Hidup damai bersama Ahmadiyyah
Pagi ini (9 Januari 2008) saya membaca koran Republika, di halaman pertama ada tulisan bahwa para penganut Ahmadiyyah telah dapat hidup dengan tenang di “kampung halaman”-nya, Pakistan, sejak tahun 1974.
Benar-benar berita yang menyejukkan. Mudah-mudahan di Indonesia juga bisa segera menjadi kenyataan.
Islam & agama lainnya
Islam mengajarkan, langsung di Al-Quran, bahwa para penganutnya wajib bersilaturahmi dengan baik kepada penganut agama lainnya. Dengan konsep kebebasan beragama “lakum dinukum waliyadin”, kewajiban tersebut bisa menjadi kenyataan.
Tidak hanya itu, kemudian Nabi saw juga memberikan contoh dalam kehidupannya sehari-hari. Sampai ke berbagai contoh yang “ekstrim” & rasanya tidak akan bisa kita temukan lagi di zaman ini - seperti pengemis Yahudi buta yang sangat benci & selalu mencaci maki Nabi Muhammad justru tetap disayangi oleh beliau sampai akhir hayatnya.
Jadi sudah terlalu banyak penegasannya bahwa umat Muslim wajib untuk bermuamalah dengan baik kepada umat lainnya.
Solusi Ahmadiyyah di Pakistan
Kembali ke topik awal - bagaimana caranya sampai jamaah Ahmadiyyah bisa hidup dengan damai di Pakistan ? Ternyata sederhana saja - Ahmadiyyah telah diakui sebagai agama yang tersendiri. Dan para jamaahnya juga mengaku sebagai penganut agama Ahmadiyyah.
Mereka tidak mengaku-aku sebagai beragama Islam.
Maka dengan demikian, umat Muslim & umat Ahmadiyyah dapat saling berhubungan dengan baik & damai.
Masalah di Indonesia
Kenapa di Indonesia masih bermasalah ? Ternyata, ini karena organisasi JAI (Jemaat Ahmadiyyah Indonesia) masih ngotot bahwa Ahmadiyyah adalah Islam.
Padahal, dalam pertemuan di Balitbang Depag & Mabes Polri, yang menghasilkan 12 butir pernyataan JAI, mereka jelas menyatakan & mengakui bahwa Mirza Ghulam Ahmad adalah Rasul Allah (sumber: Republika 9 Januari 2008).
Tentu saja ini berbeda 100% dengan dasar kepercayaan Islam, yang meyakini bahwa tidak ada lagi Nabi/Rasul setelah Nabi Muhammad saw.
Solusi di Indonesia
Sebetulnya kita tinggal meniru teladan Pakistan saja - umumkan tentang keberadaan agama Ahmadiyyah.
Maka kemudian para penganutnya jadi bisa bebas melakukan ajaran agamanya. Dan para pelaku anarkis bisa dengan mudah ditangkap & ditindak oleh para penegak hukum.
Fakta di seluruh dunia
Ulama Islam di seluruh dunia telah sepakat menyatakan bahwa Ahmadiyyah adalah agama tersendiri, sejak dahulu kala.
Rabithah Alam Islami telah mengeluarkan pernyataan ini sejak tahun 1981. Malaysia & Brunei juga sudah lama menyatakan hal yang sama.
Dukungan kepada NU & Menag
Pada hari Selasa, 8 Januari 2008, Amir Nasional Jemaat Ahmadiyah Indonesia, Abdul Basyit, menemui Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Hasyim Muzadi, di Kantor PBNU, Jalan Kramat Raya, Jakarta. Ia meminta NU bisa mendesak pemerintah agar melindungi jamaahnya sebagaimana warga negara yang lain.
Disini saya sangat salut dengan sikap pak Hasyim yang tetap teguh dalam memegang prinsipnya.
Beliau menyatakan kembali bahwa Ahmadiyyah memang adalah agama tersendiri (”Saya juga bisa setuju ketidaksetujuan mereka (MUI)”).
Namun beliau mengingatkan bahwa tindakan main hakim jelas adalah suatu hal yang sangat salah.
Di akhir dialog, beliau menyatakan bahwa fatwa MUI tidak bisa dituding sebagai penyebab kekerasan terhadap pengikut Ahmadiyyah. “Yang memicu kekerasan adalah demokrasi yang tidak terbatas,” tandasnya.
Menteri Agama, Maftuh Basyuni, juga menunjukkan sikap yang sama. Kalau Ahmadiyyah ingin dianggap sebagai agama Islam,ya tentunya harus sesuai dengan ajaran agama Islam,seperti mengakui Nabi Muhammad saw sebagai Nabi yang terakhir. Kalau tidak ya juga tidak masalah, tinggal mendaftar saja sebagai agama yang baru.
Para pahlawan kesiangan
Pada berbagai kasus, selalu saja ada berbagai pahlawan kesiangan. Tidak terkecuali pula dalam kasus ini. Disini saya mencantumkan beberapa diantara mereka :
[ 1 ] Organisasi JAI & Abdul Basyit : Membelokkan inti masalahnya kemana-mana, termasuk menjadikan ini sebagai komoditas politik. Menyalahkan semua orang lain, kecuali dirinya sendiri.
Memanfaatkan jalur hukum untuk membenarkan kekeliruannya, mirip seperti modus operandi kelompok Scientology.
[ 2 ] Komnas HAM : Biasanya saya simpati & salut dengan kerja keras Komnas HAM melayani masyarakat. Namun dalam kasus ini, ada kemungkinan mereka mendapatkan informasi yang keliru.
Soal Ahmadiyyah bukan pelanggaran HAM (kecuali pada kasus-kasus main hakim sendiri), karena para penganut agama Ahmadiyyah tetap terjamin kebebasan beragamanya di dalam ajaran agama Islam.
[ 3 ] Dawam Rahardjo : menuduh bahwa ada pelanggaran keyakinan beragama dalam kasus Ahmadiyyah di Indonesia.
Kesal karena Menteri Agama menganggapnya keblinger, dia menuduh Menag memiliki pemahaman yang dangkal soal pluralisme.
“Dari semua Menteri Agama, dia yang paling dangkal (pengetahuannya soal pluralisme)”, ketus Dawam. Padahal Tarmizi Taher juga berpendapat sama.
[ 4 ] JIL, P2D, ICRP, P3M, dll : Bukannya membantu menyelesaikan masalah ini, mereka justru membuatnya menjadi semakin keruh dengan turut membelokkan pokok permasalahannya kemana-mana.
Tandas Ulil dengan suara meninggi, “Fatwa haram ini dengan sangat jelas mengancam kebebasan hak beribadah 200 ribu pengikut JAI di seluruh Indonesia dan bukan tidak mungkin fatwa itu akan mengulang peristiwa mihnah (inkuisisi) pada abad XV”.
Keliru mas, pertama MUI bukan mengeluarkan fatwa haram Ahmadiyyah, tapi fatwa bahwa agama Ahmadiyyah bukan agama Islam. Kedua, kebebasan beragama para penganut agama Ahmadiyyah tidak terancam. Ketiga, fatwa MUI akan menyebabkan inkuisisi ? Ini namanya provokasi FUD (fear, uncertainty, doubt).
Kesimpulan
Saran & masukan dari KH Hasyim Muzadi serta Menag saya kira sudah sangat baik,yaitu menganjurkan agar Amir JAI bisa membawa diri dengan baik, dan agar semua pihak bisa saling berdialog.
Mudah-mudahan kedamaian antara para penganut agama Ahmadiyyah & penganut agama Islam bisa segera tercapai di Indonesia, amin.


January 9th, 2008 12:06
Wahhh..saya sangat setuju mas kalau solusinya seperti itu, Ahmadiyah menjadi agama baru. Begitu juga dengan berbagai aliran yang dianggap sesat karena tidak sesuai dengan yang Al-Quran dan Sunnah. Paling tidak, kalau tidak mau membikin agama baru, mereka menganggap sebagai kepercayaan kepada Tuhan yang maha esa. Di Indonesia, setahu saya juga banyak aliran kepercayaan, dan sampai saat ini kita tidak pernah mendengar adanya tindak kekerasan terhadap mereka. Karena mereka mendeklarasikan diri bukan sebagai bagian dari Islam, tetapi sebagai kepercayaan. Wallahualam.
January 9th, 2008 14:40
Pendapat yang sangat lengkap.
January 9th, 2008 15:59
@mr.bambang - betul, itulah poin saya
.
@Iranaeus - sulit untuk mempercayai orang yang merujuk ke tulisan ngawur seperti itu.
Saya kutip dari URL tentang Khataman Nabiyyin:
.
His (Mirza) writings are divinely inspired and very exhaustive, dealing with all aspects of ‘Khatamiyyat’.
Our opponents (ulama Muslim), on the other hand, have no inkling about the subject.
.
I call that bullsh*t
January 9th, 2008 17:09
If any opinion I should give about you is that I doubt the above proposal of living with harmony with Ahmadies is of your own words. The person who wrote it has a calm, calculative character. Your response to my comment indicates that you are of hustling, mischef nature. Totally the oposite.
yes, I still have this tendency of responding rather emotionally to people who misled others.
.
That made me smile
.
Still working on that.
.
And by the way, the article is mine. I do truly hope that we can finally be in peace with everyone.
But it’s rather hard to do that if the reply we got is a load of non-sense.
.
Totally agree about that tiger bit.
.
Take care.
January 9th, 2008 17:48
Since your proposal no longer stand
.
That’s **your** opinion
.
From official sites of Ahmadis’ persecutors (MUI)
.
Disagree, and that’s another lie in this topic. MUI does not persecute.
The persecutors are people who have had enough with Ahmadiyyah hijacking the name “Islam”.
.
It’s just like in the real life - if you create your own shoes and slap Nike’s brand on it, can you expect to get away with it ?
.
On the other hand, it’s totally cool if you put your own brand on it.
.
About the slogan, I think some Ahmadis are modifying it to “Love for All, Hatred for None, Misled Everyone”.
Hope you’re not falling into this club. That would be sad.
January 10th, 2008 01:54
Oooh begitu yah.. ridu baru tahu kalau di daerah asalnya, mereka merupakan agama tersendiri yang berbeda dengan islam..
