JIL tertangkap basah (lagi)
Satu lagi aktivis JIL (Jaringan Islam Liberal) yang tertangkap basah menjalankan modus operandi kelompok ini :
taqlid buta terhadap sumber-sumber yang sejalan dengan nafsu mereka, dan serang yang bertentangan.
Mohamad Guntur Romli pada tanggal 1 September 2007 menulis sebuah artikel di Kompas, yang secara ringkas mengesankan bahwa Nabi Muhammad saw sangat banyak dipengaruhi oleh komunitas Kristen di Arab pada saat itu.
Ini sangat berbeda dengan berbagai sirah yang masyhur dan jelas periwayatannya, dan dengan implikasi yang juga bisa fatal; seperti memperkuat klaim para orientalis & umat nasrani tertentu bahwa Islam hanyalah sebuah aliran “sesat” / sempalan / sekte dari agama Kristen.
Pada klarifikasinya mengenai artikel tersebut, Guntur juga menafikan adanya mukjizat Nabi. (Bagi saya kisah-kisah mukjizat Nabi yang misalnya dadanya dibelah tidak bisa dipahami secara harfiyah, namun secara majaziyah (metaforis)).
Inilah salah satu lagi contoh bahaya dari su’ul ulama (ulama / orang berilmu yang jahat), yang telah diperingatkan oleh Nabi Muhammad saw sendiri.
Artikel tersebut kemudian dibedah dengan baik oleh Qosim Nursheha Dzulhadi.
Terlihat jelas bagaimana gigihnya Guntur menjalankan modus operandi JIL tersebut, sampai mau menggunakan referensi-referensi yang meragukan kebenarannya sekalipun.
Terlampir adalah artikel selengkapnya sebagai referensi.
“Muhammad SAW, Guntur Romli dan Pembajakan Sirah Nabi”
oleh: Qosim Nursheha DzulhadiTulisan Mohammad Guntur Romli (Kompas, 1 September 2007) menarik untuk dicermati. Setelah membaca tulisannya yang lumayan panjang itu, penulis berkesimpulan bahwa Guntur ingin menyatakan bahwa Nabi Muhammad tumbuh dan ‘dibesarkan’ oleh milieu Kristen. Artinya, lingkungan dan kaum cerdik pandai Kristen punya andil yang cukup vital terhadap pribadi dan nubuwwah (kenabian) Nabi Muhammad SAW. Tentu saja tulisan tersebut ‘menarik’: perlu dicermati dan dikritisi.
Tentang Arca Maryam (Maria) dan Yesus di Ka‘bah
Mengutip Muhammad bin Abdillah al-Azraqi – dalam Akhbar Makkah – Guntur menyatakan bahwa terdapat “gambar dan arca Isa (Yesus) dan ibunya, Maryam (Maria) di Ka‘bah”. Benarkah demikian?
Sejarawan Muslim terkemuka, Ibnu Katsir (w. 774 H) membeberkan – dengan panjang lebar – situasi dan kondisi ketika Fathu Makkah dalam bukunya yang terkenal, al-Bidayah wa al-Nihayah. Beliau menyebutkan bahwa Nabi Muhammad SAW memang melihat patung nabi Ibrahim as. dan Maryam (Maria) di Ka‘bah. Tapi, dia tidak menyebutkan adanya arca Isa (Yesus) di sana. Ketika melihat gambar keduanya, beliau berkata, “Dan mereka sudah mendengar bahwa malaikat tidak akan masuk ke dalam rumah (bait) yang di dalamnya terdapat gambar Ibrahim. Lalu bagaimana pula seandainya gambar ini memanah – mengundi nasib dengan anak panah.” (Ibnu Katsir, al-Bidayah wa al-Nihayah, 1998, 4: 698). Justru di sini Nabi SAW tidak setuju adanya patung kedua orang yang dimuliakan itu.
Kenapa saya mengutip Ibnu Katsir? Karena beberapa buku yang dikutip oleh Guntur masih diragukan validitasnya, seperti al-Halabi dan Ibnu Jarir al-Thabari. Buku sirah Ibnu Hisyam (w. 218 H) yang paling otentik pun tidak ada menyebutkan patung Maryam dan Isa (Yesus). Yang disebutkan hanya gambar para malaikat, nabi Ibrahim as. dan yang lainnya. Nabi SAW akhirnya marah dan mengatakan, “Mereka telah menjadikan ‘syaikh’ kita mengundi nasib dengan anak panah. Ibrahim tidak ada kaitannya dengan pengundian nasib seperti itu.” Lalu beliau membaca ayat, “Ibrahim itu bukan seorang Yahudi tidak pula Kristen, melainkan orang yang hanif (lurus) dan menyerahkan diri (muslim), tidak pula seorang yang musyrik (Ali Imran: 67).” Lalu beliau menyuruh agar seluruh gambar-gambar itu diubah (dihapus). (Ibnu Hisyam, al-Sirah al-Nabawiyyah, tahqiq dan syarh: Musthafa al-Saqa, Ibrahim al-Abyari dan Abd al-Hafizh Syalabi, 1997, 4: 61).
Pendapat Ibnu Hisyam ini mengandung dua kemungkinan. Pertama, kata “yang lainnya” (ghairuhum), menunjukkan adanya ‘lukisan/gambar’ Maryam dan Isa (Yesus), bukan “arca” Maryam dan Yesus seperti pendapat yang di‘comot’ Guntur. Kedua, Nabi SAW tidak membiarkan gambar-gambar tersebut (para malaikat, nabi Ibrahim dan yang lainnya) menghiasi dinding Ka‘bah). Maka, gambar-gambar itu pun dihilangkan. Jadi, tidak benar jika arca – pendapat yang dikutip Guntur – tersebut baru hancur pada masa Yazid bin Muawiyah. Hal ini dikuatkan dengan fakta historis, bahwa pada masa Yazid ibn Muawiyah tidak pernah dibicarakan masalah penghancuran gambar-gambar (arca) tersebut.
Afirmasi Al-Qur’an
Al-Qur’an (Qs. Al-Ma’idah: 82), menurut Guntur, mengakui kedekatan orang Kristen dengan Muhammad. Tentu kita tidak menyangkal fakta historis ini, tapi ini perlu dilihat secara jeli dan ‘jurdil’, tidak asal afirmasi. Benar sekali bahwa Waraqah bin Naufal, kakak sepupu Khadijah sebagai orang Kristen, namun Kristen yang masih mengikuti millah Ibrahim yang hanif. Tapi, pengakuan Waraqah tentang kenabian Nabi SAW perlu dilihat dengan kritis. Setelah berbicara tentang sosok Jibril yang datang kepada Nabi SAW di Gua Hira’, Waraqah menyatakan: “Jika itu benar wahai Khadijah, berarti Muhammad adalah “Nabi umat ini”. Dan aku sudah tahu bahwa dia adalah seorang nabi yang ditunggu-tunggu (nabiyyun yuntazhar) oleh umat ini. Ini adalah masanya.” (Ibnu Hisyam, al-Sirah al-Nabawiyyah, 1988, 1: 228).
Peristiwa “Gua Hira” itulah yang disebut oleh Waraqah sebagai “Namus” alias “rahasia” yang pernah turun kepada Musa. Lalu Waraqah berikrar: “Amboi, seandainya aku ketika itu – ketika Nabi SAW dimusuhi oleh kaumnya dan dikeluarkan dari Mekah – kuat (kokoh) dan hidup ketika kaummu mengeluarkanmu.” “Apakah mereka akan mengeluarkanku?” tanya Nabi SAW. “Ya, tidak ada seorang pun yang datang membawa seperti apa yang engkau bawa kecuali dimusuhi. Seandainya umurku sampai pada masamu itu, niscaya aku akan menolongmu sekuat tenagaku.” (Wa in yudrikuni yaumuka, anshuruka nashran mu’azzaran). (Ibnu Katsir, al-Bidayah wa al-Nihayah, 1998, 3: 6).
Di sini, Waraqah mengakui bahwa Nabi SAW adalah “nabi akhir zaman”: nabi umat ini. Jika Waraqah hidup pada masa risalah dan kenabian beliau, kemungkinan besar akan memeluk Islam.
Juga tidak benar jika Nabi SAW berjalan-jalan di pasar tujuannya adalah menyimak dan mengamati seluruh kegiatan pasar yang berfungsi pula sebagai “festival kebudayaan” (Qs. Al-Furqan: 7). Ini adalah pemahaman salah Guntur terhadap ayat. Padahal maksud ayat di atas adalah penjelasan tentang sifat kemanusiaan (basyariyyah) Rasul SAW. Karena orang-orang kafir menolak bahwa “seorang nabi” tidak selayaknya melakukan hal-hal seperti manusia biasa: mencari rizki di pasar-pasar. Oleh karena itu – dalam ayat tersebut – orang-orang kafir menyangkal: “Wa qalu: ‘Ma lihadza al-rasuli ya’kulu al-tha‘ama wa yamsyi fi al-aswaq…” (Kenapa rasul ini makan makanan dan berjalan-jalan di pasar (mengais rizki) di pasar-pasar….?) Apa yang dilakukan Guntur adalah “pembajakan makna dan subtansi ayat”, dan ini sangat tidak ilmiah dan tidak sepatutnya terjadi.
Guntur kemudian menyebutkan dua pusat kekristenan: Yaman dan Syam; yang menjadi tujuan niaga kafilah Quraisy. Yaman dikuasai oleh dinasti Habsyah (Etiopia) yang mengikuti aliran monopisit-koptik, sedangkan Syam diperintah oleh dinasti Ghassan yang mengikuti aliran monopisit-yakobis. Muhammad telah mengunjungi dua kawasan itu ketika masih remaja bersama kafilah pamannya, dan saat jadi buruh niaga Khadijah, demikian tulis Guntur. Yang ingin disampaikannya adalah: Muhammad telah terpengaruh oleh tradisi Kristen di kedua wilayah itu sejak dini.
