<?xml version="1.0" encoding="utf-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
		>
<channel>
	<title>Comments on: Preman berjubah, kampanye FUD ?</title>
	<atom:link href="http://harry.sufehmi.com/archives/2006-05-24-1157/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://harry.sufehmi.com/archives/2006-05-24-1157/</link>
	<description>life is a struggle - information wants to be free</description>
	<lastBuildDate>Sat, 20 Mar 2010 10:35:02 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.9.2</generator>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
		<item>
		<title>By: Kampanye Damai Pemilu Indonesia 2009</title>
		<link>http://harry.sufehmi.com/archives/2006-05-24-1157/#comment-166370</link>
		<dc:creator>Kampanye Damai Pemilu Indonesia 2009</dc:creator>
		<pubDate>Fri, 13 Feb 2009 12:23:00 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://harry.sufehmi.com/archives/2006-05-24-1157/#comment-166370</guid>
		<description>Makasih infonya om..

Tapi agak kurang ngeti dikit :(</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Makasih infonya om..</p>
<p>Tapi agak kurang ngeti dikit <img src='http://harry.sufehmi.com/wp-includes/images/smilies/icon_sad.gif' alt=':(' class='wp-smiley' /> </p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Harry</title>
		<link>http://harry.sufehmi.com/archives/2006-05-24-1157/#comment-67614</link>
		<dc:creator>Harry</dc:creator>
		<pubDate>Tue, 23 Oct 2007 06:03:08 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://harry.sufehmi.com/archives/2006-05-24-1157/#comment-67614</guid>
		<description>HAMPIR setiap malam Jumat, arus lalu lintas di sepotong Jalan Hayam Wuruk, Jakarta Barat, agak tersendat, dan kadang-kadang macet. Hal itu disebabkan adanya kegiatan keagamaan di Masjid Jami Kebon Jeruk di jalan itu.

Jemaah yang hadir di masjid yang didirikan pada abad ke-18 itu cukup banyak sehingga meluber sampai ke jalan. Di sekitar bangunan masjid yang seakan terkepung  oleh berbagai jenis bangunan itu banyak pedagang menggelar berbagai barang keperluan ibadah semisal baju koko, dan  peci. Juga obat-obatan, minyak wangi dan lain-lain, yang menyita sebagian Jalan Hayam Wuruk. Antara para pedagang dan jemaah yang umumnya berpakaian gamis dan berpeci putih itu tampaknya terjalin hubungan kekeluargaan yang erat.

Masjid di Jalan Hayam Wuruk No 83 yang diapit deretan bangunan perkantoran dan pertokoan itu tak pernah sepi. Termasuk pengajian/ceramah  pada setiap malam Jumat. Kegiatan itu juga diramaikan oleh “pasar malam”. Di sekitar masjid. Di kompleks bangunan masjid itu tak pernah sepi dari jamaah, termasuk jemaah yang menginap dan melakukan aktivitas keagamaan di tempat itu.

Masjid ini dikunjungi jemaah dari berbagai kota di Indonesia dan juga dari mancanegara. Selain beribadah, mereka menimba ilmu dan melakukan kegiatan dakwah. 

Muhammad Sobri (25), yang datang dari Medan, Sumut, misalnya, ditemui sedang  membersihkan lantai keramik masjid itu dan merapikan karpet. Selesai membersihkan lantai, dia beranjak ke kamar kecil, mengambil sikat, dengan cekatan tangannya menyikat  kamar mandi. Begitulah hari-hari dilalui Sobri.

Selain Sobri, masih ada Dikdik, asal Tasikmalaya. Juga ada Gufron, asal Bandung, dan ratusan jemaah lainnya. Mereka di masjid itu bisa satu hari, tiga hari, bahkan ada yang berbulan-bulan. Mereka datang dengan biaya sendiri.

     Meski baru kenal di tempat itu, tapi sudah begitu akrab, seperti saudara. Dan banyak lagi jemaah dari luar kota, bahkan ada yang dari luar negeri sedang menjalankan iktikaf (berdiam di masjid  mendekatkan diri kepada Allah). 

     Sobri, sudah hampir satu bulan di  Masjid Jami Kebon Jeruk itu. Sementara Dikdik sudah hampir dua minggu. Mereka sengaja datang untuk melaksanakan pendidikan ruhaninya, melatih untuk hidup secara Islami,  berperilaku seperti Nabi Muhammad SAW. Mereka datang dengan bekal seperlunya. Bahkan beberapa di antaranya membawa kompor, dan peralatan tidur sederhana. Mereka berdiam di masjid, mendengarkan ceramah agama, mendirikan shalat, dan proses pendekatan diri kepada Sang Pencipta.

 Jemaah Masjid Jami Kebon Jeruk -- sejatinya fungsi masjid -- secara organisasi tidak punya nama. Tidak berafiliasi dengan oragnisasi tertentu. &quot;Siapa saja boleh datang, dari kalangan mana pun. Kami terima sebagai saudara. Kami sama-sama berkumpul, menjalankan ibadah sesuai dengan ajaran Nabi Muhammad. Kami tidak pernah membahas masalah perbedaan, khilafiyah. Kami  lebih menggiatkan shalat lima waktu berjamaah, memperbanyak shalat sunah, mendengarkan pengajian-pengajian agama, dan berperilaku sebagaimana yang dicontohkan Nabi Muhammad, dengan ajaran kasih sayang,&quot; kata Sobri.

Makanya, dia ikhlas. Ketika membersihkan lantai masjid, katanya, dia berdoa dalam hati, “Ya Allah, bersihkanlah hati kami, sebagaimana kami membersihkan lantai masjid ini. Benar-benar nikmat, sehingga pekerjaan ini terasa berkah,&quot; kata Sobri. 

Pengajar di sebuah pondok pesantren khusus rehabilitasi korban narkoba ini suatu saat menyaksikan pengasuh pesantrennya melakukan hal yang sama.  &quot;Dalam hati saya terharu. Tapi bagaimana lagi. Beliau melakukan itu dengan tulus. Saya pun merasakan nikmat luar biasa yang tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata,” katanya. Masjid ini sudah dikenal luas sebagai sentral pertemuan jemaah dari seluruh penjuru Nusantara, bahkan ada yang dari luar negeri.

