Archive for the 'Parenting' Category

Seminar Homeschooling

Asah Pena Indonesia dan Penerbit Progressio mempersembahkan:

Seminar Homeschooling

Bersama:
Kak Seto Mulyadi, Psi, MPsi
Dr. Ratna Megawangi (*)
Yayah Komariah
Santi WE Soekanto, Psi

Moderator:
Dewi Hughes

Waktu:
Minggu, 18 Juni 2006
Pukul 09:00 – 13:00

Tempat:
Ruang sidang Graha Utama
Gedung A lt. 3, Departemen Pendidikan Nasional
(persis setelah Ratu Plaza)
Jl. Jend. Sudirman Jakarta

Investasi:
Rp 100.000 (snack, makalah, doorprize)
Rp 150.000 untuk pasangan suami – istri

Pendaftaran:
BCA Cab. Pasar Minggu,
No.Rek 128.102.6840, a/n Panca Wardaningsih
Fax bukti transfer ke 021 – 781 5441

Informasi lebih lanjut:
Yayah: 0888 176 5303
Nining: 0813 1486 9953
email: asahpenaindonesia@yahoo.co.id

(*) dalam konfirmasi

Sekolah Swadaya – diskusi dengan penyelenggara sekolah gratis

Malam ini saya baru saja menelpon Pak Deni Wahyudi (DW), salah seorang penyelenggara sekolah (SMP) terbuka di daerah Bekasi. Sangat menarik, siapa sangka ternyata di Indonesia ini masih ada sekolah yang gratis DAN berkualitas ?

Keypoints :

  • Ijazah: Sama dengan seperti yang bersekolah biasa, dan diakui oleh Diknas.
  • Raport: Sama dengan seperti yang bersekolah biasa, dan diakui oleh Diknas.
  • Lokasi: bisa di mana saja, tidak perlu mengeluarkan biaya. Ada yang di mesjid, teras rumah, aula pertemuan, dst.
  • Materi pelajaran: Diberikan gratis oleh Diknas & Sekolah Rakyat. Pengajar cukup bisa berkonsentrasi mengajar.
  • Pengajar: Relawan yang tidak dibayar. Mungkin bisa diganti dengan para ibu-ibu dari anak-anak tersebut sendiri, berganti-gantian sehingga tidak merepotkan.
  • Seragam: Tentu saja jadi bebas dari seragam :-)
  • Waktu belajar: Bebas, sesuai kesepakatan antara pengajar dengan anak didik.
  • Ringkasan cara pendirian: cari lokasi, cari pengajar, kontak Yayasan Sekolah Rakyat (untuk dukungan teknis dan materi pelajaran), cari anak didik (minimal 15 orang), cari SMP negeri yang akan menjadi induk – mulai berjalan.
  • Tingkat pendidikan: Sepertinya pada saat ini baru ada dukungan untuk SMP terbuka. (belum ada untuk SD/SMU ?)

TKBM (Tempat Kegiatan Belajar Mandiri) yang dikelola oleh DW didirikan pada tahun 1996. Sampai saat ini masih terus berjalan, dan telah meluluskan 10 angkatan. Pada awalnya berlokasi di mesjid, namun seiring dengan berjalannya waktu, ada beberapa donatur yang bersimpati sehingga kemudian tidak hanya bisa menyewa lokasi belajar, namun juga bisa mulai memberikan sedikit kompensasi kepada para pengajarnya.

TKBM tersebut meng-induk ke sebuah SMP negeri di dekatnya. Kepala sekolah SMP tersebut justru senang, mungkin karena Diknas menghargai sekolah yang mau menjadi induk bagi TKBM.
Menginduk disini setahu saya tidak merepotkan pihak sekolah yang bersangkutan sama sekali – hanya sekedar formalitas dimana nomor induk siswa, ijazah, dan raport akan berasal / bertuliskan nama sekolah induk tersebut.

Waktu belajar TKBM ini cukup unik, yaitu mulai dari pukul 16:00 s/d 20:00. Sepertinya kebanyakan relawan TKBM adalah pekerja kantor, sehingga waktu belajarnya adalah setelah jam kerja mereka.

Pada awalnya, masyarakat sekitar merasa pesimis dengan TKBM ini. Bagaimana dengan kualitasnya, status siswanya, dst.
Namun akhirnya, kini justru bahkan yang secara ekonomi mampu ikut mendaftarkan anaknya ke TKBM, karena kualitasnya yang telah terbukti. Tentu saja para pengelolanya terpaksa menolak, karena prioritas SMP Terbuka adalah untuk anak-anak yang secara ekonomi tidak mampu untuk bersekolah biasa.