Setuju banget tuh.. jadinya gak ada yang namanya massa merusak tempat ibadah, yang benar-benar sangat melanggar HAM.
Semoga pemerintah bisa menangani masalah ini
January 10th, 2008 09:59
Solusi Ahmadiyyah di Pakistan
sederhana saja - Ahmadiyyah telah diakui sebagai agama yang tersendiri. Dan para jamaahnya juga mengaku sebagai penganut agama Ahmadiyyah.
Mereka tidak mengaku-aku sebagai beragama Islam.
daus :
The fact, Ahmadiyah di Pakistan menjadi lebih buruk setelah diperintahkan oleh konstitusi untuk menjadi agama baru (so bukan Ahmadiyah yang mengaku agama baru, but perintah negara!!).
Ketika kita sering mendengar orang kristen mengucapkan salam di Indonesia, orang Ahmadiyah bisa masuk penjara disana. Tak ada orang hindu ditangkap karena ber adzan tapi Ahmadiyah??? You get the point??
Ratusan kali penyerangan terhadap warga dan properti, bahkan beberapa harus terluka dan terbunuh dalam penyerangan brutal (lihat http://www.thepersecution.org). Jadi jika Sufehmi menganggap Ahmadiyah di Pakistan menemukan solusi damai silahkan tunjukkan faktanya.
Yang ada adalah ribuan mungkin jutaan orang Ahmadiyah di Pakistan ber imigrasi ke luar negeri karena “solusi damai sufehmi”. Dan sampai sekarang Pakistan (juga bangladesh) tidak pernah menikmati suasana politik yang stabil. Do you want it???
January 10th, 2008 10:24
@All - kok komentar Ahmad (yang saya reply di komenter 4,5 & 6) kok hilang ya ?
.
Kepada Ahmad : mohon maaf, saya coba cari tahu dulu kenapa, dan mudah2an komentar Anda bisa saya munculkan kembali.
Terimakasih.
January 10th, 2008 10:29
@Firdaus - ooo, rupanya masih ada Ahmadi di Pakistan yang tetap ngotot membajak nama Islam.
.
Ya kalau begitu namanya mereka memang memprovokasi.
Seperti kata pepatah, “kalau bermain api, siap-siap saja terbakar.”
.
Jadi mereka yang melakukan itu di Pakistan sama saja dengan beberapa di Indonesia, yang terus memprovokasi umat Islam disini.
January 10th, 2008 17:22
All, aku gak tau ini jalan pikiran Sufehmi. U mau anggap Ahmadiyah sesat atau tidak itu hak kamu Suf tapi pola pikir kamu ini berbahaya. Asli Anarkis.
.
S: Ya kalau begitu namanya mereka memang memprovokasi.
Seperti kata pepatah, “kalau bermain api, siap-siap saja terbakar.”
.
Dari kata-kata kamu terasa ada pembenaran akan tindakan anarkis dari para perusuh kepada Ahmadiyah. Rupanya bagi kamu halal ya orang Ahmadiyah di serang, dibakar dan dibunuh?
.
Rasanya aku panggil kamu tuhan sajalah sekarang. Karena kamu udah merasa paling suci dan tahu dengan pasti mana yang salah dan benar hingga berhak menjatuhkan punishment kepada orang lain.
.
Aku gak tau apa alasan kamu mengangap Ahmadiyah layak mendapatkan perlakuan seperti itu. Fatwa MUI? Fatwa Rabitah? Allah saja masih ijinkan kami hidup dan berkembang (tahun ini 100 tahun Khilafah Ahmadiyah). Kamu tau kan hukuman bagi pengaku utusan Tuhan? Tuhan sendiri yang akan menghancurkan, gak perlu kamu Suf. Eh kamu tuhan juga yah??
.
Soal kamu bandingkan dengan aliran kepercayaan dan agama baru. The fact, saya bergaul dengan orang2 kepercayaan yang masih berjuang untuk dapat dianggap orang Indonesia yang sejajar. Klo agamanya Lia Eden gimana suf? Tetep aja tuh dikejar-kejar dan dipenjara? Point kamu dimana Ahmadiyah jadi agama baru?
January 11th, 2008 11:04
Rupanya bagi kamu halal ya orang Ahmadiyah di serang, dibakar dan dibunuh?
.
Memang susah berargumentasi dengan orang bodoh / licik. Kata-kata saya ditafsirkan seenak jidatnya saja.
.
Baca lagi komentar saya no:5, terutama analogi soal brand.
.
Kalau dengan analogi sesederhana itu saja Anda masih tetap tidak paham, saya juga bingung mau bagaimana lagi cara menjelaskannya.
January 11th, 2008 20:21
Katakanlah bahwa orang Ahmadiyah mau mengalah dan terpaksa menyatakan diri sebagai agama baru. Apa reaksi Sufehmi jika mereka tetap solat lima waktu dengan menghadap ke Ka’bah di Makkah, membaca syahadat yang sama dengan orang Islam, membayar zakat, berpuasa di bulan Ramadhan?
January 12th, 2008 02:54
Sangat sepakat dengan solusi dari Pak Sufehmi. Hal itu sebenarnya adalah sebuah kenyataan bahwa ahmadiah sendiri telah membajak nama Islam.
What a shame mereka musti membawa-bawa nama islam.
Dala dunia akademis saja sudah ada aturan masalah plagiarism, apatah lagi kalau itu menyangkut agama yang berasal dari tuhan.
January 12th, 2008 07:39
@otong cat — pertanyaan yang saya ajukan kepada Sufehmi saya ajukan juga kepada otong cat: Katakanlah bahwa orang Ahmadiyah mau mengalah dan terpaksa menyatakan diri sebagai agama baru. Apa reaksi otong cat jika mereka tetap solat lima waktu dengan menghadap ke Ka’bah di Makkah, membaca syahadat yang sama dengan orang Islam, membayar zakat, berpuasa di bulan Ramadhan?
January 12th, 2008 08:28
@sufehmi — rupanya bagi Sufehmi Islam adalah sejenis merek/brand, dan hanya dia yang berhak menggunakan merek itu. Mas, saya punya pertanyaan: “Kalau anda seorang sunni, apakah orang syi’ah itu masih Islam? Kalau anda seorang syi’ah, apakah orang sunni itu masih Islam?”
January 13th, 2008 07:26
Sunni dan Syiah mempercayai Nabi dan Rasul yg terakhir adalah Muhammad SAW sesui Alquran sedangkan Ahmadiyah mempercayai Ada Nabi setelah Muhammad SAW. konsekwensinya kalau mempercayai ada Nabi setelah Nabi Muhammad SAW berarti ada ajaran Agama Baru yg dibawa oleh Nabi tersebut diluar Islam. Berarti logis jika itu disebut Agama Baru.
January 13th, 2008 12:46
@my — harap diketahui bahwa di luar sana banyak orang yang mempertanyakan apakah orang syi’ah itu layak disebut Muslim. Anda tinggal google aja sedikit, maka anda akan lihat bagaimana panasnya perdebatan di sekitar pertanyaan ini.
January 13th, 2008 14:40
@Free Will - rupanya bagi Sufehmi Islam adalah sejenis merek/brand, dan hanya dia yang berhak menggunakan merek itu
.
Sampeyan sepertinya tidak mengerti maksud dari analogi ya. Atau memang sengaja niatnya memang ingin asal menyerang saja.
.
Islam itu sudah ada definisi bakunya mas. Kalau tidak mengikuti definisi tsb, ya otomatis bukan Islam. Simple kan?
Gitu aja kok repot.
.
Sama seperti hal-hal lainnya - yang namanya mobil itu biasanya rodanya 4. Kalau rodanya 2, maka itu namanya bukan mobil, tapi motor.
Kalau ada produsen motor yang tetap ngotot mengaku produknya adalah mobil, maka siap-siap saja diberangus pemerintah karena menipu masyarakat.
.
Apa reaksi Sufehmi jika mereka tetap solat lima waktu dengan menghadap ke Ka’bah di Makkah, membaca syahadat yang sama dengan orang Islam, membayar zakat, berpuasa di bulan Ramadhan?
.
Hm, sama sekali tidak relevan. Mereka mau apa, bukan urusan saya.
Yang penting asal mereka jangan menipu orang lain / umat Islam saja.
.
harap diketahui bahwa di luar sana banyak orang yang mempertanyakan apakah orang syi’ah itu layak disebut Muslim.
.
Karena ada orang-orang Syiah yang mengutak-atik pokok-pokok akidah Islam, dengan berbagai komentar seperti “Jibril salah menurunkan wahyu, harusnya ke Ali malah ke Muhammad”, menuhankan para ulama & imamnya, mengaku punya kitab suci sendir, dst
.
Tapi saya perhatikan, sepertinya pada kepemimpinan Mahmudinejad kali ini, pemikiran2 takhayul & khayalan seperti ini mulai menghilang.
Dan usaha-usaha rekonsiliasi Sunni - Syiah makin banyak dilakukan.
.
Mudah-mudahan bisa segera menjadi kenyataan, amin.
January 13th, 2008 14:56
@Iranaeus - I’m very, very sorry - I’ve tried looking everywhere; even on Google/Yahoo/MSN cache, but it seems that your comments are gone for good
.
That’s a great shame really. I quite enjoyed your comments myself too.
.
Again my apologies. Hopefully that won’t happen again in this blog.
.
Thank you.
January 13th, 2008 18:30
@sufehmi — Apa reaksi Sufehmi jika mereka tetap solat lima waktu dengan menghadap ke Ka’bah di Makkah, membaca syahadat yang sama dengan orang Islam, membayar zakat, berpuasa di bulan Ramadhan?
.
Hm, sama sekali tidak relevan. Mereka mau apa, bukan urusan saya. Yang penting asal mereka jangan menipu orang lain / umat Islam saja.
—–> Uffff, gak relevan? Kalau orang baca dua kalimah syahadat seperti yang anda baca, solat seperti yang anda lakukan, puasa di bulan ramadhan seperti yang anda lakukan, bayar zakat seperti yang anda lakukan … still you want to deny their affiliation to Islam? Hati-hati ah Mas — kecuali anda menganggap diri anda ma’sum/tidak mungkin salah.
