<?xml version="1.0" encoding="utf-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	>
<channel>
	<title>Comments on: JIL, Ulil, dan Intelektualitas</title>
	<atom:link href="http://harry.sufehmi.com/archives/2007-12-06-1565/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://harry.sufehmi.com/archives/2007-12-06-1565/</link>
	<description>life is a struggle &#038;&#038; information wants to be free</description>
	<pubDate>Tue, 02 Dec 2008 21:33:06 +0000</pubDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.6.5</generator>
		<item>
		<title>By: joko</title>
		<link>http://harry.sufehmi.com/archives/2007-12-06-1565/#comment-140708</link>
		<dc:creator>joko</dc:creator>
		<pubDate>Mon, 07 Jul 2008 10:36:04 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://harry.sufehmi.com/archives/2007-12-06-1565/#comment-140708</guid>
		<description>melihat fenomena JIL bikin saya ngeri, mudah2an generasi2 setelah saya dijauhkan dari paham2 liberal seperti yg diyakini JIL (walaupun orang2 JIL sendiri mungkin juga tidak yakin akan keyakinannya sendiri).</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>melihat fenomena JIL bikin saya ngeri, mudah2an generasi2 setelah saya dijauhkan dari paham2 liberal seperti yg diyakini JIL (walaupun orang2 JIL sendiri mungkin juga tidak yakin akan keyakinannya sendiri).</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Kalasnikov</title>
		<link>http://harry.sufehmi.com/archives/2007-12-06-1565/#comment-138611</link>
		<dc:creator>Kalasnikov</dc:creator>
		<pubDate>Sat, 28 Jun 2008 21:11:34 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://harry.sufehmi.com/archives/2007-12-06-1565/#comment-138611</guid>
		<description>saya sangat setuju dengan tulisan saudara arman, karena Ulil dalam penulisan tidak pernah memberikan fakta seperti dikatakan barat sangat sooan dalam kebebasan beragaama, ternyata tidak seperti larangan jilbab fi perancis, itu dalam hal kebebasan beragama hal yang lain adalah pemberabgusan Buku Harun yahya atlas of creation yang melawan teory darwin dan mengatakan konsep pemerintahan islam Khilafah sebagai konsep kegelapan, disini bukan masalah memberikan justifikasi dengan apa yang terjadi pada negeri kita, tapi hanya memberikann gambaran bahwa negeri kita ini lebi baik dari mereka dalam hak kebebasan dan akan melangkah kepada kesempurnaan, kenapa terlihat Umat Islam yang diwakili oleh para segelintir kaum "ekstrim" banyak menuntut, karena konsep demokrasi tidak dijalankan apa itu "pox popili pox dei" dimana mereka sebagai mayoritas nasibnya hanya ditentukan oleh sekelompok orang, sebagai contoh masalaha syariat Islam tidak pernah diaadakan reefrendum tentang pemakaian ataupun penghapusan isi sila tersebut walaupun dalam UUD 45 ada pasal  tentang referendum tapu hanya dipustuskan oleh sekitar 4 orang, ini terkesan ada pemarginalaan hak Umat islam dan hal ini lah yang membbuat Umat Islam berlaku Eksterem agar eksistensinya diakui sebagai pemegang saham terbesar, sama seperti orang russia pada jaman Uni sovyet dimana mereka wilayah dan kompsosisi bagian paling besar tapi tidak mempunyai negara bagian yang memiliki hak otonom dan yang kecil2 seperti georgia punya dan mereka tidak pernah menjabat sebagai kepala negara, lenin berasal dari asia tengah, stalin dari georgia lalu ini membuat mereka manjadi ekstrim dengan menyebut Georgia sebagai Babushkya anak kecil yang suka mereka dan teroris, hal yang sama terjadi juga pada Islam di indonesia karena banyak hak mereka di anulir membuat Islam menjadi radikal dan menolak paham - paham baru dan menganggap agama lain sebagai lawan dari ekssitensi Islam/</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>saya sangat setuju dengan tulisan saudara arman, karena Ulil dalam penulisan tidak pernah memberikan fakta seperti dikatakan barat sangat sooan dalam kebebasan beragaama, ternyata tidak seperti larangan jilbab fi perancis, itu dalam hal kebebasan beragama hal yang lain adalah pemberabgusan Buku Harun yahya atlas of creation yang melawan teory darwin dan mengatakan konsep pemerintahan islam Khilafah sebagai konsep kegelapan, disini bukan masalah memberikan justifikasi dengan apa yang terjadi pada negeri kita, tapi hanya memberikann gambaran bahwa negeri kita ini lebi baik dari mereka dalam hak kebebasan dan akan melangkah kepada kesempurnaan, kenapa terlihat Umat Islam yang diwakili oleh para segelintir kaum &#8220;ekstrim&#8221; banyak menuntut, karena konsep demokrasi tidak dijalankan apa itu &#8220;pox popili pox dei&#8221; dimana mereka sebagai mayoritas nasibnya hanya ditentukan oleh sekelompok orang, sebagai contoh masalaha syariat Islam tidak pernah diaadakan reefrendum tentang pemakaian ataupun penghapusan isi sila tersebut walaupun dalam UUD 45 ada pasal  tentang referendum tapu hanya dipustuskan oleh sekitar 4 orang, ini terkesan ada pemarginalaan hak Umat islam dan hal ini lah yang membbuat Umat Islam berlaku Eksterem agar eksistensinya diakui sebagai pemegang saham terbesar, sama seperti orang russia pada jaman Uni sovyet dimana mereka wilayah dan kompsosisi bagian paling besar tapi tidak mempunyai negara bagian yang memiliki hak otonom dan yang kecil2 seperti georgia punya dan mereka tidak pernah menjabat sebagai kepala negara, lenin berasal dari asia tengah, stalin dari georgia lalu ini membuat mereka manjadi ekstrim dengan menyebut Georgia sebagai Babushkya anak kecil yang suka mereka dan teroris, hal yang sama terjadi juga pada Islam di indonesia karena banyak hak mereka di anulir membuat Islam menjadi radikal dan menolak paham - paham baru dan menganggap agama lain sebagai lawan dari ekssitensi Islam/</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: yoann_aditya</title>
		<link>http://harry.sufehmi.com/archives/2007-12-06-1565/#comment-138075</link>
		<dc:creator>yoann_aditya</dc:creator>
		<pubDate>Thu, 26 Jun 2008 09:45:20 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://harry.sufehmi.com/archives/2007-12-06-1565/#comment-138075</guid>
		<description>wah....kenapa saya baru tahu ya ada forum yang membahas tentang JIL (Jaringan Iblis Liberal), Sory kata Islam saya ganti Iblis, karena saya beranggapan mereka bukan orang Islam, tapi penyesat umat Islam? penyesat umat Islam=Iblis. saya harap, semoga saya tidak telambat lagi mengikuti forum2 seperti ini tanpa tertinggal satu topikpun. lumayan bisa buat tambahan pengetahuan 'n bekal kalo pas ikut acara debat. Thx a lot....</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>wah&#8230;.kenapa saya baru tahu ya ada forum yang membahas tentang JIL (Jaringan Iblis Liberal), Sory kata Islam saya ganti Iblis, karena saya beranggapan mereka bukan orang Islam, tapi penyesat umat Islam? penyesat umat Islam=Iblis. saya harap, semoga saya tidak telambat lagi mengikuti forum2 seperti ini tanpa tertinggal satu topikpun. lumayan bisa buat tambahan pengetahuan &#8216;n bekal kalo pas ikut acara debat. Thx a lot&#8230;.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: saozisaozi</title>
		<link>http://harry.sufehmi.com/archives/2007-12-06-1565/#comment-137845</link>
		<dc:creator>saozisaozi</dc:creator>
		<pubDate>Wed, 25 Jun 2008 09:33:41 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://harry.sufehmi.com/archives/2007-12-06-1565/#comment-137845</guid>
		<description>Orang2 JIL adalah orang2 yg yang terlihat pinter dimata manusia karena akal mereka yang licik dengan men-tuhankan pikiran mereka sendiri sadar atau gak sadar, karena itu mereka gak bakal takut dengan tuhan manapun. Ini sama banget dengan fir'aun...jadi rasanya percuma kalo dinasehati, dimarahin, dihina...wong Tuhan aja mereka ga takut apalagi manusia...he.he...JIL=menuhankan akal=menuhankan diri sendiri=sirik se-sirik2nya....

Yang paling mereka takuti itu kalo orang-orang gak menerima pemikiran mereka...gak menerima kata-kata mereka...makanya yang gak mau menerima mereka bakal dikatain konservatif, kolot, gak terbuka, keliru, pengetahuannya kurang plus seribu alasan lainnya...dan yang paling-dan paling mereka takuti itu...kalo gak lagi dapet kucuran dana terutama dari israel dan amrik...karena kalo gak dapet kucuran dana perut mereka kosong. Terus kalo perut mereka kosong pikirannya gak jalan trus mati deh tuhan mereka..khan tuhan JIL=akal=perut...jadi sebener2nya tuhan mereka itu..ya PERUT mereka sendiri....ha..ha..ha...