Kendala utama TKBM adalah lokasi, tenaga pengajar dan waktu mereka.
Disini saya menyampaikan beberapa ide solusinya, seperti memberdayakan para siswa itu sendiri.
Lokasi adalah rumah-rumah yang cukup luas untuk digunakan. Sedangkan para pengajarnya adalah ibu dari para siswa yang mampu. Ada gilirannya, sehingga tidak merepotkan. Dst.

Pak Deni kemudian memberikan informasi mengenai seorang contact person di Sekolah Rakyat, yaitu Pak Ludi. Tentu saja bagi yang berminat juga bisa langsung menghubungi Yayasan Sekolah Rakyat, di 021 70174410.

Demikian informasi yang bisa di posting pada saat ini. Untuk selanjutnya saya akan mengkontak Bpk. Ludi, sehubungan dengan seorang kawan saya yang tertarik untuk membuka sekolah terbuka. Dan juga menyampaikan informasi ini kepada sebuah yayasan yang bergerak di bidang pendidikan anak-anak.

Ternyata, membuka sekolah gratis itu tidaklah terlalu sulit.
Cuma, banyak orang yang tidak tahu, bahwa ada alternatif ini (sekolah gratis). Jadi, sebarkanlah informasi ini kepada semua orang yang mungkin bisa memanfaatkannya. Terimakasih atas bantuan Anda.

Links:
[ Yayasan Sekolah Rakyat ]
[ Sekolah Rakyat @ Wikipedia ]
[ Ancol dan Sekolah Rakyat ]

Kuman Matematika

Tadi ngobrol-ngobrol dengan istri, dia cerita bagaimana senangnya Umar bermain matematika, walaupun umurnya baru 4 tahun.
Jadi dapat ide, coding sedikit, maka jadilah spreadsheet pembuat soal-soal matematika : [ Kuman Matematika ]

Pemakaiannya cukup mudah :

1. Download
2. Dobel-klik
3. Ketikkan angka maksimum
4. Ketikkan jumlah soal yang ingin dibuat
5. Klik tombol “Buat Kuman”
6. Untuk menghapus soal, klik tombol “Clear”

Kuman Matematika membutuhkan Excel 95 minimum.
Jika ada yang punya waktu untuk membuat versi OpenOffice-nya, email saja kepada saya, maka nanti akan saya posting disini juga.

Semoga bermanfaat.
[ Download Kuman Matematika ]

keywords: kumon math matematika

Tunas Cendekia

Tadi malam ketemuan dengan Yudhis dari Yayasan Tunas Cendekia (YTC) di Buzz cafe, dekat RS Pondok Indah. Dulu sewaktu YTC pertama kali launch sempat mampir ke situsnya, tapi kemudian lupa dengan kesibukan2 lainnya. Ternyata alhamdulillah perkembangan YTC termasuk cukup bagus, 65000+ gelang sudah terjual (dalam satu tahun saja). Dan, masih banyak lagi berbagai achievements lainnya.

Baru ketahuannya sebabnya kemarin itu. Ada beberapa orang yang menganggap saya kreatif, tapi ketika bertemu Yudhis, sampai overload mendengar berbagai ide-idenya untuk memasarkan (ya, melihat Yudhis jadi ingat dengan seorang marketer senior yang pernah saya temui) kepedulian dengan sesama. Bagaimana agar orang-orang yang lupa dengan sesamanya, karena kesibukannya sehari-hari dan berbagai hal lainnya, bisa ingat lagi, dan ikut membantu, dengan cara yang mudah bagi mereka.
Mudah-mudahan makin banyak usaha sosial lainnya yang bisa kreatif dan attitude nya positif seperti ini juga.

Please keep it up mas, dan mudah-mudahan saya bisa ikut berkontribusi juga.

Diskusi tentang pornografi di Slashdot

Ternyata, di Slahsdot, dimana mayoritas komunitasnya pro-pornografi, justru kita bisa menemukan berbagai komentar yang mencerahkan mengenai hal ini.

Contoh; fakta bahwa manusia yang kita sebut sebagai “anak-anak”, sebetulnya telah dewasa secara fisik:

Young men are reaching sexual maturity before they’re reaching mental maturity. … Oftentimes young parents without the resources or attitude to raise a child give birth and this subsequently results (usually) in an imperfect forced marriage or a child whose parents are not married. In either case, much more stress is placed on the developing youngster than the child needs and this can often lead down the road to delinquency or misbehavior.

Walaupun kesimpulannya berbeda dengan saya – solusinya bukan dengan pornografi, tetapi:
1. Orang tua harus lebih mampu mendidik anak-anaknya. The buck stops at them.
2. Yang paling penting – bagaimana agar anak-anak kita bisa dewasa mentalnya bersamaan / sebelum fisiknya. Tidak seperti sekarang, sudah terlalu sering saya bertemu dengan orang-orang berumur 40 tahun atau lebih, namun kelakuannya masih seperti anak kecil !