January 13th, 2008 18:47
@sufehmi -
.
Sampeyan sepertinya tidak mengerti maksud dari analogi ya. Atau memang sengaja niatnya memang ingin asal menyerang saja.
.
Islam itu sudah ada definisi bakunya mas. Kalau tidak mengikuti definisi tsb, ya otomatis bukan Islam. Simple kan?
Gitu aja kok repot.
.
—> Mas, bagi saya analogi itu merupakan upaya linguistik seseorang untuk menjelaskan suatu konsep yang tidak mudah. Karena somewhere in your blog I got an impression that you claimed to be an “intelektual,” maka saya menganggap analogi anda sudah dipikirkan matang-matang dan bahwa analogi “merek” itu menggambarkan sikap anda yang sudah confirmed. Kalau menurut anda analogi itu apa Mas?
.
Lantas yang bikin definisi Islam yang baku itu siapa Mas? Kalau tidak keberatan, tolong dong disampaikan pada saya definisi bakunya itu seperti apa. Saya juga jadi ingin bertanya, apakah definisi yang baku itu ada kemungkinan mengandung kesalahan?
.
January 13th, 2008 19:05
@sufehmi -
.
Rupanya bagi kamu halal ya orang Ahmadiyah di serang, dibakar dan dibunuh?
.
Memang susah berargumentasi dengan orang bodoh / licik. Kata-kata saya ditafsirkan seenak jidatnya saja.
.
—>Laah ini gimana? Sufehmi, anda mengutip pepatah “kalau bermain api, siap-siap saja terbakar,” itu kan artinya kita harus siap-siap menghadapi konsekuensi dari tindakan kita. Dalam konteks Ahmadiyah, konsekuensi itu adalah diserang, dibakar dan dibunuh. Cara anda merespons ke Firdaus mencerminkan sikap anda yang tidak perduli terhadap jenis konsekuensi apapun yang dialami orang Ahmadiyah. Dan anda bilang kata-kata anda ditafsirkan seenak jidat. Wah … wah … wah.
.
By the way, please note that I am not an Ahmadi myself. I don’t subscribe to their claim of the status of Mirza Ghulam Ahmad. I just sympathize with them. How will you feel if you - YOURSELF - are persecuted because your belief is different from the majority of the people?
.
Astaghfirullah al azhim. Na’udzu billahi min dzalik.
.
January 14th, 2008 12:25
saya rasa ini temat berargumentasi yang baik, dan berharap jangan mencaci pihak lain. saling berargumentasi dengan berlandaskan bukti2 dan dalil2 yang ada malah lebih baik debatnya.
January 14th, 2008 14:55
Mas FreeWill
Saya tidak yakin golongan ahmadiah itu bersyahadat seperti orang Islam.
Sholat, Puasa, haji, dsb itu mempunyai syarat dan rukun yang musti dipenuhi.
Salah satu syaratnya adalah muslim.
Saya sepakat juga dengan pak Sufehmi bahwa janganlah golongan ahmadiah itu membodohi umat Islam dengan mengaku bahwa mereka adalah Islam.
mas freewill,
dalam sejarah ada musailamah alkazzab yang diperangi oleh Abu Bakar, Umar dan semua sahabat. Apakah sebaiknya juga bersimpati kepada musailamah alkazzab..? mohon maaf tidak bermaksud menyinggung kok. sekali damai ah
Kalau ahmadiah masih shalat, puasa, haji dsb.. tuntunannya dari mana? legitimasi ibadahnya dari mana?
mas freewill, kalau saya boleh bertanya,
apa reaksi mas freewill kalau ada orang mengaku Islam tetapi juga mempercayai dewa syiwa, wishnu, percaya budha, bahkan membenarkan ketuhanan yang lain-lain?
Bagi saya pribadi, agama itu mempunyai satu konsep yang diatur oleh yang menurunkan agamma itu kepada kita. segala sesuatu itu mempunyai aturan, syarat, dan hal-hal lain yang membuat konsep layak untuk dipercaya dan dipegang.
Dalam dunia akademis, kita tidak boleh menulis dengan bahasa elu gue bukan? peace ah…!
January 14th, 2008 19:28
@Free Will - itu kan artinya kita harus siap-siap menghadapi konsekuensi dari tindakan kita
.
Ya, dan kalau konsekuensi dari bermain api adalah anda akan terbakar, dan itu adalah fakta, kenapa juga Anda masih terus berusaha menyalahkan saya ?
.
Saya bukan Ahmadi, tapi saya sudah pernah berada pada posisi minoritas. Saya sudah pernah di harass, seperti juga istri saya. Kebetulan kami tinggal di lingkungan non-muslim (Inggris) pasca 9/11, jadi kami sudah mengalami.
.
Dan disitu saya jadi bisa memahami pepatah minang, “dimana bumi dipijak, disitu langit dijunjung”.
Bagi yang minoritas, mbok ya tahu diri. Jangan malah AROGAN. Fokus ke hidup damai dengan para tetangganya.
Jangan malah mengibas-ngibaskan api ke rumah-rumah tetangganya. Dan lalu heran ketika para tetangganya marah kepada mereka.
.
Note, saya tidak menuduh para Ahmadi arogan, hanya sebagian saja. Dan beberapa simpatisannya, yang sepertinya keliru memahami inti persoalannya.
January 14th, 2008 19:42
@Free Will - jadi kalau anda suruh saya **membayangkan**, di PERSECUTE … well, saya sudah MENGALAMI, ok ?
People even died at those times. Padahal kami tidak mencari gara-gara.
.
Dan itu tidak membuat saya menjadi terhalusinasi; walaupun si pengeksekusi memang keliru, namun memang ada juga kesalahan dari pihak kita. And I’m still working to fix it.
Jangan cuma malah membabi buta menyalahkan orang lain, sementara gajah kesalahan di pelupuk mata tidak nampak.
January 15th, 2008 14:07
Kok jadi seru.. tapi heran juga ya, kenapa akhir-akhir ini kalau ada pihak yang mengacak-acak agama (khususnya ISLAM), trus banyak banget orang yang bawa-bawa HAM lah, Pluralisme lah, kebebasan beragama lah…
Tapi apakah kebebasan beragama sama artinya dengan kebebasan mengacak-acak aturan agama ?
January 15th, 2008 18:22
silakan kalo anda mau panggil saya ‘tuhan’, setan atau jin.
Tapi halal buat saya menumpahkan darah orang ahmadiyah selama mereka masih mengotori Islam. ahmadiyah is not Islam. nuff said.
Ed - harap dapat berdiskusi dengan santun. terimakasih
January 15th, 2008 19:14
Saya setuju kalau Ahmadiyah bukan Islam .
January 15th, 2008 21:44
Dear Allah SWT,
Please forgives us all for our bad words, our slanders, and our evil intentions. If severe warnings should be given, please give us the clear ones, to seperate justs and liars, so clear even a half-wit person could notice.
Ameen,
Irenaeus Ahmad
Essense of Islam
http://www.alislam.org/books/essence1/Essence-1.pdf
http://www.alislam.org/books/essence2/Essence-2.pdf
http://www.alislam.org/books/essence3/essence-3.pdf
http://www.alislam.org/library/books/Essence-4.pdf
http://www.alislam.org/library/books/Essence-5.pdf
January 15th, 2008 22:01
@my — anda berkata “Saya setuju kalau Ahmadiyah bukan Islam.”
.
Pertanyaan saya: “Anda setuju dengan pendapat siapa? Ataukah ini pendapat anda sendiri?”
.
Terlepas dari pendapat siapapun itu, pertanyaan saya adalah: “Adakah kemungkinan bahwa pendapat tersebut mengandung kesalahan?”
.
January 15th, 2008 22:19
@sufehmi — Kalau anda pernah dipersekusi saya yakin anda pernah merasakan bagaimana sakitnya sebuah persekusi. Dalam konteks ini saya kira wajar saja kalau saya berharap bahwa anda akan mempunyai simpati yang tidak bersyarat terhadap kaum Ahmadi. Setidaknya anda akan berdiri di depan untuk menyetop tindakan kekerasan yang dilancarkan oleh orang-orang yang sudah merasa panas betul karena ulah para Ahmadi. Mungkin anda harus mendorong para ikhwan untuk menempuh jalur hukum untuk mencapai penyelesaian kasus ini.
.
January 16th, 2008 13:17
AlhamdulilLah, setidaknya kita selaku ummat Islam di Indonesia beroleh fatwa MUI yang telah sesuai dengan syari’at Alloh Ta’ala, walaupun banyak muslim di-seantero Indonesia membencinya, siapapun dia !
Juga demikian hal-nya tulisan mas Sufehmi ini, saya pun belum kenal beliau ini, tapi tulisan ini sudah lurus, Insya Alloh. Semoga Alloh Ta’ala kuatkan iman, Islam dan ihsan kita dalam rangka menggapai pahala 100 syahid, yakni membela syari’at ini tatkala banyak pelecehan As-Sunnah !
Polemik tetap ada, jadi jgn heran. Siapapun yang mengaku muslim pasti akan mengalami keguncangan aqidah-nya, ketika ia memberanikan diri untuk mempelajari agamanya lebih dalam. Tidak ada hal yang pasti, kecuali apa yang sudah diucapkan oleh Muhammad bin AbdulLoh Shollallohu ‘Alayhi wa Sallam !
Sayangnya, quddarulLohu, bukanlah hal mudah untuk mengetahui yang benar dari yang salah, walaupun sudah terang hal-nya. Maka bacalah kitab kecil “Aqidah Salaf Ashhabul Hadits”, maka disana akan kita ketahui bahwa penentang As-Sunnah pun sudah ada di jaman itu ! Bahkan bagaimana sikap para ‘alim-ulama pada saat itu …. bacalah supaya kita tahu bagaimana seharusnya muslimin -yang hendak menggapai 100 syahid- mengetahui sikap ulama terhadap ahlul bid’ah (baca:bukan kafir)!
Adapun bantahan setelah pendapatku ini, tidak menjadikan diriku ma’shum, tapi juga tidak menjadikan kitab tsb salah total ! Tapi hanya Alloh Ta’ala yang Maha Adil, yang akan menjadi hakim diantara kita di hari akhir !
