Archive for August 31st, 2006

It’s all in your head

When testing a new medication, researchers usually pit it head-to-head against placebo to a group of victims, er… volunteers, to see whether the recovery rate is higher or lower than the placebo’s. So it’s medicine against placebo.

What happens though when it’s placebo vs placebo ?
One thing for sure - me having a hard time controlling my laughter in front of the computer.

Ted Kaptchuk used to practice acupuncture, but his colleagues claim that the effect is purely psychological. That got him thinking and interested, and he ended up researching for placebo effects on Harvard Medical School.

On his article titled “Sham device v. inert pill: randomized controlled trial of two placebo treatments” which was published by British Medical Journal (for real), there are actually volunteers who got side effects from this placebo treatment.

Words failed to be heard from my dropped jaw. Moments later, only uncontrolled laughter.

Quoted:

The reported side effects exactly matched those described by the doctors at the beginning of the study.

It’s all in your head.

This research, which was conducted to find out if doctors can manipulate the placebo effect, was sponsored by The National Institutes of Health, which ponied up $1,614,605 for the answer. All in the name of research, of course. So, what do we got to learn from all of it ?

Quoted:

Kaptchuk says that the rituals of medicine explain the difference: Performing acupuncture is more elaborate than prescribing medicine. Other rituals that may make patients feel better include “white coats, and stethoscopes that you don’t necessarily use, pictures on the wall, the way you reassure a patient, and the secretaries that sign you in.”

Careful manipulation of such rituals could make all types of treatment more effective, Kaptchuk suggests.

Well, that DOES explain the effectiveness of various so-called alternative medication here in Indonesia. We must be very grateful that he has went to all this trouble for our benefit.

So what does he has to say about himself ?

Kaptchuk’s title is assistant professor of medicine. “It could have been ‘quackery,’ ” he says, “but they didn’t have a position in that.”

Good, honest man. We need more men like him.

Well done Ted !

Indonesia never got any share of profit from ExxonMobil’s operation in Natuna

After 12 years of operation in Natuna, it was revealed by Alvin Lie, a member of the parliament, last week that Indonesia never got any share of the profit from ExxonMobil, the company which got the contract to manage the natural gas resources in Natuna. It’s among the most interesting, with an estimate of 46 trillion feet cubic of natural gas when surveyed on 1973.

This has been confirmed by Kardaya Warnika, Head of Oil and Gas Management (BP Migas). He said that from 1980 to 1994, Indonesia still got a percentage of profit share from ExxonMobil’s (then Esso) Natuna operation. But on 1994, Pertamina and Esso changed the contract, entitling Esso to 100% of the revenue from the operation. Indonesian central government only got the tax payment from them.

Oil expert Kurtubi said that this is very strange, considering that normal profit-sharing agreement usually divides profit in 60% - 40% scheme — the government getting 60% of the profit, and the contractor entitled to 40% of it. And this is after paying the tax.

ExxonMobil’s speaker, Deva Rahman, refused the allegation. He said that the Natuna situation is different. With over 70% CO2 content, it require high cost and technology for its operation. He said that the agreement has been understood and mutually agreed between the parties involved.

Speaker for Mining Advocacy Network (JATAM, Jaringan Advokasi Tambang), Andre S. Wijaya, said that this is not the only case. He said that ExxonMobil also works on a scheme that put Indonesian government and people in a losing position in their Aceh operation.

Source: Radio Nederland

Ada apa Kompas ? Opini Kompas 30 Agustus 2006 : Enaknya menjadi Menteri

Kutipan :

Kekuasaan wartawan amat besar… tulisan koran seperti Kompas amat dapat mempengaruhi opini publik… , dia bahkan jauh lebih tajam dari pedang…bahkan bisa lebih berpengaruh dari pada senjata…

Jadi mengingatkan kita pada sebuah pepatah yang sudah sangat terkenal : The pen is mightier than the sword

Email dibawah ini saya posting di milis Forum Pembaca Kompas pagi hari ini :


> http://www.kompas.com/kompas-cetak/0608/30/opini/2917890.htm
> Enaknya Menjadi Menteri

Enaknya jadi editor :-) bisa menyerang terus, tanpa menampilkan data berimbang.

