Archive for June 3rd, 2006

Arogansi Tim O’Reilly

Respons Tim O’Reilly mengenai masalah trademark “Web 2.0″ cukup mengecewakan.

Pertama, tidak ada kesimpulan konklusif mengenai tindakan yang akan dilakukan terhadap sumber masalah - pengacara CMP. Tanpa surat C&D dari mereka, masalah ini tidak akan pernah terjadi. Dimana para blogger dikritik dengan pedas karena responsnya, Tim bersikap lunak terhadap CMP dan lawyernya.
Apa susahnya sih menyatakan “We will make sure this will not happen again in the future” ?

Kedua, kurangnya simpati terhadap posisi IT@Cork - organisasi non-profit, menerima surat C&D; karena akan sangat berat untuk menyewa lawyer, maka tentu saja akan berusaha melakukan segala cara untuk menyelamatkan dirinya. Disebutkan kurang simpati karena point pertama. Seharusnya Tim bisa memahami bahwa Tom mungkin melakukan kesalahannya (C&D dari O’Reilly - seharusnya CMP) karena panik. Ini malah menuntut meminta maaf. Memang haknya, namun ini tidak elegan dan jelas terkesan arogan. Bagusnya, Tom mau mengucapkan maaf kepada Tim.

Ketiga, O’Reilly tidak betul-betul bebas dari tanggung jawab - sebelum lawyer CMP mengirimkan surat C&D tersebut, Gina Blaber dari O’Reilly sudah menyetujuinya. Sudah jelas demikian, tapi tetap saja Tim mengeluh bahwa O’Reilly kena batunya disini. Whiner.

Keempat, Tim justru menghina bloggers dengan sebutan “mob”. Padahal ini, lagi-lagi, tidak akan terjadi jika tidak ada poin pertama. Tim tidak menyebut lawyernya (aka = sumber masalah) dengan kata yang buruk, malah blogger yang dikenakan.
Memang ada blogger yang salah dan patut disalahkan, namun para sumber masalah justru tidak dikenakan perlakuan yang buruk seperti itu juga.

Secara umum, respons Tim terkesan sangat arogan. Mengecewakan.

Tidak ada yang sempurna di dunia ini, semua orang pasti pernah melakukan kesalahan. Yang terpenting adalah bagaimana cara kita dalam menangani kesalahan yang telah terjadi itu.
Dalam hal ini, O’Reilly gagal dengan cukup mengecewakan.

Contoh poin-poin lebih lanjut bisa dibaca pada komentar-komentar di posting tersebut, seperti pada komentar dari
Dale Sundstrom,
Varun at May 30, 2006 07:35 PM,
weber_grill (warning: emosional),
IAMweb2.0TM,
J. Random Hacker,
Clyde Smith (May 30, 2006 09:46 PM — CMP juga telah mendaftarkan “Software Development” ??),
Dennis Howlett,
Tim Almond,
Anon at May 31, 2006 05:02 AM,
Anonymous at May 31, 2006 08:44 AM,
David Jones at May 31, 2006 08:36 AM, dll.

CMIIW, karena postingnya cukup panjang, dan semakin mendekati akhir terus terang saya makin kecewa membacanya.

Nokia E61 dan E70

Kedua handphone ini sangat menarik, karena spec-nya lebih bagus daripada Nokia 9500 yang saya miliki saat ini (better camera/bluetooth/3G/PTT), dan harganya malah lebih murah !

[ E70 ] ini yang paling menarik, bentuknya seperti Nokia 6820 saya (bisa dibuka dan muncul keyboardnya); tapi dengan spec yang JAUH di atasnya - kamera 2MP, Bluetooth 1.2, WiFi, quadband GSM, 3G WCDMA, 65MB internal memory, hot-swap mini SD slot up to 2GB, infrared, USB, Push to Talk, Symbian OS v9.1.
[ E61 ] bentuknya mirip seperti Treo 650, spec mirip dengan E70 tapi minus kamera.

Barusan cek lagi, ternyata E61 kini sudah mulai dijual. Salah satunya adalah Butik Ponsel yang berlokasi di Jl. Sudirman (Jakarta), dengan harga Rp 4.700.000.
Sedangkan E70, menurut mereka, baru akan muncul sekitar bulan Juli.

Sekarang lagi mencari-cari kalau ada yang sudah duluan menjual E70. Ada yang tahu ? :) :)

Hizbut Tahrir vs Koran Tempo

Hari ini saya mendapat sebuah email di milis internal Isnet dari Fahmi Amhar. Isinya ternyata adalah press release dari Hizbut Tahrir, mengenai bantahan terhadap editorial Koran Tempo 29 Mei 2006.

