Archive for the 'Retail' Category

Turut Merayakan HUT RI 66 : AhadPOS Dirilis

Menyambut & merayakan kemerdekaan Republik Indonesia yang ke-66, dengan gembira kami mengumumkan bahwa AhadPOS kini telah resmi dirilis.

AhadPOS v1.2.0 ]
Kode nama rilis ini adalah : β€œMinangkabau”

Tentang AhadPOS :
http://ahadpos.com/about/

Fasilitas support :
http://ahadpos.com/support/

Dokumentasi ringkas :
http://ahadpos.com/docs/

Mengapa Fokus Ke UKM ?

Sektor Retail UKM adalah salah satu sektor yang sudah terbukti cukup tahan terhadap beberapa gelombang krisis ekonomi yang terjadi. Ketika berbagai perusahaan raksasa kolaps secara spektakuler, berbagai retail UKM terus hidup. Beberapa bahkan menemukan / membuat peluang-peluang baru, dan menjadi lebih besar paska krisis.

Sektor ini juga sangat padat karya dan menghidupi sangat banyak orang. Bantuan serta dukungan untuk sektor ini akan membantu masyarakat secara luas.

Berikut adalah beberapa fakta seputar pentingnya UKM di Indonesia :

(a) UMKM menyumbang 53,32% PDB (sumber)
(b) Lebih fantastis lagi adalah ketika kita melihat angka penyerapan tenaga kerja – di berbagai daerah, secara konsisten UMKM menyerap lebih dari 95% tenaga kerja.
Di Sukabumi, UMKM bahkan menyerap 99% dari semua tenaga kerja.
(sumber)

Informasi lebih menarik datang dari BPS, yaitu :

# UKM adalah 99,9% dari pelaku usaha usaha Nasional
# Padat Karya : Mempekerjakan 96,95% dari total tenaga kerja
# Padat Karya : Mempekerjakan 90 juta orang (Usaha Besar: hanya 2 juta)
# Menyumbang Pendapatan Nasional sebesar 2000+ Trilyun

(sumber: BPS 2008)

Bantuan kepada sektor ini akan berdampak sangat luas. Karena itu Rimbalinux.com berkomitmen untuk berusaha mendukung mereka.

Masalah & Solusi

Salah satu masalah terbesar pada retail UKM adalah proses penjualan & kontrol stok (inventory control). Kontrol stok amat penting untuk mencegah kehilangan. Dan pada jangka panjang, kontrol stok yang baik bisa sangat membantu untuk optimalisasi stok.
Stok yang terkontrol dan optimal akan sangat membantu kelancaran cashflow, dan meningkatkan keuntungan.

Masalahnya, pekerjaan ini (kontrol stok) cukup memakan waktu, sehingga para pebisnis UKM sering menjadi segan untuk melakukannya. Dan implementasinya secara manual juga rentan kesalahan, dan juga sulit untuk menelusuri sumber kesalahannya.

Semua masalah ini bisa diatasi dengan mudah oleh sebuah sistem POS (Point Of Sales) yang terintegrasi. Tidak hanya berupa layar kasir / transaksi, namun juga sudah mencakup modul kontrol stok.

Pada saat ini, ada banyak masalah dengan berbagai sistem POS, baik yang open source maupun yang proprietary, seperti :

1. Fitur tidak lengkap
2. Reliabilitas
3. Data lock-in
4. Tidak bisa dikembangkan
5. Harga

Software AhadPOS akan memecahkan semua masalah ini, karena dibuat dengan berdasarkan pengalaman langsung dari beberapa UKM di lapangan, dan tersedia dengan lisensi yang bebas (GPL).

Selamat menikmati, dan, Merdeka !!

Lampiran : foto-foto pameran AhadPOS, gedung JCC,
Acara PPKI (Pekan Produk Kreatif Indonesia), 23-27 Juni 2010

