Archive for the 'Islam' Category

Kekerasan di Institusi pendidikan bukan monopoli IPDN

Dari : http://tayuang.blogspot.com/2007/04/perguruan-tinggi-yang-sadis-dan-brutal.html

Pertanyaan yang jadi muncul pertama kali di benak saya : Apa UMI perlu dibubarkan ?
Paling tidak, mungkin nama “Muslim”-nya dicabut saja mungkin. Sudah terlalu banyak institusi yang menggunakan nama Islam, tapi kualitasnya jauh betul dari ajaran Islam sendiri. Saya sebagai muslim malu membacanya, bagaimana dengan yang mengalaminya ?


PERGURUAN TINGGI YANG SADIS DAN BRUTAL

Tadi pagi Selasa 24 April 2007, Prof Mappadjantji dosen FMIPPA Universitas Hasanuddin yang sedang dirawat di ICCU RSU Wahidin Makassar karena serangan jantung, menjalankan kewajiban sebagai anak yang harus melayat mertuanya Prof. Syamsi Lili yang jenasahnya disemayamkan di Jl Kartini. Prof MA izin keluar ICCU dilengkapi dengan botol infus dan diantar oleh seorang suster.

Dalam perjalanan kembali ke RSU Wahidin sepulang melayat, kendaraan mereka yang melintas di jalan Urip Sumoharjo dilarang lewat oleh mahasiswa Universitas Muslim Indonesia yang sedang demo. Walaupun Prof MA sudah memperlihatkan kondisinya yang darurat lengkap dengan selang infus dan seorang suster yang mendampingi, mereka tetap tidak diizinkan lewat.

Putri Prof MA, Vita yang menyetir kendaraan mengikuti keinginan mahasiswa untuk masuk ke jalur angkutan kota pete-pete. Di mulut pintu keluar, jalan mereka ditutup dan diwajibkan memutar haluan kembali ke kota. Melihat kondisi tersebut, putra Prof MA, Bayu memindahkan kayu penghalang agar bisa lewat karena ayahnya harus sesegera mungkin masuk ICCU kembali. Bayu kemudian dikeroyok hingga babak belur oleh mahasiswa UMI, bahkan ketika sudah masuk ke mobil, Bayu ditarik kakinya dipaksa turun untuk dihajar lagi. Melihat putranya babak belur, Prof MA melupakan kondisinya penyakitnya, dan bergegas menolong anaknya dengan melawan para mahasiswa yang brutal ini. Para mahasiswa tidak lagi mempedulikan bahwa Prof MA adalah pasien emergency, beramai-ramai menyerang termasuk menarik kacamata yang dipakai. Mahasiswa UMI berhenti menyerang ketika Prof MA berhasil menangkap salah satu pimpinan mahasiswa.

Kejadian yang dialami Prof MA adalah satu dari sekian banyak kejadian yang dialami pasien-pasien dengan ambulans yang membutuhkan pertolongan darurat menuju RSU Wahidin diantara jadwal demo UMI yang tiada henti. Begitu banyaknya, sehingga membuat kita bosan untuk membicarakan perilaku yang sangat tidak manusiawi ini. Inikah perguruan tinggi yang menyebut dirinya Muslim, yang tidak punya kepedulian terhadap orang yang sakit parah. Tidak pernah ada perhatian apalagi rasa bersalah atau menyesal dari institusi mereka, bahkan dari polisi yang selalu ketakutan tidak berani membela kepentingan orang yang nyawanya berkejaran dengan waktu.-

wass,
Triyatni

Bush’s Illegal Wars Creates More Terrorists Than Osama Could

Not only it costs American (and other nation’s - hello Britons) taxpayers TRILLIONS of US dollars, it failed to reach its objective; to destroy terrorists. Instead, it creates more terrorists than ever. At more places all over earth.

No wonder Osama keeps on hiding. He can sleep all day, and still there will be more terrorists out there than he can ever dream of creating.

One may be compelled to curse, “Stupid Bush”. But the problem is, Bush is not stupid.

Bush’s family & friends are richer than ever before.

Bush is a war criminal, guilty of illegal wars AND profiting from it. He should be hanged, drawn, and quartered.
But that still won’t be enough to bring back hundreds of thousands who have perished because of these illegal wars….

Pornografi & Anak Kita

Kemarin ini ada beberapa acara menarik di sekolah anak sulung saya (kelas 4 SD), yaitu pengenalan sex kepada anak, dan kemudian juga ada seminar untuk orang tuanya. Pada acara seminar saya diwakili oleh istri karena sedang berhalangan.
Pada acara yang untuk anak sekaligus diadakan sebuah survey. Setiap anak diberikan kuesioner dan jawaban mereka dikumpulkan serta dianalisa.

Biro psikolog yang mengadakan semua acara ini ternyata sudah cukup banyak melakukan ini di berbagai sekolah dasar Islam lainnya juga. Hasilnya cukup mencengangkan — lebih dari 50% anak-anak yang di survei telah mengenal pornografi dalam berbagai bentuknya.

Sebagai contoh, ada seorang anak kelas 4 SD ini yang menuliskan, “Bagaimana caranya agar penis dapat terus berdiri dalam waktu yang lama ketika melakukan hubungan sex ?”.
Jelas hal seperti ini belum ada manfaatnya sama sekali bagi mereka, namun pada kenyataannya pada saat ini pikiran mereka telah didominasi (kalau tidak bisa dikatakan terobsesi) oleh hal-hal yang tidak berguna seperti ini.

Tidak ada satu pihak yang dapat disalahkan sendirian dalam hal ini - baik sekolah maupun orang tua sama-sama memiliki keterbatasan. Karena itu pihak sekolah hari ini kembali mengadakan pertemuan orang tua murid membahas hal ini, sekaligus menyepakati sebuah rencana kerja bersama untuk mengatasinya.

Kembali ke masalah tersebut - anak-anak mendapatkan input negatif ini dari berbagai media. Baik dari TV (sinetron yang mengobral seksualitas wanita, sumpah serapah dan perkataan senonoh, dll), Playstation, VCD, dan bahkan komik stensilan porno. Input negatif ini kemudian tersebar lebih lanjut di sekolah ketika mereka bersosialisasi dengan kawab-kawannya.

Pornografi adalah suatu hal yang tidak sehat, menjerumuskan (cenderung addictive), bisa merusak mental, merusak kemampuan bersosialisasi; apalagi ketika yang terekspos adalah anak-anak.