> Pertanyaan lain, apa yang sudah dilakukan Departemen
> Pertanian? Apakah Deptan telah melakukan tugas
> utamanya untuk mendorong petani meningkatkan produksi
> dan menerapkan teknologi terbaru?

Di radio Elshinta beberapa hari yang lalu saya mendengar reportase soal ini yang lebih komprehensif daripada editorial ini.

Ternyata, stok beras sebenarnya cukup, apalagi memang sudah/hampir panen. Hanya saja, ada terdeteksi usaha untuk menimbun / menahan stok beras oleh mafia / kartel. Sehingga terjadi kelangkaan stok, sampai stok Bulog pun turut menipis, yang berujung pada kenaikan harga beras.
Pejabat yang diwawancarai mengakui ini (menipisnya stok Bulog), padahal Bulog makin ditekan untuk melakukan operasi pasar (agar harga beras turun kembali), yang tentu sulit dilakukan jika stok Bulog sendiri tidak mencukupi.

Saya tidak tahu alasan mafia ini melakukan ini, apakah ingin melakukan aksi profit-taking menjelang puasa/lebaran, atau ingin menekan DPR & pejabat pemerintah yang anti impor agar menjadi setuju untuk impor beras, atau lain-lainnya, wallahua’lam.

Seorang pendengar kemudian mengirimkan SMS, yang mendukung pemerintah untuk membasmi para cukong beras ini. Saya kira ini langkah yang lebih tepat, daripada hanya mencaci tanpa solusi seperti ini.
(tanpa data yang akurat pula)

Salam,
Harry

> Di sini sering kali kita merasa terganggu. Seremoni
> untuk melakukan panen raya begitu sering dilakukan.
> Namun, kenyataannya, produksi nasional tidak mencukupi
> dan terpaksa kita harus mengimpor.
>
> Terus terang yang ingin kita gugat adalah kebiasaan
> untuk begitu mudahnya melakukan impor. Bukan hanya
> terbatas pada urusan beras, untuk komoditas lainnya
> pun kita begitu entengnya untuk mengimpor. Dengan
> alasan agar masyarakat bisa mengonsumsi daging, maka
> impor daging akan dilakukan. Buah-buah impor terus
> berdatangan masuk. Di Brebes, petani bawang merah pun
> melakukan protes karena bawang produksi mereka
> tertekan bawang impor. Dan yang sekarang menjadi
> kontroversi, tepung daging dan tulang (meat and bone
> meal) akan diimpor dari AS, padahal negeri itu
> terjangkit sapi gila dan oleh Badan Kesehatan Hewan
> Dunia (OIE) komoditas itu dilarang untuk
> diperdagangkan.
>
> Kita ingin mengingatkan, salah satu tugas para menteri
> itu seharusnya mendorong produksi. Bahkan, dalam
> kondisi negeri yang sedang terpuruk seperti sekarang,
> tugas para menteri untuk bisa membuka lapangan kerja
> dan menyumbangkan devisa kepada negara. Bukan justru
> berlomba menghambur-hamburkan devisa.
>
> Selalu kita ingatkan bahwa kehormatan itu membawa
> tanggung jawab, noblesse oblige. Sebagai seorang
> menteri, menjadi pejabat negara banyak privilese yang
> diberikan rakyat. Di balik kenikmatan yang dirasakan
> itu, ada tanggung jawab yang harus dipenuhi, yakni
> menyumbangkan tenaga dan pikiran untuk kemajuan
> negeri.
>
> Jangan hanya kenikmatannya saja yang mau diterima,
> sementara tanggung jawabnya tidak mau dilaksanakan.
> Tidak mau turun ke bawah untuk mengetahui apa yang
> dirasakan oleh rakyatnya, tidak peduli dengan realitas
> bangsanya. Enak betul jadi menteri di Indonesia kalau
> hanya kenikmatan yang diterima, kerja kerasnya tidak!