     Salah satu jamaah masjid ini adalah Gito Rollies, penyanyi rock yang  kini aktif berdakwah. Ia kerap berada di masjid itu pada Kamis malam, berbaur dengan jemaah yang lain. Menurut Gito, dia aktif sebagai jemaah Masjid Kebon Jeruk, karena kekeluargaan yang terjalin begitu erat, tanpa membeda-bedakan status. Yang datang mulai dari tukang bakso sampai direktur utama. Bahkan dia kerap menjumpai seorang konglomerat berada berhari-hari di masjid,  dan beribadah secara tulus sebagaimana seorang tukang bakso di sampingnya. &quot;Orang mungkin nggak akan kenal dia, karyawannya sekali pun pasti nggak akan mengira dia itu bos di kantornya,&quot; kata Gito, suatu kali ketika ditemui di masjid itu.

     Sekali waktu, mereka berkelompok melakukan khuruj (perjalanan  keluar–Red) ke masjid-masjid lain. Setiap daerah, biasanya ada tempat pertemuan. Selain menjalin persaudaraan, proses perjalanan ini bagian dari interaksi sosial antarsesama umat Muslim. Di tempat yang baru itu, mereka beribadah, berdakwah, dan menjalankan kehidupan sebagaimana contoh yang dilaksanakan Nabi. &quot;Tidak semua hari dihabiskan untuk cari uang, atau materi. Tapi selayaknya ada waktu  yang dimanfaatkan untuk berkhidmat atau khuruj, melatih diri berperilaku terpuji sebagaimana Nabi Muhammad,&quot; kata Dikdik. Sehingga, lanjut bujangan asal Tasikmalaya ini, implementasi hidup bersahaja, bisa tercermin dalam kehidupan sehari-hari.

     Hampir tiap hari, dari Masjid Jami Kebon Jeruk  diberangkatkan rombongan yang akan melakukan perjalanan ke daerah. Mereka  berkelompok, antara 8 sampai 15 orang, ditawarkan lama perjalanan sesuai kemampuan jemaah. Ada yang tiga hari, tujuh hari, sampai 40 hari. (agi)</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>HAMPIR setiap malam Jumat, arus lalu lintas di sepotong Jalan Hayam Wuruk, Jakarta Barat, agak tersendat, dan kadang-kadang macet. Hal itu disebabkan adanya kegiatan keagamaan di Masjid Jami Kebon Jeruk di jalan itu.</p>
<p>Jemaah yang hadir di masjid yang didirikan pada abad ke-18 itu cukup banyak sehingga meluber sampai ke jalan. Di sekitar bangunan masjid yang seakan terkepung  oleh berbagai jenis bangunan itu banyak pedagang menggelar berbagai barang keperluan ibadah semisal baju koko, dan  peci. Juga obat-obatan, minyak wangi dan lain-lain, yang menyita sebagian Jalan Hayam Wuruk. Antara para pedagang dan jemaah yang umumnya berpakaian gamis dan berpeci putih itu tampaknya terjalin hubungan kekeluargaan yang erat.</p>
<p>Masjid di Jalan Hayam Wuruk No 83 yang diapit deretan bangunan perkantoran dan pertokoan itu tak pernah sepi. Termasuk pengajian/ceramah  pada setiap malam Jumat. Kegiatan itu juga diramaikan oleh “pasar malam”. Di sekitar masjid. Di kompleks bangunan masjid itu tak pernah sepi dari jamaah, termasuk jemaah yang menginap dan melakukan aktivitas keagamaan di tempat itu.</p>
<p>Masjid ini dikunjungi jemaah dari berbagai kota di Indonesia dan juga dari mancanegara. Selain beribadah, mereka menimba ilmu dan melakukan kegiatan dakwah. </p>
<p>Muhammad Sobri (25), yang datang dari Medan, Sumut, misalnya, ditemui sedang  membersihkan lantai keramik masjid itu dan merapikan karpet. Selesai membersihkan lantai, dia beranjak ke kamar kecil, mengambil sikat, dengan cekatan tangannya menyikat  kamar mandi. Begitulah hari-hari dilalui Sobri.</p>
<p>Selain Sobri, masih ada Dikdik, asal Tasikmalaya. Juga ada Gufron, asal Bandung, dan ratusan jemaah lainnya. Mereka di masjid itu bisa satu hari, tiga hari, bahkan ada yang berbulan-bulan. Mereka datang dengan biaya sendiri.</p>
<p>     Meski baru kenal di tempat itu, tapi sudah begitu akrab, seperti saudara. Dan banyak lagi jemaah dari luar kota, bahkan ada yang dari luar negeri sedang menjalankan iktikaf (berdiam di masjid  mendekatkan diri kepada Allah). </p>
<p>     Sobri, sudah hampir satu bulan di  Masjid Jami Kebon Jeruk itu. Sementara Dikdik sudah hampir dua minggu. Mereka sengaja datang untuk melaksanakan pendidikan ruhaninya, melatih untuk hidup secara Islami,  berperilaku seperti Nabi Muhammad SAW. Mereka datang dengan bekal seperlunya. Bahkan beberapa di antaranya membawa kompor, dan peralatan tidur sederhana. Mereka berdiam di masjid, mendengarkan ceramah agama, mendirikan shalat, dan proses pendekatan diri kepada Sang Pencipta.</p>
<p> Jemaah Masjid Jami Kebon Jeruk &#8212; sejatinya fungsi masjid &#8212; secara organisasi tidak punya nama. Tidak berafiliasi dengan oragnisasi tertentu. &#8220;Siapa saja boleh datang, dari kalangan mana pun. Kami terima sebagai saudara. Kami sama-sama berkumpul, menjalankan ibadah sesuai dengan ajaran Nabi Muhammad. Kami tidak pernah membahas masalah perbedaan, khilafiyah. Kami  lebih menggiatkan shalat lima waktu berjamaah, memperbanyak shalat sunah, mendengarkan pengajian-pengajian agama, dan berperilaku sebagaimana yang dicontohkan Nabi Muhammad, dengan ajaran kasih sayang,&#8221; kata Sobri.</p>
<p>Makanya, dia ikhlas. Ketika membersihkan lantai masjid, katanya, dia berdoa dalam hati, “Ya Allah, bersihkanlah hati kami, sebagaimana kami membersihkan lantai masjid ini. Benar-benar nikmat, sehingga pekerjaan ini terasa berkah,&#8221; kata Sobri. </p>
<p>Pengajar di sebuah pondok pesantren khusus rehabilitasi korban narkoba ini suatu saat menyaksikan pengasuh pesantrennya melakukan hal yang sama.  &#8220;Dalam hati saya terharu. Tapi bagaimana lagi. Beliau melakukan itu dengan tulus. Saya pun merasakan nikmat luar biasa yang tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata,” katanya. Masjid ini sudah dikenal luas sebagai sentral pertemuan jemaah dari seluruh penjuru Nusantara, bahkan ada yang dari luar negeri.</p>
<p>     Salah satu jamaah masjid ini adalah Gito Rollies, penyanyi rock yang  kini aktif berdakwah. Ia kerap berada di masjid itu pada Kamis malam, berbaur dengan jemaah yang lain. Menurut Gito, dia aktif sebagai jemaah Masjid Kebon Jeruk, karena kekeluargaan yang terjalin begitu erat, tanpa membeda-bedakan status. Yang datang mulai dari tukang bakso sampai direktur utama. Bahkan dia kerap menjumpai seorang konglomerat berada berhari-hari di masjid,  dan beribadah secara tulus sebagaimana seorang tukang bakso di sampingnya. &#8220;Orang mungkin nggak akan kenal dia, karyawannya sekali pun pasti nggak akan mengira dia itu bos di kantornya,&#8221; kata Gito, suatu kali ketika ditemui di masjid itu.</p>
<p>     Sekali waktu, mereka berkelompok melakukan khuruj (perjalanan  keluar–Red) ke masjid-masjid lain. Setiap daerah, biasanya ada tempat pertemuan. Selain menjalin persaudaraan, proses perjalanan ini bagian dari interaksi sosial antarsesama umat Muslim. Di tempat yang baru itu, mereka beribadah, berdakwah, dan menjalankan kehidupan sebagaimana contoh yang dilaksanakan Nabi. &#8220;Tidak semua hari dihabiskan untuk cari uang, atau materi. Tapi selayaknya ada waktu  yang dimanfaatkan untuk berkhidmat atau khuruj, melatih diri berperilaku terpuji sebagaimana Nabi Muhammad,&#8221; kata Dikdik. Sehingga, lanjut bujangan asal Tasikmalaya ini, implementasi hidup bersahaja, bisa tercermin dalam kehidupan sehari-hari.</p>
<p>     Hampir tiap hari, dari Masjid Jami Kebon Jeruk  diberangkatkan rombongan yang akan melakukan perjalanan ke daerah. Mereka  berkelompok, antara 8 sampai 15 orang, ditawarkan lama perjalanan sesuai kemampuan jemaah. Ada yang tiga hari, tujuh hari, sampai 40 hari. (agi)</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: harry</title>
		<link>http://harry.sufehmi.com/archives/2006-05-24-1157/#comment-19339</link>
		<dc:creator>harry</dc:creator>
		<pubDate>Wed, 19 Jul 2006 06:23:14 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://harry.sufehmi.com/archives/2006-05-24-1157/#comment-19339</guid>
		<description>satu hal yang saya dapat dari pengalaman saya bersentuhan dengan berbagai kelompok Islam selama lebih dari 10 tahun - mereka juga manusia (tm) seurieus :)

