Translate this page :

Catatan dari ceramah Ust. Joban

Alhamdulillah kemarin saya dapat hadir di acara pengajian Majelis Kajian Khatulistiwa, yang menghadirkan Ust. Muhammad Joban sebagai pengisi acaranya.
Saya datang dengan harapan mendapat wawasan baru, dan saya mendapatkannya banyak sekali alhamdulillah.

Saya datang terlambat sekitar 30 menit di acara tersebut karena jauhnya lokasi dari kediaman saya (Pondok Indah ke daerah Kampung Melayu) dan kesalahan memilih jalan (kemacetan Casablanca di dekat Karet minta ampun betul). Pada saat saya tiba Ust. Joban telah mulai berbicara. Hadirin berlimpah ruah padat sekali, syukurnya saya masih mendapatkan tempat di dalam. Saya segera duduk dan mendengarkan beliau berbagi pengalamannya berdakwah di Amerika.

Berikut ini adalah beberapa yang sempat saya rangkum :

[ 1 ] Hikmah di balik musibah

( a ) Menurut Amazon.com, buku terlaris nomor #1 pasca bencana 9/11 adalah Al-Quran !
( b ) Pasca 9/11, Ust. Joban kebanjiran permintaan sebagai pembicara (baca: berdakwah) di berbagai sekolah, kampus, dan lain-lain. Saking banyaknya, sampai tidak bisa dipenuhi semuanya.
( c ) Pengalaman dihina di depan umum: Beliau pernah diminta untuk membacakan doa di Senat Amerika. Ketika beliau mulai, 2 orang senator walk-out dari lokasi, sebagai protes dan tanda “patriotisme” menolak kehadiran “teroris” di ruang Senat tersebut.
Berita ini menjadi headline, dan Ust. Joban justru jadi mendapat kesempatan berdakwah gratis di media2 massa terbesar di Amerika – CNN, MSNBC, dll menginterview beliau dari pagi sampai malam.
Akibatnya, para senator tersebut kemudian mendapat banjiran kritik dari para pemilihnya. Mereka kemudian bertemu dengan Ust. Joban di sebuah mesjid dan meminta maaf kepada beliau disitu.

Lebih lanjut ….

[ 2 ] Kebenaran Al Quran

( a ) Surat Al-Lahab telah mengatakan bahwa Abu Jahal akan mati sebagai orang kafir, 10 tahun sebelum wafatnya.
Logikanya, cara termudah bagi Abu Jahal untuk menghancurkan Islam adalah dengan pura-pura masuk Islam, dan menyuruh kawan-kawannya mengumumkan “Al-Quran telah berbohong, ternyata Abu Jahal masuk Islam tho”.
Ternyata ini tidak terjadi, karena Al-Quran memang adalah sabda Allah swt.

( b ) Maurice Bucaille dulunya adalah peneliti mumi Fir’aun di Mesir. Pada mumi Ramses II dia menemukan keganjilan, yaitu kandungan garam yang sangat tinggi pada tubuhnya. Dia baru kemudian menemukan jawabannya di Al-Quran, ternyata Ramses II ini adalah Firaun yang dulu ditenggelamkan oleh Allah swt ketika sedang mengejar Nabi Musa as.
Injil & Taurat hanya menyebutkan bahwa Ramses II tenggelam; tetapi hanya Al-Quran yang kemudian menyatakan bahwa mayatnya diselamatkan oleh Allah swt, sehingga bisa menjadi pelajaran bagi kita semua.

Perhatikan bahwa Nabi Muhammad saw hidup 3000 tahun setelah kejadian tersebut, dan tidak ada cara informasi tersebut (selamatnya mayat Ramses II) dapat ditemukan beliau (karena di Injil & Taurat pun tidak disebut). Namun Al-Quran bisa menyebutkannya karena memang firman Allah swt (bukan buatan Nabi Muhammad saw).

Maurice Bucaille kemudian selama berbulan-bulan meneliti Al-Quran untuk mencoba mencari kesalahannya dalam berbagai ayat yang membahas ilmu pengetahuan, tetapi dia gagal. Akhirnya beliau masuk Islam, dan menulis berbagai buku seputar Islam dan Sains.

