Archive for the 'Sosial' Category

Sutradara Ayat-ayat Cinta diduga membajak ?

Demikian salah satu isi dialog antara Manoj Punjabi, boss MD Entertainment, dengan wakil PKS di DPR kemarin ini. Kutipan:


Manoj, Hanung, Hasri Ainun, Habibie
Manoj, Hanung,
Hasri Ainun, Habibie

(sumber: detik.com)

Menurut bos MD Entertainment itu, ada lima pihak yang diduga berpeluang mengedarkannya yaitu Badan Sensor, sutradara, LSM, pihak editing, dan produsennya. Manoj merasa, orang yang telah membajak, berusaha merusak imej perusahaannya.

Kok bisa tega begitu sampai mau mengadukan ke polisi ? Padahal mas Hanung sudah demikian jungkir-balik berusaha di tengah segala halangan agar film ini dapat tetap bisa berhasil.

Lalu ketika sudah berhasil, diadukan ke polisi ? Ketika jerih payah mas Hanung berhasil melampaui bahkan target produsen, yaitu 1 juta penonton ?

Kalau berita dari detik.com ini akurat, maka saya sangat kecewa.
Tapi ini memang bukan konflik pertama antara MD entertainment dengan sutradara, sebelumnya sutradara juga sudah pernah ditekan agar membuat AAC menjadi lebih hedonis & “gaul”.

Di tengah rencana MD entertainment untuk membuat versi extended AAC, kalau ada shooting ulang, tentu wajar jika produsen ingin menggunakan jasa sutradara yang bisa lebih akur dengan kemauan mereka.

Tapi kalau itu sampai terjadi, saya pastikan saya tidak akan menonton versi extended tersebut.

Nah, mari kita lihat bagaimana perkembangan selanjutnya dari soal ini.

IGOS Summit 2

Berbagai institusi yang bergerak di bidang open source telah bergerak untuk mengadakan hajatan akbar open source tahun ini, IGOS Summit 2.

Detail acara :

Waktu : 27 - 28 Mei 2008

Lokasi : JaCC (Jakarta City Center)

Ada banyak acara disini, seperti :

# “Next Generation Network (NGN)/VOIP dan ENUM berbasis Open Source” oleh Onno W. Purbo

# Pemanfaatan FOSS untuk Pemerintahan, Pendidikan, dan Bisnis

# Berbagai kompetisi

# Deklarasi IGOS 2

# Narasumber & para tokoh open source, juga para wakil dari pemerintah dan berbagai institusi pendidikan.

Sampai jumpa di perhelatan akbar ini !

PLN : Perusahaan Listrik Non-profesional

Sudah 2 kali rumah saya kedatangan orang yang mengaku dari PLN dan mengancam akan memutuskan aliran listrik di rumah saya.

Yang pertama kali kebetulan saya yang menerima langsung, dan saya cek memang utusan dari PLN. Masalahnya, setahu saya (dan istri) keterlambatan pembayaran PLN di daerah kami bukan langsung diputuskan, melainkan diingatkan dulu.
Ternyata istri memang lupa, karena kesibukannya yang luar biasa. Manusiawi kan? Tidak ada niat buruk.

Yang membuat kesal, ternyata peraturannya sekarang sudah diubah. TANPA ada pemberitahuan sebelumnya.
Lewat dari tanggal 20, maka siap-siap saja didatangi oleh petugas yang akan memutuskan aliran listrik ke rumah Anda.

Tadinya saya mau protes keras ke PLN. Namun kemudian saya tertegun ketika membaca posting Ndoro Kakung.
Lewat dari tanggal 10 belum membayar langsung diputus ? Tanpa ada ba-bi-mu ?

Akhirnya saya cuma bisa menghela nafas. Inilah akibatnya jika kebutuhan rakyat dimonopoli oleh satu entitas yang tidak becus.

Idealnya, perusahaan negara hanya mengurusi infrastruktur. Jangan rakus ikut mengurusi sampai ke soal ecerannya.

PLN jualan grosir (wholesale) saja. Yang mengecer listrik ke para pelanggan kemudian adalah perusahaan-perusahaan lainnya.

Skema ini sudah dijalankan di berbagai negara, dan jika tidak ada kongkalikong di balik layar, maka ini sangat efektif untuk menghasilkan kualitas pelayanan yang prima kepada para pelanggan.

Kembali ke cerita - Alhamdulillah petugas tersebut bisa diajak bicara baik-baik, dan dia setuju untuk tutup mata dengan syarat saya langsung melunasi tagihan. Case closed.

Or so I thought :P

Hari ini kembali datang seorang petugas PLN. Sialnya saya & istri sedang keluar, dan yang menerima adalah pembantu kami. Dia kemudian menelpon kami, mengadu bahwa petugas PLN tersebut (yang tidak berhasil diverifikasi baik kepegawaiannya maupun keabsahan penugasannya pada hari itu) bertingkah petantang petenteng dan memaki-makinya sambil mengancam akan memutuskan listrik.
Masih agak pusing akibat lembur beberapa hari di lokasi client, saya cuma bisa bengong mendengarkan ceritanya.

Untungnya tidak ada terjadi pemutusan pada hari tersebut. Namun insiden ini akan saya laporkan kepada security cluster, sehingga petugas preman PLN yang datang selanjutnya bisa dipastikan akan berhadapan dengan tim security, dan bukannya dengan pembantu wanita yang tidak tahu apa-apa.

PLN - fokus saja ke infrastruktur. Biarkan yang jualan / menghadapi kami adalah pihak lainnya.
Tolong buatkan infrastruktur terbaik, yang akan membuat negara-negara jiran jadi merasa iri. Terimakasih.

Reality Tours - tourism with difference

Tourism is a huge business. Some countries are almost solely depending on it. For other countries, even though they have other revenue streams, tourism is still big. China for example, enjoyed an income of US$ 137 billion on 2007 from tourism alone.

Imagine when a portion of this money is spent on the poorest areas instead.

That’s what Reality Tours (Wired.com called it Poverty Tours) can do.

First time I heard about it is in that Wired article linked above. Actually I have thought about it, but for my own family. I asked my wife to think about & arrange visits to poor areas with the kids. This will help to expand their horizon.
Last time we went around, my kids were surprised that there are houses with no (ceramic) floor. There are houses with no electricity, no taps. There are people who had to walk very far, just to get a bucket of water. And so on.
We took too much for granted, this makes us less grateful at times, and I aim to fix that.

This Reality Tours idea expanded it for others. This is truly brilliant.
For the tourists themselves, this would not be only fun, but also an eye-opening experience.
Visiting the poorest areas is a totally different experience than your standard holiday, where the aim are just for fun - and nothing else. They will find out totally different things. They will see humanity in all sorts of conditions - and still thriving.

Some of my best mentor are the poorest ones. It’s amazing to see them always smiling, while facing hardships daily. Actually it may be only my opinion, because they doesn’t seem to think of their problems as hardships. They are able to enjoy life in any kind of situation.
Simply beautiful.

Us ? We are stressed when the roads are jammed. We are panicked when the computers are down. We don’t know what to do when the internet access is disconnected.
I am always humbled whenever I met with these great people.

