Archive for the 'Logika' Category

Maling Motor Hanya Butuh 5 Detik

Sudah lama kita mendengar bagaimana maraknya pencurian motor di seluruh penjuru Indonesia. Kebanyakan kita mungkin merasa geram, gemas, dan kesal – kenapa polisi tidak berbuat apapun ? Kenapa personil keamanan di lokasi pencurian tidak bisa mencegahnya > Dst.

Ternyata, sumber masalahnya adalah pada pembuat motor — kunci motor mereka bisa di jebol hanya dalam waktu 5 detik saja !

Saksikan sendiri di video rekaman berikut ini :

Ya, 5 detik saja waktu yang dibutuhkan oleh para pencuri motor ini. untuk menggondol motor kesayangan kita.

Pantaslah sedemikian banyaknya motor yang bisa mereka gasak.

Syukurlah, ternyata solusinya mudah sekali ! Yaitu dengan memasang kunci tambahan / kunci ganda, seperti kita bisa saksikan bersama pada rekaman berikut ini :

Sama seperti di rekaman sebelumnya – si maling disini juga sukses membuka kunci motor korbannya dalam waktu 5 detik; namun, dia gagal menggondolnya karena roda depan motor tersebut dipasangi gembok ! 😀

Dari sini maka semuanya menjadi jelas :

  • Tidak pasang kunci tambahan = Undangan bagi para Maling untuk menggondol motor kita.
  • Selalu gunakan kunci ganda di motor Anda !
    Motor saya sendiri “hanya” motor listrik, yang harganya paling hanya separuh dari harga motor bebek. Namun, motor listrik tersebut diamankan dengan gembok yang besar sekali 🙂 sehingga bisa melenyapkan nafsu jahat dari para maling ini.

Mari, amankan motor kita sekarang juga !

Ya, rantai besar di pinggang nya itu adalah rantai gembok untuk mengamankan sepeda nya; yang harganya tentu masih lebih murah daripada motor kita…

Jumat Pagi Bersama Ulil

Siapa yang tidak kenal dengan Ulil Abshar Abdalla ? Salah satu tokoh JIL ini sudah dikenal karena berbagai kegiatan & pernyataannya. Selain di media konvensional, saat ini Ulil juga cukup aktif di Internet, termasuk di berbagai situs social media.

Suatu hari saya membaca tweet berikut ini dari account Ulil :

Ulil: If Muslim dictators kill their people, Muslim tend to shut up. When the world tries to stop them kill, they shout: INTERVENTION! Gosh!

Saat itu adalah pagi hari Jumat, 25 Maret 2011. Suasananya adem & tenang, jadi menggugah saya untuk mendiskusikan pendapat tersebut diatas.
Ketika itu saya kira balasan saya tidak akan ditanggapi oleh Ulil, tapi tidak apa, yang penting saya sudah menyampaikan pendapat saya. Yaitu :

Saya: Sejahat2nya Saddam, dia tidak spt GW Bush yg bantai ratusan ribu orang & bikin jutaan lainnya jadi pengungsi. Hm ? Gosh !

(http://twitter.com/#!/hsuf/status/51059424663584768)

Saya: Intervensi langgar konsep kedaulatan / sovereignty. People have the right to sort out their own problems. Gosh !

(http://twitter.com/#!/hsuf/status/51060190732230656)

Lalu saya melanjutkan rutinitas pagi saya dengan santai, dan bersiap-siap untuk sarapan…. ketika kemudian saya sadar bahwa ternyata tweet saya dibalas oleh Ulil ! Ups 🙂

Ulil: But yes, you’re right, Muslim suffer from amnesia a lot. When Muslim dictators killed their people, they tend to shut up!

(http://twitter.com/#!/ulil/status/51066382632230912)

Pagi hari Jumat itu tiba-tiba menjadi jauh lebih menarik 🙂

Selama beberapa jam setelah itu, kami saling kirim mengirim tweet. Sampai saya luput sarapan 😀 dan terpaksa minta izin pamit dulu kepada Ulil :

Saya: Yeah, but you have had your muffin, and I haven’t mine (breakfast). Slow down ! 😀

(http://twitter.com/#!/hsuf/status/51085648727257089)

Diskusi saling tukar pikiran kemudian terus berlanjut kembali dengan seru, sampai akhirnya kami sepakat untuk saling tidak setuju (agree to disagree) 🙂
No problem, tiap orang punya hak untuk punya pemikirannya sendiri-sendiri.

