<?xml version="1.0" encoding="utf-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	>
<channel>
	<title>Comments on: Kapolda Jabar: Polisi yang korup sama saja dengan melacurkan diri</title>
	<atom:link href="http://harry.sufehmi.com/archives/2008-02-14-1591/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://harry.sufehmi.com/archives/2008-02-14-1591/</link>
	<description>life is a struggle &#038;&#038; information wants to be free</description>
	<pubDate>Sat, 22 Nov 2008 04:45:54 +0000</pubDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.6.1</generator>
		<item>
		<title>By: die</title>
		<link>http://harry.sufehmi.com/archives/2008-02-14-1591/#comment-156228</link>
		<dc:creator>die</dc:creator>
		<pubDate>Sat, 11 Oct 2008 00:23:40 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://harry.sufehmi.com/archives/2008-02-14-1591/#comment-156228</guid>
		<description>Buktikan atuh Pak Kapolda omongannya, anak buahnya tuh masih banyak bertingkah, gimana mau percaya kalau ngak ada buktinya, jangan hanya ngomong doang Bukti yang penting mah, turun atuh ke lapangan biar tau ulah anak buah tuh</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Buktikan atuh Pak Kapolda omongannya, anak buahnya tuh masih banyak bertingkah, gimana mau percaya kalau ngak ada buktinya, jangan hanya ngomong doang Bukti yang penting mah, turun atuh ke lapangan biar tau ulah anak buah tuh</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: pooja</title>
		<link>http://harry.sufehmi.com/archives/2008-02-14-1591/#comment-150732</link>
		<dc:creator>pooja</dc:creator>
		<pubDate>Sat, 30 Aug 2008 14:37:27 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://harry.sufehmi.com/archives/2008-02-14-1591/#comment-150732</guid>
		<description>wah.......boleh juga nih wawancara bapak kapolda.mudah-mudahan sukses program kerjanya ya.....saya mah cuma rakyat biasa bisanya cuma minta sama yang di atas mudah-mudahan mendapat pemimpin yang bijak adil terhadap rakyat kecil, karena sekecil apapun amanah (JABATAN ) pasti akan diminta tanggung jawab kelak di akhirat.
Hatur nuhun kanggo bapak KAPOLDA .........semoga program ini bisa diikuti oleh KAPOLDA-KAPOLDA yang lain</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>wah&#8230;&#8230;.boleh juga nih wawancara bapak kapolda.mudah-mudahan sukses program kerjanya ya&#8230;..saya mah cuma rakyat biasa bisanya cuma minta sama yang di atas mudah-mudahan mendapat pemimpin yang bijak adil terhadap rakyat kecil, karena sekecil apapun amanah (JABATAN ) pasti akan diminta tanggung jawab kelak di akhirat.<br />
Hatur nuhun kanggo bapak KAPOLDA &#8230;&#8230;&#8230;semoga program ini bisa diikuti oleh KAPOLDA-KAPOLDA yang lain</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Lili</title>
		<link>http://harry.sufehmi.com/archives/2008-02-14-1591/#comment-143942</link>
		<dc:creator>Lili</dc:creator>
		<pubDate>Thu, 24 Jul 2008 04:26:17 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://harry.sufehmi.com/archives/2008-02-14-1591/#comment-143942</guid>
		<description>Itu tadi soal korupsi, saya pikir sudah banyak kemajuan dengan adanya statement-statement yang cukup berani dari kapolda. yang sekarang perlu dilakukan adalah kontrol dari masyarakat terhadap kebijakan yang ditetapkan kapolda terhadap anggotanya sehingga apa yang dikatakan kapolda diatas dapat diwujudkan untuk kepentingan rakyat juga.

Nah, gimana soal kekerasan yang dilakukan oleh polisi-polisi yang menangkap misalnya para korban napza atau yang biasa kita kenal dengan narkoba? banyak sekali polisi yang melakukan kekerasan fisik, psikologi dan pelecehan seksual terhadap korban yang ternyata tidak terbukti bersalah. dari mulai prosedur penangkapannya pun sama sekali tidak memenuhi syarat apalagi memberikan hak-hak kepada tersangka untuk melakukan pembelaan ketika di tangkap. 

Dari data penelitian kami bersama 1079 orang korban napza atau narkoba yang pernah ketangkap polisi, 80% diantaranya mendapatkan kekerasan dan penyiksaan di dalam mobil polisi dan di kantor polisi. sebagian besar tujuannya adalah untuk memeras korban, artinya tidak hanya korban yang di peras tetapi keluarga korban juga. bangaimana mungkin tidak melibatkan korban lain, permintaan polisi untuk melepaskan tersangka saja minimal 5 juta bahkan sampai 30 juta. 

Bagaimanapun mereka adalah korban, mereka adalah manusia yang berhak mendapatkan perlakuan yang adil terlepas dari mereka pecandu atau bukan (diatur dalam UU no.39 Th 1999 Ttg Hak Asasi Manusia) dan negara berkewajiban memberikan pemulihan terhadap mereka seperti melalui rehabilitasi medis dan sosial (diatur dalam UU kesehatan). 

Mereka menjadi pecandu bukan semata-mata karena pilihan mereka. pecandu ada karena ada Bandar (dan bahkan aparat sendiri yang menjadi bandarnya), Bandar ini terus berkeliaran karena Negara tidak sanggup menahan laju peredaran napza atau narkoba di indonesia, jadi siapapun bisa jadi korbannya termasuk anak-anak kecil