WalLohu a’lam.
January 16th, 2008 14:46
Sepakat dengan mas harry… masalahnya hanya pada mau tidaknya si JAI ini mengakui bahwa dengan mereka menyatakan Mirza ghulam Ahmad sebagai nabi, mereka sudah merupakan agama yang sepenuhnya berbeda dengan islam.
Saya pikir, masalah ini telah selesai dan tidak perlu ada gontok-gontokan lagi di negeri kita, tetapi -sekali lagi- dengan satu syarat, mereka nggak ngaku-ngaku islam karena telah extremely different in aqidah.
January 16th, 2008 19:26
@free Will - Terlepas dari pendapat siapapun itu, pertanyaan saya adalah: “Adakah kemungkinan bahwa pendapat tersebut mengandung kesalahan?”
Pendapat saya tentunya dan tdk mungkin salah
. Ahmadiyah mempercayai Ada Nabi setelah Muhammad SAW. konsekwensinya kalau mempercayai ada Nabi setelah Nabi Muhammad SAW berarti ada ajaran Agama Baru yg dibawa oleh Nabi tersebut diluar Islam. Berarti logis jika itu disebut Agama Baru dan bukan Islam.
January 16th, 2008 22:46
@free will
dan pastinya jangan ikut2an ibadah cara Islam, wong udah mengakui bahwa mirza itu nabi. Jika membentuk agama baru tapi menggunakan tata cara ibadah islam itu namanya sinkritisme.
January 18th, 2008 15:06
Masa iya sih bila seorang nabi muncul lainnya maka dia harus membawa agama baru? Lalu kenapa nabi-nabi setelah Nabi Musa as. tidak mendirikan agama baru tapi mengikuti agama Nabi Musa as., agama Yahudi?
Jadi sejarah agama–yang diakui Al Quran–memang menunjukkan memang Nabi itu ada 2 jenis, yang membawa Syariat dan nabi umati yang mengikuti syariat itu, sampai muncul nabi dengan syariat yang berbeda lagi.
Perihal Nabi Muhamad saw., berhubung syariatnya sudah sempurna, yah memang tidak akan muncul nabi-nabi syariati baru. Tetapi kemunculan nabi-nabi umati dimungkinkan.
Wassalam,
Irenaeus Ahmad
January 18th, 2008 16:18
@Irenaus Ahmad : Perihal Nabi Muhamad saw., berhubung syariatnya sudah sempurna, yah memang tidak akan muncul nabi-nabi syariati baru. Tetapi kemunculan nabi-nabi umati dimungkinkan.
Kalau memang benar seperti itu, seharusnya ada keterangan dalam Al-Quran yang diturunkan kepada Rasulullah SAW bahwa akan ada Nabi baru yang muncul. The fact is : tidak ada keterangan seperti itu dalam Al-Quran, malah yang ada keterangan bahwa Nabi Muhammad adalah Rasul dan Nabi terakhir.
Lain halnya jika Ahmadiyah mempunyai pegangan “kitab suci” yang lain alias bukan Al-Quran. So.. kalau memang kitab yang diakuinya itu bukan Al-Quran dan mengakui bahwa ada Nabi lagi setelah Muhammad SAW solusinya menurut saya memang sederhana, janganlah mengaku-ngaku Islam yang berakibat menyakiti perasaan umat Islam sesungguhnya. Wajar jika timbul reaksi dalam rangka mempertahankan akidah yang dinodai.
Wallahualam bishowab
January 18th, 2008 16:56
Keterangan tentang Ahmadiyah di Eramuslim.com :
http://www.eramuslim.com/ustadz/aqd/8112011736-islam-vs-ahmadiyah.htm
January 18th, 2008 23:29
Setuju Mas
Salut atas kecerdasan Anda dalam beragama.
Dalam beragama kita memang harus cerdas, agar jangan menjadi umat yang “aneh-aneh”.
January 19th, 2008 03:54
@my — walaupun anda membubuhkan sebuah emoticon dalam kalimat anda, tetapi anda tetap mengatakan bahwa pendapat anda tidak mungkin salah.
.
Wah, mas … susah nih berdiskusi dengan anda yang mengaggap diri “tidak mungkin salah.”
.
Sepengetahuan saya, dalam ajaran Islam yang tidak mungkin salah atau yang terpelihara dari berbuat salah hanya Baginda Nabi Muhammad SAW.
.
January 19th, 2008 10:37
@Alif: Kalau memang benar seperti itu, seharusnya ada keterangan dalam Al-Quran yang diturunkan kepada Rasulullah SAW bahwa akan ada Nabi baru yang muncul. The fact is : tidak ada keterangan seperti itu dalam Al-Quran, malah yang ada keterangan bahwa Nabi Muhammad adalah Rasul dan Nabi terakhir. Siapa bilang di Al Qur’an tidak ada keterangannya. Ahmadiyah sudah musnah 100 tahun yang lalu kalau tidak bisa meyakinkan para orang yang memutuskan masuk kedalamnya bahwa tidak ada dalil aqli dan naqli atas hal itu. Sekali lagi itu adalah masalah perbedaan penafsiran. Di link di bawah ini Anda bisa lihat debat argumen yang intelektual tentang Khataman Nabiyyin. Silahkan Anda baca di pdf ini http://www.alislam.org/holyprophet/Khatam_english.pdf Wassalam,
Irenaeus Ahmad
Ed - di artikel yang di link diatas, ada banyak kekeliruan fakta / argumen yang tidak jelas dasarnya / dst. Contohnya bisa dibaca disini.
Untuk informasi, trims.
January 19th, 2008 13:30
Free Will @ walaupun anda membubuhkan sebuah emoticon dalam kalimat anda, tetapi anda tetap mengatakan bahwa pendapat anda tidak mungkin salah.
.
Wah, mas … susah nih berdiskusi dengan anda yang mengaggap diri “tidak mungkin salah.”
.
Sepengetahuan saya, dalam ajaran Islam yang tidak mungkin salah atau yang terpelihara .
KALAU BEGITU PENDAPAT MAS FREEWILL APA YG BENAR TENTANG AHMADIYAH ??
January 19th, 2008 15:27
@my — sebetulnya saya tidak begitu perduli mengenai pendapat anda tentang Ahmadiyah. Keprihatinan saya adalah pada sikap anda yang memutlakkan pendapat anda bahwa itu “pasti benar/tidak mungkin salah.” Anda sudah memonopoli kebenaran.
.
Secara bercanda, bisa saja saya berkata bahwa jika ajaran Islam mengatakan bahwa satu-satunya manusia yang terpelihara dari berbuat salah (ma’shum) adalah Nabi SAW, dan anda mengatakan bahwa anda “pasti benar,” maka anda mengaku diri sebagai ma’shum (=anda seperti nabi). Lantas apa bedanya anda dengan kaum Ahmadi yang mangakui Mirza Ghulam Ahmad sebagai nabi.
.
Kembali ke topik, sikap seperti yang anda perlihatkan itu sangat berbahaya jika dimiliki oleh orang-orang yang sedang berkuasa, karena bisa mengarah pada persekusi dan, khususnya di Indonesia, bisa saja mengarah pada disintegrasi bangsa.
.
Saya sarankan anda mereformulasikan sikap anda menjadi, misalnya, “inilah sikap saya yang didukung oleh ayat ini, ini, ini, hadis itu, itu, itu, dan pendapat ulama x, y, z. rasanya sudah habis saya menggali referensi khazanah ilmu-ilmu keislaman. oleh karena itu this is my confirmed position.” Kemudian diakhiri dengan ucapan WALLAHU A’LAM.
.
Dengan formulasi seperti ini anda berada pada posisi yang sangat terbuka untuk berdialog. Saya kira anda tahu bahwa perkembangan ilmu pengetahuan merupakan hasil dari dialog yang terakumulasi sekian lama. Tanpa dialog, maka ilmu tidak akan berkembang. Lantas apa yang akan terjadi kalau ada orang yang “memonopoli” kebenaran?
.
Nah, walaupun ada orang yang mengatakan bahwa MUI tidak pernah memfatwakan persekusi terhadap kaum Ahmadi. Harap anda ketahui bahwa (mungkin) 99.5% kaum Muslimin di Indonesia itu mempunyai pengetahuan keislaman yang sangat “cetek” dan mereka cenderung untuk taklid saja kepada fatwa MUI. Repotnya, merekapun bisa saja “memelarkan” fatwa tersebut menjadi kewajiban bagi mereka untuk melakukan tindakan tertentu, yang dalam banyak kasus berwujud tindakan kekerasan.
.
MUI benar ketika mengatakan bahwa fatwa-fatwa mereka tidak menganjurkan kekerasan, tetapi nampaknya mereka tidak menyadari bahwa fatwa tersebut dapat mengarahkan orang untuk bertindak brutal. Anda kan nonton TV — sedihkah anda ketika melihat tayangan anak-anak kaum Ahmadi mendapat perlakuan keras dari orang-orang dewasa yang menyatroni masjid mereka di Parung?
.
January 19th, 2008 15:45
Assalamu’alaikum Wr.Wb.
Saya setuju bila sesuatu yang kita yakini telah diputarbalikkan faktanya oleh orang lain, tentu sudah kewajiban kita untuk berusaha meluruskannya.
Jadi saya setuju kalau pertentangan yang muncul hanya sampai perdebatan argumentasi dan penafsiran. Ahmadiyah adalah gerakan ide, maka bila tidak setuju dengan ide mereka, lawan dengan ide juga.
Yang saya tidak setuju adalah pengejewantahan sikap ketidaksetujuan itu ditunjukkan dengan aksi fisik yang merusak dan tuntutan pembubaran organisasinya. Ini hanya menunjukkan yah FUI, yah MUI, yah konco-konconya mentalnya both mental ‘Preman’ dan mental ‘Anak Kecil’.
Kalau MUI dkk merasa paling benar buktikan dengan mengadakan Debat Terbuka antara MUI vs. Ahmadiyah. Lakukan dengan mengundang sebanyak mungkin perwakilan elemen masyarakat. Itu baru sikap orang cerdas, terpelajar dan elegan.
