasulullah mempermalukan Nabi Musa dengan mengatakan "Demi Allah, yang membuat Musa tidak mau mandi bersama kita hanya karena buah pelirnya besar." mungkinkah masuk akal batu bisa nggondol baju. Perhatikan!!! "Tiba-tiba batu itu lari dengan membawa pakaiannya". Apa hubungan antara kenabian dengan cacat. masuk akalkan Allah menunjukkan ketidakcacatan Nabi-Nya hingga Nabi itu dibiarkan telanjang yang auratnya ditonton orang banyak. Mungkinkah Nabi yang mulia marah sama batu hingga memukul batu.

Perhatikan hadits ini lalu cross cek dengan hadits di bawahnya.
Hadis riwayat Abu Said Al-Khudri ra., ia berkata: 
Rasulullah saw. lebih pemalu daripada seorang gadis perawan di dalam kamarnya. Jika beliau tidak menyukai sesuatu kami dapat mengetahui dari raut wajahnya. (Shahih Muslim No.4284)

"Hari itu adalah hari raya, di mana orang Sudan (dalam satu riwayat: orang-orang Habasyah 1/117) bermain perisai dan tombak di dalam masjid. Barangkali saya yang meminta kepada Nabi atau barangkali beliau sendiri yang mengatakan kepadaku, 'Apakah engkau ingin melihat?' Saya menjawab, 'Ya.' Saya disuruhnya berdiri di belakang beliau di depan pintu kamarku. Beliau melindungiku dengan selendang beliau, sedang aku melihat permainan mereka di dalam masjid. Lalu, Umar[2] menghardik mereka. Kemudian Nabi bersabda, 'Biarkanlah mereka.' (4/162) Maka, saya terus menyaksikan (6/147) sedang pipiku menempel pada pipi beliau, dan beliau berkata, 'Silakan (dan dalam satu riwayat: aman) wahai bani Arfidah!' Sehingga, ketika aku sudah merasa bosan, beliau bertanya, 'Sudah cukup?' Aku menjawab, 'Cukup.' Beliau bersabda, 'Kalau begitu, pergilah.'"Demikianlah dalam riwayat Karimah yang menyebutkan nama pelakunya (Umar) secara jelas. Demikian pula di dalam riwayat Imam Ahmad (2/540) dan Nasa'i (1/236) dari hadits Abu Hurairah dengan sanad sahih.

Hadits pertama mengatakan Rasulullah SAW sangat pemalu hingga bisa dilihat dari raut wajahnya. tetapi pada hadits kedua Rasulullah SAW nggak punya malu. masak sih beliau pipinya tempel-tempelan dengan istrinya kendati itu boleh hingga bisa disaksikan oleh Umar. Demi Allah hai Tasyayu' ana udah tanya 3 orang kira-kira malu nggak bila pipinya saling tempel-tempelan sama pasangannya ketika memungkinkan bisa disaksikan orang lain. jawabannya "MALU". itu baru jawaban orang biasa yang nggak maksum. apalagi Rasulullah yang maksum itu tentu beliau nggak mungkin melakukan perbuatan konyol.
Bisakah kita menerima dua hal yang saling bertentangan? Kecuali nte mengatakan bahwa perbuatan Rasul dalam hal tempel-tempelan pipi hingga orang lain melihat dan beliau tetap cuek dengan aksinya itu bukan suatu yang memalukan.
Anehnya orang suni kaya nte itu nggak marah apabila Rasul dihinakan oleh Abu Hura-Hura sementara apabila sahabat2 yang dikritisi orang syi’i mencak2.

