SEObox: Web Hosting Murah Unlimited Homeschooling Indonesia

Murah versus Kualitas

Dulu membeli baju & sepatu adalah ritual yang cuma bisa kami lakukan sekali setahun, yaitu sebelum Lebaran. Bukan apa-apa, harganya memang mahal euy. Perkecualian sih ada, tapi biasanya ya itu, perkecualian. Selain itu ya musti menunggu sampai hampir Lebaran :)

Tapi, walaupun mahal, biasanya baju & sepatu tersebut bisa bertahan sampai bertahun-tahun. Dulu ibu saya pernah membelikan sepatu merk Kickers ketika saya masih kecil, dan sampai sekarang sepatu tersebut masih ada & layak pakai. 20 tahun lebih gitu lho, wow. Nanti rencananya mau saya ambil dan berikan kepada Umar, anak saya yang sekarang berumur hampir 6 tahun.

Namun trend saat ini mulai berubah. Banyak produsen yang kini fokus kepada harga. Dan karena di amini oleh customer, semakin murah maka semakin laris, maka semakin bersemangatlah mereka menurunkan harga mereka. Dalam semangat untuk mencapai harga yang semurah-murahnya ini, yang sering menjadi korbannya adalah kualitas.

Kemarin ini saya membeli kaus merk Polo dari sebuah dept. store di Bintaro Plaza. Agak mahal sedikit tidak apa dari merk lainnya, yang penting kualitas bagus dan tahan lama. Soalnya saya paling malas shopping :) Kadang vertigo saya malah jadi kumat selagi pusing memikirkan berbagai pilihan yang ada.
Tetapi apa yang terjadi? Baru beberapa kali dipakai, benang-benang jahitannya ambrol. Kausnya menyusut, dan kerahnya melingkar setiap kali dipakai. Alamak.
Setelah saya cek lagi, ternyata harganya masih lebih murah daripada yang biasanya, sehingga saya curiga jangan-jangan ini kaus Polo aspal.

Saat ini saya dan istri mencanangkan gerakan : dukung produk berkualitas !

Kami sudah sepakat untuk tidak membeli produk murahan. Selain kualitas cenderung mengecewakan (walaupun perkecualian tentu ada), ini juga cenderung mendidik kita untuk bersifat konsumtif.

Tidak apa membayar lebih mahal, kalau ternyata bagus & tahan lebih lama, sehingga pada akhirnya malah jadi lebih murah daripada produk yang murahan (PYM) (1). Kalau perlu, menabung dulu kalau uangnya memang belum cukup. Sekaligus jadi latihan untuk menahan diri / self discipline.

Karena PYB lebih awet, jadinya kami tidak perlu sering-sering berbelanja ke mall. Efek sampingnya cenderung positif :

  1. Insiden impulse buying jadi berkurang.
  2. Waktu bersama keluarga tentu jadi lebih banyak & lebih berkualitas.
  3. Anak-anak jadi tidak terdidik untuk konsumtif & instant-gratification oriented
  4. Kami semua jadi belajar untuk lebih menghargai barang yang kami miliki
  5. Dll

Sayangnya, menemukan produk yang berkualitas pada saat ini bisa sangat sulit. Seperti kemarin ini, kami mencari AC 2 pk untuk kantor. Wah, ternyata kebanyakan produk Made in Cina. Kebetulan kami sudah membeli puluhan AC dari negara ini dengan berbagai merk, dan sepertinya kualitasnya cukup seragam - sering rusak.
Mungkin bagus juga kalau bisa ada semacam clearing house untuk soal kepuasan konsumen - idealnya memang YLKI membuat website seperti dooyoo.co.uk, sebagai LSM yang sangat relevan dengan topik ini. Tapi selama ini belum ada, saya kira ini adalah peluang bagi enterpreneur yang gesit.

Tapi jangan putus asa. Mari bersama-sama kita, para customer, menuntut kualitas. Jangan mau lagi dirugikan oleh PYM !

Diskusi relevan dari milis sebelah :

To: muslimblog@yahoogroups.com

Jadi ingat tahun 1992 beli kaus merk Giordano, sampai sekarang masih terus bisa dipakai nyaris setiap minggu. Ajaib betul.

Jadinya sekarang kalau kelihatan saya pakai yang bermerk (2), sebetulnya bukan cari merknya — tapi gak mau rugi (maklum padang), karena awet banget :) he he.
Baju lainnya rata2 cuma pada tahan 1 atau 2 tahun.

Yang apes ya seperti kata maiden itu, ternyata dapat yang aspal apalagi kalau sudah bayar mahal juga.

Ya, sayangnya di zaman serba murah ini, kualitas jadi sering dikorbankan. Pada akhirnya, sebetulnya kita **justru** jadi membayar lebih mahal, karena jadi lebih sering membeli.

