Kasus Lia Eden : Disinformasi dari kubu JIL
“Cheap shot”, ini pikiran saya ketika membaca artikel dari Abdul Moqsith Ghazali tentang kasus Lia Eden — insiden Lia dimanfaatkan untuk menohok MUI.
Padahal kalau memang betul intelektual, tentunya akan sadar bahwa :
- Kewajiban MUI adalah membimbing umat, termasuk mengatakan mana yang benar, mana yang salah - menurut agama Islam.
- Kalau ternyata umat jadi main hakim sendiri, aneh sekali kalau solusinya adalah dengan melarang MUI melakukan kewajibannya.
Yang lebih tepat misalnya adalah melakukan kerja sama dengan MUI, untuk memperbaiki wawasan umat dalam beragama. - Tapi ini (kerjasama MUI - JIL) mungkin agak sulit dilakukan, jika dari pihak JIL sudah lebih dahulu mengatai MUI dengan kata-kata seperti “tolol”, atau “sesat”, dll. (padahal JIL justru protes ketika MUI mengatakan suatu kelompok sesat)
- Pada kasus ini, justru sudah terbukti bahwa bukan karena fatwa MUI. (karena, tidak ada pengepungan)
- Juga dalam kasus ini, justru Lia Eden yang mengancam membunuh pengurus mesjid
- Mengenai Ahmadiyyah, Rasulullah saw sendiri telah mengatakan bahwa “Sesungguhnya akan ada pada ummatku tiga puluh orang pembohong! Semuanya mengaku bahwa dirinya Nabi. Akulah penutup segala nabi. Tidak ada nabi sesudah aku. Dan akan senantiasalah segolongan dari ummatku tegak diatas kebenaran. Tidak akan memberi bencana atas mereka siapapun yang menentang mereka, sehingga datanglah ketentuan Allah, dan mereka tetap saja demikian.”
Tentu saja MUI jadi mengeluarkan pernyataan bahwa Ahmadiyyah tidak benar.
Tetapi anehnya, justru Moqsith menasehati MUI, “ Fa’tabiru ya uli al-albab
Sayangnya, respons dari Moqsith mengenai kasus ini juga tidak bijaksana. Alih-alih minta maaf dan mengakui kekeliruannya :
1. Fatwa MUI bukan penyebab pengepungan Lia Eden
2. Memfitnah masyarakat lingkungan Jl. Mahoni dengan tuduhan telah melakukan pengepungan pada kasus tersebut
Justru Moqsith berusaha melempar batu kepada pihak lain :
1. “Mohon dicek !” - seharusnya perkataan ini ditujukan kepada dirinya sendiri, yang tidak hati-hati dalam memilah sumber informasinya.
2. “Jemaat Salamullah … turut membenarkan adanya fakta perihal penggunaan fatwa MUI itu” - dengan mengingat konteksnya yaitu insiden “pengepungan”; maka statement ini jelas salah, karena tidak ada pengepungan.
3. Menyinggung soal kesantunan dari komentar terhadap artikelnya - ketika dia sendiri telah memfitnah masyarakat Jl. Mahoni.
Ketika saya mendapatkan kiriman artikel Geys Chalifah yang membantah tuduhan-tuduhan Moqsith, saya kemudian mencoba memverifikasinya dengan ysb. Di bawah ini adalah balasan dari Geys Chalifah :
From: Geis Chalifah [geischalifah @xxxxxx.com]
Subject: Re: Membantah tulisan Abdul Moqsith Ghazali di Koran Tempo
To: Harry SufehmiWaalaikum salam ww
Menjawab pertanyaan saudara Harry, tulisan tersebut memang benar saya yang menulisnya dan tak keberatan untuk di forward, namun sayangnya beberapa teman yang bergabung dimilis ISLIB menyatakan gak bisa diforward kemilis tsb.
saya ingin berdialog langsung dengan Moqsith itu, beberapa teman mereka (JIL) menyatakan tulisan saya tsb kasar dan emosional, tapi mereka tidak membahas pernyataan Moqsith yang mengkleim warga bersikap kriminal, dan Fatwa MUI dijadikan rujukan penyerbuan.
mereka membela LIA untuk dibebaskan dari tuduhan, saya mendapat informasi bahwa mereka melakukan Demo di Polda meminta pembebasan Lia Aminudin, membela orang yang menghukum anak kecil meminum spirtus, membela orang yang mengeluarkan ancaman mencabut nyawa orang lain, mereka tidak mau melihat itu, mereka hanya melihat Lia Eden diluar main stream islam, maka harus dibela.
Suatu kebodohan yang diusung beramai ramai.
Berikut ini adalah artikel Geys Chalifah yang membantah tuduhan-tuduhan di dalam artikel Moqsith :
Dari Geys Chalifa:
(Ketua Majelis Pemuda PP Al-Irsyad Al-Islamiyyah)
Saya mengomentari tulisan Moqsith Ghazali aktifis JIL dikoran Tempo hari kemarin, dan komentar itu sebelumnya saya kirim kemilis Kahmi.
Read the rest of this entry »
