Matahari mengelilingi Bumi
Salah satu kebahagiaan saya dulu adalah ketika bisa menikmati isi dari berbagai buku. Buku, bagi saya, adalah gerbang ke berbagai dunia lainnya yang, tanpa buku, tidak akan pernah bisa saya ketahui. Walaupun masih SMP, saya mau bersepeda dari Pondok Indah sampai ke daerah Mayestik, agar bisa mendatangi Perpustakaan Jakarta Selatan. Gedung yang sepi itu adalah salah satu tempat dimana saya menemukan kedamaian, dan pencerahan.
Kini saya melihat buku dengan lebih berhati-hati. Terlalu banyak materi yang tidak berkualitas yang entah kenapa berhasil berubah wujud menjadi bentuk buku. Kini, tidak setiap buku mampu memberikan pencerahan kepada Anda.
Salah satunya adalah ini, dicetak dalam edisi lux pula :
Dikutip dari hal 103:
…lalu sejak saat itulah teori ini dianut oleh hampir seluruh manusia - sampaipun kaum muslimin - tanpa berusaha meneliti ulang apakah teori itu benar ataukah tidak.
Entah bagaimana dengan penulis buku ini sendiri, sudahkah ybs sendiri telah berusaha meneliti ulang : apakah penafsiran qur’an nya memang telah tepat & sesuai dengan kenyataan ? Apakah ybs memang sudah berhasil membuktikan secara ilmiah dan konklusif, bahwa memang matahari lah yang mengelilingi bumi ?
Dari yang saya baca, kelihatannya tidak. So, just another case of “do as I say, not as I do” ?
“..sebuah kepastian al-Qur’an..” ? Mbok ya kalau menafsirkan, jangan diakui sebagai kepastian.
Apalagi penafsiran ngawur dari banyak ayat Qur’an, seperti di dalam buku ini. Nanti yang punya kitab sucinya bisa jadi marah kepada sampeyan lho.
Keterangan lengkap:
Judul buku: “Matahari mengelilingi bumi, sebuah kepastian al-Qur’an dan as-Sunnah serta Bantahan terhadap teori bumi mengelilingi matahari”
Pengarang: ahmad sabiq bin abdul lathif abu yusuf
Penerbit: pustaka al-furqon
June 22nd, 2006 04:39
Kalau gravitasi bumi sanggup mengikat matahari (yg massanya jauh lebih besar) beserta seluruh anggota tata surya, maka yang jelas kita2, para penghuni bumi, bakalan gepeng semua :).
Trims atas ulasannya. Judul buku tsb sudah saya masukkan blacklist supaya jangan sampai dibeli.
June 22nd, 2006 05:27
Buku yang pernah masuk black-list saya adalah “manusia tidak pernah mendarat di bulan” karangan sony setiawan. Saya orang yang open mind dan beli buku itu justru karena penasaran. Kenyataannya pas saya baca saya kesal bukan main karena isinya ngaco, seakan2 pengarang bener2 ga ngerti konsep fisika! bahkan untuk level fisika SMA. Ini namanya udah sesat dan menyesatkan banyak orang.
June 22nd, 2006 06:00
wah kayaknya sih itu urusan relatif. Sebenarnya sih bumi juga tidak mengelilingi matahari. Keduanya, matahari dan bumi mengelilingi titik massa bersamanya yang kebetulan saja lebih dekat ke inti matahari dari pada ke pusat bumi. Dan itu pun terganggu oleh benda-benda angkasa lainnya.
salam,
ida
June 22nd, 2006 06:30
We never know. Seperti yg sdr. Ida tulis, ini adalah hal yang relatif. Siapa yang sebenarnya dikelilingi tergantung dari letak pusat massanya.
Kalau tata surya menjadi batasannya, maka yang dikelilingi adalah matahari. Tapi kalau alam semesta jadi batasannya, bisa jadi ternyata pusat massa alam semesta terletak di posisi bumi berada.
June 22nd, 2006 06:53
kalau konteksnya tidak jelas, memang ini akan menjadi relatif. Tetapi buku tersebut antara lain membantah Copernicus, dan saya kira Copernicus bicara dalam konteks tata surya - bukan alam semesta secara keseluruhan.
June 22nd, 2006 07:17
eh, perpus itu letaknya di pertigaan mayestik itu, khan? gue belum pernah masuk sih, cuma liat papannya doang. emang koleksinya lengkap ya?
June 22nd, 2006 08:32
Jikalau masih masuk kategori “relatif”:
1. apakah memang ada keterangan dalil naqli yang menyebut matahari mengelilingi bumi? (hmm…)
2. semua benda alam semesta memang bergerak, namun itu tidak serta-merta berarti matahari mengelilingi bumi.
June 22nd, 2006 08:48
jalansutera - kalau tidak salah iya, dulu sih bagus. sekarang kurang tahu, sudah lama sekali tidak kesana
amal - dalil yang dikutip di buku itu tidak ada yang secara terang-terangan menyatakan bahwa matahari mengelilingi bumi. pengarangnya hanya mengutip ayat-ayat, dan lalu dia tafsirkan sebagai bukti bahwa matahari memang mengelilingi bumi……
June 22nd, 2006 08:51
Lebih baik baca Playboy. Realistis, praktis
June 22nd, 2006 13:00
kalau bicara soal relativitas, memang benda apa saja bisa dijadikan frame of reference. yang jadi masalah adalah kenapa kita pilih benda tersebut. kenapa harus bumi? kenapa bukan jupiter yang planet paling besar? kenapa matahari? matahari disini adalah yang paling pas karena massa-nya 99% (?) dari seluruh tata surya dan mungkin pergerakan planet-planet bisa digambarkan dengan lebih baik dan sederhana jika kita letakkan matahari sebagai frame of reference. kalau bumi kita jadikan frame of reference, mungkin semua perhitungan akan menjadi jauh lebih rumit.
matahari memang frame of reference yang tepat untuk ruang lingkup tata surya. tapi posisi tata surya juga bukan posisi yang ‘indah’ di dalam milky way. untuk ini, frame of reference yang tepat adalah blackhole yang berada di tengah2 milky way.
jadi kembali lagi ke masalah ‘keindahan’ dalam pemilihan frame of reference. seandainya nanti semua benda selestial sudah berhasil kita inventaris semua dan ternyata bumi berada di pusat titik berat, maka jika ternyata mengasumsikan bumi sebagai frame of reference tidak menyederhanakan masalah dalam ruang lingkup tata surya, maka tetap saja bukan bumi yang menjadi pusat tata surya.
pendeknya, kalau kita memutar2kan bola yang diikat pakai tali dengan menggunakan tangan, kita bisa saja menggunakan bola sebagai frame of reference. atau kalau kita menghitung sebuah mobil yang bergerak, bisa saja kita pakai mobil sebagai frame of reference, dan bumi yang bergerak relatif terhadap mobil.
tapi kenapa harus susah2? penjelasan yang paling simpel biasanya yang paling benar™
June 22nd, 2006 15:52
Nekat juga yang ngarang ini buku …
June 23rd, 2006 07:06
nekat kan kalo ‘dalil’lessly suicide, niy kan cuma masalah relative boundary ajah. Apakah ada bagian dari al qur’an yang gak logis? ataw adakah bagian dari logika yang tidak qur’ani? n buat pak harry ‘tafsir’ kan datangnya tidak mak jebret keluar dari akal kita aja, makanya penting juga mempelajari tafsir qur’an dengan qur’an, dengan hadits dan dengan atsar. Ntar ndhak kejebak jadi ulil a’ma -the ‘you know who’-. kayaknya kalo dianggap penulis buku ini ‘menafsirkan’ nggak juga deh, lha wong ini emang udah jadi obrolan sejak dulu, coba cek di referensinya. n not to forget kalimat sakti yang kadang2 keselip di antara arogansi ‘ilmiah’ kita = Allahu Ta’ala A’lam Bishowwab
*koq komenku yang dulu gak nongol, Pak? error po yho?
June 23rd, 2006 11:00
jika satu urusan diserahkan kepada selain ahlinya, tunggulah bubrahnya…. Salah satu kasus ya yang ngarang buku ini… Tapi saya yakin pasti ada yang ngikut… Indonesia memang tempat subur buat segala paham… Jika ada yang punya paham bahwa tahi sapi itu bergizi tinggi dan mengandung serat yang bagus buat pencernaan, maka saya yakin yang ngikut sak hohah…hayo sapa mau ngikut….. Indonesia = World of Taqliders..
June 23rd, 2006 12:32
ahli apa dulu pak? saya emang belum pernah ktemu yang ngarang buku ini, tapi pastinya dia gak punya Ph.D di bidang astrophysics [beneran ada nggak siy?], lagian yang dipake bukan postulat bohr ko’ [niy tambah gak nyambung]
“jika satu urusan diserahkan kepada selain ahlinya, tunggulah bubrahnya..” tidak adakah yang merasa itu juga ditujukan telak-telak ke kita? kalo ada keterplesetan ya diperlihatkan, dikoreksi, dijelaskan, dijernihkan.. bukan dihubungkan ke tahi sapi.. [moga gak termasuk trolling]
PS:Ahmad Sabiq dst, bukan bapak saya, apalagi ponakan, tapi yang jelas tidak menimbulkan serangan jantung, gangguan kehamilan, dan janin
once again
“jika satu urusan diserahkan kepada selain ahlinya, tunggulah bubrahnya..”
tidak adakah yang merasa itu juga ditujukan telak-telak ke kita?
June 23rd, 2006 14:08
Karena lebih percaya pada ahlinya, maka saya pilih mempercayai Copernicus dan para ahli astronomi lainnya — yang semuanya sepakat matahari sebagai *pusat tata surya* — ketimbang si Ahmad Sabiq ini.
June 24th, 2006 05:00
jukri - khusus untuk ayat yang berhubungan dengan ilmu pengetahuan, perlu ditambah satu hal lagi untuk penafsiran ayat yang tepat; yaitu masukan dari ahlinya.
Contoh, kira-kira bagaimana penafsiran ayat ini jika menurut ulama zaman dahulu ?
“Dia membiarkan dua lautan mengalir yang keduanya kemudian bertemu . Antara keduanya ada batas yang tidak dilampaui oleh masing-masing.”
(Surah Ar-Rahmaan : 19-20)
Ada yang menafsirkan bahwa maksudnya adalah batas pertemuan antara sungai dan laut.
Ternyata, kemudian ada penemuan lebih lanjut, dimana memang antara beberapa laut ada batas yang bisa terdeteksi diantara keduanya.
Jadi kalau ulama zaman dahulu keliru menafsirkan ayat-ayat tersebut, wajar saja karena mereka memang belum memiliki kemampuan untuk menemukan fakta yang ditemukan belakangan tersebut. Mereka tentu sudah berusaha untuk menafsirkannya dengan tepat, berdasarkan data-data yang ada pada zamannya.
Yang penting adalah untuk tidak arogan dan tidak menutup diri untuk menerima masukan dari pakar-pakar di bidang ilmu ybs, dan perkembangan-perkembangan barunya.