kalau sudah masuk suatu kelompok islam, tidak lantas otomatis berarti akan jadi orang shaleh.
tetap ada saja yang munafik, pembohong, soothsayers; selain memang ada juga mata-mata yang disusupkan oleh berbagai pihak (pengalaman seorang guru saya)

ada seorang kawan keluarga kami yang sudah amblas uangnya sampai milyaran rupiah karena &quot;tsiqoh&quot; (percaya) dengan kawan-kawan pengajiannya, diajak bergabung ke berbagai peluang bisnis, yang kemudian gagal semua, dst.

Aukai Collins saja, mujahidin dari Amerika, sampai &lt;a href=&quot;http://www.salon.com/news/feature/2002/07/17/collins_interview/index.html&quot;&gt;menjadi frustasi ketika dia menemukan kenyataan seperti ini&lt;/a&gt;. Bayangkan, mujahidin, yang sedang berperang di jalan Allah swt untuk membela umat muslim yang tertindas, dan nyawanya selalu terancam tercabut setiap detiknya - masih sempat juga main politik, saling menusuk dari belakang, dst.

Apalagi yang disini ?

ya, sama seperti manusia pada umumnya juga tho ?

kalau berpeci, berbaju koko, pakai jilbab; tidak otomatis berarti pasti lebih baik. kalau kita jadi lengah karena penampilan, kita cuma bisa menyalahkan diri kita sendiri saja.
saya nih sering pakai baju koko sehariannya, jenggot juga lumayan lah panjang. tapi jangan langsung percaya dan menitipkan duit 5 milyar begitu saja. nanti saya tipu sampeyan, &#039;tak bawa kabur duitnya ke Inggris, baru tahu rasa :)

jadi, sekarang saya sedang non-blok saja, prinsip saya; ambil yang baik, tinggalkan &amp; informasikan mereka mengenai kekurangannya. 
well, at least I&#039;m trying so.

mudah-mudahan kita bisa sama-sama sabar ya menghadapi semua ini. (definisi sabar: tidak emosi *dan* berusaha mengubahnya sebisanya, dengan cara-cara yang baik). trims.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>satu hal yang saya dapat dari pengalaman saya bersentuhan dengan berbagai kelompok Islam selama lebih dari 10 tahun &#8211; mereka juga manusia &#8482; seurieus <img src='http://harry.sufehmi.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
<p>kalau sudah masuk suatu kelompok islam, tidak lantas otomatis berarti akan jadi orang shaleh.<br />
tetap ada saja yang munafik, pembohong, soothsayers; selain memang ada juga mata-mata yang disusupkan oleh berbagai pihak (pengalaman seorang guru saya)</p>
<p>ada seorang kawan keluarga kami yang sudah amblas uangnya sampai milyaran rupiah karena &#8220;tsiqoh&#8221; (percaya) dengan kawan-kawan pengajiannya, diajak bergabung ke berbagai peluang bisnis, yang kemudian gagal semua, dst.</p>
<p>Aukai Collins saja, mujahidin dari Amerika, sampai <a href="http://www.salon.com/news/feature/2002/07/17/collins_interview/index.html">menjadi frustasi ketika dia menemukan kenyataan seperti ini</a>. Bayangkan, mujahidin, yang sedang berperang di jalan Allah swt untuk membela umat muslim yang tertindas, dan nyawanya selalu terancam tercabut setiap detiknya &#8211; masih sempat juga main politik, saling menusuk dari belakang, dst.</p>
<p>Apalagi yang disini ?</p>
<p>ya, sama seperti manusia pada umumnya juga tho ?</p>
<p>kalau berpeci, berbaju koko, pakai jilbab; tidak otomatis berarti pasti lebih baik. kalau kita jadi lengah karena penampilan, kita cuma bisa menyalahkan diri kita sendiri saja.<br />
saya nih sering pakai baju koko sehariannya, jenggot juga lumayan lah panjang. tapi jangan langsung percaya dan menitipkan duit 5 milyar begitu saja. nanti saya tipu sampeyan, &#8216;tak bawa kabur duitnya ke Inggris, baru tahu rasa <img src='http://harry.sufehmi.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
<p>jadi, sekarang saya sedang non-blok saja, prinsip saya; ambil yang baik, tinggalkan &amp; informasikan mereka mengenai kekurangannya.<br />
well, at least I&#8217;m trying so.</p>
<p>mudah-mudahan kita bisa sama-sama sabar ya menghadapi semua ini. (definisi sabar: tidak emosi *dan* berusaha mengubahnya sebisanya, dengan cara-cara yang baik). trims.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Ferren</title>
		<link>http://harry.sufehmi.com/archives/2006-05-24-1157/#comment-19328</link>
		<dc:creator>Ferren</dc:creator>
		<pubDate>Wed, 19 Jul 2006 03:28:53 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://harry.sufehmi.com/archives/2006-05-24-1157/#comment-19328</guid>
		<description>Aduh, jadi nggak enak begini.. yah melenceng memang. 