Pornografi itu destruktif bagi kebanyakan orang, kesimpulan seorang poster. Dikutip:

However its alot easier to say porn or drugs are the problem, than it is to tell a person how to fill in the emptiness in their lives… thats something a person has to find for themselves.

Every person has needs, wants, and desires that will always need filling. It’s the very floorboards of economics. The question comes down to “How does one fill that hole in their soul?” Hopefully they’ll do it constructively, but the destructive ones tend to be a lot more fun at first, ergo vastly more popular. By the time the negative effects come around, the person may be too far gone to realize it.

The real trick is to learn to understand that we’re creatures of infinite desire, and to begin to think rationally about how to cope with that in a way that won’t destroy us. Many major religions try to fill an infinite hole with an infinite God (at least the ones that profess a god or gods). The ones that don’t profess (a) god(s) try to teach you how to suppress or channel your desire.

Selanjutnya juga kita bisa temukan kisah seseorang yang menjadi korban pornografi – padahal cuma sekedar “penikmat” :

This is not to say that porn itself is responsible for this behavior; as someone commented earlier, porn is just a particularly easy (if destructive) way of filling a gap that sensible folks learn to fill constructively. I alone am responsible for my behavior over the last several years, and the most frustrating thing about it is that it seems so pointless and ridiculous in retrospect. However, to a kid like I was—one to whom simple human interaction and empathy came late and only with much effort, and someone whose sexuality only began to resolve itself quite late (I’m gay)—pornography offered a welcome (though dangerous) release from the huge effort of social contact. It didn’t matter that it inevitably left me feeling dead inside.

Now, it’s a pattern I’m having a hell of a time unlearning; every time something unpleasant happens, my first response is porn, which only makes things worse. In fact, I almost dropped out of school because of it a few years ago. To me, at least, porn has been a trap, which has separated me from reality, and stunted my growth as a sexual and emotional being (I still have yet to be in a real relationship of any kind). I don’t like myself, and that’s sad, because I’m smart and talented and capable of better than this. On more than one occasion, I’ve taken out this frustration with myself on the people that I care about. I wish I hadn’t.

Banyak orang kini bisa kita lihat mengalami kesulitan dalam hubungannya dengan pasangannya. Apakah banyak dari kasus t\ersebut terkait dengan pornografi, saya tidak tahu. Tapi, ini penyebabnya pada kasus diatas, dan saya kira ini bisa menjadi topik disertasi S2 atau S3 yang menarik.

Dan kutipan terakhir ini menyimpulkan apakah pornografi itu secara cukup tepat:

Porn is a trap – it feeds the pleasure centers of the brain, devalues the humanity of the person being used for that pleasure, and damages people’s ability to relate to one another in a healthy way. Real relationships are not self-focused, but must have a significant component of other-focus or they don’t survive.

Mudah-mudahan posting ini bisa menjadi satu kontribusi rasional di tengah-tengah debat kusir emosional mengenai RUU APP.

Sekolah Swadaya – bagian II

Sewaktu ada bahasan mengenai homeschooling di milis mifta-perjuangan@yahoogroups.com, saya ikut memberikan link ke posting saya mengenai sekolah swadaya

Di luar dugaan, tiba-tiba muncul beberapa aktifis yang telah terlebih dahulu menjalankan kegiatan ini / sekolah swadaya.

Jadi menarik sekali… karena kalau ini bisa lebih dimasyarakatkan (sekolah swadaya), maka masyarakat jadi bisa mendapatkan pendidikan yang murah dan terjangkau biayanya.

Sedang diusahakan agar bisa bertemu antara para aktifis dan peminat, waktu dan tempat akan saya posting di bagian komentar.

Berikut ini adalah posting selengkapnya mengenai kasus sekolah terbuka yang sudah berjalan.


Assalamualaikum warahmatullah…..

Ramai-ramai bicara ttg sekolah swadaya terutama dari blognya mas Harry saya hanya ingin sekedar berbagi cerita. Saya pun saat ini aktif di LSM Bina
Insan Prestasi yang saat ini baru mampu membiayai biaya pendidikan beberapa anak-anak dari keluarga dhuafa yang kurang mampu.

Ada cerita dari sahabat saya akh Deny yang tinggal di Bekasi yang bergelut
di bidang pendidikan bagi yang tidak mampu. Dulu sempat ada yang namanya SMP Terbuka, namun karena dalam pelaksanaannya yang kurang amanah (korupsi, data fiktif, etc.) sekarang sudah diambil alih dan alhamdulillah sekarang sudah bagus karena pengelola dan relawan yang ada di dalamnya amanah dan punya concern yang kuat terhadap pendidikan.