Semoga Bapak Kapolda memiliki keprihatinan terhadap isu ini</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Itu tadi soal korupsi, saya pikir sudah banyak kemajuan dengan adanya statement-statement yang cukup berani dari kapolda. yang sekarang perlu dilakukan adalah kontrol dari masyarakat terhadap kebijakan yang ditetapkan kapolda terhadap anggotanya sehingga apa yang dikatakan kapolda diatas dapat diwujudkan untuk kepentingan rakyat juga.</p>
<p>Nah, gimana soal kekerasan yang dilakukan oleh polisi-polisi yang menangkap misalnya para korban napza atau yang biasa kita kenal dengan narkoba? banyak sekali polisi yang melakukan kekerasan fisik, psikologi dan pelecehan seksual terhadap korban yang ternyata tidak terbukti bersalah. dari mulai prosedur penangkapannya pun sama sekali tidak memenuhi syarat apalagi memberikan hak-hak kepada tersangka untuk melakukan pembelaan ketika di tangkap. </p>
<p>Dari data penelitian kami bersama 1079 orang korban napza atau narkoba yang pernah ketangkap polisi, 80% diantaranya mendapatkan kekerasan dan penyiksaan di dalam mobil polisi dan di kantor polisi. sebagian besar tujuannya adalah untuk memeras korban, artinya tidak hanya korban yang di peras tetapi keluarga korban juga. bangaimana mungkin tidak melibatkan korban lain, permintaan polisi untuk melepaskan tersangka saja minimal 5 juta bahkan sampai 30 juta. </p>
<p>Bagaimanapun mereka adalah korban, mereka adalah manusia yang berhak mendapatkan perlakuan yang adil terlepas dari mereka pecandu atau bukan (diatur dalam UU no.39 Th 1999 Ttg Hak Asasi Manusia) dan negara berkewajiban memberikan pemulihan terhadap mereka seperti melalui rehabilitasi medis dan sosial (diatur dalam UU kesehatan). </p>
<p>Mereka menjadi pecandu bukan semata-mata karena pilihan mereka. pecandu ada karena ada Bandar (dan bahkan aparat sendiri yang menjadi bandarnya), Bandar ini terus berkeliaran karena Negara tidak sanggup menahan laju peredaran napza atau narkoba di indonesia, jadi siapapun bisa jadi korbannya termasuk anak-anak kecil</p>
<p>Semoga Bapak Kapolda memiliki keprihatinan terhadap isu ini</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: yan herieyana</title>
		<link>http://harry.sufehmi.com/archives/2008-02-14-1591/#comment-143805</link>
		<dc:creator>yan herieyana</dc:creator>
		<pubDate>Wed, 23 Jul 2008 01:11:36 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://harry.sufehmi.com/archives/2008-02-14-1591/#comment-143805</guid>
		<description>polres subang masih melakukan razia kendaraan dijalur pantur pamanukan - pusakaratu, pada hari minggu tanggal 20 juli 2008</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>polres subang masih melakukan razia kendaraan dijalur pantur pamanukan - pusakaratu, pada hari minggu tanggal 20 juli 2008</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Duit Gratisan</title>
		<link>http://harry.sufehmi.com/archives/2008-02-14-1591/#comment-136077</link>
		<dc:creator>Duit Gratisan</dc:creator>
		<pubDate>Tue, 17 Jun 2008 07:08:24 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://harry.sufehmi.com/archives/2008-02-14-1591/#comment-136077</guid>
		<description>Wah kalau benar beliau bisa seperti omongannya sendiri berarti ada kemajuan nih kepolisian. Semoga tidak sebatas omongan</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Wah kalau benar beliau bisa seperti omongannya sendiri berarti ada kemajuan nih kepolisian. Semoga tidak sebatas omongan</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Edi Cikiray</title>
		<link>http://harry.sufehmi.com/archives/2008-02-14-1591/#comment-129947</link>
		<dc:creator>Edi Cikiray</dc:creator>
		<pubDate>Sat, 24 May 2008 12:14:15 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://harry.sufehmi.com/archives/2008-02-14-1591/#comment-129947</guid>
		<description>SELAMAT UNTUK BAPAK KAPOLDA YANG SATU INI, SAYA DOAKAN JADI KAPOLRI. DAN TETAP BISA MENEGAKKAN KEBENARAN JUGA TIDAK SUNGKAN SUNGKAN UNTUK MENINDAK ANAK BUAHNYA YG MENYALAHI ATURAN, MAJU TERUS PAK, PASTI MASYARAKAT JUGA MENDUKUNG KALAU POLISINYA PADA BENER SESUAI DENGAN MOTTO PENGAYOM, PELINDUNG DAN PELAYAN MASYARAKAT...TUNJUKKAN SIKAP TERSEBUR BUAT SELURUH KEPOLISIAN RI.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>SELAMAT UNTUK BAPAK KAPOLDA YANG SATU INI, SAYA DOAKAN JADI KAPOLRI. DAN TETAP BISA MENEGAKKAN KEBENARAN JUGA TIDAK SUNGKAN SUNGKAN UNTUK MENINDAK ANAK BUAHNYA YG MENYALAHI ATURAN, MAJU TERUS PAK, PASTI MASYARAKAT JUGA MENDUKUNG KALAU POLISINYA PADA BENER SESUAI DENGAN MOTTO PENGAYOM, PELINDUNG DAN PELAYAN MASYARAKAT&#8230;TUNJUKKAN SIKAP TERSEBUR BUAT SELURUH KEPOLISIAN RI.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: i ketut adi purnama</title>
		<link>http://harry.sufehmi.com/archives/2008-02-14-1591/#comment-113687</link>
		<dc:creator>i ketut adi purnama</dc:creator>
		<pubDate>Tue, 15 Apr 2008 07:54:26 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://harry.sufehmi.com/archives/2008-02-14-1591/#comment-113687</guid>
		<description>wahai orang-orang yang baik hati dan mulia, segeralah mendaftar menjadi Polisi, supaya segera lahir banyak Polisi-polisi yang baik, yang dipercaya msy dan dicintai msy. Mengapa orang-orang baik dan mulia banyak yang tidak berminat menjadi Polisi?</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>wahai orang-orang yang baik hati dan mulia, segeralah mendaftar menjadi Polisi, supaya segera lahir banyak Polisi-polisi yang baik, yang dipercaya msy dan dicintai msy. Mengapa orang-orang baik dan mulia banyak yang tidak berminat menjadi Polisi?</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: tince</title>
		<link>http://harry.sufehmi.com/archives/2008-02-14-1591/#comment-109291</link>
		<dc:creator>tince</dc:creator>
		<pubDate>Tue, 08 Apr 2008 05:59:37 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://harry.sufehmi.com/archives/2008-02-14-1591/#comment-109291</guid>
		<description>boleh kasih saran...tampilan blognya  terlalu formal banget, image mendatar. gimana kalau di ganti yang agak meriah dikit
jasi kalau baca artikel yang panjang lebih semangat karena tampilan yang semarak