Pernahkah Anda mewawancarai keluarga-keluarga yang hancur, anak-anaknya jadi terlantar, karena pelacur ?

Ada Baling (Pasteur), Novita (Braga dalam), Amex (Pelesiran), anak jalanan dari orang tua &#039;maaf&#039; pelacur, jgn tanya masa depan mereka. Di sisi lain ada A**nx si Germo (dia yang menyuplai acara Fenomena T***s TV di Bandung), perempuan yg dia bawa kebanyakan mahasiswi. Berat Kang Harry, seks di satu sisi memang gaya hidup, di pub malam Bandung, lingerie dance, saya bertemu teman sekelas di Kampus, dan dia menawarkan diri cukup dgn beberapa gelas screw, hot latina dll... para jenderal polisi yang berteman dgn saya, pernah mengajak ke pub karaoke, di sana mereka bermesum ria. Biw, pastur  dari Advent, doyan mabok nonton bf. Q, penulis aktivis muda novelnya dan bukunya telah diterbitkan penerbit nasional, tapi sekalinya ke Bandung ketemu saya pasti mengajak cari cewek. Suf, dekan universitas ternama di Bandung, meminta tesis-nya dikerjakan oleh saya. A dan H keduanya aktivis dakwah, oleh teman kost-nya yang kebetulan wartawan seperti saya pernah dipergoki &#039;main&#039;. Anak2 mentoring Islam ada kecenderungan psikopat diam-diam, mereka mulai klepto, MQ menunjukan i&#039;tikad seperti Hawwariyin Malaysia (tahu kan maksudnya). 

one word : Jangaaaar.....!!! (orang betawi bilang ilok -kabarnya kata ilok sudah punah)

Hidup itu janggal dan absurd Kang Harry. Saya minta maaf kalau posting belakangan cenderung emosi. Sebenarnya saya bukan pedamba kericuhan. Anda juga bukan saya yakin itu. 

Soal preman berjubah, Kang Ahmad Taufik dari Garda Kemerdekaan datang ke tempat saya bulan kemarin. Beliau sedih, harus melawan guru sendiri, Habib Riziq. Tapi agar Islam tdk cenderung masuk dalam skrenario Mawar -istilah teman dari Hubungan Internasional meneliti kecenderungan CIA mempolitisir gerakan massa spontan di Asia Tenggara, dia panjang lebar diskusikan itu. Ulil si Bejat itu, memang tools yang empuk. semakin pecah belah, semakin bagus untuk menggergoti ketahanan nasionalisme kebangsaan. Kang Ahmad Taufik sadar itu, tapi orang tua memang susah dinasehati, ya sudahlah...

Mengutip Ayumi Hamasaki dalam Daybreak :

Kita berjalan masing-masing
Toh kita masih beratap pada langit yang sama.

End of notes, senang berkenalan dengan kawan2 di milis ini.

Wassalam</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Aduh, jadi nggak enak begini.. yah melenceng memang. </p>
<p>Pernahkah Anda mewawancarai keluarga-keluarga yang hancur, anak-anaknya jadi terlantar, karena pelacur ?</p>
<p>Ada Baling (Pasteur), Novita (Braga dalam), Amex (Pelesiran), anak jalanan dari orang tua &#8216;maaf&#8217; pelacur, jgn tanya masa depan mereka. Di sisi lain ada A**nx si Germo (dia yang menyuplai acara Fenomena T***s TV di Bandung), perempuan yg dia bawa kebanyakan mahasiswi. Berat Kang Harry, seks di satu sisi memang gaya hidup, di pub malam Bandung, lingerie dance, saya bertemu teman sekelas di Kampus, dan dia menawarkan diri cukup dgn beberapa gelas screw, hot latina dll&#8230; para jenderal polisi yang berteman dgn saya, pernah mengajak ke pub karaoke, di sana mereka bermesum ria. Biw, pastur  dari Advent, doyan mabok nonton bf. Q, penulis aktivis muda novelnya dan bukunya telah diterbitkan penerbit nasional, tapi sekalinya ke Bandung ketemu saya pasti mengajak cari cewek. Suf, dekan universitas ternama di Bandung, meminta tesis-nya dikerjakan oleh saya. A dan H keduanya aktivis dakwah, oleh teman kost-nya yang kebetulan wartawan seperti saya pernah dipergoki &#8216;main&#8217;. Anak2 mentoring Islam ada kecenderungan psikopat diam-diam, mereka mulai klepto, MQ menunjukan i&#8217;tikad seperti Hawwariyin Malaysia (tahu kan maksudnya). </p>
<p>one word : Jangaaaar&#8230;..!!! (orang betawi bilang ilok -kabarnya kata ilok sudah punah)</p>
<p>Hidup itu janggal dan absurd Kang Harry. Saya minta maaf kalau posting belakangan cenderung emosi. Sebenarnya saya bukan pedamba kericuhan. Anda juga bukan saya yakin itu. </p>
<p>Soal preman berjubah, Kang Ahmad Taufik dari Garda Kemerdekaan datang ke tempat saya bulan kemarin. Beliau sedih, harus melawan guru sendiri, Habib Riziq. Tapi agar Islam tdk cenderung masuk dalam skrenario Mawar -istilah teman dari Hubungan Internasional meneliti kecenderungan CIA mempolitisir gerakan massa spontan di Asia Tenggara, dia panjang lebar diskusikan itu. Ulil si Bejat itu, memang tools yang empuk. semakin pecah belah, semakin bagus untuk menggergoti ketahanan nasionalisme kebangsaan. Kang Ahmad Taufik sadar itu, tapi orang tua memang susah dinasehati, ya sudahlah&#8230;</p>
<p>Mengutip Ayumi Hamasaki dalam Daybreak :</p>
<p>Kita berjalan masing-masing<br />
Toh kita masih beratap pada langit yang sama.</p>
<p>End of notes, senang berkenalan dengan kawan2 di milis ini.</p>
<p>Wassalam</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: harry</title>
		<link>http://harry.sufehmi.com/archives/2006-05-24-1157/#comment-19320</link>
		<dc:creator>harry</dc:creator>
		<pubDate>Wed, 19 Jul 2006 00:46:04 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://harry.sufehmi.com/archives/2006-05-24-1157/#comment-19320</guid>
		<description>ferren - sebetulnya sudah melenceng dari topik, tapi ok... 