Sejatinya, ketika Rasul SAW pergi – ketika berumur 12 tahun – ke Syam bersama pamannya, Abu Thalib, pendeta Buhaira justru menerangkan tentang tanda-tanda kenabian Rasul SAW. (Ibnu Katsir, al-Bidayah wa al-Nihayah, 1998, 2: 630). Buku-buku sirah tidak menyebutkan keterpengaruhan beliau dengan budaya (tradisi) Kristen yang ada di sana. Ibnu Hisyam sendiri menyebutkan Buhaira malah bertanya atas nama Lata dan ‘Uzza kepada Nabi SAW, kemudian beliau menolak kedua nama tuhan orang kafir Quraisy itu. Nabi sejak dini sudah membenci kedua sosok tuhan itu. Akhirnya Buhaira menuruti kata Nabi SAW dan mengganti nama Lata dan ‘Uzza dengan kata “Allah”. Setelah Nabi SAW menjawab pertanyaan Buhaira, terjadilah dialog yang cukup panjang antara dia dengan Abu Thalib: “Apa posisi anak ini bagimu?” “Dia anakku”, jawab sang paman. “Dia bukan anakmu, sepertinya bapak anak ini sudah tidak ada (wafat).” “Dia adalah anak saudaraku”, jelas Abu Thalib. “Apa yang terjadi atas ayahnya?” tanya Buhaira. Abu Thalib menjawab: “Ayahnya telah meninggal, ketika ibunya mengandung dia.” “Anda benar”, tegas Buhaira. “Bawa pulanglah anak saudaramu ke kampung halamannya. Hati-hatilah terhadap orang Yahudi. Sungguh, jika mereka melihatnya dan mengetahui apa yang aku ketahui, mereka akan bertindak tidak baik kepadanya. Akan terjadi peristiwa besar (sya’nun ‘azhim) kepada anak saudaramu ini. Cepatlah bawa dia pulang ke kampung halamannya”, perintah Buhaira. (Ibnu Hisyam, al-Sirah al-Nabawiyyah, 1997, 1: 219-220). Jadi, tidak ada interaksi dan proses keterpengaruhan Nabi SAW oleh tradisi Kristen di Syam.
Peristiwa kedua adalah ketika Nabi SAW membawa dagangan Khadijah bersama Maisarah. Sesampainya di sana, beliau kemudian bersandar di bawah sebatang pohon dekat gereja seorang pendeta – namanya Nestor [Nestorius]. Kemudian pendeta itu bertanya kepada Maisarah: “Siapa orang yang berteduh di bawah pohon ini?” “Dia adalah seorang laki-laki dari suku Quraisy, keluarga pengurus ‘al-Haram’ (Ka‘bah)”, jawab Maisarah. “Tidak ada seorang pun yang datang berteduh di bawah pohon ini, kecuali dia (adalah) seorang nabi”, kata Nestorius. (Ibnu Hisyam, ibid: 1: 225). Di sini pun tidak ada proses interaksi yang bisa dijadikan bukti kuat bahwa Nabi SAW terpengaruh oleh tradisi Kristen. Sedangkan ke Yaman, Nabi SAW tidak pernah dikabarkan pergi ke sana. Apalagi dikatakan bahwa beliau terpengaruh oleh tradisi Kristen yang ada di sana.
Beberapa Kritik
Pendapat Khalil Abdul Karim, penulis Marxis Mesir, yang dikutip oleh Guntur perlu dicermati dan dikritisi. Pasalnya, dia mengklaim bahwa Khalil membeberkan pendapatnya berdasarkan sumber-sumber sejarah primer, seperti al-Thabari, sirah Ibnu Ishaq, al-Ya‘qubi dan yang lainnya.
Khalil, kutip Guntur, dalam bukunya Fatrah al-Takwin fi Hayati al-Shadiq al-Amin (Periode Kreatif dalam Kehidupan Muhammad) menyatakan bahwa Khadijah adalah “arsitek” kenabian yang dibantu oleh “komunitas intelegensia Kristen”. Mereka adalah Waraqah bin Naufal, Qatilah, seorang rahibah, serta saudara sepupu mereka, Utsman bin al-Huwairits, yang mengikuti aliran Kekristenan Bizantium (Melkitis) hingga diangkat menjadi kardinal.
Khadijah memiliki dua budak Kristen: Nashih yang jauh-jauh hari meminta tuannya menikah dengan Muhammad, dan Maisarah yang bertugas mengamati Muhammad dalam perniagaan ke Syam. Selain dengan anggota keluarganya, Khadijah juga membangun korespondensi dengan beberapa pendeta: Adas di Thaif, Buhaira di Bushra, Syam, dan Sirgius di Mekkah. Itulah kutipan Guntur dari buku Khalil. Benarkah yang dikatakan oleh Khalil dan Guntur?!
Di sini Guntur tidak kritis dan tidak selektif dalam ‘mencomot’ pendapat Khalil. Waraqah, Utsman ibn al-Huwairits, Abdullah ibn Jahsy, Zaid ibn Amru ibn Nufail ibn Abd al-‘Uzza memprotes kebiasaan orang-orang Quraisy yang setiap tahun merayakan hari raya mereka di depan salah satu patung (berhala) mereka. Sebagian mereka berkata kepada yang lainnya: “Belajarlah, sungguh kaum kalian tidak memiliki pegangan apa-apa! Mereka telah menyalahai agama moyang mereka, Ibrahim! Apa itu batu yang mereka ukir; tidak dapat mendengar dan melihat, tidak mampu mendatangkan bahaya dan memberikan manfaat. Wahai kaum, carilah satu agama untuk kalian. Sungguh, kalian tidak memiliki satu pegangan. Lalu mereka berpencar di kota-kota besar untuk mencari agama yang lurus (al-hanifiyyah), agama Ibrahim. (Ibnu Hisyam, al-Sirah al-Nabawiyyah, 1997, 1: 259-260). Fakta ini sangat menarik untuk diungkap.
Waraqah sendiri menjadi kuat kedudukannya dalam agama Kristen; Abdullah ibn Jahsy tetap dalam ketidakjelasan hingga masuk Islam dan hijrah bersama kaum Muslimin ke Habasyah beserta istrinya, Habibah binti Abi Sufyan. Ketika sampai di Habasyah, dia masuk Kristen; meninggalkan Islam dan mati dalam keadaan Kristen. Sedangkan Utsman ibn al-Huwairits, pergi mendatangi Kaisar, raja Romawi dan memeluk Kristen, sehingga mendapat kedudukan yang baik di Romawi. Dan Zaid ibn Amru memilih ‘tawaqquf’: tidak memeluk Yahudi juga – tidak memeluk – Kristen. (ibid: 260 & 261). Jadi, orang-orang yang disebutkan oleh Khalil pada awalnya tidak punya agama yang tetap, justru mereka sepakat untuk mencari ‘Hanifiyyah Ibrahim’. Dan tidak pernah disebutkan bahwa mereka mempengaruhi keyakinan (akidah), ritual ibadah dan tradisi agama Nabi SAW. Malah Khadijah akhirnya membenarkan wahyu yang turun kepada beliau, dan memeluk Islam. Lalu mengapa pendapat Khalil harus kontradiktif dengan pendapat Ibnu Hisyam dalam sirah, yang merupakan ‘revisi’ atas karya Ibnu Ishaq ini?!
Perlu dicatat, bahwa Tarikh al-Thabari meskipun merupakan karya yang “sarat nilai” kemungkinan banyak menampilkan riwayat-riwayat yang diragukan dan banyak memuat dokumen-dokumen yang tidak valid (watsa’iq ghair watsiqah) (Muhammad Hamidullah, Majmu‘ah al-Watsa’iq al-Siyasiyyah li al-‘Ahd al-Nabawiy wa al-Khilafah al-Rasyidah, Beirut, cet. VII, 2001: 29).
Hamidullah sendiri mengakui bahwa buku al-“Kharraj” karya Abu Yusuf dan “al-Sirah al-Nabawiyyah” karya Ibnu Hisyam merupakan dua karya yang paling awal, paling hati-hati dan paling otentik. Karena al-Thabari, menurut Prof. Dr. Akram Dhiyauddin Umari, sering menyebut suatu peristiwa yang diriwayatkan oleh perawi yang sangat lemah sekalipun, seperti Hisyam ibn Kalbi, Saif ibn Umar al-Tamimi, Nasr ibn Mazahim, dan lainnya. (Prof. Dr. Akrham Dhiyauddin Umari, Madinan Society at the Time of the Prophet: Its Characteristics and Organization (Masyarakat Madani: Tinjauan Historis Kehidupan Zaman Nabi), Terjemah: Mun’im A. Sirriy, GIP, 1999: 37).
Oleh karena itu, usaha Ibnu Katsir dalam al-Bidayah wa al-Nihayah merupakan usaha yang sangat selektif dalam mengurai peristiwa sejarah, dibanding al-Thabari. Karya Ibnu Katsir ini, menurut Umari, merupakan satu karya agung dalam bidang sejarah dan memuat bagian tertentu yang secara khusus membahas sirah. Ibnu Katsir merupakan salah seorang imam besar yang dengan cermat meneliti teks-teks. Al-Dzahabi, Ibnu Hajar dan Ibnu Imad al-Hanbali menganggapnya sebagai ulama yang dapat dipercaya. (ibid: 58). Tapi buku ini sama sekali sekali tidak dirujuk oleh Khalil, konon lagi Guntur.
Guntur lebih suka ‘mengekor’ kepada Khalil, yang mencomot riwayat dari al-Sirah al-Halabiyyah karya Burhanuddin al-Halabi (w. 841 H). Padahal buku ini banyak memuat kisah-kisah isra’iliyyat. Burhanuddin al-Halabi tidak menyebut isnad riwayat-riwayat, dan hanya sesekali menyebut perawi akhbar. (Umari, ibid: 58-59). Buku Ansab al-Asyraf karya Ahmad ibn Yahya ibn Jabir al-Baladhuri (w. 279 H), yang dikutip Guntur, dianggap lemah oleh para ulama hadits (dha‘if). Ibnu Hajar (dalam karyanya, Lisan al-Mizan) menulis biografinya dalam bukunya tentang dhu‘afa’ ‘orang-orang lemah’. (Umari, ibid: 57).