Dan........ sebenernya mereka itu sudah diberi peringatan sama Allah...contohnya si gus dur...ha..ha..dibuat picek..bute...tapi ngakunye msh ngliat..iye yg diliat cma dirinya sendiri....ha..ha.. termasuk para pengikut dan simpatisan gus dur banyak jg yg dibuat picek tapi tetep aj gak nyadar...tapi yakinlah orang2 seperti itu umurnya panjang biar penderitaannya di dunia ini tambah lama sampe mereka berharap dimati'in oleh Tuhan...tuhan yg mana...he..he..kan mereka sendiri yg jadi tuhan.....

makanya silahkan sebarkan seluas-luasnya tentang kesesatan JIL ini ke semua keluarga ente, sahabat-sahabat, teman-teman, relasi dan tetangga-tetangga ente semua biar pada tau nih...si JIL "musuh besar dalam selimut" untuk seluruh umat Islam di Indonesia yang tentunya lebih sangat bahaya dari yahudi kalo didengerin apalagi kalo sampe ngikut...yah kayak setan gitchu...setrilyun tipu daya ujungnya ngajak masuk neraka deh...malah kalo bsa dibuat program dakwah sebulan penuh di seluruh masjid di Indonesia mengupas tentang "KESESATAN JIL " yang merupakan biang munculnya aliran2 sesat di Indonesia ini biar seluruh umat Islam di Indonesia pada tau dan ngerti....

btw ada gak yg udah bentuk pasukan khusus untuk menumpas JIL???....gue mau nih ngikut...lumayanlah kalo bsa ikut nyembelih ulil and the gank khan darah orang2 kayak mereka dihalalkan buat membahasahi bumi.....
afwan......</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Orang2 JIL adalah orang2 yg yang terlihat pinter dimata manusia karena akal mereka yang licik dengan men-tuhankan pikiran mereka sendiri sadar atau gak sadar, karena itu mereka gak bakal takut dengan tuhan manapun. Ini sama banget dengan fir&#8217;aun&#8230;jadi rasanya percuma kalo dinasehati, dimarahin, dihina&#8230;wong Tuhan aja mereka ga takut apalagi manusia&#8230;he.he&#8230;JIL=menuhankan akal=menuhankan diri sendiri=sirik se-sirik2nya&#8230;.</p>
<p>Yang paling mereka takuti itu kalo orang-orang gak menerima pemikiran mereka&#8230;gak menerima kata-kata mereka&#8230;makanya yang gak mau menerima mereka bakal dikatain konservatif, kolot, gak terbuka, keliru, pengetahuannya kurang plus seribu alasan lainnya&#8230;dan yang paling-dan paling mereka takuti itu&#8230;kalo gak lagi dapet kucuran dana terutama dari israel dan amrik&#8230;karena kalo gak dapet kucuran dana perut mereka kosong. Terus kalo perut mereka kosong pikirannya gak jalan trus mati deh tuhan mereka..khan tuhan JIL=akal=perut&#8230;jadi sebener2nya tuhan mereka itu..ya PERUT mereka sendiri&#8230;.ha..ha..ha&#8230;</p>
<p>Dan&#8230;&#8230;.. sebenernya mereka itu sudah diberi peringatan sama Allah&#8230;contohnya si gus dur&#8230;ha..ha..dibuat picek..bute&#8230;tapi ngakunye msh ngliat..iye yg diliat cma dirinya sendiri&#8230;.ha..ha.. termasuk para pengikut dan simpatisan gus dur banyak jg yg dibuat picek tapi tetep aj gak nyadar&#8230;tapi yakinlah orang2 seperti itu umurnya panjang biar penderitaannya di dunia ini tambah lama sampe mereka berharap dimati&#8217;in oleh Tuhan&#8230;tuhan yg mana&#8230;he..he..kan mereka sendiri yg jadi tuhan&#8230;..</p>
<p>makanya silahkan sebarkan seluas-luasnya tentang kesesatan JIL ini ke semua keluarga ente, sahabat-sahabat, teman-teman, relasi dan tetangga-tetangga ente semua biar pada tau nih&#8230;si JIL &#8220;musuh besar dalam selimut&#8221; untuk seluruh umat Islam di Indonesia yang tentunya lebih sangat bahaya dari yahudi kalo didengerin apalagi kalo sampe ngikut&#8230;yah kayak setan gitchu&#8230;setrilyun tipu daya ujungnya ngajak masuk neraka deh&#8230;malah kalo bsa dibuat program dakwah sebulan penuh di seluruh masjid di Indonesia mengupas tentang &#8220;KESESATAN JIL &#8221; yang merupakan biang munculnya aliran2 sesat di Indonesia ini biar seluruh umat Islam di Indonesia pada tau dan ngerti&#8230;.</p>
<p>btw ada gak yg udah bentuk pasukan khusus untuk menumpas JIL???&#8230;.gue mau nih ngikut&#8230;lumayanlah kalo bsa ikut nyembelih ulil and the gank khan darah orang2 kayak mereka dihalalkan buat membahasahi bumi&#8230;..<br />
afwan&#8230;&#8230;</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Mbah Atmo Glendem</title>
		<link>http://harry.sufehmi.com/archives/2007-12-06-1565/#comment-92864</link>
		<dc:creator>Mbah Atmo Glendem</dc:creator>
		<pubDate>Wed, 06 Feb 2008 12:51:00 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://harry.sufehmi.com/archives/2007-12-06-1565/#comment-92864</guid>
		<description>JIL iku nek neng kampungku jenenge wong keblinger...

karepe ben diarani wong pinter, tapi keminter....

njajal di takoni, ben wulan oleh bayar piro seko amerika lan organisasi londo2 kuwi?

dadine sing mesthi,: ben tersu dibayari gajine ben wulan, yo kudu ngapik apik ndorone, kudu gelem babune sing siap ndilati Ndorone...</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>JIL iku nek neng kampungku jenenge wong keblinger&#8230;</p>
<p>karepe ben diarani wong pinter, tapi keminter&#8230;.</p>
<p>njajal di takoni, ben wulan oleh bayar piro seko amerika lan organisasi londo2 kuwi?</p>
<p>dadine sing mesthi,: ben tersu dibayari gajine ben wulan, yo kudu ngapik apik ndorone, kudu gelem babune sing siap ndilati Ndorone&#8230;</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: need gadget information</title>
		<link>http://harry.sufehmi.com/archives/2007-12-06-1565/#comment-87987</link>
		<dc:creator>need gadget information</dc:creator>
		<pubDate>Sun, 20 Jan 2008 11:50:18 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://harry.sufehmi.com/archives/2007-12-06-1565/#comment-87987</guid>
		<description>Mari kita bangun negara kita tercinta ini, Indonesia merdeka :)</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Mari kita bangun negara kita tercinta ini, Indonesia merdeka <img src='http://harry.sufehmi.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /></p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Budi</title>
		<link>http://harry.sufehmi.com/archives/2007-12-06-1565/#comment-86716</link>
		<dc:creator>Budi</dc:creator>
		<pubDate>Mon, 14 Jan 2008 08:00:40 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://harry.sufehmi.com/archives/2007-12-06-1565/#comment-86716</guid>
		<description>Kalau ada yang berminat, kelanjutan dari polemik ini bisa di ikuti pada link berikut:

http://groups.yahoo.com/group/insistnet/message/8870


http://hidayatullah.com/index.php?option=com_content&#38;task=view&#38;id=6150&#38;Itemid=1
http://hidayatullah.com/index.php?option=com_content&#38;task=view&#38;id=6164&#38;Itemid=1


Wassalamualaikum Wr. Wb.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Kalau ada yang berminat, kelanjutan dari polemik ini bisa di ikuti pada link berikut:</p>
<p><a href="http://groups.yahoo.com/group/insistnet/message/8870" >http://groups.yahoo.com/group/insistnet/message/8870</a></p>
<p><a href="http://hidayatullah.com/index.php?option=com_content&amp;task=view&amp;id=6150&amp;Itemid=1" >http://hidayatullah.com/index.php?option=com_content&amp;task=view&amp;id=6150&amp;Itemid=1</a><br />
<a href="http://hidayatullah.com/index.php?option=com_content&amp;task=view&amp;id=6164&amp;Itemid=1" >http://hidayatullah.com/index.php?option=com_content&amp;task=view&amp;id=6164&amp;Itemid=1</a></p>
<p>Wassalamualaikum Wr. Wb.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Jauhari</title>
		<link>http://harry.sufehmi.com/archives/2007-12-06-1565/#comment-86703</link>
		<dc:creator>Jauhari</dc:creator>
		<pubDate>Mon, 14 Jan 2008 07:22:29 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://harry.sufehmi.com/archives/2007-12-06-1565/#comment-86703</guid>
		<description>Semoga Sadar dengan apa yang dia telah lakukan... yang saya sering heran kok Media seperti Kompas, Jawa Post dan banyak lagi bisa memuat artikel berbau aneh seperti ini....</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Semoga Sadar dengan apa yang dia telah lakukan&#8230; yang saya sering heran kok Media seperti Kompas, Jawa Post dan banyak lagi bisa memuat artikel berbau aneh seperti ini&#8230;.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: agung</title>
		<link>http://harry.sufehmi.com/archives/2007-12-06-1565/#comment-80653</link>
		<dc:creator>agung</dc:creator>
		<pubDate>Tue, 18 Dec 2007 03:07:50 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://harry.sufehmi.com/archives/2007-12-06-1565/#comment-80653</guid>
		<description>One Words
Fight....fight....fight....

Si Ulil suruh taubat tu...

Kalau kagak HALAL DARAHnya tu orang - orang JIL.

Musuh yang paling berbahaya, ya itu orang - orang
kayak dia

Sorry yah mas esmosi.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>One Words<br />
Fight&#8230;.fight&#8230;.fight&#8230;.</p>
<p>Si Ulil suruh taubat tu&#8230;</p>
<p>Kalau kagak HALAL DARAHnya tu orang - orang JIL.</p>
<p>Musuh yang paling berbahaya, ya itu orang - orang<br />
kayak dia</p>
<p>Sorry yah mas esmosi.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: kamal</title>
		<link>http://harry.sufehmi.com/archives/2007-12-06-1565/#comment-79472</link>
		<dc:creator>kamal</dc:creator>
		<pubDate>Wed, 12 Dec 2007 13:03:12 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://harry.sufehmi.com/archives/2007-12-06-1565/#comment-79472</guid>
		<description>kapan ya tulisan2 ttg JIL disini bisa ngalahin peringkat di google klo orang nge search ttg JIL :)</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>kapan ya tulisan2 ttg JIL disini bisa ngalahin peringkat di google klo orang nge search ttg JIL <img src='http://harry.sufehmi.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /></p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Ardiansyah</title>
		<link>http://harry.sufehmi.com/archives/2007-12-06-1565/#comment-79409</link>
		<dc:creator>Ardiansyah</dc:creator>
		<pubDate>Wed, 12 Dec 2007 04:40:18 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://harry.sufehmi.com/archives/2007-12-06-1565/#comment-79409</guid>
		<description>@Om Budi : good job !