terima kasih</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>boleh kasih saran&#8230;tampilan blognya  terlalu formal banget, image mendatar. gimana kalau di ganti yang agak meriah dikit<br />
jasi kalau baca artikel yang panjang lebih semangat karena tampilan yang semarak</p>
<p>terima kasih</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: OKI</title>
		<link>http://harry.sufehmi.com/archives/2008-02-14-1591/#comment-106042</link>
		<dc:creator>OKI</dc:creator>
		<pubDate>Wed, 02 Apr 2008 18:04:57 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://harry.sufehmi.com/archives/2008-02-14-1591/#comment-106042</guid>
		<description>Dengan tidak mengurangi rasa hormat saya kepada bp.Kapolda Susno Duaji.Perlu bapak ketahuin bahwasannya perintah atau perkataan bapak khususnya kepada anggota jajaran SATLANTAS didengar dan dijalankan oleh anak buah bapak yang ada di lapangan maupun di daerah, seperti oknum2 anggota polisi yang ada Pos-pos di Padalarang,Cipatat,Polsek Ciranjang,Jatiwangi,Kadipaten dan PJR-PJR yg beroperasi di ruas-ruas jalan Tol dari Tol Karawang - Purwakarta,Padalarang - Cileunyi,mereka ibarat preman2 yang terstruktur seperti yang bapak kapolda katakan pada organisasi2 preman jalanan yang telah bapak berantas habis.Semoga bapak kapolda bisa lebih memperhatikan hal ini ,sebab citra dari kepolisian itu akan berkesan lebih baik dengan pelayanan,pengayoman yang nyata terhadap masyarakat,kalau polisi yang dilapangannya saja sudah bertindak seperti halnya preman terstruktur,bagaimana masyarakat akan percaya terhadap POLISI???Smoga bapak tetap kuat dan tidak kehilangan taringnya bekerja di lingkuangan CAREUH yang telah mendarah daging ditubuh kepolisian POLDA JABAR.Hidup!!! bapak KAPOLDA,hidup!!! bapak Susno Duaji yang telah melakukan gebrakan2 yang sangat luar biasa didalam tubuh kepolisian di wilayah POLDA JABAR jangan pernah berhenti dan takut,MASYARAKAT JABAR selalu mendukungmu dan  smoga Alloh swt selalu bersamamu,amin</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Dengan tidak mengurangi rasa hormat saya kepada bp.Kapolda Susno Duaji.Perlu bapak ketahuin bahwasannya perintah atau perkataan bapak khususnya kepada anggota jajaran SATLANTAS didengar dan dijalankan oleh anak buah bapak yang ada di lapangan maupun di daerah, seperti oknum2 anggota polisi yang ada Pos-pos di Padalarang,Cipatat,Polsek Ciranjang,Jatiwangi,Kadipaten dan PJR-PJR yg beroperasi di ruas-ruas jalan Tol dari Tol Karawang - Purwakarta,Padalarang - Cileunyi,mereka ibarat preman2 yang terstruktur seperti yang bapak kapolda katakan pada organisasi2 preman jalanan yang telah bapak berantas habis.Semoga bapak kapolda bisa lebih memperhatikan hal ini ,sebab citra dari kepolisian itu akan berkesan lebih baik dengan pelayanan,pengayoman yang nyata terhadap masyarakat,kalau polisi yang dilapangannya saja sudah bertindak seperti halnya preman terstruktur,bagaimana masyarakat akan percaya terhadap POLISI???Smoga bapak tetap kuat dan tidak kehilangan taringnya bekerja di lingkuangan CAREUH yang telah mendarah daging ditubuh kepolisian POLDA JABAR.Hidup!!! bapak KAPOLDA,hidup!!! bapak Susno Duaji yang telah melakukan gebrakan2 yang sangat luar biasa didalam tubuh kepolisian di wilayah POLDA JABAR jangan pernah berhenti dan takut,MASYARAKAT JABAR selalu mendukungmu dan  smoga Alloh swt selalu bersamamu,amin</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Omong Besar Susno Duadji belum terbukti &#171; Guhpraset</title>
		<link>http://harry.sufehmi.com/archives/2008-02-14-1591/#comment-103551</link>
		<dc:creator>Omong Besar Susno Duadji belum terbukti &#171; Guhpraset</dc:creator>
		<pubDate>Fri, 28 Mar 2008 20:36:40 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://harry.sufehmi.com/archives/2008-02-14-1591/#comment-103551</guid>
		<description>[...] yang berencana menjilati beliau jangan langsung murka, karena di Kantor SAMSAT Kabupaten Bogor, omong besar KAPOLDA JABAR memang belum terbukti, sama sekali belum terasa efek [...]</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>[...] yang berencana menjilati beliau jangan langsung murka, karena di Kantor SAMSAT Kabupaten Bogor, omong besar KAPOLDA JABAR memang belum terbukti, sama sekali belum terasa efek [...]</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: slamet</title>
		<link>http://harry.sufehmi.com/archives/2008-02-14-1591/#comment-99970</link>
		<dc:creator>slamet</dc:creator>
		<pubDate>Mon, 10 Mar 2008 06:12:20 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://harry.sufehmi.com/archives/2008-02-14-1591/#comment-99970</guid>
		<description>kalo mengetahui ada polisi yang korup, bagaimana ???sedangkan saya sendiri aggota yang benci dngan hal demikian ,apa saya harus diam saja??berarti bertentangan dong dngn hati nurani saya,..tapi siapa yang mau melindungi saya sebagai bawahan yang serba salah dngn keadaan trsbt ,  soalnya fakta sama teori kalo sdh dilapangan sangat lain diaturan kita , makanya saya sangat kurang percaya walaupun dngn teman sendiri,...thxs.............slamet</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>kalo mengetahui ada polisi yang korup, bagaimana ???sedangkan saya sendiri aggota yang benci dngan hal demikian ,apa saya harus diam saja??berarti bertentangan dong dngn hati nurani saya,..tapi siapa yang mau melindungi saya sebagai bawahan yang serba salah dngn keadaan trsbt ,  soalnya fakta sama teori kalo sdh dilapangan sangat lain diaturan kita , makanya saya sangat kurang percaya walaupun dngn teman sendiri,&#8230;thxs&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;.slamet</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: arizane</title>
		<link>http://harry.sufehmi.com/archives/2008-02-14-1591/#comment-99108</link>
		<dc:creator>arizane</dc:creator>
		<pubDate>Fri, 07 Mar 2008 20:15:45 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://harry.sufehmi.com/archives/2008-02-14-1591/#comment-99108</guid>
		<description>mantap...saya doakan tetap berjuang...anti korupsi..jadi kepingin ketemu orangnya...hihih</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>mantap&#8230;saya doakan tetap berjuang&#8230;anti korupsi..jadi kepingin ketemu orangnya&#8230;hihih</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Melvy D.</title>
		<link>http://harry.sufehmi.com/archives/2008-02-14-1591/#comment-97720</link>
		<dc:creator>Melvy D.</dc:creator>
		<pubDate>Sun, 02 Mar 2008 10:16:43 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://harry.sufehmi.com/archives/2008-02-14-1591/#comment-97720</guid>
		<description>http://www.mediakonsumen.com/Artikel1798.html

KAPOLDA JABAR YANG BARU DAN JALAN RAYA

Judul tulisan ini mungkin memang aneh. Namun saya ingin menyederhanakan cara kita melihat persoalan-persoalan besar di negeri ini. Yaitu menjadikan jalan raya sebagai barometer bagi baik dan buruknya pengelolaan negeri ini.

Sudah sering kita mendengar ungkapan yang menyatakan bahwa situasi jalan sebuah kota menggambarkan pemerintahan kota itu. Bahkan jika itu sebuah situasi jalan ibu kota, maka itu menggambarkan pemerintahan negeri itu secara keseluruhan. Bagaimana tidak, jika jalan-jalan ibu kota sebuah negara saja tidak bisa diurus, apalagi mengurus kota-kota lainnya? Atau bagaimana bisa memberdayakan rakyat yang membutuhkan jalan raya untuk berkegiatan ekonomi di dalam kota dan antar kota?