Jadi kita bisa saja membuat TKB (tempat kegiatan belajar) dengan jumlah
murid tertentu lalu jadi pengalaman sahabat saya tesebut pengajarnya adalah
dari para pengurus DPC suatu partai dakwah, karena memang yang menggagas
adalah para simpatisan dan kader partai tersebut. Lalu dibuat jadwal
kegiatan belajar, misal senin – sabtu, jam berapa saja, disesuaikan dengan
murid-murid yang rata-rata sudah nyambi kerja seperti menjual koran, tukang bantu cuci, etc. Lalu TKB kita kita daftarkan ke Yayasan Sekolah Rakyat (www.sekolahrakyat.org) yang mengurus SMP Terbuka.

Untuk modul belajar akan dibantu dan disiapkan. Pengalaman sahabat saya
tersebut, ada tambahan pelajaran yang diberikan kepada mereka seperti
outbound dan kajian keislaman. TKB bisa berada dimana saja, rumah pengurus yang bisa, masjid, atau dimana saja. Yang pasti untuk masalah ijazah
tersebut menurutnya kita menginduk kepada sebuah SMP Negeri di daerah dimana TKB itu ada. Dari Sekolah Rakyat juga ada sedikit tunjangan buat para
pengajar per TKB.

Alhamdulillah dari cerita sahabat saya tersebut mereka sudah sampai pada 3
angkatan. Dan respon dari tetangga sekitar malah banyak yang lebih simpatik.
Dari dulu yang meragukan kemampuan sekolah semacam ini, malah sekarang
beberapa orangtua dan murid banyak yang mau anaknya didika seperti di TKB
tersebut. Ada yang bilang, “wah kalo sekolah di sana, anak saya bisa lebih
sholeh dech,” atau ada anak yang bilang,”enak belajarnya ada outboundnya,”

Mungkin itu saja sekedar share yang bagi yang tertarik untuk membuka TKB dan ingin melihat model langsung bisa kontak ke saya untuk HP akh Deny -nya.

Wassalamualaikum

Cece YS

Sekolah Swadaya

Beberapa minggu yang lalu, saya dan istri saya berkesempatan menemui seorang kawan yang dulu sama-sama berdomisili di Birmingham. Mbak Retno kini telah menyelesaikan studi S3-nya, dan kini kembali melanjutkan pengabdiannya di Depdiknas.

Setelah berbincang-bincang beberapa lama, kami kaget ketika menyadari bahwa disertasi beliau adalah mengenai sekolah non-formal.
Saya jadi ingat mengenai ide sekolah swadaya, dimana kegiatan persekolahan dilakukan oleh kita sendiri – namun kemudian diformalkan dengan ujian kesetaraan, dan mendapatkan ijazah resmi dari Depdiknas.
Ternyata, menurut beliau ya inilah sekolah non-formal itu. Jadi, sekolah non-formal / swadaya itu bisa di akomodir di sistem pendidikan Indonesia saat ini, dan anak muridnya bisa mendapat ijazah pula, sebagaimana kawan-kawannya yang bersekolah di sekolah formal.

Tidak itu saja, bahkan materi pendidikannya pun sudah ada. Jadi, tinggal dijalankan. Tidak perlu men-develop lagi materinya. Ada beberapa paketnya, seperti paket A dan paket B.

Sekolah swadaya ini pernah kami jalankan dulu ketika masih di Birmingham.
Ketika itu topiknya lebih mengarah kepada agama, karena materi pendidikan yang tersedia hanya itu pada saat tersebut. Cara pelaksanaannya mudah sekali – pertemuan dilakukan di rumah para peserta, secara bergantian. Pengajarnya adalah para ibu-ibunya sendiri, berganti-gantian juga.
Walhasil anak-anak senang sekali, karena suasana belajar-mengajar lebih rileks / tidak kaku, dan di lingkungan yang nyaman bagi mereka. Alhamdulillah, perkembangan mereka ketika itu sangat bagus jadinya.

Kembali ke ide sekolah swadaya di Indonesia – ini bisa menjadi alternatif yang sangat membantu masyarakat, karena :