Dari : http://groups.yahoo.com/group/Forum-Pembaca-Kompas/message/37174

Dari : Haniwar Syarif
Subject: Re: Tanggapan utk Enaknya Menjadi Menteri

Betul Mas..kita bisa tinggal nanya, kalau Mentan anggota FPK .

Tapi kalau gaya tajuk Kompas yang pasti bisa nanya , jangankan nanya… malah nuduh saja…

Soal beras kasusnya jelas…menurut data ..produksi beras lebih gede dari konsumsi…tapi..stok bulog nipis…, Mentan juga sudah nyalahkan mengapa Bulog tidak berhasil melakukan pembelian cukup utk stoknya pada saat panen raya.

Lepas dari itu, stok Bulog saat ini tinggal 300.000 an dari seharusnya 1 juta tonan. Nah BULOG punya tanggung jaWab utuk suplai raskin, beras utk bencana, dan juga OP didaerah tertentu yg krn satu dan hal lain harga berasnya melonjak, belum lagi mau hari raya keagamaan, krn itu kabinet
memutuskan mau impor . Mentan sdh bilang nggak boleh masuk pasar, tetapi utamanya utk raskin dan kalau ada bencana.

Hari ini Kompas mengutip Wakil Rektor IPB bahwa ” saat ini memang stok beras banyak dipakai untuk penalanggungan bencana bencana nasional , sehingga impor beras memang diperlukan ”

Bandingkanlah dengan tulisan Tommy dalam tajuknya yang menyerang Mentan tanpa ampun sebagai orang yang mau enaknya aja nggak mau susah ..apa apa tinggal impor…

Di coba kesankan seolah Mentan ini mahluk ajaib, yang kerja di bidang pertanian tapi nggak bebruat aopa apa untuk meningkatkan produksi pertania..

Dalam tajuk sebelimnya tanggal 26 Juli Tommy juga nulis menyerang mentan dgn nada sama , bahkan implisit menuduh bhw buka kran impor mungkin krn terima kick back, sebelumnya berita Kompas menyebut issue adanya kepentingan partai tertentu ( mudah ditebak partai mana yg asalnya pak Anton) dalam mencari dana..

Perlu saya ingatkan sesudah tajuk 26 Juli , awal agustus MenTan mengundang umum termasuk kompas, utk dialog terbuka dimana beliau menjelaskan alasan kebijakan impor nya…dan tidak dimuat secuilpun oleh wartawan kompas dalam berita esoknya….:(

Lha …saya kan jadi bertanya…ada apa dengan Tommy… ???? Pak Yacob Utama..ada apa dengan Tommy ??

Di tajuknya terus memberi kesan..bhw Mentan nggak kerja apa apa..maunya enak dan gampang terus..

Faktanya , soal beras misalnya, di jajaran pimpinan Deptan ada Prof.Dr Djoko Said yang dianggap Mpunya perberasan…bahkan ditingkat dunia , ada Kaman yang juga tokoh yang mumpuni dalam ketahanan pangan..

Saya tahu benar bagimana mereka berusaha meningkatkan produksi beras ( dan menurut data memang meningkat)

Lha memangnya sumber berita Kompas pasti lebih jago dari mereka..??? Nggak pasti kan…

Perhatikan deh yang menggebu gebu menyerang kan hanya KOmpas..koran lain maupun media elektronik lain kan nggak..

Kekuasaan wartawan amat besar… tulisan koran seperti Kompas amat dapat mempengaruhi opini publik… , dia bahkan jauh lebih tajam dari pedang…bahkan bisa lebih berpengaruh dari pada senjata…

Di tangan Pemred lah kekuasaan besar itu ada..