Karena ini juga maka ada penafsiran2 Quran & Sains lainnya yang juga keliru (tidak mengambil masukan dari ahlinya, mengambil data yang sudah basi, atau seperti kasus disini - penafsirannya memang ngawur)
Dua hal ini yang tidak ada di buku ini. Nada tulisannya sangat sombong dan angkuh, dan cenderung menghina pendapat lawannya.
btw; ternyata ada beberapa ulama “besar” kontemporer yang juga menyuarakan (fatwa) hal ini, contohnya bisa dibaca [ disini ] (kenapa artikel aslinya hilang dari situs eramuslim?)
Ada kemungkinan topik ini akan terus menimbulkan tanda tanya di masa depan, dan mudah-mudahan posting (serta diskusi) ini bisa membantu menjelaskannya.
June 24th, 2006 05:41
jukri - komentarnya pernah tidak muncul ya? mohon maaf, mungkin dikira spam oleh software anti-spam di blog ini. saya sedang dalam proses upgrade ke software lainnya yang lebih bagus kualitasnya.
trims.
June 24th, 2006 05:48
jukri :
Saya baca kok dalil-dalil di buku tersebut, dan tidak ada yang eksplisit menyatakan bahwa matahari mengelilingi bumi. Jadi, disini sudah ada unsur penafsiran, sehingga si penulis jadi sampai berpendapat demikian.
Dan juga ada unsur taqlid yang sangat kental - si penulis mengutip berbagai pendapat ulama yang dianggapnya benar, dan tidak mengkritisinya; justru langsung menghantam pendapat lawannya dengan membabi-buta — tanpa dia sendiri memberikan bukti yang solid.
Berikut ini adalah contoh seorang ulama yang mau membahas topik ini dengan lebih hati-hati, kritis, dan tanpa arogansi :
June 24th, 2006 06:07
Ini adalah contoh fatwa yang menyatakan bahwa matahari mengelilingi bumi.
Silahkan dianalisa sendiri - apakah ayat-ayat tersebut memang menyatakan, matter of fact, literally, bahwa matahari mengelilingi bumi.
Ataukah “matahari mengelilingi bumi” adalah penafsiran ulama terhadap ayat-ayat ybs.
June 24th, 2006 06:11
Satu lagi bantahan terhadap penafsiran ngawur seperti yang dilakukan buku ini : Bumi Mengitari Matahari Atau Sebaliknya ?
June 24th, 2006 09:00
“Namun lepas dari perbedaan pendapat dalam memahami nash Quran, kita pun harus tahu bahwa kebenaran dalam ilmu pengetahuan pun tidak pernah mutlak. Setiap kali selalu saja ada teori yang tumbang dengan teori baru. Setiap saat selalu saja muncul penemuan dan kebenaran baru, untuk sampai saatnya akan tumbang digantikan dengan yang baru.” [cara quote yang baik dan benar gemana siy?]
ntu dia esensina..
untuk masalah arogansi, gak ada parameterna siy. bisa jadi orang numpang lewat malah mengira Pak Harry yang arogan karena mengkategorikan satu artikel sebagai ‘ngawur’ dan yang laen sebagai ‘bantahan’. Perlu penelaahan menyeluruh dari berbagai aspek, tapi yang jelas berdasar satu aksiom Allahu A’lam gitu, cause we’re simply nothin’ and what happen with my connection? koq jd lelett bgini? wups maap, OOT
begitu
oh iya, Pak. perlu dikonfirm jg topik pembahasannya, agar supaya biar gak ada komen yang keluar daripada ‘maksud’
begitu
June 24th, 2006 09:55
jukri - jadi penasaran sedikit; sebetulnya, Anda sudah baca buku tsb atau belum?
Soal ngawur - misalnya karena ada ayat ini :
Lantas bisa disimpulkan bahwa matahari yang beredar (mengelilingi bumi).
Duh.
Dulu Gereja yang habis menjadi bahan tertawaan ketika ternyata terbukti matahari tidak mengelilingi bumi. Kelihatannya, yang berikutnya akan menjadi olok-olokan di seluruh dunia adalah kita.
June 24th, 2006 12:52
the problem is quran bukan bikinan gereja, right?
dan yang ada di quran mesti benar, IMHO, while yang di teori kita nggak mesti, even if it’s proven (or shall I write ‘proven’)
and another one, coppernic juga jadi tertawaan ketika teorinya dia rilis -di komiknya sih gitu. whether something is right or wrong, parameternya bukan rating tertawaan, palagi kiriman SMS =)
June 24th, 2006 16:34
Assalamu’alaykum warahmatullahi wabarakatuh
Kalo saya ga gitu lo bro….Saya orangnya juga open minded…sangpembelajar….. But, kaidah mati saya Qur’an dan sunnah yang shahih itu pasti bener….Pastilah kita sama ya bro….Mungkin metode istinbath, istidlal yang dikritik ya Bro???
Sejauh ini, saya belum baca sampe habis, saya mengerti bahwa ulama lebih cerdas daripada kita (atau hanya saya) bahkan dalam urusan ini…
Bro, pernyataan ttg hal ini yang pertamakali bukan Syaikh Utsaimin rahimahullah yang memproklamirkannya….It had been say by sahabat…
June 24th, 2006 16:38
No…no…no…
Bila brother2 di sini pendapatnya ga sama dgn saya ya silahkan.Saya berlapangdada….Numpang lewat ya bro….
June 25th, 2006 05:11
Komen lagi (napsu banget sih
). Dalam sains, satu teori tidak berdiri sendiri, tapi memiliki hubungan saling mempengaruhi dengan teori atau fakta lain yg sudah diketahui. Fakta bahwa “matahari sebagai pusat tata surya” tidak berakhir di text book buku astronomi, tapi mempengaruhi pemahaman kita ttg tata surya scr keseluruhan. Dari sana kita bisa menyusun model mengenai gerak dan periode orbit benda2 langit, dan kemudian juga dipakai untuk tujuan praktis, misalnya untuk meramalkan peristiwa2 astronomi (gerhana, transit), pengiriman wahana antar planet, dsb.
Kalau umpama bumi yg mengelilingi matahari, maka semua perhitungan astronomi yg kita kenal sekarang akan kacau dan meleset. Rumus untuk meramal gerhana matahari dan bulan, transit venus dan merkurius, atau tracking posisisi benda2 langit tidak akan ada yg valid (krn semua disusun berdasarkan model heliosentris).
Begitu pula dg pengiriman wahana ruang angkasa ke planet lain, misalnya Mars. Dalam hal ini tidak bisa main “tembak langsung” karena kita tahu bahwa Bumi dan Mars sama2 bergerak dalam peredarannya mengelilingi matahari. Wahana yg kita kirim hanya bisa mencapai mars apabila kecepatan gerak dan periode orbit bumi dan mars sudah diketahui (dan sudah final!). Sekarang setiap dua tahun sekali kita mengirim wahana ke Mars dan selalu sampai (walaupun tidak semuanya sukses menjalankan misinya). Coba kalau perhitunghan didasarkan pada model geosentris. Apa nggak pada kesasar?
Saya menghormati para ulama seperti Syekh Utsaimin maupun para sahabat Rasululah, tapi dalam kapasitasnya sebagai ahli agama, bukan astronom. Saya juga meyakini kebenaran al qur’an sebagai kitab wahyu dan petunjuk ke jalan yang lurus, tapi bukan sebagai rujukan dalam ilmu astronomi.
June 25th, 2006 05:28
Sebagai fakta tambahan, pada 14 Februari 1990, wahana Voyager 2 (yg sudah berada di “tepian” tata surya) berhasil mengambil gambar matahari beserta 6 planetnya (Venus, Bumi, Jupiter, Saturnus, Uranus, dan Neptunus). Gambar yg tersusun dari mosaik 60 foto tsb bisa dilihat di URL http://nssdc.gsfc.nasa.gov/photo_gallery/photogallery-solarsystem.html.
Foto itu dg jelas menggambarkan matahari sebagai pusat orbit planet.
Catatan: dalam foto itu, bumi terlihat sebagai titik biru pucat yg sangat kecil bila dibandingkan dengan matahari.
June 25th, 2006 05:56
kayaknya perlu diklarifikasi lagi niy, matahari mengelilingi bumi, seems someone just got it wrong. Um Pri.net got it.. so-so (can’t say it’s right) fakta ilmiahnya keren, tapi salah jurusan deh
June 25th, 2006 06:40
Eh, sorry, komentar sebelumnya salah ketik :). Di alinea kedua harusnya: Kalau umpama matahari yg mengelilingi bumi…. dst
June 26th, 2006 01:33
hanifah - prinsip saya :
# Quran & Sunnah = 100 % benar
# Penafsiran Quran & Sunnah = tidak selalu 100% benar
Lalu coba baca lagi tulisan-tulisan saya di posting sini, mudah-mudahan menjadi jelas.
btw; trims untuk urun-rembug nya disini.
June 26th, 2006 06:47
sebenarnya Qur’an itu Book of Sign apa Book of Science? Kalau ga salah di tahun 80/90-an ada buku berjudul Islam dan Ilmu Pengetahuan yg ditulis Roger Garraudy. Pernah juga saya baca buku (judulnya lupa, isinya penuh dgn grafis dan ilustrasi-2) yg a.l. menjelaskan “secara ilmiah” Ar Ra’d ayat 15.
Bagi saya pribadi, memposisikan qur’an sebagai Book of Science adalah riskan karena science senantiasa ditulis ulang sesuai dgn perkembangan akal budi manusia. Sedangkan teks Qur’an tidak mungkin (bisa) ditulis ulang. Jangankan teks-nya, penulisan ulang tafsirannya saja sudah cukup untuk menghujat seseorang atawa kelompok.
June 26th, 2006 12:44
Saya sudah membaca buku tersebut dan buku tersebut bahkan sudah dibedah di ITS, tentunya dengan sangat percaya diri , ustadz Ahmad Sabiq akan memaparkan banyak dalil baik aqli maupun naqli. Dan seperti kita ketahui ITS merupakan kampus yang cukup terkemuka di indonesia. Akan tetapi sebenarnya bagi saya cukuplah dalil dari Al-quran dan sunnah, tanpa perlu pendapat manusia. Bukankah teori Darwin yang meskipun diajarkan di sekolah-sekolah ternyata dengan amat sangat mudah untuk di bantah? Bahkan untuk saat ini teori darwin sudah runtuh.
Disamping membantah teori Heliosentris sebenarnya di buku tersebut juga membantah bahwa bumi berotasi , dikatakan bahwa bumi adalah diam dan ini sangat masuk akal. sebagaimana Firman Allah “Sesungguhnya Allah menahan langit dan bumi supaya jangan bergeser; dan sungguh jika keduanya bergeser tidak ada seorangpun yang dapat menahan keduanya selain Allah. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penyantun lagi Maha Pengampun. ” Surat AlFathir :41.
Ustadz juga menanyakan bagaimana mungkin Bumi berotasi dengan kecepatan 30 km/detik sebagaimana dikatakan oleh para ahli, sedang hanya bergeser sebagian dari bumi saja sudah sangat besar dampaknya, masih ingatkah kita terjadinya gempa di Aceh dan juga di Jogya? Bagaimana kalau bumi berotasi dengan kecepatan 30 km/detik, tentunya akan berterbangan apa yang ada dibumi.
Juga pertanyaan dari saya, seandainya bumi berputar pada porosnya, maka daerah yang dekat dengan poros mungkin dekat kutub utara dan selatan akan menjadi sumbu, yang tentu saja akan mengalami perputaran lebih cepat dari daerah lain.
