Archive for June 20th, 2006

Dunia Akademis kita

Disclaimer: saya tidak menyatakan bahwa situasi pada posting ini adalah situasi pada seluruh institusi pendidikan kita di Indonesia. Ini hanya beberapa contoh, dan mudah-mudahan tidak demikian halnya di institusi-institusi lainnya.

[ 1 ] Kawan saya bercerita mengenai seorang dosen di Universitas negeri terbesar di Indonesia. Dosen ini senang terjun ke lapangan, mengadakan proyek-proyek yang riil, dan menulis berbagai hasilnya di berbagai media. Jumlah pointnya sudah 2000, sedangkan jumlah point yang dibutuhkan untuk menyandang gelar profesor adalah 800.
Apa yang terjadi ? Karena kebetulan yang berpengaruh di jurusannya adalah koleganya yang menganut aliran textbook (baca buku-buku teori, hafalkan, maka nilai siswa akan bagus. Penghuni menara gading), maka dosen ini masih tetap belum menjadi profesor.

Untunglah hal ini tidak menjatuhkan semangat dosen tsb. Ybs sampai saat ini terus berkiprah di bidangnya secara aktif, dan malah lebih populer di dunia internasional daripada di negerinya sendiri.

[ 2 ] Sebuah universitas Islam, adalah tempat seorang kawan saya mengabdi. Suatu hari mereka mendapatkan proyek dari luar negeri dengan jumlah yang cukup besar. Maka dengan penuh semangat, kawan saya menyampaikan rencana-rencana kerja untuk realisasi proyek ini. Rencana-rencana tersebut penuh idealisme, sesuai dengan yang dituntut oleh proyek tersebut, dengan hasil yang nyata baik untuk lingkungan maupun dunia riset akademis.

Apa komentar atasan dan koleganya ? “Lha, nanti untuk uang saku kita mana ?”

Proyek tersebut (dan proyek-proyek selanjutnya) kemudian dikerjakan ala kadarnya, dengan sehemat mungkin. Laporannya dibuat dengan bagus, untuk menyenangkan pemberi proyek. Sisa dana proyek kemudian dibagi beramai-ramai antara mereka semua, termasuk juga pihak universitas.

Needless to say, my friend is now looking actively for another job, so he can quit this institution.

[ 3 ] Ada seorang yang baik yang (lucky me) adalah kawan saya yang cukup akrab. Suatu ketika, beliau mendapat kepercayaan untuk memimpin sebuah SMP boarding school di luar kota Jakarta.
Beliau memimpin dengan bijaksana dan penuh kasih sayang kepada semua orang. Maka tentu saja semua orang menjadi sayang juga kepada beliau; para staf, para murid, dan bahkan para orang tua murid.

Ternyata, pelaksana yayasan pemilik sekolah tersebut malah menjadi cemas melihatnya. Bukannya gembira.
Mereka tidak senang melihat kawan saya tersebut menjadi populer. Maka, orang-orang hasad ini kemudian memecat kawan saya tersebut. Inna lillahi wa inna ilaihi roji’un.
Walaupun kemudian para murid dan orang tua mereka mendemo keputusan yayasan tersebut, namun pihak yayasan tidak bergeming, dan tetap mengusir kawan saya dari posisinya tersebut.

Dengan istri dan anak tiga, alangkah beratnya beban kawan saya tersebut ketika beliau mendadak menjadi pengangguran seperti itu. Alhamdulillah, karena beliau memang muslim yang kualitasnya sangat jauh di atas saya, maka beban ini tidak ada terlihat berat pada beliau sama sekali. Masya Allah.
Semoga Allah swt akan menggantikannya dengan yang lebih baik, amin.

Rants over.

Catatan singkat dari Seminar Homeschooling

Walaupun terlambat sekitar 1 jam karena harus mengambil raport anak saya dulu, alhamdulillah kami masih sempat menghadiri acara seminar homeschooling di Gedung Depdiknas.

Mengesankan sekali, ruang acara penuh sesak. Sampai ada beberapa yang berdiri di belakang. Mungkin ada sekitar 300 - 400 peserta pada acara tersebut. Syukurnya masih ada 2 kursi kosong, walaupun terpisah, sehingga saya dan istri tidak duduk berdampingan. Resiko datang terlambat :)

Acara pada awal-awalnya banyak membahas technicalities & legislasi seputar homeschooling. Cukup menentramkan karena homeschooling sudah ada landasan hukumnya, dan telah diakui oleh Depdiknas. Sehingga para peserta homeschooling bisa mendapatkan ijazah juga. Kini sedang diusahakan agar homeschooling ini mendapat perhatian & dukungan yang lebih besar lagi dari Depdiknas.