AhadPOS - shown on PPKI Expo June 2010 @ JCC, JakartaAhadPOS - shown on PPKI Expo June 2010 @ JCC, JakartaAhadPOS - shown on PPKI Expo June 2010 @ JCC, JakartaAhadPOS - shown on PPKI Expo June 2010 @ JCC, JakartaAhadPOS - shown on PPKI Expo June 2010 @ JCC, JakartaAhadPOS - shown on PPKI Expo June 2010 @ JCC, Jakarta AhadPOS - shown on PPKI Expo June 2010 @ JCC, JakartaAhadPOS - shown on PPKI Expo June 2010 @ JCC, JakartaAhadPOS - shown on PPKI Expo June 2010 @ JCC, JakartaAhadPOS - shown on PPKI Expo June 2010 @ JCC, JakartaAhadPOS - shown on PPKI Expo June 2010 @ JCC, JakartaAhadPOS - shown on PPKI Expo June 2010 @ JCC, Jakarta AhadPOS - shown on PPKI Expo June 2010 @ JCC, JakartaAhadPOS - shown on PPKI Expo June 2010 @ JCC, JakartaAhadPOS - shown on PPKI Expo June 2010 @ JCC, JakartaAhadPOS - shown on PPKI Expo June 2010 @ JCC, JakartaAhadPOS - shown on PPKI Expo June 2010 @ JCC, JakartaAhadPOS - shown on PPKI Expo June 2010 @ JCC, Jakarta

Pameran AhadPOS @ JCC, a set on Flickr.

Di PPKI (Pekan Produk Kreatif Indonesia), 23 – 27 Juni 2010

Tips : Sewa Kios GRATIS di Mall

Bisnis online kini telah semakin marak di Indonesia. Dulu hanya bisa dilakukan oleh pakar komputer, atau mereka yang bermodal besar.
Kini bahkan ibu rumah tangga sekalipun sudah banyak yang memiliki usaha di Internet. Dan ini tentu saja adalah hal yang bagus bagi kita, para konsumen, karena kita jadi makin banyak mendapatkan pilihan, dengan harga yang makin terjangkau – dan tanpa perlu keluar rumah / kantor ! Semua ini bisa didapatkan cukup dengan mengakses Internet dari komputer kita.

Namun memang ada berbagai kendala di seputar usaha di Internet ini.
Salah satunya adalah trust – kepercayaan. Seringkali calon pembeli kita tidak jadi membeli karena hal ini. Mereka masih takut untuk melakukan transaksi jual-beli di Internet.

Nah, karena itu beberapa pebisnis online juga memiliki lokasi usaha di ruko / mall. Dengan demikian, calon pembeli jadi merasa nyaman, karena penjual tersebut “nyata”. Ada toko fisiknya juga, tidak hanya virtual / online di Internet.

Siapa sangka ternyata kita pun juga bisa menyewa kios di Mall dengan gratis !? πŸ˜€

Ya, beberapa mall ternyata menyediakan banyak kios yang bisa kita sewa dengan gratis.
Misalnya, di Tanah Abang Blok A. Anda tidak salah membaca – di lokasi yang terkenal dengan biaya sewa toko sampai ratusan juta rupiah ini, ternyata ada kios-kios yang juga mereka sediakan tanpa biaya sewa !
Satu lagi yang saya tahu adalah MGK – Mall Glodok Kemayoran.

“Bagaimana bisa??”, tentu pertanyaan ini akan langsung terbersit di benak Anda.
Ternyata sederhana saja.

Nyaris di setiap mall, biasanya ada beberapa lokasi yang masih sepi. Belum ada / banyak penyewanya.
Nah, konsumen cenderung menghindari lokasi-lokasi sepi tersebut. Pada gilirannya, para pedagang juga menghindari lokasi itu.
Sehingga ini menjadi dilema bagi pengelola Mall : pengunjung tidak mau mampir ke lokasi yang sepi, dan pedagang tidak mau menyewa kios di lokasi yang minim pengunjung.

Maka kemudian berbagai pengelola berbagai Mall menyediakan kios-kios tersebut untuk disewa Gratis πŸ™‚

Nah, ini sangat cocok bagi para pengusaha online.
Kita tidak perlu tempat yang ramai, karena pembeli kita di Internet. Sementara itu, dengan alamat kios di sebuah Mall, maka bisnis kita menjadi lebih bonafid & terpercaya !
Jadinya serba untung, tidak ada ruginya πŸ™‚

Anyway, judul posting ini sebetulnya kurang pas kalau disebut full 100% gratis. Pada setiap bisnis, ongkos rutin (overhead) pasti akan selalu ada.
Anda mungkin akan perlu menggaji penunggu toko. Lalu juga tentunya ada biaya listrik, air, telpon, kebersihan; mungkin sekitar 300 ribu – 500 ribu per bulan.
Tapi, biaya sewa memang Gratis, alias Nol rupiah πŸ™‚
Yang normalnya bisa mencapai ratusan juta rupiah, kini menjadi tiada.