Jakarta beberapa bulan ini sedang mengalami musim hujan yang lama. Jalan-jalan di seantero kota rusak parah. Usaha perbaikan yang sungguh-sungguh tidak terlihat. Alasannya tentu sama dari tahun ke tahun dari bahkan dari akhir 60-an hingga 2008 ini, yakni lebih dari 48 tahun. Alasannya adalah di saat musim hujan tidak bisa memperbaiki jalan.

Alasan yang digunakan ini menggambarkan tingkat pemimpin kota ini, yaitu tingkat baboon saja. Pertama adalah, karena jalan yang sudah dibuat ternyata tidak bertahan pada musim hujan. Seolah-olah musim hujan cuma terjadi di Jakarta saja, bukan di kota-kota lain seperti Singapura, Kuala Lumpur, Brunei dan kota-kota lain yang jalan-jalannya tidak hancur karena datangnya musim hujan. Kedua adalah, karena hanya baboon yang tidak bisa melahirkan cara untuk memperbaiki jalanan yang rusak pada musim hujan agar tidak terlalu parah. Ketiga adalah, karena baboon tidak bisa mengerti berapa kerugian yang harus ditanggung negeri ini jika ibu kotanya tidak bisa melakukan kegiatan ekonomi dengan lancar karena jalan-jalannya rusak parah selama berbulan-bulan. Baboon tidak bisa menghitung hanya berapa bulan dalam setahun kegiatan ekonomi di kota ini bisa berjalan dengan lancar, jika selama musim hujan yang kira-kira 3 bulan lamanya jalan-jalan menjadi hancur. Kemudian 3 bulan berikutnya adalah masa perbaikan yang biasanya memang lamaaaaaa…. sekali…. Berarti tinggal 6 bulan sisanya yang bisa digunakan kota ini untuk berkegiatan ekonomi dengan lancar. Itu pun jika tidak ada gangguan lain seperti perubahan fungsi jalan (busway), pelebaran jalan, peninggian atau pengaspalan baru yang kerap dilakukan di jalan-jalan Jakarta. Seolah-olah Jakarta adalah kota yang selalu sibuk memperbaiki diri. Padahal yang terjadi adalah Jakarta adalah kota di mana kontraktor jalan selalu mendapat order kerja tanpa peduli pekerjaan itu amat mengganggu kegiatan ekonomi di kota ini atau tidak.

Lalu kapan kota ini sibuk memikirkan untuk menjadi kota yang maju, jika mengelola jalan saja tidak becus? Kapan kita sebagai warga Jakarta mulai memiliki cukup waktu untuk memikirkan soal-soal lain yang lebih produktif dibanding memikirkan jalan rusak dan kemacetan yang berjam-jam setiap pagi dan sore? Kapan kita bisa pulang di rumah lebih awal dan berkumpul dengan tetangga dan membicarakan tempat bermain anak dan remaja di lingkungan perumahan kita? Atau kapan kita bisa menjadi manusia yang lebih beradab karena selalu saling serobot di jalanan yang semrawut minta ampun?

Ini lah yang terjadi berpuluh-puluh tahun lamanya di Jakarta. Sejak jaman Soeharto yang katanya amat korup hingga jaman kebebasan berpendapat seperti sekarang ini. Bahkan kondisi jalanan Jakarta sekarang jauh lebih parah dibanding jaman Soeharto dulu. Padahal sekarang semua orang bisa dan boleh mengkritik pemerintah. Tapi itu ternyata tidak cukup. Kritik atau demo saja hanya akan bergaung sehari-semalam saja, meskipun diberitakan oleh puluhan stasiun TV, ratusan surat kabar, radio atau media on-line sekali pun. Kita butuh sebuah sistem untuk menghukum para baboon yang menjadi pemimpin di negeri ini jika mereka berbuat salah, bahkan ketika mereka tidak berbuat apa pun.

Tanpa hukuman buat para pemimpin, Jakarta akan terus bobrok seperti ini. Lihat saja apa yang dikatakan Fauzi Bowo hanya sekejab setelah terpilih menjadi gubernur kota ini. Cuaca yang bikin banjir Jakarta, katanya. Alasan ini diucapkan pada saat Jakarta dilanda banjir kembali pada tanggal 1 Februari 2008. Tepat 1 tahun setelah banjir besar di Jakarta pada tanggal 3-4 Februari 2007 lalu. Padahal, kita berharap pada setiap gubernur baru yang terpilih untuk memiliki solusi atau konsep mengatasi banjir yang lebih baik dari gubernur sebelumnya. Bukan lagi-lagi menyumpali telinga kita dengan omong-kosong tentang cuaca atau iklim yang berubah, karena banjir di Jakarta sudah terjadi sejak ratusan tahun yang lalu. Harus ada solusi yang tidak hanya sekedar membangun Banjir Kanal yang biayanya sangat besar itu dan membutuhkan waktu yang lama untuk bisa terlihat hasilnya jika sistem drainase belum dirubah.  Itu pun seharusnya mereka selalu menyadari biaya untuk membangun Banjir Kanal itu diperoleh dari rakyat, bukan dari kantong nenek-moyang gubernur itu, sehingga harus dijaga jangan sampai bocor se-sen pun. Gubernur harus selalu ingat, pembangunan Banjir Kanal bukan proyek memakmurkan para kontraktor, tetapi memakmurkan rakyat Jakarta, sehingga penggusuran pun harus dengan solusi yang bijak. Bukan dengan terburu-buru seperti sedang berperang melawan musuh nan durjana atau jangan menjadi penindas rakyat. Bagaimana pun solusi atau konsep banjir kanal adalah sebuah dilema karena beberapa ahli lingkungan mengatakan ini bukan solusi yang tepat untuk Jakarta. Sehingga gubernur harus juga menyediakan solusi lain di samping Banjir Kanal ini, misalnya dengan menjalin kerjasama yang lebih serius dengan wilayah pengirim banjir, yakni Bogor, mengelola danau-danau yang sudah ada, membangun danau-danau baru, dan membangun sumur-sumur resapan. Biaya yang diperlukan jauh lebih murah dibandingkan dengan Banjir Kanal dan dampak sosialnya jauh lebih kecil karena tidak menggusur begitu banyak tempat tinggal dan tempat mendapatkan penghasilan sehari-hari rakyat kecil.

Memang memprihatikan, jika gubernur Jakarta hanya seolah-olah dipilih oleh rakyat secara langsung, tetapi sebenarnya dipilih dulu oleh partai-partai, baru kita bisa memilih gubernur. Padahal pilihan partai-partai itu bukan berorientasi pada kepentingan rakyat, tetapi berorientasi pada politik. Saya yakin wakil-wakil rakyat yang juga katanya kita pilih melalui pemilihan langsung itu akan terus berkacak-pinggang untuk terus melakukan itu sampai lebih dari sepuluh tahun ke depan. Sehingga Jakarta akan terus dikelola oleh para baboon. Jadi cara yang tepat untuk mendapatkan pengelola kota Jakarta adalah dengan cara menyediakan sistem untuk menghukum mereka jika berbuat salah atau bahkan tidak berbuat apa pun. 