Seperti yang telah dikutip pada sebuah posting sebelumnya :

Porn is a trap - it feeds the pleasure centers of the brain, devalues the humanity of the person being used for that pleasure, and damages people’s ability to relate to one another in a healthy way. Real relationships are not self-focused, but must have a significant component of other-focus or they don’t survive.

Mari kita berusaha sekuat tenaga agak anak-anak kita tidak menjadi korbannya.

Allah & Setan

Selama ini kami mencoba mendidik anak-anak kami dengan menganggap mereka sebagai kawan kami. Juga kami mencoba untuk tidak menghalangi kreativitas dan imajinasi mereka. Terutama jika mereka bertanya, maka kami akan berusaha untuk menjawabnya; walaupun kadang pertanyaan mereka itu susah banget untuk dijawab.

Salah satunya adalah pertanyaan Umar kepada istri saya beberapa hari yang lalu. Selama ini kami memberitahu dia bahwa Allah swt adalah suatu entitas yang sangat baik, dan Setan adalah entitas yang sangat jahat.
Kemudian suatu hari dia bertanya; “Ma, kenapa sih Allah kok ngebuat Setan? Kan setan jahat, ma?”

Ketika Helen menceritakan itu, saya bengong. Anak umur 4 tahun bertanya seperti itu?

Ini biasanya adalah argumentasi anti Tuhan yang disampaikan oleh para atheis; jika Tuhan = baik, mengapa dia menciptakan setan (yang jahat/jelek). Berarti tidak mungkin Tuhan = baik.

Hah… Umar sudah bisa bernalar sampai demikian :D tapi supaya yakin, saya pastikan lagi ke istri saya. Jangan-jangan dia bercanda. Tapi ternyata tidak, dia tetap tersenyum (dan bukan tertawa lepas seperti kalau dia berhasil mencandai saya).

Holy wow.

Anyway, setahu saya pada awalnya setan itu tidak jahat. Sama seperti manusia yang pada awalnya baik & bebas dari dosa. Namun, sama seperti manusia, Allah memberikan kebebasan memilih kepada setan. Berbeda dengan malaikat yang tidak mungkin bisa membantah perintahNya sama sekali. Dan dari beberapa literatur, setan pernah mencapai derajat yang cukup tinggi.

Namun, “hanya” karena rasa sombong, maka dalam sekejap semuanya itu hilang. Setan langsung tercampakkan menjadi makhluk yang paling hina.
Sayangnya, alih-alih bertobat, justru setan tetap bertahan dengan gengsinya. Malah minta umurnya diperpanjang sampai hari Kiamat, supaya bisa balas dendam. Halah…

Jadi kalau menurut saya, Allah tidak menciptakan setan sebagai makhluk yang jahat. Setan menjadi jahat karena pilihannya sendiri. Sama seperti manusia, yang bisa memilih, apakah dia akan menjadi manusia yang baik kah, atau yang jahat? The choice is ours.
Selama kita bisa memanfaatkan nikmat akal dengan baik, dan menghindari dari nafsu seperti sombong, gengsi, dll; maka insyaAllah kita akan selamat dunia dan akhirat.

Argumentasinya sih masih bisa dilanjutkan terus, seperti definisi jahat, hikmah dari kejahatan setan, dst. Tapi saya stop dulu karena saya ingin memeluk Umar, dan berdoa mudah-mudahan dia terus demikian; selalu bertanya dengan kritis, tidak taqlid buta begitu saja, Amin.

Islam’s Middle Path

Since I was a kid I’ve been observing Islam with great interest. It’s my religion anyway.
At first I noted how my elementary teachers and our adults are preaching something, but doing entirely different things. Also we’re taught that Islam is all about dogma. There’s almost no compassion on it. There is no joy. The religion seems to be all about mumbling on prayers in language that we don’t understand, five times a day. And anyone dare not doing it may face public humiliation and/or physical punishment.
The Ramadhan was especially tormentous - we couldn’t eat nor drink during the hot days (30 - 35 degrees celcius). The night prayers are 11 rakaat, and followed by a very long (and very boring) sermon.
Nobody cared to really explain to us what’s all these about. We’re just supposed to do it without asking any questions.

These are the traditionalists.
Islam is just believing, no thinking. You just do. Don’t ever ask.
I asked once, and the teacher ended up stuttering and scolded me for it. I don’t ask again after.

It’s enough to make some kids lose faith and care about Islam, but I held on. I think, there’s an explanation to these, and I shall make the journey to find it.

When I’m older, in my high school years, I found out about Islam’s sects. With open mind, I joined one after another, most interested in widening my horizon. I noticed though that many of them are not good to be in for long term.
In the beginning, they will be nice to you. You’ll be called brothers and sisters. For those who didn’t find love at home, bullied at school, and so on; this is pure joy. Suddenly you feel needed, and wanted.

But after a while, they will try to draw you into their community. Locked you in, and started the weird part of their teachings.
Each sects have their own peculiarities - getting as much money for the sect using any (and I mean any; cheating, stealing, killing) way possible, made you swear an oath of allegiance, teaching irrational hatred for people (even Muslims), brainwash you, allows prostitution, make their syaikhs (gurus) close / to the same level of a prophet or even God, and many other horrible things.

All of them are the same in this regard - they all claim to be based on Quran and hadits, but interpret it to their own wishes. They’re extremist in this regard.

Anybody who dare to question their sect will be excommunicated from the group. This may seem trivial - however, after years of intense involvement in the group; most will find themselves suddenly alone in the world. Their old friends and families have long gave up on them. It’s truly heart breaking.
The fear of this kept many as the member of the group, even though the inner heart are crying.

Indeed not all groups are like that. A few are good and on the right path. But sadly, they seem to be the minority on the scene, and can be quite hard to find.

Then I went to UK, work there for 5 years, and found something else - the Liberals.
At first they seemed good - they preached upon tolerance, open-mindedness, equalities, justice, and critical thinking.

However, digging deeper, I found troublesome things.
They preached upon tolerance, yet they will get rid of their opposition and have no hesitation on silencing their voices whenever possible.
They preached critical thinking, yet they’re cherry-picking verses from Quran and Hadith to support their claims. Many times, they’ll just plain lie to you. If they can have the opportunity to assassin your character, they will.
And just like the sects, these liberals claim to be based on Quran and hadits; but they interpret it so liberally; it’s as if they’re telling you that an apple is really an orange. They’re just as extreme as the sects, but worse since they claim to be of a superior intelligence.