Tentu dalam debat tersebut perlu ada Panitia Penyelenggara yang adil dan tegas, Subjek Perdebatan sudah ditetapkan sebelumnya, Konsekuensi hasil debat juga demikian, dan kalau mau diakhiri dengan Mubahallah kenapa engga?
Wassalam,
Irenaeus Ahmad
Our Teaching
http://www.alislam.org/library/books/OurTeaching.pdf
January 20th, 2008 05:49
@Iranaues - Ini hanya menunjukkan yah FUI, yah MUI, yah konco-konconya mentalnya both mental ‘Preman’ dan mental ‘Anak Kecil’.
padahal JAI yang mengelak berdiskusi dengan MUI. Mereka lebih memilih mempolitisir ini. 12 butir pernyataan JAI itu adalah hasil diskusi **bukan** dengan MUI.
.
Lucu amat membaca ini
Wonder why
.
Kalau MUI dkk merasa paling benar buktikan dengan mengadakan Debat Terbuka antara MUI vs. Ahmadiyah
.
MUI nya sih setahu saya mau saja, tapi pertanyaannya sekarang, Ahmadiyyah mau tidak ?
.
Kecewa tuh ketua MUI kemarin ini di koran, Ahmadiyyah lebih memilih mempolitisir daripada berdialog.
January 20th, 2008 05:54
Anda kan nonton TV — sedihkah anda ketika melihat tayangan anak-anak kaum Ahmadi mendapat perlakuan keras dari orang-orang dewasa yang menyatroni masjid mereka di Parung?
.
Pertanyaan senada juga bisa saya tanyakan kepada para orang tua anak-anak tersebut - “kok tega-teganya Anda membahayakan anak-anak Anda sendiri, nekat berkonflik dengan masyarakat ?”
.
Dari semua “diskusi” disini, belum ada (cherry picking?) pihak Ahmadi / simpatisannya yang mengungkapkan konteksnya — yaitu bahwa di banyak lokasi konflik, para Ahmadi sudah lama diperingatkan. Namun mereka terus tetap memprovokasi.
.
Walaupun masyarakat di daerah tertentu dikenal sabar (seperti di Jawa, Sunda, dst), namun tetap saja namanya kesabaran manusia ada batasnya.
January 20th, 2008 07:00
@sufehmi - Pertanyaan senada juga bisa saya tanyakan kepada para orang tua anak-anak tersebut - “kok tega-teganya Anda membahayakan anak-anak Anda sendiri, nekat berkonflik dengan masyarakat ?”
.
La ini yang dinamakan tirani. Kan sama saja itu dengan umat islam di barat. Udah tau “Islam itu teroris” kok mau hidup di negara kita sih? kok tega-teganya anaknya diajak masuk Islam. gitu kan? Yang majority selalu benar
.
@sufehmi - Dari semua “diskusi” disini, belum ada (cherry picking?) pihak Ahmadi / simpatisannya yang mengungkapkan konteksnya — yaitu bahwa di banyak lokasi konflik, para Ahmadi sudah lama diperingatkan. Namun mereka terus tetap memprovokasi.
.
Yang provokasi itu siapa? La wong Ahmadiyah sudah ada di Indonesia sejak 1925. Trus ada pendatang namanya FPI, FUI, GUI (notabene masih remaja di Indonesia) bilang ini itu. Klo dilihat dari sini saja tanpa melihat substansi masalah kan kliatan siapa memprovokasi siapa. Dan klo mau lihat lokasi konflik yang menyerang di Parung bukan orang sekitar, yang menyerang di Tasik malah pake topeng, yang menyerang di Cianjur jelas bukan tetangganya.
.
Jadi siapa memprovokasi siapa? klo Ahmadiyah memprovokasi kenapa dari 1925 tenang-tenang saja? Apa Ulama dulu kurang pintar? Ato karena sekarang mental PREMAN?
January 20th, 2008 20:06
@daus — saya kira karena banyak ulama kita yang berorientasi kepada kekuasaan. Dan mereka menerjemahkan kejayaan Islam sebagai memenangi kekuasaan politik. Nilai-nilai Islam, berdasarkan pengamatan subyektif saya, sudah direduksi menjadi slogan-slogan formalitas yang kasat mata.
.
January 21st, 2008 07:02
@daus - logika Anda ngawur total.
.
Kami jadi korban harassment di negara barat adalah karena kami berbeda (kami - pasif).
.
Bukan karena saya mencari gara-gara dengan membajak agama orang lain.
(seperti yang dilakukan oleh Ahmadiyah disini - aktif)
.
Yang majority selalu benar
.
Pernah dengar oppression by the minority ?
Tentu Anda akan setuju bahwa ini bahkan lebih mengenaskan daripada kebalikannya.
.
Dan ini sudah terjadi berkali-kali terhadap umat Islam di Indonesia.
.
Dengan bantuan antara lagi dari media massa, seringkali umat Islam yang diserang, namun justru umat Islam yang berada pada posisi yang salah.
.
Pernyataan Anda soal zaman dulu menarik. Tapi sangat sulit untuk mengetahui & memverifikasi konteks pada tahun 1925.
Pintar sekali Anda memilih setting tsb. Saya jelas tidak punya cukup waktu untuk untuk memverifikasi statement Anda tsb secara komprehensif.
Lebih mudah menuduh daripada membuktikan benar/salahnya tuduhan tsb.
.
Anyway, dengan waktu yang terbatas ini, saya tetap berhasil menemukan fakta bahwa Ahmadi sudah “diproses” sejak 1903. (hasil search “ahmadiyyah 1925“)
.
Dan jika kembali ke awal fatwa MUI; fatwa tersebut dirilis pada tahun 1980 oleh Buya Hamka. Dan saya kira kita semua setuju bahwa beliau jelas bukan ulama preman.
.
Jadi siapa memprovokasi siapa?
.
Saya kira sekarang sudah jelas, siapa yang memprovokasi siapa.
January 21st, 2008 18:45
satu hal yang saya pikir ketika membaca postingan mas freewill tentang saya salah dan saya benar.
kalau salah benar sudah berkaitan dengan Islam, maka kembalikanlah kajian kepada sumber Islam itu sendiri, AlQuran dan Hadits Rasulullah SAW.
kutip:
adi siapa memprovokasi siapa?
……..
Saya kira sekarang sudah jelas, siapa yang memprovokasi siapa.
………
Inilah tragisnya kaum liberal, mereka selalu mengmukakan pendapat, tetapi ketika ada yang berpendapat begini, mereka beramai-ramai mengeroyok pendapat bersangkutan.
sekali lagi, kalau belum jelas JAI islam atau bukan, bisa ditanya juga, mirza dan tadzkirah mreka imani sebagai nabi dan kitabnya bukan?
saya pikir sudah banyak bukti sejarah, pendapat para ahli, alim ulama, dll terhadap hal ini.
Kebebasan berkendaraan bukan berarti harus mengebut di jalan raya, bukan pula lampu merah di persimpangan jalan mengekang laju kendaraan anda…. ini demi keamanan dan kenyamanan berkendara anda, mas.
kembali ke JAI… kalau ingin mengaku Islam, maka kembalilah ke AlQuran dan Hadits, kalau masih mengakui mirza sebagai nabi/rasul.. maka kembali, adakah legitimasi dari ALQuran dan Hadits Rasulullah saw.
Mungkin mas freewill dan mas daus bisa mencarikan dalil kerasulan (palsu) mirza di AlQuran dan Hadits…
January 21st, 2008 19:18
@sufehmi - Lucu amat membaca ini padahal JAI yang mengelak berdiskusi dengan MUI. Mereka lebih memilih mempolitisir ini. 12 butir pernyataan JAI itu adalah hasil diskusi **bukan** dengan MUI
JAS MERAH (Jangan sekali-kali merupakan sejarah) Bung!! Anda baru tahu JAI dan sejarahnya’kan baru belakangan ini. Sejak 1980 MUI mengeluarkan fatwa sesat dengan–katanya–mendasarkan pada 9 buku, JAI selalu meminta klarifikasi apa nama 9 buku itu, agar dari situ kita bisa mulai berdialog dan mencari kebenaran. Singkat cerita hasilnya: Tidak pernah
ada tanggapan.
.
Ketika Ma’ruf Amin (MUI) diajak diskusi dengan Zafrullah Pontoh (JAI) di Kupas Tuntas Trans7, bisanya cuman ngomong pokoknya-pokoknya, tanpa sedikitpun mengemukan argumentasi. Betul kata @daus, sikap mentang-mentang majority.
.
Soal provokasi. Kalaupun Ahmadiyah memprovokasi, itu adalah provokasi tabligh agar orang mau bergabung ke dalam Jemaatnya. Tapi sekali-sekali tidak pernah ada paksaan. Yah itu tadi, sebagai respon yang cerdas, terpelajar, dan elegan–dan Islami–adalah menanggapinya dengan dengan diskusi, dengan debat, dengan adu argumentasi. Setelah itu, biar masing-masing individu yang menyikapi mana yang benar, mana yang salah.
.
Bicara tentang mentalitas majority, secara psikologis, sikap agresif itu sebenarnya adalah sikap wajar dari para ulama yang tidak percaya diri bahwa bila dibiarkan umat Islam akan terbujuk pada ajaran Ahmadiyah. Tapi itu salah siapa? Tindakan Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme yang mengakar di masyarakat—dan bahkan dilakukan oleh para sebagian ulama sekarang—adalah bentuk dari kegagalan mereka membentuk, menjaga, dan meningkatkan Moralitas bangsa. Dan sekarang, mereka cari “musuh bersama” yang bernama “aliran sesat” untuk mengalihkan perhatian masyarakat umum dari kenyataan itu. So, who’s playing politics now, Sufehmi?
.
Bukannya mau fitnah, tapi pantas diselidiki sama KPK, apakah kekayaan ulama-ulama di MUI itu bertambah engga sekarang. I have reasonable theory, kalau mereka dibayar sama some organization in Arab Saudi untuk melakukan Propaganda Penghujatan Ahmadiyah. I suspect the same thing happens everywhere dimana Ahmadiyah dipersekusi.