lain kali bos jangan cuma bisa koar-koar doang!!!!
sebenarya masih buuuuuuuanyak hadits2 suni yang nggak logis dan malu-maluin hingga melecehkan kewibawaan Rasulullah Suci SAWW.. untuk sementara ana tunjukin tiga hadits ini. lain kali ana kasih hadits2 yang lebih serem buat nte</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>tasyayu&#8217;<br />
Hadits yang ana  kutip diriwayatkan dari Imam Ali Zainal Abidin dari Imam Husein dari Imam Ali bin Abi Thalib dari Rasuulullah SAW.<br />
Tasyayu&#8217; ini kayaknya cuma bisa koar2 tentang hal yang sebenarnya ga ilmiah dan seolah-olah apa yang dia omong berbasis data tapi sebenarnya cuma modal ngotot doang. dan nte kayaknya emosionil banget. yaa&#8230;. biar otak nte tambah encer nih ana tunjukin kebatilan hadits2 suni dari sisi matan hadits. nte bilang suatu hadits bila udah dilebeli sahih tentu harus dipercaya. perhatikan hadits ini !!!!</p>
<p>Diriwayatkan dari Abu Hurairah:.<br />
Rasulullah saw. bersabda: Pada zaman dahulu, Bani Israel mandi dengan telanjang. Mereka saling memandang aurat masing-masing, sedangkan Musa as. mandi seorang diri. Mereka berkata: Demi Allah, yang membuat Musa tidak mau mandi bersama kita hanya karena buah pelirnya besar. Pada suatu hari Musa pergi mandi. Pakaiannya diletakkan di atas sebuah batu. Tiba-tiba batu itu lari dengan membawa pakaiannya. Musa berlari mengejarnya sambil berteriak: Tinggalkan pakaianku! Tinggalkan pakaianku! Akibatnya orang-orang Bani Israel melihat aurat Musa. Mereka berkata: Demi Allah, ternyata tidak ada (cacat) apa-apa. Setelah batu itu berhenti ia (Musa) mengambil pakaiannya dan memukul batu itu. Abu Hurairah ra. berkata: Demi Allah, pada batu itu terdapat bekas pukulan Musa, tujuh atau enam kepalan. (Shahih Muslim No.513)<br />
Mungkinkah Rasulullah mempermalukan Nabi Musa dengan mengatakan &#8220;Demi Allah, yang membuat Musa tidak mau mandi bersama kita hanya karena buah pelirnya besar.&#8221; mungkinkah masuk akal batu bisa nggondol baju. Perhatikan!!! &#8220;Tiba-tiba batu itu lari dengan membawa pakaiannya&#8221;. Apa hubungan antara kenabian dengan cacat. masuk akalkan Allah menunjukkan ketidakcacatan Nabi-Nya hingga Nabi itu dibiarkan telanjang yang auratnya ditonton orang banyak. Mungkinkah Nabi yang mulia marah sama batu hingga memukul batu.</p>
<p>Perhatikan hadits ini lalu cross cek dengan hadits di bawahnya.<br />
Hadis riwayat Abu Said Al-Khudri ra., ia berkata:<br />
Rasulullah saw. lebih pemalu daripada seorang gadis perawan di dalam kamarnya. Jika beliau tidak menyukai sesuatu kami dapat mengetahui dari raut wajahnya. (Shahih Muslim No.4284)</p>
<p>&#8220;Hari itu adalah hari raya, di mana orang Sudan (dalam satu riwayat: orang-orang Habasyah 1/117) bermain perisai dan tombak di dalam masjid. Barangkali saya yang meminta kepada Nabi atau barangkali beliau sendiri yang mengatakan kepadaku, &#8216;Apakah engkau ingin melihat?&#8217; Saya menjawab, &#8216;Ya.&#8217; Saya disuruhnya berdiri di belakang beliau di depan pintu kamarku. Beliau melindungiku dengan selendang beliau, sedang aku melihat permainan mereka di dalam masjid. Lalu, Umar[2] menghardik mereka. Kemudian Nabi bersabda, &#8216;Biarkanlah mereka.&#8217; (4/162) Maka, saya terus menyaksikan (6/147) sedang pipiku menempel pada pipi beliau, dan beliau berkata, &#8216;Silakan (dan dalam satu riwayat: aman) wahai bani Arfidah!&#8217; Sehingga, ketika aku sudah merasa bosan, beliau bertanya, &#8216;Sudah cukup?&#8217; Aku menjawab, &#8216;Cukup.&#8217; Beliau bersabda, &#8216;Kalau begitu, pergilah.&#8217;&#8221;Demikianlah dalam riwayat Karimah yang menyebutkan nama pelakunya (Umar) secara jelas. Demikian pula di dalam riwayat Imam Ahmad (2/540) dan Nasa&#8217;i (1/236) dari hadits Abu Hurairah dengan sanad sahih.</p>
<p>Hadits pertama mengatakan Rasulullah SAW sangat pemalu hingga bisa dilihat dari raut wajahnya. tetapi pada hadits kedua Rasulullah SAW nggak punya malu. masak sih beliau pipinya tempel-tempelan dengan istrinya kendati itu boleh hingga bisa disaksikan oleh Umar. Demi Allah hai Tasyayu&#8217; ana udah tanya 3 orang kira-kira malu nggak bila pipinya saling tempel-tempelan sama pasangannya ketika memungkinkan bisa disaksikan orang lain. jawabannya &#8220;MALU&#8221;. itu baru jawaban orang biasa yang nggak maksum. apalagi Rasulullah yang maksum itu tentu beliau nggak mungkin melakukan perbuatan konyol.<br />
Bisakah kita menerima dua hal yang saling bertentangan? Kecuali nte mengatakan bahwa perbuatan Rasul dalam hal tempel-tempelan pipi hingga orang lain melihat dan beliau tetap cuek dengan aksinya itu bukan suatu yang memalukan.<br />
Anehnya orang suni kaya nte itu nggak marah apabila Rasul dihinakan oleh Abu Hura-Hura sementara apabila sahabat2 yang dikritisi orang syi’i mencak2.</p>
<p>lain kali bos jangan cuma bisa koar-koar doang!!!!<br />
sebenarya masih buuuuuuuanyak hadits2 suni yang nggak logis dan malu-maluin hingga melecehkan kewibawaan Rasulullah Suci SAWW.. untuk sementara ana tunjukin tiga hadits ini. lain kali ana kasih hadits2 yang lebih serem buat nte</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: londo</title>
		<link>http://harry.sufehmi.com/archives/2006-01-19-1099/#comment-134574</link>
		<dc:creator>londo</dc:creator>
		<pubDate>Tue, 10 Jun 2008 10:41:55 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">/?p=1099#comment-134574</guid>
		<description>Nas Khilafah
Aku telah berjanji pada diriku ketika memasuki pembahasan ini untuk tidak berpegang pada sembarang dalil melainkan ia benar-benar dianggap shahih oleh kedua mazhab, dan mengabaikan setiap dalil yang hanya diriwayatkan oleh satu mazhab saja. Lalu aku mulai menelaah masalah perselisihan antara Abu Bakar dan Ali bin Abi Thalib, apakah khilafah (kekhalifahan) pada dasarnya adalah hak Ali bila dilihat dari sisi nas seperti yang diklaim oleh mazhab Syi'ah, atau ia ditentukan oleh syura seperti yang dikatakan oleh mazhab Sunnah.

