Translate this page :

Masalah Tenaga Kerja

Seorang kawan saya di Inggris mengeluhkan beberapa masalah di Indonesia, seperti perbudakan manusia / human trafficking. Ini masalah yang sangat serius. Juga disebut soal mengenai perbudakan anak-anak, dst. Tidak ada perbedaan pendapat disini. Human trafficking adalah salah satu kejahatan yang paling keji.

Kemudian soal tersebut dilanjutkan mengenai penerapan gaji minimum (UMR : upah minimum regional) di banyak perusahaan.
Nah, saya pikir ini adalah hal yang sudah berbeda jauh. Tidak bisa disamakan sama sekali dengan perbudakan manusia.

Misalnya, di banyak kasus, seringkali UMR merupakan kebutuhan untuk kelangsungan bisnis itu sendiri.
Contoh: pada sebuah usaha yang baru dimulai, tentu sulit untuk langsung bisa menggaji pegawainya dengan tinggi. Bisa-bisa justru bisnis tersebut kolaps sebelum sempat berkembang.
Dan jika usaha tersebut kolaps, maka yang rugi tentu para pegawai sendiri, yang jadi kehilangan sumber nafkahnya.

Investor biasanya tidak terlalu masalah – dia masih bisa mencoba usaha lainnya lagi di tempat yang berbeda. Tapi bagi para pegawainya, di zaman krisis seperti ini, belum tentu akan langsung bisa mendapatkan pekerjaan lagi.
Ada banyak orang lulusan S1 ataupun S2 sekalipun yang tetap saja tidak berhasil mendapatkan pekerjaan untuk menafkahi keluarga mereka.

Ini hanya satu contoh saja dari berbagai kasus.
Di satu sisi, memang ada banyak pengusaha jahat yang mengeksploitasi manusia. Misalnya kita bisa search “nike sweatshop” di Google, dan salah satu yang bisa kita temukan adalah video dokumentasi kasus tersebut di Indonesia.
Namun, di sisi lain, masih ada juga pengusaha yang mau berusaha membuka lapangan pekerjaan yang jujur / halal, dan peduli dengan para pegawainya.
Sekedar melihat masalah secara sepotong-sepotong, seperti UMR, pegawai kontrak, dst; itu bisa menjadikan kita keliru dalam menyimpulkan suatu masalah. Yang baik bisa jadi kita kira jahat, dan yang jahat jadi bisa bebas melakukan berbagai kejahatannya.

Anyway, terlampir adalah cuplikan reply saya kepada ybs via Facebook. Semoga bisa bermanfaat untuk memperluas wawasan kita semua, dan saya sendiri, dalam topik ini.

Soal gaji minimum — ini juga terjadi di Inggris. Kebetulan saya ikut bergabung di UNISON, serikat pekerja terbesar di UK.
Dan mereka rutin memprotes soal ini.

Tapi setelah diperhatikan lagi, ada beberapa hal yang tidak diangkat oleh UNISON ini :

(1) Performa pekerja : salah satu kolega saya dulu adalah “slacker” – dia tidak mengerjakan tugas-tugasnya (kewajibannya). Namun, dia sangat gigih menuntut haknya.

Ini saya kira juga tidak adil. Dan, kita SEMUA yang kena getahnya – termasuk pekerja lainnya.
Pada kasus saya, pekerjaan ybs jadi terpaksa dikerjakan oleh saya dan kawan2 yang lainnya.

(2) Sifat bisnis : adalah meminimalkan cost, karena (antara lain) untuk mengantisipasi resiko yang tidak bisa diduga.
Saya kira Anda sebagai pelaku bisnis juga sudah sangat paham soal ini.

Pada setiap bisnis, perlu ada pengembangan, karena yang jalan di tempat cenderung akan kena seleksi alam dan punah. Dan tentu pekerja juga yang akan rugi karena lenyap pekerjaannya.

Untuk pengembangan bisnis untuk kelangsungan bisnis ini sendiri, perlu biaya. Perlu ada reserve/cadangan yang bisa dimanfaatkan untuk tujuan ini.

Saya pernah diskusi dengan adik saya soal ini. Dia bertanya kepada saya, apakah salah jika kita menggaji pekerja kita dengan standar UMR (Upah Minimum Regional) ?

Saya bilang, tidak selalu salah.
Misalnya, pada kasus ketika pekerja tidak berprestasi (ref: poin 1 diatas). Kedua, untuk kelangsungan bisnis itu sendiri juga. Jika pegawai digaji tinggi, tapi kemudian karena itu bisnis jadi kolaps, tentu kasihan mereka juga.

Nah untungnya di dalam Islam ada solusinya, yaitu bagi hasil. Jadi, pegawai kami mungkin gajinya UMR, namun yang berprestasi akan tetap betah bekerja di perusahaan kami. Banyak yang seumur hidupnya menjadi pegawai kami, karena kami berbagi hasil profit kami dengan mereka.

Sekilas dilihat gaji mereka UMR – tapi mereka bisa membeli rumah (ada yang tingkat dua pula), mobil, malah ada yang bisa membuat usaha sendiri lagi (toko, angkot, dst) — dan tetap menjadi pegawai kami.

Kembali ke soal gaji minimum — di Inggris ini tidak terlalu masalah, karena ada jaring sosial – social security.
Bagi yang pemasukannya kurang, akan dibantu oleh negara.

Juga berbagai fasilitas / kebutuhan dasar disediakan oleh negara.
Sekolah? gratis. Rumah sakit? gratis. Rumah? bisa gratis juga – banyak kawan saya yang tinggal di council housing. Makanan? ada berbagai skema subsidi seperti children benefit, dll.

Jadinya adil – walaupun bisnis menggaji UMR, tapi mereka membayar pajak; yang kemudian disalurkan oleh negara kepada yang membutuhkannya.