Di tengah keprihatian banjir dan jalan rusak di Jakarta, tiba-tiba beberapa hari yang lalu saya membaca sebuah wawancara dengan Kapolda Jawa Barat yang baru Irjen Pol. Drs. Susno Duadji, S.H., M.Sc. (http://pikiran-rakyat.com/index.php?mib=beritadetail&#38;id=11295). Sesaat setelah pidato di depan jajaran barunya yang cuma kurang dari 10 menit, Susno Duadji meminta anak buahnya, yang perwira, untuk membuat pakta kesepakatan bersama yang inti dari isinya adalah larangan untuk menjadi polisi korup. Segera saja dalam beberapa hari berikutnya, peristiwa ini menjadi wacana yang seru di berbagai forum di Internet. Bahkan mungkin hampir semua orang mendapatkan forward dari berita ini melalui e-mail.

Saya yakin ini yang pertama kali dilakukan oleh seorang pemimpin polisi di tingkat propinsi. Bahkan Kapolri Sutanto yang menabuh genderang perang terhadap judi dan narkoba sekali pun tidak melakukan ini. Apa yang dilakukan Susno Duadji amat sederhana dalam memerangi perbuatan korup, tetapi akan memiliki dampak yang amat luas.

Korupsi adalah kejahatan kerah putih. Sehingga dilakukan jauh lebih terencana sehingga sulit menelusuri atau mendapatkan bukti-buktinya. Pengacara akan dengan mudah memberikan atau menemukan celah hukum untuk membebaskan kliennya dari jerat hukum, misalnya dengan alasan sakit, tidak ada bukti yang cukup, dakwaan tidak memiliki dasar yang jelas dan lain-lain. Sehingga tantangan bagi KPK dalam memberantas korupsi sesungguhnya amat besar. Namun apa yang dilakukan oleh Susno Duadji ini tentu bisa memangkas kerja panjang dan berliku dari KPK dalam memberantas korupsi. Jika sebuah perbuatan korup (yang ketahuan) langsung diberikan sangsi berupa pemecatan oleh orang yang paling dekat (atasan), maka perbuatan korup lainnya akan otomatis dapat dihambat atau diminimalkan.

Apa yang dilakukan oleh Susno Duadji ini bisa disebut sebagai upaya yang paling serius dalam memberantas korupsi. Bukan sekedar omong-kosong belaka. Kalau Susno Duadji membabat anak buahnya sendiri, tentu anak buahnya juga siap membabat Susno Duadji jika ternyata Susno Duadji melakukan perbuatan korup.

Susno Duadji bahkan menjadi contoh yang amat mencolok di antara sikap hipokrit kebanyakan pengelola negeri ini dalam kerangka pemberantasan korupsi. Sebagai misal yang paling menonjol adalah bagaimana Menteri Keuangan bersama-sama dengan DPR mencoba menghambat kerja KPK dalam memeriksa kinerja Ditjen Pajak dengan dikeluarkannya UU 28/2007 tentang Ketentuan Umum Perpajakan (http://hukumonline.com/detail.asp?id=17390&#38;cl=Berita). 

Dalam pasal 34 UU ini, BPK tidak memiliki keleluasaan dalam mendapatkan bukti-bukti langsung dari wajib pajak kecuali diizinkan terlebih dahulu oleh Menteri Keuangan. Padahal BPK sudah 3 tahun terakhir berturut-turut tidak dapat menilai Laporan Keuangan Pemerintah Pusat, alias mendapat disclaimer. Bahkan ketua BPK, Anwar Nasution, menyebut Ditjen Pajak seperti ini: “bahwa Ditjen Pajak tidak transparan, tidak bisa diaudit. ”Hanya Direktorat Jenderal Pajak dan Tuhan yang tahu informasi pajak.” 

Anwar Nasution juga menambahkan: “selama ini Ditjen Pajak merupakan institusi yang tidak akuntabel karena tidak bisa melakukan pemeriksaan pajak sesuai standar BPK. ”Informasi kita mengenai pajak itu nol, DPR, BPK tidak tahu, DPD (Dewan Perwakilan Daerah) apalagi.”

Susno Duadji bukan orang baru dalam pemberantasan korupsi. Ia sudah pergi ke 90-an negara untuk belajar memberantas korupsi. Bahkan ia pernah menjabat Wakil Kepala PPATK (Pusat Pelaporan Analisis dan Transaksi Keuangan). PPATK adalah sebuah lembaga yang bekerja sama dengan KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi). Ia juga lulusan S1 Hukum, dan S2 Manajemen.

Susno dalam wawancara dengan Pikiran Rakyat itu, bahkan menganjurkan untuk mencopot gubernur sebagai pemimpin tertinggi. Begini kata-katanya: “Jadi, kalau di provinsi, misalnya, ada korupsi, yang salah bukan karyawannya, tetapi gubernurnya. Memberantasnya bagaimana? Mudah saja. Tinggal copot saja orang tertinggi di instansi itu.”

Mengenai memberantas korupsi di lingkungan sendiri, Susno juga menambahkan: “Mengusut kasus korupsi itu jauh lebih mudah ketimbang mengusut kasus pencurian jemuran. Mengungkap kasus pencurian jemuran perlu polisi yang pintar karena banyak kemungkinan pelakunya, seperti orang yang iseng, orang yang lewat, dan beberapa kemungkinan lainnya.  Kalau kasus korupsi, tidak perlu polisi yang pintar-pintar amat. Misal, uang anggaran sebuah dinas ada yang tidak sesuai. Tinggal dicari ke mana uangnya lari. Orang-orang yang terlibat juga mudah ditebak. Korupsi itu paling melibatkan bosnya, bagian keuangan, kepala projek, dan rekanan. Itu saja. Jadi, kata siapa sulit? Sulit dari mananya. Tidak ada yang sulit dalam memberantas korupsi. Kuncinya hanya satu, kemauan yang kuat.”

Atau simak pandangannya tentang seorang pemimpin: “Bagi saya, siapa yang menjadi pemimpin harus mau mengorbankan kenikmatan dan kepuasan semu. Nikmat dengan pelayanan, dengan sanjungan, serta nikmat dengan pujian palsu. Malu dong bintang dua jalan petantang-petenteng, tetapi anak buah yang dipimpinnya korupsi dan memberikan pelayanan tidak sesuai dengan standar. Malu juga dong kita lewat seenaknya pakai nguing-nguing (pengawalan), sementara rakyat macet. Itu juga korupsi.”

Jadi, Bang Foke, siap nggak ente ngurus kote Jakarta dengan komitmen seperti Susno Duadji? Kalo jalanan masih rusak, kalo jalan masih macet dan semrawut, kalo Jakarta masih banjir, ente ngapain aje? Ngurus kumis?