Also I noted that spending is only an instant gratification. It tires you SO much later - so much stuff, what to spend next, where, how, etc. Especially spending on a holiday. At the end of it, sometimes you were left gobsmacked - did I bought all of that? what for? How much ??? And so on.
But, when you’re spending on something that you know are helping others, the effects are so much more lasting. It seems that this is the way the deepest core of humanity were coded.
This is what Reality Tours are offering - a truly refreshing experience. Unlike normal holidays, which may left us tired at the end, and made us unhappy to go to work at the next day (seems familiar?).
The new horizons gained from the Reality Tours will energize us, and brings out the best from us. You don’t aim for fun in these tours, but trust me, you will have a lot of it, and will be enjoying it for a lot longer.

In Indonesia, however, I don’t think you can bring foreigners into the deepest slums in Jakarta. Probably in some areas, but generally this can be very dangerous. Unless you know the people and the gangs in that slum very well.

A much better destinations would be the countryside. The landscape are beautiful, and the people are far more graceful.
A taste of this may be enjoyed in JAM (Jika Aku Menjadi), a unique TV programme created by the well-known Satrio Arismunandar. In its episodes, an urban dwellers will be selected and then taken to a family at the countryside to live there for some time.

A truly touching example is the episode where the actress lived in a duck herder’s family. It’s very hard to imagine a family of 5 living on a cup of rice - for 2 days.

Yet they’re still happy, and they’re grateful with what they have. Imagine how joyful they were when someone gave them Rp 1 million (about US$ 90), so they were able to increase the size of their herd.

It’s a truly humbling experience, and makes you realize about things that really matters.

So, if you’re going to arrange Reality Tours, let me know. If it’s any good, we’re signing up.

Operasi Katarak Gratis

Kenalan saya, pak Geis Chalifah, barusan mengirimkan email terlampir di milis internal ISNET.
Saya publikasikan juga disini, mudah-mudahan ada yang bisa mendapatkan manfaatnya.

Ini merupakan amal yang luar biasa. Baru sadarnya ketika kemarin ini ayah saya perlu operasi katarak juga. Walaupun katarak beliau masih level ringan, namun biaya operasinya sudah mencapai sekitar Rp 6 juta.

Kini yang tidak mampu juga dapat menikmati kembali nikmat melihat, berkat kebaikan saudara-saudara kita ini. Terimakasih.

Informasi selengkapnya :

Asww.
Yayasan Rahmatan Lil Alamin mengadakan operasi katarak tahap ke-10 secara gratis bagi kaum dhuafa penderita katarak akut. Bagi yang berminat silahkan datang ke Yayasan Rahmatan Lil Alamin pada:

Hari : Sabtu 15 Maret 2008.
Waktu : Pukul 8 pagi s/d Selesai
Tempat : Gedung Yayasan Rahmatan Lil Alamin (YRA) Jln Batu Merah no 71 Rt02/02
Pejaten Timur (msk Dari gg Arab Psr Minggu Raya) Telp 0217949301
Acara : Pendataan dan Pemeriksaan Mata oleh Team Dokter.

Operasi ini gratis untuk siapa saja baik Muslim, Kristen, Hindu Dll.
Dengan syarat hanya untuk kalangan tidak mampu (Dhuafa).

Mohon disebarkan informasi ini kepada kerabat atau tetangga yang membutuhkan.

Salam
Geis Chalifah
www.arrahmah.org

Israel vs Palestine

I got the following from a forum. Guys, this is how colonialism & slavery is done now : with heavy support from the mass media.

We need more investigative journalists (like Greg Palast etc). And, of course, citizen journalists - eg: bloggers.

Let us all speak out against this new oppression & injustice. Let us hear & say it : Israel is the terrorist.

Rule # 1: It is always the Arabs that attack first, and it’s always Israel that defends itself.
This is called “Retaliation” .

Rule # 2: The Arabs, whether Palestinians or Lebanese, are not allowed to kill Israelis, either soldiers or civilians. This is called “Terrorism“.

Rule # 3: Israel has the right to kill Arab civilians.
This is called “Self-Defense“. If the dead Arabs are by the hundreds, “Collateral Damage“.

Rule # 4: When Israel kills too many civilians, the Western world calls for restraint.
This is called the “Reaction of the International Community“.

Rule # 5: Palestinians and Lebanese do not have the right to capture Israeli military, not even a limited number, not even 1.
This is called “Kidnapping” .

Rule # 6: Israel has the right to capture as many Palestinians as they want. (Palestinians: around 10000 to date, 300 of which are children; Lebanese: 1000 to date, being held without trial.) There is no limit; there is no need for proof of guilt or trial.
This is called “War on Terrorism“.

Rule # 7: When you say “Hezbollah”, always be sure to add “supported by Syria and Iran”.
This is called “Axis of Evil“.

Rule # 8: When you say “Israel “, never say “supported by the USA, the UK and other European countries”, for people (God forbid) might believe this is not an equal conflict.
This is called “Helping our Friends“.

Rule # 9: When it comes to Israel, don’t mention the words “occupied territories”, “UN resolutions” or “Geneva conventions”.
This could distress the audience and is called “Anti-Semitism“.

Rule # 10: Israelis speak better English than Arabs. This is why you let them speak out as much as possible, so that they can explain Rules 1 through 9.
This is called “Fair and Balanced“.

Kapolda Jabar: Polisi yang korup sama saja dengan melacurkan diri

My man :) ™ Denzel Washinton @ American gangster

Mudah-mudahan Kapolda Jabar yang baru ini bisa sukses. Mari kita dukung !

Beberapa kutipan :

Kalau ingin kaya jangan jadi polisi, tetapi pengusaha

yang paling berkesan selama ini karena bisa menjebloskan menteri, mantan menteri, dan direktur BUMN, yang memakan uang rakyat. Ada kepuasan batin.

Kalau aparatnya korupsi, tamatlah republik ini.

Kita tidak perlu malu dan takut nama kita jatuh kalau bersih-bersih dari korupsi di dalam. … Kalau perlu, tulis gede-gede itu di koran.

Mengusut kasus korupsi itu jauh lebih mudah ketimbang mengusut kasus pencurian jemuran (!)

Artikel selengkapnya :

Kapolda Jabar Irjen Pol. Susno Duadji,
“Jangan Pernah setori Saya”

Pikiran Rakyat, Edisi 10 Februari 2008

RABU (30/1) lalu, Kapolda Jabar Irjen Pol. Drs. Susno Duadji, S.H., M.Sc., mengumpulkan seluruh perwira di Satuan Lalu Lintas mulai tingkat polres hingga polda. Para perwira Satlantas itu datang ke Mapolda Jabar sejak pagi karena diperintahkan demikian. Pertemuan itu baru dimulai pukul 16.00 WIB.
Dalam rapat itu, kapolda hanya berbicara tidak lebih dari 10 menit. Meski dilontarkan dengan santai, tetapi isi perintahnya “galak” dan “menyentak”. Saking “galaknya”, anggota Satlantas harus ditanya dua kali tentang kesiapan mereka menjalani perintah tersebut.

Isi perintah itu ialah tidak ada lagi pungli di Satlantas, baik di lapangan (tilang) maupun di kantor (pelayanan SIM, STNK, BPKB, dan lainnya). “Tidak perlu ada lagi setoran-setoran. Tidak perlu ingin kaya. Dari gaji sudah cukup. Kalau ingin kaya jangan jadi polisi, tetapi pengusaha. Ingat, kita ini pelayan masyarakat. Bukan sebaliknya, malah ingin dilayani,” tutur pria kelahiran Pagaralam, Sumatera Selatan itu.