Demikian informasi ini semoga bermanfaat bagi Anda.
Dan jika Anda menemukan mall – mall lainnya yang juga menyediakan kios gratis, kabarkan juga kepada kita semua dengan mengomentari artikel ini ya?
Terimakasih πŸ™‚

PayPal “Buy Now” problems

Just setup PayPal “Buy Now” buttons in an eCommerce website. In short, with this facility, people can pay even without becoming a PayPal member. Very convenient indeed.

First I created one “Buy Now” button, and tested it. It worked very well.
So I created several more.

Then the problems started.

I got all sort of errors, including “Message 3104”. Basically, all the error messages asked me to login with existing PayPal account. Which pretty much defeats the purpose.

Googling around, all suggestions are about lowering security settings, allow cookies, and so on. Tried them, and still the same problem occured.

After hours of messing around, finally I found the culprit – instead of one <form> tag for EACH button, there was only one of it for ALL buttons.
No wonder PayPal got so confused with it.

I put one <form> tag for each button, and tried again – voila, I can pay for the goods just with my credit card now.

Hope it helps someone out there.

Mission (almost) Impossible

On December 2005 I was asked to help manage a shop which is in brink of closure due to mismanagement. By May 2006, the shop is ranked #2 best performer.
Work is still ongoing to make it to become the number #1, but suffice to say that everyone’s already happy with that result.

On May 2006 I was asked to help manage another shop, located near to Pondok Indah. This shop is about to be closed down too, since it’s been plagued by multitude of problems. Worse, the revenue is only about 25% of the previous shop.
Seemed like an impossible case to me, but I accepted it nonetheless.

Summary :

The problems:

1. Very low staff morale
2. Very low sales, most likely due to market saturation (about 6 competitors in the same area)
3. Low profit margin
4. Losing money every month / not profitable.

Actions:

1. Working together with the staff. Developing team work. Increasing staff morale.
2. Diversifying into stationery business
3. Process optimizations
4. Profit margin increase, by various stock optimization methods
5. Creative promotion strategies
6. etc

Results so far :

1. Since May 2006, revenue has been climbing steadily. Average revenue nowadays are about 33% more than before.

2. Profit margin is becoming better

3. The shop is no longer losing money.

Not too bad for 3 months job I think.

The owner is very happy with the result. He’s extended the shop’s lifeline until December 2006 – the shop will have to start performing (target: increase revenue by at least 33% more), or it will be closed down then.

So it’s clear that my work is not yet done here, because of these:

1. Again, this is a management problem. I may have to fire the second-in-command. I’ll give him chance to change until end of this month, otherwise he’s gone.
Problem: lack of initiative, lazyness, failure to keep promises, lack of discipline.

2. Staff morale is still rather low. It’s a bit better, but it’s now clear that the human resources in this shop is not of good quality. Some of them are lazy, lacking in initiative, avoid tasks that they don’t like, etc.

Some of them are plain idiots too. Example; we have a profit-sharing policy in this shop.
Any profit will be shared with the employee. I don’t think Indomart, Alfamart, or others has such generous policy.
However, some of these employees are keep asking for their share – to which I replied, rather sarcastically, “from which profit ?”

When there’s no profit (the shop is not losing money, but it’s not making money too at the moment), what’s there to share ?
I wonder if some people actually have brain inside their head.

I may have to fire some of them, but again I will first give them chance to change. If they still refuse to change, then it’s their own fault.

Note that your employees are your most important asset. We value them highly – we treat them as colleagues, we try to understand their problems and help them resolve it, we even share our profits with them. We believe in fairness and wealth distribution.

Usually, this works wonders. However, some people are not able to appreciate this.
It may seem cruel of me to fire these kind of people (of course, after giving them chance to change first). But :

1. They may just not belong here. They may be happier working somewhere else.

2. A non-performer not only cost the shop money, but most importantly, they’re a burden to their colleagues.

I’ve worked with some non-performers before, and I have had to work twice or thrice as hard to cover their inabilities / laziness. And, to say it politely, I don’t like that. So I can empathize with my employees in such similar position.

3. There are people out there that can use a good job like these

Note that this is not the only thing that I’m doing. I’m also handling about 3 IT projects, and some personal businesses too. And of course, most importantly, my family.
I’ve went over my (previously thought) limits many times, and although it’s very tiring, it’s definitely is very rewarding to my own personal developments.
I felt like dying at times, but what doesn’t kill you makes you stronger.