Jojo Rahardjo</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://www.mediakonsumen.com/Artikel1798.html" >http://www.mediakonsumen.com/Artikel1798.html</a></p>
<p>KAPOLDA JABAR YANG BARU DAN JALAN RAYA</p>
<p>Judul tulisan ini mungkin memang aneh. Namun saya ingin menyederhanakan cara kita melihat persoalan-persoalan besar di negeri ini. Yaitu menjadikan jalan raya sebagai barometer bagi baik dan buruknya pengelolaan negeri ini.</p>
<p>Sudah sering kita mendengar ungkapan yang menyatakan bahwa situasi jalan sebuah kota menggambarkan pemerintahan kota itu. Bahkan jika itu sebuah situasi jalan ibu kota, maka itu menggambarkan pemerintahan negeri itu secara keseluruhan. Bagaimana tidak, jika jalan-jalan ibu kota sebuah negara saja tidak bisa diurus, apalagi mengurus kota-kota lainnya? Atau bagaimana bisa memberdayakan rakyat yang membutuhkan jalan raya untuk berkegiatan ekonomi di dalam kota dan antar kota?</p>
<p>Jakarta beberapa bulan ini sedang mengalami musim hujan yang lama. Jalan-jalan di seantero kota rusak parah. Usaha perbaikan yang sungguh-sungguh tidak terlihat. Alasannya tentu sama dari tahun ke tahun dari bahkan dari akhir 60-an hingga 2008 ini, yakni lebih dari 48 tahun. Alasannya adalah di saat musim hujan tidak bisa memperbaiki jalan.</p>
<p>Alasan yang digunakan ini menggambarkan tingkat pemimpin kota ini, yaitu tingkat baboon saja. Pertama adalah, karena jalan yang sudah dibuat ternyata tidak bertahan pada musim hujan. Seolah-olah musim hujan cuma terjadi di Jakarta saja, bukan di kota-kota lain seperti Singapura, Kuala Lumpur, Brunei dan kota-kota lain yang jalan-jalannya tidak hancur karena datangnya musim hujan. Kedua adalah, karena hanya baboon yang tidak bisa melahirkan cara untuk memperbaiki jalanan yang rusak pada musim hujan agar tidak terlalu parah. Ketiga adalah, karena baboon tidak bisa mengerti berapa kerugian yang harus ditanggung negeri ini jika ibu kotanya tidak bisa melakukan kegiatan ekonomi dengan lancar karena jalan-jalannya rusak parah selama berbulan-bulan. Baboon tidak bisa menghitung hanya berapa bulan dalam setahun kegiatan ekonomi di kota ini bisa berjalan dengan lancar, jika selama musim hujan yang kira-kira 3 bulan lamanya jalan-jalan menjadi hancur. Kemudian 3 bulan berikutnya adalah masa perbaikan yang biasanya memang lamaaaaaa…. sekali…. Berarti tinggal 6 bulan sisanya yang bisa digunakan kota ini untuk berkegiatan ekonomi dengan lancar. Itu pun jika tidak ada gangguan lain seperti perubahan fungsi jalan (busway), pelebaran jalan, peninggian atau pengaspalan baru yang kerap dilakukan di jalan-jalan Jakarta. Seolah-olah Jakarta adalah kota yang selalu sibuk memperbaiki diri. Padahal yang terjadi adalah Jakarta adalah kota di mana kontraktor jalan selalu mendapat order kerja tanpa peduli pekerjaan itu amat mengganggu kegiatan ekonomi di kota ini atau tidak.</p>
<p>Lalu kapan kota ini sibuk memikirkan untuk menjadi kota yang maju, jika mengelola jalan saja tidak becus? Kapan kita sebagai warga Jakarta mulai memiliki cukup waktu untuk memikirkan soal-soal lain yang lebih produktif dibanding memikirkan jalan rusak dan kemacetan yang berjam-jam setiap pagi dan sore? Kapan kita bisa pulang di rumah lebih awal dan berkumpul dengan tetangga dan membicarakan tempat bermain anak dan remaja di lingkungan perumahan kita? Atau kapan kita bisa menjadi manusia yang lebih beradab karena selalu saling serobot di jalanan yang semrawut minta ampun?</p>
<p>Ini lah yang terjadi berpuluh-puluh tahun lamanya di Jakarta. Sejak jaman Soeharto yang katanya amat korup hingga jaman kebebasan berpendapat seperti sekarang ini. Bahkan kondisi jalanan Jakarta sekarang jauh lebih parah dibanding jaman Soeharto dulu. Padahal sekarang semua orang bisa dan boleh mengkritik pemerintah. Tapi itu ternyata tidak cukup. Kritik atau demo saja hanya akan bergaung sehari-semalam saja, meskipun diberitakan oleh puluhan stasiun TV, ratusan surat kabar, radio atau media on-line sekali pun. Kita butuh sebuah sistem untuk menghukum para baboon yang menjadi pemimpin di negeri ini jika mereka berbuat salah, bahkan ketika mereka tidak berbuat apa pun.</p>
<p>Tanpa hukuman buat para pemimpin, Jakarta akan terus bobrok seperti ini. Lihat saja apa yang dikatakan Fauzi Bowo hanya sekejab setelah terpilih menjadi gubernur kota ini. Cuaca yang bikin banjir Jakarta, katanya. Alasan ini diucapkan pada saat Jakarta dilanda banjir kembali pada tanggal 1 Februari 2008. Tepat 1 tahun setelah banjir besar di Jakarta pada tanggal 3-4 Februari 2007 lalu. Padahal, kita berharap pada setiap gubernur baru yang terpilih untuk memiliki solusi atau konsep mengatasi banjir yang lebih baik dari gubernur sebelumnya. Bukan lagi-lagi menyumpali telinga kita dengan omong-kosong tentang cuaca atau iklim yang berubah, karena banjir di Jakarta sudah terjadi sejak ratusan tahun yang lalu. Harus ada solusi yang tidak hanya sekedar membangun Banjir Kanal yang biayanya sangat besar itu dan membutuhkan waktu yang lama untuk bisa terlihat hasilnya jika sistem drainase belum dirubah.  Itu pun seharusnya mereka selalu menyadari biaya untuk membangun Banjir Kanal itu diperoleh dari rakyat, bukan dari kantong nenek-moyang gubernur itu, sehingga harus dijaga jangan sampai bocor se-sen pun. Gubernur harus selalu ingat, pembangunan Banjir Kanal bukan proyek memakmurkan para kontraktor, tetapi memakmurkan rakyat Jakarta, sehingga penggusuran pun harus dengan solusi yang bijak. Bukan dengan terburu-buru seperti sedang berperang melawan musuh nan durjana atau jangan menjadi penindas rakyat. Bagaimana pun solusi atau konsep banjir kanal adalah sebuah dilema karena beberapa ahli lingkungan mengatakan ini bukan solusi yang tepat untuk Jakarta. Sehingga gubernur harus juga menyediakan solusi lain di samping Banjir Kanal ini, misalnya dengan menjalin kerjasama yang lebih serius dengan wilayah pengirim banjir, yakni Bogor, mengelola danau-danau yang sudah ada, membangun danau-danau baru, dan membangun sumur-sumur resapan. Biaya yang diperlukan jauh lebih murah dibandingkan dengan Banjir Kanal dan dampak sosialnya jauh lebih kecil karena tidak menggusur begitu banyak tempat tinggal dan tempat mendapatkan penghasilan sehari-hari rakyat kecil.</p>
<p>Memang memprihatikan, jika gubernur Jakarta hanya seolah-olah dipilih oleh rakyat secara langsung, tetapi sebenarnya dipilih dulu oleh partai-partai, baru kita bisa memilih gubernur. Padahal pilihan partai-partai itu bukan berorientasi pada kepentingan rakyat, tetapi berorientasi pada politik. Saya yakin wakil-wakil rakyat yang juga katanya kita pilih melalui pemilihan langsung itu akan terus berkacak-pinggang untuk terus melakukan itu sampai lebih dari sepuluh tahun ke depan. Sehingga Jakarta akan terus dikelola oleh para baboon. Jadi cara yang tepat untuk mendapatkan pengelola kota Jakarta adalah dengan cara menyediakan sistem untuk menghukum mereka jika berbuat salah atau bahkan tidak berbuat apa pun. </p>