Tahun lalu, di Korea ada professor yang diberhentikan karena hasil risetnya tentang kloning yang diterbitkan di jurnal bergengsi diketahui sebagai dusta karena data yang dimanipulasi.

Tahun lalu juga seorang professor di universitas no 1 di Jepang dipecat karena kasus yang sama. 

Ada satu karakter yang harus melekat pada diri orang yang mengaku "intelek" atau terpelajar yaitu kejujuran.  Dan rupanya sekelompok orang yang mengaku intelek membuktikan kalau mereka  tidak memiliki karakter itu.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>@Om Budi : good job !</p>
<p>Tahun lalu, di Korea ada professor yang diberhentikan karena hasil risetnya tentang kloning yang diterbitkan di jurnal bergengsi diketahui sebagai dusta karena data yang dimanipulasi.</p>
<p>Tahun lalu juga seorang professor di universitas no 1 di Jepang dipecat karena kasus yang sama. </p>
<p>Ada satu karakter yang harus melekat pada diri orang yang mengaku &#8220;intelek&#8221; atau terpelajar yaitu kejujuran.  Dan rupanya sekelompok orang yang mengaku intelek membuktikan kalau mereka  tidak memiliki karakter itu.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Budi</title>
		<link>http://harry.sufehmi.com/archives/2007-12-06-1565/#comment-79407</link>
		<dc:creator>Budi</dc:creator>
		<pubDate>Wed, 12 Dec 2007 04:18:59 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://harry.sufehmi.com/archives/2007-12-06-1565/#comment-79407</guid>
		<description>Assalamualaikum wr wb
Fyi saja, di web JIL, artikel Pak Ulil yang di respon sama Pak Amran sekarang sudah lenyap. "Article not found... " ceunah. Entah apa hanya krn web-maintenance atau alasan lain. Apakah modus yang sama dg artikel re. "Quran kitab paling porno" terulang. He.. he ... su'udzhan saya ...

Kalau ada yang mau baca artikel lengkap Pak Ulil ini saya lampirkan:

http://islamlib.com/id/index.php?page=article&#38;id=1310

Amran dan Beberapa Kekeliruan 
Oleh Ulil Abshar-Abdalla 
30/11/2007

Seseorang mengirimkan sebuah artikel yang ditulis oleh Amran Nasution, bekas
wartawan Tempo dan Gatra, tentang aliran sesat di Indonesia. Artikel ini dimuat
oleh Majalah Hidayatullah edisi November 23. Secara keseluruhan, artikel Amran
ini memperlihatkan cara berpikir yang sangat rancu. Ada tiga hal yang ingin saya
kemukakan terhadap artikel ini.

Pertama, Sdr. Amran menyebut sejarah kelam Eropa berkenaan dengan persekusi
agama yang dilakukan oleh gereja Katolik. Menurut dia, sikap agama Katolik
terhadap sekte-sekte yang menyimpang lebih kejam. Dia lalu mengatakan bahwa
fatwa mati yang dikeluarkan oleh Ayatullah Khomeini terhadap Salman Rushdie
adalah sesuatu yang sudah dikenal dalam sejarah Eropa.

Argumen ini tentu amat menggelikan. Sejarah kelam gereja Katolik justru
menjadi pemantik lahirnya reformasi besar-besaran dalam agama itu dan akhirnya
melahirkan agama Protestan. Sejarah kelam ini pula yang melahirkan sejumlah
traktak filsafat politik penting mengenai pentingnya toleransi agama seperti
yang ditulis oleh John Locke, John Stuart Mill, atau Roger William (di Amerika).
Eropa belajar dari sejarah kelam itu hingga sekarang. Hasilnya tentu bukan
main: lahirnya negara sekuler yang melindungi kebebasan beragama. Atau tepatnya:
melindungi agama dari intervensi negara (versi Roger William), dan melindungi
negara dari intervensi agama (versi Thomas Jefferson). Kedua intervensi itu
sangat buruk akibatnya baik bagi agama atau negara sendiri. Saat ini, di seluruh
negeri Eropa dan Amerika (juga Kanada dan Australia) nyaris "mustahil", sekali
lagi nyaris mustahil, kita jumpai kasus sebuah sekte diberangus atau dirusak
propertinya karena membawa ajaran yang menyimpang.

Semua sekte, aliran, mazhab, dan keyakinan bisa berkembang bebas di
negeri-negeri Barat. Di Amerika Serikat, misalnya, ada sebuah sekte besar dalam
agama Kristen bernama Mormon yang jelas dari sudut ortodoksi Kristen bisa
dianggap menyimpang jauh. Tetapi agama ini berkembang bebas, terutama di negara
bagian Utah. Bahkan salah satu pengikutnya, yaitu Mitt Romney, pernah menjadi
gubernur dua periode di negara bagian Massachusetts. Romney saat ini malah ikut
menjadi calon presiden Amerika dari Partai Republik.

Sejarah kelam Eropa mestinya menjadi pelajaran bagi siapapun. Yang
menyedihkan, umat Islam, sekurang-kurangnya seperti kita lihat di Indonesia saat
ini, pelan-pelan justru sedang mengulang sejarah "buruk" itu. Pada saat umat
Katolik dan Kristen sudah mulai meninggalkan sejarah "sesat-menyesatkan" itu,
sekarang malah umat Islam mulai belajar mengulangi kembali. Tentu ini amat
menyedihkan.

Lebih menyedihkan lagi bahwa hal ini terjadi pada agama yang selalu
membanggakan diri dengan ayat "la ikraha fi al-din", tidak ada paksaan dalam
agama. Sikap yang selalu "dilantunkan" oleh Depag dan MUI bahwa Jamaah
Ahamadiyah harus kembali ke jalan yang benar, yakni mengikuti ajaran Islam
"mainsream", misalnya, adalah jelas bentuk dari pemaksaan keyakinan, dan jelas
pula berlawanan dengan ayat yang selalu dibanggakan oleh umat Islam itu. Sudah
tentu, kalangan "ortodoks" Islam akan mengatakan bahwa kebebasan beragama
seperti dikemukakan oleh ayat itu tidak berlaku "seenaknya" saja. Tafsiran
ortodoks inilah yang dipakai sebagai salah satu argumen oleh Sdr. Amran.
Mengenai ini, saya akan menanggapi dalam poin kedua berikut ini.

Kedua, Sdr. Amran mengemukakan sesuatu yang menarik. Saya akan kutip
pernyataan dia selengkapnya: “Kalau Moshaddeg membuat agama baru yang tak dia
kaitkan dengan Islam, apakah namanya Progresif, Liberal, atau Neocon, lalu dia
susun ajarannya sesuka hati, pasti tak ada yang keberatan, apalagi membuat
fatwa. Paling dia dianggap gila, atau orang salah jalan yang harus didakwahi.
Sebenarnya, keberatan, protes, atau marah, ketika agama yang dia muliakan
dihina, bukan monopoli ummat Islam, apalagi ummat Islam Indonesia”. Pandangan
Amran ini, saya duga, merupakan cara berpikir standar kalangan Islam konservatif
di Indonesia. Ada "kerancuan" dalam cara berpikir seperti ini:
[a] Kita tak bisa mencegah siapapun untuk mengemukakan tafsiran atas agama
Islam, termasuk mengubah syahadat, jumlah rakaat salat, dsb. Saya sendiri jelas
tak setuju dengan tindakan seperti ini. Kalangan ortodoks bisa mengeluarkan
"fatwa" bahwa tindakan semacam itu adalah salah dari sudut pandang ajaran Islam
"mainstream". Kalangan ulama berhak pula memberikan peringatan kepada umat agar
hati-hati terhadap ajaran seperti ini.

Tetapi MUI atau siapapun tidak berhak melarang "sekte" seperti itu, atau
memaksa mereka kembali kepada ajaran yang menurut MUI benar. Hak sekte tersebut
untuk berkeyakinan seperti itu, tak bisa dicegah, karena dilindungi oleh
konstitusi. Kata-kata yang selalu saya ingat dari Roger Williams, seorang
pejuang gigih kebebasan beragama di Amerika, adalah "iman yang dipaksakan akan
terasa "bau" di hidung Tuhan". Masyarakat tidak bisa dicegah untuk memeluk
keyakinan apapun, asal keyakinan itu tidak menimbulkan kerusakan fisik yang
melanggar hukum sipil yang ada. Inilah prinsip kebebasan beragama yang menurut
saya konsisten dengan deklarasi Qur'an, "la ikraha fil al-din".

(b) Kalau kita mau sedikit menoleh sejarah ke belakang, pernyataan Amran ini
juga amat janggal. Dilihat dari kaca mata Kristen, jelas agama Islam yang dibawa
oleh Nabi Muhammad saat itu melakukan "tampering" atau mencomot dari ajaran
Kristen "dengan seenaknya" (memakai istilah Sdr. Amran) dan mengubahnya sesuai
dengan keyakinan Nabi.

Dari kaca mata Kristen, tindakan itu tak beda jauh dengan tindakan Ahmad
Mushaddeq saat ini: mengubah ajaran agama lain dan menambahi atau mengurangi
dengan seenaknya. Kalangan Kristen saat itu saya bayangkan akan mengatakan hal
serupa seperti dikatakan oleh Amran saat ini terhadap aliran al-Qiyadah
al-Islamiyah: "Wahai Muhammad, kalau kamu mau bikin agama baru silahkan, tetapi
jangan mencampuri keyakinan kami."

Karena alasan inilah, hingga jauh di abad pertengahan, dan bahkan mungkin di
kalangan tertentu yang "fundamentalis" mungkin masih bertahan hingga saat ini,
kalangan Kristen memandang Nabi Muhammad sebagai "impostor" atau nabi palsu.
Mereka juga melihat agama Islam sebagai "versi yang distortif" dari agama
Kristen. Pandangan yang lebih positif melihat Islam sebagai "reformed
Christianity", sebagaimana agama Kristen sendiri merupakan "reformed Judaism".
Cara pandang Amran dan kalangan Kristen abad pertengahan itu berdiri atas asumsi
yang sama.

