Translate this page :

Ustadz Joban @ Jakarta : Perkembangan Islam di Amerika

Pagi ini mendapat email undangan dari milis internal Isnet :

From: Geis Chalifah
Subject: [Mus-lim] Undangan Diskusi dengan Ustadz Muhammad Joban.

Majelis Kajian Khatulistiwa Mengundang anda pada hari Rabu 14 Juni 2006 jam 19.30 s/d selesai. Jalan Pedati Raya No 8 Jakarta Timur.. Penceramah Ustadz Muhammad Joban. Thema: Perkembangan Islam di Amerika.

Berikut ini adalah sebuah artikel mengenai Ustadz Muhammad Joban :

Da’i asal Indonesia spesialis narapidana di Washington, Ustad Muhammad Awod Joban
Sumber: Majalah Suara Hidayatullah (http://www.hidayatullah.com)

Islam Bangkit Juga di Penjara-penjara Amerika Dihitung-hitung, sudah hampir 12 tahun Muhammad Awod Joban bergaul erat dengan para narapidana di berbagai penjara negara bagian Washington, Amerika Serikat. Dua belas tahun! Subhaanallaah.

Salah satunya merupakan diantara yang paling angker di seluruh negeri itu, yaitu komplek penjara di pulau McNeil, dekat kota Olympia. Namanya McNeil Island Corrections Center (MICC). Mirip dengan penjara Alcatraz di seberang San Fransisco. Segala jenis penjahat dan gangster sudah pernah dihadapi pria asal Purwakarta, Jawa Barat ini. Agaknya belasan tahun itu hampir tak terasa lamanya, karena pekerjaan da’wah kepada para narapidana begitu dia nikmati. “Sekitar 80% narapidana yang keluar dari penjara akan kembali lagi ke penjara. Kecuali yang Muslim,” kata lelaki kelahiran 2 Juni 1952 ini. Bahkan sampai ia menamatkan studi masternya di Universitas Al-Azhar, Kairo, tahun 1975, pikiran untuk berkonsentrasi di penjara-penjara Amerika belum terbetik sedikitpun di benaknya. Niat awalnya merantau ke Amerika sama dengan banyak orang Indonesia lainnya, melanjutkan sekolah.

Selepas dari universitas tertua di Mesir itu Joban mendapat pekerjaan sebagai penyiar Radio Kairo suara Indonesia selama lima tahun. “Meski disiarkan di Mesir namun siarannya didengar juga oleh masyarakat kita Indonesia,” kenang Joban. Saat asyik siaran radio Joban berjumpa dengan Amien Rais yang sedang melakukan riset untuk tesisnya tentang Al-Ikhwanul Muslimin. “Pak Amien sempat tinggal dua tahun di Kairo dan sering ikut pengajian di sana. Di situlah saya sering ketemu dia. Pak Amien menyarankan saya meneruskan kuliah ke Universitas Chicago (almamaternya Amien Rais),” kenang suami Moeti Amrina ini. Atas saran itu, pada tahun 1989 Joban kemudian hijrah ke Amerika. “Waktu itu saya berencana mengambil PhD di bidang Islamic Studies di Chicago,” kata Joban. Allah berkehendak lain. Sesampai di Amerika, Joban tidak bisa langsung kuliah, karena tersandung biaya yang tinggi. “Sampai di sini saya baru tahu, kalau kita tidak punya greencard (izin tinggal permanen) maka biaya hidupnya besar.” Meski begitu Joban tidak buru-buru pulang. “Saya fikir, daripada saya pulang, saya memutuskan untuk mencari biaya sekaligus menghabiskan visa saya selama setahun di sini.”

Dalam masa penantian itu, kawan lamanya di Al-Azhar, seorang Muslim Campa (Kamboja) menyarankan Joban pergi ke masjid An-Nur, milik jama’ah Campa di kota Olympia, negara bagian Washington. Masjid itu punya jama’ah tapi tidak punya imam. Alhasil Joban lantas diangkat sebagai imam di masjid tersebut. Kehadiran Joban disambut gembira masyarakat Campa, karena telah mengembalikan mereka kepada Islam. “Sebelumnya mereka sudah lupa mengaji dan lupa macam-macam ilmu agama. Anaknya sudah dibesarkan dengan cara Amerika,” Joban mengenang.