Hal penting yang harus digarisbawahi juga adalah masalah “korespondensi” Khadijah dengan para pendeta yang disebutkan oleh Khalil dan di‘taklid’ oleh Guntur. Buku-buku sirah tidak membeberkan masalah ini. Apalagi dikatakan bahwa Khadijah berkorespondensi dengan Adas – menurut Guntur seorang pendeta. Adas adalah seorang Kristen dari Ninawi sekaligus “budak” dua orang anak Rabi‘ah: ‘Utbah dan Syaibah. Ketika Nabi SAW menjelaskan bahwa nabi Yunus adalah saudaranya – dalam kenabian – Adas langsung mencium kepala beliau, kedua tangan dan kakinya. (Lihat lebih detail, Ibnu Katsir, al-Bidayah wa al-Nihayah, op. cit., 3: 147 & 148). Apa yang disebutkan oleh Guntur adalah sebaliknya. Sirgius juga bukan di Mekah tempatnya. Sirgius adalah nama lain dari Buhaira, seorang rahib Yahudi, seperti yang dituturkan oleh al-Suhayli dari al-Zuhri. Dan menurut al-Mas‘udi, dia adalah dari ‘Abd al-Qais. (ibid., 2: 691).
Maka, tidak benar pendapat Guntur bahwa ketika Nabi SAW mendapat wahyu pertama, Khadijah memiliki inisiatif mendatangi anggota kaum cerdik pandai ketika itu satu persatu, dimulai dari Waraqah dan Sirgius di Mekah, Adas di Thaif, hingga Buhaira di Syam. Apa yang disebutkan oleh Guntur adalah pembajakan fakta historis. Apalagi buku al-Halabiyah yang – banyak mengandung isra’iliyyat – dijadikan rujukan bahwa Khadijahlah yang menguji wahyu yang turun kepada Baginda Rasul SAW. Ini bukan saja disebut sebagai “pembodohan umat” tapi “penyelewengan” yang tidak ilmiah, tidak bisa dipertanggung-jawabkan dan tidak dapat dibenarkan.
Wallahu a‘lamu bi al-shawab. (Medan, 6 September 2007).
*) Penulis adalah alumnus Universitas Al-Azhar, Kairo. Penulis juga peminat studi Qur’an-Hadits dan Kristologi. Sekarang menjadi staf pengajar di Pondok Pesantren Ar-Raudhatul Hasanah, Medan-Sumatera Utara.
Artikel pemicu kontroversi :
Muhammad dan Kaum Cerdik Pandai Kristen
MOHAMAD GUNTUR ROMLI
Kepribadian dan pengetahuan Muhammad dibentuk oleh lingkungannya. Leluhurnya dikenal menaati prosedur dan ajaran kenabian. Salah satu lingkungannya adalah kaum cerdik pandai Kristen.
Jauh sebelum kenabian Muhammad telah ada anasir-anasir kenabian dan ketauhidan (monoteisme) yang merujuk pada peran dua komunitas teologis di Mekkah, yang warganya dikenal sebagai penyembah berhala. Yang pertama ialah pengikut al-hanîfiyah yang mendaku sebagai ahli waris ajaran Ibrahim. Abdul Muthalib yang adalah kakek Muhammad dan ketua Bani Hasyim merupakan tokoh terpenting dalam aliran ini. Tercatat pula nama Zaid bin Amru, paman Umar bin Khathab, yang memiliki syair-syair kepasrahan. Salah satu baitnya, aslamtu wajhi liman uslimat, lahu al-ardlu tahmilu shakhran tsiqâla, ’aku pasrahkan diriku pada Dia, seperti kepasrahan bumi yang membawa batu karang yang berat’.
Yang kedua adalah komunitas Ahli Kitab. Ini sebutan bagi pemeluk agama Yahudi dan Kristen. Orang Kristen di kalangan Islam disebut sebagai Nasrani yang dinisbatkan pada al-Nâshirah atau Nazaret, asal Isa al-Masih. Namun, bagi orang Kristen mayoritas, Nasrani di Jazirah Arab adalah sebuah sekte. Berbeda dengan bangsa Arab yang mandul dari kenabian, bangsa Yahudi subur dengan kenabian. Dua komunitas itu punya satu misi. Sama-sama memusuhi kaum pagan. Pada masa itu mereka tersebar luas di Jazirah Arab. Orang Yahudi bermukim di Yastrib (Madinah), orang Kristen menunjukkan pengaruhnya di Mekkah.
Menurut Al-Ya’qubî dalam Tarîkh: orang Quraisy yang memeluk Kristen dari Bani Asad antara lain adalah Utsman bin al-Huwairits dan Waraqah bin Naufal. Khadijah yang istri Muhammad berasal dari bani ini. Informasi yang lebih menarik datang dari Muhammad bin Abdillah al-Azraqi dalam Akhbâr Makkah (Kabar-kabar Mekkah), tentang gambar dan arca Isa (Yesus) bersama ibunya, Maryam (Maria), di Kabah. Ketika berhasil menaklukkan Mekkah dari pemeluk pagan, Muhammad membersihkan Kabah dari segala perupaan, kecuali Isa dan Maryam. Arca tersebut baru hancur bersama puing-puing Kabah akibat perang di era Yazid bin Muawiyah.
Mengakui
Alquran (al-Ma’idah: 82) menegaskan kedekatan orang Kristen dengan Muhammad yang berbeda dari orang Yahudi dan kaum pagan Mekkah yang bersikap memusuhi. Orang Kristen mencintai Muhammad dan pengikutnya “karena di antara mereka ada pendeta-pendeta (qissîsîn) dan rahib-rahib (ruhbân) dan mereka tidak menyombongkan diri”. Maksudnya, mereka mengakui kenabian Muhammad, tetapi tidak mengikutinya.
Yang terkenal adalah Waraqah bin Naufal, kakak sepupu Khadijah. Dia memberi kesaksian terhadap wahyu pertama yang diterima Muhammad dan disebut dalam riwayat al-Bukhari hadis nomor tiga sebagai “seorang yang memeluk Kristen pada zaman Jahiliah, menulis kitab dalam Ibrani, dan mampu menyalin dari Injil Ibrani”.
Kependetaan Waraqah ditegaskan Muhammad dalam Sîrah (biografi Muhammad) karya Ibn Ishaq (1999: 203): “Sungguh aku telah melihat Pendeta (Waraqah) berada di surga dengan memakai pakaian dari sutra.” Dalam versi riwayat lain hadis tadi adalah respons ketika nasib Waraqah di akhirat dipertanyakan karena tetap setia memeluk Kristen sampai akhir hayatnya meski ia menyaksikan kenabian Muhammad.
Para penyair Kristen dan al-hanîfiyah melantunkan syair-syair keagamaan mereka di pasar-pasar Mekkah, khususnya di Ukadz. Alquran (al-Furqan: 7) menyebut kebiasaan Muhammad menjelajahi pasar-pasar bukan bertujuan berbelanja, melainkan menyimak dan mengamati seluruh kegiatan pasar yang berfungsi pula sebagai “festival kebudayaan”.
Dua jilid karya Luis Syaikhu, Târîkh al-Nashrâniyah wa Adâbuhâ Bayna ’Arab al-Jâhiliyah (Sejarah dan Sastra Arab Kristen di Era Arab Jahiliah) terbitan Dar al-Masyriq, Lebanon, tahun 1989, menjelaskan peran nyata kaum cerdik pandai Kristen terhadap kebudayaan Arab. Syaikhu menyebut peran Umayyah bin Abdillah bin Abi Shalat, penyair Kristen era Jahiliah yang memiliki syair-syair keagamaan. Syair-syair Umayyah telah mengenalkan nama-nama lain Allah yang disebut al-asmâ’ al-husnâ (nama-nama terbaik). Demikian juga nama malaikat Jibril, Izrail, dan Israfil; tingkatan surga dan neraka; tujuh lapis langit dan bumi; asal-usul penciptaan alam; kisah Adam-Hawa dan dua anaknya; air bah Nuh; Yunus (Yunan) yang ditelan dan bisa hidup di perut ikan; serta kisah-kisah para nabi lainnya hingga kisah Ashabul Kahfi yang masyhur di kalangan orang suci Kristen sebagai les Sept Dormants (Tujuh Orang yang Tertidur) yang merujuk pada masa pertengahan abad ke-3 Masehi.
Demikian pula dua kawasan yang menjadi tujuan utama kafilah niaga Kabilah Quraisy: Yaman dan Syam. Keduanya merupakan pusat kekristenan. Yaman dikuasai oleh dinasti Kristen Habsyah (Etiopia) yang mengikuti aliran monofisit-koptik, sedangkan Syam diperintah oleh dinasti Ghassan yang mengikuti aliran monofisit-yakobis. Muhammad telah mengunjungi dua kawasan itu ketika masih remaja bersama kafilah pamannya, dan saat jadi buruh niaga Khadijah. Pusat kekristenan lain di al-Hira diperintah oleh dinasti Kristen Lakhm yang mengikuti aliran monofisit-nestorian.
Khadijah
Khadijah menurut informasi sejarah adalah istri Muhammad yang berasal dari keluarga Kristen di Mekkah (Bani Asad). Sumber sejarah Islam tak ada yang secara tegas menyebut agama Khadijah sebelum Islam. Namun, ada fakta menarik mengenai keteguhan Muhammad tetap setia monogami dan tidak menikah lagi, kecuali setelah Khadijah wafat. Monogami dan perceraian atas dasar kematian adalah tradisi kekristenan kuno yang berbeda dari tradisi poligami bangsa Arab.
Khadijah berjuluk al-Thâhirah (Perempuan Suci). Ini simbol teologis. Perempuan terhormat biasanya cukup disebut al-Syarîfah atau al-Karîmah. Perempuan suci dalam Kristen disebut santa. Diakah Santa Khadijah? Julukannya yang lain Sayyidah Nisâ’ Quraisy (Puan dari Seluruh Perempuan Quraish) yang memperlihatkan Khadijah sebagai “perempuan suci dan pilihan”.
Gelar dan pengakuan terhadap Khadijah ini bisa disamakan dengan pengakuan Alquran terhadap Santa Maria, Bunda Yesus, dalam Surat Ali Imran Ayat 42 yang menyatakannya sebagai “perempuan pilihan dan suci”.