Kutipan:

Editorial yang anda tulis dengan tajuk: Pengusiran Abdurrahman Wahid, sadar atau tidak merupakan provokasi yang sangat keji. Sejak awal, tidak ada kasus pengusiran, sebagaimana yang telah dijelaskan berkali-kali oleh Hizbut Tahrir Indonesia, dan juga ormas-ormas Islam lainnya, termasuk di dalamnya MUI dan kapolres Purwakarta. Bahkan, Gus Dur secara resmi telah menyatakan tidak ada pengusiran, sebagaimana yang dilansir oleh Detikcom (27/05/2006), dan Kompas hari ini (29/05/2006).

Karena itu, apa yang anda tulis di dalam editorial anda merupakan bentuk penyesatan, dan sekaligus provokasi yang bisa memancing emosi umat Islam. Sebagaimana yang kita ketahui, sebelum ada pemberitaan di Pikiran Rakyat (24/05/2006) dan Surya pada hari yang sama, kemudian RCTI (Seputar Indonesia, 24 Mei 2006), mengutip pernyataan Drs H. Agung Nurhalim dan Aliansi Masyarakat Anti Kekerasan (AMAK), yang menyatakan bahwa telah terjadi pengusiran terhadap Gus Dur oleh FPI, MMI, FUI (Forum Ulama Islam) dan HTI, yang dibumbui dengan sebutan-sebutan yang tidak senonoh, seperti preman berjubah yang meresahkan dan terkesan main hakim sendiri, nyaris tidak ada insiden pengerahan massa yang menjurus pada tindakan anarkis. Tetapi, setelah adanya pemberitaan tersebut, terjadilah ketegangan antara massa Garda Bangsa —yang mencoba menyeret-nyeret massa NU— dengan FPI, dan FBR di Jakarta dan beberapa daerah.

Untuk artikel selengkapnya (press release HT & Editorial Koran Tempo), silahkan klik.

Read the rest of this entry »

Reciprocal Links

Upgrading WordPress made me found problems with this site. After fixing them one by one, then I realized something - people are linking here, but I didn’t link back to them. My bad.

Apologies, at the moment I’m working to rectify this, with help from Google.
If I still misses anyone, just let me know, thanks.

Banyak Anak = Banyak Rezeki ?

Ada seorang kawan akrab saya yang cerita. Latar belakangnya, dia skeptis dengan pendapat bahwa “banyak anak = banyak rezeki”. OK kita lanjutkan ceritanya; suatu hari dia bertemu dengan seorang ustadz yang sudah lama tidak ditemuinya.
Selagi di perbincangan yang menyenangkan itu tersebut bahwa sang ustadz kini anaknya sudah 9 orang.

Kawan saya ini tahu bagaimana kondisi ekonomi sang ustadz. Anaknya ada 9, dan kehidupannya cukup pas-pasan. Maka tidak tertahankan lagi olehnya untuk mencetuskan, “Ustad, bener gak sih bahwa banyak anak itu banyak rezeki ?”, yang dijawab oleh sang ustadz tanpa keraguan, “benar”.
Seperti bensin yang tersambar api, kawan saya langsung menyambut, “tapi ustadz kok hidupnya susah ???”

Dengan tenang sang Ustadz menjawab, “Itu karena rezeki & hak milik saya sudah dirampas oleh banyak orang, terutama pejabat yang zalim. Kalau uang rakyat tidak dikorupsi, tidak dipakai untuk membayar hutang luar negeri, tidak dipakai untuk menomboki BLBI 215 trilyun, tidak dirampas oleh pak harto, dst — maka 9 anak ini akan ada banyak rezekinya”.

Kawan saya tercengang.

Saya tertawa terbahak-bahak. Bukan saja karena ternyata akhirnya terbukti sang kawan keliru, setelah diyakininya selama bertahun-tahun. Namun juga karena takjub tentang bagaimana tepatnya jawaban sang ustadz tsb, berdasarkan pada pengalaman saya sendiri.
Anak kami ada 4, dan rezeki kami jadi bertambah banyak karena anak-anak ini sewaktu di Inggris. Paling tidak, dari children benefit saja sudah lumayan. Padahal masih ada banyak lagi.

Lalu saya tercenung, karena di negeri non-muslim itu, justru janji Allah swt diwujudkan - karena memang kezaliman penguasa terhadap rakyatnya tidak terlalu parah. Sedangkan di negara mayoritas muslim ini, Indonesia, janji tersebut justru tidak terjadi — karena malah dirampas oleh para penguasa dan segelintir kelompok elitnya.

Saya pribadi kalau sudah berjanji, lalu disabot oleh orang lain sehingga janji tadi gagal ditepati; terus terang saya akan jadi sangat marah. Atasan pun akan saya lawan. Nah, kini bagaimana perasaan Tuhan, rajanya segala raja, ketika ada makhluknya yang dengan sombong mensabotase realisasi janjiNya ?
Well, see you in Hell“, mungkin kira-kira begitu jawabnya :) he he..

So, “banyak anak, banyak rezeki” itu memang benar. But, not here :)