Seandainya mereka yang menelaah masalah ini benar-benar tulus untuk mencari sebuah kebenaran, mereka akan dapati bahwa nas yang mengatakan Ali sebagai khalifah adalah nas yang tak terbantahkan, seperti sabda Nabi SAWW: "Siapa yang menganggap aku sebagai maulanya (pemimpinnya) maka inilah Ali sebagai maulanya". Hadis ini beliau SAWW ucapkan sekembalinya beliau dari hajinya yang terakhir yang dikenal dengan hujjatul-wada'. Usai pengangkatan, berduyun-duyun orang datang mengucapkan tahniah atau selamat kepada Ali, termasuk Abu Bakar dan Umar sendiri. Mereka berkata: "Selamat untukmu wahai Putera Abu Thalib. Kini kau adalah maulaku dan maula setiap orang mukmin, laki-laki dan perempuan"1

Hadis ini telah disepakati keabsahannya oleh Sunnah dan Syi'ah. Referensi yang kusebutkan dalam telaahku ini adalah referensi yang berasal dari Ahlu Sunnah saja. Itupun bukan semua. Karena yang semestinya adalah jauh lebih banyak dari apa yang kusebutkan. Agar dapat memperoleh dalil-dalil yang lebih rinci aku mengajak para pembaca untuk menelaah kitab Al-Ghadir karya al-Allamah al-Amini. Buku ini setebal tiga belas jilid. Dan penulisnya telah mendaftarkan nama para perawi hadis ini dari golongan Ahlu Sunnah cukup banyak.