Ketiga, isu terkhir dalam tulisan Amran yang ingin saya tanggapi adalah
berkaitan dengan masalah "blasphemy" atau penghinaan atas agama. Amran
mengatakan bahwa penghinaan atas agama juga tak diperbolekan dalam hukum positif
yang berlaku di negeri-negeri Eropa dan Amerika. Artikel tentang "blasphemy",
kata dia, ada dalam hukum yang berlaku di negeri Inggris, misalnya. Pernyataan
Amran ini memang benar. Memang, pasal tentang blasphemy ada dalam hukum yang
berlaku di sejumlah negara-negara Barat. Sebagaimana kita tahu, sejarah hukuman
yang ditimpakan kepada mereka yang dianggap sebagai menghina agama Kristen di
Eropa sangat brutal. Sejarah seperti ini tak perlu dicontoh di negeri Islam.

Tetapi, apa yang dikatakan oleh Sdr. Amran barulah separoh dari cerita. Di
negeri-negeri Barat, pasal blasphemy itu hanyalah pasal ompong. Secara formal
memang ada dalam hukum mereka, tetapi semakin lama semakin jarang dipakai. Ini
terjadi, antara lain, karena suksesnya perjuangan kelompok-kelompok kebebasan
berpendapat di sana.

Di Inggris sendiri, kalau saya tak salah, pasal soal blasphemy ini dipakai
terakhir kali pada tahun 1977 dalam kasus Mary Whitehouse, seorang aktivis yang
dengan gigih ingin menegakkan moralitas Kristen dalam ruang publik. Dia menuntut
majalah Gay News yang menyiarkan sebuah puisi karya James Kirkup yang ia anggap
melecehkan figur Yesus. Pengadilan akhirnya memenangkan Mary. Keputusan
pengadilan ini mendapat tentangan yang keras dari kalangan "humanis" dan pejuang
kebebasan sipil di Inggris. Setelah kasus itu, isu blasphemy tak pernah muncul
kembali. Kalangan Islam hendak memakai pasal itu untuk melawan Salman Rushdie,
seperti diceritakan dengan benar oleh Sdr. Amran dalam artikelnya. Usaha itu
gagal karena perlawanan dari kalangan pejuang kebebasan sipil, seperti kelompok
Article 19. Perlawanan ini jelas bukan diarahkan semata-mata kepada Islam,
tetapi juga kepada agama Kristen, sebagaimana kita lihat dalam kasus Mary
Whitehouse.

Di Amerika Serikat sendiri, pasal tentang blasphemy juga masih bertahan di UU
beberapa negara bagian, antara lain negara bagian Massachusetts. Pasal ini
dipakai untuk terakhir kali di Massachusetts pada tahun 1838 dalam kasus
Commonwealth v. Kneeland. Setelah itu, pasal ini tak lagi dipakai. Kasus ini
muncul untuk terakhir pada level pengadilan federal pada tahun 1952 dalam kasus
Joseph Burstyn, Inc. v. Wilson. Dalam kasus itu, Mahkamah Agung menolak memakai
pasal "blasphemy" karena melanggar prinsip kebebasan berpendapat.
Pasal penghinaan agama ini juga ada dalam KUHP kita. Kita, terutama para
aktivis yang bergerak dalam isu kebebasan beragama, perlu dengan sungguh-sungguh
memikirkan masalah definisi penghinaan agama ini. Pasal seperti ini persis
seperti "hatzaai artikelen" atau artikel kebencian yang dulu kerap dipakai oleh
rezim otoriter Suharto untuk memberangus kritik. Pasal seperti ini bisa dipakai
oleh kalangan konservatif Islam untuk memberangus tafsiran-tafsiran yang
dianggap melawan tafsiran kaum ortodoks.[]