I don’t like to be taken as a fool, so I distanced myself from them.

Found myself alone again, with weird people around me. I continued my journey. I tried to find more about Islam, with my limited time and capability. I worked hard to filter the wacky interpretations, and goes straight to the source and original interpretations. And what I found have made the journey worth it.

Islam : is all about compassion, good behaviour, and love to others. The prophet stated that his mission is to make us better in our akhlaq. That is it.

I’ve been presented with spins from Liberals & Islam-haters, trying to rebuke it. But I always managed to find out every single time the truth behind it - some are not presenting the whole picture, some are presented without its context, some are misinterpretation from the original language, some are very liberal translation, and some are downright lies.
Many of the Islam’s problems they presenting are actually really Muslims problem. And they dare claiming to be the superior thinkers ? I don’t think so.

Islam : wants their believers to think and use their brains. The command “Afala ta’qiluun” - have you think about that ? It’s written many times in Quran.
My journey was emotionally and intellectually painful. I’ve had to wade through so much crap and non-sense, sometimes even from people I thought would know better. This command kept me going, enduring the pain.

The result is, not perfect, but definitely a better me - one who finally understood the essence of his religion, and at ease with it. The old cliche is still true - no pain, no gain.

I also found several inspirations from some other good people :

  1. Amar Ma’ruf Nahi Munkar : This is the principle of da’wa / calling people to Islam, meaning “call people to good, and prohibit them from bad”.

    Notice how the call for good is mentioned first. Then I noticed that the most successfull preachers are those who busy themselves in calling people to the good - with sympathetic words, understanding of people’s problems, and positive attitude in helping people to get over with their problems — instead of just criticizing people on their faults.

    People become attracted to the good, and automatically, they leave their bad side.

    These preachers solve problems, instead of adding more of it.
    I shall try to do the same.

  2. Care for others : This must begin with your closest ones. If you claim you care for others, while neglecting your own family, I’ll call you a hypocrite.

    When people care about others, Islam will be able to fulfill its promise as the rahmatan lil ‘alamin - a blessing to the world.

I’ve realized now that the problem with Islam is really the problem with Muslims. Many are ignorant, led by ignorant (or downright evil) ulama / syaikh / community leaders.
We need to awaken them by tapping on them gently and using kind words. Not kicking and screaming on them - and later wondered why they ended up beating you into a pulp. The way of Islam is the middle path - kind, gentle, soothes, and most importantly, enlightens.

So I begin my new journey. May God look upon me kindly and strengthen this weak shell and its soul for this journey, which shall not end until my death.

Masjid Al-Aqsa, atau Dome of Rock ?

Dome of Rock, NOT Al-Aqsa mosqueSelama ini saya mengira bahwa mesjid dengan kubah emas (seperti yang terlihat di gambar di samping kiri) ini adalah Masjid Al-Aqsa.

Ternyata, berdasarkan informasi dari BBC, mesjid tersebut adalah yang biasa dikenal dengan “Dome of Rock”.

Lebih jelasnya bisa dilihat di gambar dibawah ini :

Sebelumnya memang saya sudah menerima informasi mengenai hal yang sama. Namun, karena berbentuk email berantai, dan berasal dari kawan yang sebelumnya sudah tertipu oleh tipuan email berantai lainnya :D maka (tentu saja) otomatis tidak langsung saya percayai begitu saja.
Kemudian saya mencoba mencari informasi yang lebih bisa diandalkan lagi mengenai hal ini.

Terimakasih kepada BBC, mudah-mudahan inilah informasi yang sebenarnya.

Sumber: In Jerusalem, you can not just “dig”

Azyumardi Azra : Boleh Konsumsi Daging Haram

Sebuah kolom Azyumardi Azra di Republika,18 Januari 2007, cukup meremehkan syariat agamanya sendiri. Terkutip :

Berbagai kelompok mahasiswa seperti ini umumnya mengembangkan paham –jika tidak ideologi– keagamaan yang dapat disebut ‘neo-konservatif’. Sebagai contoh saja, mereka hanya mau memakan makanan yang dibeli dari ‘Halal Store’, ‘Halal Food’, atau ‘Halal Meat’, meski tidak selalu mudah menemukan tempat seperti itu. Bagi mereka, mahasiswa lain yang misalnya memakan daging yang dibeli dari Supermarket biasa adalah orang-orang yang lemah Islam dan imannya, meski secara fiqhiyyah hal itu bisa dibenarkan.

Jadi karena saya mau berusaha untuk mengkonsumsi daging halal *plak* tiba-tiba di jidat saya menempel sebuah stiker bertulisan “neo konservatif” :D

Secara fiqh, boleh mengkonsumsi daging non-halal ketika situasi darurat; contoh: Anda akan meninggal dunia kalau tidak melakukannya.

Tapi jika masih bisa didapatkan, walaupun musti berusaha (mosok sih umat Islam sedemikian lembek dan malasnya), maka saya kira yang haram ya tetap berstatus haram.

Kalaupun tetap tidak ada juga daging halal, ‘kan masih bisa juga go vegetarian. Malah lebih sehat pula. Mosok kita kalah (tekad & kreativitas) sedemikian mudahnya dengan non-muslim di The Vegetarian Society ? Malu dong ah :)

Saya sudah pernah coba berbagai produk vegetarian, favorit saya adalah hotdog vegetarian yang dijual di kantin Ikea @ Wednesbury. Uih enak euy, tidak kalah dengan yang daging betulan. Saban kesana pasti saya beli banyak.

Malah kalau kita go vegetarian, tidak hanya lebih sehat, plus juga berpahala. Enak banget kan.

Shame on you pak Azyumardi. Please jangan mendorong kita untuk menjadi umat yang lembek dan mudah kalah seperti ini lah. Kapan kita mau majunya, kalau baru soal makanan yang remeh seperti ini saja sudah menyerah begitu saja ?

Artikel selengkapnya bisa dibaca disini.

Buruan Nikahin Gue

Blogwalking malam ini menemukan sebuah posting yang membahas soal pernikahan. Kutipannya langsung menangkap mata saya :

“Siapa bilang gampang? Makanya kalo belom siap, jangan kawin dulu, donk. Kalo perlu ngga’ usah! Ngga’ tau apa kalo akhirnya nanti cuma bakal nyusahin anaknya? See… this is the very reason, why I don’t intend to get married at the first place.“

Kelihatannya perspektif ini makin banyak dianut oleh banyak orang pada saat ini. Belum siap (mental), jadi jangan nikah dulu. Tunggu siap. Mirip seperti haji ya, walaupun finansial sudah mampu, tapi belum siap (istilah teknisnya: belum dipanggil), maka belum berangkat haji juga.