Wassalam,
Harry

On 7/19/07, ma_id_en wrote:
>
> - Seorang wisman ngomel di sebuah toko peralatan pencinta alam di
> Mataram Mall, ngomeli jaket bermerek. Ini palsoe, di negara saya
> semuanya rapi. Jaitannya ndak ada benangnya yang keluar kayak gini.
> hehehehe, baru tau apa kali dia ya ?

(1) PYM awalnya memang harganya lebih murah, namun karena mudah rusak, jadinya sering perlu dibeli gantinya. Sehingga pada jangka waktu yang sama, totalnya bisa malah lebih mahal daripada produk yang berkualitas (PYB) yang hanya perlu dibeli satu kali.

(2) Produk berkualitas ==/== Produk branded. Walaupun seringkali demikian halnya, namun saya pernah ada beberapa insiden dimana produk bermerk ternyata kualitasnya jelek.

16 Responses to “Murah versus Kualitas

  • 1
    M Fahmi Aulia
    July 23rd, 2007 11:17

    wah, saya sendiri lebih suka beli baju biasa saja, biar makin banyak pilihan…hehe..

  • 2
    maalik
    July 23rd, 2007 12:59

    jaman skrg beli berdasarkan trend deh kayaknya mas…., barang awet nantinya dibilang jadul alias kuno !

  • 3
    sh0nn
    July 23rd, 2007 14:00

    Cukup sulit klo orang selalu melihat barang ber Merk Itu pasti memiliki kualitas yang bagus. Saya pernah membeli 2 pakaian kerja sebelum saya lulus Sekitar 3 tahun yang lalu di daerah pasar baru. Kalau diliat dari harga sekitar

  • 4
    rd Limosin
    July 23rd, 2007 15:55

    memang barang bermerk biasanya berkualitas. Sesuai harganya jg.

  • 5
    mk
    July 23rd, 2007 23:33

    Kalo saya yang penting bisa menutup aurat ya dibeli. Cuma saya jarang beli baju. kalo gak dikasih sales ya dapet hadiah.. :)

  • 6
    bank al
    July 24th, 2007 22:57

    Saya juga lebih suka membeli produk berkualitas daripada yg murah. Namun seringkali menentukan kualitas sebuah produk itu juga tidak mudah karena kita belum tentu mempunyai kemapuan untuk itu.

    Saat kita tak tahu kualitas suatu barang, apa yg harus dilakukan ? Mahal tidak selalu berarti berkualitas khan ?

  • 7
    Audi
    July 25th, 2007 10:02

    Ngapain beli barang yang bagus dan mahal?? Mending beli barang murah. Kan kita bisa lebih sering ganti-ganti kalo rusak.

  • 8
    wilda-calysta
    July 25th, 2007 15:59

    Hai..salam kenal, tadi sempet baca postingan th 2005 tentang CDMA vs GPRS.. Kebetulan dah lama pake sanex 7090 utk internet dg starone, kemaren tuh kabel datanya rusak (yg bisa sekalian charge), dah nyari2x di roxy gak ada… tau gak ada yg jual dimana / bisa bl dimana?? Soalnya mo ganti ke yg lain agak ragu..

    Maaf ya kl komennya gak nyambung..

  • 9
    enggar
    July 26th, 2007 22:39

    Ada harga ada rupa. Kalo saya gabungan kedua-nya. Ada yang mahal ada juga yang murah :), Memang enaknya kalo yang mahal biasanya lebih awet. Yah, tergantung kebutuhan aja :)

  • 10
    auliahazza
    July 27th, 2007 09:44

    Kalau mau awet dan murah, bagaimana kalau jarang dipakai =))

    Ada saudara saya membanggakan sepatunya yang harganya murah (hanya Rp. 15.000) karena tidak pernah rusak hampir 10 tahun. Apa pasal ? Saya perhatikan, sepatunya dipakai dengan jarak yang super dekat yaitu hanya untuk naik dan turun mobil, dipakai hanya jika ada keperluannya. Dia saja jarang pergi. :P

    Saya pernah punya sepatu yang dibeli di Pasaraya Blok M, mahal sih Rp. 60.000 saat itu. Tapi awet 1 tahun, sering dibawa jalan kaki selama 30 menit (PP) sepanjang 1 tahun tsb. Biasanya kalau saya punya sepatu hanya tahan hanya 2-3 bulan + lecet. Karena saya punya kebiasaan punya 1 pasang sepatu.

    Ada juga baju saya (Hammer, Rp. 80.000) yang sudah ada hampir 20 tahun, sampai sekarang warna dan kualitas jahitan masih utuh dan bagus.

