Archive for the 'It sucks' Category

Alamak, Wisma Bumiputra

Ini gedung benar-benar minta ampun. Sama sekali tidak bisa saya rekomendasikan :)

Ceritanya, ada client disitu, dan kita bereskan infrastruktur IT nya. Baru kemudian kita menyadari berbagai masalah di gedung tersebut.

Pertama, lift nya yang rada mengerikan. Hanya dalam beberapa kunjungan kesitu, saya sudah pernah terjebak di dalamnya. Di tengah ketegangan, seorang penumpang lift berusaha mengkontak petugas melalui emergency speaker.

Tidak ada respon.

Orang-orang mulai panik. Saya mulai kesal.
Di tengah itu semua, tiba-tiba ada penumpang yang berusaha membuka pintu lift - dan berhasil. Kita semua langsung berhamburan keluar menyelamatkan diri.

Sejenak sebelum kita keluar, terdengar suara petugas dari speaker, “Halo? Halo? Halo?”
Yang dijawab dengan ketus oleh para penumpang “telat pak !” :D

Kedua, listrik padam setiap jam 18:00 ??
Jika server Anda perlu hidup 24 jam, lupakan untuk menjadi tenant di gedung ini. Sebenarnya, pengurus gedung bisa menghidupkan listrik setelah pkl 18:00 misalnya untuk lembur, dengan biaya “hanya” Rp 300 ribu / jam saja.

Such a great deal. Not.

Ketiga, listrik byar-pet ????
Ini saya saksikan sendiri - ketika sedang mengutak-atik komputer di lokasi, tiba-tiba listrik & lampu semua **byar**. Lalu langsung hidup lagi seperti tidak ada apa-apa.
Namun sejak itu, bahkan printer heavy-duty seperti dot matrix dari Epson mulai bertingkah aneh.

Apalagi komputer para user.

Ketika berbincang-bincang dengan customer, ternyata ini kejadian yang biasa menurut ybs. Tapi, dia tetap tercengang ketika melihat lampu printernya berkelap-kelip dengan genit.
Dan kita tetap kesulitan membuat paham bahwa besar kemungkinan bahwa komputer-komputernya terus bermasalah (beberapa network card, sebuah komputer, beberapa printer, sebuah server gateway internet, dst) adalah karena masalah listrik tsb.

Keempat, parkir mobil !
Saya kaget setengah mati ketika menemukan bahwa tempat parkir untuk tamu di areal gedung ini sangat, amat sedikit. Waduh, mau ditaruh dimana mobil saya ?

Lalu saya bertanya baik-baik ke seorang satpam. Dijawab oleh ybs, bahwa saya boleh parkir di basement gedung - yang jelas-jelas ada rambu bertulisan “HANYA UNTUK TENANT” (atau semacam itu) di pintu masuknya. Saya tanya soal itu dan dijawab tidak masalah, maka saya masuk ke basement dan mulai berputar-putar mencari parkir.

Setelah cukup lama mencari, akhirnya ketemu lokasi parkir yang kosong. Dengan perasaan lega, saya kemudian mulai manuver untuk memparkir mobil.

Selesai mobil di parkir, seorang satpam datang menghampiri saya. “Halo pak, mau parkir?”
Saya bingung, “Iya pak.” Lha jelas-jelas saya **sudah** parkir :)
“Disini khusus tenant pak”
Saya: “Oooh, iya, saya juga baca, tapi saya disuruh parkir disini sama security diatas”
Satpam: “Oh tidak bisa pak. Disini cuma untuk tenant”
Saya: “Haahh??”

**bengong**

Saya: “Iya deh”

Terpaksalah saya keluar lagi dari tempat parkir tersebut, dan dari basement. Ketika melewati satpam yang menyuruh ke basement tersebut, saya komplain. Dia bengong.
Saya juga bengong, lho kenapa juga dia bengong? Jelas dia salah tho? Bingung saya jadinya :D

Belakangan, ketika proyek sudah mendekati selesai, saya baru tahu bahwa agak jauh di belakang gedung, ada tanah kosong yang sudah dikonversi menjadi lapangan parkir.

Doh! Kenapa juga saya malah disuruh parkir di basement ?? :P

Saya sudah memberitahukan kepada client saya tersebut, bahwa BPPT juga menyewakan ruang kantor dengan rate yang ekonomis. Mudah-mudahan informasi tersebut bisa bermanfaat bagi ybs.

Kekerasan di Institusi pendidikan bukan monopoli IPDN

Dari : http://tayuang.blogspot.com/2007/04/perguruan-tinggi-yang-sadis-dan-brutal.html

Pertanyaan yang jadi muncul pertama kali di benak saya : Apa UMI perlu dibubarkan ?
Paling tidak, mungkin nama “Muslim”-nya dicabut saja mungkin. Sudah terlalu banyak institusi yang menggunakan nama Islam, tapi kualitasnya jauh betul dari ajaran Islam sendiri. Saya sebagai muslim malu membacanya, bagaimana dengan yang mengalaminya ?


PERGURUAN TINGGI YANG SADIS DAN BRUTAL

Tadi pagi Selasa 24 April 2007, Prof Mappadjantji dosen FMIPPA Universitas Hasanuddin yang sedang dirawat di ICCU RSU Wahidin Makassar karena serangan jantung, menjalankan kewajiban sebagai anak yang harus melayat mertuanya Prof. Syamsi Lili yang jenasahnya disemayamkan di Jl Kartini. Prof MA izin keluar ICCU dilengkapi dengan botol infus dan diantar oleh seorang suster.

Dalam perjalanan kembali ke RSU Wahidin sepulang melayat, kendaraan mereka yang melintas di jalan Urip Sumoharjo dilarang lewat oleh mahasiswa Universitas Muslim Indonesia yang sedang demo. Walaupun Prof MA sudah memperlihatkan kondisinya yang darurat lengkap dengan selang infus dan seorang suster yang mendampingi, mereka tetap tidak diizinkan lewat.

Putri Prof MA, Vita yang menyetir kendaraan mengikuti keinginan mahasiswa untuk masuk ke jalur angkutan kota pete-pete. Di mulut pintu keluar, jalan mereka ditutup dan diwajibkan memutar haluan kembali ke kota. Melihat kondisi tersebut, putra Prof MA, Bayu memindahkan kayu penghalang agar bisa lewat karena ayahnya harus sesegera mungkin masuk ICCU kembali. Bayu kemudian dikeroyok hingga babak belur oleh mahasiswa UMI, bahkan ketika sudah masuk ke mobil, Bayu ditarik kakinya dipaksa turun untuk dihajar lagi. Melihat putranya babak belur, Prof MA melupakan kondisinya penyakitnya, dan bergegas menolong anaknya dengan melawan para mahasiswa yang brutal ini. Para mahasiswa tidak lagi mempedulikan bahwa Prof MA adalah pasien emergency, beramai-ramai menyerang termasuk menarik kacamata yang dipakai. Mahasiswa UMI berhenti menyerang ketika Prof MA berhasil menangkap salah satu pimpinan mahasiswa.