Terlampir adalah beberapa kutipan diskusi tersebut.
Selamat menikmati….


Ulil : If Muslim dictators kill their people, Muslim tend to shut up. When the world tries to stop them kill, they shout: INTERVENTION! Gosh!

Saya : Intervensi langgar konsep kedaulatan / sovereignty. People have the right to sort out their own problems. Gosh !

http://twitter.com/#!/hsuf/status/51060190732230656


Ulil : If Muslim dictators kill their people, Muslim tend to shut up. When the world tries to stop them kill, they shout: INTERVENTION! Gosh!

Saya : http://www.crethiplethi.com/islamic-union-students-protest-massacre-of-libyans-by-gaddafi-regime/islamic-countries/iran-islamic-countries/2011/

http://twitter.com/#!/hsuf/status/51075936921206784


Ulil : most people killed after the US invasion of Iraq was caused by civil war between warring groups of Syiah and Sunni.

Saya : Which would not happen if Saddam was not removed by USA, right ? Gosh !

http://twitter.com/#!/hsuf/status/51070936765579264


Ulil : Who says sovereingty is a sacred principle? It’s just a modern myth. It becomes a pretext used by dictators to kill their people!

Saya : Then why bother with countries at all ? Let’s invade everyone & create Earth nation ! That’s what Nazi tried anyway.

http://twitter.com/#!/hsuf/status/51075445055172608


Ulil : Who say Arab can take care of their own problem? Is sending troops by Saudis to Bahrain to kill protestors part of that care?

Saya : Don’t tell me you forgot about Egypt already 🙂 And Tunisia.

http://twitter.com/#!/hsuf/status/51074644026998784


Ulil – Intervention is not ideal, but less evil than letting dictators killing their people or other kind of atrocities!

Saya : And who are you to #judge other people’s affairs? Principles, like sovereignty, are there for good reason.

http://twitter.com/#!/hsuf/status/51074205999050752


Ulil : No, Saddam invaded Kuwait without approval of anyone. It was only him going mad and delusional!

Saya : WikiLeaks begs to differ with you:
http://ramanan50.wordpress.com/2011/02/02/us-asked-saddam-to-invade-kuwaitwiki-leaks/

http://twitter.com/#!/hsuf/status/51073932345876480


Ulil : First of all, Saddam invaded his neighbor, Kuwait. Forgot this? Second, he killed his own people for years. Forgot this too?

Saya : Kuwait was invaded under approval of USA. Forgot this?

http://twitter.com/#!/hsuf/status/51070300678393856


Ulil : First of all, Saddam invaded his neighbor, Kuwait. Forgot this? Second, he killed his own people for years. Forgot this too?

Saya : USA should have principles like the “Prime Directive”. Arabs now have proven that they can take care their OWN problems, right ?

http://twitter.com/#!/hsuf/status/51071240332509184

Prime Directive :

The Prime Directive is not just a set of rules; it is a philosophy and a very correct one. History has proven again and again that whenever mankind interferes with a less developed civilization, no matter how well intentioned that interference may be, the results are invariably disastrous.” — Jean-Luc Picard


Ulil : US is not an angel but it’s the only country that has the best military prowess today. And that entails responsibility.

Saya : And have they acted responsibly? So far, the Palestinians would say no.

http://twitter.com/#!/hsuf/status/51081070107561984


Ulil : Palestine problem needs separate discussion. Don’t lump everything in one basket!

Saya : Nope, it’s an excellent example of how USA does #not wield their power responsibly, but by using #DoubleStandards instead.

http://twitter.com/#!/hsuf/status/51082583580213248


Ulil : All counries practice double standard, not only the US. Even Muslims use double or even multiple standards too in judging events.

Saya : That’s no justification to make it (#DoubleStandard) right 🙂

http://twitter.com/#!/hsuf/status/51083659968643072


Ulil : You haven’t said your words about what’s the best way to stop genocide. Is intevention is not justified at all in such situation?

Saya : Only on #true cases of genocide, example: Nazi vs Jews. Intervention should be an #exception not the norm !

http://twitter.com/#!/hsuf/status/51084317903953920

Genocide :
any of the following acts committed with intent to destroy, in whole or in part, a national, ethnical, racial or religious group, as such: killing members of the group; causing serious bodily or mental harm to members of the group; deliberately inflicting on the group conditions of life, calculated to bring about its physical destruction in whole or in part; imposing measures intended to prevent births within the group; [and] forcibly transferring children of the group to another group.