<p>Di tengah keprihatian banjir dan jalan rusak di Jakarta, tiba-tiba beberapa hari yang lalu saya membaca sebuah wawancara dengan Kapolda Jawa Barat yang baru Irjen Pol. Drs. Susno Duadji, S.H., M.Sc. (http://pikiran-rakyat.com/index.php?mib=beritadetail&amp;id=11295). Sesaat setelah pidato di depan jajaran barunya yang cuma kurang dari 10 menit, Susno Duadji meminta anak buahnya, yang perwira, untuk membuat pakta kesepakatan bersama yang inti dari isinya adalah larangan untuk menjadi polisi korup. Segera saja dalam beberapa hari berikutnya, peristiwa ini menjadi wacana yang seru di berbagai forum di Internet. Bahkan mungkin hampir semua orang mendapatkan forward dari berita ini melalui e-mail.</p>
<p>Saya yakin ini yang pertama kali dilakukan oleh seorang pemimpin polisi di tingkat propinsi. Bahkan Kapolri Sutanto yang menabuh genderang perang terhadap judi dan narkoba sekali pun tidak melakukan ini. Apa yang dilakukan Susno Duadji amat sederhana dalam memerangi perbuatan korup, tetapi akan memiliki dampak yang amat luas.</p>
<p>Korupsi adalah kejahatan kerah putih. Sehingga dilakukan jauh lebih terencana sehingga sulit menelusuri atau mendapatkan bukti-buktinya. Pengacara akan dengan mudah memberikan atau menemukan celah hukum untuk membebaskan kliennya dari jerat hukum, misalnya dengan alasan sakit, tidak ada bukti yang cukup, dakwaan tidak memiliki dasar yang jelas dan lain-lain. Sehingga tantangan bagi KPK dalam memberantas korupsi sesungguhnya amat besar. Namun apa yang dilakukan oleh Susno Duadji ini tentu bisa memangkas kerja panjang dan berliku dari KPK dalam memberantas korupsi. Jika sebuah perbuatan korup (yang ketahuan) langsung diberikan sangsi berupa pemecatan oleh orang yang paling dekat (atasan), maka perbuatan korup lainnya akan otomatis dapat dihambat atau diminimalkan.</p>
<p>Apa yang dilakukan oleh Susno Duadji ini bisa disebut sebagai upaya yang paling serius dalam memberantas korupsi. Bukan sekedar omong-kosong belaka. Kalau Susno Duadji membabat anak buahnya sendiri, tentu anak buahnya juga siap membabat Susno Duadji jika ternyata Susno Duadji melakukan perbuatan korup.</p>
<p>Susno Duadji bahkan menjadi contoh yang amat mencolok di antara sikap hipokrit kebanyakan pengelola negeri ini dalam kerangka pemberantasan korupsi. Sebagai misal yang paling menonjol adalah bagaimana Menteri Keuangan bersama-sama dengan DPR mencoba menghambat kerja KPK dalam memeriksa kinerja Ditjen Pajak dengan dikeluarkannya UU 28/2007 tentang Ketentuan Umum Perpajakan (http://hukumonline.com/detail.asp?id=17390&amp;cl=Berita). </p>
<p>Dalam pasal 34 UU ini, BPK tidak memiliki keleluasaan dalam mendapatkan bukti-bukti langsung dari wajib pajak kecuali diizinkan terlebih dahulu oleh Menteri Keuangan. Padahal BPK sudah 3 tahun terakhir berturut-turut tidak dapat menilai Laporan Keuangan Pemerintah Pusat, alias mendapat disclaimer. Bahkan ketua BPK, Anwar Nasution, menyebut Ditjen Pajak seperti ini: “bahwa Ditjen Pajak tidak transparan, tidak bisa diaudit. ”Hanya Direktorat Jenderal Pajak dan Tuhan yang tahu informasi pajak.” </p>
<p>Anwar Nasution juga menambahkan: “selama ini Ditjen Pajak merupakan institusi yang tidak akuntabel karena tidak bisa melakukan pemeriksaan pajak sesuai standar BPK. ”Informasi kita mengenai pajak itu nol, DPR, BPK tidak tahu, DPD (Dewan Perwakilan Daerah) apalagi.”</p>
<p>Susno Duadji bukan orang baru dalam pemberantasan korupsi. Ia sudah pergi ke 90-an negara untuk belajar memberantas korupsi. Bahkan ia pernah menjabat Wakil Kepala PPATK (Pusat Pelaporan Analisis dan Transaksi Keuangan). PPATK adalah sebuah lembaga yang bekerja sama dengan KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi). Ia juga lulusan S1 Hukum, dan S2 Manajemen.</p>
<p>Susno dalam wawancara dengan Pikiran Rakyat itu, bahkan menganjurkan untuk mencopot gubernur sebagai pemimpin tertinggi. Begini kata-katanya: “Jadi, kalau di provinsi, misalnya, ada korupsi, yang salah bukan karyawannya, tetapi gubernurnya. Memberantasnya bagaimana? Mudah saja. Tinggal copot saja orang tertinggi di instansi itu.”</p>
<p>Mengenai memberantas korupsi di lingkungan sendiri, Susno juga menambahkan: “Mengusut kasus korupsi itu jauh lebih mudah ketimbang mengusut kasus pencurian jemuran. Mengungkap kasus pencurian jemuran perlu polisi yang pintar karena banyak kemungkinan pelakunya, seperti orang yang iseng, orang yang lewat, dan beberapa kemungkinan lainnya.  Kalau kasus korupsi, tidak perlu polisi yang pintar-pintar amat. Misal, uang anggaran sebuah dinas ada yang tidak sesuai. Tinggal dicari ke mana uangnya lari. Orang-orang yang terlibat juga mudah ditebak. Korupsi itu paling melibatkan bosnya, bagian keuangan, kepala projek, dan rekanan. Itu saja. Jadi, kata siapa sulit? Sulit dari mananya. Tidak ada yang sulit dalam memberantas korupsi. Kuncinya hanya satu, kemauan yang kuat.”</p>
<p>Atau simak pandangannya tentang seorang pemimpin: “Bagi saya, siapa yang menjadi pemimpin harus mau mengorbankan kenikmatan dan kepuasan semu. Nikmat dengan pelayanan, dengan sanjungan, serta nikmat dengan pujian palsu. Malu dong bintang dua jalan petantang-petenteng, tetapi anak buah yang dipimpinnya korupsi dan memberikan pelayanan tidak sesuai dengan standar. Malu juga dong kita lewat seenaknya pakai nguing-nguing (pengawalan), sementara rakyat macet. Itu juga korupsi.”</p>
<p>Jadi, Bang Foke, siap nggak ente ngurus kote Jakarta dengan komitmen seperti Susno Duadji? Kalo jalanan masih rusak, kalo jalan masih macet dan semrawut, kalo Jakarta masih banjir, ente ngapain aje? Ngurus kumis?</p>
<p>Jojo Rahardjo</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: fero</title>
		<link>http://harry.sufehmi.com/archives/2008-02-14-1591/#comment-97625</link>
		<dc:creator>fero</dc:creator>
		<pubDate>Sat, 01 Mar 2008 16:18:08 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://harry.sufehmi.com/archives/2008-02-14-1591/#comment-97625</guid>
		<description>kami tolong kepada pa kapolda jabar yanag baru,tolong tinjau kembali di daerah2 seperti polres indramayu,kami pernah melihat polisi bagian satlantas, indramayu, banyak sekali yang meminta setoran kepada pihak pengguna jalan atau ngarit cari setoran didaerah pantura indramayu</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>kami tolong kepada pa kapolda jabar yanag baru,tolong tinjau kembali di daerah2 seperti polres indramayu,kami pernah melihat polisi bagian satlantas, indramayu, banyak sekali yang meminta setoran kepada pihak pengguna jalan atau ngarit cari setoran didaerah pantura indramayu</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: obix</title>
		<link>http://harry.sufehmi.com/archives/2008-02-14-1591/#comment-96579</link>
		<dc:creator>obix</dc:creator>
		<pubDate>Sun, 24 Feb 2008 15:07:56 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://harry.sufehmi.com/archives/2008-02-14-1591/#comment-96579</guid>
		<description>Rumah di jalan. A.U S...N daerah C....E wilayah J.K-S.L seharga 4M