Kejadian yang dialami Prof MA adalah satu dari sekian banyak kejadian yang dialami pasien-pasien dengan ambulans yang membutuhkan pertolongan darurat menuju RSU Wahidin diantara jadwal demo UMI yang tiada henti. Begitu banyaknya, sehingga membuat kita bosan untuk membicarakan perilaku yang sangat tidak manusiawi ini. Inikah perguruan tinggi yang menyebut dirinya Muslim, yang tidak punya kepedulian terhadap orang yang sakit parah. Tidak pernah ada perhatian apalagi rasa bersalah atau menyesal dari institusi mereka, bahkan dari polisi yang selalu ketakutan tidak berani membela kepentingan orang yang nyawanya berkejaran dengan waktu.-

wass,
Triyatni

Firefox Sucks : And a look at Tamarin

I’ve been an open source advocate for years now, and I think open source software is among the best thing that can happen to us. Bottom line; it empower people. However, that doesn’t mean that I’m a zealot, where for example I’ll try my best to cover its various problems.
I’ll say things as it is, so my clients will be informed, and can face it prepared (instead of caught off guard).

But **I** was caught off-guard by Firefox.

Nowadays I’m very much dependent to Firefox. It doesn’t crash as often as Opera on me when opening a lot of tabs (don’t ask me why, it just do), and it’s much more secure than Internet Explorer. Not to mention the extensions - I’ve been saved by LiveHttpHeader and various other tools many, many times.

However, speed-wise, especially with Javascript-heavy pages, Firefox is a snail.

I didn’t notice the problem because there wasn’t that many Ajax-ed websites back then. Firefox was snappy, secure, and made me very productive. Even if it’s consuming available memory rather happily, I didn’t mind.

Then Web 2.0 arrived. To my surprise, opening just a few of those can slow down Firefox to a crawl.

Many times I was typing my email on Gmail with the speed of around 1 character per second. Indeed I can type much faster than that, but then I’ll be watching the characters that I’ve typed slowly appeared on screen, one by one.
This is on 2 GHz machine with 1.5 GB of RAM, and little else running.

I tried Swiftfox. Unfortunately, it’s still the same. So clearly, the problem is not with machine-specific optimizations.

Day after day, this continue to cause me problems. Finally, I set myself on the journey to find the reason for this, and how to get rid of the problem.

After much browsing around, I think the main culprit are :

  1. SpiderMonkey, the Javascript engine used by Firefox, sucks. Really sucks
  2. Firefox uses SpiderMonkey for itself. Therefore, if a website is heavy on Javascript, then Firefox itself will be blocked while it’s processing that website, and become unresponsive.

I suspect that the 2nd point is actually the biggest issue. I don’t mind when it takes more time to render a website, if I can still switch to another tab and continue my work there.
Unfortunately, not only it’s really slow in most cases, sometimes it’ll even freezes for minutes.
Add extensions processing load on top of that, and it can get really ugly.

The first idea may be to make SpiderMonkey multi-thread. However, for various reasons (including portability, backward compatibility, and platform issues), and also other technical problems, this does not seem feasible to be done anytime soon. At the earliest, it will be on Firefox 5.

That leaves us on SpiderMonkey itself. If we speed it up, then it will speed up Firefox too.

Thankfully, on November 2006, Adobe decided to donate Tamarin to Mozilla foundation.
In short, Tamarin will be used in SpiderMonkey’s core; enabling various optimizations to be performed, thus speeding it up considerably.

Naturally, I was too happy and got all psyched up when I found out about it. Then it dawned on me, is this simply too good to be true ?

No, the Tamarin stuff is for real. However, there’s a bad news in relation to this.

The earliest we can expect to have a taste of Tamarin is on the Mozilla Application Framework 2 (aka “Mozilla 2″) which is used in Firefox 4, which is due on 2009.

We’re still 2 years away from a (much) faster Firefox !

Even then, there’s still no guarantee that Tamarin will speed up Firefox 4 (FF4) significantly, if the UI still freezes everytime FF4 is working on a time-consuming script.

Unless somebody managed to develop a clean hack to speed this up, please excuse me while I’m browsing the Internet in slow-mo.

Nowadays browser competitons are increasing, with Safari for Windows just released, Opera team stepping up for 9.5 release, and IE no longer a stale project — Firefox definitely could not afford to have slower progress than them. Let’s raise awareness on this issue, so we’ll all benefit from a faster Firefox.

Bush’s Illegal Wars Creates More Terrorists Than Osama Could

Not only it costs American (and other nation’s - hello Britons) taxpayers TRILLIONS of US dollars, it failed to reach its objective; to destroy terrorists. Instead, it creates more terrorists than ever. At more places all over earth.

No wonder Osama keeps on hiding. He can sleep all day, and still there will be more terrorists out there than he can ever dream of creating.

One may be compelled to curse, “Stupid Bush”. But the problem is, Bush is not stupid.

Bush’s family & friends are richer than ever before.

Bush is a war criminal, guilty of illegal wars AND profiting from it. He should be hanged, drawn, and quartered.
But that still won’t be enough to bring back hundreds of thousands who have perished because of these illegal wars….

Ditilang; minta slip biru ?

Dapat ini dari milis. Setelah saya cek ke Google, sepertinya informasinya cukup reliable. Ada yang seharusnya kena tilang Rp 400.000, jadi dibebaskan ketika meminta slip biru ini.

Tapi untuk lebih yakinnya lagi, saya posting disini. Kalau ada informasi lebih lanjut mengenai kebenaran berita ini, tolong agar bisa dibagi di fasilitas komentar di posting ini, trims.

Saya sendiri kemarin ini kena tilang juga barusan ketika berputar arah ke kanan, namun agak ke kiri sedikit karena menghindari untuk tidak menabrak motor yang tiba-tiba menyalip dengan kencang dari belakang. Peluit berbunyi, dan si polisi berdalih bermacam-macam untuk menunjukkan kesalahan saya sambil dikelilingi teman-temannya. Lelah karena sudah 2 hari lembur di lokasi client, saya mendapatkan 2 pilihan: membayar polisi tersebut di lokasi, atau membayar calo di pengadilan (karena petugas di pengadilan akan berusaha agar SIM kita tidak kembali melalui jalur resmi). Akhirnya lagi-lagi berdamai di lokasi.

Nah, kalau informasi dibawah ini benar, maka mudah-mudahan kejadian diatas adalah “perdamaian” terakhir yang saya lakukan, amin.

Guys… Sekedar info nih. Kalau kena tilang, langsung minta aja Slip
Biru. Polisi Lalulintas itu punya 2 slip; Slip Merah dan Slip Biru.