Wassalam,
Irenaeus Ahmad
Ahmadis Do Believe in the Holy Prophet (saw) As Khataman Nabiyeen
http://www.alislam.org/library/links/khatam_ahmadi.html
January 21st, 2008 22:57
@Iranaeus Ahmad:
Anda pendukung ahmadiyah atau apapun atau penganut ahmadiyah? Kalau anda cuma simpatisan ahmadiyyah, cobain deh masuk ahmadiyyah jadi biar tahu segala sesuatu tentang ahmadiyyah.
Paling hanya 3 hal yang terjadi:
1. Menyadari kekeliruan ahmadiyyah, seperti yang pernah dialami oleh teman saya.
2. Turut serta menjadi manipulator seperti mereka.
3. Digunakan sebagai ‘alat pembenaran’ ajaran mereka.
January 22nd, 2008 09:49
@tazlucu:
Jawaban singkat: Saya seorang Ahmadi by choice. And I’m grateful to God for showing me my Imam Zaman.
.
Kebenaran Hakiki memang hanya milik Tuhan. Tapi karena kita hanya manusia biasa, kebenaran kita relatif terhadap kebenaran yang 1) kita akui dan 2) kebenaran yang diakui orang-orang disekitar kita (i.e. masyarakat umum, etc.). Idealnya keduanya sejalan. Tapi kalau tidak—-seperti yang terjadi sekarang, saya lebih memilih mengikuti kata hati dengan mengikuti kebenaran yang saya akui sendiri.
.
Tidak semua orang punya keberanian melakukan hal ini. Karena tidak semua orang mau dikucilkan, dihina, dilukai demi membela keyakinannya. Bagaimana dengan Anda?
.
Btw, bahasa yang Anda pakai menunjukkan bahwa Anda meyakini kebenaran yang Anda yakini adalah absolut. Sekarang Islam terpecah dalam puluhan harqah, yang masing-masing punya pandangan yang berbeda tentang Al-Qur’an & Hadist. Apa Anda benar-benar yakin kebenaran Islam yang Anda yakini absolutely benar? Better think again, brother.
.
.
Wassalam,
Irenaeus Ahmad
http://www.alislam.org/library/books/TheNeedForTheImam.pdf
January 22nd, 2008 19:13
@iraneaus ahmad:
…saya lebih memilih mengikuti kata hati dengan mengikuti kebenaran yang saya akui sendiri.
Walaupun tanpa mengikuti petunjuk dan tuntunan syari’at islam? Baiklah, terserah anda.
@iraneaus ahmad:
…..Tidak semua orang punya keberanian melakukan hal ini. Karena tidak semua orang mau dikucilkan, dihina, dilukai demi membela keyakinannya. Bagaimana dengan Anda?
Salah besar nih, banyak orang islam yang punya keberanian seperti ini. Mau contoh?
@iraneaus ahmad:
“Btw, bahasa yang Anda pakai menunjukkan bahwa Anda meyakini kebenaran yang Anda yakini adalah absolut. Sekarang Islam terpecah dalam puluhan harqah, yang masing-masing punya pandangan yang berbeda tentang Al-Qur’an & Hadist. Apa Anda benar-benar yakin kebenaran Islam yang Anda yakini absolutely benar? Better think again, brother.”
Pertama, kalimat anda di atas (Apa Anda benar-benar yakin kebenaran Islam yang Anda yakini absolutely benar) menegasikan/menganulir kalimat anda sebelumnya (…saya lebih memilih mengikuti kata hati dengan mengikuti kebenaran yang saya akui sendiri).
Apakah ini karena ada ‘glitch’ pada logika anda atau terburu-buru ingin ‘menyerang’ saya atau hal-hal lain, hanya tuhan yang tahu.
Kedua, puluhan harqah yang mempunyai pandangan tersendiri terhadap Al-Qur’an dan Al-Hadits, harqah manakah itu?
Ketiga, salah pengertian dalam menangkap maksud saya dalam kalimat: Menyadari kekeliruan ahmadiyyah, seperti yang pernah dialami oleh teman saya.
Yang ‘berkata’ seperti itu adalah teman saya sendiri, bukan saya.
January 23rd, 2008 09:52
@tazlucu
.
Sorry Taz, I don’t want to play semantics with you; pointless.
.
Change subject please.
.
Thanks.
.
.
Wassalam,
Irenaeus Ahmad
January 23rd, 2008 19:15
Mau bai’at masuk ke dalam Jemaat Ahmadiyah?
Ini poin-poin syarat baiat-nya…
http://ah.xxx.com
Ini detailsnya..
http://www.al.xxx
Ed - maaf website ini bukan sarana untuk promosi agama Anda, trims.
January 24th, 2008 08:28
Mau bai’at masuk ke dalam Jemaat Ahmadiyah?
Ogah…
Btw, nemu ini nih di wikipedia (http://en.wikipedia.org/wiki/Ahmadi)
Mirza Ghulam Ahmad was a person who claimed to be the Mujaddid (divine reformer) of the 14th Islamic century, the promised Messiah (“Second Coming of Christ”) and Mahdi, as well as the likeness of Krishna, and the readvent of Muhammad and the likeness of other Islamic prophets.
PS: bukan saya yang nulis lho, jadi jangan komplain ke saya..cuma saya bingung aja, kok bisa-bisanya ngaku-ngaku begitu ya…Mbingungi… kaya cerita silat..pendekar seribu nama..
Kalo dibilang “second coming of christ” kok dunia gak kiamat di abad ke 14 ya ? Kalau dibilang Mahdi, emang dia dibaiat di depan Ka’bah ? Mirip klaimnya Juhayman al-Utaybi aja waktu tahun 1979…
January 24th, 2008 10:57
[...] dirtyDogStink [by Tod Hilton] wrote an interesting post today on Comment on Hidup damai bersama Ahmadiyyah by CantingHere’s a quick excerptOgah… Btw, nemu ini nih di wikipedia (http://en.wikipedia.org/wiki/Ahmadi) Mirza Ghulam Ahmad was a person who claimed to be the Mujaddid… [...]
January 26th, 2008 13:10
@sufehmi
Anda benar2 kacau. Argumen anda bisa menyesatkan orang lain. Dan saya mengambil kesimpulan bahwa anda adalah pengikut ataupun pembesar aliran Ahmadi yang sesat itu.
Sudah jelas tidak akan pernah ada lagi Rasul ataupun Nabi setelah MUHAMMAD SAW, Nabi Muhammad SAW adalah nabi terakhir di dunia ini.
Dan jika Ahmadi sudah beda pendapatnya seperti itu sudah jelas Ahmadi adalah ajaran sesat (setan) yang ingin menyesatkan Islam.
Saya berharap sufehmi bisa menghapus Artikle ini. Saya sudah tahu anda sudah lama sebagai blogger dan webmaster. Jadi jangan sampai tercoreng karena anda membuat sebuah argumen yang ingin mengajak orang lain untuk mempercayai aliran ahmadi.
Saya %100 menganggap aliran Ahmadi adalah aliran sesat.
January 27th, 2008 04:22
.
Jika Mas Harry Sufehmi (dan anda-anda yang menganggap bahwa Ahmadiyah itu sesat) ditakdirkan lahir sebagai orang Ahmadi, sumpah, saya akan mengerahkan massa buat mengusir dan membakar rumahnya. [Apakah anda akan lapang dada menerimanya? 100% saya yakin tidak! Maka, klaim kebenaran tidak mutlak dimiliki mayoritas]
.
Oke, tarohlah Ahmadiyah sesat. Namun apa dengan begitu ada legitimasi untuk melakukan tindakan represif dan anarkis? Bukankah Al-Qur’an menyuruh kita membalas “keburukan” dengan kebaikan?
.
Sesat itu label moral, Mas. Jika beragama tapi doyan main gebuk, main pukul, main hina, main maki, main bakar, main keroyok, terlebih terhadap kaum minoritas, apakah pantas kita disebut ber-agama?
.
Biarlah Allah yang menghukum mereka2 yang memang terlihat menyimpang dari mainstream Islam, yang penting, bisakah kita kompak dan bersatu padu mengeliminir masalah-masalah sosial yang menumpuk di depan mata. Bersatu padu dalam kebaikan adalah hal yang mendesak dalam Al-Qur’an.
.
Subyektivitas bahwa satu kaum aliran itu sesat atau tidak adalah suatu hal yang sah-sah saja. Namun eksesnya kebanyakan negatif.
.
Jika Anda memang merasa paling benar, harusnya tidak takut dengan pengaruh kontemporer Ahmadiyah. Anda sendiri yang harus membentengi diri dan keluarga; sanggup tidak untuk bertahan dari “pemikiran” Ahmadiyah. Jika anda berani dan yakin 1000% benar, katakanlah dengan lantang, “Datangkan 1000 Mirza Ghulam Ahmad! Kami tetap berpegang teguh terhadap ajaran Rasulullah.SAW! Kami siap bertarung di arena sosial!”
.
Berani tidak Anda berlomba-lomba berbuat kebaikan, menebar percik-percik kedamaian di tengah-tengah kompetisi amal di antara berbagai aliran Islam?
.
Inklusif, itulah ajaran pokok Islam. Setiap orang punya background kehidupannya masing-masing. Aspek sosiologis jg berperan dalam tumbuh-kembang dan melekatnya paradigma seseorang dalam meyakini suatu kebenaran.
.
Silakan renungkan sajalah. Masih banyak yang mesti bangsa ini urusi ketimbang mengurusi perbedaan keyakinan.
.
Salam inklusif!
January 27th, 2008 14:12
@Aris - Jika Mas Harry Sufehmi (dan anda-anda yang menganggap bahwa Ahmadiyah itu sesat) ditakdirkan lahir sebagai orang Ahmadi, sumpah, saya akan mengerahkan massa buat mengusir dan membakar rumahnya.
.
Tidak usah repot-repot mas, karena saya sudah mengalami hal semacam itu ketika saya berada di Inggris.
.
Disitu saya jadi belajar bahwa toleransi itu adalah proses 2 arah. It’s not a one-way street.
.
Coba dipikirkan, dan bukannya cuma sekedar emosional seperti komentar sampeyan ini.
.