[ 3 ] Pengalaman berbagai insan menemukan Islam di Amerika

( a ) Ada seseorang yang bernama Carlos. Carlos, sebagaimana banyak orang Amerika lainnya, senang meminum minuman keras. Suatu hari dia menerima Al-Quran dari kawannya, yang kemudian ditaruhnya di atas lemari.
6 bulan kemudian, suatu malam Carlos pulang sehabis mabuk-mabukan di sebuah bar. Ketika sedang beristirahat di bangkunya, matanya tidak sengaja tertumbuk pada sebuah buku di atas lemarinya. “Eh, apa itu?”, pikirnya sambil meraih buku tersebut.

Buku tersebut ternyata adalah Al-Quran yang ditaruhnya sendiri disitu 6 bulan yang lalu.
Ketika dibukanya, yang terbaca pertama kali olehnya ternyata adalah ayat yang membahas siksaan kepada para peminum minuman keras. Tentu saja kaget Carlos jadinya, namun sekaligus juga jadi muncul perasaan ingin tahu. Kebetulan, Carlos ternyata senang membaca buku.

Semakin lama dibaca Al-Quran, makin tertariklah hatinya.
Akhirnya dia tidak tahan lagi, dan memutuskan untuk mendatangi sebuah mesjid, dengan harapan bisa mendapatkan bimbingan lebih lanjut.

Kebetulan Carlos tiba di mesjid pada hari Jumat, dan bertepatan pada sujud terakhir di acara sholat Jumat disitu. Karena ramainya, jamaah membludak bahkan sampai ke pelataran parkir mesjid. Karena itu Carlos melihat para jamaah yang dahinya penuh debu setelah sujud di tanah.
Alangkah kagetnya dia, karena dia pernah membaca sebuah ayat Injil, dimana Nabi Isa as memerintahkan pengikutnya untuk sujud sampai dahi mereka berdebu. Sedangkan ritual Kristen sehari-harinya pada saat ini jelas tidak memungkinkan itu untuk terjadi (duduk di gereja), namun ternyata malah dilakukan oleh umat Islam ini.

Setelah dibimbing, kemudian Carlos menyatakan keislamannya di hadapan Ust. Joban, dan menjadi muslim yang sangat taat.

Suatu hari Ust. Joban ditelpon oleh Carlos. “Ustadz, kalau sudah Islam, apakah berarti kita harus menjauh dari orang tua kita yang masih musyrik ?”, tanyanya melalui telpon. Ust. Joban kemudian menjelaskan bahwa seorang muslim punya kewajiban untuk bertindak dengan baik kepada kedua orang tuanya, apa pun agamanya.
Carlos menjadi sangat gembira. Ternyata, dia baru saja mendapat kabar bahwa ibunya sedang sakit, padahal beliau hidup sendirian. Maka dia pamit kepada beliau, dan langsung terbang ke rumah ibunya, yang jauhnya menyebabkan penerbangan tersebut memakan waktu 3 jam.

Setibanya disana ibunya kaget, “Hah, kenapa kamu sekarang ikut agama teroris itu??”, jelas terasa kebingungan ibunya. Carlos paham bahwa ibunya hanya korban dari propaganda di media massa Amerika. Maka dia tidak tersinggung sama sekali, dan selama 2 minggu berbakti dengan baik kepada ibunya yang sedang sakit, tanpa menyinggung soal Islam sama sekali.

Setelah 2 minggu berlalu ibunya kemudian bertanya kepada Carlos, “Kenapa kamu baik sekali kepada saya? Sedangkan 2 saudara kamu yang lain saja tidak mau datang menjenguk ibu. Alih-alih mengurus ibu sampai selama ini”. Maka Carlos kemudian menjelaskan, bahwa setelah kewajiban kepada Allah swt, berikutnya adalah berbakti kepada orang tua. Ridha Allah swt tidak akan bisa diterima jika tidak ada ridha orang tua.