Kalau Slip Merah, berarti kita menyangkal kalau melanggar aturan dan mau membela diri secara hukum. Kalau kita dapat Slip Merah, berarti kita akan disidang. Dan SIM kita harus kita ambil di pengadilan setempat. Tapi ngerti sendiri kan prosesnya? Nguantri yg panjang bgt. Belom lagi calo2 yang bejibun.

Tetapi kalau;

Slip Biru kita mengakui kesalahan kita dan bersedia membayar denda. kita tinggal transfer dana ke nomer rekening tertentu (BNI kalo ga salah). Abis gitu kita tinggal bawa bukti transfer untuk di tukar dengan SIM kita di kapolsek terdekat dimana kita ditilang. Misalnya, kita ditilang di Perempatan Mampang-Kuningan, kita tinggal ambil SIM kita di Polsek Mampang. Dan denda yang tercantum dalam KUHP Pengguna Jalan Raya itu tidak melebihi Rp. 50.000,- dan dananya Resmi, masuk ke Kas Negara. Jadi, kalau ada Polantas yang sampe minta undertable Rp. 75.000,- atau Rp. 100.000,- Biasanya di Bunderan HI arah Imam Bonjol tuh, (sorry) but it’s Bu**S**t! Masuk kantong sendiri.

Trust me guys, I’ve been doing this before. Waktu kena tilang di Bundaran Kebayoran (Ratu Plaza). Saya memotong garis marga. Karena dari arah senopati sebelumnya saya berfikir untuk ke arah Senayan, tetapi di tengah jalan saya berubah pikiran untuk lewat sudirman saja. Dan saya
memotong jalan. Saya berhenti di lampu merah arah sudirman. Dan tiba-tiba Seorang polisi menghampiri dan mengetok kaca mobil. Dia tanya, apa saya tau kesalahan saya? Ya saya bilang nggak tau. Trus dia bilang kalau saya memotong Garis Marga. Saya cuman bilang, masa sih pak? saya nggak liat. Maafin deh pak. Tapi dia ngotot meminta SIM saya. Alhasil saya harus berhenti sejenak untuk bernegosiasi. Dia meminta Rp. 70.000,-. Dengan alasan, kawasan itu adalah Kawasan Tertib Lalulintas. “Nyetir sambil nelfon aja ditilang mbak!”. Dia bilang gitu. Saya kembali ke mobil, dan berbicara sama teman saya yang kebetulan menemani perjalanan saya. Teman saya bilang, “Udah kasih aja Rp. 20.000,- kalo ga mau loe minta Slip Biru aja”. Dengan masih belum tau apa itu Slip Biru,
saya kembali menghampiri pak polisi sambil membawa uang pecahan Rp. 20.000,-. “Pak, saya cuman ada segini.” Si polisi dengan arogannya berkata, “Yaahh.. segitu doang sih buat beli kacang juga kurang mbak”. Sambil tertawa melecehkan dengan teman2nya sesama `Polisi Penjaga`.

“Ya udah deh pak, kalo gitu tilang aja. Tapi saya minta Slip yang warna Biru ya pak!”. Seketika saya melihat raut wajah ketiga polisi itu berubah. Dan dengan nada pelan salah satu temannya itu membisikkan, tapi saya masih mendengar karna waktu itu saya berada di dalam pos. “Ya udah,
coba negoin lagi, kalo ga bisa ga papalah. Penglaris, Mangsa Pertama. Hahahaha…” . Sambil terus mencoba ber-nego. Akhirnya saya yang menjadi pemenang dalam adu nego tersebut. Dan mereka menerima pecahan Rp. 20.000,- yang saya tawarkan dan mengembalikan SIM saya. Dalam
perjalanan, teman saya baru menjelaskan apa itu Slip Biru.

So, kalo ditilang. Minta Slip Biru aja ya! Kita bisa membayangkan dong, bagaimana wajah sang polantas begitu kita bilang, “Saya tilang aja deh pak, Saya mengaku salah telah menerobos lampu merah.Tolong Slip Biru yah!”. Pasti yang ada dalam benak sang polisi “Yaahh… ngga jadi panen deh gue…”

Bahaya Situs (Blog) Gratisan

Saya baru saja mendapatkan email bahwa seorang kawan blogger, Luthfi Assadad, blognya dimatikan oleh hosternya, WordPress.com, dengan alasan “melanggar TOS (Terms Of Service)”. Walhasil, isi blognya lenyap semua, dan tidak diketahui apakah akan bisa diselamatkan atau tidak.

Sebetulnya, dimana pun kita hosting blog/situs kita pasti akan selalu ada kemungkinan ini (lenyapnya data). Namun, pada situs/blog gratisan, resikonya jauh lebih besar. Penyebabnya bisa kita baca di isi TOS WordPress.com :

Automattic has the right (though not the obligation) to, in Automattic’s sole discretion (i) refuse or remove any content that, in Automattic’s reasonable opinion, violates any Automattic policy or is in any way harmful or objectionable, or (ii) terminate or deny access to and use of the Website to any individual or entity for any reason, in Automattic’s sole discretion. Automattic will have no obligation to provide a refund of any amounts previously paid.

Dan ini makin diperparah dengan ustomer service nya — karena mungkin ada jutaan blog di WordPress.com pada saat ini, tentu sulit bagi mereka untuk membalas email komplain dari kita - mengapa situs kita tiba-tiba dilenyapkan begitu saja?
Pada hosting berbayar kita masih lebih mungkin mendapatkan penjelasan dari mereka, sehingga kemudian kita bisa memenuhi TOS mereka.

Lalu bagaimana solusinya jika kita sudah terlanjur menggunakan hosting Wordpress.com ?
Saya barusan bertanya kepada seorang kawan, menurutnya ada fasilitas Backup di WordPress.com

Nah, dengan memanfaatkan fasilitas tersebut, maka jika tiba-tiba Anda tertimpa bencana ini, data-data di blog Anda sudah aman tersimpan di komputer Anda sendiri.

Mudah-mudahan bermanfaat. Terlampir adalah email selengkapnya dari kawan saya tersebut.

From: Luthfi Assadad
Date: Feb 12, 2007 10:14 AM
Subject: Mohon Bantuan Dari Teman-teman blogger Semuanya

Assalamu’alaikum warahmatullah wabarakatuh …
Teman-teman blogger semuanya ….
Pagi ini, ada sesuatu yang lain ketika saya mengakses blog saya (luthfi.wordpress.com). BLOG SAYA DISUSPEND termasuk akunnya. Untuk akun yang disuspend akhirnya bisa kembali lagi dengan bantuan menu Reset Password (Lost Password). Blog saya disuspend dengan alasan melanggar Term of Service, yang mana saya sendiri gak tahu TOS yang mana yang saya langgar.