Tapi ada satu hal penting yang mungkin kita lupakan - manusia mungkin adalah makhluk yang paling mampu untuk beradaptasi.

Dari kutub utara sampai sahara, dari puncak gunung sampai di lautan, di bumi sampai luar angkasa; hidup mewah sampai anak-anak palestina yang hidup di sela-sela desingan peluru — ketika ada tekad, maka biasanya manusia akan menemukan jalannya.

Pernikahan saya kira juga demikian. Kalau ditunggu-tunggu, bisa terlambat sekali. Lebih baik nikah saja, setelah sama-sama sepakat untuk :

  1. Mau berusaha memahami satu dan lainnya. Pria dan wanita memang berbeda. Dengan adanya usaha dari kedua belah pihak untuk saling memahami, maka bisa terjalin kehangatan dan bukannya keributan.
  2. Mau untuk berubah menjadi lebih baik. Setelah menikah, maka biasanya barulah akan kelihatan berbagai kekurangan dari pasangannya. Tapi ini tidak masalah ketika sudah ada janji untuk berubah (adaptasi) untuk kebaikan, maka baik suami maupun istri akan sama-sama menjadi lebih baik.
    Tentunya definisi “kebaikan” ini juga perlu disepakati dulu sebelumnya. Biasanya adalah agama, atau dengan tambahan lainnya.
  3. Komitmen menjaga agar komunikasi selalu lancar. Ini akan mencegah asumsi/prasangka buruk. Jadi jika ada sesuatu pada pasangan Anda yang tidak menyenangkan, jangan didiamkan. Mendiamkan masalah tidak akan membuat masalah hilang, justru akan memperparahnya.
    Tanyakan dengan cara yang baik. Siapa tahu ternyata sebetulnya tidak ada apa-apa, cuma salah paham saja. Wajar terjadi, apalagi pada dua makhluk yang berbeda total (pria dan wanita)

Saya pikir, modal menikah sebetulnya ini saja kok. Simpel ya?

Termasuk masalah parenting / merawat anak. Kalau mau menunggu “siap”, tanpa didefinisikan dengan jelas, maka bisa jadi jomblo terus. Lha sekolah merawat anak juga enggak ada tho.
Tapi dengan modal poin #2, maka kita jadi bisa menghadapi hal-hal yang baru, termasuk mengasuh anak-anak kita.

Sekalian saya ingin meluruskan beberapa propaganda pro-nikah — nikah itu bukan melulu senang-senang :) “they live happily ever after” - BS, he he.

Pernikahan itu adalah perjuangan, yang kalau kita jalani dengan sabar, maka hasilnya akan kita nikmati belakangan.
Menghabiskan hidup bersama soulmate, dengan anak-anak yang menyenangkan hati orang tuanya. Ini cuma bisa dinikmati setelah melalui cobaan mental & fisik yang berat. No pain no gain, kata oom Smith. Tapi proses ini yang akan membuat kita dan pasangan kita menjadi orang-orang yang lebih baik. Seperti besi yang awalnya dibakar dan dipukuli berkali-kali, akhirnya menjadi sebuah pedang yang anggun.

Kalau kita cuma ingin bersenang-senang sekarang, maka kesusahannya akan datang belakangan. Jadi saya kira, lebih baik susahnya sekarang; ketika pikiran masih tajam dan badan masih tegap. Bersama dengan pasangan yang sehati, maka susah pun jadi tidak terlalu terasakan.

Saya tunggu undangannya ;)

Polygamy in USA

Right, I must admit that I was pretty amazed to find a woman in a polygynous marriage and a convert and lives in USA (where polygyny / polygamy is outlawed - CMIIW) and happily blogging about it .
Was speechless for quite sometime.

Anyway, the blogger that goes by nickname Mizazeez (Miss Aziz ?) seems to be quite happy with her current situation. She was devastated when first knew about her husband’s intention to marry again, but then chose logic instead of uncontrolled emotion, and managed to get over it.
She even took time to explain the popular hadith touted as the base to abhore polygamy : the Ali - Fatima - Abu Jahl’s daughter hadith; where the hadith was usually presented as it is, she explained its context in details.

There are quite a lot of lighthearted and funny posts in her blog. For example, the one about her mother is quite funny. I do realize though that it’s a struggle to her. But she seems to handling it quite well, well done.

There are a few things we, men, can pick up from the husband. It seems that this man actually speaks Venusian; being able to act appropriately (instead of enraged/becoming a jerk) even when in awkward situations. Lots of other good examples from him throughout the blog. Recommended read.

All in all, both parties (husband and wife) seems to be putting their best efforts to make things works for them. I’m truly humbled to read how their marriage went - the humble & pious husband that’s gentle and care, the loving & (very) clever wife that’s very understanding about her husband’s situation (financial/time/marriage-wise).
That’s what marriage is all about - teamwork, co operation. It’s going both ways. If it started flowing just from one direction, then it’s the beginning of its end.

I’m very glad to find such mature and understanding Muslim/Muslimah, in the blogosphere too. To these people I put my hope that one day in my life I’ll be able to witness Islam achieving its purpose - rahmatan lil ‘alamin; a blessing to the world. Here’s one hoping.

Another similar blog : Polygynous Expressions

And no, I still don’t think I’ll marry another woman, because I’m not able to properly do the related responsibilities. But I’m happy for everyone who’s doing good and not afraid to be bad-mouthed because of it. Barokallahulakum, brothers and sisters.

Bahagia Instan

Lagi sedih ? Bete ? Kenapa setiap hari selalu saja ada masalah ? Bagaimana caranya bahagia, setiap saat ?

Ada banyak cara orang untuk menjadi bahagia. Ada yang menjadi bahagia dengan mampir di mall favoritnya, dan shopping sepuasnya. Apalagi kalau pas lagi ada diskon 50%, wow. Kemarin saya juga melakukan ini ketika menemukan sebuah toko sepatu di Pondok Indah Mall yang sedang promosi BOGOF (Buy One Get One Free), lha kebetulan lagi perlu sepatu karena yang lama sudah butut. Untuk sepatu wanita malah cuma Rp 100.000 dapat 3, halah langsung terlampiaskan lah hasrat soulmate saya, he he.
Sudah murah, kualitasnya juga bagus pula. Bahagia? Jelas :) Tapi kalau setiap hari, tetap saja jadi berat di ongkos ya?