Dua tahun kemudian ada pengumuman di Islamic Center setempat, penjara di negara bagian itu membutuhkan tenaga chaplain, yakni imam atau pembina ruhani bagi para narapidana (napi). “Meski di Amerika ini tidak ada departemen agama-karena Amerika negara sekuler-namun berbagai instansi, pemerintah Amerika hampir selalu menyediakan tenaga chaplain. Ada Muslim Chaplain, Christian Chaplain, Catholic Chaplain, dan lain-lain,” jelas Joban. Mula-mula Joban bertugas di penjara Monroe, yang jaraknya sekitar dua jam perjalanan mobil dari Olympia. Ia kemudian mendapat tugas pula menjadi pembina ruhani di sebuah penjara di pulau Mc Neil di dekat Tacoma. Seperti dijelaskan Joban, penjara in agak mengerikan, “Karena penjara ini terletak di sebuah pulau-seperti penjara Alcatraz di California yang terkenal itu- maka penghuninya hampir tak mungkin melarikan diri. Penghuninya kelas berat semua. Diantaranya pembunuh yang dihukum tiga puluh tahun sampai empat puluh tahun.” Seperti belum cukup, ia juga mengambil tugas serupa di penjara transit bernama Shelton Correction Center. “Penjara ini tempat transit napi dari mana-mana. Ada juga yang tinggal di situ. Semuanya ada sekitar 3000 napi. Saking banyaknya sel di sana, dari satu tempat ke tempat yang lain harus lewat terowongan di bawah penjara.” Karena penjara transit itu, tempat itu justeru subur untuk berda’wah. Setelah dida’wahi di situ tiga sampai empat bulan, mereka dikirim ke tempat-tempat lain, lalu digantikan oleh napi lain. Tentu banyak pengalaman menarik berda’wah di ‘sarang’ para gangster Amerika itu. Misalnya saja, Joban menemukan fenomena menarik bahwa da’wah yang paling efektif di penjara adalah da’wah yang justru dilakukan oleh para napi kepada napi lainnya. Kenapa bisa begitu? Jawabannya bisa Anda dapatkan dalam perbincangan antara Joban dengan Kasman Harun, kontributor majalah Suara Hidayatullah di Amerika. Perbincangan mereka lakukan di sela-sela Muktamar Indonesian Muslim Students Association (IMSA) belum lama ini di Hotel Holiday Inn Columbia, Missouri. Petikan perbincangan keduanya bisa Anda ikuti di bawah ini. Selamat menikmati.

Bagaimana Anda mengatur jadual da’wah antara penjara dan masyarakat biasa?

Penjara di negara bagian Washington ini semakin banyak. Kalau harus saya layani semua, takkan ada waktu lagi untuk masyarakat. Alhamdulillah saya kemudian punya sejumlah asisten chaplain. Salah seorang di antaranya bernama Amir Abdul Matin. Dia orang Amerika yang masuk Islam di penjara. Setelah keluar dari penjara, masya Allah, ia malah lebih hebat. Sekarang ia sudah jadi chaplain di sebuah penjara perempuan. Asisten lain saya bernama Thohir, orang Kenya. Jadi sebetulnya perkembangan da’wah Islam di penjara ini pesat sekali. Kita justeru sering kewalahan melayaninya. Sekarang ada beberapa penjara yang kekurangan tenaga pembimbing ruhani karena jauh dari masyarakat Muslim, seperti yang terjadi di Spokane. Kami sulit kita ke sana karena harus berkendaraan dengan jarak jauh. Padahal Correctional Center-nya sudah siap membiayai.

Apa saja kegiatan pembimbing ruhani di penjara itu, apakah harus tinggal di dalamnya, lalu ceramah setiap hari?

Karena saya punya kesibukan juga di masyarakat maka tugas ceramah di penjara saya gilir. Ada giliran untuk masjid dan ada giliran untuk penjara. Penjara Shelton Correctional Center saya datangi sebulan sekali.

Selama di penjara ada waktu khusus untuk ceramah?