Setelah berhasil login (dengan password baru), rupanya blog utama saya tersebut hilang dari list blog2 saya.
Untuk itu, demi persahabatan kita, tolong, kirimkan email ke pihak wordpress melalui menu support dan meminta wordpress agar mengembalikan blog utama saya. Sekalian tanyakan TOS yang mana yang saya langgar.

Yang terakhir, sekalian sebarkan ke yang lain.
Dukungan dari teman-teman blogger wp sangat saya harapkan.
Terima kasih atas perhatian dan dukungannya.

Luthfi Assadad

Bee magazine : membagi data pribadi customernya ?

Istri saya sudah beberapa bulan ini berlangganan Bee magazine, sebuah majalah anak-anak edukatif. Saya pikir ini termasuk salah satu majalah edukatif yang terbaik yang pernah saya lihat, dan saya mendukung keputusan istri saya untuk berlangganan ini.

Namun, beberapa hari yang lalu ada sebuah kejadian yang aneh. Istri saya tiba-tiba ditelpon oleh seorang sales Indosat, yang menawarkan berbagai paket Matrix. Anehnya karena sales tersebut tahu persis berbagai informasi seputar kami, termasuk alamat lengkap dari rumah baru kami. Tentu istri saya jadi kebingungan bagaimana sales Indosat tersebut bisa mengetahuinya.

Ternyata kemudian ketahuan bahwa promosi tersebut adalah kerjasama antara Bee magazine dengan Indosat. Saya cukup kecewa mendengarnya, karena ini telah melanggar privasi kami. Kami memberikan berbagai data pribadi kami hanya sekedar agar Bee magazine bisa mengantarkan majalahnya kepada kami (kurir mereka mengantarkannya langsung ke rumah kami) — bukan untuk dibagi lagi ke pihak-pihak lainnya.

Kesalahan kami memang tidak memeriksa apakah ada klausa mengenai privasi di kontrak berlangganan majalah tersebut, karena kami terlanjur terbiasa dengan situasi Inggris. Dimana privasi customer, secara default, adalah rahasia.
Kalaupun kami mendapatkan berbagai promosi dari vendor lainnya dari service provider (contoh: PLN, PAM, dll) kami; itu dilakukan tanpa vendor tersebut mengetahui data pribadi kami, karena promosi-promosinya diselipkan ke amplop tagihan. Jadi, privasi kami tetap terjaga.

Kami sebentar lagi akan komplain ke customer service Bee magazine mengenai hal ini. Mudah-mudahan mereka bersedia untuk bekerja sama.

Sementara itu, apakah ada lagi vendor lainnya yang melakukan hal ini juga ? Membagi-bagi data pribadi Anda kepada pihak-pihak lainnya ?

Bagi pengalaman Anda disini, agar kita semua dapat terhindar dari masalah tersebut.
Terimakasih.

TKW, nasibmu…

Didats, yang sekarang sedang membanting tulang demi segenggam sekarung dinar di Kuwait, menceritakan pengalamannya sekitar TKW.

Kutipan:

Mengunjungi KBRI beberapa hari lalu seakan-akan membuat mataku lebih terbuka melihat para TKW. Selama ini mereka dieksploitasi sejak dari tanah air mereka sendiri. Para agen-agen TKW yang berada di Indonesia maupun Kuwait hanya meraup keuntungan demi perutnya sendiri!

Eksploitasi sudah dimulai sejak masih di negeri sendiri :

TKW yang diberangkatkan dari Jakarta juga sudah menerima kenyataan pahit sejak dari tanah air mereka. Dibentak-bentak oleh para petugas bandara. Perandaiannya seperti seorang majikan yang sedang darah tinggi memarahi seorang pembantu yang kebetulan bersalah. Nah, masalahnya, para TKW yang berada di Bandara tidak salah apa-apa. Tapi sudah dibentak-bentak secara tidak wajar. Ini aku lihat sendiri ketika berangkat dari Jakarta.

Pesan Didats untuk para calon TKW:

Pesanku lewat tulisan ini adalah, JIKA DIANTARA PEMBACA ADALAH TKW (eh, ada ga ya), URUNGKAN NIATMU BEKERJA SEBAGAI PEMBANTU DI NEGERI LAIN (kalau selain PEMBANTU boleh! Justru dianjurkan). ATAU JIKA DIANTARA PEMBACA MEMPUNYAI SAUDARA YANG AKAN BEKERJA SEBAGAI PEMBANTU DI NEGARA LAIN, CEGAH! PENYESALAN SELALU DATANG TERLAMBAT, KAWAN.

Pesan Didats untuk pemerintah:

Pertanyaannya, DIMANA KESERIUSAN PEMERINTAH KUWAIT DAN INDONESIA? Apakah ini hanya kepentingan beberapa orang yang hanya ingin meraup keuntungan demi buncitnya perut sendiri?

Salah satu solusi :

negara seperti pakistan sudah menyatakan fatwa haram mengirim pembantu ke negara lain.

mereka menanggulangi masalah pengangguran dengan mengirim laki-laki bekerja di luar negeri, sedangkan perempuan bekerja di dalam negeri.

Iya ya, kenapa juga musti terus ekspor perempuan, sementara korban sudah jelas ada (banyak sekali malah)

Ayo mari kita link ke posting Didats ini, agar semakin banyak yang “aware” mengenai masalah ini.

catatan:
masalah TKW bukan cuma di Kuwait / negara-negara Arab. Banyak juga TKW Indonesia yang dizalimi di negara-negara lainnya.

catatan/2: maaf bagi para pemirsa Planet.Terasi, posting non-IT ini saya munculkan untuk mendapat publikasi yang lebih luas.

Tabrakan lagi…

Kembali mobil saya di tabrak motor kemarin. Mungkin ini sudah kali yang ke enam. Mobil tahun 2005 ini kini sudah banyak baret, dan kali ini ditambah dengan bemper belakang yang penyok.

Syukurnya, motornya sendiri tidak apa-apa, kalau tidak wah istri saya bisa dikeroyok massa. Buktinya dia langsung kabur sekencang-kencangnya di tengah padatnya lalu-lintas, sambil menyalip kiri-kanan dengan lincahnya.

Terus terang saya bingung bagaimana solusi dari masalah ini. Kita bisa mencegah menabrak orang lain dengan mengemudi secara hati-hati. Tapi mencegah dari di tabrak ?

Ada ide ?

Airlines Indonesia: Umur Pesawatnya & Jumlah Kecelakaan

Membaca posting Priyadi soal airline Adam Air, jadi tahu tentang website Airfleets.net. Situs ini menyimpan banyak data-data menarik seputar berbagai airlines dan armadanya.

Berikut ini adalah data umur rata-rata pesawat di setiap airlines, serta total crash.

Cukup menarik, kita bisa lihat bahwa umur pesawat yang tua bukan berarti berbahaya. Seperti kata Nofie Iman, jika maintenancenya baik dan sesuai prosedur, maka pesawat tua pun bisa saja terus beroperasi dengan aman.