Malam itu Ust. Joban menerima telpon dari Carlos yang histeris. Sempat prihatin beliau, apakah ibunda Carlos akhirnya meninggal, setelah menderita sakit selama 2 minggu ini.
Ternyata, ibu Carlos baru saja menyatakan keislamannya. Carlos tentu saja sangat bahagia karenanya, dan langsung mengabarkannya kepada Ust. Joban. Alhamdulillahi rabbil ‘alamin.

“Tapi bagaimana ini ustadz, ibu saya sedang sakit, jadi susah untuk shalat”, tanya Carlos. “Oh tidak apa, beliau sholat saja sambil duduk”, jawab Ust. Joban. Dengan gembira Carlos kemudian menyampaikan itu kepada ibunya.

Kemudian ibu Carlos mendapat kesempatan untuk naik haji, dan setelahnya beliau dipanggil kembali ke haribaan Allah swt. Carlos merasa sedih dan gembira; sedih karena ditinggal ibunda yang disayanginya, dan juga gembira karena beliau masih sempat menikmati agama Islam. Alhamdulillah.

( b ) Para mualaf yang kritis : Ada seorang anak muda yang minta diajari sholat kepada Ust. Joban.
Maka beliau kemudian menyuruhnya mengikuti beliau. “Allaahu akbar”, kata beliau sambil mengangkat tangannya.

“Allaahu akbar… eh, kenapa shalat itu musti angkat tangan dulu ?”, tanya mualaf tadi.

“Begini, kalau kamu ditodong orang, apa yang akan kamu lakukan?”, tanya Ust. Joban

“Ya, saya akan angkat tangan. Saya menyerah”, jawab si mualaf

“Nah, itu juga alasannya kenapa kita mengangkat tangan kita ketika memulai shalat”, tutur Ust. Joban. “Kita nyatakan dulu, bahwa telah menyerah kepada Rajanya para raja, penguasa alam semesta ini. Maka kita angkat tangan kita, sambil mengucapkan takbir”.

Terus terang, seumur hidup saya, belum pernah saya mempertanyakan kenapa shalat itu diawal dengan mengangkat tangan 🙂
Amazing & refreshing indeed, the perspective of these newcomers.

( c ) Malcolm X : Salah satu tokoh Nation of Islam (NoS), sekte yang menyimpang dari Islam karena keyakinan2nya seperti “God is Black”, orang kulit putih karenanya adalah Setan, dst. Islam dimanfaatkan menjadi kuda tunggangan Elijah Muhammad (pendiri NoS) untuk “kebangkitan” orang hitam.
Perubahan Malcolm X terjadi ketika beliau naik haji ke Saudi Arabia. Disitu beliau melihat bagaimana Islam ternyata adalah pelangi – orang dengan bermacam warna kulit sama-sama beragama Islam. Kemudian terjadi hal yang membuatnya terhenyak – ketika di Arafah dia minum dan meletakkan gelasnya, kemudian seorang kulit putih tanpa ragu minum air dari gelas bekasnya itu juga.

Perlu kita ingat bahwa Amerika ketika itu masih sangat rasis. Posisi duduk orang hitam berbeda di bis, toilet orang hitam juga dipisahkan dari toilet orang putih. Rasa persamaan yang luar biasa sampai orang kulit putih bisa tanpa ragu meminum air dari gelas bekas orang hitam adalah sesuatu yang tidak mungkin terjadi ketika itu.

Maka Malcolm X kemudian berkesimpulan bahwa Islam adalah agama untuk semua orang, bukan untuk orang hitam saja.
Beliau kemudian mendakwahkan Islam yang benar kepada kaumnya. Kemudian beliau tewas dibunuh, seperti juga nasib dari tiga orator ulung Amerika lainnya zaman tersebut – Martin Luther King, dan John. F. Kennedy. Innalillahi wa inna ilaihi roji’un.

[ 4 ] Menemukan kenikmatan beragama Islam

( a ) Jika kita tinggal di sebuah gedung yang mewah, lama-kelamaan kita akan merasa biasa saja disitu. Pada saat tersebut, kita akan bingung jika kemudian ada orang yang berkomentar mengenai keindahan gedung tersebut. (apa iya bagus seperti itu ?)