Begitu juga bila kita naik pesawat tentulah akan ada perbedaan waktu tempuh bila kita terbang dari surabaya ke Jakarta daripada sebaliknya dari jakarta ke surabaya, bukankah bumi itu berotasi, atau bahkan kita tidak pernah sampai ke Surabaya atau Jakarta, karena perputaran bumi lebih cepat dari kecepatan pesawat terbang. Tolong jelaskan karena inilah yang mudah dipahami oleh akal dan perasaan manusia.
Dalam memahami ayat-ayat Al-Quran seharusnya kita mengembalikan kepada ulama’ Ahli tafsir, semisal Ibnu Katsir, Ibnu Jarir Athabari dan lain-lain, bukan kepada selainnya. Saya pikir Mas Hari secara tidak jujur menukil hanya surat Al Anbiya’ :33 yang dijadikan dalil oleh Ustadz Sabiq, padahal ada beberapa ayat bahkan 8 ayat dan 2 hadist Rasullullah. Salah satunya adalah ayat “Kemudian tatkala ia melihat matahari terbit, dia berkata: “Inilah Tuhanku, ini yang lebih besar.” Maka tatkala matahari itu terbenam, dia berkata: “Hai kaumku, sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan: Al An’am ayat 78. Ustadz menerangkan dengan pengetahuan bahasa Arab yang baik “Di sini Allah menjadikan gerakan terbit dan terbenam itu oleh matahari, seandainya bumi yang bergerak rotasi maka seharusnya ayat itu bukan dengan lafadz “Afalat” “matahari terbenam akan tetapi dengan lafadz “falama afala ‘anhaa” maka tatkala ada sesuatu yang membuat matahari itu bergerak hilang”.
Sebaiknya kita baca buku tersebut dengan lapang dada tidak dengan sesak dada hanya karena cuma bergelar Lc dan beliau ini amat sangat muda setahu saya usianya belum genap 30 tahun, akan tetapi bagaimana hujjah itu ditegakkan dengan dalil Alquran dan sunnah, maka bagi seorang muslim itu sudah cukup.
Kalau kita katakan bahwa Ustadz hanya taklid pada para ulama, saya katakan tidak, karena beliau mengetahui dalilnya dengan sangat baik. Taqlid adalah mengikuti seseorang tanpa mau tahu dalil.
Dan menurut saya Mas Harri-lah yang taklid kepada ilmuwan-ilmuwan kafir, tanpa meneliti lebih jauh.
Kalau saya ditanya kira-kira siapa yang lebih pantas diikuti dalam menafsirkan alquran apakah Syaikh Utsamin Rahimahullah atau Ustadz Ahmad Sarwat? Maka saya akan memilih Syaikh Utsamin, karena secara keilmuan dalam dien tidak bisa dibandingkan. Coba saya tanya berapa kitab yang dikarang oleh Ustadz Ahmad tanpa merendahkan beliau, dibandingkan dengan dengan Syaikh Utsaimin, seorang ulama besar Arab Saudi? Kalau terhadap penyakit kita bertanya kepada dokter spesialis bahkan sub spesialis kenapa untuk urusan dien kita tidak bertanya kepada ulama’ yang ‘alim?
Disamping saya melihat jawaban Ustadz Ahmad menunjukkan keraguan beliau.
Kalau Mas Hari mengatakan bahwa semua yang dikatakan Ustadz penuh dengan kesombongan, maka apa yang Mas Hari katakan bukankah juga kesombongan yang lebih parah, dengan celaan yang kurang adab. dan yang Mas hari kira sebagai kesombongan hanyalah persepsi Mas Hari, tetapi menurut saya bukan kesombongan, Karena kesombongan menurut Rassulullah adalah ” Menolak kebenaran dan merendahkan orang lain”. Semoga Allah memperbaiki diri kita dan kaum muslimin seluruhnya.
Wallahu ‘alam.
hanan
June 26th, 2006 14:14
Pertanyaan ini dengan mudah bisa dijawab dengan prinsip fisika, khususnya momentum (dalam hal ini momentum angular) serta gravitasi. Dalam kasus gempa bumi, yang bergeser adalah lempeng benua, bukan Bumi secara keseluruhan. Dan jangan dilupakan juga prinsip gravitasi. Kita tidak terlempar dari bumi karena kita terikat oleh gaya gravitasi bumi.
Kenyataannya memang demikian. Tidak ada yang aneh dalam hal ini.
Sekarang anda bayangkan, anda berada dalam gerbong kereta api yang berjalan dari barat ke timur dg kecepatan 60 km/jam. Lantas anda berjalan dari ujung gerbong sebelah barat ke ujung timur. Kemudian sebaliknya, dari ujung timur ke ujung barat. Kalau anda berjalan dg kecepatan yg konstan maka waktu yg dibutuhkan pasti sama, entah anda berjalan searah atau berlawanan arah dg laju kereta. Itu karena anda bergerak dengan kecepatan relatif terhadap arah laju kereta.
Dalam kasus pesawat terbang, kondisinya sama saja. Pesawat bergerak dg kecepatan relatif thd arah rotasi bumi.
Mas harry, tolong forwardkan jawaban saya ini ke ybs. Saya pingin berdiskusi Japri dg beliau…
June 27th, 2006 04:37
Perputaran lebih cepat? Di mana logika anda ya?
Jika bumi dianggap permukaan licin sebuah bola maka semua yang ada di permukaan bola akan mengalami kecepatan angular yang sama. Dan kecepatan linear di equator akan lebih tinggi jika dibandingkan dengan yang lebih dekat ke kutub.
Silakan diulangi lagi pelajaran SMA anda.
Silakan anda melempar vertikal bola golf dari tangan ke setinggi wajah anda di dalam –atau di atas gerbong– kereta api berkecepatan tinggi yang mengarah ke barat (berlawanan dengan rotasi bumi). Jika teori anda sesuai; bola golf harus menabrak jidat anda (atau jidat anda menabrak bola golf).
June 28th, 2006 05:51
hanan - trims untuk perhatian dan waktunya.
Nah masalahnya, sebagian besar isi buku Ust. Ahmad Sabiq berisi pendapat.
Dalil-dalil Al-Quran dan Sunnahnya sendiri (yang dicantumkan di buku tersebut) tidak ada yang menyatakan bahwa matahari memang mengelilingi bumi.
Kalau memang mudah, silahkan Anda praktekkan sendiri langsung, misalnya di forum ini.
Saya mengundang Anda untuk membuktikan dengan berbuat, dan tidak cuma bicara.
Nah, ini adalah satu contoh menafsirkan Al-Quran tanpa ilmu, dan lalu diakui sebagai “…sebuah kepastian al-Qur’an”
Kalau menurut logika Ust. Ahmad Sabiq ini adalah pernyataan bahwa bumi tidak bergeser, berarti mustinya langit pun tidak bergeser (karena di ayat tersebut disebutkan langit dan bumi).
Jadi, sudah jelas logika yang dipakai untuk menafsirkan ayat tersebut keliru total.
Atau - disini Anda juga bisa melihat bagaimana rumitnya menafsirkan Al-Quran : nampaknya Anda menafsirkan “langit” disini sebagai langit bumi, sedangkan saya menafsirkannya sebagai langit di luar bumi.
Jadi, jangan terlalu menggampangkan penafsiran Al-Quran. Celakanya, ini yang banyak terjadi di buku ini.
Contoh lainnya penafsiran yang picik / sempit wawasan; hal 146,
Menurut isi buku tersebut, jarak dari bumi ke langit yang ketujuh adalah 126 juta kilometer. Kesimpulannya, tidak mungkin ada matahari/planet/bintang di jarak tersebut, karena pada jarak tersebut seharusnya sudah bukan alam manusia lagi, melainkan sudah alam akhirat.
Ini mirip seperti “ustadz” yang dengan sok tahu menuduh bencana tsunami Aceh pasti adalah azab Allah swt, tanpa mau mempertimbangkan kemungkinan-kemungkinan lainnya. Padahal ustadz tersebut belum bisa mengkonfirmasikan perkiraannya itu kepada Allah swt, tapi tetap saja nekat sok tahu.
Nah, kesimpulan pada halaman 146 itu juga sebetulnya belum tentu pasti. Bagaimana kita mau sok tahu mengatakan bahwa di kilometer 126 juta itu adalah sudah alam akhirat - padahal alam (dimensi) jin saja kita tidak bisa melihat ? Padahal alam jin itu itu lokasinya persis sama dengan alam kita juga, hanya berbeda dimensi.
Apa susahnya sih bagi Allah swt untuk membuat alam akhirat persis di kilometer 126 juta, tapi di dimensi yang berbeda, sehingga tidak bertumpang tindih dengan matahari / bintang / planet ?
Belum bisa melihat dimensi jin saja sudah dengan sangat percaya diri mengatakan jarak planet/matahari/bintang menurut para ahli astronomi itu salah total - “Wallohi,.. Sekali lagi, Wallohi, ini adalah kedustaan yang amat sangat nyata”
Mudah-mudahan Ust. Ahmad Sabiq segera diberi hidayah oleh Allah swt dan cepat bertaubat dari pernyataannya tersebut, karena dia telah bersumpah-sumpah atas nama Allah swt, padahal sumpahnya tersebut tidak benar.
Ust. Ahmad Sabiq belum pernah mendengar istilah “kecepatan relatif” nampaknya. Belum paham soal “kecepatan relatif”, kok sudah nekat membuat statement “matahari mengelilingi bumi” ?
Coba sampaikan kepada ybs agar membaca-baca lagi mengenai topik tersebut, atau paling tidak, baca komentar sdr. Jay di posting ini juga.
Bumi tidak berotasi… mengapa makin banyak “ustadz” zaman sekarang ini yang, bukannya mencerahkan, malah membuat umat jadi bodoh ?
Rotasi bumi bukan saja telah terbukti dengan sangat masyhur, jelas, dan bahkan bisa diamati dengan mengamati langit secara sederhana. Rotasi bumi juga telah memungkinkan berbagai hal untuk terjadi.
Berbagai hal dibawah ini adalah beberapa bukti adanya rotasi bumi :
1. GEO (Geostationary Earth Orbit) - satelit yang tidak berada di lokasi ini akan berbeda rotasinya dengan rotasi bumi, sehingga akan nampak dari bumi seperti selalu berpindah-pindah lokasi. Satelit pada GEO akan nampak dari bumi selalu di tempat yang sama.
2. Peluncuran roket ke luar angkasa yang paling murah adalah yang paling dekat ke khatulistiwa, karena bisa memanfaatkan momentum rotasi bumi untuk menambah kecepatannya (sehingga tidak perlu terlalu banyak bahan bakar). Rotasi bumi yang paling kencang adalah di khatulistiwa.
Logika ini sangat keliru, dan dapat dibuktikan dengan sangat mudah :
1. coba Anda beli sebuah bola, anggap itu bumi
2. gambar 2 buah titik; satu di dekat sumbu (kutub), satu lagi di dekat “khatulistiwa”
3. lalu coba putar bola tersebut pada sumbunya.
Manakah titik yang berputar lebih cepat ?
Sekali lagi coba cari tahu mengenai “kecepatan relatif” dan/atau baca komentar sdr. Jay.