Yang paling menarik adalah presentasi dari Kak Seto. Efficient, very interesting, to the point, dan penuh dengan wawasan-wawasan baru (at least bagi kami). Kak Seto adalah salah satu presenter terbaik yang pernah kami lihat.
Di presentasinya dibahas bagaimana cara untuk mendidik anak yang baik (mengarahkan bukan mendikte, menjadi kawan bukan diktator, dst), berbagai contoh kekeliruan dalam mendidik anak, berbagai kelebihan homeschooling, mengapa homeschooling, dll.
Saya merekam presentasi itu, tapi sayang ternyata hasilnya kurang jelas. Mudah2an ada yang merekam dan hasilnya bagus, monggo kalau bisa di-share dengan kita semua.

Ada juga presentasi dari sponsor. Telkom mempresentasikan mengenai produk eLearning / distance learning mereka yang berbasis web. Sayang presentasi yang dibawakan adalah yang generik, sepertinya adalah yang biasa mereka bawa ke presentasi di perusahaan / corporation. Sehingga kurang relevan untuk para peserta.
Mungkin di masa depan bisa dibuat produk elearning khusus homeschoolers - sehingga kita tinggal membuka website eLearning Telkom dalam kegiatan pendidikan anak-anak kita di rumah. Tentu saja dengan membayar biaya langganan ya. Saya kira ini bisa menjadi peluang bisnis bagi divisi eLearning Telkom.

Karena keterbatasan waktu, maka moderator (Dewi Hughes) kemudian membuka forum tanya-jawab yang terbatas. Tiba-tiba dia di interupsi oleh seorang peserta, yang menuntut agar peserta diberi waktu untuk memberikan tanggapan.
Moderator menerima, dan ybs diberi kesempatan sebagai pemberi tanggapan pertama.

Ternyata, ybs malah mengkritik/menasehati mengenai kehidupan pribadi Dewi Hughes. Di depan 400 orang !
Satu contoh yang memalukan dari umat Islam (mbok ya sebelum memberi nasehat, belajar dulu fikih / etika dakwah). Moderator agak terkesiap, dan bisa sangat mengerti jika dia merasa tersinggung karenanya. Segera moderator mengingatkan peserta ybs untuk menyampaikan apa yang dia sendiri minta tadi, yaitu tanggapan untuk acara tersebut.
Disini saya semakin merasa malu melihat orang ini. Ternyata, tidak ada tanggapan yang dia sampaikan di pidatonya yang panjang lebar ini, malah pertanyaan-pertanyaan. Tidak itu saja, setelah mengatakan bahwa ini yang terakhir, ternyata setelahnya ybs menambah pertanyaannya satu lagi. Total ada 4 pertanyaan yang diajukan, dan nol tanggapan. Shame on this guy.

Penanggap setelahnya cukup bagus, mengingatkan agar Depdiknas mau memberikan prioritas pada homeschooling. Yang mengejutkan, ternyata ibu berbaju biru ini ditendang dari sekolah tempat dulu dia bekerja karena dia adalah guru yang populer di kalangan muridnya ! Dengan tuduhan menggalang massa (hah?), maka dia dipecat.
Kejadian ini persis seperti yang dialami oleh kawan saya - sebagai kepala sekolah, dia sangat memperhatikan anak muridnya; mereka diperlakukan dengan baik dan penuh kasih sayang. Hasilnya ? Dia ditendang oleh yayasan pemilik sekolah tersebut, karena mereka ketakutan dengan popularitasnya ini ! (WTF)

Apakah begini potret sekolah kita masa kini - pribadi-pribadi yang peduli dan berkualitas justru diusir ? Jika ya, maka semakin besar saja minat saya dengan homeschooling ini.
Kebetulan salah satu anak saya sudah menjadi korbannya - dia menjadi korban bullying, kawan-kawannya ada yang pencuri, ada anak laki yang senang menyiksa perempuan; dan gurunya tidak peduli sama sekali.

Setelah para penanggap (total 3 orang) selesai, maka kemudian sesi tanya-jawab dimulai. Sayangnya saya tidak bisa memperhatikan betul-betul, karena sudah perlu segera kembali ke rumah.

Bagi yang berminat namun tidak sempat menghadiri acara ini, Anda tetap bisa mendapatkan informasi yang Anda butuhkan dari komunitas ASAH PENA (Asosiasi Sekolah rumAH dan PENdidikan Alternatif); via email asahpenaindonesia@yahoo.com, atau mailing list asahpenaindonesia@yahoogroups.com

Semoga bermanfaat.

Number #2 on Google

This morning, again, I received another comment for a very old post. Of course this is pretty surprising, considering that the post is almost 2 years old. But what’s more surprising is when I tried searching for pc world sucks in Google.

Guess what’s coming out second ? yep, that old post again.
:D

Nothing like a little bit of fun to start your day, hehe. Anyway, I hope that the info in that post (and its comments) have helped quite a lot of people. That’d definitely made my day.