SEObox: Web Hosting Murah Unlimited Homeschooling Indonesia

Archive for January 20th, 2006

Dilema : Open atau Tidak ?

Saya selama beberapa bulan mendevelop sebuah software POS (Point Of Sales) untuk salah satu client saya. Kini, software tersebut sudah hampir selesai, tinggal menambah beberapa modul laporan dan beberapa penyesuaian fitur. Softwarenya sendiri sudah digunakan selama berbulan-bulan di sebuah minimarket tanpa masalah yang berarti.

Nah, tadinya saya punya ide untuk merilis software tersebut sebagai open-source.
Ide ini muncul karena melihat berbagai software POS yang ada :

1. Banyak fitur penting yang tidak ada:
Karena developernya biasanya tidak begitu paham workflow di bisnis retail, sehingga kadang fasilitas vital seperti computer-assistead Purchase Order saja tidak ada. Lalu ketika kita minta menambah fitur ini, developernya men charge mahal. Padahal, sebetulnya ini keuntungan bagi mereka, karena software mereka jadi lebih lengkap fiturnya.

2. Vendor lock-in :
software POS tersebut tidak memberikan source-code. Beberapa malah menuntut adanya dongle (seperti KeyPro, Sentinel, dll) - ini menambah masalah; contoh: KeyPro tidak kompatibel dengan Windows 200x/XP, dan vendornya sudah tidak memberikan tech.support lagi untuk produk ini.
Sehingga, jika ada fitur yang kurang (lihat poin #1 diatas), maka kita menjadi sandera vendor, dimana dia bisa menentukan harga yang diinginkannya.

3. Juga, selama ini saya sudah berkali-kali mendapat pertanyaan mengenai software POS dari para pengusaha UKM (Usaha Kecil Menengah). Mereka membutuhkan software POS, tetapi yang harganya terjangkau.

Karena itu, saya berencana untuk merilis software POS saya ini dengan lisensi GPL.

Namun, di suatu kesempatan saya sempat berbicara panjang lebar dengan seorang developer software POS. Disitu saya baru tahu kondisi kehidupannya, ternyata cukup mengenaskan.

Saya jadi tidak tega untuk merilis software POS saya ini dengan lisensi GPL, karena saya takut justru akan jadi mematikan orang-orang seperti beliau ini (developer POS freelance).
Memang niat saya adalah (antara lain) untuk membantu mereka yang membutuhkan namun tidak mampu, tapi saya yakin imbasnya juga akan terasa kepada para developer ini. Apalagi jika software POS saya tersebut jadi terkenal, bisa tamat riwayat mereka; karena software saya kebetulan lebih lengkap dari segi fitur, dan lebih bagus dari segi kualitas. Gratis lagi.

Jadi inilah (salah satu dari berbagai) dilema saya saat ini : Open atau Tidak ?
Saat ini, saya berkeputusan untuk tidak. Tapi jika Anda punya solusi yang bijak untuk kasus ini, do please feel free to let me know.

Kembali mengenai para developer tadi - ada satu kekurangan mereka, yaitu dari segi marketing & pricing.

Pada saat ini, cara marketing mereka adalah dengan cold calling - mereka datang langsung ke calon customer, dan menawarkan produk mereka. Ini sangat memakan waktu, yang sebetulnya bisa mereka pakai untuk menyempurnakan produk mereka.
Juga dari segi pricing, karena volume sales-nya rendah (dalam sebulan belum tentu laku), maka mereka terpaksa mematok harga tinggi, untuk menutup biaya hidup mereka. Ini justru jadi mengusir customer yang tertarik, karena harganya di luar jangkauan mereka.

Solusinya adalah dengan menurunkan harga ke batas yang terjangkau oleh banyak customer. Lalu agar pemasukan tidak menurun, karena penurunan harga tersebut, maka volume sales yang harus kita harus digenjot. Caranya adalah dengan memperluas jangkauan marketing mereka (dengan cara-cara marketing yang kreatif, namun tetap etis).
Untuk developer POS yang saya kontak tersebut, saya sudah menawarkan bantuan saya untuk hal ini.

Pada saat ini di milis teknologia@googlegroups.com juga sedang dibahas berbagai ide untuk meng-”ekspor” developer lokal Indonesia ke pasar luar negeri. Mudah-mudahan usaha ini bisa menjadi kenyataan, dan membawa manfaat bagi banyak orang.