Ulama ahli tafsir bukan berarti ahli pada bidang-bidang yang lainnya. Betul tidak?
Ketika ada ayat yang berkaitan dengan ilmu astronomi, apakah akan kita serahkan total kepada orang yang awam akan ilmu tersebut untuk menafsirkannya? Padahal Nabi saw telah memerintahkan kita untuk menyerahkan suatu urusan kepada ahlinya.
Apakah kita mau menjadi penentang perintah Rasulullah saw ?
Ketika suatu ayat berkaitan dengan ilmu yang lainnya, maka ulama tafsir yang shalih tidak akan sok tahu menafsirkannya sendiri. Dia akan bekerja sama dengan ahlinya, untuk menemukan penafsiran yang tepat dari ayat tsb.
Mengenai para ulama ahli tafsir zaman dahulu, kita musti memaklumi mereka jika ada kesalahan dalam menafsirkan ayat-ayat astronomi tersebut, karena mungkin pada saat itu ilmu astronomi belum semaju sekarang. Sehingga walaupun mereka telah bekerja sama dengan ahlinya di zaman tersebut, ternyata hasil tafsirnya masih keliru juga ketika kemudian dibandingkan dengan ilmu astronomi zaman sekarang.
Setidak-tidaknya mereka (ulama besar zaman dahulu) bukan ulama yang sombong & sok tahu (seperti yang banyak kita temui sekarang ini) - ulama sekaliber Imam Syafi’i sekalipun dengan rendah hati bersedia dikoreksi dan mengkoreksi jika ada kekeliruan. Berbeda sekali dengan ustadz-ustadz zaman sekarang.
Dengan berdasarkan prasangka buruk, kini saya malah dituduh oleh Anda sebagai pembohong.
Ayat-ayat lainnya tidak saya sebutkan lagi karena sama saja (tidak menyatakan bahwa matahari mengelilingi bumi), dan saya bukan pengangguran yang punya banyak waktu lowong untuk mengkupas habis logika-logika ngawur (yang diaku sebagai di buku tersebut “..kepastian Al-Quran”).
Bagi yang penasaran, silahkan Anda bisa baca sendiri “bukti” matahari mengelilingi bumi, dan bisa Anda pikirkan sendiri apakah memang ayat-ayat tersebut menyatakan konsep geosentris (bumi tetap / matahari mengelilingi bumi) :
35:41, 30:25, 2:20, 40:64, 27:61, 16:15, 21:31, 31:10, 13:3, 15:19, 41:10, 50:7, 77:27, 79:30-32, 78:6-7, 43:10, 51:48, 2:21-22, 71:19-20, 67:15, 67:16, 22:65, 34:9, 17:92, 26:187, 8:32, 2:258, 21:33, 7:54, 91:1-2
“ada sesuatu” - bukankan “sesuatu tersebut juga bisa berupa rotasi bumi ?
Dalam menafsirkan Al-Quran, perlu wawasan yang luas dan pikiran yang terbuka, bukan kepicikan/kesempitan pandangan.
Saya justru tidak tahu siapa beliau, apa gelar beliau, berapa umurnya - saya cuma melihat isi buku tersebut, dan jelas isinya adalah penafsiran yang sangat ngawur terhadap berbagai ayat Al-Quran dan hadits.
Taqlid bisa juga berupa taqlid dalam menafsirkan Quran dan Sunnah - bahkan ketika penafsiran tersebut sebetulnya ngawur.
Saya yakin sekali, jika Syaikh Ibnu Taimiyyah / Ibnu Qayyim masih hidup di zaman ini, beliau tidak akan segan-segan untuk mengkoreksi penafsiran beliau sebelumnya mengenai geosentris.
Saya serahkan penilaiannya kepada Allah swt, siapa sebenarnya yang telah taqlid buta disini.
Ustadz Ahmad Sarwat cukup bijak untuk tidak memberikan kepastian, karena beliau memang bukan pakar dalam bidang astronomi.
Berbeda sekali dengan Syaikh Utsaimin, yang kepakarannya adalah dalam ilmu agama, namun malah membuat statement ilmu astronomi.
Coba tolong sampaikan kepada beliau agar bisa berdialog dengan beberapa pakar astronomi muslim. Mudah-mudahan beliau bisa jadi memahami duduk perkara yang sebenarnya.
Saya serahkan kembali penilaian tersebut kepada Allah swt, dan hanya Dia-lah tempat saya mengadu.
Terimakasih, wallahua’lam.
June 28th, 2006 08:04
gila, baru baca lagi komen2nya :(. dulu orang islam itu katanya ahlinya kimia & astronomi. 15 abad kemudian kok bisa sependek ini ya pemikirannya :(.
June 30th, 2006 14:05
Eh ada yang udah lihat dengan mata kepala sendiri apa mengelilingi apa.
bumi mengelilingi matahari atao matahari mengelilingi bumi.
udah lihat dengan mata kepala sendiri secara nyata bumi berputar?.
udah lihat dengan mata kepala sendiri bumi diam?
hanya dengan teori-teori yang belum dimengerti secara benar kita berkomentar?
nash Alqur’an?
ada yang ahli tafsir yang bisa bahasa arab dan ilmu nya seperti mujtahid?
kalo ada…. mari cari kebenaran
semua ahli fisika dan para mujtahid dikumpulkan untuk mencari kebenaran?
ada dana untuk mengumpulkan?
ahhh nasiiib hidup dalam kemiskinan dan kebodohan
reply pls
June 30th, 2006 16:54
Subhanallah… mudah2an bahasan tentang hal keduniaan ini tidaklah menjadikan kita semua saling berdebat… setiap orang memiliki kemampuan berfikir yg berbeda, dan jg takaran hidayah yg berbeda, mari berlapang dada dan sabar atas perselisihan dalam hal yg bukan pokok AdDien ini….
Berikut poin2 yg saya ingin sampaikan:
Pertama, belum ada satu dalil pun ditemukan yg secara tegas menyatakan bahwa “Matahari mengelilingi bumi”. Walaupun ada dalilnya atau pemahaman atas dalil (seperti buku tsb), maka itupun sudah dipastikan BENAR, karena memang matahari TERLIHAT mengelilingi bumi bagi kita manusia yg tinggal di bumi. Sama seperti halnya dengan bulan yg KELIHATAN mengelilingi bumi. Tapi coba bayangkan jika kita di berada di matahari/bulan, bukankah kita akan MELIHAT bumi yg mengelilingi kita??? Dan definisi “MENGELILINGI” dalam kedua kasus tsb adalah BENAR menurut akal sehat pun, karena RELATIF dimana kita berada (di bumi atau di matahari). Konsep RELATIF inilah intinya.
Kedua, fakta bahwa sebenarnya ilmu fisika/astronomi/gravitasi TIDAK PERNAH menyatakan bahwa “Bumi mengelilingi matahari” secara ABSOLUT, tapi menyatakan bahwa pergerakan (termasuk mengelilingi) itu adalah RELATIF karena TIDAK ADA KERANGKA ACUAN YANG ABSOLUT DI ALAM SEMESTA INI, KECUALI JIKA KITA MENDEFINISIKANNYA. Ini adalah sebuah kebenaran yg mudah dibuktikan seperti kasus relatifnya penglihatan kita ketika kita berada di bumi (kerangka acuannya bumi) atau di matahari (kerangka acuannya matahari).
(alangkah akan sangat baiknya buku tsb jika penulis memahami konsep gerak relatif ini)
Lalu bagaimana hakikat pergerakan sebenarnya kalau dilihat dari sebuah kerangka acuan yg ABSOLUT (artinya kita berada di suatu tempat yg benar tidak bergerak sama sekali terhadap bumi atau matahari)?? akan terlihat seperti apakah pergerakan bumi dan matahari?
Perhitungan dan eksperimen ilmu gravitasi membuktikan bahwa ternyata bumi dan matahari mengelilingi PUSAT MASSA bumi dan matahari (alangkah baiknya jg penulis buku tsb memahami jg konsep pusat massa ini). Jadi SECARA ABSOLUT, MATAHARI DAN BUMI SEBENARNYA MENGELILINGI PUSAT MASSA SISTEM MATAHARI-BUMI tersebut.
Dimanakah letak pusat massa tsb? pusat massa lebih dekat kepada benda yg lebih bermassa (lebih berat), dan makanya itu letaknya akan lebih mendekat matahari yg sangat jauh lebih berat drpd bumi, bahkan jarak matahari dan pusat massa sangat jauh lebih dekat daripada jarak matahari dan bumi, sehingga bumi akan lebih terlihat mengelilingi matahari, padahal mengelilingi pusat massa yg sangat dekat dengan matahari.
Kenyataanya kita tidak bisa mempertimbangkan hanya sistem matahari-bumi ini saja, karena kenyataanya ada planet2 yg lainnya dalam tata surya (matahari yg terbesar) ini, yg tentunya akan mempengaruhi kesimpulan tentang gerak ABSOLUT di atas. Naah, kalau kita berbicara tentang sistem tata surya sebagai kerangka acuan, maka sistem tata surya inipun sebenarnya mengelilingi PUSAT MASSAnya, yg lagi2 pusat massanya sangat dekat dengan matahari dikarenakan massa matahari yg masih sangat besar dibanding keseluruhan planet2 yg ada di sekitarnya. Karena itulah matahari seolah-olah seperti pusat tata surya, padahal bukan.
Ilustrasinya dapat diperluas kepada sistem yg lebih luas daripada sistem tata-surya, misalnya sistem galaxi, dimana banyak bintang2 lainnya yg seperti matahari, bahkan lebih besar lagi. Bagaimanakah pergerakan sistem galaxi tsb?? kembali lg kpd sistem pusat massa sebagai pusat edarannya, dan tentunya penentuan letak pusat massa sistem galaxi ini akan lebihh kompleks lagi dibandingkan sistem tata surya.
Kesimpulan, titik temu akan terlahir jika kita semua mendefinisikan KERANGKA ACUAN yang SAMA, yaitu “darimana kita melihat pergerakannya”, karena dengan begitu kita akan memiliki kesimpulan yg sama tentang DEFINISI PERGERAKAN.
Juga, akan menjadi sebuah buku yg bagus jika penulis buku tsb jg faham atas ilmu fisika/astronomi yg menjadi rujukan para ahli fisika/astronomi dalam mengambil kesimpulannya. Dan lebih bagus lg jika penulis memaparkan hujjah2nya dengan lebih ilmiah (disertai eksperimen yg dapat diterima khalayak awam) sehingga lebih difahami oleh semua kalangan, termasuk para ahli2 fisika/astronimi yg ada.
Wallahua’lam
ibnu_syamsu at yahoo.com
July 1st, 2006 10:44
semua yang ada di langit dinamis bukan ? saling memutar ?
bulan mengelilingi bumi, bumi mengelilingi matahari, matahari mengelilingi ??? galaksi mengeliling ???? (ga tau :)) dst.
Dan alam semesta itu katanya punya yang namanya titik pusat. di :
http://www.hikmatul-iman.com/forum5/read.php?10,42457
yang katanya bernama zanura.
Nah cuma itu mungkin yang diam pada koordinat yang sama. (boleh berotasi ). Dan selain itu di alam semesta ini bergerak.
Bicara tentang matahari mengelilingi bumi tidak ada salahnya kok. Karena balik lagi ke yang namanya teori relativitas. Tergantung dari sudut mana. bukan begitu ??