Ya, kegiatan rutinnya ada jatah waktu. Misalnya di penjara Pulau Mc Neil, pertama diberi kesempatan untuk ketemu dengan orang yang dipenjara dengan hukuman maksimum. Dengan orang demikian ini sistemnya one to one (satu orang imam menghadapi satu orang napi). Penjagaan keamanannya pun maksimun, kami bicara melalui sebuah lubang saja. Penjara seperti itu biasanya dikhususkan bagi napi yang dianggap sulit dikontrol dan suka membuat kegaduhan. Orang yang demikian di dalam maupun di luar sel selalu tetap diborgol. Pertemuan berikutnya menggunakan sistem kelas. Biasanya kegiatan ini dimulai dengan shalat Maghrib berjama’ah. Sebelumnya di dapur sudah ada pengumuman: Bible Studies di ruang A, Islamic Studies di ruang B, dan seterusnya. Dan setiap orang boleh datang asal mendaftar. Yang datang bisa 20. 30, 40, ataupun 50. Banyak orang Amerika yang sudah tahu Bibel (Injil), sehingga terkadang mereka ingin tahu kajian agama lain. Jadi orang non-Muslim boleh ikut Islamic Studies asalkan mendaftar dulu. Bagi yang sudah tahu banyak tentang dasar-dasar keislaman biasanya ikut kelas ‘advance’ (lanjutan) pada jam kedua, pelajarannya antara lain studi tafsir.

Perubahan apa yang mereka alami setelah masuk Islam?

Ada seorang napi kulit hitam, dulu namanya Smith, sekarang namanya Lukman. Orangnya seperti Mike Tyson. Sebelum masuk Islam dia di penjara Walawala, penjara untuk napi kelas berat, seperti penjara Nusakambangan-lah kalau di Indonesia. Dia dipenjara seumur hidup karena pembunuhan. Dulu dia orang yang temperamental. Kalau tidak senang pada seseorang main hajar saja. Kalau tidak suka pada makanan, akan dilempar olehnya. Makanya dia harus dikawal terus. Tapi setelah masuk Islam luar biasa perubahannya. Semua orang kaget, karena dia menjadi sangat sopan. Makanya dia kemudian dipindahkan ke penjara Monroe. Lukman dulu seorang ketua geng, sehinga kemudian jadi orang yang sangat berpengaruh dalam da’wah di penjara. Sebelum saya bertugas di penjara Monroe, saya sering ketemu napi yang masuk Islam. Saya tanya, “Kenapa kamu masuk Islam?” “Karena Lukman,” kata mereka. Ceritanya, Lukman -dan juga orang Amerika pada umumnya- senang kalau diterangkan fadhilah-fadhilah, atau keutamaan-keutamaan, misalnya keutamaan shalat malam (tahajud). Pernah saya sampaikan pada Lukman tentang fadhilah shalat malam. Dia senang sekali mendapatkan fadhilah itu. Dan sejak itu dia tak pernah sekalipun meninggalkan shalat malam. Bangun jam tiga sampai subuh. Pengaruhnya luar biasa. Ada seorang napi kulit putih yang sekamar dengan dia. Setelah tiga bulan rupanya si napi ini penasaran melihat perilaku Lukman. Ditanyalah Lukman, “Exercise (latihan olahraga) apa yang kamu lakukan tiap malam?” “Ini bukan exercise, tapi praying (shalat). Jesus (Nabi Isa) juga shalatnya begini ini,” kata Lukman. “Lalu apa ini yang kamu baca?” tanyanya lagi. “Ini kitab suci Al-Qur’an,” kata Lukman. “Boleh saya baca?” “Boleh, silakan,” kata Lukman. Lukman setiap hari Senin pergi ke Monroe untuk mengikuti ceramah saya. “Kita punya guru agama dari Indonesia,” kata Lukman sambil mengajak si Napi kulit putih itu ikut kajian Islam. Ternyata dia mau. Hampir tiap Senin dia datang. Namanya John, orang Amerika. Sewaktu membawa jama’ah haji ke tanah suci, saya sempat tiga bulan tida a k datang ke Monroe. Ketika saya ke Monroe lagi, saya lihat John ada di kelas itu. Tapi sudah pakai kopiah, pertanda dia sudah masuk Islam. Saya sapa dia,”Apa kabar John?” “No, no,no. Nama saya bukan itu lagi. Nama saya sekarang adalah Salman,” katanya. Alhamdulillah dia dapat hidayah melalui shalat malamnya Lukman.

Bagaimana kondisi penjara di Amerika?

