Translate this page :

Makin Sholeh, Makin Sadis

12718175_10153259899836594_8228021938715834448_n Beginilah kalau tidak tahu apa #tujuan beragama – makin “sholeh”, malah jadi makin kejam 🙂 banyak sholat, puasa, mengaji; tapi, malah makin sering menghina & meledek saudaranya sendiri sesama muslim. Mengenaskan.

Ibadahnya yang banyak itu jadi tidak berguna, karena hasilnya malah bertolak belakang total dengan tujuan Islam :

“Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak mulia”
(HR Bukhari)

=====
Orang yang diledek karena ibadahnya kalah banyak dari dia, bisa jadi ternyata malah lebih banyak pahalanya. Karena akhlak mulia itu setara dengan ibadah :

“Sesungguhnya seorang Mukmin -karena kebaikan akhlaknya- menyamai derajat orang yang biasa melakukan shaum dan menunaikan shalat malam” (HR Abu Dawud)

#Sombong karena merasa sholeh & banyak beribadah, justru akan membuat ybs tersingkir jauh dari tempat yang mulia di akhirat :

“Sesungguhnya yang paling aku cintai dari kalian dan yang paling dekat tempatnya dariku di hari kiamat adalah yang paling mulia akhlaknya, dan yang paling aku benci dari kalian dan yan paling jauh tempatnya dariku di hari kiamat adalah yang banyak bicara, angkuh dalam berbicara, dan sombong”
(HR Tirmidzi)

=====
Berbagai sabda Nabi Muhammad saw seputar akhlak yang mulia :

“Sesungguhnya orang yang paling baik keislamannya adalah yang paling baik akhlaknya” (HR Ahmad)

“Sesungguhnya seorang Mukmin -karena kebaikan akhlaknya- menyamai derajat orang yang biasa melakukan shaum dan menunaikan shalat malam” (HR Abu Dawud)

“Mintalah fatwa (keterangan hukum) kepada hati dan jiwamu.

Kebajikan ialah apa yang menyebabkan jiwa dan hati tentram kepadanya, sedangkan dosa ialah apa yang merisaukan jiwa dan menyebabkan ganjalan dalam dada walaupun orang-orang meminta atau memberi fatwa kepadamu.” (HR. Muslim)

“Di antara akhlak seorang mukmin adalah berbicara dengan baik, bila mendengarkan pembicaraan tekun, bila berjumpa orang dia menyambut dengan wajah ceria dan bila berjanji ditepati” (HR. Ad-Dailami)

“Jiwa-jiwa manusia ibarat pasukan. Bila saling mengenal menjadi rukun dan bila tidak saling mengenal timbul perselisihan.” (HR. Muslim)

“Orang yang mengharamkan kelemah lembutan, maka akan diharamkan baginya segala kebaikan.” (HR Muslim)

“Tiada lurus iman seorang hamba sehingga lurus hatinya, dan tiada lurus hatinya sehingga lurus lidahnya.” (HR. Ahmad)

“Aku kagum dengan orang yang beriman. Bila memperoleh kebaikan dia memuji Allah dan bersyukur. Bila ditimpa musibah dia memuji Allah dan bersabar.
Seorang mukmin diberi pahala dalam segala hal walaupun (sekedar) dalam sesuap makanan yang diangkatnya ke mulut isterinya.” (HR. Ahmad dan Abu Dawud)

“Seorang sahabat bertanya, “Ya Rasulullah, pesankan sesuatu kepadaku yang akan berguna bagiku dari sisi Allah.” Nabi Saw lalu bersabda: “Perbanyaklah mengingat kematian maka kamu akan terhibur dari (kelelahan) dunia, dan hendaklah kamu bersyukur.
Sesungguhnya bersyukur akan menambah kenikmatan Allah, dan perbanyaklah doa. Sesungguhnya kamu tidak mengetahui kapan doamu akan terkabul.” (HR. Ath-Thabrani)

“Dekatkan dirimu kepada-Ku (Allah) dengan mendekatkan dirimu kepada kaum lemah dan berbuatlah ihsan kepada mereka. Sesungguhnya kamu memperoleh rezeki dan pertolongan karena dukungan dan bantuan kaum lemah di kalangan kamu.” (HR. Muslim)

“Tidak ada kemelaratan yang lebih parah dari kebodohan dan tidak ada harta (kekayaan) yang lebih bermanfaat dari kesempurnaan akal.
Tidak ada kesendirian yang lebih terisolir dari ujub (rasa angkuh) dan tidak ada tolong-menolong yang lebih kokoh dari musyawarah.
Tidak ada kesempurnaan akal melebihi perencanaan (yang baik dan matang) dan tidak ada kedudukan yang lebih tinggi dari akhlak yang luhur.
Tidak ada wara’ yang lebih baik dari menjaga diri (memelihara harga dan kehormatan diri), dan tidak ada ibadah yang lebih mengesankan dari tafakur (berpikir), serta tidak ada iman yang lebih sempurna dari sifat malu dan sabar.” (HR. Ibnu Majah dan Ath-Thabrani)

“Janganlah kamu duduk-duduk di tepian jalan. Para sahabat berkata, “Ya Rasulullah, kami memerlukan duduk-duduk untuk berbincang-bincang.” Rasulullah kemudian berkata, “Kalau memang harus duduk-duduk maka berilah jalanan haknya.” Mereka bertanya, “Apa haknya jalanan itu, ya Rasulullah?” Nabi Saw menjawab, “Memalingkan pandangan (bila wanita lewat), menghindari gangguan (tidak mengganggu), menjawab ucapan salam (dari orang yang lewat), dan beramar ma’ruf nahi mungkar.” (Mutafaq’alaih)

“Apabila kawan muslim seseorang digunjing dan dia tidak menyanggah (membelanya) padahal sebenarnya dia mampu membelanya maka Allah akan merendahkannya di dunia dan di akhirat.” (HR. Al Baghowi dan Ibnu Babawih)

7 Responses to “Makin Sholeh, Makin Sadis

Leave a Reply

 

Subscribe without commenting

            








SEObox: Web Hosting Murah Unlimited Komik Indonesia Homeschooling Indonesia