Pernahkah Anda pikirkan kemungkinan bahwa memang ada pelacur yang memang melacur *bukan* karena keterpaksaan ?

&lt;blockquote&gt;pelacuran di Indonesia itu nggak ada, yang ada cuma orang miskin.&lt;/blockquote&gt;

Lantas kenapa ada pelacur-pelacur kelas atas di Indonesia ? Perek ABG ? dst.

Pernahkah Anda mewawancarai keluarga-keluarga yang hancur, anak-anaknya jadi terlantar, karena pelacur ?

Kalau orang-orang yang memang terpaksa, &lt;a href=&quot;http://harry.sufehmi.com/archives/2006-03-04-1116/&quot; rel=&quot;nofollow&quot;&gt;saya pun sedih dan mengerti&lt;/a&gt;. Itu tidak perlu ditanyakan lagi sebetulnya, harus otomatis kita simpati dengan orang-orang yang kalah ini.

Tapi disini Anda cenderung menggeneralisir bahwa semua pelacur adalah demikian. Saya tidak setuju dengan ini. 
Germo yang Anda wawancarai itu sepertinya memang pintar sekali, sampai bisa mempengaruhi opini Anda.

Mengenai berbagai organisasi Islam; memang sepertinya sejauh ini banyak kawan-kawan saya yang baik justru adalah yang bukan anggota organisasi apapun. Tapi ini cuma anecdotal evidence dan saya tidak menarik kesimpulan dari sini.

Wallahua&#039;lam, semoga Allah swt mencerahkan kita semua selalu, trims.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>ferren &#8211; sebetulnya sudah melenceng dari topik, tapi ok&#8230; </p>
<p>Pernahkah Anda pikirkan kemungkinan bahwa memang ada pelacur yang memang melacur *bukan* karena keterpaksaan ?</p>
<blockquote><p>pelacuran di Indonesia itu nggak ada, yang ada cuma orang miskin.</p></blockquote>
<p>Lantas kenapa ada pelacur-pelacur kelas atas di Indonesia ? Perek ABG ? dst.</p>
<p>Pernahkah Anda mewawancarai keluarga-keluarga yang hancur, anak-anaknya jadi terlantar, karena pelacur ?</p>
<p>Kalau orang-orang yang memang terpaksa, <a href="http://harry.sufehmi.com/archives/2006-03-04-1116/" >saya pun sedih dan mengerti</a>. Itu tidak perlu ditanyakan lagi sebetulnya, harus otomatis kita simpati dengan orang-orang yang kalah ini.</p>
<p>Tapi disini Anda cenderung menggeneralisir bahwa semua pelacur adalah demikian. Saya tidak setuju dengan ini.<br />
Germo yang Anda wawancarai itu sepertinya memang pintar sekali, sampai bisa mempengaruhi opini Anda.</p>
<p>Mengenai berbagai organisasi Islam; memang sepertinya sejauh ini banyak kawan-kawan saya yang baik justru adalah yang bukan anggota organisasi apapun. Tapi ini cuma anecdotal evidence dan saya tidak menarik kesimpulan dari sini.</p>
<p>Wallahua&#8217;lam, semoga Allah swt mencerahkan kita semua selalu, trims.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Ferren</title>
		<link>http://harry.sufehmi.com/archives/2006-05-24-1157/#comment-19300</link>
		<dc:creator>Ferren</dc:creator>
		<pubDate>Tue, 18 Jul 2006 16:14:17 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://harry.sufehmi.com/archives/2006-05-24-1157/#comment-19300</guid>
		<description>Terima kasih, atas tanggapan akang. Sebenarnya saya pernah meliput wilayah lampu merah di Bandung. Germo memang banyak yang berpendidikan, diantara mereka ada seorang teman, pandai filsafat, atheis (ngakunya), tulisannya bagus, mahasiswa PTS Islam di Bandung, tapi dia tidak punya kepentingan dengan kebebasan dan hak asasi, lebih2 RUU APP. Dia pernah bilang, 

&quot;Faye pelacuran di Indonesia itu nggak ada, yang ada cuma orang miskin. Dan Agama bukan malah ngangkat mereka (dia mengumpat Aa Gym), mereka malah disuruh Sabar, sementara Kyai sendiri hidup mewah. Yang lain di adu domba antar umat, hidup tetep miskin, Palestina disumbang duit, yang kelaparan jalan sendiri-sendiri.&quot; 

Tak bisakah Anda bersikap adil dan simpati pada orang kecil seperti pelacur, germo, preman berjubah, atau mbak-mbak yang berkerja malam, lantas dicurigai perempuan tidak baik-baik? Allahu Akbar, Rasulullah SAW sendiri pernah menjawab, bahwa jika ada ular dan kemiskinan, kemiskinan yang lebih dahulu di bunuh, meskipun Rasul mengetahui bahwa ular bisa membunuh. Kalimat tersebut telah menjelaskan, bahwa Rasulullah siap mati demi menangkal kemiskinan. 