Di Amerika ini penjara seperti hotel. Semua fasilitas ada. Anda mau mengambil studi PhD dari penjara juga bisa. Mau ke perpustakaan lengkap. Mau olahraga apalagi. Jadi kalau Anda masuk ke sana seperti tidak di penjara. Seperti kampus saja. Ada nomornya, ada kamarnya. Kalau makanan tidak enak, napi bisa demonstrasi. Semua napi -di Amerika disebut inmates- diperlakukan sama tanpa diskriminasi. Itulah kenapa saya bilang, nilai-nilai Islam kok lebih banyak saya temukan di Amerika. Masyarakat di sini cenderung lebih ‘Islami’. Di penjara di Amerika semuanya enak. Makanan enak, tempat tidur enak. Saking enaknya, lebih enak jadi narapidana daripada jadi tunawisma. Seorang tunawisma, karena tak punya rumah, akan mengalami kedinginan di musim salju. Karena itu jadi wajar jika ada tunawisma sengaja mencuri supaya masuk penjara.

Selama berinteraksi dengan napi, ada pengalaman yanag mengesankan?

Banyak. Karena dekatnya hubungan kami, setelah mereka keluar penjara kami masih sering kumpul. Sekarang ini ada di antara mereka yang tinggal di Olympia dan ada yang tinggal di Seattle. Setiap Sabtu dia datang ke tempat kami. Suasananya lebih semarak lagi pada bulan Ramadhan. Di bulan puasa ini para napi biasanya buat reuni.

Kalau bekas napi sering kumpul, jangan-jangan malah kambuh lagi kejahatannya?

Ada kemungkinan begitu. Dulu ketika saya baru bertugas di sini hanya ada empat penjara besar. Kini ada 12 penjara. Artinya jumlah napi semakin banyak, sehingga penjara yang ada tak mampu menampungnya. Yang membuat parah kondisi itu, 80% napi yang sudah keluar akan masuk penjara lagi, karena berbuat kejahatan lagi. Kecuali mereka yang masuk Islam, sedikit saja napi Muslim yang masuk penjara kembali.

Apa pertanyaan yang paling banyak ditanyakan oleh napi kepada Anda?

Tergantung zamannya. Kalau sekarang-sekarang ini kebanyakan masalah Islam dan terorisme. Juga masalah Islam dan wanita. Dan isu-isu yang diangkat banyak oleh media. Tapi kalau dalam suasana tenang mereka banyak bertanya tentang nabi Isa. Pertanyaan yang sering diungkap antara lain, “Siapakah Muhammad itu? Bagaimana dia bisa menjadi seorang nabi? Bagaimana ceritanya?” Kemudian tentang Al-Qur’an, mereka bertanya “Bagaimana Qur’an diturunkan kepada Muhammad, apa isinya?” Yang menarik, para napi ini -dan juga orang Amerika pada umumnya- kalau kita kasih Qur’an, umumnya mereka melihat indeks. Mereka mencari perihal Yesus. Mereka ingin tahu, apa yang Islam katakan tentang Jesus. Tapi sebetulnya yang membuat mereka tertarik pertama-tama adalah karena ketemu dengan Muslim.

Jadi faktor pribadi sangat berpengaruh dalam kegiatan da’wah di penjara ya?

Ya, faktor pribadi-lah yang paling menarik mereka masuk Islam. Para napi yang Muslim inilah yang berperan penting menda’wahi napi lainnya. Sebab mereka kan setiap hari tinggal di situ, sedangkan saya hanya sepekan dua kali. Mereka sama-sama orang Amerika, bahasanya sama, pengalamannya serupa, sama-sama pernah terlibat perkara pidana kriminal. Sehingga kalau berlangsung da’wah di antara sesama napi jadi sangat efektif. Lewat interaksi itu mereka bisa menda’wahi napi yang belum beragama Islam. Pengaruh itu semakin mendapat momentum pada bulan Ramadhan. Di bulan ini yang masuk Islam bertambah banyak sekali karena ibadah napi Muslim nampak sekali pada bulan tersebut. Pada jam tiga pagi mereka beramai-ramai bangun kemudian mengenakan kopiah dan jalan menuju tempat sahur di penjara. Lalu mereka membaca Al-Qur’an sampai satu juz setiap hari. Ketika napi-napi lain makan pagi dan makan siang, para napi Muslim tidak makan. Mereka baru makan setelah buka puasa. Pada bulan puasa, para napi Muslim juga sangat menghindari bicara kotor. Padahal di Amerika ini kan orang sangat biasa bicara kotor. Sehingga ketika melihat seseorang itu omongannya baik, napi lain jadi tertarik. “Dia orang bersih. Saya ingin seperti dia,” komentar yang lain.