So we’ll see this shop again in Dec 2006, and see how it fare then.
Wish me luck. I’ll need it, and a lot of Paracetamol πŸ™‚

Hobury – minuman yang sehat

Sudah beberapa lama ini kami dikejutkan dengan Hobury, minuman sehat (bukan minuman kesehatan) yang laku dengan sangat cepat. Padahal harganya termasuk cukup mahal – Rp 6500 untuk kemasan botol plastik 350 ml.

Beberapa kelebihan Hobury dibandingkan dengan minuman-minuman lainnya :

1. Tanpa bicarbonat, tanpa pemanis/cita rasa/warna buatan. Natural 100%
2. GMO (Genetically Modified Organism) free
3. Mengandung spirulina, kiwi, madu, klorofil
4. Dalam kemasan yang praktis dibawa-bawa

Apakah Hobury akan menjadi pendobrak munculnya niche / pangsa pasar baru, yaitu minuman sehat ? Bisakah menjadi pendobrak yang selevel dengan kasus Pocari Sweat ?
Sebelum Hobury, sebetulnya minuman sehat juga sudah ada. Ada produk minuman lidah buaya hasil kerjasama MQnet dengan Universitas Indonesia (Kavera), ada minuman tradisional (sirih, kencur, dll), dan lain-lainnya. Tetapi, selama ini belum ada yang grafik penjualannya melejit seperti Hobury.

Apakah Hobury adalah trend sesaat, atau bukan? Mari kita saksikan bersama-sama.

Pocari Sweat meluncurkan serangan balasannya

Beberapa hari yang lalu seorang staf saya menunjukkan produk baru dari Pocari Sweat, isi sama namun dalam kemasan botol plastik 500ml.

Sedikit latar belakang, Pocari Sweat dulunya adalah raja pada niche minuman olahraga. Pada jaringan minimarket kami, dulu produk yang paling banyak terjual biasanya bergantian antara Yakult dan Pocari Sweat. Ya, mengalahkan bahkan produk mie instan sekalipun. Prestasi ini tentu sangat luar biasa, apalagi jika kemudian kita ingat bahwa Pocari Sweat mengangkangi segmen pasar ini sendirian πŸ™‚

Kemudian kompetitor mulai bereaksi. Tiba-tiba, dalam waktu singkat pasar dibanjiri dengan berbagai produk minuman olahraga lainnya. ProSweat, Mizone, dan puluhan produk lainnya. Tipe orang Indonesia – “me too” ? Anyway, ketika kita menilik lagi bagaimana besarnya “niche” ini, maka tindakan ini menjadi wajar.

Yang menarik justru adalah respon / ketiadaan respon dari Pocari Sweat. Dalam waktu yang cukup lama, tetap saja PS hanya tersedia dalam kemasan 330ml, dan rasa yang sama. Dimana kompetitornya (yang mungkin terbesar saat ini), Mizone, menyediakan 2 rasa dan kemasan botol plastik yang nyaman untuk dibawa-bawa.
Penjualan Mizone meroket dengan cepat, dan angka penjualan PS menjadi korbannya.

Akhirnya PS mulai bereaksi dengan kemasan baru ini. Tapi apakah reaksi ini sudah terlambat, ataukah belum?
Time will tell.

HIT got hit hard

Di antara keributan seputar produk HIT, saya cukup terkejut ketika membaca di blog Pipit bahwa ternyata HIT sudah mengetahui pelarangan ini dari tahun 2003.

Kenyataan bahwa HIT terus diproduksi sampai akhir-akhir ini jelas adalah suatu tindakan yang tidak bermoral.
Sedangkan dari perspektif bisnis; mungkin ini adalah salah satu contoh bisnis yang sudah terperosok di comfort zone-nya, sehingga gagal bereaksi dengan cepat terhadap bahaya yang mengancamnya.

Ketika saya kemudian melakukan riset sederhana mengenai solusi alternatif untuk menangani masalah nyamuk, sebentar saja saya sudah menemukan banyak. Dan dari sekian banyak itu, tetap ada banyak yang potensial untuk diproduksi massal dengan harga setara / lebih murah daripada produk HIT. Dan, kesemuanya dari bahan alami serta aman bagi lingkungan dan makhluk hidup.
Kemarin saya sudah memesan salah satu sampelnya dari Amerika, untuk dilihat apakah bisa dikembangkan menjadi produk baru disini.

Ketika saya sendirian saja bisa menemukan ini semua dalam waktu hanya sekitar 3 jam, adalah memprihatinkan ketika produsen sebesar HIT gagal dalam tempo waktu 3 tahun.

Innovate & differentiate, or die.

            








SEObox: Web Hosting Murah Unlimited Komik Indonesia Homeschooling Indonesia