Coba anda (yang menulis tentang pelacur seenaknya) datangi kompleks pelacuran, makan bersama satu piring dengan para pelacur, tolong makan bersama mereka, MAKAN!!! Rasakan uang haram yang mereka makan dengan mengorbankan farji, dan rasakan kepedihan hati mereka memakan uang haram itu.

Balaghah, nahwu, sharaf, ma&#039;ni, bayyan, rija al hadist, musthalaah, dirayah, riwayah, shirah, kalam, falak, Tahqiqiy istinbathiy, semua ilmu Islam yang KAMU PELAJARI hanya BISA BERGUNA jika KAU MENCINTAI SESAMAMU. Itu yang saya rasakan sendiri. 10 tahun di pesantren, LDK, KAMMI, PII, PKS, saya merasakan jauh. Jauh dari rasa adil, kesyukuran dan cinta kepada Allah.  

Allah tidak hanya tercantum dalam Qur&#039;an bung. Allah sendiri yang menjamin naskh untuk tidak hilang dan berganti, sure i believe it. Giliranmu mencari Allah di sisa dunia yang lain. 

Dunia ini luas untuk Muslim dan Kafirin. Tunjukan pada Kafirin, bahwa muslim itu adil. Orang kafir juga manusia.

Wallahu a&#039;lam</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Terima kasih, atas tanggapan akang. Sebenarnya saya pernah meliput wilayah lampu merah di Bandung. Germo memang banyak yang berpendidikan, diantara mereka ada seorang teman, pandai filsafat, atheis (ngakunya), tulisannya bagus, mahasiswa PTS Islam di Bandung, tapi dia tidak punya kepentingan dengan kebebasan dan hak asasi, lebih2 RUU APP. Dia pernah bilang, </p>
<p>&#8220;Faye pelacuran di Indonesia itu nggak ada, yang ada cuma orang miskin. Dan Agama bukan malah ngangkat mereka (dia mengumpat Aa Gym), mereka malah disuruh Sabar, sementara Kyai sendiri hidup mewah. Yang lain di adu domba antar umat, hidup tetep miskin, Palestina disumbang duit, yang kelaparan jalan sendiri-sendiri.&#8221; </p>
<p>Tak bisakah Anda bersikap adil dan simpati pada orang kecil seperti pelacur, germo, preman berjubah, atau mbak-mbak yang berkerja malam, lantas dicurigai perempuan tidak baik-baik? Allahu Akbar, Rasulullah SAW sendiri pernah menjawab, bahwa jika ada ular dan kemiskinan, kemiskinan yang lebih dahulu di bunuh, meskipun Rasul mengetahui bahwa ular bisa membunuh. Kalimat tersebut telah menjelaskan, bahwa Rasulullah siap mati demi menangkal kemiskinan. </p>
<p>Coba anda (yang menulis tentang pelacur seenaknya) datangi kompleks pelacuran, makan bersama satu piring dengan para pelacur, tolong makan bersama mereka, MAKAN!!! Rasakan uang haram yang mereka makan dengan mengorbankan farji, dan rasakan kepedihan hati mereka memakan uang haram itu.</p>
<p>Balaghah, nahwu, sharaf, ma&#8217;ni, bayyan, rija al hadist, musthalaah, dirayah, riwayah, shirah, kalam, falak, Tahqiqiy istinbathiy, semua ilmu Islam yang KAMU PELAJARI hanya BISA BERGUNA jika KAU MENCINTAI SESAMAMU. Itu yang saya rasakan sendiri. 10 tahun di pesantren, LDK, KAMMI, PII, PKS, saya merasakan jauh. Jauh dari rasa adil, kesyukuran dan cinta kepada Allah.  </p>
<p>Allah tidak hanya tercantum dalam Qur&#8217;an bung. Allah sendiri yang menjamin naskh untuk tidak hilang dan berganti, sure i believe it. Giliranmu mencari Allah di sisa dunia yang lain. </p>
<p>Dunia ini luas untuk Muslim dan Kafirin. Tunjukan pada Kafirin, bahwa muslim itu adil. Orang kafir juga manusia.</p>
<p>Wallahu a&#8217;lam</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: harry</title>
		<link>http://harry.sufehmi.com/archives/2006-05-24-1157/#comment-19019</link>
		<dc:creator>harry</dc:creator>
		<pubDate>Fri, 14 Jul 2006 12:58:28 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://harry.sufehmi.com/archives/2006-05-24-1157/#comment-19019</guid>
		<description>ferren - memangnya germo tidak boleh berpendidikan ya ? :)

anyway, inti masalah pada posting ini adalah mengenai kebenaran berita awalnya (preman berjubah), yang sama sekali tidak bisa ditelusuri / diverifikasi kebenarannya - namun sudah tersebar kemana-mana.

Lebih tepat adalah posting seperti di komentar Ari Condro, yang masih bisa ketahuan sumbernya.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>ferren &#8211; memangnya germo tidak boleh berpendidikan ya ? <img src='http://harry.sufehmi.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
<p>anyway, inti masalah pada posting ini adalah mengenai kebenaran berita awalnya (preman berjubah), yang sama sekali tidak bisa ditelusuri / diverifikasi kebenarannya &#8211; namun sudah tersebar kemana-mana.</p>
<p>Lebih tepat adalah posting seperti di komentar Ari Condro, yang masih bisa ketahuan sumbernya.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Ferren</title>
		<link>http://harry.sufehmi.com/archives/2006-05-24-1157/#comment-19012</link>
		<dc:creator>Ferren</dc:creator>
		<pubDate>Fri, 14 Jul 2006 10:59:23 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://harry.sufehmi.com/archives/2006-05-24-1157/#comment-19012</guid>
		<description>Maaf. Saya editor dari Bandung &amp; Beyond Mag, tinggal di Bandung. Insya Allah muslim. Ingin menyampaikan rasa heran?

Kalau yang posting surat palsu itu ditengarai germo (itupun semata dugaan, bukan tuturan kesaksian seperti dalam surat &#039;germo&#039; itu). Mengapa tata bahasanya lancar ya? Seperti tata bahasa orang yang berpendidikan. 

Bila germo yang berpendidikan itu, merasa khawatir akan hak asasi orang yang dicederai, mengapa surat yang ada kata hehehe-nya itu (yang dianggap benar), justru menghinakan kemanusiaan orang karena status sosialnya pelacur? Barangkali, diantara keluarga Anda tidak ada yang  melacur karena tuntutan ekonomi, ya? Allah Maha Adil, cemoohan anda pada pelacur akan dicatat. Mudah-mudahan Anda bisa merasakan sendiri kepedihan seorang pelacur.