Khadijah bisa dibilang “ibu” Muhammad karena perbedaan umur mereka yang terpaut 25 tahun. Dalam Ansâb al-Asyrâf (Nasab-nasab Orang Mulia) karya al-Baradzari, Muhammad menikah pada usia hampir 21 tahun—merujuk pula pada kebiasaan pemuda Arab waktu itu yang menikah pada umur 20 tahun—sedangkan Khadijah berusia 46 tahun. Menurut Bint Syathi’, penulis buku Nisâ’ al-Nabî (Istri-istri Nabi), peran Khadijah sebagai istri sekaligus ibu bagi Muhammad tak hanya bersumber dari perbedaan usia, tetapi juga tersebab Muhammad anak yatim piatu yang kehilangan kasih sayang ibunya.
Bagi Khalil Abdul Karim, penulis Fatrah Takwîn fi Hayâti al-Shâdiq al-Amîn (Periode Kreatif dalam Kehidupan Muhammad) terbitan Dar Mishr al-Mahrusah, Cairo, tahun 2004, Khadijah adalah “arsitek” kenabian yang dibantu oleh “komunitas inteligensia Kristen”. Mereka adalah Waraqah bin Naufal dan adiknya, Qatilah, seorang rahibah, serta saudara sepupu mereka, Ustman bin al-Huwairits, yang mengikuti aliran Kekristenan Bizantium (Melkitis) hingga diangkat menjadi kardinal. Khadijah memiliki dua budak Kristen: Nashih yang jauh- jauh hari meminta tuannya menikah dengan Muhammad, dan Maisarah yang bertugas mengamati Muhammad dalam perniagaan ke Syam. Selain dengan anggota keluarganya, Khadijah juga membangun korespondensi dengan beberapa pendeta: Adas di Taif, Buhaira di Bushra, Syam, dan Sirgius di Mekkah. Buku Khalil tadi merujuk pada sumber-sumber primer Sîrah Muhammad yang jarang disentuh, seperti Sîrah Ibn Ishaq, Ibn Sayyidi al-Nas, al-Halabiyah, al-Syamiyah, Târîkh al-Thabari, dan al-Ya’qubi.
Khadijah dan timnya telah mengamati Muhammad sejak lama. Dalam Sirah Ibn Katsir diriwayatkan Khadijah sudah dikabari oleh Nashih, budaknya, dan Pendeta Buhaira di Syam untuk menikah dengan Muhammad. Dikisahkan juga bahwa Qatilah telah menawarkan diri kepada Abdullah, ayah Muhammad, untuk dijadikan istri karena Abdullah memiliki “cahaya kenabian”. Buhaira telah melihat Muhammad dua kali sebelum penetapan kenabian. Informasi ini menunjukkan bahwa komunitas itu mengamati keluarga Muhammad secara saksama.
Khadijah mengangkat Muhammad sebagai buruhnya saat berusia 18 tahun agar bisa mengamatinya dari dekat. Sebelum menikah, Muhammad telah melakukan dua perjalanan niaga Khadijah ke Habsyah dan ke Syam. Niaga ke Habsyah hampir tidak disebut dalam versi umum biografi Muhammad, tetapi kisah itu dituturkan oleh sejarawan klasik, seperti al-Thabari, al-Suhayli, dan al-Maqrizi.
Sementara dalam perniagaan ke Syam, Khadijah perlu menyertakan seorang hambanya bernama Maisarah yang kenal baik dengan Pendeta Buhaira untuk mengamati gerak-gerik Muhammad, khususnya pertemuannya dengan Buhaira.
Setelah yakin bahwa Muhammad adalah sosok tepat dari beberapa pertimbangan (keluarganya yang menjalankan prosedur kenabian, nasihat-nasihat anggota komunitasnya, serta pengamatannya secara langsung), barulah Khadijah melamar Muhammad tak hanya sebagai suami, tetapi lebih itu dari sebab—dalam kata-kata Khadijah sendiri—”aku sangat ingin agar kamu (Muhammad) menjadi nabi bagi umatmu.”
Dalam proses pernikahan mereka, tampak kegembiraan Abu Thalib dan antusiasme Waraqah dari pembacaan khotbah nikah mewakili pihak keluarga Khadijah. Sedangkan wali Khadijah—bapaknya, al-Khuwailid atau pamannya, Amru—tidak terlalu antusias dengan pernikahan itu. Bagi mereka, Muhammad tetap dipandang sebagai anak yatim yang berasal dari keluarga miskin. Adapun Khadijah dan Waraqah memiliki tujuan lain dengan pernikahan itu.
Nubuat kenabian
Pernikahan Muhammad yang berasal dari keluarga al-hanîfiyah (Bani Hasyim) dengan Khadijah yang berasal dari keluarga Kristen (Bani Asad) adalah koalisi kelompok ketauhidan melawan kelompok pagan.
Dua komunitas tersebut telah membangun suasana-suasana kenabian. Nubuat kenabian dari jalur Abdul Muthalib telah dikabarkan jauh sebelum Muhammad lahir. Abdul Muthalib dengan sadar telah mempraktikkan kembali semacam prosedur-prosedur kenabian. Posisinya seperti Ibrahim yang memusuhi berhala dan menyembelih anaknya sebagai kurban bagi Allah. Abdul Muthalib telah menyerukan ajaran Ibrahim itu dan bernazar menyembelih putranya, Abdullah, ayah Muhammad.
Masa pernikahan hingga pewahyuan yang terentang kira-kira 20 tahun—Muhammad menerima wahyu berumur 40 tahun—adalah “tahun-tahun yang hilang” dari kehidupan Muhammad yang disebut oleh Khalil Abdul Karim sebagai fatrah al-takwîn (periode kreatif). Muhammad adalah seorang ummî (buta huruf), maka di masa-masa itulah Khadijah, Waraqah, dan kaum cerdik pandai Kristen memiliki andil dalam menyiapkan proses kenabian Muhammad. Di siang hari Muhammad menjelajahi pasar-pasar di Mekkah yang membuatnya mengetahui segala kisah dan perkembangan masyarakatnya. Di malam hari Muhammad akan menghabiskan waktu berbincang-bincang dengan Khadijah.
Adalah hal biasa bila Waraqah sering berkunjung untuk menceritakan hal-hal yang ia ketahui dari kitab-kitab yang ia salin. Kita bisa membayangkan betapa marak aktivitas-aktivitas dalam rumah Khadijah yang dipenuhi kaum intelektual yang memiliki ambisi kenabian itu.
Khadijah bersama Waraqah telah membimbing Muhammad menelusuri tangga-tangga spiritualitas hingga mencapai puncak kenabian. Perkembangan Muhammad diamati secara saksama oleh Khadijah, baik dengan mengantarnya ke Gua Hira untuk menyendiri—tradisi yang telah dilaksanakan pengikut al-hanîfiyah termasuk kakeknya, Abdul Muthalib—maupun ketika Muhammad mulai didatangi “suara- suara” yang mengaku sebagai utusan Tuhan. Khadijah-lah yang menguji kualitas “suara” itu apakah berasal dari malaikat atau setan. Menurut Sîrah al- Halabiyah, dalam menguji suara itu Khadijah di bawah bimbingan Waraqah, yang pakar masalah kenabian dan pewahyuan.
Tak hanya itu. Ketika Muhammad memperoleh wahyu pertama, Khadijah yang memiliki inisiatif mendatangi anggota kaum cerdik pandai itu satu per satu, dimulai dari Waraqah dan Sirgius di Mekkah, Adas di Thaif, hingga Buhaira di Syam. Tujuannya tak hanya meminta konfirmasi tentang kebenaran pewahyuan itu, tetapi juga mengumumkan bahwa seorang nabi telah datang.
Jadi, kita bisa melihat bahwa Muhammad bukanlah nabi yang datang dari dunia antah berantah. Kepribadian dan pengetahuannya telah dibentuk oleh lingkungannya. Leluhurnya dikenal menaati prosedur dan ajaran kenabian. Khadijah bersama komunitas memiliki pengaruh yang tak bisa disanggah. Kenabian dan pewahyuan itu adalah hasil dari eksperimentasi kolektif setelah melalui proses kreatif yang sangat panjang.
MOHAMAD GUNTUR ROMLI
Aktivis Jaringan Islam Liberal

October 31st, 2007 20:18
Mengapa kita senang sekali membicarakan kepercayaan orang lain? Toh, hal tersebut menjadi urusan yang bersangkutan dengan Tuhan. Kalau memang Tuhan marah karena di hina, Tuhan tidak memerlukan bantuan manusia untuk menghukum orang itu. Kalau memang kita masih percaya akan kebesaran Tuhan, biarlah Tuhan yang menyelesaikan urusannya dengan orang yang bersangkutan.
Bila kita sampai mati matian bahkan bertindak anarkis untuk membela Tuhan, bukannya kita malah akan mengkerdilkan Tuhan itu sendiri yang masih membutuhkan bantuan manusia untuk menghukum manusia lainnya? Lalu siapa sebenarnya yang menghina Tuhan?
October 31st, 2007 21:06
Duh, enaknya digimanain ya orang2 JIL itu…?
November 1st, 2007 01:43
@imcw - halo pak dokter, trims utk urun komentarnya.
.
ada sedikit kekeliruan logika tsb. bisa lebih jelas misalnya dengan kita substitusi kata “tuhan” dgn “imcw”
.
contoh:
imcw menyatakan bahwa ebola adalah penyakit yg berbahaya.
.
suatu hari, guntur membuat artikel yg menyatakan bahwa ebola tidak berbahaya.
.
jika tidak ada yg mengkoreksi guntur, apakah imcw akan jadi rugi karenanya?
.
tentu tidak, yg rugi adalah kita semua.
.
membela imcw (atau, tuhan, pada komentar anda) bukan karena imcw membutuhkan kita.
membela imcw dilakukan justru karena kita lah yg membutuhkan imcw.
.
mudah2an jadi lebih jelas dgn ilustrasi tsb.
.
btw; blognya bagus, salut sekali. mudah2an makin banyak dokter yg mengikuti jejak anda.
November 1st, 2007 08:04
JIL?
ah, sudah bukan hal baru lagi…
orang berilmu yg tidak berilmu yaa..seperti ini
November 1st, 2007 08:47
Begitulah mereka,
Ujung-Ujungnya Duit,
mereka ‘kan sedang cari duit aja,
cari muka sama bos-nya biar di kasi duit.
caranya ya dengan menyebar tulisan yang nyle’ne’h-nyle’ne’h
dan sok pinter, sok ilmiah dll.
padahal…. sebatas itulah kemampuan mereka.