Ada lagi yang menemukan kebahagiaan dengan menikmati makanan yang enak. Ada yang dengan dugem dan nongkrong semalaman. Ada yang bahagia dengan bepergian ke luar negeri. Dan banyak cara lainnya.

Tetapi, apakah ada cara untuk bahagia setiap saat, dimana saja, kapan saja, dan tanpa biaya ?
Ternyata ada !

Sewaktu sedang browsing milis kampung gajah, tidak sengaja menemukan posting dari devykoe, dan tidak sengaja (lagi) terbaca taglinenya :

.

the best way to cheer yourself up is to cheer somebody else up

.

Straight to the point. Bahagiakan orang lain, maka kita pun akan merasakan kebahagiaannya.
Salah satu variasi BOGOF juga; yang dibahagiakan satu orang (orang lain), namun hasilnya jadi dua orang yang bahagia (orang lain dan kita).
Terimakasih pada mbak Devy untuk taglinenya.

Jadi, mari kita blogwalking dan membahagiakan orang lain *lho* :)

KBH is the new buzzword : Result-oriented versus 9-to-5

Suatu hari di kantor saya, pukul 13:00, Andy tiba “assalamu’alaikum” sapanya, dijawab oleh rekan-rekan di ruangannya. Andy langsung memulai pekerjaannya hari itu di mejanya. Yang lainnya meneruskan kembali pekerjaan mereka masing-masing. Saya berhenti sejenak dan menutup mata, meredakan sakit kepala setelah mengerjakan riset untuk presentasi seorang client selama beberapa jam.

Apa yang aneh disini ?

Read the rest of this entry »

How The Jews Invented Hollywood

Buku karangan Neal Gabler ini (New York: Crown Publishers, Inc., 1988. ISBN 0-51746808 X) membahas bagaimana Hollywood akhirnya dikuasai oleh Yahudi.
Sebetulnya pada awalnya, Hollywood dikuasai oleh non-Yahudi, namun karena banyak dari mereka yang naif, maka kalah dari berbagai pelaku bisnis Yahudi yang menghalalkan segala cara.

Kutipan :

It can safely be said that the earliest cameras, projectors, sound and lighting equipment, and raw film stock were developed primarily by gentile inventors. The same can be said of those artists who were the first to create artistic movies with true narrative content, creative lighting and special effects, panoramic scenic settings and fast-paced editing.
………..
What these Jewish producers did achieve was to move very quickly from owning a few nickelodeons to controlling complete monopolies consisting of production, distribution and exhibition facilities.
………..
These men acquired this control because of an excellent sense of what the public would buy, intense personal drive, group solidarity as Jews, a willingness for hard work-and — a lot of shady dealing.

Dan secara umum, memang seperti inilah kelakuan bangsa Yahudi sejak dahulu.
Tidak mengherankan jika sudah sejak ribuan tahun yang lalu bangsa ini seringkali dimusuhi oleh bangsa-bangsa lainnya. Malah di Inggris, pernah terjadi situasi keuangan nasional nyaris runtuh karena disabotase dan dikuasai oleh Yahudi. Raja Inggris ketika itu kemudian mengeluarkan perintah untuk membunuhi dan menangkapi para saudagar Yahudi yang berada di balik bencana nasional tersebut.

Sekarang mereka sudah menguasai tidak hanya sebuah negara, namun hampir seluruh dunia; melalui bidang ekonomi dan budaya. Di Palestina mereka malah sudah tidak segan-segan menjajah dan bertindak seperti Hitler. Namun dengan bantuan media massa, mereka selalu terlihat sebagai pihak yang baik dan teraniaya.
Kali ini, mungkin mereka jadi bisa lebih lama menikmatinya dan membohongi kita semua. Namun, kejatuhan mereka, karena kejahatan mereka sendiri, adalah sebuah kepastian.

Poligami dan Keadilan

Sebetulnya saya segan membahas topik ini, karena kalau menilik kasus mas Puji dimana postingnya jadi dipenuhi komentar-komentar yang marah (padahal postingnya sendiri sama sekali tidak kontraversial), ada kemungkinan itu akan terjadi juga. Tapi di lain pihak, ini adalah kesempatan untuk memperkenalkan rasionalitas / objektifitas dalam melihat suatu hal; sehingga kita dapat melihat sesuatu tersebut dengan lebih adil.
Jadi, saya pakai dulu baju tahan api saya… ok, mari kita mulai.

Fakta : poligami halal dalam Islam.
Syarat: harus berusaha dengan segenap kemampuannya agar berlaku adil. Fakta : Allah swt menilai usaha kita, bukan hasil.

Fakta : Zina / selingkuh haram dalam Islam.

Nah berbagai faktanya sudah dibeberkan, sekarang kita coba lihat masalahnya dengan lebih jelas.

Inti dari keributan seputar poligami Aa Gym sebetulnya adalah karena kurangnya konteks. Padahal, seperti yang telah saya bahas sebelumnya, ketika konteks diketahui, maka persepsi kita mengenai suatu hal bisa langsung berbalik sampai 180 derajat.

Dalam kasus Aa Gym, konteksnya sama sekali tidak diketahui.
Mengapa Aa menikah lagi ? Di media massa, sejauh yang saya pantau, tidak ada di beberkan. Dan kebanyakan kita juga tidak bisa menanyakannya langsung kepada beliau.

Pada kasus seperti ini, umat Islam diperintahkan untuk berprasangka baik dengan tetap waspada.

Namun tekanan untuk berprasangka buruk tentu sangat besar, apalagi ketika didorong oleh emosi yang memuncak. Karena itu, alih-alih berprasangka baik; yang muncul seringkali adalah berbagai asumsi (anggapan, yang tentu saja belum tentu benar), yang kemudian memicu timbulnya prasangka buruk.
Beberapa contoh:

Anda tidak lebih dari seorang laki laki yang tidak sanggup menahan nafsu birahi.

Bagaimana komentator yang bersangkutan tahu bahwa alasan pernikahan tersebut adalah karena nafsu birahi ? Apakah kini sudah ada orang yang mampu membaca pikiran orang lainnya ? :)

Ketenaran dan uang ternyata membutakan mata anda. Sehingga anda rela memutar balikkan image masyarakat terhadap anda selama ini.

Asumsi: Aa Gym telah terbutakan oleh ketenaran dan uang.
Prasangka buruk: karena inilah dia menikah lagi.

