Selusin Sutera dari (dan untuk) Pacarku
Saya jarang memperhatikan puisi karena sering tidak paham maksudnya. Terakhir saya mengutip puisi adalah Tuhan 9 Senti nya Taufiq Ismail.
Malam ini saya menemukan puisi ini, diposting di milis internal ISNET. Tersentuh sekali rasanya. Ada pelajaran-pelajaran hidup yang baik di dalamnya.
Terimakasih kepada mbak Eva Nukman yang telah sharing puisi ini. Mudah-mudahan saya bisa mengikuti teladannya juga.
Enjoy.
Selusin Sutera dari (dan untuk) Pacarku
sutera dariku untukmu, darimu untukku
selusin banyaknya, dari kita untuk kita
karena kau tak hanya memberi
dan aku tak cuma menerimalapisan pertama menjadi alas, lapisan kedua menjadi pondasi
sebutlah mereka saling menghargai dan saling mengerti
dan kau boleh mempertukarkannya menjadi yang kesatu atau yang keduasutera ketiga adalah kepercayaan dan kesetiaan
yang berjalin berkelindan, kait mengait
membuhul dan mengikatlapisan sutera keempat adalah dada yang lapang
untuk bersabar
untuk memaafkansutera kelima adalah dukungan
agar kau menjadi dirimu
dan aku menjadi dirikulapisan keenam adalah materi
yang darinya kita kan selamanya kekurangan jika selalu melihat ke atas dan
mengeluh
dan sebaliknya senantiasa berlimpahan jika memandang ke bawah serta
bersyukurperhatian dan kepedulian menjadi sutera ketujuh
karena kau dan aku tidak lagi hidup sendirisutera kedelapan adalah kebersamaan di dalam perbedaan
kau tidak harus menjadi aku
dan aku tidak mesti beralih serupamuyang kesembilan, kesepuluh, dan kesebelas
adalah tiga makhluk mungil nan beranjak remaja
yang merekat, mempererat, mempertebal hubungan di antara kitasutera kedua belas, haruskah kusebutkan?
ia menyelubungi, membungkus kesebelas sutera sebelumnya
yang tanpanya mereka bagai tak punya makna
dan bahkan mungkin tak kan pernah adasutera kedua belas adalah cinta
yang apinya terus menyala menghangatkan
karena kau bukan saja suamiku, dan ayah dari anak-anakku
tetapi kau juga sahabatku
serta pacarkuitulah selusin sutera darimu untukku, dariku untukmu
dari kita untuk kita
karena aku tak hanya memberi
dan kau tak cuma menerimasutera, karena dua puluh lima adalah perak dan lima puluh adalah emas
selusin, karena itulah bilangan tahun yang berlalu
sejak ayahku menggenggam tanganmu berucap ijab dan kau jawab dengan kabulselusin sutera untuk cinta kita
yang dengan Bismillah kita memulakannya
selusin sutera untuk bahtera cinta kita
yang berharap cinta-Nya
[va]untuk dia
Düsseldorf, 28.08.06
mengenang tanggal yang sama dua belas tahun lalu.

November 18th, 2008 07:26
Puisinya bagus tapi panjang banget
November 19th, 2008 04:07
what a poem, sangat indah, sama kaya diatas, panjang tapi memberikan pencerahan buat saya, makasih suhu..
thx for sharing
November 19th, 2008 08:06
pacar nya beliin buku Sutera Ungu aja mas hihihihi
:peace:
November 19th, 2008 12:42
wah puisinya buat orang udah married ya? tapi berlaku juga buat jomblo kan…yang penting bisa ngambil hikmahnya.
sama, yonna juga gak gitu ngeh ma puisi, padahal si dulu demen bgt ampe bikin segala, tapi skrg udah bosen
yonna lagi suka quotation dan wise words karena singkat, padat, dalam dan menyentuh.
suka bgt ma quotation ini (moga2 gak salah, kalo salah, intinya begitu):
“The good advantage of being married is when you fall out of him/her, the marriage will you make stay until you fall in again”
November 19th, 2008 13:45
@yonna - quotationnya sangat benar

