Translate this page :

Selamat Tinggal, Facebook

Di akhir bulan Ramadhan kemarin, saya memutuskan untuk menutup (deactivate) account saya di Facebook.
Pada saat ini, tentu saja tindakan tersebut dilihat sebagai suatu hal yang aneh. Banyak yang bingung & mempertanyakannya kepada saya.

Alasannya ada banyak, yaitu karena berbagai problem di seputar Facebook itu sendiri. Setelah lama mengalaminya, maka akhirnya saya putuskan untuk berhenti / menutup account saya di Facebook tsb : http://facebook.com/sufehmi.
Beberapa kawan lainnya juga sudah menyuarakan ketidak sukaan mereka dengan masalah-masalah seputar Facebook.

Apa saja masalah-masalah tersebut ?

MASALAH-MASALAH DI FACEBOOK

  1. Invisible / tidak muncul di Search Engine : Saya sudah menulis di blog saya sejak tahun 2001. Karena saya senang berbagi apa yang saya ketahui dengan siapa saja. Dan tulisan-tulisan tersebut pun bebas untuk dipublikasikan ulang dimana saja (selama diberikan credit/acknowledgement)

    Bayangkan bagaimana kagetnya saya ketika menyadari bahwa posting-posting saya di Facebook ternyata tidak muncul di search engine, seperti Google.
    Padahal, privacy levelnya sudah di set ke “Public”. Alhasil, jadinya tidak banyak yang bisa menarik manfaat dari berbagai tulisan saya di Facebook.

    Ini karena sifat Facebook adalah seperti “blackhole”. Dia menyedot semua orang & informasi ke dalamnya, tapi yang sudah berada di dalam kemudian sulit untuk bisa diakses dari luar Facebook. Dengan cara ini, maka Facebook jadi tumbuh besar dengan kecepatan yang cukup fenomenal.

    Seperti Internet di dalam Internet. Tapi Internet yang didalamnya ini, Facebook, bersifat tertutup, menutup diri dari Internet di luarnya.

    Saya tidak senang dengan cara-cara seperti ini. Ini adalah tulisan & konten saya, bukan milik Facebook. Saya berhak untuk membaginya dengan siapa saja yang saya inginkan. Saya membuatnya bukan untuk digunakan dengan semau Facebook.

    Maka mulai sekarang saya akan berhenti menambah konten saya di Facebook, dan akan mulai untuk memindahkannya satu per satu ke blog saya.

    (*) Catatan: ada beberapa jenis konten yang bisa diakses dari luar Facebook dengan bebas / tanpa login. Contoh: notes & pages yang di set Public.

  2. Too much noise / junk : istilah para engineer adalah, “bad signal-to-noise ratio“. Pada saat ini di Facebook, sudah terlalu banyak konten sampah. Saya bisa browsing ratusan posting dalam waktu beberapa menit, dan hanya ada beberapa saja yang bermanfaat.

    Ini kontras total dengan Google Plus. Mayoritas posting yang muncul di stream Google Plus saya mengandung informasi yang sangat bermanfaat.

    Hal ini adalah karena prinsip Facebook, yaitu “consumption of content”. Kita didorong untuk “mengkonsumsi” konten sebanyak-banyaknya, apapun konten itu πŸ™‚ Karena ini jadi meningkatkan nilai Facebook ke para pemasang iklan & partner bisnis mereka yang lainnya juga.
    Facebook juga membatalkan rencananya memasang tombol “Dislike”, karena tombol Dislike ini bisa mengurangi tingkat konsumsi konten di Facebook.

    Google Plus konsisten dengan konsepnya, yaitu berusaha memberikan kontrol semaksimal mungkin ke tangan kita. Dengan fitur “Circles”-nya, maka kita jadi bisa mengatur sumber konten yang kita inginkan.

    Bisa Anda coba sendiri dengan membuka halaman depan Google Plus.
    Perhatikan bahwa di sebelah kiri atas ada 4 tombol, yaitu “All”, “Friends”, “Family”, dan “More” – dimana tombol-tombol tersebut akan menampilkan hanya konten di Circles / kelompok tersebut saja. Mudah sekali.

    Sebenarnya dulu Facebook juga punya fitur serupa, mungkin masih ada yang ingat, yaitu “Lists”. Namun kini entah kenapa fitur tersebut pelan-pelan sudah lenyap dari muka Facebook….

    Facebook : “Content Consumption Is King”.
    Google Plus : (Quality) “Content Is King”.

    Nampaknya kira-kira demikian satu lagi perbedaan Facebook dengan Google Plus. Dan tentu saja saya akan pilih yang lebih menguntungkan diri saya sendiri.

