Sekolah Terbuka : siapa tega menolak mereka ?

Artikel di bawah ini ditulis oleh mbak Ida Sitompul, aktivis sosial yang juga anggota ISNET di Bandung.

Saya kira sangat menarik untuk berkolaborasi dengan beliau, karena proyeknya ini sudah berjalan. Tidak usah repot-repot lagi dari awal.
Bagi yang tertarik, silahkan berkomentar / kontak saya, maka nanti saya akan berikan informasi kontak mbak Ida.
Terimakasih.


Tahun ini, tahun kedua, di TKB Firdaus, SMP terbuka di komunitas Arcamanik, mendaftar 35 anak untuk menjadi murid padahal kapasitasnya cuma 20. Karena tidak hadir dalam rapat, saya hanya memperoleh hasilnya bahwa kita terpaksa mensortir anak-anak itu untuk menerima 20 saja. Guru dibagi untuk mensurvei keadaan keluarga dan kehidupan anak-anak itu untuk menentukan siapa yang harus kita terima.
Hati terasa tak nyaman, kalau mereka melamar tentulah mereka butuh dan ini hanya puncak gunung es. Lebih banyak lagi sebenarnya yang tidak mampu, dan menolak mereka membuat sedih. Saya mulai berfikir resource mana lagi yang bisa dimanfaatkan.

Kemarin saya mengunjungi rumah empat dari anak-anak itu yang menjadi bagian saya untuk disurvey. Mereka tinggal di perkampungan kumuh di luar kompleks perumahan saya dan kompleks perumahan di sekitar. Saya mengeluarkan sepeda dan mulai menyusur jalan berbatu-batu di sisi sungai di pinggir perumahan. Setelah bersepeda hati-hati, melewati lobang-lobang besar dan gerunjulan batu besar kecil, saya sampai ke perkampungan yang dituju dan mulai bertanya-tanya di mana RW nomor anu dan anu. Saya menuntun sepeda menyusuri gang-gang kecil di sisi-sisi rumah yang juga kecil-kecil. Sebagian jalan setapak itu sudah disemen, sebagian lagi masih tanah yang saya yakin becek dan licin di musim hujan.

Saya bertemu dengan salah seorang murid saya yang kemudian mengantarkan saya ke rumah pak RT. Ini anak yang mempunyai konotasi negatif tentang istana. Dia menunjukkan rumah teman-temannya yang lain yang kami lewati. Salah seorang murid pas sedang keluar dari pintu rumahnya waktu saya lewat. Dengan tersipu-sipu dia memberi salam. Tanpa seragam sekolah tambah tampak kepapaan mereka. Saya melihat rumahnya. Aaahhh, tak salah lagi rumah saya adalah istana. Walaupun rumah saya sebenarnya tidak mewah, cuma rumah di daerah perumahan sedang, tapi dibanding rumah mereka, rasanya memang pantas disebut istana. Apakah dia sama sinisnya terhadap para gurunya yang tinggal di “istana” ini? Mudah-mudahan pengalaman setahun ini mengubah pandangannya. Bukan kaya atau miskin yang membuat orang baik atau jahat, tapi kebaikan datang dari dalam hati.

Anak pertama anak ketua RT, kuli bangunan yang kadang bekerja kadang tidak.
Anak kedua tinggal di rumah yang sangat kecil, sangat gelap dan sangat kumuh bersama kakek dan nenek yang membesarkannya sejak bayi, waktu ayahnya meninggalkan dia dan ibunya begitu saja. Kakeknya yang kena stroke 1,5 tahun yang lalu bekerja sebagai pemulung. Kondisi tersebut membuatnya sulit mencari nafkah. Dia baru saja mulai lagi bekerja. Itu yang menjelaskan kondisi mereka yang tampak sangat memprihatinkan. Bagaimana dia bisa hidup dalam rumah itu? Saya ingat ruang atas tempat anak-anak saya yang selalu penuh dengan cahaya.

