Archive for 2015

Komunikasi Prasangka Buruk

:: Sejak awal era handphone, tahun 2000-an, saya melarang diri saya sendiri & istri untuk berkomunikasi hal penting melalui SMS. Karena terlalu rentan salah paham. Untuk hal penting & urgent, hanya boleh via telpon. Untuk hal penting namun tidak urgent, maka nanti saja setelah saya kembali di rumah, agar bisa dikomunikasikan langsung / face-to-face.

Selanjutnya saya melarang untuk dikontak saat jam kantor – kecuali jika ada emergency. Karena jam kantor itu adalah waktu kerja, haknya kantor. Bukan untuk saya pakai ngobrol ngalor ngidul. Dan, kalau saya dikontak pada saat sedang fokus ke pekerjaan, maka fokus tersebut akan menjadi buyar. Dan butuh waktu untuk bisa fokus kembali = membuang-buang waktu di kantor.

Kebalikannya juga saya berlakukan untuk diri saya sendiri. Setiap saya ada keperluan menelpon istri saya di rumah, saya selalu minta maaf terlebih dahulu. Karena, saya berasumsi bahwa dia sedang sibuk – dan telpon saya ini akan mengganggu dia. 

Setelah minta maaf, lalu saya bertanya, apakah sedang sibuk? Jika ya, maka saya akan menutup telpon. Jika tidak, baru saya lanjutkan pembicaraan saya. 

Saya tidak mau sok tahu & berprasangka buruk menganggap bahwa "hanya" ibu rumah tangga maka pasti banyak waktu lowongnya. Saya tahu bahwa justru seringkali ibu rumah tangga itu yang pekerjaannya malah lebih banyak. 

Transkrip chatting terlampir merupakan satu contoh komunikasi berbasis prasangka buruk. Si istri berprasangka bahwa si suami ini banyak waktu lowong di kantor + malas berkomunikasi dengan dia. Padahal, jelas bahwa si suami ini jabatannya cukup tinggi + sangat sibuk. 

Jika dibiarkan, maka, suatu hari mereka berdua ini akan mengalami cekcok besar. Karena prasangka buruk akan menyebabkan miskomunikasi. Miskomunikasi akan menyebabkan mispersepsi. Dan kedua hal ini adalah sumber dari nyaris semua masalah di suatu pernikahan.

Beberapa tips berkomunikasi jarak jauh (SMS / BBM / Whatsapp / dst) :

(#) Jangan berasumsi bahwa pasangan kita memiliki banyak waktu lowong di kantornya.

(#) Jangan berasumsi bahwa pasangan kita pasti selalu memegang handphone nya.

(#) Jangan berasumsi bahwa pasangan kita pasti selalu memegang handphone nya dan selalu memperhatikan layar / notifikasinya.

Satu lagi hal yang ironis dari transkrip terlampir, yang melakukan kesalahan adalah sang istri, yaitu berprasangka buruk. Namun, dia justru menganggap yang salah adalah suaminya. Satu lagi contoh miskomunikasi & mispersepsi.

NB: nama asli & berbagai detail di transkrip terlampir sudah saya ubah, untuk menjaga identitas ybs.

Semoga kita bisa berkomunikasi dengan baik dengan semua orang, terutama dengan pasangan kita.

==========
Mommy : sibuk melulu
Mommy : tadi pagi nggak telp ya
Mommy : bb juga lama jawabnya
Mommy : cape dech …
Daddy : Aku tlp rumah tapi gak diangkat
==========

==========
Mommy : dasar klu tidur susah dibangunin dan nggak dengar apa2
Mommy : Daddy jgn dibaca aja bb nya 🙁 
Daddy : Sorry lagi rapat di BNI ada jakarta banking expo
==========

==========
Daddy : Okd ntar take offnya jam 21.30 honey
Mommy : Daddy suka lupa hub i Mommy
Mommy : tear 
Mommy : :'( 
Daddy : Bukannya gitu honey tadi abis rapat ama direksi trus ada perubahan target bgt selesai cari taxi eeh ketiduran bangun dah smp bandara
==========

Post imported by Google+Blog for WordPress.

            








SEObox: Web Hosting Murah Unlimited Komik Indonesia Homeschooling Indonesia