Yang agak mengejutkan adalah Garuda - walaupun umur rata-rata armadanya adalah paling muda, namun paling sering crash.

Tabel ini saya kira masih bisa diperlengkap lagi, misalnya dengan jumlah total insiden per airlines. Seperti rem blong, kerusakan peralatan pesawat saat sedang terbang, dll. Justru data ini yang paling relevan saya kira; karena akan menunjukkan secara akurat bagaimana perhatian manajemen airlines terhadap perawatan armadanya.
Sayangnya, data ini sulit didapat, dan akan lebih memakan waktu untuk mengumpulkannya. Namun jika ada, maka saya kira akan dapat bermanfaat sekali.

Sebagai bonus, berikut adalah data tentang airline favorit para suporter Open Source — Linus Airways :D

Sudah teruji reliabilitasnya selama 23 tahun - tidak pernah crash sama sekali ;)

Sayang Bill Airlines tidak tercantum datanya di Airfleets.net, dengar-dengar armadanya berumur 20 tahun, tapi sudah ratusan kali crash. Bahaya, sebaiknya hindari sama sekali :D

Semoga bermanfaat.

Koneksi Internet Sekarat, Buka Regulasi Satelit ?

Singkat saja - ketika akses Internet Indonesia terputus, banyak bisnis yang kemudian menyadari bagaimana Internet telah menjadi kebutuhan yang vital bagi kelancaran usaha mereka. Sore ini saya menonton berita di TV, beberapa bisnis di interview dan mereka mengeluh bahwa omset bisnis mereka drop sampai menjadi nol sejak akses Internet Indonesia terputus.

Setelah kini kita menyadari bagaimana akses Internet telah menjadi hajat hidup banyak orang, mudah-mudahan kita bisa memanfaatkan momen ini untuk mendorong pemerintah membebaskan akses internet via satelit.

Just say no to : duopoli akses internet via satelit !

WWF Smackdown : Boy tortured, killed

Restu, Iyo, and Li are three middle school students who loves watching the populer WWF Smackdown TV shows. In this show, wrestlers glorifies violence in various cool fighting moves. Although the shows are violent, the wrestlers always ended up safe and sound with no injury.

It’s because it’s all just tricks indeed. But when you’re watching the show that you don’t understand the language, and there’s no clear disclaimer/clarification — and you’re just 3 middle-school kids; then it’s real easy to be fooled into thinking that it’s all real. And thinking that you can do it too, and also walk away with no injury. Just like their “heroes” in the WWF Smackdown.

Restu, Iyo, and Li then practiced the moves into their neighbour Reza, a 9 years old boy.
The boy’s small body was slammed. They crushed the boy’s head into the floor. Reza’s hand was locked and twisted. And various other tortures applied into the little boy.
Reza can not do anything against the three bigger bullies.

Reza then told about the pain to his father, Herman (53), but Reza didn’t tell why or who did it to him. After a week, the pain got much worse, and Reza had to be cared for in a hospital. X-ray photo shows that his left arm’s has been ripped from the socket. He suffered from head injury. And a few other injuries.

On 16 Nov 2006, Reza died, painfully, in Herman’s arms.

Herman asked local parliament and the city’s authority to try stop Lativi, the TV station who aired the show in Indonesia, from continuing the show. He hesitated to sue the TV station, because his concern is to avoid further victims, not to get monetary compensation.

Indonesian Broadcasting Commission (West Java branch) said that they have sent stern warning to Lativi in regard to this. Vice President of KPI (Komisi Penyiaran Indonesia; Indonesian Broadcasting Commission), Sinansari Ecip, said they’ve called Lativi to come next week and will start the investigation.

Lativi’s PR Manager, Raldy Doy, confirmed that he already heard about the boy’s death. He said that Lativi will also perform their own investigation into the matter.
In their written statement received by Republika sent by Raldy via email, he said that SmackDown is purely an entertainment show. I guess that’s even more reason to stop airing it.

Source: Republika newspaper, 22 Nov 2006, first page.

Tentang_:: UKP-PPR

Heboh-heboh tentang UKP-PPR akhirnya selesai juga, dan seperti dugaan saya, SBY berhasil mempertahankan keberadaan lembaga tersebut. Memang SBY adalah diplomat ulung.
Hanya saja mudah-mudahan tidak terlalu banyak yang telah dia korbankan untuk mempertahankan lembaga tersebut.

Sayang ya bahwa untuk dapat melayani rakyat, amat sulit untuk mengandalkan lembaga-lembaga yang telah ada, karena seringkali mereka justru menghalangi niat baik para atasannya. Beberapa contoh; untuk memberantas korupsi terpaksa dibentuk KPK, karena lembaga-lembaga yang ada mandul.
Lalu, niat untuk mensejahterakan rakyat justru dijegal oleh beberapa bawahan SBY yang berkongkalikong untuk impor beras. Dan masih banyak lainnya lagi.

Dulu saya pernah mengira bahwa jika ada orang baik yang berhasil menjadi Presiden, maka selesailah semua masalah negara kita. Naif :)
Setelah saya bekerja di kantor, saya melihat sendiri berbagai kasus dimana bawahan bisa menjegal berbagai kebijakan atasannya dengan berbagai cara. Apalagi jika ada banyak bawahan yang saling bekerja sama untuk itu, maka atasannya tinggal gigit jari saja. Hal ini karena terlalu banyaknya peraturan yang melindungi karyawan. Sehingga memang sulit bagi atasan untuk menjadi zalim. Namun di lain pihak, gantian para bawahannya yang bisa bermalas-malasan tanpa terkena sangsi apapun.

Apalagi ketika yang diurus adalah sebuah negara, bukan cuma entitas sekecil kantor.

Semoga Allah swt berkenan untuk segera mengangkat cobaan ini dari kita semua.

Newmont’s boss in lawsuit

Richard Ness, President Director of Newmont Minahasa Raya (NMR), was in news today as the accused in Newmont’s pollution case in Teluk Buyat, North Sulawesi, Indonesia. The state attorney, Purwantha SH, found clear and convincing evidence that the accused has polluted the environment in Teluk Buyat (Buyat Bay) in violation of many laws.

In NMR’s operation, between 1996-2004, they have dumped at least 33 tons of mercury, 17 ton of other polluting gases, and possibly other pollutants as well.

A lot of people suffered because of these. Especially babies and children.

Unfortunately, the state attorney only asked the punishment to be a fine of Rp 500 million (about US$ 50,000), and less than 3 years imprisonment. The actual decision may very much lower than this, so it’s important to set it as high as possible. But with these, a criminal may walk away free and only with a light fine.

The lawsuit continues…

Reference: Republika newspaper, page 5, 11 November 2006

Oracle hijacking RedHat Enterprise Linux

I just realize that there’s a new distro called Oracle Unbreakable Linux.