Adapun ijma' yang dinyatakan sebagai dasar dipilihnya Abu Bakar di Saqifah Bani Sa'idah, lalu kemudian ia dibaiat di masjid adalah pernyataan yang tidak kokoh. Bagaimana hal itu bisa dikatakan sebagai ijma' sementara sejumlah pemuka sahabat seperti Ali, Abbas dan anggota Bani Hasyim yang lain tidak ikut serta membaiatnya. Begitu juga Usamah bin Zaid, Zubair, Salman al-Farisi, Abu Zar al-Ghaffari, Miqdad bin al-Aswad, Ammar bin Yasir, Huzaifah bin Yaman, Khuzaimah bin Thabit, Abu Buraidah al-Aslami, Barro' bin Azib, Ubai bin Ka'ab, Sahal bin Hunaif, Sa'ad bin Ubadah, Qais bin Sa'ad, Abu Ayyub al-Anshori, Jabir bin Abdullah, Khalid bin Sa'ad dan lain sebagainya.2

Dimana ijma' yang dikatakan itu wahai hamba-hamba Allah? Seandainya hanya Ali yang tidak membaiat, itu sudah cukup bukti tercelanya ijma' seumpama itu. Hal ini karena beliau adalah satu-satunya calon khalifah yang ditunjuk oleh Rasul SAWW, seandainya kita tolak pengertian secara eksplisit nas-nas tentang kepemimpinan Ali bin Abi Thalib.

Adalah fakta bahwa bai'at pada Abu Bakar terjadi tanpa syuro atau musyawarah. Bai'at itu diambil ketika orang-orang sekitarnya, terutama ahlul halli wal 'aqdi, sedang bingung dan sibuk dalam mengurus jenazah Nabi SAWW. Saat itu penduduk kota Madinah sedang berkabung atas wafatnya Nabi mereka. Kemudian tiba-tiba dipaksa untuk membai'at sang khalifah.3 Hal ini dapat kita rasakan dari cara mereka mengancam untuk membakar rumah Fatimah apabila penghuni yang berada di dalamnya enggan memberikan baiat. Nah, bagaimana dapat kita katakan bahwa pemilihan sang khalifah tersebut terjadi secara musyawarah dan ijma'?

Umar sendiri pernah berkata bahwa bai'at yang diambil waktu itu adalah tergesa-gesa, dan Allah telah memelihara kaum muslimin dari kejahatannya. Beliau juga berkata bahwa siapa saja yang mengulangi cara bai'at seperti itu, ia mesti dibunuh, atau â€”paling tidakâ€” bai'atnya tidak sah dan tidak diakui.

Imam Ali pernah berkata tentang haknya ini, yang antara lain: "Demi Allah, Ibnu Abi Qahafah (Abu Bakar) telah memakainya (hak khilafahku) sedangkan beliau tahu bahwa kedudukanku dengan khilafah ini bagaikan kedudukan kincir dengan roda" 4 (Nahjul Balaghah).

Sa'ad bin Ubadah pemuka kaum Anshar yang menyerang Abu Bakar dan Umar di hari Saqifah dan berusaha mati-matian untuk mencegah mereka dari jabatan khilafah, namun tak mampu karena sakit dan tak dapat berdiri, pernah berkata setelah kaum Anshar membaia't Abu Bakar: "Demi Allah, sekali-kali aku tidak akan membai'at kalian sampailah kulemparkan anak-anak panahku dan kulumurkan tombakku serta kupukulkan pedangku dan kuperangi kalian bersama-sama keluarga dan kaumku. Demi Allah, seandainya manusia dan jin berkumpul untuk membai'at kalian niscaya aku tetap tidak akan memberikannya, sampai aku berjumpa dengan Tuhanku!" Sa'ad bin Ubadah tidak shalat sama-sama mereka dan tidak ikut serta kumpul bersama mereka bahkan tidak mau haji bersama-sama mereka. Seandainya ada sekelompok orang yang mau memerangi mereka niscaya ia akan membantunya. Dan seandainya ada orang yang membaiatnya untuk memerangi mereka niscaya ia akan perangi. Begitulah sikap Sa'ad terhadap Abu Bakar sampai beliau wafat di Syam pada periode pemerintahan Umar.5

Apabila bai'at tersebut dilakukan secara tergesa-gesa dimana Allah telah pelihara kaum muslimin dari keburukannya, seperti yang disinyalir oleh Umar sendiri, arsitektur rencana ini dan tahu akibat yang akan diderita oleh kaum muslimin karenanya; dan apabila khilafah ini merupakan "pakaian" Abu Bakar saja, (seperti yang diibaratkan oleh Imam Ali karena dia bukan empunya yang sah); dan apabila bai'at ini diambil secara zalim seperti yang dikatakan oleh Sa'ad bin Ubadah, pemuka Anshar yang memisahkan diri dari jamaah karenanya; dan apabila bai'at ini tidak sah secara syareat mengingat sahabat-sahabat yang besar seperti Abbas paman Nabi tidak memberinya, lalu apa dasar dan alasan keabsahan khilafah Abu Bakar? Jawabnya: tidak ada alasan yang diberikan oleh kalangan Ahlu Sunnah Wal Jamaah.