July 3rd, 2006 05:52
*dooh*
July 4th, 2006 02:53
Ngobrol aja sama penulisnya di acara bedah bukunya:
————————- ” Matahari Mengelilingi Bumi ” ————————
Sebuah Kepastian dari al-Quran & as-Sunnah serta Bantahan Terhadap
Teori Bumi Mengelilingi Matahari …
Bersama : Ustadz Ahmad Sabiq bin Abdul Lathif Abu Yusuf ( Penulis )
Hari / Tgl. : Sabtu, 11 Jumadil Akhir 1427H - 8 Juli 2006
Waktu : 16.00 - 18.00 WIB
Tempat : Masjid Ash Shalihin, Jl. Walang Baru Raya No. 25 Koja - Jakarta Utara
Rute Kendaraan :
Dari Terminal Tg. Priok, Mambo, Permai & Plumpang (Ps. Ular) naik KWK 09 jurusan Walang Baru turun di lokasi.
Dari Pulo Gadung & Semper naik Metromini 41 turun di halte Apotik Dinar,
naik KWK 09 jurusan Walang Baru turun di lokasi.
Dari Lagoa, Jaya & Islamic Center KWK 06 jurusan Walang Baru turun di lokasi.
Informasi :
Pustaka An Nuur : 021 7019 0901
Pustaka Ammar : 021 6845 8034
Gratis & untuk Umum !
Wassalamu’alaykum wa rahmatullahi wa barakatuh
———————–
July 4th, 2006 09:28
kucing - zanura, sama saja, berdasarkan “katanya”. buktinya dimana?
ech - trims untuk informasinya yang lengkap sekali. kebetulan saya sudah ada janji pada hari itu. tapi saya akan coba kontak nomor-nomor telpon informasinya.
kalau ada yang bisa datang, mohon agar bisa membicarakannya baik-baik dengan ybs; paling tidak minta agar ybs periksa dulu berbagai dasar-dasar ilmu fisika & astronomi.
trims.
July 4th, 2006 12:50
Undangannya sudah diteruskan ke milis astronomi. Mudah-mudahan nanti ada astronom betulan yang berkenan datang dan “mengkoreksi” pemahaman ybs
July 4th, 2006 16:27
Inilah akibat kita ‘buta’ ilmu falak/astronomi sebab di negri ini memang astronomi masih asing dan sebatas hanya hapalan nama2 planet…! Akibatnya pengetahuan mengenai perkembangan astronomi hanya didominasi oleh kalangan akademisi saja (bahkan mungkij cuman di ITB) sehingga kita masyarakat awam tidak banyak yang faham. Nah hal ini menyebabkan kita mudah dipengaruhi oleh fahaman / tafsir2 yang menyesatkan!! yang sengaja digulirkan oleh oknum2 / penerbit demi keuntungannya pribadi (bukunya laris!!!!)
Berita inipun sempat masuk milis astronomi….
Lah apa maunya??
Saya jadi curiga jangan memang penulisnya sengaja membua opini agar bukunya laris???? Tapiiiii….. inikan memalukan umat Islam (termasuk saya..). Apalagi membawa embel2 “kepastian”?????? Nah buat penerbit dan pengarangnya…. sudahkah anda fikirkan apa akibat dari larisnya buku yang anda terbitkan….. Anda memang mendapat banyak rezeki dari Judul Buku??? tapi tolong… jangan bawa kata2 “KEPASTIAN” sungguh saya tidak terima… nabi saja tidak pernah demikian…..
Ohhh.. mengapa peristiwa memalukan ini bisa terjadi…???????
Hormat saya,
Mutoha
Jogja Astronomi Club (JAC)
Yogyakarta - Indonesia
http://groups.yahoo.com/goup/jogja_astroclub/
“Turut Memasyarakatkan Astronomi di Indonesia”
================================
July 5th, 2006 08:47
Assalamu ‘alaikum warahmatulahiwabarakatuh
1. Bizniz… biar bukunya laku
2. Membuat bingung umat Islam..
3. Memanas-manasi bangsa Indonesia yang temperamennya emang cepat panas.
Saya sih no comment ajah, buku itu keluar ato nggak, dibaca ato nggak, yang penting jangan sampai mempengaruhi aqidah dan hubungan kita sama Si Pembuat bumi dan matahari.
Tar aja kalo kita dah ketemu langsung ama Dia, baru kita tanya yang sebenarnya.
So, buat yang awam masalah astronomi dan tafsir alQu’ran, jangan liat apa pendapatnya, tapi liat siapa yang mengeluarkan pendapat. Sepengetahuan saya, menafsirkan alQuran itu tidak boleh sembarangan dan tidak boleh sembarang orang. Orang itu harus berilmu dan berakhlak yang tinggi, bahkan jika pernah menyakiti dan membohongi anak kecil atau hewan saja sudah boleh diragukan pendapat2nya.
Apakah kita sudah mengenal si penulis buku tersebut??
Saya aja sampe tulisan ini saya buat, saya belum tau nama penulisnya.
Jangan-jangan dia itu…. (cut)
Wassalam
July 5th, 2006 09:54
ech / mutoha / dhani - saya sudah mengkontak penyelenggara acara tersebut, dan sudah memberikan nomor HP serta nama saya kepada mereka. Saya sampaikan bahwa di buku tersebut ada beberapa kekeliruan, dan insyaAllah saya bersedia membantu jika beliau ingin berkonsultasi mengenai hal-hal tersebut.
Saya sudah membaca buku tersebut kembali, dan ternyata penulisnya ada menyatakan kesediaannya untuk dikoreksi jika pada buku ini ada kesalahannya. Walaupun belum saya buktikan sendiri, namun saya menghargai statement seperti ini. Posting ini sudah saya edit seperlunya untuk menunjukkan penghargaan saya.
Mudah-mudahan memang demikian halnya.
pro ech / mutoha / dhani - jika ada pakar astronomi yang setahu anda berkepala dingin, dan bersedia untuk menerima konsultasi dari penulis buku ini; mohon agar bisa dikabarkan kepada saya secepatnya.
Trims.
July 6th, 2006 02:53
Coba pak Moedji Raharto beliau Dosen ITB dan mantan kepala UPT Boscha. Sepetahuan saya beliau pernah mengarang buku yang mengkaitkan antara fenomena astronomi dengan Islam. Mudah2an bisa nyambung dengan si pengarang buku.
Sebenernya rumah saya daerah tanjung priuk juga tapi kayaknya ga bisa dateng. saya sudah fwd undangan tersebut ke rekan2 sejawat, siapa tau ada yang bisa datang.
July 6th, 2006 05:38
“Berbeda sekali dengan Syaikh Utsaimin, yang kepakarannya adalah dalam ilmu agama, namun malah membuat statement ilmu astronomi.
Coba tolong sampaikan kepada beliau agar bisa berdialog dengan beberapa pakar astronomi muslim. Mudah-mudahan beliau bisa jadi memahami duduk perkara yang sebenarnya.”
Pak Hari, Syekh Utsaimin sudah lama meninggal (ataukah yang Antum maksud dengan “beliau” itu adalah Pengarang buku?).
Yang perlu Antum perhatikan, Syekh Utsaimin tidak membuat statemen ilmu astronomi. Antum jangan terpengaruh dengan ‘kesan’ sang penulis terhadap pendapat Syekh Utsaimin. Sebaiknya baca sendiri bunyi fatwa beliau. beliau hanya menyatakan bahwa “dhohirul quran” menunjukkan bahwa “Matahari mengelilingi bumi”. Sedangkan informasi tentang pengamatan atau analisa yang menunjukkan bahwa bumi mengelilingi matahari, belum sampai ke beliau degan meyakinkan (dari segi validitas informasinya maupun dari segi ketepatan konklusinya).
Jadi Syekh Utsaimin sudah berada pada posisi ilmiah yang tepat: “Mendahulukan yang lebih meyakinkan & lebih punya argumen daripada yang lebih lemah & lebih meragukan”.
Well.. kalau kita mengikuti diskusi-diskusi ini di dunia arab dan di kalangan murid-murid Syekh Utsaimin sendiri (baik yang pakar tafsir maupun yang pakar astronomi), kita akan menemukan suasana yang memang jauh lebih ilmiah, dibandingkan dengan yang terjadi dalam kasus buku kontroversial tersebut.
Paling tidak, ada tiga pendapat besar bagi mereka:
1. Matahari mengelilingi bumi (tanpa dinyatakan “secara ABSOLUT” ataukah “secara relatif”)
2. Bumi mengelingi matahari bersama planet-planet lainnya
3. “mengelilingi” dan “dikelingi” itu relatif. Sebagaimana “gerak” dan “diam” juga relatif. Jadi tidak bisa dipastikan secara absolut. Hanya bisa dinyatakan secara nisbi, atau dinyatakan dalam bahasa yang biasa (mis: “matahari seang terbit di timur”, “matahari akan terbenam di tengah laut”).
July 6th, 2006 05:48
tambah: Kalau soal Evolusi, saya rasa sangat gegabah kalau kemdian kita sejajarkan dengan konsep heliosnetris. Yang kedua (ataupun kosep “mengelilingi inti massa) sudah terkonfirmasi dengan berbagai pembuktian yang jelas. Sedang yang pertama, tidak pernah beranjak dari kedudukannya sebagai “hipotesa” dan “asumsi yang sangat meragukan”.
selama sekian puluh tahun, teori ini tidak pernah mendapatkan buktinya. karena memang teori ini tidak bisa dibuktikan. tidak punya pintu untuk difalsifikasi. mutasi & penemuan fosil-fosil purba juga tidak memberikan argumen apa-apa untuknya. bahkan kalaulah “spesiasi” itu memang betul-betul terjadi di beberapa komunitas spesies tertentu semacam lalat buah, ini sama sekali tidak memberikan konfirmasi apa-apa terhadap skenario evolusi sel-ikan-kodok-kadal-burung/mamalia.
“Teori Evolusi” adalah satu contoh untuk arogansi hawa nafsu di atas akal sehat.
July 8th, 2006 07:38
Buktinya ya bisa jadi teori big bang itu. Dari 1 titik lalu menjadi alam semesta ini. Ya itukan suatu pemikiran toh. Logis dan masuk akal saya kira mah…
Kalau mau tanya Bukti, saya juga mau tanya : Kalau galaksi bimasakti buktinya apa kalau namanya itu bimasakti
Yang menamanyakan siapa ??
Wah, kalau ada yang mendengar di acara itu sharing dong. Saya mah tidak masalah ada pernyataan matahari mengelilingi bumi sebab dari sudut pandang manusia iya betul. Tapi bayangkan jika kita melihat seolah2 kita malaikat or superman deh….Lalu kita amati dari jauh. Apa yang terjadi ???
July 8th, 2006 09:13
Syaiba - saya kutipkan ucapan syaikh Utsaimin :
July 8th, 2006 09:32
Mengenai evolusi, kenapa kita musti meniru George Bush ?
“You’re either with us, or against us”
– GW Bush, 6 Nov 2001
Kenapa harus evolusi ATAU non-evolusi ?
Kenapa tidak mungkin bahwa kedua-duanya sama-sama terjadi…. ?