Ulil : And what’s that other country with no big business interest behind it that have military ability and willingness to stop atrocities?

Saya : I thought that’s what The UN are for ? (but first we need to wean them off USA’s money though)

http://twitter.com/#!/hsuf/status/51089016136802304


Ulil : What if UN, due to its lack of capability, is unable to fulfill its mission to protect lives of people from their dictators?

Saya : Then its lack of capability is our fault, and we must rectify that – empower The UN more 🙂

http://twitter.com/#!/hsuf/status/51098199636717568


Ulil : Yes, because US has big power, it has big responsibility to stop atrocities in Libya. Right? Who else will be able to do?

Saya : Someone else with no Halliburton/Exxon/etc piggy-backing them, preferably 🙂

http://twitter.com/#!/hsuf/status/51085242269843456


Ulil : And what’s that other country with no big business interest behind it that have military ability and willingness to stop atrocities?

Saya : In case of inter-national affair, The UN is the #democratic institution which has most right to take on issues on this level.

http://twitter.com/#!/hsuf/status/51098930636800000


Ulil : Killing in Libya cannot wait for the fix of UN. The moral responsibility lies now on countries with best military power.

Saya : You believe on getting to the end, no matter how / the means. That’s fine. I believe in the process.

http://twitter.com/#!/hsuf/status/51104189643898881


Ulil : Anyway, I agree with coalition’s attack to stop Qadhafie from killing his own people. You may have diff. oponion, and that’s OKAY.

Saya : I fully agree as well that you full right to have your own opinions. Thanks.

http://twitter.com/#!/hsuf/status/51081279692738560

Jews for Palestine – Pelajaran mengenai “generalisasi”

Luar biasa, sangat mengharukan. Saya menemukan surat pembaca dari berbagai tokoh Yahudi di Inggris, yang menyatakan kecaman mereka terhadap Israel.

Di tengah semua kemarahan, emosi, ketidak adilan, dan kekejaman di sepotong kecil tanah bernama Gaza; alhamdulillah masih ada sekelompok orang-orang yang masih bisa berpikir dengan rasional dan kritis. Dan mengutamakan hati kecil mereka daripada egonya.

Terlampir adalah surat mereka ke koran Guardian di Inggris :

We the undersigned are all of Jewish origin.

When we see the dead and bloodied bodies of young children, the cutting off of water, electricity and food, we are reminded of the siege of the Warsaw Ghetto. When Dov Weisglass, an adviser to the Israeli prime minister, Ehud Olmert, talked of putting Gazans “on a diet” and the deputy defence minister, Matan Vilnai, talked about the Palestinians experiencing “a bigger shoah” (holocaust), this reminds us of Governor General Hans Frank in Nazi-occupied Poland, who spoke of “death by hunger”.

The real reason for the attack on Gaza is that Israel is only willing to deal with Palestinian quislings. The main crime of Hamas is not terrorism but its refusal to accept becoming a pawn in the hands of the Israeli occupation regime in Palestine.

The decision last month by the EU council to upgrade relations with Israel, without any specific conditions on human rights, has encouraged further Israeli aggression. The time for appeasing Israel is long past. As a first step, Britain must withdraw the British ambassador to Israel and, as with apartheid South Africa, embark on a programme of boycott, divestment and sanctions.

Ben Birnberg, Prof Haim Bresheeth, Deborah Fink, Bella Freud, Tony Greenstein, Abe Hayeem, Prof Adah Kay, Yehudit Keshet, Dr Les Levidow, Prof Yosefa Loshitzky, Prof Moshe Machover, Miriam Margolyes, Prof Jonathan Rosenhead, Seymour Alexander, Ben Birnberg, Martin Birnstingl, Prof. Haim Bresheeth, Ruth Clark, Judith Cravitz, Mike Cushman, Angela Dale, Merav Devere, Greg Dropkin, Angela Eden, Sarah Ferner, Alf Filer, Mark Findlay, Sylvia Finzi, Bella Freud, Tessa van Gelderen, Claire Glasman, Ruth Hall, Adrian Hart, Alain Hertzmann, Abe Hayeem, Rosamene Hayeem, Anna Hellmann, Selma James, Riva Joffe, Yael Kahn, Michael Kalmanovitz, Ros Kane, Prof. Adah Kay, Yehudit Keshet, Mark Krantz, Bernice Laschinger, Pam Laurance, Dr Les Levidow, Prof. Yosefa Loshitzky, Prof. Moshe Machover, Beryl Maizels, Miriam Margolyes, Helen Marks, Martine Miel, Diana Neslen, O Neumann, Susan Pashkoff, Hon. Juliet Peston, Renate Prince, Roland Rance, Sheila Robin, Ossi Ron, Manfred Ropschitz, John Rose, Prof. Jonathan Rosenhead, Leon Rosselson, Michael Sackin, Ian Saville, Amanda Sebestyen, Sam Semoff, Prof. Ludi Simpson, Viv Stein, Inbar Tamari, Ruth Tenne, Norman Traub, Eve Turner, Tirza Waisel, Karl Walinets, Renee Walinets, Stanley Walinets, Philip Ward, Naomi Wimborne-Idrissi, Ruth Williams, Jay Woolrich, Ben Young, Myk Zeitlin, Androulla Zucker, John Zucker