Dengan demikian maka benarlah alasan dan hujjah Syi'ah dalam hal ini, karena nas tentang kekhalifahan Ali nyata ada dalam Ahlu Sunnah sendiri. Namun mereka telah menakwilkannya karena ingin memelihara "kemuliaan" sahabat. Tetapi bagi orang yang insaf dan adil, dia tidak akan memperoleh sembarang alasan kecuali harus menerima kenyataan nas ini; terutama apabila ia ketahui rangkaian peristiwa yang menyelubungi sejarah ini.6


--------------------------------------------------------------------------------

[1] Musnad Ahmad Bin Hanbal jil. 4 hal. 241; Siyar al-Alamin Oleh Imam Ghazali hal. 12; Tazkirah al-Khawas Oleh Ibnu al-Jauzi hal. 29; ar-Riyadh Nadhirah jil. 2 hal. 169; Kanzul Ummal jil. 6 hal. 397; Al-Bidayah wan Nihayah Oleh Ibnu KAtsir jil. 5 hal. 212; Tarikh Ibnu Asakir jil. 2 hal. 50; Tafsir ar-Razi jil. 3 hal. 63; Al-Hawi Lil Fatawi Oleh Suyuthi jil. 1 hal. 112.

[2] Tarikh Thabari, Ibnu Atsir, Suyuthi, al-Istia'b dll.

[3] Tarikh al-Khulafah Oleh Ibnu Qutaibah jil. 1 hal. 18.

[4] Syarh Nahjul Balaghah Oleh Muhammad Abduh jil. 1 hal. 34.

[5] Tarikh al-Khulafa' jil. 1 hal. 17.

