SEObox: Web Hosting Murah Unlimited Homeschooling Indonesia

Archive for August 19th, 2008

Games: Teknologi tanpa guna ?

Demikian istilah yang disebutkan oleh kawan saya di milis internal ISNET. Ybs mengaku malu-malu suka main game, walaupun (menurutnya) games itu adalah “teknologi tanpa guna”.

Menarik sekali, karena selama 18 tahun bersentuhan dengan berbagai games di komputer, kadang yang saya saksikan tidak selalu demikian.

Terlampir adalah kutipan dari balasan email saya kepada ybs. Selamat menikmati.

> adapula teknologi tanpa guna (games :D ).

Eh jangan salah, games juga bisa bermanfaat :)

Contoh; flight simulators - tadinya berupa perangkat keras khusus yang harganya sangat mahal. Sekarang? Sudah ada yang gratis, seperti http://flightgear.org, dan kualitasnya juga sangat bagus.

FPS (first-person shooter) games juga dimanfaatkan oleh tentara di berbagai negara untuk melatih pasukan mereka. America’s Army dibagikan gratis untuk proses rekruitmen. Dst.

Dulu ada games yang dibuat berkolaborasi dengan Harvard, untuk melatih / simulasi bisnis.

Saya sendiri jadi bisa berbahasa Inggris sejak SMP gara-gara banyak bermain games adventure :) king’s quest, larry, dst. Karena pada game-game tersebut, kita musti memberikan berbagai instruksi kepada tokoh di game tersebut dengan kalimat-kalimat dalam b.Inggris (bukan cuma sekedar klik-klik-klik). Kamus Indonesia - Inggris jadinya selalu teronggok di sebelah komputer saya.

Dan, banyak terobosan di bidang IT dimulai oleh berbagai games, karena nyaris semua komponen komputer di eksploitasi oleh games. Jarang ada aplikasi komputer lainnya yang betul-betul memanfaatkan seluruh komponen komputer secara maksimal. Pada games, ada penerapan matematika tingkat tinggi (fast fourier transforms, penerapan dunia virtual 3D pada komputer dengan spec minim sekalipun, floating point computation secara optimal, dst), optimisasi jaringan secara efisien (old-school gamers mungkin masih ingat terobosan2 seperti Quakeworld dst), dst.
Karena itu, para pakar game engines, seperti John Carmack, banyak menjadi perhatian para praktisi IT.

Yang berikut ini mungkin akan menarik untuk kawan-kawan dari institiusi pendidikan / riset : superkomputer murah berkat teknologi (yang awalnya digunakan untuk) game.
Akselerator 3D, yang tadinya harganya bisa mencapai puluhan ribu dolar di workstation mahal seperti SGI, kemudian muncul consumer-version nya di PC dimulai dari 3Dfx Voodoo series, sehingga harganya drop menjadi beberapa ratus dolar. Kini akselerator 3D tersebut jadi bisa dimanfaatkan bahkan untuk membuat superkomputer sekalipun. Supercomputer FASTRA dengan 8 GPU cores di Univ Antwerp punya performa yang setara dengan 350 cores. Harganya juga hanya 4000 Euro, padahal sebelumnya mereka membeli superkomputer CalcUA seharga 3,5 juta Euro yang performanya kalah dari FASTRA ini.
Detail lebih lanjut bisa dibaca di http://fastra.ua.ac.be/en/index.html dan http://www.dvhardware.net/article27538.html

Univ Stanford juga sudah memanfaatkannya untuk riset mengenai protein. Detailnya bisa dibaca disini.

Games juga cenderung menjadi pionir pada topik HCI (Human-Computer Interface/Interaction).
Virtual 3D glasses (Eye3D, dll), eye trackers, dst. Yang terbaru sekarang adalah Nintendo Wii, kita bisa mengakses tokoh di game dengan menggerakkan anggota tubuh kita. Saya sampai ketawa terpingkal-pingkal melihat anak-anak saya main bowling dan tenis melawan kakeknya. Seru sekali. Yang menang kadang malah ayah saya, ha ha. Tapi lebih lucu lagi melihat respons anak-anak itu, mereka melihat ke kakeknya dengan bangga & kagum. Hebat lho kakek mereka jago main game. Ayah saya GR berat jadinya :)
Nintendo Wii Fit membuat kita jadi berolah raga sambil bermain game. Ada lagi controller Nintendo Wii yang seperti pedang, kita ayun-ayunkan untuk menebas monster-monster di game ybs. Dst.

Tambahan : (tidak ada di email aslinya)

Games, ketika didesain dan dimanfaatkan dengan tepat, bisa membawa banyak manfaat. Bahkan untuk tujuan pendidikan pun juga bisa.

Selamat bermain games dengan bijak :)

Salam,
Harry