Referensi:</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Assalamualaikum wr wb<br />
Fyi saja, di web JIL, artikel Pak Ulil yang di respon sama Pak Amran sekarang sudah lenyap. &#8220;Article not found&#8230; &#8221; ceunah. Entah apa hanya krn web-maintenance atau alasan lain. Apakah modus yang sama dg artikel re. &#8220;Quran kitab paling porno&#8221; terulang. He.. he &#8230; su&#8217;udzhan saya &#8230;</p>
<p>Kalau ada yang mau baca artikel lengkap Pak Ulil ini saya lampirkan:</p>
<p><a href="http://islamlib.com/id/index.php?page=article&amp;id=1310" >http://islamlib.com/id/index.php?page=article&amp;id=1310</a></p>
<p>Amran dan Beberapa Kekeliruan<br />
Oleh Ulil Abshar-Abdalla<br />
30/11/2007</p>
<p>Seseorang mengirimkan sebuah artikel yang ditulis oleh Amran Nasution, bekas<br />
wartawan Tempo dan Gatra, tentang aliran sesat di Indonesia. Artikel ini dimuat<br />
oleh Majalah Hidayatullah edisi November 23. Secara keseluruhan, artikel Amran<br />
ini memperlihatkan cara berpikir yang sangat rancu. Ada tiga hal yang ingin saya<br />
kemukakan terhadap artikel ini.</p>
<p>Pertama, Sdr. Amran menyebut sejarah kelam Eropa berkenaan dengan persekusi<br />
agama yang dilakukan oleh gereja Katolik. Menurut dia, sikap agama Katolik<br />
terhadap sekte-sekte yang menyimpang lebih kejam. Dia lalu mengatakan bahwa<br />
fatwa mati yang dikeluarkan oleh Ayatullah Khomeini terhadap Salman Rushdie<br />
adalah sesuatu yang sudah dikenal dalam sejarah Eropa.</p>
<p>Argumen ini tentu amat menggelikan. Sejarah kelam gereja Katolik justru<br />
menjadi pemantik lahirnya reformasi besar-besaran dalam agama itu dan akhirnya<br />
melahirkan agama Protestan. Sejarah kelam ini pula yang melahirkan sejumlah<br />
traktak filsafat politik penting mengenai pentingnya toleransi agama seperti<br />
yang ditulis oleh John Locke, John Stuart Mill, atau Roger William (di Amerika).<br />
Eropa belajar dari sejarah kelam itu hingga sekarang. Hasilnya tentu bukan<br />
main: lahirnya negara sekuler yang melindungi kebebasan beragama. Atau tepatnya:<br />
melindungi agama dari intervensi negara (versi Roger William), dan melindungi<br />
negara dari intervensi agama (versi Thomas Jefferson). Kedua intervensi itu<br />
sangat buruk akibatnya baik bagi agama atau negara sendiri. Saat ini, di seluruh<br />
negeri Eropa dan Amerika (juga Kanada dan Australia) nyaris &#8220;mustahil&#8221;, sekali<br />
lagi nyaris mustahil, kita jumpai kasus sebuah sekte diberangus atau dirusak<br />
propertinya karena membawa ajaran yang menyimpang.</p>
<p>Semua sekte, aliran, mazhab, dan keyakinan bisa berkembang bebas di<br />
negeri-negeri Barat. Di Amerika Serikat, misalnya, ada sebuah sekte besar dalam<br />
agama Kristen bernama Mormon yang jelas dari sudut ortodoksi Kristen bisa<br />
dianggap menyimpang jauh. Tetapi agama ini berkembang bebas, terutama di negara<br />
bagian Utah. Bahkan salah satu pengikutnya, yaitu Mitt Romney, pernah menjadi<br />
gubernur dua periode di negara bagian Massachusetts. Romney saat ini malah ikut<br />
menjadi calon presiden Amerika dari Partai Republik.</p>
<p>Sejarah kelam Eropa mestinya menjadi pelajaran bagi siapapun. Yang<br />
menyedihkan, umat Islam, sekurang-kurangnya seperti kita lihat di Indonesia saat<br />
ini, pelan-pelan justru sedang mengulang sejarah &#8220;buruk&#8221; itu. Pada saat umat<br />
Katolik dan Kristen sudah mulai meninggalkan sejarah &#8220;sesat-menyesatkan&#8221; itu,<br />
sekarang malah umat Islam mulai belajar mengulangi kembali. Tentu ini amat<br />
menyedihkan.</p>
<p>Lebih menyedihkan lagi bahwa hal ini terjadi pada agama yang selalu<br />
membanggakan diri dengan ayat &#8220;la ikraha fi al-din&#8221;, tidak ada paksaan dalam<br />
agama. Sikap yang selalu &#8220;dilantunkan&#8221; oleh Depag dan MUI bahwa Jamaah<br />
Ahamadiyah harus kembali ke jalan yang benar, yakni mengikuti ajaran Islam<br />
&#8220;mainsream&#8221;, misalnya, adalah jelas bentuk dari pemaksaan keyakinan, dan jelas<br />
pula berlawanan dengan ayat yang selalu dibanggakan oleh umat Islam itu. Sudah<br />
tentu, kalangan &#8220;ortodoks&#8221; Islam akan mengatakan bahwa kebebasan beragama<br />
seperti dikemukakan oleh ayat itu tidak berlaku &#8220;seenaknya&#8221; saja. Tafsiran<br />
ortodoks inilah yang dipakai sebagai salah satu argumen oleh Sdr. Amran.<br />
Mengenai ini, saya akan menanggapi dalam poin kedua berikut ini.</p>
<p>Kedua, Sdr. Amran mengemukakan sesuatu yang menarik. Saya akan kutip<br />
pernyataan dia selengkapnya: “Kalau Moshaddeg membuat agama baru yang tak dia<br />
kaitkan dengan Islam, apakah namanya Progresif, Liberal, atau Neocon, lalu dia<br />
susun ajarannya sesuka hati, pasti tak ada yang keberatan, apalagi membuat<br />
fatwa. Paling dia dianggap gila, atau orang salah jalan yang harus didakwahi.<br />
Sebenarnya, keberatan, protes, atau marah, ketika agama yang dia muliakan<br />
dihina, bukan monopoli ummat Islam, apalagi ummat Islam Indonesia”. Pandangan<br />
Amran ini, saya duga, merupakan cara berpikir standar kalangan Islam konservatif<br />
di Indonesia. Ada &#8220;kerancuan&#8221; dalam cara berpikir seperti ini:<br />
[a] Kita tak bisa mencegah siapapun untuk mengemukakan tafsiran atas agama<br />
Islam, termasuk mengubah syahadat, jumlah rakaat salat, dsb. Saya sendiri jelas<br />
tak setuju dengan tindakan seperti ini. Kalangan ortodoks bisa mengeluarkan<br />
&#8220;fatwa&#8221; bahwa tindakan semacam itu adalah salah dari sudut pandang ajaran Islam<br />
&#8220;mainstream&#8221;. Kalangan ulama berhak pula memberikan peringatan kepada umat agar<br />
hati-hati terhadap ajaran seperti ini.</p>
<p>Tetapi MUI atau siapapun tidak berhak melarang &#8220;sekte&#8221; seperti itu, atau<br />
memaksa mereka kembali kepada ajaran yang menurut MUI benar. Hak sekte tersebut<br />
untuk berkeyakinan seperti itu, tak bisa dicegah, karena dilindungi oleh<br />
konstitusi. Kata-kata yang selalu saya ingat dari Roger Williams, seorang<br />
pejuang gigih kebebasan beragama di Amerika, adalah &#8220;iman yang dipaksakan akan<br />
terasa &#8220;bau&#8221; di hidung Tuhan&#8221;. Masyarakat tidak bisa dicegah untuk memeluk<br />
keyakinan apapun, asal keyakinan itu tidak menimbulkan kerusakan fisik yang<br />
melanggar hukum sipil yang ada. Inilah prinsip kebebasan beragama yang menurut<br />
saya konsisten dengan deklarasi Qur&#8217;an, &#8220;la ikraha fil al-din&#8221;.</p>
<p>(b) Kalau kita mau sedikit menoleh sejarah ke belakang, pernyataan Amran ini<br />
juga amat janggal. Dilihat dari kaca mata Kristen, jelas agama Islam yang dibawa<br />
oleh Nabi Muhammad saat itu melakukan &#8220;tampering&#8221; atau mencomot dari ajaran<br />
Kristen &#8220;dengan seenaknya&#8221; (memakai istilah Sdr. Amran) dan mengubahnya sesuai<br />
dengan keyakinan Nabi.</p>
<p>Dari kaca mata Kristen, tindakan itu tak beda jauh dengan tindakan Ahmad<br />
Mushaddeq saat ini: mengubah ajaran agama lain dan menambahi atau mengurangi<br />
dengan seenaknya. Kalangan Kristen saat itu saya bayangkan akan mengatakan hal<br />
serupa seperti dikatakan oleh Amran saat ini terhadap aliran al-Qiyadah<br />
al-Islamiyah: &#8220;Wahai Muhammad, kalau kamu mau bikin agama baru silahkan, tetapi<br />
jangan mencampuri keyakinan kami.&#8221;</p>
<p>Karena alasan inilah, hingga jauh di abad pertengahan, dan bahkan mungkin di<br />
kalangan tertentu yang &#8220;fundamentalis&#8221; mungkin masih bertahan hingga saat ini,<br />
kalangan Kristen memandang Nabi Muhammad sebagai &#8220;impostor&#8221; atau nabi palsu.<br />
Mereka juga melihat agama Islam sebagai &#8220;versi yang distortif&#8221; dari agama<br />
Kristen. Pandangan yang lebih positif melihat Islam sebagai &#8220;reformed<br />
Christianity&#8221;, sebagaimana agama Kristen sendiri merupakan &#8220;reformed Judaism&#8221;.<br />
Cara pandang Amran dan kalangan Kristen abad pertengahan itu berdiri atas asumsi<br />
yang sama.</p>
<p>Ketiga, isu terkhir dalam tulisan Amran yang ingin saya tanggapi adalah<br />
berkaitan dengan masalah &#8220;blasphemy&#8221; atau penghinaan atas agama. Amran<br />
mengatakan bahwa penghinaan atas agama juga tak diperbolekan dalam hukum positif<br />
yang berlaku di negeri-negeri Eropa dan Amerika. Artikel tentang &#8220;blasphemy&#8221;,<br />
kata dia, ada dalam hukum yang berlaku di negeri Inggris, misalnya. Pernyataan<br />
Amran ini memang benar. Memang, pasal tentang blasphemy ada dalam hukum yang<br />
berlaku di sejumlah negara-negara Barat. Sebagaimana kita tahu, sejarah hukuman<br />
yang ditimpakan kepada mereka yang dianggap sebagai menghina agama Kristen di<br />
Eropa sangat brutal. Sejarah seperti ini tak perlu dicontoh di negeri Islam.</p>
<p>Tetapi, apa yang dikatakan oleh Sdr. Amran barulah separoh dari cerita. Di<br />
negeri-negeri Barat, pasal blasphemy itu hanyalah pasal ompong. Secara formal<br />
memang ada dalam hukum mereka, tetapi semakin lama semakin jarang dipakai. Ini<br />
terjadi, antara lain, karena suksesnya perjuangan kelompok-kelompok kebebasan<br />
berpendapat di sana.</p>
<p>Di Inggris sendiri, kalau saya tak salah, pasal soal blasphemy ini dipakai<br />
terakhir kali pada tahun 1977 dalam kasus Mary Whitehouse, seorang aktivis yang<br />
dengan gigih ingin menegakkan moralitas Kristen dalam ruang publik. Dia menuntut<br />
majalah Gay News yang menyiarkan sebuah puisi karya James Kirkup yang ia anggap<br />
melecehkan figur Yesus. Pengadilan akhirnya memenangkan Mary. Keputusan<br />
pengadilan ini mendapat tentangan yang keras dari kalangan &#8220;humanis&#8221; dan pejuang<br />
kebebasan sipil di Inggris. Setelah kasus itu, isu blasphemy tak pernah muncul<br />
kembali. Kalangan Islam hendak memakai pasal itu untuk melawan Salman Rushdie,<br />
seperti diceritakan dengan benar oleh Sdr. Amran dalam artikelnya. Usaha itu<br />
gagal karena perlawanan dari kalangan pejuang kebebasan sipil, seperti kelompok<br />
Article 19. Perlawanan ini jelas bukan diarahkan semata-mata kepada Islam,<br />
tetapi juga kepada agama Kristen, sebagaimana kita lihat dalam kasus Mary<br />
Whitehouse.</p>
<p>Di Amerika Serikat sendiri, pasal tentang blasphemy juga masih bertahan di UU<br />
beberapa negara bagian, antara lain negara bagian Massachusetts. Pasal ini<br />
dipakai untuk terakhir kali di Massachusetts pada tahun 1838 dalam kasus<br />
Commonwealth v. Kneeland. Setelah itu, pasal ini tak lagi dipakai. Kasus ini<br />
muncul untuk terakhir pada level pengadilan federal pada tahun 1952 dalam kasus<br />
Joseph Burstyn, Inc. v. Wilson. Dalam kasus itu, Mahkamah Agung menolak memakai<br />
pasal &#8220;blasphemy&#8221; karena melanggar prinsip kebebasan berpendapat.<br />
Pasal penghinaan agama ini juga ada dalam KUHP kita. Kita, terutama para<br />
aktivis yang bergerak dalam isu kebebasan beragama, perlu dengan sungguh-sungguh<br />
memikirkan masalah definisi penghinaan agama ini. Pasal seperti ini persis<br />
seperti &#8220;hatzaai artikelen&#8221; atau artikel kebencian yang dulu kerap dipakai oleh<br />
rezim otoriter Suharto untuk memberangus kritik. Pasal seperti ini bisa dipakai<br />
oleh kalangan konservatif Islam untuk memberangus tafsiran-tafsiran yang<br />
dianggap melawan tafsiran kaum ortodoks.[]</p>
<p>Referensi:</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Free Will</title>
		<link>http://harry.sufehmi.com/archives/2007-12-06-1565/#comment-79294</link>
		<dc:creator>Free Will</dc:creator>
		<pubDate>Tue, 11 Dec 2007 14:41:25 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://harry.sufehmi.com/archives/2007-12-06-1565/#comment-79294</guid>
		<description>Kita harus membedakan antara pelajaran hidup dengan "intellectual exchange." Kalau menurut saya, tulisan Amran, terlepas dari gaya bertuturnya, merupakan intellectual exchange. Pelajaran hidup dapat diperoleh dari siapapun, bahkan kita bisa belajar sangat banyak dari anak kecil yang kini banyak beroperasi di lampu merah di banyak tempat di Jakarta.

Dalam konteks diskusi dengan JIL, it goes without saying bahwa yang dimaksudkan adalah "intellectual exchange" ini, atau lebih tepat lagi (barangkali) adalah "academic exchange."</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Kita harus membedakan antara pelajaran hidup dengan &#8220;intellectual exchange.&#8221; Kalau menurut saya, tulisan Amran, terlepas dari gaya bertuturnya, merupakan intellectual exchange. Pelajaran hidup dapat diperoleh dari siapapun, bahkan kita bisa belajar sangat banyak dari anak kecil yang kini banyak beroperasi di lampu merah di banyak tempat di Jakarta.</p>
<p>Dalam konteks diskusi dengan JIL, it goes without saying bahwa yang dimaksudkan adalah &#8220;intellectual exchange&#8221; ini, atau lebih tepat lagi (barangkali) adalah &#8220;academic exchange.&#8221;</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Ardiansyah</title>
		<link>http://harry.sufehmi.com/archives/2007-12-06-1565/#comment-79289</link>
		<dc:creator>Ardiansyah</dc:creator>
		<pubDate>Tue, 11 Dec 2007 14:17:53 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://harry.sufehmi.com/archives/2007-12-06-1565/#comment-79289</guid>
		<description>http://akmal.multiply.com/journal/item/206

Mbak Liberal(Free) Will dan mbak gebukanmonyet
Kliping om Akmal. Silahkan dibaca. 