Pada akhir acara, seluruh perwira Satlantas yang hadir, mulai dari pangkat AKP hingga Kombespol, diminta menandatangani pakta kesepakatan bersama. Isi kesepakatan itu pada intinya ialah meningkatkan pelayanan kepada masyarakat yang tepat waktu, tepat mutu, dan tepat biaya.
Susno memberi waktu tujuh hari bagi anggotanya untuk berbenah, menyiapkan, dan membersihkan diri dari pungli. “Kalau minggu depan masih ada yang nakal, saatnya main copot-copotan jabatan,” kata suami dari Ny. Herawati itu.

Pernyataan Susno itu menyiratkan, selama ini ada praktik pungli di lingkungan kepolisian. Hasil pungli, secara terorganisasi, mengalir ke pimpinan teratas. Genderang perang melawan pungli yang ditabuh Susno tidak lepas dari perjalanan hidupnya sejak lahir hingga menjabat Wakil Kepala PPATK (Pusat Pelaporan Analisis dan Transaksi Keuangan). PPATK adalah sebuah lembaga yang bekerja sama dengan KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi) menggiring para koruptor ke jeruji besi.
Berikut petikan wawancara wartawan “PR” Satrya Graha dan Dedy Suhaeri dengan pria yang telah berkeliling ke-90 negara lebih untuk belajar menguak korupsi.

Apa yang membuat Anda begitu antusias memberantas pungli atau korupsi?

Saya anak ke-2 dari 8 bersaudara. Ayah saya, Pak Duadji, bekerja sebagai seorang supir. Ibu saya, Siti Amah pedagang kecil-kecilan. Terbayang ‘kan betapa sulitnya membiayai 8 anak dengan penghasilan yang pas-pasan. Oleh karena itu, saat lulus SMA saya memilih ke Akpol karena gratis.

Nah, waktu sekolah, kira-kira SMP, saya punya banyak teman. Beberapa di antaranya dari kalangan orang kaya, seperti anak pejabat. Sepertinya, enak sekali mereka ya, bisa beli ini-itu dari uang rakyat. Sejak itulah, terpatri di benak saya, ada yang tidak benar di negara ini dengan kemakmuran yang dimiliki oleh para pejabat. Maka, saya sangat bersyukur bisa berperan memberantas korupsi saat mengabdi di PPATK. Itulah tugas saya yang paling berkesan selama ini karena bisa menjebloskan menteri, mantan menteri, dan direktur BUMN, yang memakan uang rakyat. Ada kepuasan batin.

Pengalaman di PPATK itukah yang membuat Anda menabuh genderang perang melawan pungli saat masuk ke Polda Jabar?

Seperti itulah. Akan tetapi, harusnya diubah, bukan pungli. Kalau pungli, terkesan perbuatan itu ketercelaannya kecil. Yang benar adalah korupsi. Pungli adalah korupsi. Mengapa korupsi yang saya usung? Karena sejak zaman Majapahit dulu, korupsi itu salah. Apalagi, jika aparat hukum yang korup. Bagaimana kita, sebagai aparat hukum, bisa memberantas korupsi kalau kitanya sendiri korupsi.

Oleh karena itu, sebagai tahap awal, saya “bersihkan” dulu di dalam, baru membersihkan yang di luar. Bagaimana saya mau menangkap bupati, direktur, dan lain-lain kalau di dalamnya belum bersih dari korupsi. Kalau aparatnya korupsi, tamatlah republik ini.

Tahap awalnya biasa saja. Umumkan, lalu periksa ke atasan tertingginya, yaitu saya, selanjutnya keluarga saya. Setelah itu pejabat-pejabat di Polda. Baru kemudian ke kapolwil, kapolres, dan seterusnya.

Kenapa harus dimulai dari saya. Karena saya pimpinan tertinggi di Polda Jabar ini. Ingat, memberantas korupsi bukan dimulai dari polisi yang bertugas di jalan raya. Kalau di pemerintah, bukan dari tukang ketik, atau petugas kecamatan yang melayani pembuatan akte kelahiran. Akan tetapi, dimulai dari pimpinan tertinggi di kantor itu.

Artinya, saya sebagai pimpinan jangan korupsi. Bentuknya macam-macam, seperti mendapat setoran dari bawahan, setoran dari pengusaha-pengusaha, mengambil jatah bensin bawahan, atau mengambil anggaran anggota saya. Oleh karena itu, saya tidak akan minta duit dari dirlantas, direskrim, atau kapolwil. Tidak juga mengambil anggaran mereka, atau uang bensin mereka.

Jadi, kalau di provinsi, misalnya, ada korupsi, yang salah bukan karyawannya, tetapi gubernurnya. Memberantasnya bagaimana? Mudah saja. Tinggal copot saja orang tertinggi di instansi itu.

Untuk program “bersih-bersih” itu, kira-kira Anda punya target sampai kapan?

Secepatnya. Ya, dua-tiga bulan. Kalau tidak segera, bagaimana kita menunjukkan kinerja kepada rakyat. Kita tidak perlu malu dan takut nama kita jatuh kalau bersih-bersih dari korupsi di dalam. Kita tidak akan jatuh merek dengan menangkap seorang kolonel polisi atau polisi berbintang yang korupsi. Kalau perlu, tulis gede-gede itu di koran.

Dan, anggota saya yang ketahuan korupsi, akan saya pecat. Jika memang saya harus kehabisan anggota saya di Polda Jabar karena semuanya saya pecat gara-gara korupsi, kenapa tidak. Apa yang harus ditakutkan.

Saya yakin, rakyat pasti senang kalau polisi bebas dari korupsi. Polisi itu bukan milik saya, tetapi milik rakyat. Saya justru merasa lebih tidak terhormat kalau memimpin kesatuan yang anggotanya banyak korupsi.

Berbicara soal penanganan kasus korupsi. Betulkah mengusut kasus korupsi bagaikan mengurai benang kusut. Pasalnya, para penyidik tipikor Polda Jabar mengaku kesulitan mengungkap kasus korupsi dengan alasan perlu kajian yang mendalam atas bukti-bukti sehingga memakan waktu lama?

Hahaha…. (Susno tertawa lepas). Mengusut kasus korupsi itu jauh lebih mudah ketimbang mengusut kasus pencurian jemuran. Mengungkap kasus pencurian jemuran perlu polisi yang pintar karena banyak kemungkinan pelakunya, seperti orang yang iseng, orang yang lewat, dan beberapa kemungkinan lainnya.

Kalau kasus korupsi, tidak perlu polisi yang pintar-pintar amat. Misal, uang anggaran sebuah dinas ada yang tidak sesuai. Tinggal dicari ke mana uangnya lari. Orang-orang yang terlibat juga mudah ditebak. Korupsi itu paling melibatkan bosnya, bagian keuangan, kepala projek, dan rekanan. Itu saja. Jadi, kata siapa sulit? Sulit dari mananya. Tidak ada yang sulit dalam memberantas korupsi. Kuncinya hanya satu, kemauan yang kuat. Harus diakui, itu (memberantas korupsi) memang susah karena korupsi itu nikmat. Apalagi, saat memegang sebuah jabatan.