[6] Lihat as-Saqifah Wal Khilafah Abduh Fattah Abdul Maksud dan as-Saqifah Shaikh Muhammad Ridha al-Muzaffar.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Nas Khilafah<br />
Aku telah berjanji pada diriku ketika memasuki pembahasan ini untuk tidak berpegang pada sembarang dalil melainkan ia benar-benar dianggap shahih oleh kedua mazhab, dan mengabaikan setiap dalil yang hanya diriwayatkan oleh satu mazhab saja. Lalu aku mulai menelaah masalah perselisihan antara Abu Bakar dan Ali bin Abi Thalib, apakah khilafah (kekhalifahan) pada dasarnya adalah hak Ali bila dilihat dari sisi nas seperti yang diklaim oleh mazhab Syi&#8217;ah, atau ia ditentukan oleh syura seperti yang dikatakan oleh mazhab Sunnah.</p>
<p>Seandainya mereka yang menelaah masalah ini benar-benar tulus untuk mencari sebuah kebenaran, mereka akan dapati bahwa nas yang mengatakan Ali sebagai khalifah adalah nas yang tak terbantahkan, seperti sabda Nabi SAWW: &#8220;Siapa yang menganggap aku sebagai maulanya (pemimpinnya) maka inilah Ali sebagai maulanya&#8221;. Hadis ini beliau SAWW ucapkan sekembalinya beliau dari hajinya yang terakhir yang dikenal dengan hujjatul-wada&#8217;. Usai pengangkatan, berduyun-duyun orang datang mengucapkan tahniah atau selamat kepada Ali, termasuk Abu Bakar dan Umar sendiri. Mereka berkata: &#8220;Selamat untukmu wahai Putera Abu Thalib. Kini kau adalah maulaku dan maula setiap orang mukmin, laki-laki dan perempuan&#8221;1</p>
<p>Hadis ini telah disepakati keabsahannya oleh Sunnah dan Syi&#8217;ah. Referensi yang kusebutkan dalam telaahku ini adalah referensi yang berasal dari Ahlu Sunnah saja. Itupun bukan semua. Karena yang semestinya adalah jauh lebih banyak dari apa yang kusebutkan. Agar dapat memperoleh dalil-dalil yang lebih rinci aku mengajak para pembaca untuk menelaah kitab Al-Ghadir karya al-Allamah al-Amini. Buku ini setebal tiga belas jilid. Dan penulisnya telah mendaftarkan nama para perawi hadis ini dari golongan Ahlu Sunnah cukup banyak.</p>
<p>Adapun ijma&#8217; yang dinyatakan sebagai dasar dipilihnya Abu Bakar di Saqifah Bani Sa&#8217;idah, lalu kemudian ia dibaiat di masjid adalah pernyataan yang tidak kokoh. Bagaimana hal itu bisa dikatakan sebagai ijma&#8217; sementara sejumlah pemuka sahabat seperti Ali, Abbas dan anggota Bani Hasyim yang lain tidak ikut serta membaiatnya. Begitu juga Usamah bin Zaid, Zubair, Salman al-Farisi, Abu Zar al-Ghaffari, Miqdad bin al-Aswad, Ammar bin Yasir, Huzaifah bin Yaman, Khuzaimah bin Thabit, Abu Buraidah al-Aslami, Barro&#8217; bin Azib, Ubai bin Ka&#8217;ab, Sahal bin Hunaif, Sa&#8217;ad bin Ubadah, Qais bin Sa&#8217;ad, Abu Ayyub al-Anshori, Jabir bin Abdullah, Khalid bin Sa&#8217;ad dan lain sebagainya.2</p>
<p>Dimana ijma&#8217; yang dikatakan itu wahai hamba-hamba Allah? Seandainya hanya Ali yang tidak membaiat, itu sudah cukup bukti tercelanya ijma&#8217; seumpama itu. Hal ini karena beliau adalah satu-satunya calon khalifah yang ditunjuk oleh Rasul SAWW, seandainya kita tolak pengertian secara eksplisit nas-nas tentang kepemimpinan Ali bin Abi Thalib.</p>
<p>Adalah fakta bahwa bai&#8217;at pada Abu Bakar terjadi tanpa syuro atau musyawarah. Bai&#8217;at itu diambil ketika orang-orang sekitarnya, terutama ahlul halli wal &#8216;aqdi, sedang bingung dan sibuk dalam mengurus jenazah Nabi SAWW. Saat itu penduduk kota Madinah sedang berkabung atas wafatnya Nabi mereka. Kemudian tiba-tiba dipaksa untuk membai&#8217;at sang khalifah.3 Hal ini dapat kita rasakan dari cara mereka mengancam untuk membakar rumah Fatimah apabila penghuni yang berada di dalamnya enggan memberikan baiat. Nah, bagaimana dapat kita katakan bahwa pemilihan sang khalifah tersebut terjadi secara musyawarah dan ijma&#8217;?</p>
<p>Umar sendiri pernah berkata bahwa bai&#8217;at yang diambil waktu itu adalah tergesa-gesa, dan Allah telah memelihara kaum muslimin dari kejahatannya. Beliau juga berkata bahwa siapa saja yang mengulangi cara bai&#8217;at seperti itu, ia mesti dibunuh, atau â€”paling tidakâ€” bai&#8217;atnya tidak sah dan tidak diakui.</p>