Contoh: dari hasil penelitian disini diperkirakan bahwa manusia zaman sekarang ini berasal dari nenek moyang yang hidup 6000 tahun yang lalu.
Karena itu, tentunya berbeda dengan manusia-manusia sebelumnya, yang fosilnya telah diteliti dan ada yang telah hidup sejak jutaan tahun yang lalu.
Dan ini cocok dengan sebuah ayat di surat Al-Baqarah, dimana malaikat “memprotes” Allah swt — kenapa Allah akan menciptakan (lagi) makhluk yang hanya akan merusak dan saling membunuh ?
Jadi, bisa saja evolusi memang ada, namun manusia di zaman sekarang bukan berasal dari manusia yang dulu.
Sehingga jadilah teka-teki jigsaw puzzle kehidupan ini selesai - evolusi memang betul ada, manusia zaman sekarang memang betul berasal dari Adam as, dan memang telah ada manusia sebelum yang sekarang ini.
Kenapa tidak bisa ditafsirkan seperti itu ?
Kenapa tafsir Quran harus dilakukan dengan semangat bermusuhan (terhadap Darwin pada kasus ini) dan dengan wawasan yang sempit / tidak mempertimbangkan semua kemungkinan ? Padahal kalau begini, tentu akan cenderung menghasilkan penafsiran yang bias dan tidak akurat….
July 8th, 2006 13:41
Kang Harry, teori evolusi itu mustahil. Sebab bila ada maka makhluk yang sebelum berevolusi itu telah musnah. Contohnya Misalnya, Kucing. Kucing tuh dulu evolusi dari macan…(misal saja :). Tapi ternyata macan itu sampai sekarang masih ada. Nah, kok bisa ? Padahal seharusnya macan itu telah punah. Kucing juga masih ada. Dan yang paling tidak masuk akal di teori darwin itu adalah ‘teori kebetulan’. Dia mengingkari penciptaanjadinya kan?.
Ada penemuan ikan coelantarata (baca di kompas kalo ga salah) yang dulu diperkirakan telah musnah dari fosil yang ditemukan dan diperkirakan berumur/ hidup jutaaan tahun yang lalu. Ternyata belakangan ikan itu di temukan hidup di sulawesi (kalau ga salah).
Kalau tentang malaikat mempertanyakan penciptaan manusia tidak bisa membuktikan bahwa yang dipertanyakan malaikat itu manusia evolusi sebelum manusia sekarang.
[b]Nih kutipan masalah Darwin di http://www.syariah-online.com/b
Baca Teori Darwin : Was-was Dalam Iman = Benarkah Allah Ada ?
saya mengalami was-was dalam iman,dalam diri saya selau bertanya-tanya bahwa Allh itu tidak ada,tetapi saya percaya bahwaaa Allh itu ada .hal ini akibat dari saya membaca teori darwin. saya tidak tahu apakah ini betul-betul dari isi hati aku atau hanya bisikan syetan. dan apakah ini sudah menggugurkan aqidah saya.
Fajrien
Jl.p.antasari.gg 8 Rt 57 Blok A
2004-01-14 13:29:29
Jawaban:
Assalamu `alaikum Wr. Wb.
Al-Hamdulillahi Rabbil `Alamin, Washshalatu Wassalamu `Alaa Sayyidil Mursalin, Wa `Alaa `Aalihi Waashabihi Ajma`in, Wa Ba`d
Tepat sekali bahwa semua itu adalah bisikan syetan yang bersembunyi di balik teori Darwin. Sudah banyak koban orang yang menjadi komunis dan atheis gara-gara teori usang yang sebenarnya sudah tumbang sejak dulu.
Hanya karena kurangnya informasi dan kebanyakan doktrin sesat, begitu banyak para pemuja ilmuwan barat yang hari ini masih saja terkagum-kagum dengan teori pak Darwin.
Yang paling jelas di depan mata adalah kebohongan publik tentang teori evolusi Darwin yang ternyata bohong belaka. Hampir semua penemuan fosil tentang manusia purba menunjukkan bahwa ada sejuta kebohongan yang secara sistematis ditutupi oleh mereka sekedar untuk memenangkan teori Darwin itu. Dan hari ini, sedikit demi sedikit terungkaplah kebohongan itu di mata publik.
Dan kalangan evolusionis itu harus menanggung malu berkepanjangan atas semua kebohongan yang mereka lakukan. Dan semua terjadi akibat kita terlalu percaya dengan klaim-klaim yang mereka rilis, padahal kejujuran orang barat itu sangat tipis dan antara jujur dengan bohong hanya dibatasi oleh sebuah garis tipis saja.
Hari ini, hampir semua fakta ilmiyah yang selama ini mereka dengungkan terungkap kebohongannya. Bukan oleh kalangan muslim, namun oleh kalangan mereka sendiri yang tidak tahan atas kebohongan publik yang memalukan itu.
Hadaanallahu Wa Iyyakum Ajma`in, Wallahu A`lam Bish-shawab,
Wassalamu `Alaikum Warahmatullahi Wa Barakatuh.
July 8th, 2006 21:45
Yang paling jelas di depan mata adalah kebohongan publik tentang teori evolusi Darwin yang ternyata bohong belaka. Hampir semua penemuan fosil tentang manusia purba menunjukkan bahwa ada sejuta kebohongan yang secara sistematis ditutupi oleh mereka sekedar untuk memenangkan teori Darwin itu. Dan hari ini, sedikit demi sedikit terungkaplah kebohongan itu di mata publik
==>Ada yg bs nunjukin bukti scientific and logically accepted by science
against evolution ?
klo gak, kpaksa dunks kudu nrima klo itu msh terbukti benar
July 9th, 2006 06:05
Sayangnya, umat Islam belum apa2 sudah dicekoki dg kampanye kreasionisme ala Harun Yahya sehingga tidak mau lagi mempelajarinya scr lebih mendalam. Padahal, kalau kita mau sedikit keluar dari “tempurung” Harun Yahya, dan kemudian membaca buku2 yg lebih ilmiah, kita baru bisa sadar kalau teori evolusi masih kokoh. Sama sekali belum runtuh.
Satu contoh “favorit” Harun Yahya (dan juga faham kreasionis lain) adalah mata. “Lihatlah mata kita. Begitu sempurnanya. Pastilah ia tercipta secara seketika. Mustahil muncul melalui proses evolusi.” Kenyataannya, sains modern telah membuktikan kalau saraf mata menjulur dari belakang ke depan. Ini sama sekali bertentangan apa yg harusnya terjadi pada sistem yg tercipta begitu saja dari rancangan cerdas. Jelas mata pun mencapai bentuknya yg sekarang melalui proses “trial and error”. Apa itu namanya kalau bukan evolusi?
Daripada terus2an seperti katak dalam tempurung Harun Yahya, cobalah keluar dan baca buku2 ttg biologi, genetika, dsb. Yg bagus dan sudah diterjemahkan dlm bahasa Indonesia misalnya Genom-nya Matt Ridley, atau River Out of Eden-nya Richard Dawkins. Di Virus of The Mind-nya Richard Brodie juga ada disinggung ttg evolusi. Harun Yahya bukanlah ahli biologi, jadi pandangan beliau ttg evolusi harunya cukup dianggap sbg opini, bukan fakta.
July 10th, 2006 08:29
kucing - poinnya saya di komentar terdahulu adalah, tentang evolusi bukan cuma ada 2 kemungkinan.
Bukan cuma evolusi ATAU tidak evolusi. Ada kemungkinan lainnya, yaitu evolusi DAN tidak evolusi.
Silahkan baca lagi komentar saya tsb baik-baik, trims.
July 11th, 2006 07:40
bagi saya
bumi mengelilingi matahari… terlalu naif!
Teori Darwin.. satu yang saya yakini “Dia” hanya menciptakan permulaan dan mengkakhiri. “Dia” menciptakan aturan dan membiarkan semua berjalan normal. “Dia” hanya turun ketika perlu.
Wassalam.
July 11th, 2006 18:03
Syaiba:
Jika bumi dianggap diam tidak berputar pada porosnya maka asumsi atau teori matahari mengelilingi bumi akan menghasilkan matahari terbit dan terbenam dalam jangka 6 bulan. Jelas tidak logis, karena faktanya dalam sehari matahari terbit dan terbenam.
Matahari seolah-olah mengelilingi bumi karena bumi berputar pada porosnya sehingga menghasilkan gejala alam ‘matahari terbit dan terbenam setiap harinya.’
July 11th, 2006 18:19
Assalamualaikum…
saudaraku sesama muslim…khususnya para salafiyun…
tanpa maksud merendahkan Anda semua…karena saya juga meyakini golongan yang selamat adalah golongan yang mengikuti sunah Rasul dan sahabat…
saya ingin bertanya…
tolong jawab dengan jujur ya…
Apakah anda sanggup membuat teknologi canggih seperti pesawat terbang atau komputer atau melakukan bedah operasi kedokteran?
mohon jawab jujur dari hati yang paling dalam ya…
jika ya, siapa? berapa banyak? di mana? apa produknya? dan apakah ilmu membuat pesawat terbang itu dirinci di Al-Quran?
jika tidak, maka takutlah kepada Allah jika kalian dengan mudahnya meremehkan pendapat orang lain karena penafsiran kalian terhadap Al-Quran dan As-Sunnah…
Akan tetapi jika memang Al-Quran mengatakan sesuatu yang pasti tentang wajibnya solat atau puasa maka kalian harus membantah orang yang menentangnya karena jelas maknanya…
tapi ingat kalau tafsir itu bisa berbeda-beda artinya jangan terlalu
merasa paling benar…
coba renungi apakah anda memang berkecimpung di dunia ilmu pengetahuan dan teknologi…selama ini…?
jika tidak, maka bersikaplah adil dan bijak
apakah kalian pernah membuat sesuatu yang semisal pesawat terbang saja, dan jika kalian membuatnya tanpa percobaan ilmiah apakah kalian tidak takut nanti pesawatnya jatuh? ini ilustrasi saja…agar kita lebih bersikap adil walaupun terhadap orang kafir…
jangan karena alasan kafir kita langsung berkata mereka semua orang kafir pendusta…ingatlah sikap Rasulullah terhadap mereka… kapan perjanjian tetap dijaga dan kapan tidak…
saya harap anda Hanan jangan menuduh apalagi jika ilmu pengetahuan dan teknologi anda tidak memadai…memangnya Anda pikir Al-Quran dan As-Sunah merinci semua permasalahan? Ada masalah yang tidak dibahas dengan rinci…jika Allah menulis ilmuNya niscaya tidak cukup semua air laut dijadikan tinta dan pohon sebagai kertasnya…
harap dijawab pertanyaan diatas dengan sejujur-jujurnya ya…jika ada yang ingin didiskusikan silahkan email saya habibrown@yahoo.com
July 11th, 2006 18:41
mohon jangan bilang mengikuti Al-Quran dan As-sunah jika kenyataannya masih mengedepankan logika
July 12th, 2006 06:00
emang kebenaran itu relatif ya (bingung sambil mikir..)
kebenaran ya kebenaran
kebenaran itu jelas
ya cuma satu
July 12th, 2006 09:59
kebenaran
dan
apa yg kita anggap kebenaran
July 12th, 2006 15:43
Hm…
Saya percaya Islam adalah agama yang benar. Agama yang akan membawa kebaikan bagi umat manusia.