Dalam berbagai kasus seperti ini, media massa juga tidak banyak membantu. Kadang karena keterbatasan ruang artikel, maka berita hanya ditulis sepotong-sepotong saja, tanpa ada penjelasan mengenai konteksnya secara utuh. Atau di lain waktu malah sengaja konteksnya memang dihilangkan, sehingga menjadi kontroversi (sehingga koran/majalahnya menjadi laku).

Disini pentingnya ajaran Tabayun di dalam Islam, istilah gaulnya, cek and ricek. Ketika ada suatu kabar, dikonfirmasi kembali langsung kepada yang bersangkutan.

Jadi kalau kita merasa sangat ingin untuk menghakimi Aa, jangan lupa untuk tabayun dulu.
Kalau tidak, sebaiknya kita berprasangka baik agar selamat.

Lantas apakah ini berarti bahwa saya pro poligami ? Apakah saya akan berencana untuk menikah lagi ?

Saya pribadi tidak ada rencana ini karena terutama berkaitan dengan soal tanggung jawab - pernikahan adalah sebuah tanggung jawab yang sangat besar. Sedikit selingan - yang saya agak kaget, ternyata justru orang Barat yang banyak paham mengenai hal ini daripada berbagai rekan saya yang Muslim; banyak mereka yang tidak mau menikah karena mengaku tidak sanggup dengan tanggung jawabnya.
Sedangkan beberapa kawan saya yang Muslim menikah dan kemudian ada beberapa yang tidak mau bertanggung jawab - suami tidak mau menjadi pengayom dan manajer yang baik, dan/atau istri tidak mau menjadi manajer rumah tangga yang baik dan mematuhi perintah atasannya.

Karena menikah adalah sunnah Nabi saw dan telah diperintahkan, maka saya pun menikah. Dan saya berusaha menjalankan kewajiban ini dengan sebaik-baiknya. Namun kalau disuruh tambah lagi, aduh kok rasanya saya tidak sanggup :)
Demikianlah lemahnya saya.

Anyway, sebetulnya kita bisa menanggapi hal-hal yang kontraversial seperti poligami sekalipun dengan tenang. Contohnya bisa dilihat salah satunya pada pacar saya.
Dulu “penentang” poligami yang gigih, terutama setelah melihat sendiri beberapa kasus dimana praktek poligami menjadi merugikan wanita. Kini alhamdulillah sudah bisa melihat soal ini dengan lebih proporsional, berimbang - adil.
Ketika kemarin saya ceritakan, “eh, Aa menikah lagi lho”, responsnya cuma berupa alis mata yang agak naik sedikit terkejut, lalu “Ooh”. Lalu saya sampaikan “iya, nikah dengan janda anak tiga”, dibalas dengan “mungkin untuk menyantuni ya, bagus deh”.
Dia sudah berhasil melihat bahwa ada kasus-kasus dimana poligami justru bisa bermanfaat bagi wanita sendiri. Dan adalah salah satu sebab mengapa poligami dibolehkan di dalam Islam (dengan batasan-batasannya).

Sepertinya baju tahan api saya juga sudah mulai kebakaran, ok saya sudahi dulu sampai disini. Komentar/koreksi yang konstruktif akan diterima dengan rasa terimakasih.

QKLK :: Mantan mata-mata Rusia masuk Islam sebelum meninggal

Kutipan :

Litvinenko’s father, Walter, said in an interview published today that his son - who was born an Orthodox Christian but had close links to Islamist rebels in Chechnya - had requested to be buried according to Muslim tradition after converting to Islam on his deathbed.

“He said ’I want to be buried according to Muslim tradition’,” Mr Litvinenko told Moscow’s Kommersant daily.

“I said, ’Well son, as you wish. We already have one Muslim in our family - my daughter is married to a Muslim. The important thing is to believe in the Almighty. God is one.’”

Sumber : The Times Online, 4 Des 2006

Shirin Ebadi

I just read a posting on Shirin Ebadi (thanks mas Fatih).

Very interesting. Not everyday you found somebody who’s able to realize and criticize the rigid interpretation and implementation of certain Islamic laws without slipping into becoming an extreme liberal.

Shirin seems to be a rarity, a voice of reason among the chaos. While others are either going to the extreme of interpreting Islam literally, or interpreting Islam so liberally it’s no longer Islam; Shirin manages to steadily and bravely walk on the middle path.
She even dared to criticize Israel in her Nobel prize speech.

Among many things, she got it right when she said that Islam can be interpreted quite differently, depending on who/how/where/when it was interpreted.
Different culture interpreted Islam differently; example, forced marriage is usual in certain Middle East countries, while it’s incompatible with Minangkabau’s matrilineal culture.
Another culture put great emphasis on inbreeding, which while halal, can be harmful (or even fatal) for the 3rd or 4th generation.

Another example; currently women are not honored in various cultures as they have had. They’re looked down if dared talking to a man. It’s in stark contrast with the beginning of Islam; Imam Syafie’s guru was a woman. And Aisyah ra (prophet’s wife) was a guru for many companions.
Some feminist went overboard when faced with these though - instead of reverting back to the original Islamic practices, they aimed to destroy Islam itself instead.

Extremism is never a good thing, and it’s against Prophet Muhammad’s teaching as well. It’s good to find another muslim(ah) with his/her vision set firmly on the original Islamic values. Hopefully more and more will show up.

If I’m wrong on my comments about her though, please feel free to correct me. Thanks.

Sukses dengan berpikir berbeda

Kemarin adalah hari Jum’at, dan untuk melakukan sholat Jum’at saya memilih sebuah mesjid yang tidak menggunakan karpet di lantainya. Tidak hanya lebih menghemat uang umat, namun juga tidak menyesakkan nafas penderita alergi debu ini.

Setibanya disana, di luar dugaan ternyata lingkungan mesjid ini adalah masyarakat yang taat agama. Walaupun saya sudah tiba cukup awal, namun saya telah didahului sekitar 100 orang.
Sekitar 6 shaf telah terisi. Tidak mungkin bagi saya untuk bisa mendapatkan tempat duduk yang paling afdhol, di depan, tanpa menyakiti / menyenggol orang lain.

Tengok sedikit, ternyata ada bagian sayap mesjid. Dan, kosong melompong.

Dengan santai saya berjalan ke sebelah sayap mesjid, dan langsung mendapatkan posisi di paling depan tanpa susah payah, atau menyusahkan orang lain.