  3. Privacy problems : untuk hal ini, soal privacy kita & perlindungannya, track record Facebook jauh lebih buruk dibandingkan dengan Google Plus. Dari catatan FTC, jadi jelas bahwa bagi Facebook, privacy kita tidak dihargai.

    Dikutip dari http://www.ftc.gov/opa/2011/11/privacysettlement.shtm :

    # In December 2009, Facebook changed its website so certain information that users may have designated as private – such as their Friends List – was made public. They didn’t warn users that this change was coming, or get their approval in advance.

    # Facebook represented that third-party apps that users’ installed would have access only to user information that they needed to operate. In fact, the apps could access nearly all of users’ personal data – data the apps didn’t need.

    # Facebook told users they could restrict sharing of data to limited audiences – for example with “Friends Only.” In fact, selecting “Friends Only” did not prevent their information from being shared with third-party applications their friends used.

    # Facebook had a “Verified Apps” program & claimed it certified the security of participating apps. It didn’t.

    # Facebook promised users that it would not share their personal information with advertisers. It did.

    # Facebook claimed that it complied with the U.S.- EU Safe Harbor Framework that governs data transfer between the U.S. and the European Union. It didn’t.

    # Facebook claimed that when users deactivated or deleted their accounts, their photos and videos would be inaccessible. But Facebook allowed access to the content, even after users had deactivated or deleted their accounts.

    Sangat keterlaluan sekali. Apalagi poin yang terakhir — ternyata konten milik kita tetap disimpan & dibukakan oleh Facebook, bahkan setelah kita menutup / menghapus account kita πŸ™

    Dan setelah kena hukum oleh FTC ini pun tetap saja Facebook tidak berubah. Misal: mungkin sebagian kita masih ingat ketika tiba-tiba alamat email di halaman Profile kita di Facebook mendadak berubah menjadi alamat email di Facebook, contoh: sufehmii@facebook.com.

    Tanpa izin atau bahkan sekedar pemberitahuan sama sekali, dengan seenaknya Facebook mengubah halaman profile pribadi kita.

    Saya merasa sudah cukup muak diperlakukan seenaknya oleh Facebook. No more.

  4. Security : dalam soal ini, lagi-lagi sejarah Facebook cukup buruk dibandingkan dengan Google Plus. Bahkan sampai foto pribadi Mark Zuckerberg sendiri pun sampai sempat bocor di Internet karenanya.
  5. Sulit mengambil data milik kita sendiri : Facebook menyediakan fasilitas agar kita bisa mendownload seluruh data & konten kita yang ada di Facebook. Namun, proses downloadnya tidak lancar & sulit, seperti yang dialami juga oleh seorang kawan. Ukurannya besar, dan proses downloadnya lambat. Terkesan bahwa ini, akses ke data milik kita sendiri, bukanlah prioritas bagi Facebook.

    Di Google Plus adalah kebalikannya. Dengan gagah, Google mencantumkan menu berjudulkan “Data Liberation“. Dari menu ini, kita bisa dengan mudah men download data-data milik kita sendiri.
    Salut sekali untuk Google atas legowonya.

Menilik semua problem ini, maka saya memutuskan untuk menutup account saya di Facebook.

APA YANG TERJADI ?

Well…tiba-tiba account saya aktif kembali di sekitar pertengahan bulan September πŸ™‚
Saya bingung ketika menerima kembali notifikasi via email, seputar berbagai aktifitas kawan-kawan saya di Facebook.

Diskusi mengenai hal ini akhirnya tidak juga memberikan kepastian, karena ada beberapa kemungkinan penyebabnya. Di lain sisi, Facebook memang sudah dihukum oleh FTC karena hal ini (account yang sudah non-aktif ternyata tetap dihidupkan oleh Facebook)

BAGAIMANA SELANJUTNYA ?

Setelah menimbang beberapa hal, seperti posisi saya sebagai Admin di beberapa group & pages, maka saat ini saya belum bisa langsung meinggalkan Facebook. Maka saya akan lakukan beberapa hal berikut ini :

  • Berhenti posting konten di Facebook, kecuali link ke artikel blog saya.
  • Menggunakan Facebook sebagai sarana komunikasi. (message / chat)
  • Mulai memindahkan konten-konten yang sudah telanjur ada di Facebook ke blog saya.
  • Terakhir, setelah semua ini selesai (pemindahan konten & delegasi administrasi group/page), maka saya bisa menutup account Facebook ini.

Selamat tinggal Facebook. Selamat datang Google Plus πŸ™‚

Merdeka ! πŸ˜€

194 Responses to “Selamat Tinggal, Facebook

Leave a Reply

 

Subscribe without commenting

            








SEObox: Web Hosting Murah Unlimited Komik Indonesia Homeschooling Indonesia