  • Murah – tidak perlu membayar uang gedung, uang SPP, uang seragam, uang buku paket, dst.
    Biaya pendidikan jadi bisa ditekan menjadi sangat minim. Seorang kawan saya mengadakan sekolah untuk sekitar 60 anak jalanan, dengan biaya hanya Rp 200.000 / bulan. Luar biasa.
  • Terjangkau – karena biaya pendidikan menjadi sangat minim, tiba-tiba pendidikan menjadi sesuatu yang lebih terjangkau bagi banyak orang. Diharapkan makin banyak anak-anak yang bisa terhindar dari kasus putus sekolah karena ini.
  • Targeted / Specialized – di diskusi tersebut, mbak Retno juga mendiskusikan beberapa ide dimana sekolah swadaya bisa mengadaptasi kurikulumnya, sehingga menjadi lebih sesuai dengan minat dan bakat dari setiap anak. Ini agak sulit dilakukan di sekolah biasa, yang cenderung bersifat mass education; sehingga sulit untuk menyesuaikan materi pendidikan dengan minat/bakat setiap anak.
  • Lebih relevan – jika poin di atas digabungkan dengan ide apprenticeship / magang, maka tiba-tiba sekolah akan menjadi lebih relevan dan bermanfaat bagi masa depan sang anak. Sekolah bukan lagi semata-mata soal prestasi akademis, namun dapat secara riil menjadi sarana mengantarkan anak kepada kemandiriannya.

Bagi yang juga tertarik dengan ide ini, saya dapat membantu menghubungkan dengan beliau. Saya sedang mencoba memikirkan cara agar ide ini bisa terealisasi dan menyebar di masyarakat. Kita bisa membuat sebuah forum khusus bagi peminat ide ini, dan kita coba godok agar bisa terimplementasikan.

Semoga bermanfaat.

Solusi anti nyamuk yang aman dan efektif

Ngeri dengan berbagai solusi anti nyamuk yang ada ? Obat semprot & bakar yang beracun, obat oles yang tidak nyaman & tidak aman untuk bayi, dll ?
Mungkin Anda bisa memanfaatkan solusi dari MosquitoMagnet.com

Selamat mencoba.

Hati-hati antibiotik

Hati-hati membawa anak Anda ke dokter, perhatikan apakah obat yang mereka berikan ? Apakah, lagi-lagi, antibiotik ?

Antibiotik memang menyenangkan pada awalnya, karena sangat cepat menyembuhkan anak Anda. Namun, efek sampingnya di kemudian hari bisa cukup mengenaskan, seperti :

  • Kalau sering tidak habis diminum / dosisnya kecil, maka lama-kelamaan kuman-kumannya bisa menjadi kebal terhadap antibiotik tersebut. Istilahnya adalah superbugs.
    Dosis kecil – contohnya; ada dokter yang benar, kalau memberi saya Amoxicillin selalu 30 butir (3×1 sehari, total 10 hari). Tapi ternyata ada juga yang hanya memberikan 10 butir. Waduh.
  • Kalau sampai kumannya kebal / bermutasi menjadi superbugs, dan menyebar ke orang lain, maka orang lain juga akan sengsara karena antibiotik yang dia minum juga tidak akan mempan.
  • Antibiotik cenderung melemahkan daya tahan alami tubuh. Karena antibiotik yang bekerja membasmi kuman. Saya merasakan sendiri ketika awal berusaha melepaskan diri dari ketergantungan antibiotik – infeksi tenggorokan saja sampai menyebabkan saya terkapar 3 minggu di rumah.
    Alhamdulillah sekarang hanya beberapa hari saja, seiring dengan semakin terbiasanya daya tahan tubuh menghadapi kuman tanpa dibantu antibiotik.
  • Ketergantungan antibiotik : Seperti yang saya sebut diatas, dan untuk mengujinya mudah saja. Ketika Anda sakit lagi, coba tidak minum antibiotik. Dan lalu lihat, berapa lama Anda baru sembuh ?
    Kalau luar biasa lama seperti saya dahulu, maka kemungkinan besar Anda sudah mengalami ketergantungan antibiotik.

Saya rasa Anda tidak akan mau mengalami sendiri hal ini, apalagi jika terjadi kepada anak-anak Anda. Jadi, hati-hati dan lebih selektif lah dengan penggunaan antibiotik. Biarkan daya tahan tubuh anak Anda mendapatkan cukup “latihan”, demi kebaikannya sendiri di masa depan – anak menjadi sehat, kuat, dan tidak mudah sakit; insyaAllah.

Diskriminasi umur di dunia pendidikan Indonesia

Hari ini keluarga kami sedang berkabung. Anak kami, Sarah, ditolak masuk ke sebuah sekolah dasar – hanya karena umurnya “baru” 4 tahun 8 bulan.
Padahal dia telah berhasil lulus dengan bagus tes masuk sekolah tersebut (yang menurut direkturnya sendiri, di-desain untuk anak umur 6 tahun), dan sudah jelas kelihatan bosan di TK-nya.

Padahal, sekolah tersebut juga bukan sekolah sembarangan, tapi termasuk salah satu sekolah favorit di daerah tersebut. Tapi sayang sekali wawasannya masih agak sempit dalam soal umur.