Anak ketiga adalah yatim yang ibunya bekerja sebagai pembantu rumah tangga di perumahan kami.
Yang ke empat tinggal di sebuah kamar kontrakan berukuran 2×4 yang dihuni 4 orang: neneknya yang lumpuh, kakak perempuannya yang baru saja menikah dan suaminya. Jauh lebih kecil daripada ruang musik di rumah teman saya. Ayahnya bekerja sebagai kuli bangunan di Aceh. Seluruh fungsi rumah kecuali kamar mandi dirangkap oleh ruang kecil itu. Di dalamnya ada satu tempat tidur yang tidak menyisakan sela ke dinding di kedua ujungnya, dibatasi sebuah rak pendek kecil dengan sebuah kasur tipis dilantai, tempat si nenek menerima saya. Entah bagaimana kakaknya menjalankan kehidupan berumah tangga yang normal dengan kahadiran neneknya yang lumpuh dan adiknya. Apa efeknya tinggal dengan kondisi demikian bagi anak itu? Saya ingin sekali bisa memindahkan anak itu dari sana.

Melihat keadaan itu rasanya marah juga pada keadaan, dan eh saya juga jadi agak marah pada teman-teman saya yang bercerita tentang pertandingan golf mereka dengan hadiah BMW untuk hole in one. Betapa timpangnya negara ini. Di satu pihak ada sebagian orang yang bisa mengeluarkan uang ratusan ribu untuk main-main saja, sementara itu berjuta orang lainnya tidak tahu apakah sore nanti bisa makan. Keluarga yang saya kunjungi umumnya cuma bisa agak memastikan makan pagi, tapi tidak untuk makan berikutnya.

Saya kembali ke rumah. Tidak bisa! Mereka harus diterima! Bagaimana mungkin kami menolak mereka? Guru apa lagi yang belum saya dapat untuk membuat satu kelas lagi? Hmm… teman yang satu itu pasti mau membantu. Yang satu lagi disana itu pasti juga mau. Dalam sekejap, lewat telepon saya mendapatkan dua orang teman yang bersedia menjadi guru. Saya yakin sebetulnya banyak orang ingin melakukan sesuatu, mereka hanya belum menemukan jalannya. Jadi, dengan ijinNya, besok pasti akan ada lagi yang menyediakan diri. Besok akan ada lagi yang membuat mimpi anak-anak itu untuk bisa sekolah akan terlaksana.

salam,
ida

11 Responses to “Sekolah Terbuka : siapa tega menolak mereka ?

  • 1
    wadiyo
    August 15th, 2007 11:40

    Assalamu’alaikum wr wb,

    Saya juga pingin sih seperti itu,
    gimana caranya ya?

    wassalam

    wadiyo-sidoarjo

  • 2
    rd Limosin
    August 15th, 2007 11:46

    ak kabarin dulu ke kenalan, siapa tau ad yg butuh, thx!

  • 3
    Yeni Setiawan
    August 15th, 2007 12:00

    Betul Pak Harry, banyak yang bersedia membantu namun belum tahu jalannya. Dengan melakukan publikasi, maka kita menunjukkan jalan kepada orang-orang yang mencari jalan.

  • 4
    hamdani
    August 16th, 2007 11:49

    Anak ketiga adalah yatim yang ibunya bekerja sebagai pembantu rumah tangga di perumahan kami

    dani pernah kepikiran, apakah kita menggaji karyawan kita terlalu kecil? dengan pertimbangan bahwa perusahaan kita memerlukan dana untuk di investasikan lagi di masa mendatang sehingga dapat membuka lapangan pekerjaan yang baru.

    Kita berpenghasilan cukup, cenderung berlebih, sebagian kelebihan itu kita masukkan kedalam tabungan kita untuk menjamin masa depan anak cucu kita. Sifat ini agaknya menyebabkan kekikiran juga ya?

    Gimana kira2? apa sepatutnya kita menggaji pembantu kita lebih besar? agar dia dapat hidup lebih sejahtera?