Baru BrigJend gitu loh..............................................................







Mohon koreksi kalo saya salah</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Rumah di jalan. A.U S&#8230;N daerah C&#8230;.E wilayah J.K-S.L seharga 4M</p>
<p>Baru BrigJend gitu loh&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;..</p>
<p>Mohon koreksi kalo saya salah</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: obix</title>
		<link>http://harry.sufehmi.com/archives/2008-02-14-1591/#comment-96578</link>
		<dc:creator>obix</dc:creator>
		<pubDate>Sun, 24 Feb 2008 15:04:49 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://harry.sufehmi.com/archives/2008-02-14-1591/#comment-96578</guid>
		<description>Rumah di jalan. A.. S.... daerah C....E wilayah J.K-S.L seharga 4M

Baru BrigJend gitu loh..............................................................







Mohon koreksi kalo saya salah</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Rumah di jalan. A.. S&#8230;. daerah C&#8230;.E wilayah J.K-S.L seharga 4M</p>
<p>Baru BrigJend gitu loh&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;..</p>
<p>Mohon koreksi kalo saya salah</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: tino</title>
		<link>http://harry.sufehmi.com/archives/2008-02-14-1591/#comment-96543</link>
		<dc:creator>tino</dc:creator>
		<pubDate>Sun, 24 Feb 2008 10:53:35 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://harry.sufehmi.com/archives/2008-02-14-1591/#comment-96543</guid>
		<description>acungan jempol buat pak kapolda,tapi jangan lupa anak buahnya yg di jalanan juga perlu di awasin,apalagi mengenai aksinya yg ngebekingin preman2 dan organisasi2 pengamanan jalanan sperti  " KOTIKAM " yg ada di wilayah kerja POLDA Jabar,sangat merugikan dunia usaha bos......</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>acungan jempol buat pak kapolda,tapi jangan lupa anak buahnya yg di jalanan juga perlu di awasin,apalagi mengenai aksinya yg ngebekingin preman2 dan organisasi2 pengamanan jalanan sperti  &#8221; KOTIKAM &#8221; yg ada di wilayah kerja POLDA Jabar,sangat merugikan dunia usaha bos&#8230;&#8230;</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: veta</title>
		<link>http://harry.sufehmi.com/archives/2008-02-14-1591/#comment-96112</link>
		<dc:creator>veta</dc:creator>
		<pubDate>Thu, 21 Feb 2008 04:39:29 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://harry.sufehmi.com/archives/2008-02-14-1591/#comment-96112</guid>
		<description>4 jempol untuk pak kapolda, denger2 kasus beside, dia langsung nyopot 2 pejabat polisi yah?</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>4 jempol untuk pak kapolda, denger2 kasus beside, dia langsung nyopot 2 pejabat polisi yah?</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: fikri</title>
		<link>http://harry.sufehmi.com/archives/2008-02-14-1591/#comment-95519</link>
		<dc:creator>fikri</dc:creator>
		<pubDate>Mon, 18 Feb 2008 13:53:27 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://harry.sufehmi.com/archives/2008-02-14-1591/#comment-95519</guid>
		<description>pesimis, hanya jual kecap!</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>pesimis, hanya jual kecap!</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Herry</title>
		<link>http://harry.sufehmi.com/archives/2008-02-14-1591/#comment-94867</link>
		<dc:creator>Herry</dc:creator>
		<pubDate>Sat, 16 Feb 2008 02:42:21 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://harry.sufehmi.com/archives/2008-02-14-1591/#comment-94867</guid>
		<description>Hal ini patut didukung oleh semua pihak. Semoga pak Kapolda dapat menjaga idealismenya dengan konsisten. Kalo sukses di Jabar  segera geser pak Kapolda ke Jakarta.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Hal ini patut didukung oleh semua pihak. Semoga pak Kapolda dapat menjaga idealismenya dengan konsisten. Kalo sukses di Jabar  segera geser pak Kapolda ke Jakarta.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
</channel>
</rss>

<!-- Dynamic Page Served (once) in 0.932 seconds -->