Saya tidak ingin memihak, pro kontra RUU APP. Hanya saja. Jika Islam pada kelahirannya mencoba memuliakan manusia dengan kata-kata yang baik, mengajak kepada kebijaksanaan, mendudukan pada mizan, bersikaplah adil. Barangkali itu yang Anda dan kelompok ada lupakan pada saat ini.

Piss juga, dan arti piss itu damai kan?

Terima Kasih.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Maaf. Saya editor dari Bandung &amp; Beyond Mag, tinggal di Bandung. Insya Allah muslim. Ingin menyampaikan rasa heran?</p>
<p>Kalau yang posting surat palsu itu ditengarai germo (itupun semata dugaan, bukan tuturan kesaksian seperti dalam surat &#8216;germo&#8217; itu). Mengapa tata bahasanya lancar ya? Seperti tata bahasa orang yang berpendidikan. </p>
<p>Bila germo yang berpendidikan itu, merasa khawatir akan hak asasi orang yang dicederai, mengapa surat yang ada kata hehehe-nya itu (yang dianggap benar), justru menghinakan kemanusiaan orang karena status sosialnya pelacur? Barangkali, diantara keluarga Anda tidak ada yang  melacur karena tuntutan ekonomi, ya? Allah Maha Adil, cemoohan anda pada pelacur akan dicatat. Mudah-mudahan Anda bisa merasakan sendiri kepedihan seorang pelacur.</p>
<p>Saya tidak ingin memihak, pro kontra RUU APP. Hanya saja. Jika Islam pada kelahirannya mencoba memuliakan manusia dengan kata-kata yang baik, mengajak kepada kebijaksanaan, mendudukan pada mizan, bersikaplah adil. Barangkali itu yang Anda dan kelompok ada lupakan pada saat ini.</p>
<p>Piss juga, dan arti piss itu damai kan?</p>
<p>Terima Kasih.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Ari Condro</title>
		<link>http://harry.sufehmi.com/archives/2006-05-24-1157/#comment-16667</link>
		<dc:creator>Ari Condro</dc:creator>
		<pubDate>Sun, 25 Jun 2006 11:00:06 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://harry.sufehmi.com/archives/2006-05-24-1157/#comment-16667</guid>
		<description>http://masarcon.multiply.com/journal/item/49

Mau dibawa kemana negeri ini ? heuran deh


From: KRL-Mania@yahoogroups.com
On Behalf Of ursula sitorus
Subject: [KRLMania.com ] OOT : FBR vs FPI



Mulai hari Senin 19 Juni, di ujung jalan Kramat Lontar yang menghubungkan
dengan jalan Kramat Sentiong sudah dipasang panggung, setelah saya
perhatikan ternyata akan ada acara dari FBR cabang Kramat Lontar, entah
apapun namanya.



Selasa, 20 Juni 2006, pk. 22.00 ketika sampai ke kos di Kramat Lontar, ada
kejadian yang benar benar di luar dugaan dan menurut saya, maaf, sangatlah
konyol!! Panggung milik FBR yang berjarak hanya 50 m dari kos menggelar
acara dangdutan, sedangkan di rumah sebelah saya, menggelar acara pengajian
yang notabene adalah milik FPI entah cabang apa. Yang paling parah adalah
keduanya sama sama memakai pengeras suara. Bisa dibayangkan bukan, betapa
ramainya kondisi sekitar kos saya, radius 50 m kekanan dan kekiri.



Bingung? Pasti!!! Mengapa kedua pihak ini sama sama bersikeras memakai
pengeras suara? Jujur saja, setelah 1 tahun numpang tinggal di kampung ini,
baru sekali ini mengalami kejadian ini. Setiap minggu entah hari apa, rumah
sebelah memang selalu menggelar acara pengajian, tapi baru kali ini memakai
pengeras suara yang beradu dengan suara dangdutan dari kelompok FBR.



Kalau dipikir lebih dalam mungkin tambah bingung. Dari sisi FBR, sebagai
orang yang punya kampung, mereka merasa berhak membuat apapun, dan pula
mungkin juga mereka mempunyai izin keramaian. Dari sisi FPI, mereka
mempunyai hak untuk berkumpul dan menyelenggarakan kegiatan keagamaan. Tapi
kedua duanya sama sama tidak punya TOLERANSI!!



Pk. 23.00 FPI dan FBR sama sama tidak memberikan kesempatan kepada
tetangganya untuk beristirahat. keduanya sama sama masih memakai pengeras
suara, mengganggu waktu istirahat apalagi yang besok harus ke kantor ataupun
ke sekolah. Keduanya pun tidak mau mengalah untuk memberikan kesempatan
untuk pihak mana duluan yang diberikan kesempatan melakukan kegiatannya
(serunya, dangdutan FBR menampilkan penyanyi yang lumayan seksi dan FPI
dengan anggotanya memakai pakaian muslim lengkap).



Pk. 23.30 dangdutan mendadak hilang, dan tidak lama lagi terdengar ribut
ribut di depan kos, saya langsung keluar kamar dan melihat dari teras lt. 3
kosan saya. Dan wow�� anak anak FPI menyerang FBR dengan melemparkan batu,
kayu, merusak panggung. Pemandangan yang mengerikan, mengapa? Karena setelah
pengajian, kok bisa bisanya mereka membuat keributan begitu, setelah
menyerang dan kembali berkumpul di depan kos saya dan menyebutkan beberapa
kalimat islami yang saya tidak tahu artinya. Setelah itu mereka membubarkan
diri. Tapi saya melihat, ada orang FBR yang berusaha melerai pertikaian ini
namun berbicara melalui HT. saya langsung menebak, pastinya ia memanggil
teman temannya mengingat Kramat Senen ini adalah kampungnya FBR.



Pk. 23.50, serentak kelompok FBR mendatangi rumah ustad dari FPI itu. Duh
ngeri deh, mereka bawa kayu, bamboo runcing, besi dan meneriakkan kata kata
kasar. Beberapa anak FPI yang bergerak menjauh dikejar sampai ujung jalan.
Ada 3 mobil polisi namun diam saja. Wow�. Mengerikan!!!