Inilah analogi dari muslim yang Islam KTP (seperti saya). Karena kita telah berada di dalam “gedung” Islam sejak kita lahir, maka kita tidak lagi menyadari bagaimana keindahannya.
Ketika kita mendengar komentar-komentar dari non-muslim / mualaf, baru kita menyadari kembali bagaimana indahnya Islam itu.

( b ) Ust. Joban dengan terus terang mengaku bahwa beliau juga dapat makin menikmati Islam setelah pindah ke Amerika. Dahulu di Mesir sudah hafal Quran dan hadits, tapi memahami dan menikmati Islam adalah setelah tiba di Amerika. Demikian pula pengalaman beberapa kawan-kawan beliau disana.

( c ) Ust. Joban memberikan tips untuk dapat mulai memahami (sehingga kemudian jadi bisa menikmati) agama ini : baca Al-Quran dengan terjemahannya.
Saya bisa turut menyarankan untuk membaca juga buku Asbabun Nuzul (sebab turunnya suatu ayat), sehingga kita makin paham mengenai ayat-ayat yang kita baca.
Asbabun Nuzul adalah salah satu buku Islam yang paling menarik yang pernah saya baca, mungkin juga karena minat saya pada bidang sejarah Islam.

( d ) Abu Dzar ra pernah bercerita pengalamannya menjadi makmum di sholatnya Nabi saw.
Rasulullah saw di rakaat pertamanya membaca surat Al-Baqarah dari awal. Terus beliau membacanya sampai ratusan ayat. “Oh mungkin beliau akan sujud pada ayat yang ke dua ratus”, demikian pikir Abu Dzar. Ketika tiba di ayat 200 dan ada jeda, Abu Dzar bersiap untuk ruku’.
Ternyata, Nabi saw meneruskan bacaannya.

Maka Abu Dzar membatalkan ruku’nya. “Oh mungkin beliau akan ruku’ setelah surat Al-Baqarah ini selesai”, demikian pikir Abu Dzar berikutnya. Maka setelah surat Al-Baqarah selesai (286 ayat), Abu Dzar kembali bersiap untuk ruku’.
Ternyata, Nabi saw meneruskan membaca surat Ali Imran…. “Alif laam miim…”

Maka Abu Dzar membatalkan ruku’nya. “Oh mungkin beliau akan ruku’ setelah selesai surat Ali Imran”, kemudian pikir Abu Dzar. Maka ketika Nabi saw selesai membaca surat Ali Imran (200 ayat), Abu Dzar kembali bersiap untuk ruku’
Ternyata, Nabi saw meneruskan membaca surat An-Nisa…. “Yaa ayyuhan naasut taquu rabbakumulladzii…”

Akhirnya setelah surat An Nisa selesai dibaca (176 ayat), Nabi saw bertakbir, “Allaahu akbar” dan ruku’. Maka Abu Dzar mengikutinya.

“Dan ruku’nya Nabi saw hampir sama lamanya dengan berdirinya”, kata Abu Dzar; dimana pada berdiri di rakaat pertama tersebut Nabi saw membaca 286 + 200 + 176 ayat = 762 ayat.

Benar-benar tidak terbayangkan… darimana datangnya kekuatan untuk beribadah seperti ini? Jawabannya adalah ketika kenikmatan beragama telah berhasil kita dapatkan dan rasakan. Ketika kita menyenangi sesuatu, maka kelelahan dan waktu tidak bisa menghalangi kita untuk melakukannya.
Demikian pula mengenai agama.


Inilah beberapa yang sempat saya catat, dari sekian banyak yang dibagi oleh beliau kepada para hadirin di saat itu.
Terimakasih banyak kepada akhi Geis Chalifah untuk undangannya.

Berikutnya, pembicara di acara bulan depan pada majelis ini adalah Ust. Abu Bakar Ba’asyir 🙂 kesempatan untuk mendengar langsung dari ulama yang banyak difitnah ini. Mudah-mudahan saya bisa mendapat kesempatan untuk datang lagi.

25 Responses to “Catatan dari ceramah Ust. Joban

Leave a Reply

 

Subscribe without commenting

            








SEObox: Web Hosting Murah Unlimited Komik Indonesia Homeschooling Indonesia