Jika beragama tapi doyan main gebuk, main pukul, main hina, main maki, main bakar, main keroyok, terlebih terhadap kaum minoritas, apakah pantas kita disebut ber-agama?
.
Yang anarkis ya berarti anggota kelompok anarkis, bukan umat beragama.
.
Sepertinya Anda juga sama dengan beberapa orang lainnya, kesulitan membedakan antara ***ajaran agama*** dengan ***kelakuan penganut***nya.
.
Berani tidak Anda berlomba-lomba berbuat kebaikan, menebar percik-percik kedamaian di tengah-tengah kompetisi amal di antara berbagai aliran Islam?
.
Anda baca judul posting ini atau tidak ?
.
Itu yang sedang saya coba lakukan. Namun sebagai balasannya, saya justru diserang dari segala penjuru oleh berbagai pihak.
.
But I shall continue.
January 28th, 2008 20:38
“Disitu saya jadi belajar bahwa toleransi itu adalah proses 2 arah. It’s not a one-way street.” [Andai anda menjelaskan lebih rinci maksud "proses 2 arah" yang anda maksud]
.
“Coba dipikirkan, dan bukannya cuma sekedar emosional seperti komentar sampeyan ini.
**Jika beragama tapi doyan main gebuk, main pukul, main hina, main maki, main bakar, main keroyok, terlebih terhadap kaum minoritas, apakah pantas kita disebut ber-agama?**
[emosional? Yang seperti itu anda sebut emosional? Lantas bagaimana dengan comment2 lain yang jauh lebih emosional dan membikin darah naik ke kepala?]
.
Saya baca judul postingan Anda, Mas! Persoalannya begini, tarohlah Ahmadiyah sudah berhasil (baca:terpaksa) membentuk agama baru, apa jaminannya bahwa mereka akan mendapat keselamatan dan keamanan dalam beribadah, mengingat ritual dan Tuhan mereka sama dengan kita? Bukankah itu justru bakal menambah aksi anarkis massa yang parokial?
.
But, whatever u say, i shall continue!
January 28th, 2008 22:24
saya setuju dengan pendapat mas aris susanto.
Tapi jika Agama kita (ISLAM) sudah duluan dierangi dan ada yang berusaha untuk merusak moral2 dengan berbagai tindakan. Maka kia wajib memeranginya.
Sekali lagi saya bilang : TIDAK ADA ALIRAN AHMADIYYAH itu. ITU ALIRAN SESAT.
Dan saya harap sudah cukup sampai disini saja tentang artikle ini.
Saya harap hary sufehmi bisa dimengerti. Mudah2an anda mau untuk mengahapus artikle ini agar web ini tetap seperti biasanya dan ramai pengunjungnya
January 29th, 2008 12:54
Persoalannya artikel ini menyiratkan adanya kondisi bahwa “hidup damai” itu bisa diraih jika Ahmadiyah mengaku sebagai bukan Islam alias “memurtadkan diri.” Sementara Ahmadiyah jelas-jelas tidak mau dikategorikan sebagai non-Muslim — lha wong dia melaksanakan semua rukun Islam yang lima dan meyakini rukun iman yang enam.
.
Kalau menurut saya sebaiknya kita biarkan sajalah Ahmadiyah itu seperti apa adanya sejak ia hadir di Indonesia hampir seabad yang lalu. MUI toh sudah menjalankan kewajibannya dengan mengeluarkan fatwa, Pak Hasyim dan yang lain-lain juga sudah. Tugas orang “yang tahu” itu kan cuma menyampaikan — dan tugas itu sudah tertunaikan dengan baik. Tinggal kita bentengi keluarga kita (dan diri kita sendiri tentunya) dari hal-hal yang kita anggap sesat.
.
Problem hidup sehari-hari yang dihadapi ummat Islam dan bangsa kita pada umumnya sudah sangat sulit. Korupsi, kemiskinan, kebodohan, penyakit, dsb memerlukan tndakan perbaikan yang segera. Jangan pula tambah2 persoalan yang bikin hidup tambah rumit, sumpek, dan tidak produktif.
.
Saya kira sikap seperti ini lebih relevan untuk kehidupan kita di Indonesia daripada repot-repot ngurusi Ahmadiyah.
.
January 30th, 2008 16:27
@free will
Lha, anda ngapain sibuk ikutan posting di sini? Sana kerja berantas korupsi dsb.
Klo masih ikutan posting, berarti hanya “walk the walk” saja, tidak produktif seperti kata anda.
January 30th, 2008 17:44
mas freewill, kalau toh mereka mengamalkan rukun2 Islam dan Iman (menurut mas freewill), ada yang cacat masalah pengakuan mirza ghulam sebagai nabi/rasul.
Di situ saja sudah ada cacatnya, belum lagi masalah kitab tdzkirah mereka, dll.
saya ulangi lagi pernyataan saya di komentar 51, mungkin frewill bisa mencarikan legitimasi kenabian/kerasulan mirza ghulam di AlQuran atau AlHadits…
Dan mencarikan argumentasi yangmembantah nash2 AlQuran dan AlHadits yang menyatakan bahwa Rasulullah Muhammad SAW adalah nabi terakhir dan penutup para nabi..
Semoga bisa…
January 30th, 2008 18:14
@tazlucu — wah maaf mas kalau posting saya kurang jelas bagi anda. Yang saya maksud dengan “ngurusi” Ahmadiyah itu adalah menyalurkan sedemikian banyak sumberdaya bangsa untuk ngurusi Ahmadiyah — termasuk untuk melakukan tindakan2 persekusi terhadap kaum Ahmadi. Menurut saya hal ini sangat kontra-produktif bagi pembangunan kesejahtreraan bangsa Indonesia pada umumnya.
.
January 30th, 2008 20:38
@free will
Kalau begitu, saya akan ambil analogi:
Kita fokus membangun negeri ini, kita curahkan seluruh tenaga kita, jangan ada effort yang menyimpang dari pembangunan negeri ini. Jika hal yang demikian dilakukan maka kita tidak perlu repot-repot lagi mengurus pungli, suap-menyuap, bahkan sampai kepada KKN.
Benar begitu?
January 31st, 2008 06:22
@Free Will - Persoalannya artikel ini menyiratkan adanya kondisi bahwa “hidup damai” itu bisa diraih jika Ahmadiyah mengaku sebagai bukan Islam alias “memurtadkan diri.”
.
Persoalan sebenarnya adalah Anda masih juga tetap menganggap Ahmadiyyah Islam — padahal misalnya sampai sekarang JAI masih terus mengelak membuat pernyataan bahwa Nabi yang terakhir adalah Muhammad saw, dan berbagai masalah lainnya.
.
Tugas orang “yang tahu” itu kan cuma menyampaikan — dan tugas itu sudah tertunaikan dengan baik
.
Memang itu yang selama ini dilakukan oleh MUI & posting blog ini kan ?
.
Yang saya maksud dengan “ngurusi” Ahmadiyah itu adalah menyalurkan sedemikian banyak sumberdaya bangsa untuk ngurusi Ahmadiyah — termasuk untuk melakukan tindakan2 persekusi terhadap kaum Ahmadi.
.
Yang mempersekusi itu siapa mas ?
Kok masih terus kebingungan & rancu begitu.
.
Problem hidup sehari-hari yang dihadapi ummat Islam dan bangsa kita pada umumnya sudah sangat sulit. Korupsi, kemiskinan, kebodohan, penyakit, dsb memerlukan tndakan perbaikan yang segera. Jangan pula tambah2 persoalan yang bikin hidup tambah rumit, sumpek, dan tidak produktif.
.
Betul, sudah tahu ini negara banyak masalahnya, malah ditambah lagi dengan memprovokasi berupa membajak agama orang lain.
Seperti kurang kerjaan saja ?
.
Betul kata Anda, situasi ini memang sudah keterlaluan.
January 31st, 2008 07:00
@Aris - “Disitu saya jadi belajar bahwa toleransi itu adalah proses 2 arah. It’s not a one-way street.” [Andai anda menjelaskan lebih rinci maksud “proses 2 arah” yang anda maksud]

) dengan prinsip dasar kelompok Anda
.
Toleransi itu harus dari kedua belah pihak.
.
Tidak bisa cuma dari salah satunya saja. Hasilnya adalah akan ada satu pihak yang diinjak-injak haknya.
.
Yang terjadi di banyak daerah selama ini :
1. berbagai aliran sesat bertingkah
2. Masyarakat gelisah, tapi masih bisa ditenangkan tokoh-tokohnya. “Ayo kita sabar & toleransi”, begitu kira2 ajakan mereka
3. aliran sesat dihimbau untuk tidak provokatif
4. aliran sesat tetap bertingkah
5. Kesabaran masyarakat akhirnya habis (biasanya setelah beberapa ***tahun***). Terjadi ledakan tumpukan kemarahan.
.
Sialnya, kemudian biang keroknya berteriak “tolong, ada maling !!”
.
Dan datanglah berbagai pahlawan kesiangan.
Mereka kemudian sibuk menuduh masyarakat & langsung ditempeli berbagai macam label, seperti tidak inklusif, pelanggaran HAM, dst.
.
Kemana saja para pahlawan kesiangan ini ketika aliran sesat tersebut sibuk memprovokasi masyarakat ?
Ah, namanya juga pahlawan kesiangan
.
Tolong kalau melihat suatu masalah jangan cuma dari satu perspektif. Coba lihat dari berbagai sudut pandang juga.
.
Kalau sudah melakukan itu, baru Anda bisa memahami kenapa saya di komentar sebelumnya menyebutkan “kalau bermain api, siap-siap terbakar”.
.
Dan sebelum salah paham (lagi), saya tidak membenarkan tindakan anarkis tersebut. Saya hanya paham kenapa mereka sampai jadi melakukannya.
.
Bedakan antara “memahami” dengan “membenarkan”
.
emosional? Yang seperti itu anda sebut emosional? Lantas bagaimana dengan comment2 lain yang jauh lebih emosional dan membikin darah naik ke kepala?
.
*sigh* …. baca lagi komentar Anda yang pertama.
Dengan tenang ya, tanpa emosi.
.
Kelihatan tidak, kalau disitu Anda merancukan antara :
.