Contohnya saja posisi kapolda. Siapa sih yang tidak mau jadi kapolda. Ibaratnya, tinggal batuk, apa yang kita inginkan langsung datang. Pertanyaannya, mau atau tidak terjerumus di dalamnya (korupsi). Kalau saya, jelas tidak. Itu hanya kenikmatan duniawi sesaat saja. Untuk apa sih duit banyak-banyak hingga tidak habis tujuh turunan. Gaji saya saja sekarang sudah besar. Mobil dikasih. Bensin gratis. Ada uang tunjangan ini-itu. Sudah lebih dari cukup. Anak-anak saya juga sudah kerja semua. Bahkan, gajinya lebih besar dari saya.

Lalu, langkah apa yang akan Anda buat agar Polda Jabar giat mengungkap kasus korupsi?

Seperti saya katakan tadi, bersih-bersih dulu di dalam. Jika sudah bersih di dalam, baru membersihkan di luar. Dan kasus korupsi akan menjadi salah satu target kami. Kami akan genjot pengungkapan kasus korupsi biar Jabar bergetar.

Untuk itu, kami akan berkoordinasi dengan PPATK untuk mengusut kasus-kasus korupsi di Jabar yang melibatkan pejabat publik. PPATK pasti mau membantu asalkan anggota saya bersih dan bisa dipercaya. Kita juga bisa diberi kasus-kasus. Kalau tidak bersih dan tetap “bermain” bagaimana bisa dipercaya. Kalau orang sudah percaya sama kita, maka banyak kasus yang masuk.

Akan tetapi, bukan karena basic saya di korupsi sehingga korupsi digenjot. Kasus lainnya juga dikerjakan. Dan, untuk itu harus tertib administrasi, salah satunya dengan membuat sistem pelaporan perkara berbasis IT yang terintegrasi dari polsek hingga ke polda. Untuk apa? Agar kita tahu setiap ada perkara yang masuk.

Jadi, alangkah bodohnya seorang kapolda jika tidak mengetahui jumlah perkara di jajarannya. Kalau jumlahnya saja tidak tahu, bagaimana tahu isi perkaranya. Dalam sistem pelaporan perkara tersebut, nantinya ada klasifikasi perkara. Perkara mana yang porsinya polda, polwil, polres, dan polsek. Untuk polda, misalnya kasus teror dan korupsi. Soal lapor boleh di mana saja.

Kita juga harus mempertanggungjawabkan hal itu ke pelapor dengan mengirim surat kepada pelapor bahwa kasusnya ditangani oleh penyidik ini, ini, dan ini. Kemajuannya dilaporkan secara berkala. Ini akan menjadi standar penilaian untuk penyidik. Dan kapolda mengetahui semua ini karena sistemnya ada sehingga tidak pabaliut. Saya paling tidak suka yang pabaliut-pabaliut. Mungkin, bagi sebagian orang, pabaliut itu enak karena sesuatu yang tidak tertib administrasi itu paling enak untuk diselewengkan. Benar tidak?

Langkah Anda memberantas pungli dan korupsi di tubuh Polda Jabar kemungkinan akan memberi efek pada pengungkapan kasus dengan alasan anggaran yang minim. Menurut Anda?

Kalau kita pandang minim, pasti minim terus. Kapan cukupnya. Kalau anggaran sudah habis, jangan dipaksakan memeras orang untuk menyidik. Mencari klien yang kehilangan barang di sini, memeras di tempat lain. Siapa yang suruh? Bilang saja sama rakyat, anggaran kita sudah habis untuk menyidik. Kita tidak perlu sok pahlawan.

Perilaku memeras atau menerima setoran itu zaman jahiliah. Tidak perlu ada lagi anggota setor ke kasat lantas atau kasat serse, lalu kasat serse setor ke kapolres, dan kapolres setor ke kapolwil untuk melayani kapolda. Jangan pernah setori saya. Lingkaran setan itu saya putus agar tidak ada lagi sistem setoran.

Bukan zamannya lagi seorang kapolsek, kapolres atau kapolwil bangga karena mampu membangun kantornya dengan megah. Dari mana duitnya kalau bukan dari setoran orang-orang yang takut ditangkap, seperti pengusaha judi, dan penyelundupan. Tidak mungkin dari gaji, wong gajinya hanya Rp 5-6 juta.

Menurut saya, anggota yang melakukan itu hanya satu alasannya, ingin kaya. Kalau ingin kaya, jangan jadi polisi, tetapi jadilah pengusaha.

Sikap Anda tersebut kemungkinan memunculkan pro dan kontra di lingkungan kepolisian?

Lho, kenapa harus jadi pro dan kontra. Peraturannya sudah jelas mana yang boleh dilakukan dan mana yang tidak boleh. Korupsi jelas-jelas dilarang dan ancamannya bisa dipecat. Jadi, tidak perlu diperdebatkan. Titik.

Bagi saya, siapa yang menjadi pemimpin harus mau mengorbankan kenikmatan dan kepuasan semu. Nikmat dengan pelayanan, dengan sanjungan, serta nikmat dengan pujian palsu. Malu dong bintang dua jalan petantang-petenteng, tetapi anak buah yang dipimpinnya korupsi dan memberikan pelayanan tidak sesuai dengan standar. Malu juga dong kita lewat seenaknya pakai nguing-nguing (pengawalan), sementara rakyat macet. Itu juga korupsi.

Polisi yang korup sama saja dengan melacurkan diri. Jadi, kalau saya korup dengan menerima setoran-setoran tidak jelas, apa bedanya saya dengan pelacur. ***

Pindah ibukota ?

Istana Merdeka Kebanjiran, Daan Mogot banjir 100 cm, Tengah Malam, Jalanan Masih Macet Total — belum lagi berbagai masalah lainnya; overpopulation, transportasi publik, potensi bencana alam, dst. Apakah sebaiknya ibukota Indonesia dipindahkan ke tempat lain ?

Mungkin di Kalimantan bisa dipertimbangkan. Pertama, secara geografis cukup stabil (berbeda dengan Sumatera & Jawa). Kedua, tidak ada gunung berapi yang aktif. Ketiga, lokasi cukup strategis (tengah), mudah-mudahan dengan demikian bisa mendorong juga perkembangan daerah timur (yang selama ini agak kurang terperhatikan). Keempat, dengan memulai baru, maka mudah-mudahan segala kekeliruan di Jakarta (yang sudah susah untuk diperbaiki lagi) selama ini bisa dihindari.

Lokasinya mungkin di sekitar Pontianak ? Tidak di pantainya, untuk menghindari resiko tsunami. Namun juga tidak terlalu jauh, agar tidak juga menyulitkan transportasi melalui laut.

Bagaimana menurut Anda ?

Undangan Diskusi - Wartawan vs Perusahaan

Informasi dari Satrio Arismunandar, terlampir. Sangat menarik, terutama ketika telah makin banyak kasus dimana kebebasan pers terpeleset menjadi kebablasan pers, dan media massa makin disetir oleh kepentingan pemiliknya.

Solidaritas Wartawan Bandung
FDWB, IJTI Jabar, PWI Jabar, AJIB
=================================
Bandung, 26 Januari 2008

Nomor: 004/SWB/Jan/ 2008

Hal : Undangan Diskusi

Kepada Yth.
Teman-teman Jurnalis/NGO/ buruh
Di tempat

Salam hormat,

Sejak wartawan dijadikan pekerja di sebuah perusahaan media, muncul dilema yang berkaitan dengan prioritas tanggung jawab: apakah tanggung jawab utama wartawan masih kepada publik, atau kepada perusahaan tempatnya bekerja?