Memang direkturnya menjelaskan bahwa memang sudah pernah ada kasus-kasus seperti ini (anak dibawah umur masuk SD), dan kemudian anak tersebut gagal karena belum siap secara mental menghadapi tanggung jawab yang lebih besar (dibandingkan dengan TK yang masih banyak bermainnya).
Tapi kemudian kami sudah menyanggupi untuk membuat perjanjian bahwa kalau anak kami gagal sekitar pertengahan tahun ajaran maka akan diturunkan kembali ke TK, dan kami sudah menyatakan akan memberikan dukungan yang dibutuhkan oleh Sarah.

Ibu saya kemudian bercerita mengenai kakak dan adiknya, yang juga menjadi di bawah umur karena “lompat kelas” – zaman dahulu, ketika prestasi seorang anak dinilai luar biasa dan mampu untuk menjalani kelas di atasnya, maka sekolah akan menaikkan anak ybs walaupun sedang di tengah tahun ajaran.

Saya punya prinsip bahwa sekolah makin baik jika bisa diselesaikan secepat-cepatnya, maka sangat ingin – jika memang si anak tsb mampu dan ingin – jika anak-anak saya bisa menyelesaikan sekolah mereka sebelum umur seharusnya.
Kebetulan saya juga seperti ini dan sudah merasakan sendiri bagaimana nikmatnya; yaitu kita bisa punya lebih banyak waktu untuk mulai berjuang untuk kehidupan pasca sekolah kita. Waktu sangat berharga karena kalau sudah hilang tidak bisa diganti lagi, sehingga saya senang kalau anak-anak saya bisa “mencuri” waktu untuk kehidupan masa depannya.

Kami akan mencoba lagi di sekolah yang lainnya, mudah-mudahan saja kali ini akan berhasil.

Peter Pumpkinhead

Anak saya yang paling besar suka sekali dengan lagu ini. Jadi suatu hari, sambil menyetir mobil, kemudian saya ceritakan siapa si Peter ini :

“The Ballad Of Peter Pumpkinhead”

Peter Pumpkinhead came to town
Spreading wisdom and cash around
Fed the starving and housed the poor
But he made too many enemies
Of the people who would keep us on our knees
Hooray for Peter Pumpkinhead
…..
But he made too many enemies…
Peter Pumpkinhead put to shame
Governments who would slur his name
……
Peter Pumpkinhead was too good
Had him nailed to a chunk of wood
He died grinning on live TV
Hanging there he looked a lot like you
And an awful lot like me!
But he made too many enemies…
Hooray for Peter Pumpkin
Oh my oh my oh!
Doesn’t it make you want to cry oh?

Dengan bahasa anak-anak, saya ceritakan kalau si Peter ini orang baik; dia kasih makan orang miskin, malah ngasih tempat tinggal juga. Dia disenangi semua orang. Tapi akibatnya jadi orang jahat yang ngiri.
Akhirnya dia meninggal dibunuh, tapi dia meninggal dunia dengan tersenyum.

Suasana kemudian hening setelah saya selesai bercerita / menterjemahkan lirik lagu tsb.
Akhirnya kemudian Anisah berkata, “Anisah pingin… kalau sudah gede, jadi seperti Peter Pumpkinhead”; dengan suara yang parau.

Saya enggak tahu mau ngomong apa, akhirnya saya belai-belai saja dia dengan rasa sayang.

Parenting tips – How to force your kids without causing them pain

Sometimes (a LOT of times ? :) ) children refuse to do your command because of various reason.
If the reason is valid, then you must be fair. But if it’s not valid, then you need to make them do it.

First you have to speak kindly, but firmly, to them.
Use as little words possible, don’t flood them with angry/irrelevant sayings.
Persuade them to do it, WITHOUT lying (believe me, this will cause you serious problems later).

If they still refuse, you can cancel the order if it’s not important. But if it is, then somehow you need to get them to do it anyway.
Some parents will be inclined to use physical force at this point.

Here’s the tip – if you child is ticklish, just say that you’ll tickle them until they do it :)

No harm’s done, instead they will laugh uncontrollably while getting the job done 😀
And it’s fun to both of you. What could be better ? Let me know :)

Semoga anakku menjadi orang yang biasa-biasa saja

Dari milis Balita-Anda, semoga dapat menjadi inspirasi bagi kita semua.


Tahukah anda, apa yang paling dibanggakan orang tua dari anak-anaknya?
Boleh jadi adalah kecerdasan scholastic, seperti matematika, bahasa, menggambar (visual), musik (musical), dan olahraga (kinestetik).

Tetapi, pernahkah kita membanggakan jika anak kita memiliki kecerdasan moral, kecerdasan intrapersonal, atau kecerdasan interpersonal?