    Baju yang lain :( warnanya cepat pudar, jahitannya cepat lepas, cepat robek.

    Kalau produk bermerk kualitas jelek, berarti buatnya disini atau dipalsukan.

  • 11
    harry
    July 27th, 2007 09:53

    @maalik - jangan mau jadi korban melulu, korban trend ;)
    .
    Salah satu kriteria barang bagus (menurut saya) adalah desainnya juga tahan lama. Mau dipakai 10 tahun kemudian pun tetap tidak memalukan.
    Biasanya desainnya simpel & elegan, ini yang awet.
    .
    @wilda - kalau tidak salah saya ada satu yang nganggur, kalau masih perlu, kontak saja saya.
    .
    @bank al - betul, malah tidak selalu berkualitas, bahaya kalau kita menjadikan harga sebagai patokan :)
    .
    makanya, seperti yang saya katakan di posting di atas, kita perlu nih situs seperti dooyoo.co.uk, moga2 segera ada yang membuat.

  • 12
    funkshit
    July 28th, 2007 15:01

    klo buat saya, beli baju yang penting bisa flexibel n siap pakai
    dipake acara resmi bisa, buat kerja ok, buat gaul juga asik
    n klo abis di cuci ngga kusust, jadi bisa langsung dipake tanpa wajib disetrika..
    perfect deh

  • 13
    MaIDeN
    July 28th, 2007 15:47

    Indonesia meng-ekspor baju-baju buatan tangan-tangan terbaik anak bangsa ini. Oleh bangsa lain, kemudian baju tadi di beri merek trus dijual lagi.

    Orang Indonesia bangga sudah membeli baju bermerek terkenal :P dengan harga mahal padahal sebenarnya itu buatan saudara sebangsanya sendiri yang seharusnya bisa dibeli dengan harga yang murah.

    Well, maksut saya kadang kita terkecoh dengan merek.
    Kalau menurut saya pribadi, lebih baik kita memperhatikan kualitas barang saja daripada merek saat membeli baju.

    Kalau kualitas bagus dan ternyata mahal ya dibeli. Kalau kualitasnya kurang bagus, walau bermerek terkenal mending nggak usah dibeli.

  • 14
    MaIDeN
    July 28th, 2007 15:54

    Seorang teman membawakan buah tangan setelah pulang dari berkunjung ke negara orang.

    Orang-orang yang diberi oleh-oleh pada ngomel karena oleh-olehnya ternyata made in china. Walau motif dan corak memang sudah idetik dengan negara yang dikunjungi.

    hmmm….. ternyata memang soal “made in” poen masih mempengaruhi sebagian dari kita.

  • 15
    auliahazza
    July 30th, 2007 14:45

    I’m back.. ada yang kurang …

    Auliah diajarkan dari kecil untuk membeli apapun harus teliti. Contoh beli baju, mau merek terkenal atau tidak, buatan anak negeri atau luar negeri harus diperhatikan jengkal demi jengkal, benang demi benang, sudut demi sudut, lihat bagian terdalam. Ga peduli apakah menelitinya butuh waktu lama, tidak peduli SPGnya menampilkan wajah cemberut. Kalau dia ga suka, ga usah dibeli jualannya.

    Semenjak krismon kualitas barang yang ditemukan dipasaran lama kelamaan mengalami penurunan kualitas dengan harga murah. Karena daya beli masyarakat kita semakin lama menurun. Pengusaha sendiri memberi bahan dasar sangat mahal jadi diakalin deh … agar cepat laku …

    Contoh kasus. Sebelum krismon tinta pita LX800 bisa tahan lama. Tapi setelah krismon beberapa bulan kemudiannya, tinta cepat habis dan panjang pita lebih pendek daripada sebelumnya. Akhirnya kita beli pita LQ1170 untuk dipakai di LX800. Tidak masalah tempatnya jadi super full.

  • 16
    sufehmi
    February 8th, 2008 21:57

    Indonesia meng-ekspor baju-baju buatan tangan-tangan terbaik anak bangsa ini. Oleh bangsa lain, kemudian baju tadi di beri merek trus dijual lagi.
    Orang Indonesia bangga sudah membeli baju bermerek terkenal dengan harga mahal padahal sebenarnya itu buatan saudara sebangsanya sendiri yang seharusnya bisa dibeli dengan harga yang murah.

    .
    Ya, ini salah kita sendiri karena murah-oriented tapi dengan mengorbankan kualitas :)
    .
    Sementara orang asing itu bisa produksi murah tapi kualitas bagus, lalu tempel merk mereka — lalu mereka jual mahal ke kita lagi.
    .
    Ditiru dong… ;)

Leave a Reply

Subscribe without commenting