Tarik menarik kepentingan antara tanggung jawab profesi wartawan dengan kepentingan perusahaan, seringkali berujung pada pemecatan atau bahkan penutupan bagian redaksi, ketika perusahaan berpikir wartawan/redaksi merugikan kepentingannya. Ketika hal itu terjadi, setidaknya ada dua pihak yang dirugikan.
Pertama, wartawan atau staff redaksi itu sendiri, karena pemecatan itu mengakibatkan hilangnya penghasilan.
Kedua, publik, karena dengan pemecatan itu, informasi publik yang dimiliki oleh wartawan/redaksi di perusahaan yang bersangkutan tidak bisa disampaikan sebagaimana biasanya.

Kami mengajak rekan-rekan untuk bertukar pikiran dalam sebuah diskusi:

Tema : Nasib Wartawan: Tanggung Jawab Sosial vs Tanggung Jawab kepada Perusahaan
Hari/tgl : 2 Februari 2008
Waktu : 10.00 – 12.00 WIB
Tempat : Gedung Indonesia Menggugat (Landraat) Jl. Perintis Kemerdekaan Bdg

Pembicara :
1. M. Ridlo Eisy (Dirut Galamedia)
2. Santi Indra Astuti (Akademisi Penyiaran)
3. Resmi Setia Milawati (Peneliti Perburuhan)

Acara ini terbuka untuk siapa saja yang peduli dengan haknya untuk memperoleh akses yang terbuka terhadap media serta hak untuk memperoleh informasi yang bebas.

Salam hormat,

Zaky Yamani
Koordinator Acara
022 7000 5621

Cerita dari Neraka

Intermezzo, ini ada kiriman dari kawan saya di milis internal ISNET. Selamat menikmati :)
.


.

Cerita dari Neraka

Seorang warga Indonesia meninggal dan karena amal perbuatannya buruk lalu ia dikirim menuju ke neraka. Di sana ia mendapatkan bahwa ternyata neraka itu berbeda-beda bagi tiap negara asal.

Pertama ia ke neraka orang-orang Inggris dan bertanya kpd orang-orang Inggris di situ: “Kalian diapain di sini?”

Orang Inggris menjawab: “Pertama-tama, kita didudukan di atas kursi listrik selama satu jam. Lalu didudukan di atas kursi paku selama satu jam lagi. Lalu disiram dengan bensin dan disulut api. Lalu, setan Inggris muncul dan memecut kita sepanjang sisa hari.”

Karena kedengarannya tidak menyenangkan, si orang Indonesia menuju keneraka lain. Ia coba melihat-lihat bagaimana keadaan di neraka AS, neraka Jepang, neraka Rusia dan banyak lagi.
Ia mendapatkan bahwa kesemua neraka-neraka itu kurang lebih mirip dengan neraka orang Inggris.

Akhirnya ia tiba di neraka orang Indonesia sendiri, dan melihat antrian sangat-sangat panjang yang terdiri dari orang berbagai-bagai negara (tidak cuma orang Indonesia saja) yang menunggu giliran untuk masuk neraka
Indonesia.

Dengan tercengang ia bertanya kepada yang ngantri: “Apa yang akan dilakukan di sini?” Ia memperoleh jawaban: “Pertama-tama, kita didudukan diatas kursi listrik selama satu jam. Lalu didudukan di atas kursi paku selama satu jam lagi. Lalu disiram dengan bensin dan disulut api. Lalu setan Indonesia muncul dan memecut kita sepanjang hari.”

“Tapi itu kan sama persis dengan neraka-neraka yang lain toh. Lalu kenapa dong begitu banyak orang ngantri untuk masuk ke sini?”

“Di sini service-nya sangat-sangat buruk, kursi listriknya nggak nyala, karena listrik sering mati…kursi pakunya nggak ada, tinggal pakunya aja karena kursinya sering diperebutkan. ..bensinnya juga nggak ada tuh, karena harganya melambung tinggi, malah di tahun 2008 katanya mau naik lagi dan setannya adalah mantan anggota DPR, jadi ia cuma datang, tanda tangan absensi, lalu pulang.”

*gdubrak*

Ngadino, Pembersih Jamban yang Mampu Pergi Haji

Saya telah ditampar, secara virtual, pada hari ini. Setelah membaca berita yang terlampir dibawah. Menentang semua logika & perkiraan, seorang pegawai negeri bagian kebersihan bisa pergi berangkat menunaikan ibadah haji.
Walaupun saya sudah naik haji, namun istri saya belum. Jadi masih ada “hutang” juga sebetulnya.

Mudah-mudahan saya bisa meniru teladan Pak Ngadiono ini dengan baik. Amin.

Republika - Kamis, 22 Nopember 2007
Ngadino, Pembersih Jamban yang Mampu Pergi Haji

Pekanbaru-RoL–Ngadiono (47) hanyalah seorang penjaga sekolah dasar yang menyambil sebagai pembersih jamban di sebuah pasar tradisional di Ujungbatu Kabupaten Rokan Hulu (Rohul), Riau. Tapi siapa yang menyangka petugas kebersihan ini mampu pergi haji? Sebab gaji sebagai penjaga sekolah dan upah membersihkan kakus tidaklah seberapa.

“Dia mampu karena niat dan keinginannya yang kuat,” ujar Kepala Dinas Pendidikan Rokan Hulu Hj Efie di Ujungbatu seperti dilaporkan Antara, Kamis. Saat melepas jamaah calon haji (JCH) di lingkungan Dinas Pendidikan Rokan Hulu, Efie tidak mampu membendung air matanya, ikut menangis bersama Ngadiono, ayah tiga anak itu. Ngadiono akan berangkat ke embarkasi Batam melalui lapangan udara Pasir Pengaraiyan pada 25 November bersama 346 JCH asal Rohul.

Warga transmigran yang gigih itu merupakan pegawai negeri sipil golongan 1C sebagai penjaga SDN 002 Kecamatan Ujungbatu sejak 1993. Gaji yang kecil dan tidak cukup untuk menghidupi keluarganya tidak mematahkan semangatnya untuk pergi ke Tanah Suci Mekkah untuk menunaikan ibadah haji, keinginan yang telah lama tertera di hatinya.

“Saban siang, sepulang dari sekolah saya membersihkan jamban di Pasar Ujungbatu. Bertahun-tahun pekerjaan ini saya jalani dan uangnya saya kumpulkan untuk haji. Insya Allah lusa saya berangkat,” katanya dengan mata berkaca-kaca. (pur)

Bridge Blogging

This past several weeks I’ve been put under so much work, I’ve been unable to post a blog article. Thank God I usually have a few posts set on drafts, so the posts will still show up for a while in this blog. So you thought I blogged routinely? Ha ! :) oops…

Anyway, just now I realized I’ve missed a very interesting topic - bridge blogging. Yay, now everyone knows that I didn’t blog routinely :D

Back to the topic, I agree with Unspun that he’s not the first to propose the idea. Personally I was told about it by Budi Putra, and according to Unspun it’s already proposed by Fatih Syuhud before that.
And since the first time I’m in fully agreement with the idea.