Anda pernah mengalami kekerasan secara fisik ketika berhubungan dengan napi, dipukul atau bersitegang misalnya?

Alhamdulillah di Amerika ini keamanan penjaranya relatif baik. Dan Alhamdulillah saya sendiri belum pernah mengalami kejadian serius yang mengancam saya. Kalau antar napi dengan napi sering terjadi. Sehabis peristiwa 11 September ada peristiwa menarik. Demi keselamatan, para napi Muslim diamankan dari yang lain. Sebelumnya ada satu napi Muslim yang badannya besar dikeroyok sepuluh orang. Tapi karena dia jago tinju, dia bisa lawan mereka semua.

Ada perasaan takut atau was-was ketika bertemu dengan napi, khususnya mereka yang dihukum berat?

Alhamdulillah tidak ada. Yang kasar ada, tapi biasanya cuma ya sekedar ngomong doang. Misalnya ketika ramai-ramai perang teluk, ada yang panggil saya, “Hai Saddam!”

Busana apa yang Anda pakai saat bertugas sebagai pembimbing ruhani di penjara?

Ya seperti inilah, pakai kopiah. Bila hari Jum’at kadang saya pakai baju Pakistan (gamis panjang).

Jadwal kunjungan dan acara di penjara, itu diatur oleh pengelola penjara atau oleh Anda sendiri?

Pengelola penjara yang mengatur. Misalnya saya di McNeil diberi jatah 32 jam, di Shelton 16 jam, maka tinggal kemudian saya menyesuaikan diri untuk menggilir. Saya harus tahu kapan waktu-waktu yang tepat buat ketemu napi, karena di penjara itu kan para napi bekerja. Jadi penjara di Amerika ini seperti pabrik. Mereka bekerja dan dapat gaji, hanya gajinya kecil. Tapi bagi napi itu lebih baik daripada dia menganggur. Mungkin sekarang Anda banyak menerima tawaran menggiurkan bekerja di luar penjara.

Tapi mengapa Anda tetap bertahan di posisi ini?

Memang betul, sekarang ini banyak tawaran menggiurkan untuk saya. Di berbagai masjid banyak lowongan tersedia untuk menjadi imam dengan gaji besar, apalagi kalau di kota besar seperti New York. Masalahnya di sini (di Seattle) jarang ada tenaga ahli agama Islam. Juga jarang orang Amerika yang bisa mengajarkan Islam. Padahal sekarang banyak orang yang ingin belajar Islam, terutama setelah peristiwa 11 September. Saya tidak tega untuk meninggalkan mereka yang di penjara ini.

Ada rencana untuk kembali ke Indonesia?

Ada, mungkin sepuluh tahun lagi.

Dari tiga kota: Jakarta, Kairo, Seattle, mana yang menimbulkan kesan paling dalam bagi Anda?

Ya di Amerika inilah, khususnya di Seattle. Saya menemukan Islam di sini. Di sini Saya bisa menimba ilmu dan mengamalkannya. Di sini ini kalau ada orang Amerika masuk Islam, mereka serius sekali. Baru mengenal beberapa ayat Al-Qur’an sudah langsung dijalankan. Mereka jadi seperti Al-Qur’an berjalan. Ada seorang mualaf namanya Jalaluddin. Setiap hari dia berkendara dari Olympia ke Seattle, hanya untuk belajar Islam. Suatu waktu dia bilang dia ingin menikah dengan Muslimah Indonesia. Jalaluddin ini orang bule asli keturunan Jerman. Kebetulan ada kawan perempuan istri saya, teman waktu sekolah di Bandung dulu. Saya kenalkan dia dengan Jalaludin. Setelah saling kirim data akhirnya mereka saling setuju untuk menikah. Jalaluddin ini fenomena yang mengagumkan, masya Allah. Saya tidak bisa mengantar dia ke Bandung, sehingga dia datang sendirian ke Indonesia. Sebelum menikah dia tinggal sekitar sepekan di rumah mertua saya di Bandung, untuk melakukan persiapan. Jalaluddin punya kebiasaan berdzikir ba’da shalat Maghrib hingga masuk waktu shalat Isya. Dia dzikir di mushalla. Kebetulan di rumah mertua saya ada mushalla. Mertua saya bertanya, “Kamu kok kalau dzikir nikmat sekali?” Dia bilang, “Saya ini dulu suka minum alkohol, suka mengganja, suka fly. Sekarang saya juga bisa fly, tapi dengan cara dzikir. Alaa bi-dzikrillah tathmainul qulub (Ketahuilah, bahwa dengan berdzikir/mengingat Allah, hati menjadi tenang).”

