Archive for January 9th, 2006

Al-Quran tertua di dunia ditemukan di Tashkent

Al-Quran tertua di dunia ternyata selama ini berada di Tashkent, Uzbekistan. Masya Allah.

Di mushaf ini ada percikan darah, dan diperkirakan adalah milik khalifah Utsman bin Affan ra, yang sedang dibaca beliau ketika beliau dibunuh oleh orang fasik. (setelah itu umat Islam terpecah menjadi golongan Sunni & Syiah, dan tidak pernah bersatu lagi sampai sekarang)

Beberapa kutipan:


“In an obscure corner of the Uzbek capital, Tashkent, lies one of Islam’s most sacred relics – the world’s oldest Koran.”

“The Mufti of Uzbekistan, the country’s highest religious leader, has his offices there, in the courtyard of an old madrassa.
Just across the road stands a non-descript mosque and the equally unremarkable Mui-Mubarak, or “Sacred Hair”, madrassa, which houses a rarely seen hair of the Muslim Prophet Muhammad, as well as one of Central Asia’s most important collections of historical works.
“There are approximately 20,000 books and 3000 manuscripts in this library,” said Ikram Akhmedov, a young assistant in the mufti’s office.”

“To prevent disputes about which verses should be considered divinely inspired, Othman had this definitive version compiled. It was completed in the year 651, only 19 years after Muhammad’s death.”

“It is said that Caliph Othman made five copies of the original Koran. A partial Koran now in the Topkapi Palace in Istanbul is said to be another of these original copies.”

“The story of how the Othman Koran came to Tashkent is a remarkable one.
After Othman’s death it is believed it was taken by Caliph Ali to Kufa, in modern Iraq. Seven hundred years later, when the Central Asian conqueror, Tamerlane, laid waste to the region, he found the Koran and took it home to grace his splendid capital, Samarkand.
It stayed there for more than four centuries, until the Russians conquered Samarkand in the 1868. The Russian governor then sent the Othman Koran to St Petersburg where it was kept in the Imperial Library.
But after the Bolshevik revolution, Lenin was anxious to win over the Muslims of Russia and Central Asia. Initially he sent the Koran to Ufa in modern Baskortostan.
But finally, after repeated appeals from the Muslims of Tashkent, it was returned once more to Central Asia in 1924. It has remained in Tashkent ever since.”

Bijaksana dalam berdakwah

To: media-dakwah@egroups.com
Subject: Re: [media-dakwah] Bijaksana dalam berdakwah

On 13/13/2005 at 2:51 PM BK wrote:
>Bagaimana orang lain bisa mencerna, apa lagi senang kepada apa yang kita
>sampaikan, kalau menyampaikanya dengan Arogan.

Yah, baru ketemu juga yang model begini beberapa minggu yang lalu :-) ustadz tsb berkata, haram hukumnya wanita bekerja !!

Lalu ibu saya bertanya, pak ustadz ada punya pegawai wanita gak ?

Ustadz ybs, yang kebetulan juga pengusaha yang cukup besar, menjadi gelagapan.

Ustadz ini juga pada pertemuan pertama langsung berteriak rokok haram! ini haram! itu haram!
Saya sih mendengarkan saja, tapi beberapa orang lainnya yang baru sekali itu ikut pengajian langsung jadi antipati, dan bukannya simpati, dengan dakwahnya.

Yang beliau sampaikan memang benar adanya, tetapi cara menyampaikannya itu lho. Terlalu vulgar / kurang memperhatikan situasi.
Kita perlu lebih banyak lagi ustadz yang mampu bertindak bijaksana dalam menyikapi situasi umatnya; tanpa melanggar rambu-rambu agama.