November 1st, 2007 13:21
apa tulisan guntur romli ini ingin mengarahkan juga bahwa Al Qur’an bukan murni wahyu Allah tapi hasil interpretasi para waraqah??
seorang teman yg ikut aliran sesat menuliskan alasannya via YM:
me: kw ada hub dg al qiyadah? krn koq ada yg mirip
him: aqidah qt sama, tapi sori belum bisa komen..lagi panas dan diem2 dulu soale kalo ketauan wong goblog kayak FPI bisa berabe. tapi itu Sunatullah dan kejadiannya sama seperti Muhammad 1400 taun lalu saat mengumumkan dia adlh Rosul disaat orang2 taunya Rosul terakhir adl Isa juga kejadian sama saat Isa mengumumkan bhw dia Rosul di tengah orang2 yang taunya Rosulnya adl Musa sama juga saat orang2 berkeyakinan bahwa tdk ada Nabi stlh Yusuf tp sejalan dengan berjalannya sejarah selalu ada Nabi Rosul itu sunatullah pergantian siang malam yang tdk bisa dihindari hehhee gitu dulu ya komentnya…
November 1st, 2007 13:54
pak, apakah artikel dari Qosim itu sudah dimuat di media massa? mestinya kompas memasang artikel sanggahan yang baik ini.
November 1st, 2007 14:41
Sebenarnya klo kita mo jujur, gak perlu pake teori apapun tulisan2 JIL *cs* itu tidak ilmiah, coba baca aja tulisan2 mereka rata2 menggunakan : menurut saya, hemat saya, pendapat saya, jadi IMHO, kalau boleh saya ambil kesimpulan, dll yang semisalnya. Gimana mo ilmiah wong semua menurut dia, gak peduli fakta dan datanya bagaimana kalo cara analisis-nya gak jelas, apalagi kalo emang fakta dan datanya gak jelas.. :d
Nambahin dikit Mas Harry untuk Pak imwc : klo cara berpikirnya begitu berarti anda harus konsisten dong, gak boleh menanyakan keyakinan orang yang memiliki keyakinan bahwa untuk menyampaikan kebenaran dan membantah kebatilah adalah kewajiban :d, cuman ya saya setuju dengan anda bahwa tidak boleh anarkis, dan dengan cara yang baik dan benar tentunya..
November 1st, 2007 14:56
untuk ndahmaldiniwati numpang pesan untuk temannya, setuju FPI emang sedikit kurang berilmu bahwa mencegah kebatilan sesuai kemampuan, kalo tidak bisa tangan baru mulut baru kemudian hati, dan bukan hanya mampu untuk mukulin aja, tapi meyakinkan dampaknya positifnya lebih besar daripada negatifnya, kalo gak yakin, serahkan semuanya kepada pemerintah sebagai ulil amri yang berhak dan bertanggung jawab.
Tapi teman mbahk jauh lebih goblok :d, tolong minta referensinya bahwa di utusan2 sebelum Muhammad itu dikatakan bahwa Nabi tersebut adalah Nabi/Rasul terakhir, yang ada selalu mengatakan akan ada penerusnya dan mengabarkan akan adanya Nabi Muhammad, seperti di Taurat yang mengatakan akan datang Nabi bernama Ahmad (*dan ini dijadikan salah satu dasar orang beragama Ahmadiyah menabikan Mirza Gulam Ahmad sebagai Nabi, padahal klo mo belajar bahasa dan sejarah sedikit saja sudah tahu kekeliruannya*).
Wallahu a’lam
November 1st, 2007 23:19
Ahhhh JIL lagi JIL lagi….Para pentolannya yang selalu membahas Islam, tapi mereka sendiri kuliahnya di ajar oleh orang yang bukan Islam, belajar di negara yang mayoritas bukan Islam. Mereka mau mentafsirkan AL-Quran sesukanya sendiri, padahal mungkin masih belum hafidz Al-Qur’an. Ibaratnya Ahli Pertanian yang mentafsirkan masalah ekonomi…yaaa gitu dehhh
November 3rd, 2007 18:26
pendukung JIL itu ya kebanyakan pendukung gus dur, kan gus dur anggota JIL makanya
bakar aja pemimpin golongan sesat di indonesia beserta pendukungnya.
Tolong agar bisa berdiskusi dengan santun, terimakasih.
- Ed.
November 3rd, 2007 20:44
Termikasih kepada Bpk Qosim Nurseha yang tetap konsisten sejak dulu kala terus berjuang untuk menyelamatkan tauhid dan akidah umat
jzkl
November 5th, 2007 21:10
Adakah kemungkinan benang-benang misterius anatara Nabi Plasu, JIL dan Orientalis?
Wallahua’lam, tapi yang pasti akan ada saatnya Allah Subhanahu WaTa’ala membongkar makar mereka.
Dan Allah sebaik-baik pembalas tipu daya.
November 6th, 2007 17:00
ya memang begitulah para penganut agama JIL (Jaringan Iblis Liberal), atawa Islib kalau disusun lagi hurufnya ternyata terdiri dari unsur Iblis juga ternyata tanpa kita susah-susah kode-kode kuncinya sudah diberikan bahwa mereka adalah para pengikut iblis……., jelas dong setiap tulisan mereka kan merupakan salah satu syarat dari pencairan dana dan salah satu pemberi dananya, ya tentunya sesuai selera pemberi dananya dong, dan media yang mendukungpun adalah media dari golongan2 pemesannya,,…………….tidak perlu aneh…….apakah anda2 mau jadi pengikut Iblis? Naudzubillah min dzalik.
November 9th, 2007 22:47
@firman firdaus - boro-boro artikel Qosim, klarifikasi dari Menteri pertanian yang di karakter asinan kan oleh beberapa artikel mereka saja tidak dimuat kok
thanks!
.
@subair - mengenai keilmiahan JIL, mereka seringkali sama sekali tidak ilmiah, malah pada kasus-kasus tertentu sudah terjerumus dalam kelicikan.
.
Saya sampai memulai kategori Logika, dimana disitu dibahas berbagai masalah seputar kekeliruan / kelicikan dalam berargumen. Tapi Unspun malah sudah membuat daftar yang sudah jauh lebih lengkap
.
@badboy - please komentar dengan santun, terimakasih.
November 11th, 2007 20:54
Semakin hari, semakin terasa, bagaimana gentingnya kita dituntut untuk menyebarluaskan pemahaman AQ yang lugas, mudah, ramah, down-to-earth ke ummat Islam, shg pemahaman ‘aneh’ spt ini tidak akan masuk. Bagaimana AQ itu benar2 sebagai pegangan, seakan bila orang baru bangun tidur terus ditanya “Apa pegangan kamu”, dengan spontan dia akan menjawab, “Al Qur’an”. Kapan dan bagaimana memulainya? Yuk kita mulai sama2, rapatkan barisan, mumpung masih ada waktu dan umur… Wassalam.
November 12th, 2007 12:39
gimana MUI kok gak memasukkan JIL dalam daftar aliran sesat?
apakah karena dibelakang JIL banyak orang “besar” yang membelanya seperti Gus Dur? hanya ALLAH yang tahu
November 12th, 2007 19:18
Om Harry, saya link ya artikelnya
November 15th, 2007 11:12
menasehati orang yang sudah tinggi ilmu agamanya sangat sulit dari pada orang awam….
Orang yang beriman tanpa ilmu maka ia akan mengenal Allah Swt tapi dia tidak mengenal perintah-perintah Allah. orang yang berilmu tanpa Iman maka ia akan melakukan ibadah semaunya saja karena ia tidak mengenal Allah Swt
November 16th, 2007 13:48
Semuanya GOBLOK !
JIL Goblok !
Yang kasih komentar juga GOBLOK !
Termasuk saya..juga GOBLOK!
November 19th, 2007 14:10
chayo deh bwt yang anti JIL!!! terus semangat bwt menentang JIL !! Dan kenapa ya MUI gak masukin JIL ke dalam golongan aliran sesat, padahal jelas-jelas pahamnya udah liberalisme!!Chayo untuk tetep istiqomah dalam Islam!
November 28th, 2007 22:38
banyak orang bilang, GD harus ditindak tegas sama MUI, tapi kenyataannya MUI belum bertindak sama GD.
Kemarin GD muring - muring ( ngamuk ), karena Abu zayd ( cmiiw ) dilarang ngasih seminar di Malang soal liberalisme Islam, oleh MUI.
Aye endiri juga muak liat si GD, sempat rasan - rasan ( ngegosip ) kokk ya MUI gak tegas. tapi setelah baca - baca wawancara sebuah majalah Islam - salafi ( http://cahayanabawiy.or.id ) ada pernyataan ulama ( kyai yang di wawancarai ) bahwa untuk menegur atau menghukum ulama itu sudah diatur , ada kitabnya, gak bisa grusa - grusu ( sembarangan ) .
Ya mungkin karena pengikut GD banyak, taulah. Lha wong di daerah Jatim ( aye dari Madiun ) masih banyak orang yang meng kyaikan ( beberapa malah menabikan ) si GD. Sampai - sampai waktu desanya di datangin si GD ( atas permintaan si Inul ), dibuat spanduk besar bertuliskan :
” Selamat datang yang Mulia Syech Kyai Haji –nama lengkap GD– + + + banyak gelar lainnya “.
December 1st, 2007 23:04
kalau JIL sudah membuat masyarakat resah, apakah seb warga negara kita berhak menyatakan JIL seb aliran sesat? backingnya (Amerika, Israel, Kompas, Gusdur) kan cukup kuat
Apa mungkin JIL bisa dikelompokan seb teroris intelektual yang membahayakan keamanan nasional sehingga bisa diembargo seperti di Amerika?
December 4th, 2007 07:10
Perbedaannya JIL dengan kontributor/komentator di blog ini adalah keberanian mereka untuk bertanya “Apa iya ya?” tentang sesuatu yang sudah dianggap sebagai kebenaran baku, yang sudah “taken for granted.” Terus terang saja saya kagum dengan keberanian ini, karena tidak mudah untuk melakukannya apa lagi melihat kenyataan bahwa merekapun mempunyai bacaan yang luas.