Selama pemikiran kaum liberal (JIL, sebagian IAIN, sebagian Depag) dikonsumsi sendiri saya gak perduli. Jadi perdamaiannya adalah hingga mereka berhenti dengan "dakwah liberal" nya.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://akmal.multiply.com/journal/item/206" >http://akmal.multiply.com/journal/item/206</a></p>
<p>Mbak Liberal(Free) Will dan mbak gebukanmonyet<br />
Kliping om Akmal. Silahkan dibaca. </p>
<p>Selama pemikiran kaum liberal (JIL, sebagian IAIN, sebagian Depag) dikonsumsi sendiri saya gak perduli. Jadi perdamaiannya adalah hingga mereka berhenti dengan &#8220;dakwah liberal&#8221; nya.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: sufehmi</title>
		<link>http://harry.sufehmi.com/archives/2007-12-06-1565/#comment-79268</link>
		<dc:creator>sufehmi</dc:creator>
		<pubDate>Tue, 11 Dec 2007 12:20:41 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://harry.sufehmi.com/archives/2007-12-06-1565/#comment-79268</guid>
		<description>&lt;b&gt;Banyak mereka itu lulusan Azhar, IAIN, pesantren2, dsb. Artinya mereka punya kredential yang memungkinkan mereka mengemukakan pendapat secara otoritatif.&lt;/b&gt;
.
Saya pribadi selalu berusaha untuk tidak tersilaukan dengan gelar akademis begitu saja, dan lebih mencoba fokus ke substansi yang mereka bawakan.
.
Sudah terlalu sering saya &lt;a href="http://harry.sufehmi.com/archives/2007-11-29-1563/"&gt;mendapat pelajaran hidup yang berharga justru dari orang-orang yang biasanya tidak dilirik oleh orang lainnya&lt;/a&gt;; sementara berbagai "ustadz" / "kiyai" / "intelektual" / "pakar" malah sudah banyak yang mengecewakan.
.
Malah ada beberapa kawan saya yang sudah menjadi apatis terhadap Islam (konversi menjadi agnostic / atheis), karena trauma dengan &lt;a href="http://harry.sufehmi.com/archives/2005-04-01-868/"&gt;"kiyai" / "ustadz"&lt;/a&gt; (lulusan Saudi, Mesir, dll) yang kelakuannya benar-benar sama sekali tidak mencerminkan ajaran Islam.
.
Jadi sebaiknya memang kita fokus ke substansi, bukan label / kemasan. Supaya kita tidak jadi kecewa sendiri di kemudian hari.
Thanks.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p><b>Banyak mereka itu lulusan Azhar, IAIN, pesantren2, dsb. Artinya mereka punya kredential yang memungkinkan mereka mengemukakan pendapat secara otoritatif.</b><br />
.<br />
Saya pribadi selalu berusaha untuk tidak tersilaukan dengan gelar akademis begitu saja, dan lebih mencoba fokus ke substansi yang mereka bawakan.<br />
.<br />
Sudah terlalu sering saya <a href="http://harry.sufehmi.com/archives/2007-11-29-1563/">mendapat pelajaran hidup yang berharga justru dari orang-orang yang biasanya tidak dilirik oleh orang lainnya</a>; sementara berbagai &#8220;ustadz&#8221; / &#8220;kiyai&#8221; / &#8220;intelektual&#8221; / &#8220;pakar&#8221; malah sudah banyak yang mengecewakan.<br />
.<br />
Malah ada beberapa kawan saya yang sudah menjadi apatis terhadap Islam (konversi menjadi agnostic / atheis), karena trauma dengan <a href="http://harry.sufehmi.com/archives/2005-04-01-868/">&#8220;kiyai&#8221; / &#8220;ustadz&#8221;</a> (lulusan Saudi, Mesir, dll) yang kelakuannya benar-benar sama sekali tidak mencerminkan ajaran Islam.<br />
.<br />
Jadi sebaiknya memang kita fokus ke substansi, bukan label / kemasan. Supaya kita tidak jadi kecewa sendiri di kemudian hari.<br />
Thanks.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: sufehmi</title>
		<link>http://harry.sufehmi.com/archives/2007-12-06-1565/#comment-79265</link>
		<dc:creator>sufehmi</dc:creator>
		<pubDate>Tue, 11 Dec 2007 12:09:07 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://harry.sufehmi.com/archives/2007-12-06-1565/#comment-79265</guid>
		<description>&lt;b&gt;Kalau Ulil keliru mengutip bahwa Romney jadi gubernur 2 kali, padahal yang sebenarnya adalah sekali — saya yakin dia tidak bermaksud berbohong&lt;/b&gt;
.
Kalau ini orang lain, memang idealnya kita berprasangka baik dulu.
.
Tapi ketika kita bicara JIL, yang sudah berkali-kali terbukti membelokkan fakta dan berbagai trik lainnya (1), maka naif sekali kalau kita mempercayai begitu saja. 
Sudah jelas mereka punya agenda, dengan sponsor yang bias terhadap Islam, dan lalu aksi-aksinya juga sudah terbukti kontra-produktif &#38; menghalalkan cara-cara yang tidak benar.
.
Kalau masih juga sampeyan percaya buta dengan mereka, maka otomatis intelektualitas Anda saya ragukan.
.
&lt;b&gt;Peristiwa2 “persekusi” yang dikutip Amran itu merupakan eksepsi, bukan sesuatu yang normatif. Coba lihat deh, berapa juta kaum Muslimin imigran dari Pakistan yang menetap di Inggris, yang sekarang bahkan banyak di antaranya sudah jadi “sir” atau “lord.” Banyak di antara imigran itu yang lari ke barat karena persekusi di tanah airnya. Kenapa mereka tidak melarikan diri ke Indonesia? atau ke Brunei? atau ke Iran?&lt;/b&gt;
.
Ya, saya juga bingung dengan hal ini. Tapi, sepertinya ini masalah image.
Istilah inggrisnya : neighborhood's grass is always greener
.
Baru beberapa hari yang lalu saya meeting dengan seorang brother Uzbekistan. Dia bertanya-tanya kepada saya mengenai cara masuk ke Inggris atau Amerika.
Padahal istri saya sampai sempat di harass di Inggris &#38; setelah 9/11 banyak muslim yang dizalimi di Amerika, tapi dia tetap mengira hidup disana lebih baik.
.
Alhamdulillah setelah agak lama berdiskusi akhirnya dia mau mempertimbangkan Kanada. Tapi tetap tidak tertarik untuk ke Brunei. Padahal saya sudah ceritakan mengenai beberapa kawan saya yang sudah sukses disana.
Ya sudahlah, setidak-tidaknya Kanada masih agak mendingan, mereka cenderung sangat toleran dengan pendatang. 
.
Yah, begitulah keadaan umat Islam saat ini, Barat-minded banget. Serba kebarat-baratan. 
Semua yang dari Barat itu menurut mereka pasti bagus. Langsung terpesona dengan berbagai kerlap-kerlipnya. Begitu ada sesuatu dari Barat, filter kritis di otak kita langsung mati duluan.
.
Nah, JIL, yang katanya gerombolan intelektual itu, ternyata malah justru Barat-mindednya yang paling parah. 
Alamak...  asal dari Barat, maka langsung tidak pakai filter; langsung ditelan mentah-mentah tanpa dikritisi lagi. Sedangkan pondasi-pondasi agama justru digoyang-goyang terus. 
Padahal kalau gedung yang kita ganggu pondasinya, musti siap-siap saja jadi runtuh dan kita semua mati terkubur di reruntuhannya itu.
.
Jadinya mengecewakan sekali.
.
&lt;b&gt;Amran bilang susah banget orang Islam bikin mesjid di Amerika. Secara paralel, fundamentalis Kristen juga bisa bilang: hampir mustahil mendirikan gereja di perkampungan Islam di Indonesia.&lt;/b&gt;
.
Sori mas, konteksnya berbeda jauh. Kebetulan saya sudah mengalami sendiri, jadi saya tahu betul situasinya.
.
Di luar negeri, kita membuat mesjid adalah sekedar untuk keperluan komunitas sendiri. Kita tidak tertarik untuk melakukan konversi (memurtadkan) orang lain dari agama mereka.
Kecuali, tentu saja, kalau mereka yang datang sendiri ke mesjid kita dan bertanya-tanya tentang Islam, tentu biasanya diladeni dengan baik.
.
Nah, di Indonesia ini sayangnya adalah gudang para ekstrimis (2) (3), baik Islam maupun Kristen, dll. Yang ekstrimis Kristen (bukan yang moderat ya) ini sangat doyan berusaha memurtadkan umat agama lainnya.  (kalau soal ini saja masih denial sebaiknya Anda &lt;a href="http://www.motherjones.com/news/feature/2002/05/stealth.html"&gt;baca artikel ini dulu&lt;/a&gt;; dan ini masih contoh yang belum terlalu parah. Kalau mau data yang lebih lengkap, bisa datang ke perpustakaan Dewan Dakwah misalnya)
Ini jelas menyusahkan semua pihak karena mereka menghalalkan berbagai cara, termasuk ketika dilarang beroperasi maka mereka tetap melakukannya secara sembunyi2 (misal: dengan memanfaatkan rumah menjadi pusat operasinya, dst). Juga berbagai modus operandi yang tidak etis, seperti &lt;a href="http://www.boston.com/news/nation/articles/2006/10/08/bush_brings_faith_to_foreign_aid/"&gt;aid for &lt;/a&gt;&lt;a href="http://findarticles.com/p/articles/mi_qa3720/is_200707/ai_n19511145"&gt;faith&lt;/a&gt;, dst.
.
Baik di luar negeri maupun di Indonesia sudah ada aturan mainnya untuk membuat rumah ibadah. Tinggal diikuti saja. 
Dan setelah rumah ibadah itu jadi, jangan luput untuk bermuamalah secara baik dengan umat di sekitar kita. Common sense saja ini saya kira.
.
OK, itulah beberapa tambahan dari saya. Mudah-mudahan menjadi jelas.
Thanks.
.
.
catatan :
.
(1) beberapa contoh: 
&lt;a href="http://harry.sufehmi.com/archives/2006-05-29-1161/"&gt;JIL tertangkap basah&lt;/a&gt;
&lt;a href="http://harry.sufehmi.com/archives/2007-10-31-1552/"&gt;JIL tertangkap basah (lagi)&lt;/a&gt;
&lt;a href="http://harry.sufehmi.com/archives/2006-02-10-1112/"&gt;Disinformasi dari kubu JIL&lt;/a&gt;
.
(2) Sekedar informasi; saya punya banyak kawan yang bukan muslim. Dan bagi kami tidak ada masalah, sesama prinsip lakum dinukum waliyadin bisa dilaksanakan, maka beda agama bukan penghalang untuk bermuamalah. 
Bagi yang menjalankan agamanya dengan benar, maka akan bisa berhubungan secara baik dengan siapa saja.
.
(3) Saya keberatan menggunakan istilah "fundamentalis" untuk mewakili para ekstrimis. 
Karena secara literal, seseorang yang &lt;a href="http://www.m-w.com/cgi-bin/netdict?Fundamentalist"&gt;fundamentalis&lt;/a&gt; justru bagus. Istilah lainnya yang setara mungkin adalah "back to basics"; kembali ke hal-hal dasar yang memang relevan &#38; penting.
Saya tidak suka menggunakan istilah fundamentalis yang diplesetkan / digunakan untuk mewakili para ekstrimis. Para ekstrimis bukanlah fundamentalis - karena mereka telah berlebih-lebihan dalam beragama. Dan dalam Islam, ini justru dilarang dengan tegas.
.
Jadi, ketika ada pihak yang dengan sengaja menggunakan istilah fundamentalis untuk merujuk kepada para ekstrimis, seperti yang banyak dilakukan oleh para orientalis sejak dulu; maka saya anggap mereka sepaham dengan para orientalis ini dan memiliki agenda yang sama -- untuk menjelekkan para fundamentalis, dan justru membiarkan para ekstrimis yang sebenarnya (terutama mereka sendiri) bebas bertindak tanpa terkena label yang berkonotasi negatif.
.
Secara ringkas: bukan orang yang baik &#38; bisa kita percaya.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p><b>Kalau Ulil keliru mengutip bahwa Romney jadi gubernur 2 kali, padahal yang sebenarnya adalah sekali — saya yakin dia tidak bermaksud berbohong</b><br />
.<br />
Kalau ini orang lain, memang idealnya kita berprasangka baik dulu.<br />
.<br />
Tapi ketika kita bicara JIL, yang sudah berkali-kali terbukti membelokkan fakta dan berbagai trik lainnya (1), maka naif sekali kalau kita mempercayai begitu saja.<br />
Sudah jelas mereka punya agenda, dengan sponsor yang bias terhadap Islam, dan lalu aksi-aksinya juga sudah terbukti kontra-produktif &amp; menghalalkan cara-cara yang tidak benar.<br />
.<br />
Kalau masih juga sampeyan percaya buta dengan mereka, maka otomatis intelektualitas Anda saya ragukan.<br />
.<br />
<b>Peristiwa2 “persekusi” yang dikutip Amran itu merupakan eksepsi, bukan sesuatu yang normatif. Coba lihat deh, berapa juta kaum Muslimin imigran dari Pakistan yang menetap di Inggris, yang sekarang bahkan banyak di antaranya sudah jadi “sir” atau “lord.” Banyak di antara imigran itu yang lari ke barat karena persekusi di tanah airnya. Kenapa mereka tidak melarikan diri ke Indonesia? atau ke Brunei? atau ke Iran?</b><br />
.<br />
Ya, saya juga bingung dengan hal ini. Tapi, sepertinya ini masalah image.<br />
Istilah inggrisnya : neighborhood&#8217;s grass is always greener<br />
.<br />
Baru beberapa hari yang lalu saya meeting dengan seorang brother Uzbekistan. Dia bertanya-tanya kepada saya mengenai cara masuk ke Inggris atau Amerika.<br />
Padahal istri saya sampai sempat di harass di Inggris &amp; setelah 9/11 banyak muslim yang dizalimi di Amerika, tapi dia tetap mengira hidup disana lebih baik.<br />
.<br />
Alhamdulillah setelah agak lama berdiskusi akhirnya dia mau mempertimbangkan Kanada. Tapi tetap tidak tertarik untuk ke Brunei. Padahal saya sudah ceritakan mengenai beberapa kawan saya yang sudah sukses disana.<br />
Ya sudahlah, setidak-tidaknya Kanada masih agak mendingan, mereka cenderung sangat toleran dengan pendatang.<br />
.<br />
Yah, begitulah keadaan umat Islam saat ini, Barat-minded banget. Serba kebarat-baratan.<br />
Semua yang dari Barat itu menurut mereka pasti bagus. Langsung terpesona dengan berbagai kerlap-kerlipnya. Begitu ada sesuatu dari Barat, filter kritis di otak kita langsung mati duluan.<br />
.<br />
Nah, JIL, yang katanya gerombolan intelektual itu, ternyata malah justru Barat-mindednya yang paling parah.<br />
Alamak&#8230;  asal dari Barat, maka langsung tidak pakai filter; langsung ditelan mentah-mentah tanpa dikritisi lagi. Sedangkan pondasi-pondasi agama justru digoyang-goyang terus.<br />
Padahal kalau gedung yang kita ganggu pondasinya, musti siap-siap saja jadi runtuh dan kita semua mati terkubur di reruntuhannya itu.<br />
.<br />
Jadinya mengecewakan sekali.<br />
.<br />
<b>Amran bilang susah banget orang Islam bikin mesjid di Amerika. Secara paralel, fundamentalis Kristen juga bisa bilang: hampir mustahil mendirikan gereja di perkampungan Islam di Indonesia.</b><br />
.<br />
Sori mas, konteksnya berbeda jauh. Kebetulan saya sudah mengalami sendiri, jadi saya tahu betul situasinya.<br />
.<br />
Di luar negeri, kita membuat mesjid adalah sekedar untuk keperluan komunitas sendiri. Kita tidak tertarik untuk melakukan konversi (memurtadkan) orang lain dari agama mereka.<br />
Kecuali, tentu saja, kalau mereka yang datang sendiri ke mesjid kita dan bertanya-tanya tentang Islam, tentu biasanya diladeni dengan baik.<br />
.<br />
Nah, di Indonesia ini sayangnya adalah gudang para ekstrimis (2) (3), baik Islam maupun Kristen, dll. Yang ekstrimis Kristen (bukan yang moderat ya) ini sangat doyan berusaha memurtadkan umat agama lainnya.  (kalau soal ini saja masih denial sebaiknya Anda <a href="http://www.motherjones.com/news/feature/2002/05/stealth.html">baca artikel ini dulu</a>; dan ini masih contoh yang belum terlalu parah. Kalau mau data yang lebih lengkap, bisa datang ke perpustakaan Dewan Dakwah misalnya)<br />
Ini jelas menyusahkan semua pihak karena mereka menghalalkan berbagai cara, termasuk ketika dilarang beroperasi maka mereka tetap melakukannya secara sembunyi2 (misal: dengan memanfaatkan rumah menjadi pusat operasinya, dst). Juga berbagai modus operandi yang tidak etis, seperti <a href="http://www.boston.com/news/nation/articles/2006/10/08/bush_brings_faith_to_foreign_aid/">aid for </a><a href="http://findarticles.com/p/articles/mi_qa3720/is_200707/ai_n19511145">faith</a>, dst.<br />
.<br />
Baik di luar negeri maupun di Indonesia sudah ada aturan mainnya untuk membuat rumah ibadah. Tinggal diikuti saja.<br />
Dan setelah rumah ibadah itu jadi, jangan luput untuk bermuamalah secara baik dengan umat di sekitar kita. Common sense saja ini saya kira.<br />
.<br />
OK, itulah beberapa tambahan dari saya. Mudah-mudahan menjadi jelas.<br />
Thanks.<br />
.<br />
.<br />
catatan :<br />
.<br />
(1) beberapa contoh:<br />
<a href="http://harry.sufehmi.com/archives/2006-05-29-1161/">JIL tertangkap basah</a><br />
<a href="http://harry.sufehmi.com/archives/2007-10-31-1552/">JIL tertangkap basah (lagi)</a><br />
<a href="http://harry.sufehmi.com/archives/2006-02-10-1112/">Disinformasi dari kubu JIL</a><br />
.<br />
(2) Sekedar informasi; saya punya banyak kawan yang bukan muslim. Dan bagi kami tidak ada masalah, sesama prinsip lakum dinukum waliyadin bisa dilaksanakan, maka beda agama bukan penghalang untuk bermuamalah.<br />
Bagi yang menjalankan agamanya dengan benar, maka akan bisa berhubungan secara baik dengan siapa saja.<br />
.<br />
(3) Saya keberatan menggunakan istilah &#8220;fundamentalis&#8221; untuk mewakili para ekstrimis.<br />
Karena secara literal, seseorang yang <a href="http://www.m-w.com/cgi-bin/netdict?Fundamentalist">fundamentalis</a> justru bagus. Istilah lainnya yang setara mungkin adalah &#8220;back to basics&#8221;; kembali ke hal-hal dasar yang memang relevan &amp; penting.<br />
Saya tidak suka menggunakan istilah fundamentalis yang diplesetkan / digunakan untuk mewakili para ekstrimis. Para ekstrimis bukanlah fundamentalis - karena mereka telah berlebih-lebihan dalam beragama. Dan dalam Islam, ini justru dilarang dengan tegas.<br />
.<br />
Jadi, ketika ada pihak yang dengan sengaja menggunakan istilah fundamentalis untuk merujuk kepada para ekstrimis, seperti yang banyak dilakukan oleh para orientalis sejak dulu; maka saya anggap mereka sepaham dengan para orientalis ini dan memiliki agenda yang sama &#8212; untuk menjelekkan para fundamentalis, dan justru membiarkan para ekstrimis yang sebenarnya (terutama mereka sendiri) bebas bertindak tanpa terkena label yang berkonotasi negatif.<br />
.<br />
Secara ringkas: bukan orang yang baik &amp; bisa kita percaya.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Free Will</title>
		<link>http://harry.sufehmi.com/archives/2007-12-06-1565/#comment-79259</link>
		<dc:creator>Free Will</dc:creator>
		<pubDate>Tue, 11 Dec 2007 11:28:54 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://harry.sufehmi.com/archives/2007-12-06-1565/#comment-79259</guid>
		<description>Saya kira analogi "dokter gigi ngoprasi jantung" betul2 tdk tepat dan salah kaprah. Mestinya Muhammad Subair melihat dulu CV orang2 yang mengaku dirinya Islam liberal itu (maaf saya bukan termasuk mereka lho). Banyak mereka itu lulusan Azhar, IAIN, pesantren2, dsb. Artinya mereka punya kredential yang memungkinkan mereka mengemukakan pendapat secara otoritatif. Hati-hati ah, jangan sembarangan nyebut orang tidak "intelek."

