Waspada: Obral BUMN kepada Swasta
Salah satu posisi Menteri yang diganti pada reshuffle kabinet baru-baru ini adalah Menneg BUMN. Ini adalah saya kira yang paling mencemaskan.
Kita tentu masih ingat, bagaimana di zaman Megawati, banyak BUMN yang dilego dengan harga yang sangat merugikan negara. Kini, ada kemungkinan skenario tersebut akan terulang kembali.
Yang dirugikan nantinya tentu adalah rakyat kecil lagi.
Tapi ini bisa kita atasi, jika kita semua mau bekerjasama.
Komunitas IT Indonesia kemarin ini sudah berhasil menggagalkan MoU Pemerintah dengan Microsoft. Bersama-sama, kita bisa mencegah terjadinya berbagai proyek yang justru akan merugikan rakyat.
Bacaan lebih lanjut :
1. Hasil reshuffle kabinet
2. Konspirasi membidik posisi Menteri BUMN
3. Posisi Menneg BUMN diincar

May 16th, 2007 10:31
Seluruh karyawan BUMN pasti juga merasa tidak aman dilepas ke swasta. Tetapi pada bisnis yang kompetitif, menjadi BUMN itu tidak praktis, apalagi BUMN di tengah rimba permainan konglomerat hitam (kena lumpur misalnya). Mau lincah dikit, khawatir dituduh merugikan negara (bukan sekedar merugikan perusahaan), dan sudah sering terjadi. Mau inovatif dikit, dibilang tak mendukung iklim kompetisi. Dimaki2, harus diam, karena rakyat sebagai pemilik negara memang boleh memaki2 milik negara sekehendak hati. Begitu dilepas (mis Indosat), malah dituding jadi antek Singapore, bahkan antek Israel (mis. oleh Republika). Syukur saja Laksamana tumbang sebelum niatnya menjual Telkom terlaksana.
So, daripada menyebar kekhawatiran lagi, gimana kalau kita merumuskan solusi saja?
May 16th, 2007 17:32
Ada usul dari editorial Jakarta Post, supaya go public.
.
Argumentasinya, karena perusahaan publik itu terikat dengan berbagai kewajiban profesional, sehingga tidak terlalu leluasa untuk bertingkah macam-macam.
.
Dari data yang mereka miliki, BUMN yang go public sejauh ini performanya pada bagus.
.
Triknya mungkin adalah supaya mayoritas saham tetap di tangan pemerintah ‘kali ya ?
May 28th, 2007 14:40
kalo menurut saya pribadi sih .. privatisasi ga selamanya negatif. mayoritas bumn yg diprivatisasi malah kinerjanya lebih bagus dari sebelumnya (telkom, bri, indosat). karna dgn jd perusahaan terbuka artinya pemilik sahamnya ga dimonopoli oleh 1 orang/entiti saja. logika sederhananya yg nanam saham pasti pengen dpt return/laba sehingga manajemen yg dipilih pun ga sembarangan/profesional (bukan sekedar ajang bagi-bagi jabatan berbau politis). kalau mau dicontoh mungkin telkom & bri. kalau pertamina setau saya masih setengah hati .. status udah PT (blm Tbk) tp aroma politisasi nya masih kental dan masih di-ninabobok-kan dgn monopoli mutlak.. kalau mau dibuat bersaing secara fair dgn oil company luar saya kira pertamina bakal tergelepar tak berdaya