Sampai Pk. 01.00 jalan Kramat Lontar masih ramai dan mencekam. Masing masing
kelompok ini menyatakan dirinya yang benar. Seandainya acara FBR dibuka
dengan pengajian dan ceramah rohani dari FPI lalu dilanjutkan dengan
dangdutan ala FBR mungkin lebih baik, sehingga keduanya bisa berjalan tanpa
harus saling beradu pengeras suara.


urs</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://masarcon.multiply.com/journal/item/49" >http://masarcon.multiply.com/journal/item/49</a></p>
<p>Mau dibawa kemana negeri ini ? heuran deh</p>
<p>From: <a href="mailto:KRL-Mania@yahoogroups.com">KRL-Mania@yahoogroups.com</a><br />
On Behalf Of ursula sitorus<br />
Subject: [KRLMania.com ] OOT : FBR vs FPI</p>
<p>Mulai hari Senin 19 Juni, di ujung jalan Kramat Lontar yang menghubungkan<br />
dengan jalan Kramat Sentiong sudah dipasang panggung, setelah saya<br />
perhatikan ternyata akan ada acara dari FBR cabang Kramat Lontar, entah<br />
apapun namanya.</p>
<p>Selasa, 20 Juni 2006, pk. 22.00 ketika sampai ke kos di Kramat Lontar, ada<br />
kejadian yang benar benar di luar dugaan dan menurut saya, maaf, sangatlah<br />
konyol!! Panggung milik FBR yang berjarak hanya 50 m dari kos menggelar<br />
acara dangdutan, sedangkan di rumah sebelah saya, menggelar acara pengajian<br />
yang notabene adalah milik FPI entah cabang apa. Yang paling parah adalah<br />
keduanya sama sama memakai pengeras suara. Bisa dibayangkan bukan, betapa<br />
ramainya kondisi sekitar kos saya, radius 50 m kekanan dan kekiri.</p>
<p>Bingung? Pasti!!! Mengapa kedua pihak ini sama sama bersikeras memakai<br />
pengeras suara? Jujur saja, setelah 1 tahun numpang tinggal di kampung ini,<br />
baru sekali ini mengalami kejadian ini. Setiap minggu entah hari apa, rumah<br />
sebelah memang selalu menggelar acara pengajian, tapi baru kali ini memakai<br />
pengeras suara yang beradu dengan suara dangdutan dari kelompok FBR.</p>
<p>Kalau dipikir lebih dalam mungkin tambah bingung. Dari sisi FBR, sebagai<br />
orang yang punya kampung, mereka merasa berhak membuat apapun, dan pula<br />
mungkin juga mereka mempunyai izin keramaian. Dari sisi FPI, mereka<br />
mempunyai hak untuk berkumpul dan menyelenggarakan kegiatan keagamaan. Tapi<br />
kedua duanya sama sama tidak punya TOLERANSI!!</p>
<p>Pk. 23.00 FPI dan FBR sama sama tidak memberikan kesempatan kepada<br />
tetangganya untuk beristirahat. keduanya sama sama masih memakai pengeras<br />
suara, mengganggu waktu istirahat apalagi yang besok harus ke kantor ataupun<br />
ke sekolah. Keduanya pun tidak mau mengalah untuk memberikan kesempatan<br />
untuk pihak mana duluan yang diberikan kesempatan melakukan kegiatannya<br />
(serunya, dangdutan FBR menampilkan penyanyi yang lumayan seksi dan FPI<br />
dengan anggotanya memakai pakaian muslim lengkap).</p>
<p>Pk. 23.30 dangdutan mendadak hilang, dan tidak lama lagi terdengar ribut<br />
ribut di depan kos, saya langsung keluar kamar dan melihat dari teras lt. 3<br />
kosan saya. Dan wow�� anak anak FPI menyerang FBR dengan melemparkan batu,<br />
kayu, merusak panggung. Pemandangan yang mengerikan, mengapa? Karena setelah<br />
pengajian, kok bisa bisanya mereka membuat keributan begitu, setelah<br />
menyerang dan kembali berkumpul di depan kos saya dan menyebutkan beberapa<br />
kalimat islami yang saya tidak tahu artinya. Setelah itu mereka membubarkan<br />
diri. Tapi saya melihat, ada orang FBR yang berusaha melerai pertikaian ini<br />
namun berbicara melalui HT. saya langsung menebak, pastinya ia memanggil<br />
teman temannya mengingat Kramat Senen ini adalah kampungnya FBR.</p>
<p>Pk. 23.50, serentak kelompok FBR mendatangi rumah ustad dari FPI itu. Duh<br />
ngeri deh, mereka bawa kayu, bamboo runcing, besi dan meneriakkan kata kata<br />
kasar. Beberapa anak FPI yang bergerak menjauh dikejar sampai ujung jalan.<br />
Ada 3 mobil polisi namun diam saja. Wow�. Mengerikan!!!</p>
<p>Sampai Pk. 01.00 jalan Kramat Lontar masih ramai dan mencekam. Masing masing<br />
kelompok ini menyatakan dirinya yang benar. Seandainya acara FBR dibuka<br />
dengan pengajian dan ceramah rohani dari FPI lalu dilanjutkan dengan<br />
dangdutan ala FBR mungkin lebih baik, sehingga keduanya bisa berjalan tanpa<br />
harus saling beradu pengeras suara.</p>
<p>urs</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: harry</title>
		<link>http://harry.sufehmi.com/archives/2006-05-24-1157/#comment-16049</link>
		<dc:creator>harry</dc:creator>
		<pubDate>Tue, 20 Jun 2006 02:48:22 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://harry.sufehmi.com/archives/2006-05-24-1157/#comment-16049</guid>
		<description>FUD = Fear, Uncertainty, Doubt.  

Strategi yang digunakan untuk menjauhkan orang dari sesuatu yang tidak kita sukai, dengan menakut-nakuti dan membuat bimbang/ragu; dengan data/fakta yang belum tentu tepat.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>FUD = Fear, Uncertainty, Doubt.  </p>
<p>Strategi yang digunakan untuk menjauhkan orang dari sesuatu yang tidak kita sukai, dengan menakut-nakuti dan membuat bimbang/ragu; dengan data/fakta yang belum tentu tepat.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Akmal</title>
		<link>http://harry.sufehmi.com/archives/2006-05-24-1157/#comment-15814</link>
		<dc:creator>Akmal</dc:creator>
		<pubDate>Sat, 17 Jun 2006 04:04:02 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://harry.sufehmi.com/archives/2006-05-24-1157/#comment-15814</guid>
		<description>FUD apaan mas?</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>FUD apaan mas?</p>
]]></content:encoded>
	</item>
</channel>
</rss>