Para Yahudi ini justru menyarankan boikot, penarikan investasi, dan hukuman-hukuman bagi Israel. Mudah-mudahan kita bisa menjalankan saran-saran mereka tersebut.

Juga, semoga kita bisa selalu ingat untuk tidak menggeneralisir bahwa “semua Yahudi itu jahat”. Di antara mereka, masih ada segelintir kecil yang hatinya turut menangis untuk rakyat Palestina. Tidak itu saja, mereka juga secara aktif menentang penjajahan & kezaliman Israel terhadap Palestina.

Beberapa bahkan membayar sikap mereka tersebut dengan nyawanya.

Quran tidak mengajarkan kita untuk membenci Yahudi. Namun, untuk waspada terhadap tipu daya dan makar dari sebagian mereka.
Memvonis seluruh Yahudi jahat karena kejahatan sebagian dari mereka adalah generalisasi. Ini termasuk pada ketidak adilan – dan jelas ini tidak dibenarkan oleh Islam. Islam adalah agama yang sangat menitik beratkan fokus pada keadilan. Jangan sampai kita terjerumus kepada menzalimi sebagian pihak, hanya karena kebencian & emosi kita.

Satu contoh lagi adalah Neturei Karta. Slogan mereka adalah “Orthodox Jews United Against Zionism” (*).
Ketika beberapa diantara kita mungkin hanya duduk di belakang meja dan bersimpati tanpa banyak melakukan sesuatu, para anggota Neturei Karta aktif dan gencar turun langsung ke lapangan menentang Zionisme. Luar biasa.

Yahudi juga manusia. Mereka mampu untuk melakukan kebaikan. Namun, sebagian mereka juga mampu melakukan kejahatan, seperti manusia lainnya juga. Kita musti bisa bertindak secara adil terhadap semua ini.

Satu contoh Yahudi yang pantas untuk ditindak adalah Howard Schultz. Chairman, president, dan CEO dari Starbucks, Schultz dengan aktif mendukung negara Israel, dan mengkampanyekan keberadaannya. Tentunya dia bukan tidak tahu mengenai berbagai kejahatan Israel. Namun tetap saja Schultz mendukung Zionisme.

Yah, alhamdulillah menemukan informasi ini. Menuruti himbauan dari rekan-rekan Yahudi di Inggris di atas, sekarang saya jadi sangat malas untuk ngopi di Starbucks.
Yuk kita ramaikan saja Bakoel Koffie, atau warung-warung lainnya.

Hari ini saya mendapat pelajaran yang sangat berharga mengenai kemanusiaan, empati, nurani, keadilan dan logika. Semoga bisa bermanfaat juga untuk Anda.

(*) Zionisme sebetulnya adalah salah satu bentuk ekstrimisme / zealotry dalam beragama. Dalam teks agama Yahudi sendiri sebetulnya tidak ada mengharuskan mereka untuk kembali lagi ke tanah Palestina. Zionists memilih penafsiran yang ekstrim, plus implementasi yang tidak kalah ekstrimnya lagi. Hasilnya, seperti yang sudah dan sedang kita saksikan, adalah derita berkepanjangan dari rakyat Palestina.

Neturei Karta, walaupun beraliran Orthodox, namun bisa memahami teks / ajaran agama mereka dengan baik / tidak ekstrim. Karena itu mereka bisa menyadari kekeliruan Zionists, dan tidak turut terjerumus kesitu.

Mudah-mudahan kita bisa meniru teladan mereka ini – terhindar dari berlebih-lebihan / ekstrimisme dalam beragama.