Lalu bagaimana pernikahan mereka?

Nah, saat dinikahkan di Haurgelis, Bandung, Jalaluddin menolak duduk bersanding. Padahal adat di berbagai tempat ‘kan pengantin biasa bersanding di pelaminan. Dia ingin duduknya dipisah dengan pengantin wanita. Kata dia, “Kita ini masuk Islam untuk meninggalkan jahiliyah.” Akhirnya pelaminan dipisah. Begitu juga tamu perempuan dan laki-laki terpisah. Selama tinggal sementara di rumah mertuanya, dia jadi sosok perhatian orang sekitar, karena begitu mendengar adzan dia langsung ke masjid. Untuk pergi ke masjid dia harus lewat pasar. Bagaimana tidak jadi perhatian, ada orang bule tinggi besar pakai baju batik pergi ke masjid. Padahal banyak orang di pasar dan madrasah dekat situ yang sudah puluhan tahun di tempat bila terdengar adzan tidak peduli. Akibatnya mereka merasa malu. Begitu pula ustadz-ustadz di madrasah ini juga merasa malu. Sehingga akhirnya mereka ke masjid juga. Anak-anak muda yang suka main bola juga penasaran. Ini bule bisa shalat nggak sih. Akhirnya mereka semua pergi ke masjid, sehingga masjid jadi penuh.

Waktu pulang ke Indonesia beberapa waktu lalu, di ANTeve, Anda bercerita seorang Rabbi dalam wawancara dengan CNN menyitir hadits Nabi yang mengatakan menjelang hari kiamat nanti orang Islam akan memerangi orang Yahudi?

Hadits ini shahih. Jadi pada hari mendekati kiamat orang Muslim dan orang Yahudi akan berperang dan orang Muslim akan mengalahkan orang Yahudi. Sampai orang Yahudi bersembunyi di balik batu dan batu memberitahukan keberadaannya. Saat bersembunyi di balik pohon, pohon pun akan memberitahukan. Kecuali satu saja yaitu pohon gharqat. Anehnya orang Yahudi mempercayai hadits tersebut. Kebetulan saya pernah ke Israel tiga kali. Ternyata di sana pohon gharqad banyak ditanam orang Yahudi. Di New York kalau kita pergi ke tempat orang Yahudi Orthodox, juga ada pohon itu. Apa penjelasan rabbi Yahudi itu? Dia bilang, “Ya saya percaya dengan apa yang dikatakan Muhammad. Tapi jangan takut. Ini masih lama.” Ketika orang bertanya, “Kapankah waktu itu akan datang?” Sang rabbi tersebut mengatakan, “Hal itu baru akan terjadi ketika jumlah ummat Islam yang datang ke masjid pada saat shalat Shubuh sama dengan jumlah yang datang pada shalat Jum’at.” Maksud Rabbi itu, hal tersebut baru terjadi ketika umat Islam sudah menjalankan Islam secara bersungguh-sungguh.

Selama di Amerika apakah Anda melihat ada kemajuan dalam lobi politik Islam dibandingkan dengan lobi politik Yahudi?

Setelah berdirinya CAIR (Council on American-Islamic Relation) agak lumayan. Sehabis peristiwa 11 September kedudukan ummat Islam justeru jadi lebih kuat lagi. Dulu tidak mungkin Presiden Amerika datang ke Islamic Center. Sampai berkali-kali lagi. Juga agak janggal kalau FBI atau pejabat Departemen Luar Negeri berkali-kali minta bertemu dengan organisasi-organisasi Islam, mengajak kerjasama. Berarti kan hubungannya kuat. Juga bagaimana kita bisa memaksa untuk melakukan propaganda tidak langsung tentang Islam? Coba apa kata Bush setelah 11 September? “Islam adalah agama

21 Responses to “Ustadz Joban @ Jakarta : Perkembangan Islam di Amerika

Leave a Reply

 

Subscribe without commenting

            








SEObox: Web Hosting Murah Unlimited Komik Indonesia Homeschooling Indonesia