Kalau menurut saya, daripada nuduh orang bohong atau tidak intelek, mendingan analisa saja pendapat yang dikemukakannya dan konfrontir dengan fakta lain. atau mungkin juga dengan melihat persoalan yang diajukan dari perspektif yang berbeda. Saya kira apa yang dilakukan oleh Amran sudah cukup baik, tinggal bahasanya saja dipoles.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Saya kira analogi &#8220;dokter gigi ngoprasi jantung&#8221; betul2 tdk tepat dan salah kaprah. Mestinya Muhammad Subair melihat dulu CV orang2 yang mengaku dirinya Islam liberal itu (maaf saya bukan termasuk mereka lho). Banyak mereka itu lulusan Azhar, IAIN, pesantren2, dsb. Artinya mereka punya kredential yang memungkinkan mereka mengemukakan pendapat secara otoritatif. Hati-hati ah, jangan sembarangan nyebut orang tidak &#8220;intelek.&#8221;</p>
<p>Kalau menurut saya, daripada nuduh orang bohong atau tidak intelek, mendingan analisa saja pendapat yang dikemukakannya dan konfrontir dengan fakta lain. atau mungkin juga dengan melihat persoalan yang diajukan dari perspektif yang berbeda. Saya kira apa yang dilakukan oleh Amran sudah cukup baik, tinggal bahasanya saja dipoles.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Free Will</title>
		<link>http://harry.sufehmi.com/archives/2007-12-06-1565/#comment-79246</link>
		<dc:creator>Free Will</dc:creator>
		<pubDate>Tue, 11 Dec 2007 10:12:08 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://harry.sufehmi.com/archives/2007-12-06-1565/#comment-79246</guid>
		<description>Kalau Ulil keliru mengutip bahwa Romney jadi gubernur 2 kali, padahal yang sebenarnya adalah sekali --- saya yakin dia tidak bermaksud berbohong. Ini kekeliruan yang bisa terjadi ama siapapun. Ini adalah kenyataan yang dengan sangat mudah bisa ditemukan oleh orang yang bisa nge-google. Seharusnya Amran melihat bahwa message dari tulisan Ulil itu adalah the fact bahwa Romney was elected despite his being a Mormon.

