Riwayat Sabili
Trims kepada Arif Widi, saya jadi menemukan artikel yang menarik ini.
Kutipan:
“Kita ingin membangun media yang bisa mencerdaskan bangsa, bukan media yang sekadar menyajikan hiburan yang merusak ahlak sambil dapat untung. Kita tidak. Kita betul-betul ingin menyampaikan nilai-nilai yang baik. Paling tidak, media itu sebagai media pencerdasan, pencerahan, maupun sebagai penyampai informasi,” ujar Zainal.
Saya masih ingat kesan saya ketika dahulu pertama kali membaca Sabili. Ketika itu saya masih kuliah. Amat menarik membaca majalah Sabili ketika itu, karena isinya beda ! Ketika semua media massa membahas berita sama – yang sedang hangat, Sabili justru membahas berita yang perlu & penting. Pembahasannya pun cukup kritis, kita bisa mendapatkan banyak wawasan baru dari situ.
Sabili juga berani – bedakan dengan media massa sekarang, karena zaman dahulu (zaman Bpk. HM Soeharto), media massa yang kritis dan berani maka akan beresiko kena bredel, dan penanggung jawabnya bisa diciduk dan disiksa secara fisik dan mental.
Media massa pada saat ini tidak dibayangi oleh resiko ini.
Karena itu saya merasa sangat kehilangan ketika Sabili kemudian menghilang begitu saja pada akhir 1993. Mungkin karena keberaniannya membahas tragedi Tanjung Priok. Ternyata Sabili akhirnya kena juga, dibredel oleh Benny Moerdani (may you not rest in peace, penjagal umat Islam yang sangat kejam).
Kebijakan Orde Baru ini banyak dipengaruhi oleh CSIS :
Kebijakan Orde Baru ini dianggap banyak dipengaruhi oleh Center for Strategic and International Studies, sebuah think tank di Jakarta, yang didirikan pada awal Orde Baru.
Saya pribadi pernah bertemu & berdialog dengan dua orang anggota CSIS, dan memang agenda serta cara pandang mereka terhadap Islam sangat destruktif. Entah bagaimana sekarang, tapi mungkin untuk amannya kita anggap saja masih sama seperti demikian.
Sabili sebelum dibredel cukup spektakuler oplahnya, bahkan jika dibandingkan dengan media massa umum :
Pada waktu itu dunia Islam sedang tersudut, mulai dari Palestina, Afghanistan, Bosnia, Chehnya, hingga persoalan-persoalan umat Islam di tanah air, seperti kasus Lampung dan Tanjung Priok. Sabili terbit pada saat yang tepat.
“Gaya pembelaan Sabili sangat memungkinkan umat Islam yang selama ini tidak punya media, kemudian merasa terwakili. Jadi klop. Antara umat Islam yang tertindas selama Orde Baru, dengan munculnya media yang menyuarakan mereka,” kata Mabrur.
Setelah dibredel, dan kemudian terbit kembali di sekitar tahun 1998, oplah Sabili semakin melejit saja :
APA benar oplah Sabili 100 ribu? Pertanyaan ini muncul karena selama ini suratkabar Islam tidak pernah mengungguli media umum sejenis. Apalagi hasil survei AC Nielsen itu muncul saat Indonesia mengalami krisis ekonomi. Jangankan media Islam yang lekat dengan mitos “hidup enggan mati tak mau,” suratkabar umum pun pada bertumbangan. Belum lagi kemungkinan AC Nielsen melakukan kesalahan? Pertanyaan-pertanyaan itu mendorong saya melihat sendiri seberapa besar daya serap pasar terhadap Sabili? Bagaimana distribusi dikerjakan?
Hasilnya sungguh di luar dugaan. Dari 40-an agen yang saya temui selama hampir dua bulan, di mana 25 ada di Jakarta serta sisanya di sekitar Yogyakarta dan Surabaya, semuanya mengatakan Sabili hampir selalu habis terjual. Sesekali memang tersisa, tetapi ini jarang apalagi kebijakan pengembaliannya sangat ketat. Beberapa kios tegas mengatakan tak pernah ada sisa majalah Sabili.
Bagaimana dengan Sabili sekarang ? Sebagaimana dengan semua media massa lainnya, tentu akan selalu ada hal-hal yang bisa ditingkatkan lagi. Saya pribadi sekarang tidak membaca Sabili lagi, karena terakhir kali membacanya, isinya terlalu sensasionalis / bombastis bagi saya. Tentu saja YMMV. Kritik untuk Sabili juga ada beberapa di artikel asli tentang Sabili tersebut.
Mudah-mudahan Sabili akan terus menjadi makin baik, adil dalam membahas suatu topik, mencerahkan, mencerdaskan. Amin.
Sumber : [ Jihad Lewat Tulisan : Kisah sukses majalah Sabili dengan beragam ironi ]
(perlu registrasi dulu, tapi prosesnya gratis & cepat)