Rasanya jarang, sebab ketiga kecerdasan yang terakhir hampir pasti uncountable, tidak bisa dihitung, dan sayang sekali tidak ada pontennya (nilainya) di sekolah, karena di sekolah hanya memberikan penilaian kuantitatif.

Ada sebuah cerita tentang seorang anak, sebut saja namanya Fani (6,5 tahun),kelas I SD. Ia memiliki banyak sekali teman.
Dan ia pun tidak bermasalah harus berganti teman duduk di sekolahnya. Ia juga bergaul dengan siapa saja dilingkungan rumahnya. Ada satu hal yang menarik saat ia bercerita tentang teman-temannya.

“Bu, Ifa pinter sekali lho, Bu…! Pinter Matematika,Bahasa Indonesia, Menggambar….pokoknya pinter sekali….!” katanya santai. Vivi juga pintar sekali menggambar, gambarnya bagus …sekali! Kalau si Yahya hafalannya banyaaak… sekali!”

Ya memang fani senang sekali membanggakan teman-temannya. Ketika mendengar celoteh anaknya ibunya tersenyum dan bertanya, ” Kalau mbak Fani pinter apa?” Ia menjawab dengan cengiran khasnya,” Hehehe…kalau aku, sih, biasa-biasa saja”.

Jawaban itu mungkin akan sangat biasa bagi anda, tetapi ibunya tertegun, karena pada dasarnya fani memang demikian. Ia biasa-biasa saja untuk ukuran prestasi scholastic.

Tapi coba kita dengarkan apa cerita gurunya, bahwa Fani sering diminta bantuannya untuk membimbing temannya yang sangat lamban mengerjakan tugas sekolah, mendamaikan temannya yang bertengkar.

Bahkan ketika dua orang adiknya, Farah (4,5 tahun ) dan Fadila (2,5 tahun) bertengkar. Fani langsung turun tangan. “Sudah..! sudah, Dek! sama saudara tidak boleh bertengkar, Hayo tadi siapa yang mulai?” Adiknya saling tunjuk.”Hayo, jujur …Jujur itu disayang Allah..! Sekarang salaman ya… saling memaafkan”.

Pun ketika suatu hari ia melihat baju-baju bagus di toko, dengarlah komentarnya! “Wah bajunya bagus-bagus ya Bu? Aku sebenarnya pengin, tapi bajuku dirumah masih bagus-bagus, nanti saja kalau sudah jelek dan Ibu sudah punya rezeki, aku minta dibelikan …” Ibunya pun tak kuasa menahan air matanya, subhanallah anak sekecil itu sudah bisa menunda keinginan, sebagai salah satu ciri kecerdasan emosional.

Saya sebenarnya ingin berbagi cerita tentang ini kepada anda, karena betapa banyak dari kita yang mengabaikan kecerdasan-kecerdasan emosional seperti itu. Padahal kita tahu dalam setiap tes penerimaan pegawai, yang lebih banyak diterima adalah orang yang mempunyai kecerdasan emosional walaupun dari sisi kecerdasan scholastic adalah BIASA-BIASA SAJA.

Kadang kita merasa rendah diri manakala anak kita tidak mencapai ranking sepuluh besar disekolah. Tetapi herannya, kita tidak rendah diri manakala anak-anak kita tumbuh menjadi pribadi yang egois, mau menang sendiri, sombong, suka menipu atau tidak biasa bergaul.

Maka ketika Fani mengatakan “AKU BIASA-BIASA SAJA”, maka saat itu ibunya menjawab “Alhamdulillah, mbak Fani suka menolong teman-teman, tidak sombong, mau bergaul dengan siapa saja. Itu adalah kelebihan mbak Fani, diteruskan dan disyukuri ya..?” Ya… ibunya ingin mensupport dan memberikan reward yang positif bagi Fani. Karena kita tahu anak-anak kita adalah amanah dan suatu saat amanah itu akan diambil dan ditanyakan bagaimana kita menjaga amanah.

Sebagaimana doa kita setiap hari agar anak-anak menjadi penyejuk mata dan hati. Sudahkah kita mencoba untuk menggali potensi-potensi kecerdasan emosional anak-anak kita? Kalau belum mulailah dari diri kita, saat ini juga.

Parenting tips – Never stop learning / adapting

Kids never cease to change. They were babies, then they were cuties, then they start entering nurseries, elementary school, making new friends, expanding their horizon, found bad/good friends, fell in love, and so on.

As their parents we need to constantly adapting ourselves to them.
If we ever stop adapting, then we’ll risk disconnecting ourselves from them. Then before long, you’ll feel like strangers to your kids.

Some people are not really good at adapting. But do please try, for the sake of your children.

On a side note – I swear that I’ve thought about this, but Aa Gym beat me to saying it on the TV :) it’s nice to see that someone agree with you on such important topic.