Misteri Sains

Banyak orang yang sudah merasa lelah, jemu, atau juga jeri dengan dogma. Banyak kemudian berpaling kepada sains, yang menawarkan logika yang cenderung bebas emosi dan obyektif. Beberapa kemudian menemukan ketenangan disana. Beberapa mungkin kemudian menganggap kebenaran pada sains sebagai suatu kebenaran yang lebih benar daripada kebenaran lainnya.

Kenyataannya, banyak juga “fakta” di sains yang sebetulnya masih belum terbukti. Bahkan yang sudah “terbukti” pun kadang terbukti keliru total di kemudian hari, atau paling tidak perlu direvisi.

Atau, kemudian ditemukan bahwa ada dua (atau lebih) kebenaran.

Satu contoh; air membeku pada suhu 0 derajat celcius. Ini adalah benar.
Namun, ternyata kemudian ditemukan bahwa air juga bisa membeku jika dialiri listrik — dan kemudian ditemukan bahwa air juga bisa membeku pada temperatur di atas suhu didihnya.

Sains memang sangat menarik, antara lain karena sains justru membawa lebih banyak pertanyaan daripada jawaban pada setiap penemuan. Seperti penemuan gravitasi, sejak “penemuan”-nya oleh Sir Isaac Newton, seluruh efeknya telah dipahami dengan baik. Tetapi, apakah gravitasi itu? Mengapa bisa tercipta gravitasi? Bagaimana caranya gravitasi bisa bekerja seperti demikian? Semuanya belum ada jawabannya.
Jadi, dari satu penemuan, kemudian muncul paling tidak tiga pertanyaan baru. Loads of fun 🙂

Masih sangat banyak hal-hal lainnya yang kita ketahui begitu saja tanpa betul-betul dipahami.
Mengenai massa, kita tahu massa dari setiap zat. Namun, mengapa massa dari zat X adalah sekian? Kenapa bukan sekian?
Atau konstanta – ada banyak konstanta, seperti kecepatan cahaya; yang kemudian menjadi salah satu pondasi paling fundamental dari fisika. Tapi, mengapa kecepatan cahaya adalah 299.792.458 meter/detik ? Kenapa tidak 300.000.000 m/dtk ? Atau 453.567.130 m/dtk ? Tidak ada yang tahu jawabannya.

Jadi, pada saat ini sains adalah seperti mobil. Kita adalah pengendaranya, dan kita sangat mahir mengendarai mobil itu. Tapi jangan tanya bagaimana mobil bisa berjalan, bagaimana cara kerjanya 🙂

Sains is very fun indeed.

3B – Bed, Bathroom. Bus

Visiting my parents a few days ago, I happen to watch an expert being interviewed on how to maximize our brain potentials. In short, according to their research, the brain perform best on 3B – Bed, Bathroom, and Bus. How come ?

Basically, those places are where we stop, and gave the brain time to reflect and analyze the data gathered so far (instead of busy doing everything else).

The Bed

You may have heard the saying “just sleep on the problem” — there’s truth to it. Even Michaelangelo used to sleep while he was working on his painting (if only we can do that in our cubicles..). Being on the bed / sleeping forces our brain to stop doing anything. Therefore, it’ll instead use this opportunity to do data analysis. It ended up as dreams sometimes. But after we woke up, many times we’ll have better understanding (and potential solution) to the problem.

A bit of deviation from the topic – praying have same (if not better) effect; especially since it takes very little time (10 – 15 minutes). When we pray, we’re forced to forget about our businesses, and focus only on a single point. This gives us clarity on that moment.
My friend once said (rather jokingly, but also seriously) that if you want to find the stuff that you’re missing – then pray. You’ll remember where you left it when you’re praying.

The Bathroom

My wife used to complain that I took so much time to bath. Well, beside the fact that I like things clean, it’s also my experience that I tend to get the best ideas when I was in the bathroom. Other variations might be the spa, sauna, etc.
It’s for the same reason as the Bedroom, in the bathroom we’re relaxed and thus able to think more clearly. Forcing your brain to be in overdrive all day long is not really healthy. The 3B give us breaks from it.

Nowadays she no longer complain about it. But I also try to avoid using the bathroom on “peak-hours” 🙂

The Bus

Basically just another place where you are relaxed and can think about things more clearly. While on the bus (or subway, train, whatever), you’re only standing up / sitting down, and doing very little else. Thus you’ll also tend to have the “eureka!” moments here.

So, how about you ?

Logika : Konteks

Konteks adalah sesuatu yang sangat penting; menilai sesuatu tanpa menilik konteks (situasi) bisa sangat menyesatkan.