Why is it a good idea ? Because blogging in other language (in this case, English) can be really useful & helpful to others. It helps one to widen his/her perspective.

Two excellent examples :
[ The beautiful Iran ] : Most wouldn’t know Iran as potrayed here - btw, we’re talking about photoblogging here (ok, ok, so I’m really stretching even that term, but hopefully you got the point :) )
[ The Real Myanmar ] : Truth-spreading blog (no, it’s not a happy one)

Also from personal experience - at the time of 9/11, we (muslims) have been subjected to ridicule because we have not spoken against the terrorists.
Well guess what, we DID. But at the time, the media chose not to air it - effectively silencing us; thus creating the impression of approval of terrorism from us. We suffered a lot, up to personal level : my wife even got harassed.
So then I made a vow to try spread any useful information & knowledge as much as possible. Blog has made it easy for us to share our thoughts, and Google has made it possible for others to easily find it.

I think most of you by now will agree that bridge blogging is indeed a good, and important, idea.

So what’s left is the problem of its execution - how should we do it ?

Personally I say : up to you !
Say whatever you want to say (except, of course, things that breaks the law: stealing others contents, libel, harassment, etc). In whatever language, English or Indonesian.
Positive or negative, blog them all. The single most important criteria is : try to post (even what may seem remotely) useful things.
(of course it’s still okay to post other stuff than that, but at the moment we’re talking about an idea which goal is to benefit others)

Anyway - however, for maximum reach, do try to blog in English too sometimes. I’ve had contacts with people from all over the Earth because of this; Middle East, USA, Morocco, France, Italy, and so on.
They’ve been able to benefit from me because of my English blog posts / articles.

That’s just too cool.
Without Internet/Google/Blog, we’ll be busy with just ourselves under our own rock (hi Patrick!)

Also people have been very surprised when I told them how it is in Indonesia. The fact that I don’t have to live underground. From what they’ve seen in news, they thought it’s riots & disasters & misery all over the place.
Well, sorry, but no :) It’s mostly very peaceful here, as my recent holiday to the corners of beautiful West Sumatera proved. I was very much recharged from it.

I just found that nadia febina share similar sentiment. Yes guys, Indonesia looked **really** bad from the outside.
When you’re out there, indeed you’ll know (and personally experience) too about what (the heck) is it that I’m talking about.

About blog politics : I could NOT care less :D

I’m blogging to share (whatever that can be shared), not to play some games. As the result, I’ve been targeted quite several times, especially in the open source topic (so far I’ve had to disable 2 blog posts to avoid collateral damage).
People are angry with me and calling me (really) bad names. Some call me naive. In return, I’m calling people to blog.
I don’t care if you’re from this community or that community (high five with treespotter) - just blog the truth. We are bound to the same universe anyway (so yes, I’m calling you too, my Martian & Plutonian friends).
So there :)

I’d like to offer my opinion on 2 things while we’re on the subject. First, if I’m Unspun, I’d rather not use the word “most” in the sentence most of them are droll, since, if you haven’t done a proper research, it’d be way too close to generalization. “Some” would be much more closer to truth.
Still I’m very thankful to him for bringing us the term “bridge blogging”. It’ll make further conversations on the topic with fellow bloggers easier for me :)

Second; I feel really sorry to what happened to Jennie. It seems like she’s been in quite some hardship, she found it hard to talk about Indonesia positively.
No worries there Jennie, do speak out about it, and be happy knowing that you’ve contributed in creating the big picture !

I’d like also to comment on her comment here :

I was able to see how “parochial” Indonesian bloggers are based on that incident. Why can’t they just show one small sympathy?

Well, similar thing has happened before in the past. Curious what fellow Indonesians have to say to the accusation, I asked several of them.
To my surprise, some of the responses are rather amusing - they thought America is the land of the rich, and therefore very much able to help themselves in case of disasters like this.

Guess how surprised they were when I told them how bad it’s over there - unemployement, 50% spending budget allocated for military, there are hungry & poor people, how they’ve been screwed so bad by their own government (Bush has cancelled the children’s health safety net, and the latest he tried to cancel the budget for critical water projects. Even after Katrina, can you believe that? Cruel, indeed he is)

So Jennie, it’s down to our naivety. Hopefully you (and others) can forgive it.

Back (again) to the topic - I strongly believed that knowledge wants to be free, and still do.
Blog has enabled us to do so easily. Let’s make full use of it !

Let us build the bridges to better understanding.

FYI - others posts on the topic :
[ Unspun ] - [ 2 ]
[ Jakartass ]
[ Jennie S Bev ]
[ Marisa Duma ]
[ augustmist ]

ISNET, Starbucks, dan Kekuatan Brand

Tadi malam saya meeting dengan beberapa kawan-kawan ISNET seputar revitalisasi organisasi yang termasuk paling senior di Internet ini (ISNET sudah exist di Internet sejak tahun 1989). Kami berkumpul di The Financial Club (Graha Niaga), setelah pak Budi Rahardjo selesai memberikan presentasi di acara BoykeMinarno.com.

Ada beberapa kawan-kawan ISNET lainnya seperti pak Laurel, mas Pungkas, mas Sindhu, dan mas Deden. Diskusi berlangsung cukup panjang, dan kami cukup sepakat bahwa pondasi Isnet ada pada infrastruktur IT nya, jadi ini yang musti dibenahi terlebih dahulu. Berikut juga perlu dibuat proposal untuk sustainability & pengembangannya di masa depan. Kemudian saya kebagian tugas untuk memformulasikan draft proposal tersebut, untuk kemudian dikirim ke para hadirin meeting & di matangkan lebih lanjut.
Acara berlangsung sampai sekitar pukul 23:30, sebelum kemudian kami pamit ke rumah masing-masing.

Sekitar pukul 01:00 saya iseng-iseng membuka Planet Terasi, lha ternyata pak Budi sudah nge-blog duluan soal pertemuan tersebut :) bapak yang satu ini memang luar biasa semangat bloggingnya. Salut !

Saya tidur sekitar pukul 02:00, bangun sekitar pukul 04:00, lalu setelah selesai berbenah kemudian berangkat ke lokasi client di Cikini. Meetingnya pukul 10:00, tapi saya sengaja berangkat lebih awal, supaya bisa bekerja dulu di lokasi; di parkir mobil dengan memanfaatkan adaptor universal yang ditancapkan ke colokan pemantik rokok di mobil.
Di perjalanan saya baru sadar, lho kok adaptornya tidak ada di mobil ? Ternyata, adaptor tersebut ditaruh di rumah oleh istri. Maka kemudian saya membelokkan arah mobil ke Starbucks (summoning spell : Koen.co.ro) 24 jam di Sarinah, dan mulai membuka laptop saya disitu.

Saya jadi teringat pertanyaan retorik pak Laurel pada pertemuan Isnet tadi malam.
Kok Starbucks bisa charge kopinya, yang made in Indonesia, seharga Rp 50.000; sedangkan warung kopi ibu beliau, yang sama-sama di Indonesia, cuma mengenakan Rp 5000 untuk beberapa orang ?

Ada beberapa faktor yang saling berkaitan dalam hal ini.