Oracle, now realizing that they’re completely incapable of creating an unbreakable product, decided to hijack other’s product, and labeled it as unbreakable.
And when it breaks, they’ll smugly point their fingers to RedHat. Dilbert’s boss would be so proud.

This is why I don’t like Larry Ellison as much as I don’t like Bill Gates.

Anyway, if I’m a business owner, I’ll choose RedHat Enterprise Linux (RHEL) over Oracle’s. Because what Oracle’s doing is pretty risky.
An example; if suddenly RedHat chooses to change the license for some of its own products in RHEL, this would keep Oracle from having it. Which would leave Oracle Linux’s customers (you) with an incomplete product.

Oracle, of course, may create its own version of those products. But it will instantly cause their mission to fail :

“We think it’s important not to fragment the market,” said Oracle’s Chief Corporate Architect Edward Screven. “We will maintain compatibility with Red Hat Linux. Every time Red Hat distributes a new version we will resynchronize with their code.

PS: What Oracle’s doing is indeed legal. But, to me, it’s not ethical.
The company owned by the ninth richest man in the world, hijacking a small company’s product ? That just tells you how technically incapable they are, really.

Die Hard(est)

If you thought Bruce Willis is rock-hard in his “Die Hard” movie series; well, he’s nothing compared to Castro. According to The Guardian, US government and CIA have tried 638 times to kill him.

CIA tried many things; from the conventional (mafia-style hit) to the bizarre; exploding molluscs, exploding cigars, killer diving suit, snipers, and so on.
None worked, obviously. Officially, US gov’t has given up on trying to kill him. But that doesn’t stop Castro’s security from keeping on alert.

Anyhow, I guess there is a (very good!) reason why many nation leaders chose to become a yes-man to US gov’t, rather than standing up to this bully. The risk are just to high. Just look at what they’ve tried to do to Castro.

Warga Bintaro Menuntut Janji PT Jaya Real Property

Pada hari Rabu, 30 Agustus 2006, para warga cluster Permata 2, Bintaro Jaya, melakukan demonstrasi di kantor PT Jaya Real Property Real Property. Dalam jangka waktu 6 bulan, telah terjadi 6 kasus pembobolan rumah warga, dengan interval yang semakin singkat dan kerugian korban yang meningkat drastis.
Seminggu sebelumnya saya baru saja pindah ke kompleks ini, dan cukup terkejut menemukan situasi disana.

Beberapa masalah yang ada :

  1. Jaya menjanjikan bahwa Permata 2 Bintaro adalah kompleks dengan sistim Cluster. Ternyata setelah lama, janji ini tidak juga terwujud. Malah rumah-rumah warga telah banyak yang jadi dibobol perampok.
  2. Di pamflet marketing jelas terlihat hanya ada 1 gerbang masuk ke cluster (single access). Ternyata, belakangan PT Jaya Real Property membuat Permata 2 Extension, dan membobol pagar belakang Permata 2 untuk menjadi jalan masuk ke Permata 2 Extension. Masalahnya, pembobolan tersebut tidak hanya membuka akses ke Permata 2 Extension - namun juga ke sebuah jalan kecil lainnya.
  3. Warga menuntut agar gerbang baru tersebut ditutup kembali, sesuai dengan masterplan awal. Namun PT Jaya Real Property nampak merasa segan untuk melakukannya - mungkin karena dengan demikian mereka akan terpaksa banyak mengeluarkan dana untuk membuat jalan masuk baru bagi Permata 2 Extension.
  4. Penutupan jalan kecil dapat membantu mengisolir dan sekaligus menggabungkan Permata 2 dan Permata 2 Extension menjadi 1 cluster, namun ini ditolak dengan tegas oleh warga — karena akan sangat potensial membuat warga kampung sekitar marah. Dan warga Permata 2 lah yang akan mendapat getah dari situasi ini karena mereka yang paling dekat dengan warga sekitar — bukan PT Jaya Real Property.
  5. Keamanan cluster Permata 2 juga belum bagus — penerangan kurang, orang asing bebas keluar-masuk tanpa hambatan berarti dari security PT Jaya Real Property, pagar sekeliling Permata 2 cukup rendah dan tidak ada kawat berduri, dst.
  6. Selain itu juga ada masalah-masalah lainnya seperti kualitas bangunan; beberapa warga mengeluhkan masalah-masalah pada rumahnya seperti tembok yang retak-retak, kebocoran yang cukup parah, kualitas finishing, dst.
  7. Warga menuntut tindakan yang cepat dari PT Jaya Real Property, setelah tidak ada respons yang serius setelah di protes selama 6 bulan; mengingat Lebaran semakin dekat dan banyak warga yang cemas untuk meninggalkan rumah ketika mudik.
  8. Mendekati Lebaran juga dicemaskan kebutuhan ekonomi yang meningkat akan semakin meningkatkan pula frekuensi perampokan dan kerugian yang ditimbulkan.

Beberapa pelajaran yang bisa diambil dari sini, dan bagus untuk menjadi perhatian para calon pembeli rumah :

  1. Jangan mudah tergiur umbaran janji Marketing. Tetap tenang, dan perhatikan dengan seksama semua detail dari fasilitas yang ditawarkan.
  2. Pastikan bahwa semua fasilitas yang dijanjikan Marketing ada tertulis (hitam diatas putih) di surat perjanjian jual beli rumah - dan jelas KAPAN akan terealisasinya.
  3. Tinjau lokasi sebelum membeli. Catat semua kekurangan yang ada. Minta agar kekurangan tersebut dibetulkan; dan janji tersebut dijadikan lampiran surat jual beli dengan jelas tertulis juga KAPAN realisasinya.
  4. Usahakan membeli rumah yang sudah lama selesai, dan lihat apakah ada cacat-cacatnya. Rumah yang baru jadi biasanya masih belum muncul cacatnya.
  5. Sistim cluster membantu mengurangi resiko kejahatan, namun perlu diperhatikan juga bagaimana sistim keamanan yang telah dijalankan. Apakah orang asing mudah keluar-masuk cluster? Seberapa sering ronda keliling dilakukan? Berapa total jumlah personil keamanan? Berapa personil keamanan yang ada pada suatu saat? Apa saja fasilitas mereka? Apa saja training yang mereka terima untuk meningkatkan/menjaga kualitas mereka? Dst.
  6. Segera setelah pindah ke cluster, silaturahmi dengan warga yang telah ada, dan usahakan untuk meningkatkan kekompakan warga cluster.