“Kenapa yang sedang duduk di dalam mesjid tersebut tidak justru memilih shaf depan di sayap mesjid juga ?”; euh, saya tidak tahu kenapa. Saya hanya melihat kesempatan, yang mungkin tidak terlihat oleh orang lain - dan saya memanfaatkannya.

Ada banyak aspek dari kreatifitas. Salah satunya adalah kemampuan untuk melihat peluang. Dan, berbeda dari perkiraan banyak orang, ini bisa dilatih.
Caranya yaitu dengan sering memaksa otak Anda bekerja.
Maka setelah beberapa waktu (dan banyak penderitaan dari sakit kepala yang cukup akut), maka Anda akan mampu melihat hal-hal yang tidak terlihat oleh orang lain.

Ketika sudah mendapatkan kemampuan ini, mudah-mudahan kemudian bisa kita manfaatkan dengan sebaik-baiknya untuk kebaikan semua pihak.

Selamat mencoba.

Ahlul Kitab : masih ada ?

Pertanyaan yang sejak dahulu selalu terdengar kembali : apakah ahli kitab, seperti yang didefinisikan di dalam Al-Quran, masih ada ?

Satu kelompok berpendapat bahwa masih ada, dan menunjuk kepada kelompok agama seperti Kristen modern sebagai contohnya. Pendapat ini banyak ditolak karena agama Kristen modern telah mengalami banyak perubahan dan, terutama, berpendapat bahwa Yesus adalah Tuhan. Sebuah dogma yang secara khusus ditolak oleh Al-Quran, sehingga menjadi kontradiksi yang cukup jelas.

Satu kelompok lagi berpendapat bahwa ahlul kitab sudah tidak ada lagi.
Namun pendapat ini lebih sulit lagi untuk diterima, karena jika satu saja dari 5 milyar penduduk bumi ternyata masuk dalam definisi ahlul kitab versi Al-Quran, maka sudah cukup untuk membuat pendapat tersebut menjadi salah.

Hari ini kebetulan saya menemukan tentang Unitarian Christianity. Membaca keterangannya, menarik sekali; jelas ini berbeda dengan akidah Kristen mainstream :

  1. Percaya kepada Tuhan yang satu
  2. Injil adalah wahyu Tuhan, namun ditulis dan telah di edit oleh manusia.
  3. Percaya bahwa bayi terlahir tanpa dosa, namun kemudian memiliki kemampuan untuk menjadi baik ataupun jahat (free will).
  4. Percaya bahwa akal sehat dan sains dapat bersatu / tidak kontradiksi dengan doktrin agama
  5. Menjadikan Yesus sebagai idola / contoh teladan dalam menjalani kehidupan.

Unitarian adalah kelompok mayoritas dalam agama Kristen, sampai terjadinya Konsili Nicea. Setelah konsili yang kedua, para pengikut Unitarian dianggap sebagai pelaku bid’ah (heretic), dan dikejar serta dibunuh secara massal. Kelompok Trinitarian kemudian menjadi mayoritas dalam agama Kristen, dan terus mendominasi sampai sekarang.

Unitarian mulai berkembang lagi setelah munculnya kelompok Protestan. Banyak tokoh-tokoh dunia yang ternyata adalah penganut Unitarian (atau sekte-sektenya) :

  • Tim Berners-Lee
  • Alexander Graham Bell
  • Charles Dickens
  • Felix, Bishop of Urgel
  • Matt Groening
  • Thomas Jefferson
  • Isaac Newton
  • Florence Nightingale
  • Beatrix Potter
  • Christopher Reeve
  • Dan lain-lainnya

(Perlu diperhatikan bahwa ada banyak kelompok-kelompok Unitarian, beberapanya malah percaya bahwa Yesus adalah anak Tuhan. Jadi tidak semua kelompok yang bernama Unitarian otomatis mempercayai semua poin-poin yang tercantum di atas)

Browsing Internet hari ini menambah sebuah wawasan baru yang sangat menarik, alhamdulillah.

A Preacher For Traders

For the past few weeks, every Saturday morning, I joined in a gathering in friend`s house. Called “pengajian”, or muslims gathering, usually there`s a preacher (ustadz) speaking, and the others are listening. The topic is strictly religion-related. This one is a bit different though.

First, almost all of the audience are traders; all from west sumatera region. Second, the preacher is a trader too. A millionaire in fact. Third, questions and discussions are most welcome at any time, even if it will interrupt the speech.

Needless to say, every meeting is a heated and lively one. Religious dogma got interconnected with real-life cases seamlessly. The preacher happened to be an expert in Qur’an, instantly citing the related verses for each cases. He also happened to be a senior trader among us, definitely the richest. His responses are very much based on his Quranic expertise as much as on his trading experiences. The audience however doesn’t always accept everything willingly, questioning everything critically. The speaker responded in clarity, satisfying everyone.
There are cases sometimes when he doesn’t know the answer, and he’s willing to admit it. To which of course we have no problem.

Some of the interesting discussions :

  1. Bribery / commission : The slippery slope. A trader complained that many of his corporate customers are asking for commission. Otherwise, they’ll buy from other supplier, causing him great loss for each customer.

    The speaker responded that he definitely avoid marking-up practice; where you inflate the price on the corporate invoice, and give the difference to the person.

    However the trader raised another issue, where he didn’t do that, and he actually lowered the price so the company is getting the best deal - and on top of that he still had to give the person some money (out of his own pocket).

    Everyone agreed that this is kind of a grey area. First, this can be categorized as bribery, since he won’t give the money if that person is not the company’s staff (this is among the definition of bribe). However, on the other hand, if he doesn’t give the money, that company’s employee will buy from other supplier; which actually sells at higher price with lower customer service quality.

    A trader then told his experience as a supplier to a foreign company; he gave gift to the contact as usual; but the contact declined. But the surprise doesn’t end there, a few days later another company’s official showed up on his shop and asked him for name of employees who has received gift from him. To which he said none (which is the case).
    He was then told that if there are any of the company’s staff dared asking for gift (bribe) from him, just report them, and they’ll be sacked immediately.

    We wished if only all companies, especially local ones, are like this. It will make life much simpler for us.

  2. Government siding with conglomerates, and killing traders in the process. Especially with the rise of multi-story malls, while ignoring various planning regulations; killing traditional markets in the process.

    One of the solution is to move into “modern” market, aka the malls. But this is not always easy, and definitely is not cheap. A shop in traditional market can cost only about 20% of a shop in a mall — and generate more money. In malls, the traditional traders will have to compete with well-known, international brands. It’s as if we’ve gone to the war againts giants.