Pertama, lokasi.
Hampir bisa dipastikan bahwa semua outlet Starbucks berada di lokasi yang strategis & mudah dijangkau. Lokasi adalah salah satu faktor paling penting dalam bisnis.

Kedua, visibility.
Ketika banyak warung kopi lainnya menampilkan papan nama yang kecil & tersembunyi, Starbucks (dan brand-brand lainnya) menampilkan logonya dengan ukuran raksasa & sevulgar mungkin.
Jika kebanyakan customer anda adalah pengendara / mobile, yang akan melintas dengan kecepatan sekitar 10 meter per detik, hanya ada waktu sepersekian detik bagi ybs untuk melihat papan nama usaha Anda. Make that count.
The big brands ini selalu berani menginvestasikan banyak uang agar menjadi visible, dengan hasil yang juga sudah bisa kita tebak.
Brand yang visible juga jadi memperbesar kemungkinan mereka untuk diingat customer ketika customer sedang memikirkan layanan yang mereka butuhkan tsb.

Dari 2 ini saja, seringkali sudah cukup untuk menjamin kesuksesan bisnis.
Sebagai contoh, saya pribadi lebih senang makan klenger / blenger burger daripada McDonald / KFC / dll. Burger McDonald terus terang tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan blenger burger.
Namun, karena mereka sering bermasalah pada 2 poin di atas, sehingga akhirnya seringkali lagi-lagi kami sekeluarga nyangkut lagi di big brands tsb.

Tapi, big brands tidak berhenti disitu saja. Ada segudang lagi trik di kantung mereka.

Seperti uniformity. Jika seseorang menyebutkan / saya memikirkan brand Starbucks, maka saya tahu bahwa saya akan menemukan :

1. Lokasi yang nyaman & representatif untuk meeting dengan client
2. Bebas asap rokok
3. Staf yang ramah
4. Kopi yang mahal (ha ha)
5. Colokan listrik untuk laptop & HP saya.
6. Air conditioned
7. Dll

Kepastian pada gilirannya memberikan kenyamanan. Bahkan kalaupun produk yang ditawarkan sebenarnya inferior dari kompetitornya - karena kita sudah tahu akan menemukan produk yang inferior tersebut, maka jadinya sudah menurunkan ekspektasi kita sendiri sebelum tiba di lokasi ;)

Jadi, kapan kiranya saya bisa mulai meeting di salah satu franchise Setarbak Kopi, dan tidak lagi di Starbucks ?
Hayo, jangan mau kalah dengan para big brands ini. Mari …

Menghidupkan lampu sepeda motor di siang hari

Pada suasana Lebaran kemarin ini tentunya kami sekeluarga berkunjung ke rumah para sanak keluarga kami. Silaturahmi & berbincang-bincang mengenai berbagai hal. Salah satu topik menarik yang muncul adalah tentang keharusan menghidupkan lampu sepeda motor di siang hari.
Salah satu paman saya merasa heran dengan peraturan tersebut. Terasa aneh, lha wong sejak dulu tidak pernah ada peraturan seperti itu.

Saya juga tidak tahu persis alasannya (peraturan tersebut kurang disosialisasikan?), namun tebakan saya, adalah agar sepeda motor jadi lebih “visible” / terlihat. Sehingga kemudian bisa dihindari kecelakaan yang akan terjadi jika pengendara lainnya tidak melihat sepeda motor tersebut.

Blindspot adalah masalah nyata & serius bagi setiap pengendara. Saya sudah pernah beberapa kali dikejutkan oleh (bahkan) mobil yang tiba-tiba sudah muncul di depan saya, tidak nampak karena mobil tersebut sebelumnya berada di blindspot saya.

Mobil saja bisa tidak nampak pada blindspot kita. Apalagi motor, yang ukurannya jelas lebih kecil, dan manuvernya lebih lincah daripada mobil.

Walaupun kita berusaha mempraktekkan defensive driving, dan telah terlatih pada topik hazard perception; namun jelas amat sangat sulit untuk mengantisipasi sesuatu yang tidak terlihat.

Dan jika terjadi kecelakaan antara sepeda motor dengan kendaraan yang lebih besar, hampir bisa dipastikan bahwa pengendara sepeda motor yang akan mengalami kerugian lebih besar.
Cederanya akan lebih parah, atau malah fatal.

Saya sudah mengalami sendiri (sebagai penumpang sepeda motor), dimana insiden tersebut nyaris berakibat cedera yang parah (karena saya mendarat pada bebatuan yang tajam).
Alhamdulillah, takdir belum menentukan demikian, dan daging kaki saya selamat berkat “armor” / casing handphone saya.

Jadi, hidupkanlah lampu sepeda motor Anda. Demi keselamatan Anda sendiri, dan juga penumpang (yang mungkin adalah keluarga yang Anda sayangi).

Do What You Must, Not What You Want

Di antara sifat-sifat berbagai orang sukses, salah satu sifat umum yang saya temukan pada mereka adalah bahwa mereka mengerjakan yang harus dikerjakan - bukan yang mau mereka kerjakan.
Seperti tertulis pada judul posting ini.

Contoh; jika kita sedang memulai membangun usaha kita, dan customer masih terus berdatangan setelah jam tutup toko. Apa yang akan kita lakukan ?

Kebanyakan orang akan tetap menutup tokonya seperti biasa.

Tapi kalau kita lihat berbagai contoh; seperti di Jepang, mereka akan menunggu para customer selesai berbelanja dulu semuanya. Baru kemudian mereka menutup tokonya.

Ini juga sudah disinggung oleh Avianto pada postingnya, budaya melayani. Disitu disinggung bagaimana kita masih jarang yang memiliki budaya tersebut. Padahal sudah jelas ini perlu & penting, terutama kalau kita melihat indikator seperti bagaimana untuk pertama kalinya dalam sejarah dunia, produk pertanian kini dikalahkan oleh produk layanan.

Salah satu kebiasaan kita adalah mengerjakan yang kita mau; bukan yang seharusnya kita kerjakan.
Customer membutuhkan LDAP, tapi kita malah asyik oprek-oprek webserver / hal yang tidak berkaitan lainnya. Client meminta kita mengerjakan XXX, tapi kita malah mengerjakan ZZZ.
Walaupun mungkin kita lebih pintar daripada customer, tapi ini bukan cara yang benar.

Ini kalau kita spesifik bicara soal customer service / budaya melayani. Dalam kehidupan sehari-hari, prinsip ini juga tetap relevan.

Sebagai contoh; Anda adalah seorang staff bagian IT. Agar dapat maju dalam bidang ini, yang harus Anda lakukan adalah bekerja lembur tanpa gaji, memanfaatkan akses internet unlimited di kantor untuk mengembangkan wawasan Anda di bidang ini.

Nah, kalau sudah jelas demikian, namun kemudian Anda malah melakukan apa yang Anda mau, seperti bekerja sesuai jam kantor saja; maka tentu saja akan sulit bagi Anda untuk menjadi sukses.

Jadi, mari kita berhenti menjadi orang yang manja. Jadilah orang yang kuat.
Kalahkan kemauan kita, dan mulailah mengerjakan yang memang seharusnya kita kerjakan.

Semoga sukses.

Dicari : Muhammad Ikhlas Santoso

Saya mendapat email berikut dari kawan keluarga kami, mbak Santi. Beliau sedang mendapat musibah, yaitu kakaknya hilang sejak beberapa waktu yang lalu.