Foto-foto :
[ Demonstrasi warga Permata 2 Bintaro ]

Pada kesempatan ini saya menyampaikan rasa salut saya kepada para warga Permata 2, ini adalah warga kompleks paling kompak yang pernah saya temui selama ini. Juga terimakasih kepada para perwakilan dari PT Jaya Property, yang walaupun bukan dari level manajemen (sehingga tidak mempunyai wewenang untuk membuat keputusan), telah bersabar menghadapi para warga yang menuntut hak-haknya. Kecaman ditujukan kepada pihak manajemen PT Jaya Property, yang telah dengan sengaja menghindari menemui warga, dan membuat masalah menjadi semakin berlarut-larut.

Ada apa Kompas ? Opini Kompas 30 Agustus 2006 : Enaknya menjadi Menteri

Kutipan :

Kekuasaan wartawan amat besar… tulisan koran seperti Kompas amat dapat mempengaruhi opini publik… , dia bahkan jauh lebih tajam dari pedang…bahkan bisa lebih berpengaruh dari pada senjata…

Jadi mengingatkan kita pada sebuah pepatah yang sudah sangat terkenal : The pen is mightier than the sword

Email dibawah ini saya posting di milis Forum Pembaca Kompas pagi hari ini :


> http://www.kompas.com/kompas-cetak/0608/30/opini/2917890.htm
> Enaknya Menjadi Menteri

Enaknya jadi editor :-) bisa menyerang terus, tanpa menampilkan data berimbang.

> Pertanyaan lain, apa yang sudah dilakukan Departemen
> Pertanian? Apakah Deptan telah melakukan tugas
> utamanya untuk mendorong petani meningkatkan produksi
> dan menerapkan teknologi terbaru?

Di radio Elshinta beberapa hari yang lalu saya mendengar reportase soal ini yang lebih komprehensif daripada editorial ini.

Ternyata, stok beras sebenarnya cukup, apalagi memang sudah/hampir panen. Hanya saja, ada terdeteksi usaha untuk menimbun / menahan stok beras oleh mafia / kartel. Sehingga terjadi kelangkaan stok, sampai stok Bulog pun turut menipis, yang berujung pada kenaikan harga beras.
Pejabat yang diwawancarai mengakui ini (menipisnya stok Bulog), padahal Bulog makin ditekan untuk melakukan operasi pasar (agar harga beras turun kembali), yang tentu sulit dilakukan jika stok Bulog sendiri tidak mencukupi.

Saya tidak tahu alasan mafia ini melakukan ini, apakah ingin melakukan aksi profit-taking menjelang puasa/lebaran, atau ingin menekan DPR & pejabat pemerintah yang anti impor agar menjadi setuju untuk impor beras, atau lain-lainnya, wallahua’lam.

Seorang pendengar kemudian mengirimkan SMS, yang mendukung pemerintah untuk membasmi para cukong beras ini. Saya kira ini langkah yang lebih tepat, daripada hanya mencaci tanpa solusi seperti ini.
(tanpa data yang akurat pula)

Salam,
Harry

> Di sini sering kali kita merasa terganggu. Seremoni
> untuk melakukan panen raya begitu sering dilakukan.
> Namun, kenyataannya, produksi nasional tidak mencukupi
> dan terpaksa kita harus mengimpor.
>
> Terus terang yang ingin kita gugat adalah kebiasaan
> untuk begitu mudahnya melakukan impor. Bukan hanya
> terbatas pada urusan beras, untuk komoditas lainnya
> pun kita begitu entengnya untuk mengimpor. Dengan
> alasan agar masyarakat bisa mengonsumsi daging, maka
> impor daging akan dilakukan. Buah-buah impor terus
> berdatangan masuk. Di Brebes, petani bawang merah pun
> melakukan protes karena bawang produksi mereka
> tertekan bawang impor. Dan yang sekarang menjadi
> kontroversi, tepung daging dan tulang (meat and bone
> meal) akan diimpor dari AS, padahal negeri itu
> terjangkit sapi gila dan oleh Badan Kesehatan Hewan
> Dunia (OIE) komoditas itu dilarang untuk
> diperdagangkan.
>
> Kita ingin mengingatkan, salah satu tugas para menteri
> itu seharusnya mendorong produksi. Bahkan, dalam
> kondisi negeri yang sedang terpuruk seperti sekarang,
> tugas para menteri untuk bisa membuka lapangan kerja
> dan menyumbangkan devisa kepada negara. Bukan justru
> berlomba menghambur-hamburkan devisa.
>
> Selalu kita ingatkan bahwa kehormatan itu membawa
> tanggung jawab, noblesse oblige. Sebagai seorang
> menteri, menjadi pejabat negara banyak privilese yang
> diberikan rakyat. Di balik kenikmatan yang dirasakan
> itu, ada tanggung jawab yang harus dipenuhi, yakni
> menyumbangkan tenaga dan pikiran untuk kemajuan
> negeri.
>
> Jangan hanya kenikmatannya saja yang mau diterima,
> sementara tanggung jawabnya tidak mau dilaksanakan.
> Tidak mau turun ke bawah untuk mengetahui apa yang
> dirasakan oleh rakyatnya, tidak peduli dengan realitas
> bangsanya. Enak betul jadi menteri di Indonesia kalau
> hanya kenikmatan yang diterima, kerja kerasnya tidak!


Dari : http://groups.yahoo.com/group/Forum-Pembaca-Kompas/message/37174

Dari : Haniwar Syarif
Subject: Re: Tanggapan utk Enaknya Menjadi Menteri

Betul Mas..kita bisa tinggal nanya, kalau Mentan anggota FPK .

Tapi kalau gaya tajuk Kompas yang pasti bisa nanya , jangankan nanya… malah nuduh saja…

Soal beras kasusnya jelas…menurut data ..produksi beras lebih gede dari konsumsi…tapi..stok bulog nipis…, Mentan juga sudah nyalahkan mengapa Bulog tidak berhasil melakukan pembelian cukup utk stoknya pada saat panen raya.

Lepas dari itu, stok Bulog saat ini tinggal 300.000 an dari seharusnya 1 juta tonan. Nah BULOG punya tanggung jaWab utuk suplai raskin, beras utk bencana, dan juga OP didaerah tertentu yg krn satu dan hal lain harga berasnya melonjak, belum lagi mau hari raya keagamaan, krn itu kabinet
memutuskan mau impor . Mentan sdh bilang nggak boleh masuk pasar, tetapi utamanya utk raskin dan kalau ada bencana.

Hari ini Kompas mengutip Wakil Rektor IPB bahwa ” saat ini memang stok beras banyak dipakai untuk penalanggungan bencana bencana nasional , sehingga impor beras memang diperlukan ”

Bandingkanlah dengan tulisan Tommy dalam tajuknya yang menyerang Mentan tanpa ampun sebagai orang yang mau enaknya aja nggak mau susah ..apa apa tinggal impor…

Di coba kesankan seolah Mentan ini mahluk ajaib, yang kerja di bidang pertanian tapi nggak bebruat aopa apa untuk meningkatkan produksi pertania..