<p>Imam Ali pernah berkata tentang haknya ini, yang antara lain: &#8220;Demi Allah, Ibnu Abi Qahafah (Abu Bakar) telah memakainya (hak khilafahku) sedangkan beliau tahu bahwa kedudukanku dengan khilafah ini bagaikan kedudukan kincir dengan roda&#8221; 4 (Nahjul Balaghah).</p>
<p>Sa&#8217;ad bin Ubadah pemuka kaum Anshar yang menyerang Abu Bakar dan Umar di hari Saqifah dan berusaha mati-matian untuk mencegah mereka dari jabatan khilafah, namun tak mampu karena sakit dan tak dapat berdiri, pernah berkata setelah kaum Anshar membaia&#8217;t Abu Bakar: &#8220;Demi Allah, sekali-kali aku tidak akan membai&#8217;at kalian sampailah kulemparkan anak-anak panahku dan kulumurkan tombakku serta kupukulkan pedangku dan kuperangi kalian bersama-sama keluarga dan kaumku. Demi Allah, seandainya manusia dan jin berkumpul untuk membai&#8217;at kalian niscaya aku tetap tidak akan memberikannya, sampai aku berjumpa dengan Tuhanku!&#8221; Sa&#8217;ad bin Ubadah tidak shalat sama-sama mereka dan tidak ikut serta kumpul bersama mereka bahkan tidak mau haji bersama-sama mereka. Seandainya ada sekelompok orang yang mau memerangi mereka niscaya ia akan membantunya. Dan seandainya ada orang yang membaiatnya untuk memerangi mereka niscaya ia akan perangi. Begitulah sikap Sa&#8217;ad terhadap Abu Bakar sampai beliau wafat di Syam pada periode pemerintahan Umar.5</p>
<p>Apabila bai&#8217;at tersebut dilakukan secara tergesa-gesa dimana Allah telah pelihara kaum muslimin dari keburukannya, seperti yang disinyalir oleh Umar sendiri, arsitektur rencana ini dan tahu akibat yang akan diderita oleh kaum muslimin karenanya; dan apabila khilafah ini merupakan &#8220;pakaian&#8221; Abu Bakar saja, (seperti yang diibaratkan oleh Imam Ali karena dia bukan empunya yang sah); dan apabila bai&#8217;at ini diambil secara zalim seperti yang dikatakan oleh Sa&#8217;ad bin Ubadah, pemuka Anshar yang memisahkan diri dari jamaah karenanya; dan apabila bai&#8217;at ini tidak sah secara syareat mengingat sahabat-sahabat yang besar seperti Abbas paman Nabi tidak memberinya, lalu apa dasar dan alasan keabsahan khilafah Abu Bakar? Jawabnya: tidak ada alasan yang diberikan oleh kalangan Ahlu Sunnah Wal Jamaah.</p>
<p>Dengan demikian maka benarlah alasan dan hujjah Syi&#8217;ah dalam hal ini, karena nas tentang kekhalifahan Ali nyata ada dalam Ahlu Sunnah sendiri. Namun mereka telah menakwilkannya karena ingin memelihara &#8220;kemuliaan&#8221; sahabat. Tetapi bagi orang yang insaf dan adil, dia tidak akan memperoleh sembarang alasan kecuali harus menerima kenyataan nas ini; terutama apabila ia ketahui rangkaian peristiwa yang menyelubungi sejarah ini.6</p>
<p>&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8211;</p>
<p>[1] Musnad Ahmad Bin Hanbal jil. 4 hal. 241; Siyar al-Alamin Oleh Imam Ghazali hal. 12; Tazkirah al-Khawas Oleh Ibnu al-Jauzi hal. 29; ar-Riyadh Nadhirah jil. 2 hal. 169; Kanzul Ummal jil. 6 hal. 397; Al-Bidayah wan Nihayah Oleh Ibnu KAtsir jil. 5 hal. 212; Tarikh Ibnu Asakir jil. 2 hal. 50; Tafsir ar-Razi jil. 3 hal. 63; Al-Hawi Lil Fatawi Oleh Suyuthi jil. 1 hal. 112.</p>
<p>[2] Tarikh Thabari, Ibnu Atsir, Suyuthi, al-Istia&#8217;b dll.</p>
<p>[3] Tarikh al-Khulafah Oleh Ibnu Qutaibah jil. 1 hal. 18.</p>
<p>[4] Syarh Nahjul Balaghah Oleh Muhammad Abduh jil. 1 hal. 34.</p>
<p>[5] Tarikh al-Khulafa&#8217; jil. 1 hal. 17.</p>
<p>[6] Lihat as-Saqifah Wal Khilafah Abduh Fattah Abdul Maksud dan as-Saqifah Shaikh Muhammad Ridha al-Muzaffar.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: tasyayu'</title>
		<link>http://harry.sufehmi.com/archives/2006-01-19-1099/#comment-132415</link>
		<dc:creator>tasyayu'</dc:creator>
		<pubDate>Tue, 03 Jun 2008 03:19:37 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">/?p=1099#comment-132415</guid>
		<description>Jack Wrote : Masya Allah, saya sudah baca hakekat.com, basi bgt! argumennya itu2 doang..hahahaha…