Masalah Matahari mengelilingi Bumi, saya tidak percaya dan saya rasa pendapat ini tidak benar. Setidaknya saya sekarang hidup di jaman yang bisa membuktikan bahwa hal itu adalah salah, apakah hal ini akan paten atau tidak, saya tidak tahu, karena saya pasti akan mati satu saat.
Hanya sayang saya tidak setuju dengan pendapat teman Zaid, yang mengatakan “mohon jangan bilang mengikuti Al-Quran dan As-sunah jika kenyataannya masih mengedepankan logika”
Hm… justru saya berpendapat sebaliknya. “Katakanlah anda mengikuti Al-Qur’an dan As-Sunah jika semuanya telah masuk logika”.
Islam itu adalah agama untuk orang yang berfikir. Yang namanya berfikir, tentu akan timbul banyak sekali pertanyaan2 yang keluar, kontroversi dan lain sebagainya. Tapi disitulah keteguhan iman kita di uji. Kita tidak bisa percaya karena percaya, tetapi harus berdasarkan pengalaman spiritual, pemikiran yang jernih dll yang membuat keteguhan iman kita semakin kuat.
Justru saya beranggapan yang membuat Islam lemah adalah orang2 Islam yang percaya karena ya percaya saja.
Allahu Akbar.
Sungguh Allah Maha Besar
Sungguh engkau telah memberikan kenikmatan yang sangat luar biasa kepada kami.
Nikmat Berfikir
Nikmat Hidup
dan berbagai nikmat lainnya, terutama Nikmat Islam.
Alhamdulillah…
Allahu Akbar
July 12th, 2006 18:04
Mas Harry,
1. Dari buku apa kutipan ucapan Syekh Utsaimin itu diambil? Kok beda dengan yang saya baca?
2. Soal Evolusi, saya sama sekali tidak membatasi pilihan kemungkinannya pada salah satu dari Evolusi dan bukan-Evolusi. Antum menyimpulkan dari mana saya begitu? Saya bahkan tidak mempertentangkan Evolusi dengan Kreasi. Skenario Evolusi maupun Skenario Penciptaan Terpisah, dua-duanya jelas melalui mekanisme “penciptaan”. Hanya orang bodohlah yang menyakini bahwa makhluk-makhluk hidup ini “menciptakan dirinya sendiri” atau “tercipta tanpa sadar dari ketiadaan”. Atheisme ini tahayul mutlak.
Yang saya singgung adalah bahwa Teori Evolusi itu sampai saat ini masih berada dalam wilayah hipotesa, asumsi, dan kepercayaan. Belum menemukan bukti apa-apa. Kenapa? Sebab teori ini memang tidak bisa difalsifikasi secara saintis. Jadi hanya sekedar dipercayai.
July 13th, 2006 07:15
kalau angkasa hanya ratusan juta kilometer saja, bagaimana dengan bukti2 dari foto2 teleskop canggih bahwa di alam semesta ini ada milyaran galaksi dimana tiap galaksinya berdiameter jutaan TAHUN CAHAYA? apakah perhitungan ilmuwan kafir ttg hal ini juga bohong atau keliru ???
July 14th, 2006 03:08
syaiba - (1) ucapan itu saya kutip dari situs Salafi di Yogya (CMIIW), dan sudah di link di komentar saya tersebut.
(2) Anda benar, atribusi tersebut keliru disandarkan kepada komentar Anda. Setelah saya ingat-ingat kembali, ternyata ketika itu saya baru saja membaca beberapa artikel mengenai creationism. Soal tersebut nampaknya tercampur ketika sedang me-reply komentar Anda. Mohon maaf, komentar saya ybs sudah saya koreksi.
Terimakasih untuk klarifikasinya.
July 17th, 2006 05:38
# sholeh Says:
July 13th, 2006 at 7:15
kalau angkasa hanya ratusan juta kilometer saja, bagaimana dengan bukti2 dari foto2 teleskop canggih bahwa di alam semesta ini ada milyaran galaksi dimana tiap galaksinya berdiameter jutaan TAHUN CAHAYA? apakah perhitungan ilmuwan kafir ttg hal ini juga bohong atau keliru ???
#
ini pernyataan untuk siapa?
Setahu saya yang berpendapat begitu adalah orang-orang Kristen
Bukan orang Islam
July 17th, 2006 05:42
Apa maksud dari pertanyaan ini?
Saya tidak paham.
Sejak kapan orang-orang Salafiyyun menngatakan bahwa Al-Quran menjelaskan secara rinci pembuatan pesawat terbang?
July 17th, 2006 06:36
Laaillahaillaallah
July 18th, 2006 12:56
Berikut ini adalah review dari ech mengenai buku matahari mengelilingi bumi.
July 19th, 2006 03:21
Saya tidak terlalu risau dengan “teori” penulis yang awam dengan topik yang ditulisnya, sama halnya saya tidak terlalu risau dengan “teori” menentang Teori Evolusi dari Harun Yahya yang juga awam untuk topik teori evolusi sesungguhnya dalam sains (Teori Evolusi secara awam hanyalah “manusia hasil evolusi dari monyet”, aspek yang tidak secara eksplisit dibahas dalam teori evolusi sesungguhnya). Berargumentasi dengan mereka juga susah karena kerangka pijakannya berbeda. Mereka punya pijakan sendiri, yang berbeda dari sains. Termasuk ada dikhotomi “kafir” versus “Muslim”, padahal dalam sains tidak mungkin ada dikhotomi. Sains yang berlaku hanya untuk Muslim, bukanlah sains. Demikian juga sains yang hanya berlaku untuk kafir, juga bukan sains. Sub judul “kepastian al-Qur’an dan as-Sunnah serta Bantahan terhadap teori bumi mengelilingi matahari” saya pandang sekadar penarik agar orang penasaran, walau pembaca yang cermat akan kecewa karena tidak adanya kepastian ayat-ayat atau hadits yang secara eksplisit menyebutkan matahari mengelilingi bumi. Semuanya kembali kepada penafsiran. Untuk menilai penafsiran, kita harus tahu latar belakang penulisnya. Ahli bahasa Arab dan ilmu Al-Quran dan Hadits, belum tentu ahli dalam aspek fisik fenomena alam yang ditafsirkan dari ayat atau hadits tersebut. Bagi saya, biarlah buku “Matahari Mengelilingi Bumi” itu dianggap tafsir bahasa, bukan tafsir fenomena alamnya. Terlalu banyak fakta sains yang harus ditunjukkan untuk membantahnya.
Berikut ini satu paragraf kata pengantar saya dalam buku yang saya tulis “Menjelajah Keluasan Langit Menembus Kedalaman AlQuran” (Penerbit Khazanah, Grup Percikan Iman, Bandung 2006 — Kalau berminat, tersedia juga di Gramedia):
“Tulisan-tulisan saya yang terserak sebagai artikel lepas, ingin mengajak masyarakat untuk mendudukkan sains pada tempatnya, terutama untuk mengungkap berbagai fenomena alam. Mengkaji sains atau bahkan mengkritiknya juga harus dengan perangkat sains. Tidak bisa sains dibantah dengan ilmu lain, misalnya sosiologi atau filsafat, termasuk juga dengan penafsiran yang mengatasnamakan kebenaran hakiki ayat-ayat Al-Quran. Pada tulisan-tulisan saya, ayat-ayat Al-Quran juga ingin ditempatkan pada posisi seharusnya sebagai sumber kebenaran mutlak yang harus dibedakan dari penafsiran yang kebenarannya relatif. Kalau pun ada kecocokan antara pemahaman sains dan penafsiran Al-Quran, hal itu harus dianggap sekadar isyarat Allah dalam menunjukkan kebenaran Al-Quran, bukan sebagai bukti kecocokan Al-Quran dengan suatu teori sains.”
July 19th, 2006 06:14
Mas Harry,
1. betul itu dari situs Salafi Yogya. Tapi sayangnya antum justru memangkas kalimat-kalimat penting Syaikh Utsaimin yang menjelaskan background epistemologi beliau mengapa beliau berpendapat demikian. al:
Jelas, beliau memilih pendapat pertama (yang lebih dekat dengan dhohirul Quran), sebab informasi mengenai revolusi bumi terhadap matahari atau inti massa tata surya, belum sampai ke beliau dengan meyakinkan.
2. Ya. Ngga papa. Yang jelas sebaiknya Antum jangan buru-buru menilai orang hanya dari bayangan orang lain.
Mengenai pertanyaan Malaikat (bukan protes) terhadap Allah tentang penciptaan khalifah di buma bumi, silakan baca dulu buku-buku tafsir..
July 19th, 2006 06:41
Syaiba - terimakasih sekali lagi atas waktu & usaha yang sudah Anda luangkan untuk klarifikasinya.
Satu baris kecil itu terlewat oleh saya ketika sedang membaca fatwa beliau : “…dia termasuk perkara yang tidak ditetapkan atau ditolak oleh al-Qur’an dan as-Sunnah”
Sepertinya, dengan menilik konteks Syaikh Utsaimin tersebut (belum sampainya informasi yang lengkap kepada beliau), maka bisa dimengerti kenapa beliau sampai memfatwakan demikian.
Saya tetap menyayangkan kenapa informasi yang sudah sangat sedemikian lazimnya (bumi mengelilingi matahari) bisa tidak sampai kepada beliau.
Tapi saya coba berbaik sangka saja, dan dengan konteks demikian maka beliau memang insyaAllah sudah pada posisi yang benar (walaupun fatwanya keliru), dan mudah-mudahan termasuk dalam mujtahid yang disebutkan dalam hadits Rasulullah saw.
Memang sekarang jadi muncul pertanyaan baru - kenapa penulis buku ini tidak lebih kritis, dan cuma mengambil mentah-mentah saja; sehingga jadi turut keliru.
Mudah-mudahan suatu saat penulisnya bisa turut mengklarifikasi kepada kita semua.
Oh ya, Pak T.Djamaluddin yang berkomentar sebelum Anda adalah salah seorang ahli falak / astronomi muslim Indonesia. Jika ada yang ingin berdiskusi mengenai hal ini (bumi/matahari), saya kira beliau akan dengan senang hati bersedia menjadi salah satu nara sumber.
Atau jika ada yang tahu informasi kontak penulis buku ini, maka saya akan coba bantu mengkontakkan kedua belah pihak.
Terimakasih.
July 20th, 2006 07:58
Sama-sama, Mas Harry. Saya sebenarnya ingin berdiskusi lebih erat dengan Mas Harry tentang banyak hal, terutama tentang tema-tema Sains yang terkait dengan Islam. Mungkin nanti lewat japri. BTW, saya pingin tahu nih, Mas Harry sekarang mahasiswa/apa? di mana?
Soal fatwa Syekh Utsaimin, memang itu lahir dari kurangnya informasi tentang bukti-bukti astronomis. Tapi ini sangat bisa dimaklumi. Kalau tidak salah, fatwa ini adalah jawaban spontan untuk pertanyaan spontan yang tidak dipersiapkan terlebih dahulu (Jadi bukan hasil kajian). Dan itupun disampaikan di masa tua beliau, di mana sebelumnya beliau memang tidak terlalu mendalami detail-detail astronomi berikut argumen-argumen dari teori-teorinya.