  • 5
    harry
    August 16th, 2007 12:38

    @hamdani - perusahaan jelas perlu terjaga cashflow nya + dana untuk pengembangan. Jika tidak, maka bisa kolaps. Kalau sudah kolaps, jelas sekedar menggaji bahkan di bawah UMR pun jadi tidak bisa kan ?
    .
    Seharusnya asal sudah memenuhi UMR, kesejahteraan mereka sudah bisa terpenuhi; jika negara benar-benar menjalankan fungsinya sebagai sosial security / jaring pengaman sosial.
    .
    Kita sudah lihat bagaimana di Inggris, buruh yang bekerja dengan upah di bawah UMR tetap bisa tinggal di rumah yang cukup mewah, semua anaknya sekolah, dan tidak cemas kalau perlu masuk rumah sakit.
    .
    Sebagai orang Islam, kita masih dianjurkan lagi untuk bersedekah.
    .
    Sejarah sudah membuktikan, sampai pernah terjadi orang kaya kebingungan mencari orang miskin untuk diserahi zakatnya - karena sudah tidak ada lagi.
    .
    Nah, sayangnya ini semua tidak berjalan di Indonesia.
    Pengusaha sudah kena pajak resmi + tidak resmi, namun tetap saja staf nya tidak sejahtera. Akibatnya performa mereka juga wajar saja kalau jadi di bawah harapan.
    Inilah nasib kalau tinggal di negara yang super korup (dan mayoritas koruptornya justru orang Islam).
    .
    Solusi situasi ini tetap ada, namun memang jadinya kita perlu berusaha lebih keras.
    .
    Seperti sistim bagi hasil. Nah, ini tidak mungkin merugikan perusahaan, karena dibagi dari net profit. Berbeda dengan pajak, yang mengenakan dari gross.
    Dan skema-skema lainnya.
    .
    Cape dehh.. tapi ya musti begitu, kalau mau peduli :)
    Thanks.

  • 6
    Andi Vicky
    October 23rd, 2007 15:57

    Assalammualaikum

    Pak Harry saya dan teman saya tertarik dengan sekolah terbuka diatas.

    Saya sendiri bekerja di Jakarta sementara teman saya berdomisili di Cimahi (dekat Bandung), kami tertarik untuk melihat langsung bagaimana pengelolaan sekolah tersebut dan kesulitan apa saja yang mereka temui. Bila memungkinkan kami tertarik untuk menawarkan bantuan semampu kami. Sudilah kiranya pak Harry berkenan memberikan alamat sekolah tersebut atau orang yang bisa dihubungi.

    Terimakasih,
    Wassalam.

  • 7
    sufehmi
    October 29th, 2007 17:24

    @Andi - wa’alaikumsalam wr. wb, terimakasih, saya sudah kontak via email. Silahkan bisa temukan detailnya di email anda.

  • 8
    Katrina
    February 14th, 2008 12:02

    Selamat Siang Pak Harry, saya Katrina. Saat ini saya sedang mempelajari tentang pendidikan dasar untuk thesis saya di Tokyo. Dan saya sangat2 tertarik dengan program sekolah terbuka. Saat ini saya sedang di Jakarta dan saya sangat ingin belajar tentang sekolah ini sekaligus melihatnya di bandung. Boleh tolong info alamat dan aksesnya?
    terima kasih banyak

    Katrina

  • 9
    sufehmi
    February 14th, 2008 20:31

    Halo mbak Katrina, saya akan kirim detailnya via email sebentar lagi. trims.

  • 10
    katrina
    February 15th, 2008 16:24

    Pak Harry
    Terima kasih, saya tunggu kabarnya. Kebetulan saya akan keBandung 19-20 feb ini. Sangat senang sekali kalo saya bisa mendapatkan kabarnya dalam waktu dekat, supaya tidak nyasar2 begitu..
    terika kasih banyak

  • 11
    wahyuni
    October 14th, 2008 10:59

    salam kenal pak Herry

    Saya juga pemerhati sekolah terbuka, karena saya juga lululan sekolah terbuka.

    Sekarang saya ingin menulis tentang pelaksanaaan sekolah terbuka di indonesia . mungkin bapak dapat memberi saya saran atau referensi yang bisa saya gunakan
    atau mungkin bagi teman lain yang punya ,tolong dong

Leave a Reply

Subscribe without commenting