Salam,
Harry

Menyikapi masalah ghaib

To: media-dakwah@egroups.com
Subject: Re: [media-dakwah] Menyikapi masalah ghaib

On 13/13/2005 at 8:44 PM RS wrote:
>® Saya termasuk yang selalu berusaha untuk merasionalkan segala sesuatu
>hal yang bersikap ghaib. Istri saya tidak pernah mengalami kejadian ghaib,
>bahkan tidak pernah tertarik untuk membicarakan atau menonton acara tv
>yang berbau ghaib.
>® Masalahnya sekarang saya mempunyai anak perempuan yang mengalami
>(menurut penuturannya) hal ghaib. Ketika sedang ke wc sekolah dia melihat
>sesosok makhluk dan sempat membebani dia dengan naik di pundak. Dia
>menceritakan kejadian tersebut pada istri saya dengan menangis dan menurut
>istri tidak mungkin dia mengatakan sesuatu yang bohong.
>® Hal tersebut membuat saya bingung bagaimana untuk bersikap. Prinsip saya
>menginginkan budaya tahayul tidak boleh ditumbuhkembangkan dalam keluarga
>saya. Tapi saya khawatir jika si anak akan berfikir bahwa kami sebagai
>orangtuanya tidak peduli dengan yang dialaminya.
>® Minta saran dari para pakar agama bagaimana cara yang tepat menyikapi
>hal begini agar sesuai dengan prinsip yang ingin saya tanamkan di dalam
>keluarga, yang tidak ingin keluarga menumbuhkembangkan suatu hal tahayul.
>Kita memang harus mempercayai bahwa ghaib itu ada, tapi kita tidak boleh
>menjadi takut karena Allah menciptakan manusia sebagai makhluk yang paling
>mulia.

Anak-anak saya, terutama yang paling tua, juga dulu sering mengalami masalah seperti ini.

Ini bukan takhayul :-) dan kejadian seperti ini tidaklah tidak rasional (alias rasional).

Kembali ke anak saya, kejadian tersebut saya manfaatkan; yaitu untuk membuat dia jadi rajin beribadah.
Saya katakan, bahwa cuma Allah yang bisa menolong kita. Jadi, kamu rajin2 sholat. Baca doa sebelum melakukan sesuatu. Untuk anak bapak, mungkin bisa diajarkan doa sebelum & sesudah masuk WC. Perbanyak tilawah quran.
Dan kita juga membantu dengan do’a.
InsyaAllah, Allah akan membantu kita.

Kalau ternyata masih berjalan terus, beritahu bahwa semua itu terjadi sudah dengan izin Allah, dan adalah ujian untuk kita. Jadi, anak Anda sebenarnya adalah anak yang spesial, karena masih kecil saja sudah demikian diperhatikan oleh Allah.
Seperti kita tahu, ujian/cobaan adalah cara Allah untuk membuat kita menjadi muslim yang lebih tinggi kualitasnya. Sepotong besi harus dibakar dan dipukuli dulu, sebelum akhirnya menjadi pedang yang sempurna.
Jadi tidak perlu takut menghadapi makhluk-makhluk tersebut.

Juga saya mendapatkan informasi bahwa jika makhluk tsb bisa sampai terlihat oleh kita, maka sebetulnya mereka melemah, dan jadi bisa kita sakiti (pukul, tusuk, dst).
Kelihatannya ini sebabnya Umar ra bisa sampai berkelahi dengan syaithan, dan Ibrahim as bisa melempari syaithan dengan batu (yang kemudian menjadi ritual haji).
Ini saya sampaikan kepada anak saya, dan dia jadi bersemangat sekali mendengar ini. Seingat saya, setelah itu, anak saya tidak lagi mengalami masalah gangguan.
(mohon konfirmasi dari yang lebih paham)

Kalau semua ikhtiar telah dicoba, dan/atau anak Anda merasa sangat tertekan karena kejadian ini, maka Anda bisa meminta tolong kepada orang shalih yang paham soal ghaib untuk membantu Anda.
Tapi saya pribadi cenderung menghindari ini, karena orang seperti ini (orang shalih yang paham soal ghaib) kelihatannya sangat sedikit jumlahnya; saya pribadi malah belum pernah menemukannya.
Lebih seringnya bertemu dengan penipu, yang justru berkongkalikong dengan para jin tsb.

Semoga dapat membantu Anda.

Salam,
Harry

Hacker Indonesia

Setelah beberapa bulan di Indonesia, saya semakin yakin bahwa kualitas SDM IT Indonesia ada yang tidak kalah dengan IT luar negeri. Hacker kita banyak yang punya potensi yang luar biasa.