Kekurangan ini wajar, sebab memang dalil-dalil astronomis untuk “Bumi mengelilingi Matahari” memang tidak sejelas dalil-dalil untuk “bulatnya bumi”. Dalil-dalilnya hanya diketahui oleh orang-orang yang mendalami astronomi. Yang diketahui oleh para murid di sekolah-sekolah umumnya hanyalah “konsepsi teori yang sudah jadi”, bukan argumentasinya.
Kalau untuk “bumi bulat”, ini sudah menjadi Ijma’ sejak zaman Para Sahabat, sebagaimana dijelaskan oleh Ibnu Taimiyyah dan Ibnu Katsir rh.
Setehu saya, murid-murid Syekh Utsaimin sendiri (dan mayoritas ulama dan cendekiawan muda salafi di Timur Tengah) justru berpandangan beda dengan fatwa Syekh. Mereka sudah ramai mengkaji dan mendiskusikannya sejak dulu. Silakan ikuti pembahasannya di sini:
http://www.ahlalhdeeth.com/vb/showthread.php?t=72769
http://www.ahlalhdeeth.com/vb/showthread.php?t=72769&page=2
di sini:
http://www.islamweb.net/ver2/Fatwa/ShowFatwa.php?lang=A&Id=60279&Option=FatwaId
http://www.islamweb.net/ver2/Fatwa/ShowFatwa.php?lang=A&Id=12870&Option=FatwaId
di sini:
http://www.ahlalthar.com/vb/showthread.php?t=1422
di sini:
http://www.ahlalhdeeth.com/vb/showthread.php?t=76798
http://www.ahlalhdeeth.com/vb/showthread.php?t=19691
http://www.ahlalhdeeth.com/vb/showthread.php?t=61775
http://www.ahlalhdeeth.com/vb/showthread.php?t=29780
yang ini:
http://arabconteng.host.sk/egypt_falak.rar
dan lebih ramenya di sini:
http://www.ahlalhdeeth.com/vb/showthread.php?t=3794
http://www.ahlalhdeeth.com/vb/showthread.php?t=3794&page=2
http://www.ahlalhdeeth.com/vb/showthread.php?t=3794&page=3
http://www.ahlalhdeeth.com/vb/showthread.php?t=3794&page=4
Salam hormat untuk Pak Thomas. Saya tertarik dengan yang Bapak tulis soal Evolusi. Saya rasa perlu diketahui bahwa penolakan untuk Teori dan Skenario Evolusi Makhluk Hidup tidak hanya berpijak pada apa-apa yang disampaikan oleh Harun Yahya. Tidak juga hanya berangkat dari pertentangan Atheisme vs Theisme atau Kebetulan vs Kreasi. Problemnya jauh lebih kompleks dari hal-hal awam tersebut. Problemnya bukan hanya di “Manusia berasal dari Kera” tapi lebih terfokus pada “Spesiasi dan diversifikasi yang tanpa batas”.
July 21st, 2006 04:47
Syaiba - saya saat ini sedang berwirausaha di Jakarta. Anda kelihatannya sedang berdomisili di Mesir ya ?
Anyway, mudah-mudahan di masa depan, bisa terjalin kerjasama yang sangat erat antara ahli agama dengan para pakar sains. Tidak seperti sekarang ini, dimana seringkali agama & dunia seperti 2 hal yang terpisahkan sama sekali. Malah kadang terkesan seperti minyak & air, tidak kompatibel.
Trims.
July 22nd, 2006 09:20
Hmm, akhirnya saya ikutan juga “mengulas” buku ajaib ini.
Silahkan lihat di sini
July 23rd, 2006 09:06
Wah, sangat menarik melihat diskusi di blog ini. Namun jangan sampe hanya karena tema ini kita malah saling menghujat, dan terpecah - pecah lho. Toh, ini bukan permasalahan akidah, di mana apabila kita percaya bumi mengitari matahari atau sebaliknya, bukanlah penentu kita masuk surga atau tidak. Namun, apabila hanya karena ini kita jadi saling menghujat dll justru gak ada untungnya bagi kita.
Lagipula jika meyakini sesuatu terkait ilmu pengetahuan jangan terlalu dalam (taqlid) dari segi tafsir ataupun teori ilmiah karena ilmu pengetahuan kan analisa dari manusia (termasuk tafsir itu kan analisa manusia, yang absolut kan kitabnya) di mana manusia seringkali mengalami kesalahan. Dan masalah terbesar umat islam indonesia saat ini menurut salah seorang ustad yang pernah saya dengar dan menurut saya sangat masuk akal adalah kurangnya ukhuwah. Kita cepat sekali ribut hanya gara2 hal yang sepele. Seperti disebutkan di postingan sebelumnya kan kalangan imam madzhab salafus shalih seperti Imam Syafi’i, Imam Ahmad, dan lain2 sangat toleran untuk menghargai perbedaan pendapat selama itu tidak terpaut dengan urusan akidah.
Jadi jangan jadikan sains sebagai jalan perpecahan bagi kita. Saya sendiri sejauh ini menggunakan teori yang bumi mengelilingi matahari karena kebetulan saya mendalami fisika walaupun masih pemula. Namun, saya cukup respek dengan pendapat lain. Pernah sih sebelumnya saya posting di milis astrotomi agak pedas waktu itu ketika mengetahui pendapat buku “Matahari Mengelilingi Bumi” ini. Tapi, setelah dipikir2 rasanya saya jadi terlalu arogan kalau seperti itu. Bukankah kita bebas untuk berpendapat ?
Saya salut nih dengan Mas Harry yang membuka diskusi ini dan mengemukakan pendapat tapi mungkin mengatakan secara eksplisit bahwa pendapat itu ngawur kurang pas juga kayaknya. Kalaupun memang benar demikian, kan gak perlu diekspos sehingga saudara kita yang lain yang sependapat dengan buku tersebut jadi cukup tersinggung. Cukup dengan saling menyuguhkan alasan dan fakta yang kita ketahui rasanya sudah cukup membuat diskusi ini jadi penuh dengan respons.
Dan mempertemukan ilmuwan dengan ulama itu saya rasa ide yang sangat bagus, sehingga kita harapkan hasilnya dapat memberi kepuasan bagi semua pihak. Siapa nih yang siap menyelenggarakan ? Hehe kalau saya belum mampu juga dari banyak segi.
O ya saya belum menyampaikan pendapat saya nih tentang tema ini. Menurut saya sendiri, gak jauh beda dengan beberapa postingan di atas, saya cukup setuju dengan bumi dan matahari sama2 mengelilingi pusat massa keduanya. So, gak ada yang salah dari kita apabila kita mengambil acuan titik mana aja sebagai gerak relatif asal tetap meyakini bahwa keduanya bukanlah acuan absolut.
Lagipula ayat2 Al - Qur’an setahu saya belum ada yang secara eksplisit menyatakan matahai mengelilingi bumi. Maaf kalo salah nih. Kalaupun ada kecenderungan demikian, bukankah Al - Qur’an diturunkan kepada manusia di mana manusia biasanya kan mengambil acuan bumi. Toh, Al - Qur’an tidak secara eksplisit mengatakan bahwa bumi itu diam, lagi2 setahu saya.
O ya saya juga ngeliat ke websitenya Bung Yan, yang tentang bumi dihamparkan menurut Al - Qur’an itu saya pernah diberi tahu pula tentang hal ini oleh guru agama islam sma saya.Mungkin agak sedikit keluar topik tapi saya ingin sampaikan karena hal ini cukup menarik. Kebetulan guru tersebut seorang ustad yang banyak membaca buku ilmiah sehingga pendapatnya cukup masuk akal dan mudah diterima. Beliau memberi analogi begini, jika selimut bumi dihitung kelilingnya bukankah didapatkan hasil sekitar hampir 40000 km. Kita tahu puncak tertinggi di bumi sekitar 9 km. Kita analgikan saja keliling bumi dengan sebuah permadani sepanjang 4 m maka kita dapatkan puncak itu teranalogi dengan semacam gundukan setinggi hanya 0,09 cm kalau saya tidak salah hitung. Bukankah dengan perbandingan seperti itu bisa dibilang bumi ini sebuah hamparan karena reliefnya sangat lebih kecil dibanding bentangan alamnya sendiri sehingga sangat pas disebut sebagai hamparan. Saya rasa hamparan itu tidak selalu menyatakan sebuah bidang datar. Tapi mungkin rekan2 yang lebih paham matematika bisa memberi pendapat akan hal ini. Tentang apakah bidang lengkung berupa bola juga bisa disebut hamparan.
Wallahu A’lam Bis Shawab.
July 24th, 2006 10:41
Betul, Mas Harry… Saya tinggal di Mesir. Masih mahasiswa.
O.. ternyata Mas Harry ini orang IT ya..
Kami sedang nyari aplikasi pengelolaan perpustakaan (Pendataan dan Pelayanan Pemimjaman), tapi cari-cari ke pasaran ngga dapat-dapat. Searching di internet pun ngga ada yang cocok. Bisa bantu?
July 26th, 2006 05:26
Syaiba - saya sendiri belum pernah menggunakan, tapi ada yang mungkin bisa dicoba dan gratis :
[ emilda ]
Beberapa informasi tambahan:
[ beberapa perbandingan ]
[ open source systems for libraries ]
Semoga membantu.
July 29th, 2006 22:27
Syukron, Mas Hary.. akan saya coba-coba
July 30th, 2006 04:33
Tolong… jangan permalukan Islam…. please deh
July 30th, 2006 05:02
Ass.wr.wb.
kasus ini sebenarnya hanya satu dari banyak kesalahan tafsir/
pemahaman dari aliran Salafy (Wahhabi). Kebetulan kali ini subjectnya menyinggung sains, sehingga bisa di-crosscheck oleh masyarakat luas. Tapi tetap khas Salafy:
1. Amat yaqin dirinya paling benar
2. Agresif thd orang-2 di luar pemahaman mereka, bahkan mereka paling gemar memberi predikat orang lain sebagai “sesat”, “syirik”, “kafir”, “ahli bid’ah”.
Sungguh mereka ini berbahaya, terutamanya justru ketika mereka bicara masalah agama (yg katanya mereka ahlinya).
Saat ini kondisinya cukup mengerikan buku-2 dari kalangan aliran ini membanjiri toko-2 buku. Ada baiknya kita mengetahui sejarah dan pemikiran kelompok ini. Sudah banyak orang-2 baik-2 yang terzhalimi.
http://blogs.cjb.net/salafy
Wassalam.
http://blogs.cjb.net/salafy/66609/
DEWAN HA’IAH KIBAR AL ULAMA
Dewan Ha’iah Kibar Al-Ulama dan Al-Buhuts Al-iLmiyah wa Ifta’ wa
Ad-Da’wah wa Al-Irsyad yang kamu bangga2kan itu anggotanya hanya para
“koki” tanpa resep. Para “koki” yang pada hakikatnya hanyalah “tukang
sayur”. Para “tukang sayur” ini memang mengetahui beragam jenis sayur
mayur, ikan, dan bawang, tetapi tidak pernah belajar menjadi “koki”
dan menganggap tidak ada gunanya mempelajari apa yang ditulis oleh
para ‘koki”. Kini mereka menggusur para “koki”, dan mulai menyajikan
bahan-bahan mentah tanpa diolah untuk sarapan hingga makan malam.