Power tends to corrupt…

Siapapun pemegang kekuasaan sebesar itu…haruslah di kontrol…

Siapapun pemegang kekuasaan sebesar itu..haruslah merasa itu adalah amanah
Allah yang akan dimintai tanggung jawabnya

Dia lebih berkuasa dari pada George Adi Tjondro… dia lebih
bisa berpengaruh di banding orang yang punya senjata sekalipun.

Bayangkan kalau lalu tulisannya ternyata bukan untuk kepentingan umum ,
pakai issue populis.seperti kepentingan petani, atau tolak impor cintai
produk dalam negeri, . tapi sebenarnya..ada hal lain yang jadi
motifnya..yang bisa jadi bukan kepentingan bangsa..Bayangkan kalau opini yg
tercipta ternyata sesat dan merugikan bangsa ini..

Selalau ada lebih banyak dari satu sisi..misal ada kepentingan produsen (
petani) ada juga kepentingan konsumen..

Bagaimana ya caranya atau mekanismenya kalau misalnya kita berpendapat ada
sesuatu yang perlu dipertanyakan dalm kredibilitas pemred ??? just a
question…

Saya nulis disini karena masih percaya kredibilitas Kompas.. koran
kesayangan kita yang saya sudah jadi pelanggan sejak lama… Saya sudah
nulis pula langsung ke pembuat berita ( Maryoto), tapi nggak
berjawab…jadi coba liwat FPK..moga moga aja…

Banyak yang mudah di jawab..tapi nara sumber yang digarap Kompas itu itu
juga ..DR..Sudrajat, … misalnya ..kalau lain dikit aja..seperti Wkl
Rektor iPB ..langsung terlihat ada yang salah dr tajuknya kompas..dia jela
sbilang wajar saat ini impor kok..

Salam,

Haniwar

SBY mengijinkan Lapindo membuang lumpur ke laut

Demikian judul posting Agus Setiawan. Di posting ini dipertanyakan berbagai hal, seperti :

Tapi, masa sih di dunia ini tidak ada satupun teknologi yang bisa menyumbat lumpur yang keluar akibat kecerobohan manusia yang bekerja di industri pengeboran minyak?

Kebetulan di milis FPK ada beberapa informasi tambahan seputar masalah tersebut. Saya mencoba meninggalkan komentar di blog ybs, tapi gagal (mungkin komentar di-disable). Jadi saya kutipkan disini saja :

Dari

From: rzain
Subject: Sido Lumpur

Seperti saya posting 3 bulan yang lalu bahwa satu2nya cara untuk mengatasi lumpur di Sidoarjo ialah mengadakan sumur miring ke lokasi sumur lama untuk menutup kebocoran; dikui hari ini (MetroTv) segera akan dimulai dengan terlebih dahulu membuat platform beton di atas pasir yang sudah mengeras di dekat sumur lama.

Kabarnya rig utk membuat relief well yang akan digunakan sudah tiba di perariran Indsonesia dan akan dimulai bor miring yg mudah2an sebulan lagi akan kelihatan hasilnya seperti yang selalu dilakukan di belahan dunia lain dan berhasil.

Meskipun demikian pembuangan lumpur selama sebulan yad harus dilakukan yang menurut Bupati Sidoarjo cuma ada dua pilihan, pertama merusak lingkungan perairan yang berisi biota laut atau merusak lingkungan daratan yang berisi manusia. Kelihatannya pilihan kedua (ed:: pertama ?) yang lebih manusiawi.

Yang perlu diwaspadai nampaknya ada usaha2 agar sebagian besar biaya akan dipikulkan ke Pemerintah instead semuanya oleh Lapindo apalagi kalau ada yang menumpang untuk mencari keuntungan pribadi.

rzain

Dari http://groups.yahoo.com/group/Forum-Pembaca-Kompas/message/37139

From: rzain
Subject: Re: Semburan Sulit Distop

Sabar2, mudah2an satu2nya cara yang pernah dilakukan di belahan dunia lain yaitu yaitu menyumbat melalui relief well berhasil 40 hari lagi.

rzain

Jadi kelihatannya pembuangan lumpur ke laut itu memang tidak bisa dielakkan, dan merupakan tindakan darurat. Dan tentu seharusnya dihentikan begitu relief well telah berhasil dibuat.