Di Birmingham dulu saya dianggap “pakar” komputer oleh para kolega saya. Salah satu keluhan mereka pada saat ini adalah “if Harry’s still here, this will be done”, karena kini sayatidak lagi bekerja di Birmingham City Council.
Tapi, saya yakin bahwa sebetulnya banyak rekan-rekan saya di Indonesia yang jauh lebih ahli lagi daripada saya.

Dan saya gembira bahwa saya tidak keliru. Selama ini, sudah berkali-kali saya, yang katanya “pakar” ini, dibuat tercengang melihat keahlian beberapa kawan-kawan disini.

Dulu saya sempat mengira bahwa untuk menjadi pakar komputer, hanya dibutuhkan kemauan belajar & bekerja keras. Namun, seperti seni, kelihatannya juga diperlukan bakat (!), untuk dapat berhasil di bidang IT.
Apakah memang benar demikian? Tapi, rasanya tidak ada penjelasan lainnya lagi, bagaimana bisa ada orang yang mampu menguasai sekian banyak topik IT, dan menjadi pakar di setiap topik tersebut. The difference is simply too vast – I’m jack of all trades, but there are those who are actually master of all trades.

Sejak saya menyadari ini sekitar setahun atau dua tahun yang lalu, saya mulai menyesuaikan arah karir saya. Kalaupun saya akan kalah dari segi kemampuan teknis dan kecepatan belajar (yang mana sangat vital untuk bidang ini); paling tidak saya harus tetap mampu untuk beradaptasi dengan fakta ini.
Kini saya lebih memfokuskan diri ke topik project management dan kemampuan analisis; bagaimana mendesain solusi IT yang tepat untuk suatu masalah. Lalu juga bagaimana memposisikan diri menjadi contact person ke user; bagaimana mengkomunikasikan berbagai isyu IT ke user dengan bahasa yang mudah dimengerti, dan bagaimana mengkomunikasikan berbagai isyu dari user ke para staf IT.

Basically, Making IT Works.

Salah satu kekurangan dari beberapa rekan hacker kita tersebut adalah, walaupun mereka luar biasa ahli dari segi teknis, namun mereka kadang gagal melihat suatu hal dari perspektif user / end user. Karena ini, maka kadang solusi yang mereka buat sangat sempurna dari segi teknis, namun tidak bisa digunakan / tidak diminati oleh para user.
Atau, kadang solusi yang dihasilkan sangat rumit dan kompleks, sehingga tidak feasible untuk di-deploy & di-maintain dalam skala besar. Dst.

Customer / user hanya ingin agar infrastruktur IT mereka berjalan. Just Works. Mereka sama sekali tidak tertarik untuk mengetahui bagaimana kita telah me tuning server mereka habis-habisan, sehingga bisa melayani jutaan request per menit tanpa tersedak sama sekali. Mereka tidak ingin tahu bagaimana software yang kita develop telah di optimalisasi sehingga hanya memerlukan sangat sedikit memory untuk berjalan.
Mereka hanya ingin bisa mengerjakan pekerjaan mereka tanpa masalah.

Jika ada yang menjadi jembatan antara kedua kubu ini, customer & hacker, then we can get the best of both worlds. Customer produktif berkat sistem kita, dan dengan senang hati membayar mahal untuk itu. Hacker yang gembira karena kerjanya dihargai, dan hasil kerjanya semakin meningkat.
I think it’s a worthy goal.

Bagi mereka yang ingin berkarir di bidang IT – Anda tetap bisa berprestasi dengan modal kerja keras dan semangat belajar yang tinggi.
Namun, akan selalu ada orang-orang yang dapat melampaui Anda, tanpa perlu berusaha sekeras Anda. Ini adalah fakta.
Jadi, jangan patah semangat. Cobalah untuk beradaptasi dengan situasi tersebut.
Dengan demikian, maka Anda akan tetap bisa, atau malah jadi sukses, berkarir di bidang IT ini.

Bagi para hacker Indonesia – terus semangat dan berkarya. Semoga akan semakin banyak pihak yang dapat menghargai potensi Anda.

            








SEObox: Web Hosting Murah Unlimited Homeschooling Indonesia lead retrieval trade show registration