Subhanallah...anda tertawa tanpa dapat mematahkan argumen yang anda anggap itu2 doang... i know mmg cuma segitu kemampuan kalian para ahli taqlid.

Anyway...kok blum ada yang dapat jawab tantangan saya ya...?

Saya tantang semua Syi'ah didunia untuk bisa membuktikan 1 hadits dari literatur syi'ah yang secara sanad tersambung ke Rasulullah.
Klu ga ada yang bisa buktikan artinya syi'ah adalah ajaran yang bathil


Salam</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Jack Wrote : Masya Allah, saya sudah baca hakekat.com, basi bgt! argumennya itu2 doang..hahahaha…</p>
<p>Subhanallah&#8230;anda tertawa tanpa dapat mematahkan argumen yang anda anggap itu2 doang&#8230; i know mmg cuma segitu kemampuan kalian para ahli taqlid.</p>
<p>Anyway&#8230;kok blum ada yang dapat jawab tantangan saya ya&#8230;?</p>
<p>Saya tantang semua Syi&#8217;ah didunia untuk bisa membuktikan 1 hadits dari literatur syi&#8217;ah yang secara sanad tersambung ke Rasulullah.<br />
Klu ga ada yang bisa buktikan artinya syi&#8217;ah adalah ajaran yang bathil</p>
<p>Salam</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: my chemical manhaj</title>
		<link>http://harry.sufehmi.com/archives/2006-01-19-1099/#comment-132271</link>
		<dc:creator>my chemical manhaj</dc:creator>
		<pubDate>Mon, 02 Jun 2008 14:21:03 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">/?p=1099#comment-132271</guid>
		<description>bukannya syubhat dari Syi'ah juga itu-itu doang?
malah nampak nyata kalo ndak beres? ;)
tapi saya ndak nertawain sampeyan :D
tenang sahaja...</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>bukannya syubhat dari Syi&#8217;ah juga itu-itu doang?<br />
malah nampak nyata kalo ndak beres? <img src='http://harry.sufehmi.com/wp-includes/images/smilies/icon_wink.gif' alt=';)' class='wp-smiley' /><br />
tapi saya ndak nertawain sampeyan <img src='http://harry.sufehmi.com/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' /><br />
tenang sahaja&#8230;</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Jack</title>
		<link>http://harry.sufehmi.com/archives/2006-01-19-1099/#comment-132235</link>
		<dc:creator>Jack</dc:creator>
		<pubDate>Mon, 02 Jun 2008 12:00:48 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">/?p=1099#comment-132235</guid>
		<description>Masya Allah, saya sudah baca hakekat.com, basi bgt! argumennya itu2 doang..hahahaha...</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Masya Allah, saya sudah baca hakekat.com, basi bgt! argumennya itu2 doang..hahahaha&#8230;</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: my chemical manhaj</title>
		<link>http://harry.sufehmi.com/archives/2006-01-19-1099/#comment-131927</link>
		<dc:creator>my chemical manhaj</dc:creator>
		<pubDate>Sun, 01 Jun 2008 03:19:19 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">/?p=1099#comment-131927</guid>
		<description>@ mas ajie :
Penjelasannya banyak sekali mas. Semua ulama Ahlussunnah sudah memfatwakan bahwa Syi'ah sudah keluar dari Islam karena aqidah / dasar pokok agama Islam udah mereka selewengkan.
Mas Ajie bisa membaca referansi-referensi di buku-buku tentang Syi'ah yang dikeluarkan oleh Ahlussunnah. Juga di situs yang mengungkap Syi'ah, seperti http://hakekat.com dan http://manhaj.or.id

Mengenai keluarga Shihab, menurut saya tidak sesat. Tapi dia terpengaruh paham liberal, Mas.
Sunni dan Syi'ah boleh bersaudara.
Tapi masalah aqidah... nanti dulu...</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>@ mas ajie :<br />
Penjelasannya banyak sekali mas. Semua ulama Ahlussunnah sudah memfatwakan bahwa Syi&#8217;ah sudah keluar dari Islam karena aqidah / dasar pokok agama Islam udah mereka selewengkan.<br />
Mas Ajie bisa membaca referansi-referensi di buku-buku tentang Syi&#8217;ah yang dikeluarkan oleh Ahlussunnah. Juga di situs yang mengungkap Syi&#8217;ah, seperti <a href="http://hakekat.com" rel="nofollow">http://hakekat.com</a> dan <a href="http://manhaj.or.id" >http://manhaj.or.id</a></p>
<p>Mengenai keluarga Shihab, menurut saya tidak sesat. Tapi dia terpengaruh paham liberal, Mas.<br />
Sunni dan Syi&#8217;ah boleh bersaudara.<br />
Tapi masalah aqidah&#8230; nanti dulu&#8230;</p>
]]></content:encoded>
	</item>
</channel>
</rss>

<!-- Dynamic Page Served (once) in 3.248 seconds -->