Saya juga menghargai sanggahan Nursheha yang ingin membuktikan bahwa Rasulullah tidak dipengaruhi kaum Nasrani. Seyogyanya iklim diskusi seperti ini dipertahankan.
December 5th, 2007 14:11
JIL adalah wajah-wajah binaan yahudi dan nasrani, sebagai upaya menjatuhkan islam dengan cara yang lihay, insyaallah islam tidak akan jatuh, karena islam Allah yang menjaganya. Allahuakbar
December 5th, 2007 14:14
dukung tegaknya syariat islam, agar umat islam bisa menggantung si ulil absar abdala dan pengikut JIL lainnya, kalau hukumnya masih hukum buatan belanda kita sulit untuk bergerak tegas
solusinya tegakkan hukum islam agar JIL dan aliran sesat lainnya termasuk amrozi bisa di eksekusi. allahuakbar
December 5th, 2007 14:29
JIL adalah jelas-jelas aliran sesat…berbahaya bagi orang-orang awam dan intelektual yang kering dari agama
solusinya adalah…
TEGAKKAN SYARIAT/HUKUM ISLAM
sehingga kita dapat mengeksekusi Ulil dan gerombolan JIL nya sesuai syariat islam…seperti umat islam mengeksekusi Musailamah al kazab,
selama hukumnya masih hukum buatan kolonial belanda, kita sulit mengeksekusi gerombolan tersebut, buktinya…Lia Eden (Edan) aja sekarang udah bebas
islam harus tegas termasuk terhadap anggota JIL lainnya seperti Gusdur, dawam rahardjo, azumardi azra, dll. ketegasan akan memberi warning dan pengertian kepada masyarakat tentang kesesatan JIL.
itulah solusinya, ga usah polemik yang panjang-panjang…cape, yang kita carikan solusi
December 5th, 2007 17:20
Sdr Akhifillahi, yang anda sebutkan itu adalah solusi anda, yang belum tentu sejalan dengan solusi orang lain sesama warganegara Indonesia. Kalau mengikuti cara berpikir anda maka pantas saja kita kalah melulu, karena baru berpolemik panjang saja sudah gak mau. Polemik itu menunjukkan bahwa ada proses berpikir, gak mau berpolemik menunjukkan malas berpikir. Makanya kalah melulu. Untuk menegakkan syariah yang besar tidak ada hal yang terlalu kecil untuk dilewatkan, apalagi kalau sekedar karena malas.
December 6th, 2007 09:16
@Free Will - kalau polemik dengan konotasi keributan / debat kusir, saya kira tidak perlu diadakan.
.
Tapi polemik dengan konotasi diskusi yang terbuka dan intelektual; dan dengan tujuan untuk mencari solusi / pencerahan (bukan cuma sekedar ngobrol ngalor-ngidul), saya sangat setuju sekali.
December 6th, 2007 19:49
Saya sepakat dengan Om free Will untuk mengembangkan diskusi yang sehat dan berwawasan.
Kalau saya pribadi lebih kagum jikalau seseorang bersikap selayaknya seorang intelektual, salah satunya tidak mengutip sesuatu untuk mencari pembenaran atas hipotesanya.
Saya pikir di sinilah kesalahan fatal Guntur Romli, atau mungkin sebagian besar aktivis JIL.
jadi teringat dulu ada salah satu dosen yang membantah bahasa syurga adalah bahasa arab dengan bantahan “sederhana” : “memangnya sudah pernah ke syurga?” … beliau sepertinya lupa bahwa kalau ingin mengkritik hal itu sebaiknya mengemukakan argumentasi dalil naqli dan aqli terhadap sanad mauun matan hadits yang menyatakan bahasa arab adalah bahasa syurga.
Adapun bahasan tentang kecerobohan (kecurangan?) Guntur Romli sudah dibahas oleh Qosim Nursheha.
Wallahua’lam bishshawwab
December 11th, 2007 02:03
jika di indonesia ada hukum pancung,saya siap jadi algojo buat para teman2 IBLIS laknatullah,namun…….,akhirnya cuman dapat menggorok leher2 kambing korban hari raya idul adha, alhamdulillah
December 11th, 2007 10:36
saya gak bisa membayangkan bila ada orang awam yang ingin memperdalam agamanya bertemu orang yang beraliran kayak JIL ini
SEPERTI ORANG BINGUNG TANYA ORANG YANG KESASAR
apalagi dengan nama besar GUS DUR pasti orang awam tersebut gampang dibelokkan aqidahnya MASYA ALLAH
December 20th, 2007 21:41
BAHLUL…urusin aja diri sendiri agama itu personal orang masing2,ngapain di paksa-paksa,ky udah pd bener aja..ISLAM itu INKLUSIF bukan EKSKLUSIF…ALLAHU AKBAR..MUHAMMAD YA RASULULLAH…yang penting sikapnya ISLAMA BUKAN IDENTITAS ISLAM….
December 22nd, 2007 10:01
Saya setuju pada jil yg menghargai + menyetujui semua agama+aliran+pemahaman. Tolong pd jil lindungi sy + sokong akan JPjil (jaringan penggantung jil) please jangan pilih kasih. Siapa mau gabung.
December 26th, 2007 16:10
Jangan sampai JIL, membayang - bayangi kaum muslimin, jangan sampai JIL berkembang di Indonesia. Semoga mereka bisa bertaubat
January 8th, 2008 12:58
@fuad — sejauh mana anda yakin bahwa akidah anda sudah benar 100%? sejauh mana anda yakin bahwa anda tidak kesasar?
January 19th, 2008 19:29
Artikel ini sangat menarik tentang Hukuman Bagi Orang Murtad:
http://www.mail-archive.com/islamkristen@yahoogroups.com/msg111896.html
Selamat menikmati.
Wass
January 20th, 2008 05:25
@Mourad - tulisan tersebut melebar kemana-mana dan tidak fokus. Serta banyak yang bahkan asumsinya keliru; contoh: artikel tersebut menganggap bahwa masalah Ahmadiyyah yang sedang diributkan ini berhubungan dengan hak murtad.
.
Padahal justru JAI (jemaat ahmadiyyah indonesia) berusaha (sampai saat ini) agar tetap dianggap sebagai umat Islam.
.
Artikel tersebut lebih mirip seperti curahan hati seorang yang setengah waras.
January 22nd, 2008 10:34
TO Free Will
akidah saya ingin menuju ke 100% (insya ALLAH)
Free Will anda lebih banyak baca atau mengikuti seminar mengenai JIL
JIL dan GD itu pedoman dasarnya menganggap semua agama benar
SAYA HANYA MENGIKUTI APA YANG DIPERINTAH OLEH ALLAH DAN MUHAMMAD ROSUL ALLAH
NABI MUHAMMAD TIDAK PERNAH BILANG BAHWA “SEMUA AGAMA ITU BENAR” MAKANYA SAYA MENOLAK JIL
MASAK ISLAM DISAMAKAN DENGAN YAHUDI ATO NASRANI
PIKIRAN DARI MANA ITU KALO GAK ORANG YANG TERSESAT
January 24th, 2008 10:22
Tulisan Guntur Romli dan Qosim Nurseha merupakan tulisan yang menyegarkan dalam perdebatan ilmiah mengenai sejarah sosial masyarakat suku-suku di Arab pra-Islam. Menjadi ramai karena studi kasusnya adalah seorang anak muda yang kelak menjadi seorang Nabi. Overall, Inilah perdebatan ilmiah, benar atau salah tidak berkaitan ke ayat agama, tapi pada referensi yang diacu dan argumentasi yang dikemukakan.
February 6th, 2008 05:29
guntur….tidak usah nyeleneh2 lah,apa kamu sudah yakin bahwa kamu akan selamat dari siksa Allah…………..?
February 26th, 2008 10:45
[...] KETANGKAP BASAH LAGI JIL tertangkap basah (lagi)Satu lagi aktivis JIL (Jaringan Islam Liberal) yang tertangkap basah menjalankan modus operandi [...]
March 11th, 2008 17:47
apakah andap-anda yang sok suci dan berasa paling benar sudah pasti akan masuk surga? apakah agama anda yang paling benar? jangan sombong dulu. tidak ada yang tau pasti.
katanya agamaku agamaku, agamamu agamamu. jalankan itu dulu. jangan panik kalo diprotes. diprotes dikit panik, marah, rame rame cari temen.
makanya tidak maju maju.
March 13th, 2008 09:49
@ sok suci
maksud anda diprotes dengan cara gimana?
agama Islam adalah agama yang benar. tau dari mana? dari kitab suci al-quran. toh di kitab suci umat nasrani aja ada kok, tapi umat nasrani aja yang mengingkarinya
kalau maksud anda diprotes rame-rame cari temen mungkin kalo bahasa orang modern sekarang adalah mengajak diskusi
wassalam
March 25th, 2008 17:47
napa se kita sibuk-sibuk mikirin perbedaan dalam islam ini? bukannya membicarakan orang-orang yang tak beragama justru lebih baik??? taunya nyari keurangan (Bahkan yang sifatnya bukan kekuranganpun dicari aja kekurangannya) orang lain….!
mo apa jadinya Ummat Muhammad ini jika antara satu kelompok dengan kelompok lainnya tak pernah mau paham akan perbedaan yang memang menjadio sunnah nabi?
March 25th, 2008 18:28
Perbedaan yang bisa diterima itu perbedaan fiqih, karena pemahaman atas teks2 yang berkaitan dengan hukum bisa berbeda2 diantara para ulama. Contoh : qunut sama tidak qunut.
Kalo perbedaan akidah (iman, rukun iman)? TIDAK BISA DITERIMA. Makanya, mengakui ada nabi baru SESAT (seperti yang dipropagandakan JIL bahwa kenabian belum berakhir), mengakui semua agama masuk surga SESAT.
Agama Islam adalah agama paling benar itu sudah terbukti. Tidak kesasar… hehehe….
Kalo gak percaya cari aja sendiri, kalo mau nyari
March 25th, 2008 19:37
Betul Mas Ardiansyah. Akidah adalah definisi dari Islam.
Kalau berbeda dari itu, maka tentu saja jadi tidak bisa disebut lagi sebagai “Islam”.
.
Analogi lainnya, salah satu definisi mobil adalah rodanya empat.
Kalau rodanya cuma dua, berarti ini tidak boleh lagi disebut sebagai mobil
.