Parenting tips – Learn from your parents’ mistakes

A lot of people hate their parents for what they’ve done to them. Some parents are very cruel to their kids. Some barely recognize they have kids. Some are unable to “connect” with their kids. And so on.

But I think we need to be considerate with them. Now we know that life, as a parent, is harsh. We need to work to get income. Then we need to worry about getting a home for our family, car, education, and other problems. Sometimes, the parents are too busy / stressed, they fail to take care of their kids properly.

I think what is best to do is to make our relationship better with our parents. Then we look at their mistakes, and make sure that we won’t do that to our own kids.

It’s among the easiest way to make ourselves a better parent (surely we don’t want our kids to suffer from the same pains we’ve experienced in the past), so don’t miss it.

Parenting

If you haven’t noticed, this is the first post for Parenting category. I don’t claim to be a good father, in fact I think I still have some way to go. However, when you have 4 kids, you tend to find out nifty tricks along the way, just enough to keep yourself sane :)
So this is where I’ll share them with you. Hope you’ll find it useful.

22 March 2001 — 23.12

I’ve had enough – this morning I brought Sarah to Emergency section of Birmingham Children Hospital.
To my surprise, they didn’t get mad (like that idiot in City Hospital) and actually understand why I went there instead of trying to get an appointment for her GP (which, I was told, I can have in the next several weeks – by that time Sarah will have no skin left on her body!).
We have some useful discussion and now our confidence are restored that Sarah can be cured. We just need to be persistent and patient with her condition. (well, easy for me to say indeed)

When you’re feeling blue, go to this site.


(source)

18 March 2001 — 19.31

Sarah’s eczema returned – now with rubella/measle, great.
Her skin was already very smooth just like other babies, but suddenly she got this rubella. Then her eczema just had to flare up again. And she got cough. And runny nose. And high body temperature. Poor baby, she cried because of all the pain…
But that’s not all – then NHS just had to refuse seeing her at all.
First, I brought her to NHS walk-in center. The nurses there are very friendly, but granted, they’re not GP so can’t prescribe anything. They told me to contact my out-of-hours GP and give their letter describing Sarah’s condition. So I did. But what that GP said? He told me that those nurses are unreliable, so just sit tight, and you’d be fine. ??????? what the *#*!)*# unbelievable. By the way; this is over the phone, he hasn’t actually see my baby. Yeah dude, why don’t you just confess that you’re so lazy! (it was 11 pm)

So I wait until Monday morning and bring Sarah to her GP directly. This time, they refused her flatly on my face. “No can do until the next 3 weeks” basically is what they said, and they turned their back on me. I felt like I’m falling in a bottomless pit…

And some people are wondering why people flocked to the hospitals… I think I’ll do so, because I have the right for the service (the tax here is high!) that would cost NHS more money? See if I care.

What we’ve done so far, we visited our local pharmacist, asked for some medicine, and that’s it. A week goes by already.
A bit helpful, but still she shouldn’t suffer this way if NHS service was a bit better.

Some friends are suggesting that we should complain; problem is, to whom? Deaf ears are everywhere, I need to find a way to make the complaint actually heard and processed. Otherwise I won’t bother wasting my time.


(source)

07 March 2001 — 12.33

Sarah is still a very happy baby – I’m overjoyed.
Hopefully her eczema doesn’t have any plan to return any time shortly – better yet, don’t return at all 😉

I REALLY need that Xircom Rex 6000 to remind me of my own schedules and enabling me to take notes anywhere, without inconveniencing me as with other bulky PDAs …. *sigh* later perhaps, especially to remember that we just did a buying spree recently.


(source)

07 March 2001 — 12.24

My Intel PocketPC camera just arrived today! and you can see the sample pictures (my brother picturing himself, being a megalomaniac) here Hamdani Harman Rukun aka Megaloman and here

The picture is pretty good for sub 100 poundsterling digital camera indeed. And not only that, it comes LOADED, such as the fact that it can become a Digital Video too (granted, only around 2 minutes, but still enables you to record that funny moment), be a webcam (you read me right) so finally I’ll be able to teleconference with my family in Indonesia! yipee. And with 8 MB of RAM I can snap 64 pictures.
Then it comes with quality software too… a lot of them, and not too shabby as well. Especially I’m looking forward to its Reality Fusion games – where you can play virtual games such as Virtual Basketball with PocketPC – cool.

It was a hard decision for me to choose between Intel PocketPC and Logitech Quickcam Traveler. But after looking at its sample pictures, Intel PocketPC is very clearly the winner – and cheaper too! Kudos to Intel for this gadget.


(source)

            








SEObox: Web Hosting Murah Unlimited Komik Indonesia Homeschooling Indonesia