    People will need to go to the malls less often, and to the traditional markets more. And planning regulations (eg; no hypermarket in town, etc) needs to be executed properly.

  3. Business in the remote areas : surprisingly, this can be very profitable. Reason being no one else is looking to do business there. So when you come, there’s usually no competition. The speaker have even traded in East Timor, during the war time. He made serious amount of money back then, because everyone else was too scared to trade in a war zone.

    He noted that other traders have commented that the more dangerous the area, the easier to trade, because “you can make your own laws”. Needless to say, he doesn’t recommend this.

I’m currently looking forward for the next gathering.

ManiacMuslim.com

WARNING: Do NOT, I repeat, do not visit this website when you don’t have time to spare. Also make sure that no one is around when you browse it, to save you from embarrassment of witnessed while laughing like madman to your computer.

Joke about inter-family marriage

ManiacMuslim.com is a satire website; created by a muslim (goes by name of Hamzah Moin) that discusses about various silly things muslims does. The best thing is it’s really funny, so instead of making people angry, some people can only smile and thought “oh well, he’s right about it”. Most people will succumb to uncontrollable laughter though. :)

For example; the Darth Vader picture is in an article (among others) criticizing inter-family marriage. In some muslim countries, there’s tendencies to marry with close family, such as cousins. This is permitted in Islam, but not encouraged - however some muslims are going overboard with it. The article criticize it in a strikingly funny way.

More surprises are in this article, about Facebook and its adoption by some Muslims. I’ve already witnessed myself one of the incident (a sister with hijab showed her photos without hijab on Friendster, to our surprise), so I think this article is not pure satire; but mostly based on real events. Sad, but true.

Some muslims are overzealous in their dawa (call to Islam). This article remind us of the potential pitfall of extremism. Made me cringe. On the other hand, this website has the best coverage of the Danish incident. Poor Kinder Surprise never even saw it coming, LOL.

There’s the classic ones as well, such as the Online Nikah (OMG, ROFLMAO). If you’re having problems understanding some of the lingo used there, please feel free to refer to this short guide.

Despite making all kind of fun on (silly) Muslims, Hamzah is actually promoting a conservative & rational Islam. In this article for example, he encouraged people to do Nikah procession like the Prophet did :

Batman beaten by Riddleress

This is the #1 justification for every Muslim male on the planet to get chummy with girls. Well more than chummy actually. E-dating… where you first exchange your life stories and pics then move onto feelings and thoughts about one another and become almost lovers when all of a sudden the guy backs off and says “no sister we are just brothers and sisters in Islam… nothing more… teehee.”

I’m sorry brothers but let’s face it… you can talk to 100 women before marriage and think you “mastered the girl situation” but as soon as that Nikkah contract is signed, you’ll soon realize that the “experience” you received from e-dating those 100 Muslim girls in the past was useless. Why? Because girls are unsolvable. Period. Ever stop and wonder why they made the Riddler from the Batman comics to be a male? It’s because if the Riddler was a female then Batman would NEVER be able to solve any of her riddles. The Riddleress would be victorious and that would be the end of Batman forever.

The islamic nikah process is simple, and there’s no need to make it complex :

The whole marriage process done the Islamic way is ample enough time to get to know your potential spouse. No need to instant message each other 4 years before the big day to “get acquainted”. I’d get bored if I already knew everything about my wife after (or before) the Nikkah, wouldn’t you?

Almost consistently in his articles, Hamzah promotes logic instead of emotion, conservatism instead of extremism, humbleness instead of arrogance.

Superior logic, excellent grammar and spelling, and great sense of humor. Even has an article with Batman in it. What more could you ask ?

Highly recommended !

Respons untuk Respons terhadap pidato Paus

Dari milis is-lam :

Ada berbagai disinformasi yang disebarkan oleh berbagai pihak untuk membela Paus pada saat ini :

  1. Paus telah dikutip secara serampangan oleh media massa, dengan tujuan untuk meningkatkan oplah koran ybs :

    Tidak benar. Saya sudah membaca langsung naskah pidato aslinya, dan memang ada berbagai kesalahan di situ.

    Detilnya bisa dibaca misalnya disini.

  2. Paus telah dikutip di luar konteks, sebetulnya inti dari pidato Paus adalah mengajak dialog antar agama agar bisa tercipta kedamaian :

    Tidak benar, saya sudah membaca teks pidato lengkapnya, dan inti dari pidato Paus adalah mengajak rekonsiliasi antara sains dan agama. Dan dalam pidato tersebut, Islam dijadikan contoh mengenai agama yang tidak “reasonable” / tidak menggunakan akal pikiran; dan bahwa agama Kristen tidaklah seperti itu.

    Jadi sebetulnya isi pidato Paus yang selengkapnya malah mungkin lebih parah daripada yang dikutip oleh berbagai media massa.

  3. Paus mengatakan Muslim barbar, dan lihat bagaimana respon mereka (Muslim) terhadap ini (2 gereja di bom, dll), memang barbar kan ?

    Ini sama seperti jika saya melihat beberapa orang Padang pelit, dan lalu berkomentar bahwa SEMUA orang Padang itu pelit. Hal ini disebut generalisasi - ketika ada sebagian yang bertindak namun kemudian kita menuduh bahwa semuanya sama.

    Ada banyak komunitas muslim yang merespons pidato Paus ini dengan rasional dan bijaksana.

  4. Umat Islam baru ribut kalau agamanya dihina, tapi diam saja jika ada muslim yang melakukan terorisme:

    Ini hanya sok tahu, memangnya ybs bisa memonitor seluruh media massa yang ada di seluruh dunia ?

    Komunitas muslim di inggris sering memprotes berbagai kegiatan terorisme yang mengatasnamakan Islam, namun seringkali tidak dimuat oleh media.

  5. Paus hanya mengutip saja, dan tidak lantas berarti bahwa Paus setuju dengan tuduhan (Nabi saw memerintahkan untuk menyebarkan Islam dengan kekerasan) tersebut.

    Tetap ada kesalahan Paus, yaitu tidak menuliskan pendapatnya sendiri atas kutipan tersebut. Karena tidak ada, maka wajar jika kemudian ada orang yang mengira bahwa Paus setuju dengan tuduhan tersebut.

Silahkan disebarluaskan agar kasus ini menjadi lebih jelas.

Salam,
Harry