Tapi kalau cuma beda bentuk spion, warna, lokasi setir, dst — namanya masih tetap mobil. Karena perbedaanya bukan pada hal-hal yang fundamental.
.
Kira-kiranya demikian. Terimakasih.
April 22nd, 2008 11:56
“……………
taqlid buta terhadap sumber-sumber yang sejalan dengan nafsu mereka, dan serang yang bertentangan.
………….
Inilah salah satu lagi contoh bahaya dari su’ul ulama (ulama / orang berilmu yang jahat), yang telah diperingatkan oleh Nabi Muhammad saw sendiri.
…………..”
Ini berlaku juga buat Anda.
April 22nd, 2008 12:36
nggak juga kok mas Jil,
anda bilang gitu karena di otak anda kebenaran itu relatif kan?
akidah Islam itu standar. Sedangkan fikh itu bisa berbeda2, saya dan muslim non-liberal pada umumnya juga memilih-milih fatwa yang akan dijalankan (karena saya bukan ulama yang mengeluarkan fatwa). Dan dalam proses memilih itu juga banyak melibatkan akal dan pengetahuan, misalnya bagaimana kita menerima hukum(halal/haram) makanan yang dibuat dengan enzim sebagai salah satu bahan, dimana enzim itu dikembangbiakan dari pencernaan usus babi. Tentu pendapat ulama berbeda-beda dan perlu dipikirkan secara fikih dan iptek.
Kalo mas Jil sih mana sampe mikir gituan, wong yang diperduliin cuma menggerogoti akidah tul kan ? heehhe
tau nggak mas Jil, kami (muslim non-Jil) sedang menunggu fatwa pelarangan Jil dan liberalisme Islam lho….bismillah… hehehe….
April 28th, 2008 19:53
udah muuuuuuuuaalllllleeeeesssssssss bgt ngomentarin jil
tapi kok masih komentar jg ya….
April 28th, 2008 20:29
situs jil terbaru … http://www.jilworldwide.org/
April 28th, 2008 20:32
situs2 jil terbaru ….
http://www.jilworldwide.org/
http://www.jil.go.jp/jil/index-e.htm
http://www.jildesigns.com/
http://www.jil.org/
April 29th, 2008 11:28
EGP emang JIL apaan yaa? Jaringan Iblis Liberal, memang mahluk yang paling liberalkan cuman Iblis……dan pengikutnya…., gua sih ogah jadi pengikut Iblis…he he he…, yang gayanya seenak-enaknya liberal bedasarkan perutnya sendiri tanpa aturan…huaaak mau muntah gua…
April 29th, 2008 14:51
assalamualaikum.wr.
mas.qosim.N..semoga ALLAH SWT selalu menjadikan anda salah satu penolong umat yg aqidahnya sedang digrogoti oleh JIL
dan anda Guntur…saya rasa orantua anda menyesal telah melahirkan anda (ga tau klo ortu anda JIL juga)….sadarlah sebelum ajal menjemput karena jika tidak tunggu kehancuranmu….
buat mas Qosim jgn pernah lelah ya ..tetap berjuan doa km selalu menyertaimu..aminnnnn
dan anda @SOK SUCi berkacalah dan saya yakin anda bukan islam karena klo islam ga mungkin ngomong kaya gitu dan pastinya anda tidak beragama….yakin
wassalam
April 29th, 2008 15:49
Aqidah adalah harga mati …
Bukankah Nabi Muhammad SAW diturunkan untuk memperbaiki aqidah?
Wah repot kalo yang dijadikan referensi diskusi adalah kitab kitab yang ndak jelas, bisa ndak ketahuan juntrungannya…
Saudaraku Umat muslim mari berhati-hati, banyak pihak yang berusaha merusak aqidah kita dengan dalih diskusi yang dasarnya kitab-kitab yang masih diragukan… Bukankah diskusi ada aturannya….. kalo terjadi perselisihan kembalilah ke Al Qur’an dan sunnah??
Semoga menjadi kebaikan bagi kita, umat muslim ……
Wassalam
May 1st, 2008 21:39
Assalamu’alaikum….
Semoga kasus keberadaan JIL dan sekutu2nya semakin meningkatkan keinginan kita untuk terus mempelajari agama Islam ini, sehngga kita bisa menyampaikn agama ini ke keluarga,saudara, teman, dan semua orang yang kita jumpai…
Tetap semangat!!!
May 14th, 2008 10:03
Alhandulillah bertambah penetahuan kita, kalau yang menyangkut JIL, ada baiknya kita tahu dulu apa misi dari pada JIL itu.
Salah satu misi dari JIL, bisa dilihat di: http://islamlib.com/id/tentangkami.php sebagai berikut:
Apa misi JIL?
Pertama, mengembangkan penafsiran Islam yang liberal sesuai dengan prinsip-prinsip yang kami anut, serta menyebarkannya kepada seluas mungkin khalayak.
Bayangkan…. mengembangkan penafsiran kepercayaan seseorang/umat (Islam) dengan prinsip-prinsip yang dia anut.
Dari uraian misi JIL diatas, bisa kita ambil kesimpulan, JIL bisanya cuma mengkritisi dan mencari celah-celah kekurangan Islam dan melengkapinya dengan teori-teori yang umumnya bersumber dari PRINSIP-PRINSIP mereka itu, dan menyimpulkan sebaiknya MENURUT mereka.
Lucunya itu, dengan sedikit mengkritisi mengharap perubahan yang mendasar untuk seluruh ummat Islam didunia.
Yakinlah seperti apa kata pepatah “Siapa yang menabur angin, dia yang akan menuai BADAI”
May 17th, 2008 00:25
Islam saat ini sedang digempur habis habisan oleh pihak dari dalam maupun dari luar. Sebaiknya kita juga membuat ” Jaringan Anti Islam Liberal” dalam bentuk organisasi yang kuat, sehingga musuh dari dalam seperti JIL ini bisa ditangkal secara ilmiah pula. Cara cara JIL saat ini menggiring umat menjauhi akidahnya sudah sangat memuakkkan. Kita lebih baik berhadapan dengan PKI zaman dulu yang jelas anti tuhan / anti agama (Islam) dari pada dengan kelompok yang mempermainkan Agama Islam ini. JIL justru sedang melakukan pembusukan islam dengan argumen2 congkaknya dan merasa paling tahu, dan paling benar. Kalau gerakan JIL ini akan menghancurkan Islam lebih baik dari sekarang kita bersatu memeranginya !!!
June 2nd, 2008 10:22
saya sebenarnya kasian sama orang-orang jil, demi untuk untuk mencari sesuap nasi mereka rela diperbudak kaum zionis/kristen untuk merusak agama islam. mereka bukan mukmin bahkan muslimpun tidak, karena seorang muslim (beragama islam) artinya berserah diri islam, tapi mereka malah menentangnya. jadi jelas “mereka kafir setelah beriman”. persis sama kisahnya iblis. ok selamat berjuang “Jaringan Iblis Liberal” ternyata untuk masuk neraka pun harus dengan jihad fii laknatullah
June 12th, 2008 14:38
Untuk kekasihku..
“Hai.. apa kabar engkau disana..
Ditempat Adam aku hempaskan..
masihkah engkau terpesona kepadaku..
Sungguh aku membutuhkan teman..
Yang setia menemaniku kelak..
Inilah persembahanku.. untuk yang mencintaiku..
Hingga akhir zaman.. menggenggamku..
Ku tersenyum.. engkau mendekapku..
Hingga lirih ku bisikkan kata2 cinta untukmu..
bersanding merajut cinta kita dibawah dasar neraka..
Jangan sekali2 kau mendustaiku..
Karena aku kan slalu datang dalam mimpi2mu..
Dalam benak khayalmu..
Yang slalu ber fatamorgana..
Yang luput mengerti garis2 takdir..
Yang khilaf dalam membaca..
Karena kau memang jodohku..
Dear ULIL..
Camkan itu..
Kekasihmu..
IBLIS
June 17th, 2008 09:26
selalu menggelitik kalo baca logika Agama para ‘Liberal’ ini, mereka selalu memakai istilah ‘Seandainya’…lucu sekaligus
‘Memakan ludah sendiri’.
kemaren saya beli majalah MADINA….banyak hal yang bukan bersifat dakwah sebenernya…tapi mengedepankan logika2 beragama yang absurd… baca deh
June 18th, 2008 10:48
Membaca 2 tulisan yang paradox diatas menarik, mengingat kita sebgai pembaca dihadapkan kepada 2 pilihan pemikiran. Namun memang aqli dan naqli harus seimbang, sehingga jangan sampai kita semua yang ada di halaman ini terjebak kepada masalah artificial (JIL ataupun Non-JIL), namun malah melupakan ke Tauhidan kita kepada sang Pencipta.
Saya bukan pemikir islam, namun saya ingin menjadi seorang Islam yang berpikir, sehingga pribadi/individu ini dapat mengerti (juga secara individu) ke hakikian Tuhan sang Pencipta dan untuk berjalan bersamaNya dalam keadaan Wahdatul Wujud.
June 18th, 2008 12:28
wah mudah-mudahan gak ada yang terjebak sama filsafat model gini-ginian. Islam itu mudah, hapal rukun iman dan rukun islam kan. Pernah baca asmaul husna kan. Itu aja dulu.
Masalah filsafat ketuhanan dan sebagainya nggak usah njelimet2 amat nanti malah error. Sampe Wahdatul Wujud segala.
Kalo mau sedikit paham agama, baca aja dulu sirah rasul, ushul fiqh kalo mau, jangan lupa quran sehari dua baris juga cukup.
Pantau rubrik ustadz menjawab di situs eramuslim. Mungkin setelah itu kita punya gambaran tentang “berfikir” dalam kerangka Islam.
Bukan berfikir filsafat njelimet2 dan liar tanpa tuntunan atau berfikir dengan semangat mengacak2 ajaran Islam.
Wallahu alam…
June 18th, 2008 15:56
Iya mas Ardiansyah, saya setuju, maaf kalau terlalu liar pewacanaan saya. Terima kasih.