dan sangat menyenangkan melihat pernikahan lainnya yang juga damai & bahagia seperti itu.
.
Saya kalau nonton sitcom seperti “Friends” suka terenyuh melihat mereka cuma karena tidak cocok sedikit, atau salah paham sedikit - langsung bubar.
.
Sayang euy. Pada jadi JA (jomblo abadi) semua deh
.
Kadang kita cuma perlu sedikit ruang atau waktu untuk menjernihkan pikiran. Begitu kekusutan sudah hilang, ternyata sebetulnya tidak ada masalah yang tidak bisa diselesaikan.
.
Anyway, saya juga biasanya tidak ngeh dengan puisi, karena saya prefer yang to the point.
Tapi khusus puisi yang ini, entah kenapa saya sangat tersentuh. Mungkin karena cuma selisih 2 tahun dengan umur pernikahan kami
.
Dan pada puisi tersebut, ada hikmah-hikmah yang, jika dijabarkan, bisa menjadi sebuah buku tebal. Tapi ternyata bisa diringkas oleh mbak Eva ini menjadi sebuah puisi, tanpa kehilangan maknanya. Luar biasa sekali.
.
Mudah-mudahan kita semua bisa mendapat kebahagiaan di dunia dan di akhirat ya, aminn
November 20th, 2008 13:14
@bang Harry
.
Iya setuju, puisinya mudah dicerna tapi tetep kaya bahasa
.
soal JA, yonna jadi inget tulisan Dalton Tanonaka di Weekender The Jakarta Post tentang percakapan dia ma temen Korea-nya yang prefer single available, dia bilang mending tidur bareng bantal tapi kepala gak pusing daripada tidur bareng istri tapi pusing
.
trus Dalton menjawab dengan bijak dan witty “SJ, i’d rather have headache, i still can pop some aspirins
.
hehe, bahkan orang sekelas Dalton memilih itu
November 21st, 2008 00:33
@yonna - hahaha, nyengir saya membacanya
atau pakai bis (karena parkir mobil MAHAL, haha).
asli terharu itu sang nenek, hehehe

.
Anyway, saya makin pro dengan pernikahan itu karena pengalaman pribadi. Ketika di Inggris, saya senang berjalan-jalan dengan anak-anak. Literally - kita jalan kaki kemana-mana
.
Nah, anak saya yang paling tua, Anisah, kebetulan anaknya cukup ramah. Dan dia senang / sayang dengan orang yang tua. Jadi kalau jalan-jalan itu ketemu dengan kakek/nenek, dia suka sapa. Malah, ada yang dia kasih apel
.
Jadinya yaa saya & Helen juga kadang jadi ngobrol dengan mereka. Disitu kita baru tahu penderitaan mereka — ada yang single seumur hidup. Akibatnya, ketika tua jadi sendirian. Kawan2 mereka sudah wafat semua. Dan mereka tidak punya keluarga. (1)
.
Sedih sekali mendengar cerita-cerita mereka
.
Memang senang / susah itu selalu berpasangan ya, Tinggal kita pilih saja, urutannya mau bagaimana? Kalau maunya senang duluan, ya susahnya belakangan. Seperti para kakek/nenek itu.
.
Tapi kalau kita mau susah duluan, insyaAllah senangnya belakangan.
.
Itu betul-betul pengalaman yang sangat berharga bagi saya. Sejak itu saya semakin bertekad untuk bisa mensukseskan keluarga saya ini dengan segenap kemampuan yang ada.
.
(1) ada juga yang berkeluarga dan mempunyai anak — tapi kemudian dia tidak mendidik anaknya dengan benar. Alhasil, setelah dewasa maka dia dicampakkan oleh anaknya. Ini lebih kasihan lagi
November 21st, 2008 09:17
Serius bang, saya awalnya ngirain sutra itu ******. yah, ternyata pikiran kotor masih sering melekat, padahal itu kan menyentuh banget isinya. Don’t judge the poem from the title!
November 21st, 2008 10:55
@bang Harry

pasti Mama seneng banget ada orang yang ngomong gini dan bilang magic words ala Mama-mama “I-told-you” hehe
.
Iya Mama juga rajin dan gak bosen nasihatin Yonna soal menikah dan berkeluarga. Karena jaman dulu Yonna termasuk tukang pilih-pilih
.
Ucapan Mama: Hidup pasti penuh masalah, kalo udah mati baru gak ketemu masalah…duniawi tapinya. Kalo pusing ngadepin laki2 yang egois, pantang kalah, gak mau denger, dll itu mending gak usah diambil hati dan jangan dibuat stres. Daripada sendirian, ntar Mama udah gak ada, abang-kakak udah sibuk ma keluarganya masing2, I’ll be alone and lonely in my old age. Na’udzubillah.
.
Mario Teguh juga bilang “Lebih baik punya seseorang untuk diajak bertengkar daripada tidak punya siapa-siapa untuk diajak bertengkar” Nasihat yang simpel, manis, bikin senyum dan merenung.
.
Paragraf terakhir : Na’udzubillah. Makanya Mama selalu mengingatkan Yonna untuk fokus ma keluarga dan kerjaan. Jangan sampe salah mendidik dan gak merhatiin Syira. Pokoknya, Senin-Jumat : momong dokumen, Sabtu-Minggu : Insyira’s days. Bener banget tuh, can’t complain deh. Makanya gak bisa sering2 datang ke acara kumpul bareng temen2 meski mereka gak bosen ngajakin Yonna dan suggest “bawa aja anak lo, bawa Syira, kita ngumpul bareng elo dan suami, dst”. Emang fully booked hehe
.
Still have a long way to go…baru tiga tahun soalnya