Peristiwa2 "persekusi" yang dikutip Amran itu merupakan eksepsi, bukan sesuatu yang normatif. Coba lihat deh, berapa juta kaum Muslimin imigran dari Pakistan yang menetap di Inggris, yang sekarang bahkan banyak di antaranya sudah jadi "sir" atau "lord." Banyak di antara imigran itu yang lari ke barat karena persekusi di tanah airnya. Kenapa mereka tidak melarikan diri ke Indonesia? atau ke Brunei? atau ke Iran?

Amran bilang susah banget orang Islam bikin mesjid di Amerika. Secara paralel, fundamentalis Kristen juga bisa bilang: hampir mustahil mendirikan gereja di perkampungan Islam di Indonesia.

Kalau hasil pemilu dipengaruhi oleh afiliasi keagamaan para voters ... ah, ini mah wajar banget, dan bukan karena kebencian atau persekusi. Orang itu kan kalau ngumpul "likes with likes." 

Bahwa banyak kelemahan barat dalam konteks relasi mereka dengan kaum Muslimin, itu juga sebuah kenyataan yang harus diakui. Tapi jangan sampai kita menutup mata dari sekian banyak kelebihan yang mereka tunjukkan kepada orang Timur (termasuk orang Islam.)</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Kalau Ulil keliru mengutip bahwa Romney jadi gubernur 2 kali, padahal yang sebenarnya adalah sekali &#8212; saya yakin dia tidak bermaksud berbohong. Ini kekeliruan yang bisa terjadi ama siapapun. Ini adalah kenyataan yang dengan sangat mudah bisa ditemukan oleh orang yang bisa nge-google. Seharusnya Amran melihat bahwa message dari tulisan Ulil itu adalah the fact bahwa Romney was elected despite his being a Mormon.</p>
<p>Peristiwa2 &#8220;persekusi&#8221; yang dikutip Amran itu merupakan eksepsi, bukan sesuatu yang normatif. Coba lihat deh, berapa juta kaum Muslimin imigran dari Pakistan yang menetap di Inggris, yang sekarang bahkan banyak di antaranya sudah jadi &#8220;sir&#8221; atau &#8220;lord.&#8221; Banyak di antara imigran itu yang lari ke barat karena persekusi di tanah airnya. Kenapa mereka tidak melarikan diri ke Indonesia? atau ke Brunei? atau ke Iran?</p>
<p>Amran bilang susah banget orang Islam bikin mesjid di Amerika. Secara paralel, fundamentalis Kristen juga bisa bilang: hampir mustahil mendirikan gereja di perkampungan Islam di Indonesia.</p>
<p>Kalau hasil pemilu dipengaruhi oleh afiliasi keagamaan para voters &#8230; ah, ini mah wajar banget, dan bukan karena kebencian atau persekusi. Orang itu kan kalau ngumpul &#8220;likes with likes.&#8221; </p>
<p>Bahwa banyak kelemahan barat dalam konteks relasi mereka dengan kaum Muslimin, itu juga sebuah kenyataan yang harus diakui. Tapi jangan sampai kita menutup mata dari sekian banyak kelebihan yang mereka tunjukkan kepada orang Timur (termasuk orang Islam.)</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Muhammad Subair</title>
		<link>http://harry.sufehmi.com/archives/2007-12-06-1565/#comment-79229</link>
		<dc:creator>Muhammad Subair</dc:creator>
		<pubDate>Tue, 11 Dec 2007 08:41:30 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://harry.sufehmi.com/archives/2007-12-06-1565/#comment-79229</guid>
		<description>Dari Free Will dan guebukanmonyet bisa kita lihat salah satu cara-cara berpikir dan mengecoh orang2 lain dalam beragumentasi *JIL banget :d*, selalu berputar2 tidak jelas bukan pada aspek perkaranya, memutar bahasan ke hal lain yang menimbulkan perdebatan baru padahal intinya tidak disinggung. 

Hello yang kita omongkan sekarang ini masalah ketidak jujuran atau ketidak telitian mungkin dalam mengambil fakta untuk berargumen. Ya bahas itu dong.

Kami umat Islam butuh ilmu dan sumber yang benar, terserah kalau yang lain mau begitu. Karna ini masalah akhirat, yang hasrat kami atasnya jauh lebih besar dari dunia ini, jadi kami jauh lebih hati2. Sedangkan di dunia ini anda2 semua tidak ada yang mau dioperasi jantung oleh Dokter Gigi ?? Atau apakah anda akan diam saja begitu tau ada dokter mallpraktek atau tidak punya ijin praktek ????</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Dari Free Will dan guebukanmonyet bisa kita lihat salah satu cara-cara berpikir dan mengecoh orang2 lain dalam beragumentasi *JIL banget :d*, selalu berputar2 tidak jelas bukan pada aspek perkaranya, memutar bahasan ke hal lain yang menimbulkan perdebatan baru padahal intinya tidak disinggung. </p>
<p>Hello yang kita omongkan sekarang ini masalah ketidak jujuran atau ketidak telitian mungkin dalam mengambil fakta untuk berargumen. Ya bahas itu dong.</p>
<p>Kami umat Islam butuh ilmu dan sumber yang benar, terserah kalau yang lain mau begitu. Karna ini masalah akhirat, yang hasrat kami atasnya jauh lebih besar dari dunia ini, jadi kami jauh lebih hati2. Sedangkan di dunia ini anda2 semua tidak ada yang mau dioperasi jantung oleh Dokter Gigi ?? Atau apakah anda akan diam saja begitu tau ada dokter mallpraktek atau tidak punya ijin praktek ????</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Ardiansyah</title>
		<link>http://harry.sufehmi.com/archives/2007-12-06-1565/#comment-79100</link>
		<dc:creator>Ardiansyah</dc:creator>
		<pubDate>Mon, 10 Dec 2007 17:20:51 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://harry.sufehmi.com/archives/2007-12-06-1565/#comment-79100</guid>
		<description>Emangnya belajar Islam harus dengan Barat?
Apa yakin khasanah ilmu keIslaman sudah dikuasai semua oleh Barat?
Apakah manuskrip kitab2 (atau bentuk digital deh hehe) klasik hasil pemikir Muslim jaman keemasan tidak ada di perpustakaan di negara2 Islam?

***
Jangan2 ini permainan "ngadu fakta" bagian kedua ya :D</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Emangnya belajar Islam harus dengan Barat?<br />
Apa yakin khasanah ilmu keIslaman sudah dikuasai semua oleh Barat?<br />
Apakah manuskrip kitab2 (atau bentuk digital deh hehe) klasik hasil pemikir Muslim jaman keemasan tidak ada di perpustakaan di negara2 Islam?</p>
<p>***<br />
Jangan2 ini permainan &#8220;ngadu fakta&#8221; bagian kedua ya <img src='http://harry.sufehmi.com/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' /></p>
]]></content:encoded>
	</item>
</channel>
</rss>