June 18th, 2008 16:14
saya tidak tahu maksud yang sebenarnya dari sepak terjang JIL, bagaimana implemtasi yang diusung JIL dengan “kebebasan” , apakah mereka mencegah kemungkaran dalam menjalakan agamanya atau malahan menyebarkan fitnah dengan asumsi kebenaran cara berfikir individu, masih melaksanakan syariat Islam dan rukun islam kah mereka, apakah dengan mengusung “kebebasan” berarti juga mereka menghilangkan sekat-sekat yang diajarkan Rosulnya (Nabi Muammad), kalau sudah ingkar dengan yang diajarkan Nabi Muhammad, lantas ajaran siapa yang mau diikuti, tidakkah ingat ajaran ketauhidan Nabi Ibrahim menjadi melenceng ketika umatnya sedikit demi sedikit hanya menggunakan akalnya sehingga sumber air zamzam terkubur, kabah menjadi tempat berhala. apakah JIL termasuk penjelmaan itu, sehingga umat islam menjadi jauh dari ajaran Nabi Muhammad yang dibimbing Allah melalui Malaikat Jibril, Nabi Muhammad diturunkan untuk memurnikan ajaran Nabi Ibrahim, sehingga saya tidak khawatir dengan tegakknya agama Allah/Islam, karena siapapun yang akan merusaknya akan dapat ajab-Nya. saya tidak tahu telah berbuat apa JIL selama ini dengan bobroknya Bangsa dan penguasa serta pejabat di negri ini, apakah cukup dengan mekritisi Nabi Muhammad, buat apa???? saya setuju agamamu untukmu agamaku untukku, adakah yang salah dalam menjalankan ibadatku itu urasanku dengan Allah….
June 19th, 2008 14:08
pada ribut aja…..pergolakan perbedaan yang ente2 ributkan sudah terjadi dari jaman dulu di bawa oleh bangsa bangsa yang sebelum datang agama samawipun dah pada ribut, jadi saat bangsanya pada berkembang kebetulan mereka menganut agama yang berbeda jadi semakin ribut aja melulu…itulah mereka. tapi apa kita termasuk bangsa yang kuat….kita hanya bangsa penganut agama sebaran orang laen (duplikasi). tapi kok so eye atur agama orang lain…jangan jangan kalo ada agama baru yang lebih menguntungkan kita pindah agame….dasar.
June 19th, 2008 14:15
“kita hanya bangsa penganut agama sebaran orang laen (duplikasi)”
me –> speechless… mungkin sebagian upaya mengidentikkan Islam dan Arab. Kampanye yang terus menerus didengungkan kaum liberal..
June 19th, 2008 16:26
bung trisnam…ente kali yang suka2 pindah agama….lo tuh yg dasar…..lo tuh yg duplikasi agama…mikir luh
ane wajib ngebela agama ane… apalagi ada yg coba2 ngacak2 akidahnya…. klo ada agama baru asal ga ngaku Islam Silahkan aja…ente mo buat 1000 agama…terserah ente
June 20th, 2008 11:26
Terimakasih kasih pak Udstadz Qasim Nurseha yang telah meluruskan tulisan Guntur yang memang tidak berdasar dan asal nguap, semoga kita semua selalu waspada terhdap sepak terjang JIL yang saat ini merupakan bahaya laten baru setelah PKI jaman Orla dulu.
Jelas JIL adalah bentukan cendikiawan muslim yang beroreintasi barat (sekuler) dengan tujuan utama merusak akhlak dan moral kaum muda Indonesia, perhatikan saja fatwa-fatwa mereka yang memiliki kecenderungan “mensyahkan” dengan berbagai dalil atas apa yang telah dilarang oleh Al’quran dan hadits.
Saya sendiri punya penilaian bahwa JIL ini adalah pesanan barat yang khawatir dengan umat muslim di Indonesia dan untuk melawannya jelas mereka sadar tidak berani frontal, tapi dengan meruntuhkan moral dan akhlak anak bangsa dengan cara2 yang absurd.
Yaahh…semoga saja kaum pandai nan munafik ini sebagai penghuni abadi di kerak neraka kelak.
July 3rd, 2008 15:07
July 9th, 2008 12:12
Wah seru-seru komentarnya……aku rasa energi Anda-Anda semua tidak terbuang percuma ketika melakukan counter terhadap JIL.
Ingat sekuat apapun Anda melawan tanpa bantuan Allah tidak akan bisa, jadi selalu kembalikan kepadaNYA…..seperti yang sudah kita ketahui nantinya Islam memang akan terpecah ke beberapa golongan tinggal kita masuk golongan mana, dan golongan yang diakui oleh Allah hanya golongan yang berpedoman atas Al-Qura’an dan Hadits Nabi (shalawat buat Nabi Muhammad SAW)….anggap JIL sebagai ladang pahala karena tanpa mereka kita tidak mungkin terbakar emosi, amarah, sehingga yang tadinya seperti saya sering lupa sama baca Al-Qura’an dan terjemahannya akan membaca ulang dan mencari ayat-ayat untuk mengcounter semua tulisan/jalan JIL.
GD maupun ulama-ulama yang nyeleneh di Indonesia sudah banyak dari jaman khalifah jadi ga usah heran…..
Media memang tempat/wadah yang tepat untuk menjadi tempat/sarang tulisan-tulisan nyeleneh…tapi juga bisa untuk tempat/sarang tulisan islami maupun counter dari tulisan nyeleneh-nyeleneh td….
jadi apa yang bisa dilakukan Saya, Anda, Umat Islam yang ahlul sunnah wal jama’ah …..
Yang terpenting dan yang pertama adalah mari berdoa kepada Allah SWT untuk terus membuka mata, hati, rasa kita agar terus berjalan di jalanNYA (berabe kalo dia murka terus nutup mata hati kita, ga perlu JIL, GD, JAI, dll buat bikin sesat pasti sesat) sambil berdoa agar mereka yang jauh dari jalan Allah dibukakan pintu hatinya sebesar-besarnya untuk paham bahwa jalan yang dia ambil salah…
Yang kedua Islam adalah Agama pilihan, dari awal Allah ga memaksa kita masuk Islam (cth: shalat ga shalatnya hamba-hambanya……Allah ga langsung bereaksi karena kalau ga shalat kita ga bakal buntung tangannya, ilang ingatannya, disambar petir disiang bolong, kalau ini terjadi aku rasa kita sama-sama tau kan?…. jadi kita tetap dikasih pilihan mau ikut jalanNYA atau tidak dan semua ada konsekuensinya) nah biarkan mereka dengan pilihannya sambil kita juga membuat media yang kuat untuk mengcounter saudara kita, temen kita, dari tulisan dan pemikiran mereka (walaupun mereka juga bebas memilih)…..
Yok bikin medianya, media yang menyajikan bantahan dan hanya menyajikan counter tulisan dari ulama-ulama maupun kita sendiri atas tulisan nyeleneh yang beredar di manapun dan harus berdasarkan Al-Qura’an dan Hadist….tanpa cacian, makian, dan Anarkisme (salah satu yang perlu dibahas panjang….Anarkis bukan hanya bentuk fisik, anarki verbal juga bisa dianggap anarkisme, Anarkis terjadi karena ada sebab….karena kalo kita di jitak di tampar pasti membalas dengan tampar sangat jarang yang dengan kata-kata halus apakah ini anarkis???)
Sekian,
Arga Sakti | Blopini
July 11th, 2008 19:14
Saya salut sama JIL, salut pada pemiliran liberal mereka, memang tidak semua pemeluk islam yang mau menerima berbagai cara pemikiran mereka terutama muslim yang tidak mau memaknai Al-Quran secara luas., karena pemikiran islam indonesia masih terlalu terpengaruh dengan ideologi “arabisme”, apa yang dilakukan orang arab itu pasti baik buat muslim indonesia, kenyataannya? Jihad dan Pilogami adalah pemahaman yang secara mentah mentah ditelan oleh muslim indonesia. Pemikiran Pluralis mereka terutama yang sangat saya kagumi, Mas Ulil,Guntur, Gusdur kami dukung seluruhnya perjuangan anda.
July 11th, 2008 21:46
saya jadi teringat kerjaan saya. Memeriksa draft tulisan mahasiswa, memperbaiki beberapa kalimat/kata/pernyataan dan mengembalikan lagi untuk dipelajari. Walaupun saya tidak sedang dinas, saya sukarela melakukan ini untuk anda hehehe..
Saya salut sama
JILIslam Indonesia,salut pada pemikiran
liberallurusmereka, memang tidak
semuaadakaum liberal yang mau menerima berbagai carapemeluk
pemikiran mereka terutama muslim yang tidak mau memaknai Al-Quran
secara
luaskaffah., karenapemikiran
islam IndonesiaJILmasih
sudah terlalu terpengaruh dengan ideologiwesternisme-sekularis radikal
“arabisme”,apa yang dilakukan orang
arabbarat itupasti baik buat muslim indonesia, kenyataannya? Hermeneutika, Free
Speech, HAM,
Jihad dan Pilogamiadalahpemahaman yang secara mentah mentah ditelan oleh JIL
. Pemikiran hanifmuslim Indonesia
Pluralistokoh Islam Indonesia
mereka terutama yangsangat saya kagumi,
Masmisalnya Adian Husaini, TifatulUlil,Guntur, Gusdur
Sembiring, Hidayat Nur Wahid, Hasyim Muzadi, Ismail Yusanto, Habib
Rizieq Shihab, kami dukung seluruhnya perjuangan anda.
July 13th, 2008 21:04
@Ardiansyah - Islam itu sebetulnya Liberal lho

.
Jadi tidak perlu disebut sebagai “Islam Liberal” lagi, karena jadi redundan / duplikasi makna. Wong dari sononya sudah liberal.
.
Tapi JIL, ini sebetulnya sudah tidak pantas lagi disebut sebagai Liberal. Saya kira JIL itu lebih baik diubah namanya menjadi J”I”EL = Jaringan “Islam” EKSTRIM Liberal.
.
Nah, nama baru tersebut jelas lebih cocok dengan berbagai sepak terjang mereka sejauh ini
July 24th, 2008 21:27
Allahu Akbar ……..
Selamatkkan Akidah Agama Islam kita
Gerakan Muda NU siap membentengi dari segala bentuk tipudaya
mulut manis para JIL - er. mending buat agama sendiri sono …..
S’moga ASWAJA tetap diberikan karomah dari Allah SWT.
TENTANG JIL Now …………………..