Translate this page :

Prinsip / Filosofi Pendidikan Anak

(posting ini adalah bagian dari tantangan #blog31hari)

Dalam beberapa hari ini, saya akan mencoba berbagi berbagai tips & perspektif dalam proses pendidikan anak. Anak-anak kita adalah anugrah dari Yang Maha Kuasa. Anugrah itu bisa menjadi berkah – namun, jika keliru ditangani, bisa juga menjadi bencana.
Disinilah pentingnya kita memahami berbagai metode & cara mendidik anak yang benar.

Sebelum mulai melakukannya, kita perlu memahami berbagai prinsip / filosofinya terlebih dahulu.
Sebagaimana setiap bangunan memerlukan pondasi yang kuat & benar; demikian dulu dalam mendidik anak. Tanpa pondasi yang kokoh, maka kita & anak akan mengalami goncangan & kesulitan di sepanjang jalannya.

Filosofi dalam pendidikan anak adalah sebagai berikut :

  1. Sepakati Prinsip Dasar dengan pasangan Anda :

    Proses pengasuhan anak tidak Anda lakukan sendirian – namun bersama-sama dengan pasangan Anda. Karena itu, sepanjang jalannya pasti ada saja perbedaan paham / pendapat dalam berbagai situasi & kondisi. Dan ini semua adalah wajar, karena kita manusia, dan setiap manusia itu unik.

    Namun, Anda & pasangan adalah satu tim. Dan sebuah tim harus selalu kompak, jika ingin bisa sukses meraih berbagai tujuan-tujuannya.

    Untuk itu, perlu ada kesepakatan antara Anda berdua mengenai pendidikan anak ini. Sehingga, ketika ada perbedaan pendapat, maka bisa dikembalikan kepada kesepakatan tersebut untuk solusinya.

    Contoh:
    (1) dalam mendidik anak, kami akan merujuk kepada ajaran Agama kami, dan/atau
    (2) dalam mendidik anak, kami akan merujuk kepada buku XXXX, dan/atau
    (3) dalam mendidik anak, kami akan merujuk kepada artikel ini, dan/atau
    (4) dst

    Dengan adanya kesepakatan mengenai prinsip-prinsip / pedoman dasar dalam mendidik anak, maka semua masalah di masa depan akan bisa dicarikan solusinya dengan mudah.

  2. Untuk Kebaikan Anak – bukan gengsi orang tua:

    Sebagai orang tua yang telah banyak berkorban bagi anaknya, mungkin Anda merasa berhak untuk menuntut ini-itu kepada anak-anak Anda. Dan itu sah-sah saja – dengan syarat yaitu bahwa tuntutan tersebut adalah demi kebaikan Anak itu sendiri. BUKAN untuk gengsi / kepentingan Anda pribadi.

    Contoh :
    SALAH : “Anindra, kamu musti belajar yang rajin ya, supaya jadi juara – dan tidak memalukan orang tua!”
    BENAR : “Anindra, kamu musti belajar yang rajin ya, syukur-syukur kamu bisa jadi juara – dan jadi mudah untuk masuk fakultas yang kamu inginkan”

    SALAH : “Kamu jangan berkelahi melulu di sekolah! Bikin malu ayah saja !!!”
    BENAR : “Kamu jangan berkelahi di sekolah kalau bukan membela diri. Masa depan kamu akan suram kalau kamu cuma bisa mengandalkan otot saja, kesian kan?”

    Dst – cukup jelas kan? Dan mungkin malah beberapa kita pernah mengalami insiden seperti tertulis diatas. Tidak apa, yang penting adalah kita jangan mengulanginya kepada anak kita. Kita usahakan agar mereka bisa mendapatkan yang terbaik untuk kehidupan mereka.

  3. Utamakan Membimbing – bukan mendikte :

    Adakalanya kita perlu mendikte anak – misalnya: ketika dia ingin bermain api, padahal jelas itu berbahaya. Namun, untuk anak yang sudah bisa berkomunikasi dengan kita (misal: 5 tahun ke atas), amat lebih baik jika kita berfungsi sebagai pembimbing saja.

    Setiap anak kita adalah makhluk yang unik. Dan masing-masing memiliki kehendaknya sendiri-sendiri. Amat baik jika mereka bisa menjalani hidup ini sesuai dengan keinginannya.
    Jadi kita cukup memberikan masukan-masukan kepada anak. Sedangkan pilihannya kita serahkan kepada dia.

    Jangan takut mereka jadi terluka di sepanjang jalannya. Karena kalah atau gagal adalah hanya keberhasilan yang tertunda, dan pengalaman / guru yang terbaik bagi mereka.
    Jika mereka jatuh – tidak apa, dan ajari mereka untuk bangkit kembali.

    Contoh :
    “Susan, dari hasil psikotes kamu katanya cocok di jurusan kedokteran atau jurusan arsitektur. Jika kamu pilih kedokteran maka kelebihannya adalah blablabla, tapi masalahnya adalah blablabla. Jika kamu pilih arsitektur, maka kelebihannya adalah blablabla, dan kekurangannya adalah blablabla. Nah, Mama sudah jelaskan, sekarang terserah kamu ingin pilih yang mana.

    “Deni, setahu Papa, Anita itu masih ingin berkarir. Jika kamu memilih dia, maka kamu akan menyusahkan hatinya, dan mungkin dia tidak akan tenang dalam perkawinan ini. Sedangkan Prita memang sudah siap, namun sifatnya masih agak kekanak-kanakan. Kamu musti sabar dalam menghadapinya. Nah, Papa sudah jelaskan, sekarang terserah kamu”

    Dst, dst.

    Sekali lagi – utamakan membimbing, namun tentu saja, pada kasus-kasus yang bisa sangat merugikan anak, Anda tetap boleh mendiktenya. Karena tujuan Anda adalah untuk kebaikan anak itu sendiri (lihat poin diatas).

  4. Fokus Pada Proses – bukan hasil :

    Ketika semua daya & upaya telah kita curahkan, ternyata hasilnya meleset dari harapan kita. Si buah hati harapan orang tuanya ternyata malah menjadi preman yang berandalan. Lalu kita menjadi depresi.

    Ini yang akan terjadi jika kita fokus kepada hasil – dan bukan pada prosesnya.

    Seharusnya kita fokus pada prosesnya – sepanjang jalan kita berusaha melakukan yang terbaik untuk anak, sekuat tenaga kita. Dan lalu hasilnya kita serahkan kepada yang Maha Kuasa.

    Jangankan kita, anak para Nabi saja ada yang menjadi penjahat. Padahal tentu mereka jauh lebih mampu daripada kita dalam mendidik anak-anaknya.

    Maka, jika ternyata hasilnya berbeda dari harapan kita, tidak masalah, kita bisa tenang & damai dengan diri kita sendiri – karena kita TAHU bahwa kita telah mencurahkan semua yang kita bisa. Dan hasil ini adalah sesuatu yang sudah benar-benar di luar kemampuan kita.
    Sehingga kemudian kita tidak terpaku & tersentak, namun bisa kembali fokus kepada masalah yang ada – mengapa (anak menjadi begini), dan bagaimana (solusinya).

Demikian beberapa filosofi dasar dalam pendidikan anak. Semoga bermanfaat.

191 Responses to “Prinsip / Filosofi Pendidikan Anak

Leave a Reply

 

Subscribe without commenting

            








SEObox: Web Hosting Murah Unlimited Komik Indonesia Homeschooling Indonesia