Ini yang tidak ada di Indonesia.
Gaji pegawai UMR, lalu ya sudah. Musti bisa hidup dari situ.
Sialnya lagi, media massa & masyarakat malah mengajarkan gaya hidup hedonistic. Spend more, and more, and more. (**)
Budaya kartu kredit mulai merebak untuk mendukungnya. Mulai bermunculan kasus seperti orang bergaji Rp 2 juta namun hutang kartu kreditnya mencapai Rp 100 juta, dst.

Anyway, berbagai pengusaha jujur yang jadi kena getahnya — dituduh zalim karena menggaji UMR.
Padahal ybs masih ada banyak biaya-biaya lainnya : membayar pajak lagi, yang penyalurannya wallahua’lam kalau di Indonesia; pajak bangunan, pajak ini, pajak itu, biaya2 siluman, dst.

Ada juga banyak pengusaha yang menggaji minimum DAN memperlakukan pegawainya dengan tidak manusiawi. Misalnya; search “nike sweatshop” di Google, biasanya akan ketemu video dokumenter tentang kondisi kerja di berbagai pabrik Nike di Indonesia — dimana para pekerjanya bahkan tidak boleh untuk sekedar ke toilet, dst.
Tapi sayang sekali jika semua yang menerapkan gaji minimum jadi dikira zalim semua seperti para penjahat ini, seperti yang dikira oleh adik saya dulu.

Adakalanya kadang gaji minimum itu perlu untuk kebaikan pegawai itu sendiri. Seperti paradox ya? Tapi seperti yang sudah saya jelaskan diatas, untuk beberapa kasus itu sangat masuk akal.
Dan, dalam Islam ada berbagai skema untuk tetap membuat situasinya menjadi adil. Jadi, sekedar melihat sepotong-potong (seperti UMR, pegawai kontrak, dst) itu kadang membuat kita keliru dalam mensikapi sesuatu. Kita perlu lihat situasinya secara lebih lengkap terlebih dahulu.

Sekarang tinggal berharap agar negara juga bisa turut urun rembuk dalam hal kesejahteraan pegawai ini.
Mudah-mudahan pemerintah Indonesia masa jabatan 2009 – 2014 mau lebih memperhatikan soal social security ini, amin.

(**) Perusahaan kami menerapkan berbagai skema untuk membantu meningkatkan kualitas hidup pada pegawai kami. Salah satunya adalah tabungan pegawai — beberapa pegawai kadang mengalami kesulitan dalam me manage keuangannya. Setiap gajian selalu ludes tidak bersisa, terpakai untuk hal-hal yang tidak perlu.
Akibatnya selain ybs & keluarga tidak bahagia, performanya di kantor juga menurun.

Untuk pegawai yang membutuhkannya, misalnya seperti pada kasus diatas, gaji mereka sebagian kami langsung tabungkan.
Jika mereka betul-betul memerlukannya, kemudian baru diberikan.

Sekilas mungkin terkesan kejam, namun sekarang mereka sudah mulai menikmati hasilnya. Misalnya, ada salah satu supir kami yang sekarang sudah punya rumah sendiri, kendaraan, anak tiga, dan hidupnya senang.
Ya, supir kami sudah memiliki rumah sendiri. Padahal sebelumnya gajinya ludes terus tidak bersisa, rumah kontrakan, dst.
Bisa ditebak dengan mudah bahwa sampai saat ini ybs terus bekerja sebagai supir di perusahaan kami.

Dan berbagai skema lainnya – dana beasiswa untuk anak-anak pegawai yang berprestasi, dst.

Diskusi dengan kawan saya tersebut kemudian berlanjut. Salah satu komentarnya yang menarik adalah soal “pemerataan pendapatan”. Saya kemudian berkomentar sebagai berikut :

pemerataan pendapatan
—–

Tujuan ini saya kira kurang feasibel.
Di zaman Nabi saw saja tetap ada yang kaya & miskin.

Yang lebih feasible saya kira adalah meningkatkan kualitas hidup.

Jadi, baik kaya maupun miskin, tidak masalah. Tetap saja bisa hidup dengan bahagia.
Nah, ini adalah yang sangat bisa dicapai dengan menerapkan berbagai ajaran Islam dengan benar.

Bagi yang mungkin kurang kenal dengan berbagai prinsip Islam dalam soal kehidupan, saya akan coba jelaskan dengan ringkas.

Islam menekankan pada kebahagiaan batin. Dalam Al-Quran disebutkan bahwa yang akan masuk surga adalah orang-orang yang tenang & bahagia jiwanya; “nafs al-muthmainnah“.
Islam tidak melarang orang menjadi kaya, faktanya beberapa sahabat Nabi adalah orang-orang terkaya di zamannya. Namun, Islam mengajarkan bahwa manusia, siapa saja, bisa berbahagia terlepas dari status finansialnya. Miskin maupun kaya, semuanya bisa bahagia. Karena kebahagiaan itu adanya di pikiran dan di hati.

Dengan disiplin mental yang tepat, maka dalam situasi apapun, siapa saja bisa tetap bahagia. Ini yang diajarkan oleh Islam. Dan ini saya kira jauh lebih feasibel daripada berusaha menyamaratakan pendapatan semua orang – dimana situasi ini kalaupun berhasil tercapai, juga tetap belum menjamin bahwa semua orang pasti akan bahagia.

Wow sudah hampir jam 12 malam. Oke selamat tidur dulu. Semoga sedikit coret-coretan saya ini bisa bermanfaat bagi Anda sekalian.

494 Responses to “Masalah Tenaga Kerja

Leave a Reply

 

Subscribe without commenting

            








SEObox: Web Hosting Murah Unlimited Komik Indonesia Homeschooling Indonesia