1. ajaran agama Islam, dengan
2. tindakan (yang mengaku) menganut agama Islam
.
?
.
Anda bersumpah akan mempersekusi saya jika saya adalah Ahmadi.
Kenapa musti bersumpah begitu ?
.
Padahal dalam Islam tidak mengajarkan demikian.
Anda merancukan ajaran Islam dengan tindakan (yang mengaku) sebagai pengikutnya.
.
Tolong baca lagi diskusi ini dengan tenang. Kalau emosional, tidak bisa ada manfaat yang bisa didapatkan. Hasilnya cuma pikiran yang menjadi tambah ruwet.
.
Persoalannya begini, tarohlah Ahmadiyah sudah berhasil (baca:terpaksa) membentuk agama baru, apa jaminannya bahwa mereka akan mendapat keselamatan dan keamanan dalam beribadah, mengingat ritual dan Tuhan mereka sama dengan kita?
.
Tidak ada yang bisa memberikan jaminan 100% (memangnya saya Tuhan ?).
.
Cuma kemungkinan / probabilitas yang jauh lebih besar, bahwa akan bisa (akhirnya) terwujud kedamaian antara umat Islam dengan umat Ahmadi — karena salah satu masalah yang paling signifikan telah terselesaikan.
.
Salam inklusif!
.
Semboyan yang menarik
.
Saya ada satu pertanyaan mas :
Misalnya Anda, dengan inklusifisme Anda, merangkul semua pihak, termasuk para preman.
.
Apakah Anda akan membiarkan para preman itu terus menteror orang, padahal Anda percaya pada solusi damai ?
.
Poin saya; inklusif itu dilakukan ***bukan*** dengan mengorbankan prinsip.
.
Pada contoh diatas, jika Anda membiarkan para preman itu terus merajalela & menganggap Anda telah inklusif (padahal preman2 tersebut jelas melanggar prinsip dasar Anda); maka ada suatu kekacauan yang mendasar disini.
Kelompok Anda jelas tidak bisa lagi dianggap sebagai kelompok inklusif karena telah terjadi kontradiksi(.wordpres.com
.
Begitu juga dengan Islam. Inklusifisme Islam didefinisikan dalam surat Al-Kafirun - lakum dinukum waliyadin.
Telah terbukti umat Islam bisa hidup dengan damai dengan berbagai umat lainnya, dan malah mengayomi mereka — selama tidak terjadi pelanggaran prinsip tersebut.
.
Islam itu inklusif. Pertanyaannya sekarang, apakah Anda memang telah inklusif, atau sebetulnya adalah bunglon ?
Bisa selalu berubah dengan mudah mengikuti situasi / kondisi / arah angin /dst, tidak memiliki prinsip / bisa melanggar prinsipnya sendiri.
.
Mudah-mudahan bisa menjadi bahan pemikiran untuk Anda.
Trims.
February 20th, 2008 15:38
buat mas free will..kayaknya anda ngototan dalam berargument..nie khan blognya mas sufehmi, dia nulis tentang ahmadiyah za terserah dia..klo emang gak setuju gagasan mas sefehmi tentang permasalahan ahmadiyah za silakan..
justru katane anda permasalahan bangsa banyak, yang perlu dipikirn, tapi ngapain anda tuh capek2 ngotot juga bahas masalah ahmadiyah disini..
daripada buang2 tenaga ngotot, mending kasih contoh yg laen gimana buat mikir bangsa kayak omongan mas itu sendiri..
April 10th, 2008 23:34
Nanti kita tanya Imam Mahdi A.S deh, siapa yg sebenernya bener..kalo yang bener sunni, ya udah orang2 non sunni pada masuk sunni, kalo yg bener syiah..ya udah pada masuk syiah yah..
Kalo yang bener Ahmadiyah? ya saya ngga tau imam mahdi versi ahmadiyah itu siapa, apakah dia Mirza Ghulam Ahmad, atau ada orang lain..tapi kalo itu Mirza Ghulam Ahmad, ya udah..berarti nasab imam mahdi nya beda sama versi sunni ama syiah. Ya udah gitu ajah okay!..yang penting UKHUWAH! dan ANTI KEKERASAN
Saya yakin koq mas harry cuman ngasih pandangan, ngga ada maksud lain - lain, mau jalanin syiah, sunni, ahmadiyah,kristen, katolik, scientology, taoisme, sampe ke zoroaster….yah monggo jalanin, cuman inget, pertanggung jawabannya ke sang khalik..silahkan siapin argumen.. Dan saya yakin, Allah SWT bukan tuhan yang menyeramkan, yang doyan gorang goreng manusia…sekarang manusia-nya dihadapkan pada pilihan, silahkan pelajarin..kalo yakin..ya ikutin, dan kita harus bertanggung jawab pada pilihan kita..gitu ajah! peace!
April 19th, 2008 22:41
[...] Bagi Pemerintah, segera buat kebijakan yang menjelaskan status Ahmadiyah. Jika mencontoh kepada Pakistan, Brunei dan Malaysia serta merujuk kepada Rabithah Alam Islami, maka Ahmadiyah dinyatakan sebagai sebuah agama. [Harry Sufehmi, Hidup Damai Bersama Ahmadiyah] [...]
April 20th, 2008 14:42
Saya sangat sepakat:
“Ahmadiyyah bukanlah agama Islam”
Dan justru kesesatan yang berbahaya karna membawa-bawa islam disalamnya”
April 20th, 2008 14:48
Hal-hal diatas = masalah agama dan sangat krusial
Sayang banyak yang berpendapat menggunakan akal saja, bukanya keilmiahan dalam beragama
Mohon maaf jika comment saya kurang berkenan buat saudara dan saudariku sekalian
April 25th, 2008 14:43
[...] http://harry.sufehmi.com/archives/2008-01-09-1576/ [...]
April 25th, 2008 15:29
Mas Harry, jujur saja, pemahaman saya tentang Islam ini masih kurang. Tapi perspektif anda menarik buat menambah pemahaman saya. Satu hal yang saya sayangkan, banyak orang yang keburu gelap mata dan main serang sembarangan, sehingga tanpa sadar justru merusak citra Islam sendiri..
Padahal kalau dialog bisa dijalankan, mungkin saja bisa berujung seperti di Pakistan. Hidup damai dalam perbedaan..
April 25th, 2008 16:19
Ahmadiah lebih baik mendeklarasikan sebagai agama baru ada baiknya juga. Berbeda dengan pakistan yang berbatasan dengan wilayah2 konflik dan secara historis diislamkan lewat pedang (invasi Mongol dan dinasti Mughal) sehingga membentuk karakter muslim yang ‘gampang panas’.
Disini menurut saya keberadaan mereka dengan klaim sebagai ‘Islam’ justru akan memperkeruh situasi di negeri ini. Dimana kebebasan beragama dalam hukum negri ini juga berarti kewajiban pemerintah dalam melindungi agama yang sudah baku, formal dan doktrin yang stabil dari usaha2 untuk merusak kestabilan agama tersebut (dalam hal ini Ahmadiah mengakui kenabian yang bertentangan dengan doktrin Islam yang sudah ada)
Pernyataan mereka sebagai agama Ahmadiyah akan memberi mereka kesempatan dan perlindungan lebih baik dari pemerintah atau bangsa ini yang secara historis cukup toleran pada berbagai penganut agama.
.
April 28th, 2008 13:58
Sedikit menanggapi komentar Mas Rane,
Saya rasa media massa seperti televisi sangat berperan menentukan opini mas, karena sebenarnya kekerasan yang timbul adalah puncak dari kekesalan masyarakat akibat diabaikannya peringatan-peringatan dan dialog-dialog jauh sebelum tindak kekerasan itu terjadi.
Tapi memang peringatan-peringatan halus, juga dialog yang diadakan masyarakat tidak terliput dan mungkin memang tidak menjual serta tidak menarik untuk diliput wartawan media massa.
Sehingga yang kita lihat dan simak dalam berita hanyalah tindakan kekerasannya saja. Sehingga penyimpangan yang dilakukan menjadi bias dan dilupakan karena masyarakat merasa kasihan dengan jamaah yang “teraniaya” di televisi. Sungguh disayangkan..
Salam,
Denny
April 30th, 2008 00:43
FPI’s claim of responsibility of murderer of Ahmadyiah members
http://youtube.com/watch?v=U7RLCXNdKF4
June 10th, 2008 19:37
stop pembajakan!! karena pembajakan adl kriminalitas. Trus trang memang agak beribet ttg kasus ahamdiyah ini. yang satu ngomong ini dan yang satu ngomong itu, parahnya semua ngaku bener and trus begitu mlulu.
klo gw m’coba make it simple, dr bbrp penelusuran gw ttg kasus ini (kayak detektif aja…:-) ) sebenernya mirip-mirip ama pembajakan. Ada dua produk dengan merek sama tapi isi dan pembuatnya berbeda! nah lho… Mana yang bener? so kita kudu objektif, meneliti dari a to z , dari sejarah ampe akar-akarnya juga, jadi puanjang banget kalo mo dijelasin disini. Buat lebih lengkapnya ga ada salahnya ngintip ke site gw
July 1st, 2008 04:27
Saya kok bingung, banyak dari anda-anda memuji Pakistan sebagai negara damai dan Toleran………
Indonesia dengan FPI-nya, MUI-nya, Gusgur-nya, Ahmadiyah-nya jauh lebih baik dari pakistan…. tolong di Ingat itu..
Tahukan anda seperti apa Pakistan itu….. setiap hari ada saja yang tewas karena konflik sekterian baik Syiah yang menyerang Suni waupun sebaliknya demikian juga Ahmadiyah yang menjadi bulan-2an pihak2 yang anti…..
apakah anda mau Indonesia menjadi seperti Pakistan….
November 18th, 2008 09:48
free will itu goblok mas
dalam islam syahadat itu yang utama, tapi kalo syahadat orang ahmadiyah beda berarti itu bukan bagian dari islam (coba dipahami apa makna dari syahadat itu )
November 18th, 2008 10:39
@fuad
sapa bilang syahadat orang Ahmadiyah beda. Klo gak tau jangan terlalu bodoh untuk memakan mentah ucapan para ustadz.