Contoh: “Budi menembak Joni”
Apa kesimpulan Anda dari kalimat di atas ? Jelas Budi bersalah, sebagai penembak Joni.

Bandingkan dengan kalimat berikut ini :
“Budi menembak Joni, karena Joni akan membunuh anaknya”

Tiba-tiba, ketika konteksnya diketahui, Joni berbalik menjadi penjahat, dan Budi (serta anaknya) sebagai korban.

Kekeliruan penilaian / penghakiman karena ketiadaan konteks sangat sering terjadi. Biasanya karena kita tidak sadar bahwa konteks dari suatu kasus sebetulnya belum lengkap (tidak disengaja).

Namun ada pula yang disengaja, seperti kasus yang baru menimpa kawan saya :
[ Ditilang karena berusaha menyelamatkan diri ]

Disaksikan oleh beberapa polisi, Riyo terpaksa menghentikan motornya di jalur zebra cross agar tidak dihantam Kopaja yang sedang ngebut ugal-ugalan dari belakang.
Riyo kemudian ditilang, sementara Kopaja yang terus saja ngebut menerjang lampu merah dibiarkan.

Celakanya, bahkan ketika konteksnya sudah dijelaskan, polisi tersebut tidak mau tahu dan justru malah menjadi terusik egonya. Riyo yang sebetulnya pada posisi korban (terteror oleh Kopaja), kembali menjadi korban penghakiman yang tidak adil oleh polisi pada saat tersebut.
Hal ini karena polisi tersebut tidak mau menyertakan konteks pada penghakimannya (walaupun sudah menyaksikan dan sudah dijelaskan).

Penyalahgunaan konteks juga sering dilakukan oleh Islamophobic (anti Islam). Mereka menyatakan bahwa Islam itu buruk dengan mengutip ayat-ayat Al-Quran — tanpa mencantumkan konteksnya.

Contoh: salah satu ayat “favorit” para Islamophobic ini adalah At-Taubah ayat 5 : Apabila sudah habis bulan-bulan Haram itu, maka bunuhlah orang-orang musyrikin itu di mana saja kamu jumpai mereka, dan tangkaplah mereka. Kepunglah mereka dan intailah di tempat pengintaian..

Apa kesimpulan dari seseorang yang membaca tulisan tersebut diatas? Lazimnya, tentu adalah seperti “Islam agama yang kejam”, “tidak ada toleransi terhadap agama lain”, dan seterusnya.

Namun, apa yang terjadi ketika kita sertakan konteknya, dalam hal ini adalah asbaabun nuzul (sebab turunnya suatu ayat) ?
Ternyata pada saat tersebut, kaum muslimin telah sangat sering diserang oleh kaum kafir. Akhirnya muncullah ayat ini, dimana dengan demikian umat Islam diizinkan untuk memerangi mereka.

Maksud sebenarnya menjadi semakin jelas ketika kita membaca ayat berikutnya (yang biasanya tidak disertakan oleh para Islamophobic) :

Dan jika seorang di antara orang-orang musyrikin itu meminta perlindungan kepadamu, maka lindungilah ia…

Maka tiba-tiba pandangan kita terhadap surat At-Taubah ayat 5 menjadi berubah total.

Sayangnya, banyak orang Islam sendiri yang justru melakukan ini (memilah-milah ayat sesuai nafsunya). Hasilnya adalah Islam ekstrim, dimana mereka menghalalkan darah orang lain dengan sangat mudahnya.
Saya pernah berkata kepada ayah saya, bahwa aliran sesat di Islam itu sebetulnya mengaku berpedoman kepada Quran, yang sama seperti kita juga. Pembedanya adalah cara mereka dalam menafsirkannya.

Variasi lainnya adalah beberapa “Kristolog”, yang memilah-milah ayat di Injil, sehingga agama Kristen menjadi kelihatan sangat buruk. Padahal kita sudah dilarang oleh Nabi Muhammad saw untuk mengutak-atik kitab suci umat lainnya (pada satu insiden, Umar ra sempat kena tegur oleh Nabi saw karena ini).
Dan jelas kita pun tidak suka jika Quran diperlakukan seperti ini bukan ?

OK, saya kira sudah cukup banyak contoh-contoh seputar pemanfaatan konteks untuk dapat memahami sesuatu dengan lebih tepat. Semoga berguna bagi Anda.

            








SEObox: Web Hosting Murah Unlimited Komik Indonesia Homeschooling Indonesia