Mungkin kini kita perlu memfokuskan kepada PT Lapindo sendiri - bagaimana perlakuan mereka kepada korban bencana alam buatan mereka ini, apakah mereka akan melemparkan tanggung jawab mereka kepada pemerintah, dst. Perlu dibangun fokus dan public pressure kepada mereka; jangan sampai perhatian kita teralihkan kepada hal-hal lainnya.

Sisi lain George Aditjondro

Dari milis FPK :
http://groups.yahoo.com/group/Forum-Pembaca-Kompas/message/36995


From : Manneke Budiman
Subject: Re: Pertanyaan Sangat Kritis Untuk Staff Harian Kompas

Ikut nimbrung, ya. Saya tak tahu motivasi Kompas untuk tak membuat tinjauan buku atas karya Aditjondro. Tapi saya mau berkomentar soal pernyataan Rekan Lama yang berbunyi:

Mengapa harian Kompas tidak mengkover dan menginvestigasi tentang buku “Suharto Sehat” karangan Adicondro, Asvi W, dst? Apakah benar redaksi Kompas telah tersusupi militer dan pro regim Orba? Sebab setiap kali orang yang benar2 bermoral bailk dan idealis, peristiwa dan tulisannya justru tidak ada, atau tidak dalam, atau sekedarnya.

Saya kebetulan mengetahui sebagian tindak-tanduk George Aditjondor meski tak mengenalnya secara pribadi. Dan saya berkeberatan jika beliau disebut “bermoral baik dan idealis.” Sebagai info, saat ini banyak organisasi dan aktivis, khususnya perempuan, yang ‘memboikot’ ybs karena kasus perceraiannya dengan mantan istrinya yang menghebohkan.

Saya bagi sedikit ceritanya: demi untuk bisa kawin lagi dengan perempuan lain, ybs memperkarakan istrinya di pengadilan dan meminta pengadilan mengesahkan upaya ybs untuk menceraikan istrinya. Sebagian dari alasan yang dikemukakan adalah bahwa istrinya itu tak cukup dapat memuaskan ybs secara seksual, dan dari segi intelektualitas “nggak sebanding” dengan ybs.

Namun, dalam persidangan hampir semua saksi dan bukti mematahkan dalih ybs, dan hakim akhirnya memenangkan sang istri bahkan menganjurkan supaya istrinya itu mengajukan tuntutan balik. Diduga tujuan Aditjondro berperkara adalah agar ia tak harus menafkahi mantan istrinya.

George Aditjondro mungkin tak diragukan kehebatannya dalam membongkar kebobrokan rezim orde baru, tapi ini tak serta merta membuat ia menjadi orang “bermoral baik dan idealis.”

Mungkinkah Kompas tak meliput buku mutakhir ybs karena faktor ‘boikot’ itu juga?

manneke

loekyh wrote:
Rekan lama,

Boleh bertanya, tanpa bermaksud merendahkan berbagai buah pikiran cemerlang dari Adi Condro, di antara ratusan buku2 anti orba dan anti militerisme yg sekarang banyak bertebaran di toko2 buku, apakah buku “Suharto Sehat” yg anda rujuk adalah yg buku TERBAIK dan merupakan buku YANG AKAN MENARIK BANYAK PEMBELI/PEMINAT?

Untuk saya, cukuplah apabila anda bisa menjelaskan bukti2/analisis anda bahwa isi buku tsb adalah yg TERBAIK dari isi puluhan atau isi ratusan2 buku2 lain (tentu saja setelah anda membaca buku2 yg lain tsb), maka saya akan ikut bersama-sama memprotes Kompas, mengapa buku TERBAIK dari semua buku2 anti orba dan anti militerisme tersebut tidak direview oleh Kompas.

Salam, dari rekan baru anda :-)