Dalam tajuk sebelimnya tanggal 26 Juli Tommy juga nulis menyerang mentan dgn nada sama , bahkan implisit menuduh bhw buka kran impor mungkin krn terima kick back, sebelumnya berita Kompas menyebut issue adanya kepentingan partai tertentu ( mudah ditebak partai mana yg asalnya pak Anton) dalam mencari dana..

Perlu saya ingatkan sesudah tajuk 26 Juli , awal agustus MenTan mengundang umum termasuk kompas, utk dialog terbuka dimana beliau menjelaskan alasan kebijakan impor nya…dan tidak dimuat secuilpun oleh wartawan kompas dalam berita esoknya….:(

Lha …saya kan jadi bertanya…ada apa dengan Tommy… ???? Pak Yacob Utama..ada apa dengan Tommy ??

Di tajuknya terus memberi kesan..bhw Mentan nggak kerja apa apa..maunya enak dan gampang terus..

Faktanya , soal beras misalnya, di jajaran pimpinan Deptan ada Prof.Dr Djoko Said yang dianggap Mpunya perberasan…bahkan ditingkat dunia , ada Kaman yang juga tokoh yang mumpuni dalam ketahanan pangan..

Saya tahu benar bagimana mereka berusaha meningkatkan produksi beras ( dan menurut data memang meningkat)

Lha memangnya sumber berita Kompas pasti lebih jago dari mereka..??? Nggak pasti kan…

Perhatikan deh yang menggebu gebu menyerang kan hanya KOmpas..koran lain maupun media elektronik lain kan nggak..

Kekuasaan wartawan amat besar… tulisan koran seperti Kompas amat dapat mempengaruhi opini publik… , dia bahkan jauh lebih tajam dari pedang…bahkan bisa lebih berpengaruh dari pada senjata…

Di tangan Pemred lah kekuasaan besar itu ada..

Power tends to corrupt…

Siapapun pemegang kekuasaan sebesar itu…haruslah di kontrol…

Siapapun pemegang kekuasaan sebesar itu..haruslah merasa itu adalah amanah
Allah yang akan dimintai tanggung jawabnya

Dia lebih berkuasa dari pada George Adi Tjondro… dia lebih
bisa berpengaruh di banding orang yang punya senjata sekalipun.

Bayangkan kalau lalu tulisannya ternyata bukan untuk kepentingan umum ,
pakai issue populis.seperti kepentingan petani, atau tolak impor cintai
produk dalam negeri, . tapi sebenarnya..ada hal lain yang jadi
motifnya..yang bisa jadi bukan kepentingan bangsa..Bayangkan kalau opini yg
tercipta ternyata sesat dan merugikan bangsa ini..

Selalau ada lebih banyak dari satu sisi..misal ada kepentingan produsen (
petani) ada juga kepentingan konsumen..

Bagaimana ya caranya atau mekanismenya kalau misalnya kita berpendapat ada
sesuatu yang perlu dipertanyakan dalm kredibilitas pemred ??? just a
question…

Saya nulis disini karena masih percaya kredibilitas Kompas.. koran
kesayangan kita yang saya sudah jadi pelanggan sejak lama… Saya sudah
nulis pula langsung ke pembuat berita ( Maryoto), tapi nggak
berjawab…jadi coba liwat FPK..moga moga aja…

Banyak yang mudah di jawab..tapi nara sumber yang digarap Kompas itu itu
juga ..DR..Sudrajat, … misalnya ..kalau lain dikit aja..seperti Wkl
Rektor iPB ..langsung terlihat ada yang salah dr tajuknya kompas..dia jela
sbilang wajar saat ini impor kok..

Salam,

Haniwar

“RULES OF THE GAME” LIPUTAN MEDIA DI TIMUR TENGAH

Sumber: http://satrioarismunandar6.blogspot.com/2006/08/rules-of-game-liputan-media-di-timur.html

Sejumlah pernyataan di bawah ini saya kutip dari sebuah posting di Internet. Terkesan simpel, tapi bagi saya –yang kebetulan dulu sering meliput politik Timur Tengah– memang ada kebenarannya. Hegemoni wacana pemikiran, yang merugikan posisi Palestina dan Arab, memang banyak menghinggapi insan media. Kita juga bisa membandingkan dengan pemberitaan media atas agresi Israel ke Lebanon, Juli-Agustus 2006.

Tetapi penilaian tentu terserah Anda masing-masing. Ini adalah sejumlah “rules” yang sering dipraktikkan media, dalam meliput konflik di Timur Tengah:

Rule No. 1: In the Middle East, it’s always the Arabs that attack first and Israel that defends itself. That’s called retaliation.

Rule No. 2: Arabs, whether Palestinian or Lebanese, have absolutely no right to kill Israeli civilians. That’s called terrorism.

Rule No. 3: Israel has every right to kill as many Arab civilians as it wants. That’s called legitimate self-defense.

Rule No. 4: When Israel kills too many civilians, the Western powers urge for restraint. That’s called the reaction of the international community.

Rule No. 5: Palestinians and Lebanese have no right to capture Israeli soldiers, even if their numbers are limited to three.

Rule No. 6: Israelis have the right to capture as many Palestinians as they wish — over 10,000 prisoners as of today, of which 300 are children. Uttering the magic word, “terrorist,” is all that’s
needed to throw Arabs behind bars without charges.

Rule No. 7: When you say “Hizballah,” you should always add “supported by Syria and Iran.”

Rule No. 8: When you say “Israel,” you should never add “supported by the United States and Europe” lest the conflict appear imbalanced.

Rule No. 9: Never mention “occupied territories,” or “UN resolutions,” or “violations of international law,” or “the Geneva conventions.” That might perturb television viewers and lead them to ask questions.

Rule No. 10: Israelis speak English better than Arabs. That is why we always give them — and their supporters — more air time. That way, they can explain Rules 1 through 9 to us. That’s called media objectivity.

Rule No. 11: If you don’t agree with any of these rules, or if you think they favor one party over another, that’s because you’re a dangerous anti-Semite.

Quicklinks - Israel vs Hizbollah crisis

Israel was just defending itself from Hizbollah ? Wrong, the kidnapping of 2 Israel soldiers (previously thought as the cause of the war) were caused by Israel’s (almost daily) violation of the border :
http://www.csmonitor.com/2006/0801/p09s02-coop.html

The current war is premeditated and already very prepared. Hizbollah’s kidnap of 2 IDF soldiers provided Israel with the excuse to finally launched it :
http://www.guardian.co.uk/Columnists/Column/0,,1839282,00.html

To Israel with love - why the Americans are so overwhelmingly pro Israel ?
http://www.economist.com/world/na/displaystory.cfm?story_id=7255198

Israel ranked better economically than even Brunei, but it’s also the top receiver of aid from US gov’t :
http://www.guardian.co.uk/Columnists/Column/0,,1834555,00.html