Translate this page :

Masalah Transportasi di Jakarta

Lagi blogwalking, tiba-tiba menemukan posting yang membahas mengenai masalah transportasi di Jakarta. Ketik komentar – lho, kok malah jadi seperti posting artikel blog ya 😀 panjang banget, hehe.

Terlampir adalah komentar saya tersebut, yang aslinya diposting disini .

Semoga bermanfaat.


Tahun 2002, New Delhi (India) sudah memiliki MRT (Mass Rapid Transport system) sebanyak 4 jalur.
Padahal, kotanya lebih lengang daripada Jakarta.

Jakarta ? Baru survei 🙁
Selesainya entah kapan, kalau tidak salah, 2020 untuk jalur pertama (Lebak Bulus – Kota)

Ya, sudah terlambat. Sudah terlanjur deadlock duluan.

Untuk perspektif :

NEGARA Malaysia : 28 juta penduduk
Kota Jakarta : 24 juta penduduk
(ref: Wikipedia)

Jakarta sudah SANGAT amat terlambat memiliki MRT. Seharusnya, kalau menilik contoh New Delhi, kita sudah memiliki MRT dari SEBELUM tahun 2000.

Menilik daftar Gubernur Jakarta selama ini (1), berarti ini eksklusif adalah kesalahan pasangan Sutiyoso & Fauzi Bowo.

Kenapa MRT ?

Karena hanya MRT yang mempunyai cukup kapasitas untuk memenuhi kebutuhan transportasi kota Megapolitan seperti Jakarta.

Per jalur MRT memiliki kapasitas 50.000 / penumpang / jam.
Jadi, setiap jalur MRT akan bisa melayani sekitar 500.000 penumpang / hari.

Ini JAUH diatas solusi lainnya. SELURUH jalur Busway yang ada baru hanya bisa melayani 200 ribu penumpang / hari (2). SANGAT sedikit dibawah kapasitas bahkan 1 jalur MRT.

Padahal, Singapura saja sudah memiliki 4 jalur MRT.

Dan, Busway memiliki banyak masalah yang tidak ditangani dengan benar. Kita sudah coba sendiri, seperti halte yang sangat tidak nyaman, sesak. Bis yang entah kapan muncul & selalu penuh, dst.
Masalah ini tidak ada pada MRT, seperti yang sudah saya coba di Singapura & London.

Solusi selain MRT – busway, monorail, dll – hanya akal-akalan & permainan saja; karena TIDAK akan mencukupi kebutuhan transportasi penduduk Megapolitan Jakarta, yaitu 17.500.000 penumpang / hari (2).

Setelah MRT

Setelah adanya MRT, yang didukung oleh jaringan transportasi publik yang baik & nyaman (Park & Ride, jalur transportasi dari kota-kota satelit, Hilangkan sistim Setoran, dst), maka otomatis pengguna mobil pribadi akan beralih ke transportasi publik.

Saya sendiri ketika sedang bekerja di luar negeri lebih sering menggunakan transportasi publik.
Karena nyaman, biayanya terjangkau, dan tepat waktu.
Sejak 2002, saya juga rutin ke kantor menggunakan sepeda, di jalur khusus sepeda yang disediakan di waterway Birmingham. Padahal, saya memiliki sebuah MPV / mobil ukuran cukup besar.

Jakarta butuh solusi transportasi PUBLIK yang MASSAL & berkapasitas besar. Bukan yang ecek-ecek / kecil-kecilan seperti Busway & Monorail.

Oh ya, beberapa hari yang lalu, ketika sedang terjebak macet di Mampang, saya lihat mobil HUMMER di sebelah saya plat nya adalah “B16 70SO”, dan ada stiker “Granat / Gerakan Anti Narkotika”

Apakah ini mobilnya Sutiyoso ? Jika ya, berarti dia sudah menikmati warisannya sendiri – macet total di Jakarta, bersama saya ketika itu 🙂

Maaf jadi panjang lebar disini 🙂

(1) http://id.wikipedia.org/wiki/Daftar_Gubernur_Jakarta

(2) http://www.ylki.or.id/Articles/view/smart-card-dan-pemiskinan-rakyat

362 Responses to “Masalah Transportasi di Jakarta

Leave a Reply

 

Subscribe without commenting

            








SEObox: Web Hosting Murah Unlimited Komik Indonesia Homeschooling Indonesia