Ciri-ciri :
Tinggi 170-an cm, berat sekitar 75 kg, suka melamun, rambut pendek tipis, gigi depan atas ompong, jari tangan kanan eksim, waktu pergi mengenakan kemeja biru dan celana warna gelap, suka tidur dan mandi di masjid/mushalla

Silahkan disebarkan seluas-luasnya.
Terimakasih.

====

Mas Tus

From: Santi Soekanto
Subject: Tolong bantu sebarkan

Ya Allah, Pemilik Ramadan mulia ini
Ya Allah, Penjaga Terbaik dan Penyayang Terbaik dari segala yang penyayang,
Ya Allah, Yang Mahahalus dan Mahaperkasa
Ya Allah, Yang Mahamendengar Segala Doa dan Maha Perkasa
Ya Allah, Yang Berkuasa atas Segala Tentaranya di Langit dan di Bumi
Ya Allah, dengarkanlah rintihan kami yang menghiba-hiba di hadapanMu,
Ramadan datang tanpa kehadiran Mas Tus, kakak sulung kami, berada di tengah-tengah kami. Sudah dua bulan Mas Tus yang lembut, pendiam dan sakit ini meninggalkan kami adik-adiknya, serta istrinya dan dua anak perempuannya, Athina dan Annisa.
Hilang dari pandangan mata kami, namun pastilah tak raib dari pandanganMu, wahai Yang Mengetahui Segala yang Ghaib.
Sudah dua bulan ini hampir tak ada hari berlalu tanpa kami mencucurkan air mata kehilangan dan rindu sementara panas dan dingin hari serta penat tubuh dan hati kami lawan seraya menyusuri berbagai jalan, gang, masjid dan mushala untuk mencari Mas Tus.
Wahai Allah Yang Mahabesar, kami merintih dan menghiba lagi, ijinkanlah kami merebut kemenangan dan kebahagiaan Ramadan ini bersama kakak kami, Mas Tus.
Wahai Allah Yang Mahapemalu sehingga tak mau membiarkan hamba-hambaNya mengangkat kedua tangan mereka lalu menurunkannya lagi dalam doa, tanpa mengabulkan doa tersebut, kami mohon ke hadiratMu, pertemukanlah kami lagi dengan Mas Tus.
Ya Allah, kami perlindungkan kakak kami Mas Tus ke bawah kalimatMu yang Sempurna dari segala gangguan syaitan, binatang dan mata yang jahat.
Ya Allah, kami mohon, gerakkanlah hati-hati orang-orang yang baik dan shalih di mana pun untuk menolong dan melindungi Mas Tus di mana pun mereka bertemu dengannya, lalu mengantarkannya kepada kami kembali.
Wahai Allah yang Janjinya Paling Benar, kami mohonkan akhir yang baik dari ujian ini, dan kemudahan sesudah semua kesulitan.
Wahai Allah Yang Mahamelihat di titik mana persisnya Mas Tus kini berada, dan di titik mana kami berada, hanya Engkaulah yang bisa mempertemukan kedua titik ini, dan mempertemukan kami dengan kakak kami Mas Tus, mempertemukan Athina dan Annisa dengan ayah mereka. Maka pertemukanlah kami wahai Allah yang Mahamengabulkan Doa.
Amin ya Rabbal ‘alamin.

santi soekanto
0815 134 93 953

Survey : Pemilu 2009

Tadi barusan sekitar pukul 20:25 ini saya dikontak oleh staf dari Litbang Kompas. Surprise juga pada awalnya (dari mana mereka dapat nomor kantor saya ?), tapi kemudian tertarik dengan topiknya, yaitu survey tentang Pemilu 2009. Menarik !

Disclaimer : informasi yang saya tulis ini dari ingatan (bukan catatan tertulis), dan mungkin tidak persis / lengkap. NO WARRANTY WHATSOEVER :)
By the way, tidak ada disclaimer sama sekali dari penginterview saya bahwa interview tersebut tidak boleh dipublikasikan (baca: boleh dipublikasikan).

Pertama kali ybs menanyakan profil saya, yaitu sbb : Agama, Pekerjaan, Umur, Gender, Pendidikan terakhir, dst.

Now the juicy parts.

Catatan : yang ditebalkan adalah pertanyaan dari Litbang Kompas.

apa pendapat anda tentang calon presiden independen ? sangat setuju sekali.

apakah calon presiden independen akan sangat mengandalkan popularitas (instead of capability) ? ya, sayangnya ini salah satu potensi pitfall nya. Perlu ada perubahan sistem lebih lanjut agar dapat muncul calon yang capable, jujur, dan dari grass root.
Kalau tidak, bisa dipastikan bahwa masyarakat kita yang saat ini masih maniak artis / tokoh terkenal akan dengan spontan memilih orang yang tidak capable sama sekali :)

apakah calon presiden independen akan memungkinkan munculnya presiden yang bebas dari agenda partai (dan fokus ke agenda rakyat) ?
YA !!! :D Yes, yes, yes, and YESSSSSSS !!!
(keyword: memungkinkan)

apakah ada calon presiden independen yang menurut anda layak untuk maju di pemilu 2009 ? (sambil tertawa) ada sih, tapi saya yakin tidak akan terpilih (Aa Gym). Berhubung masyarakat kita masih emosional, belum rasional. Ngakunya beragama Islam, tapi egonya langsung naik begitu ketemu aplikasi agama yang tidak cocok dengan nafsunya :D

Maka kemudian staf Litbang Kompas memberikan beberapa nama untuk kemudian saya komentari layak / tidak layak (untuk menjadi calon presiden berikutnya), yaitu sbb :

calon presiden yang layak untuk pemilu 2009 ? SBY, Sri Sultan, Hasyim muzadi.

calon presiden yang TIDAK layak untuk pemilu 2009 ? Amien rais (terlalu idealis tanpa kemampuan realisasi, mudah dikerjai lawan politik, dst), hidayat nur wahid (integritas sangat bagus, tapi masih agak ragu dengan kemampuan diplomasi & berpolitik), Gus Dur (satu kali sudah lebih dari cukup), Megawati (idem!), Din Syamsuddin (sepertinya masih agak emosional & egois: contoh; kasus di bandara changi), Prabowo, Sutiyoso, Jusuf Kalla (Danger, Will Robinson!), dst

preferensi calon presiden :
umur ? duh ageism mah basbang euy, tidak peduli umur, yang penting capable (sayangnya pilihan tersebut tidak ada)
ras ? jawa / luar jawa ? (yay!) rasisme euy, saya mah tidak peduli soal beginian (sayangnya pilihan tersebut tidak ada)
gender ? yay… hehe, tidak peduli gender (sayangnya pilihan tersebut tidak ada)
pendidikan formal ? TIDAK PEDULI SAMA SEKALI :D hihihi, anak kampung tidak sekolah juga tidak apa, yang penting bisa memimpin rakyat Indonesia dengan baik (sayangnya pilihan tersebut tidak ada)

OK, saya kira pertanyaan yang paling menarik (bagi saya pribadi) adalah itu. Silahkan berbagi pendapat Anda, apa saja yang menarik pertanyaannya dan jawaban Anda ?

Ngomong-ngomong, kembali ke partai, jelas secara logika saja pasti wakil rakyat justru akan mengurusi agenda partai. Kecuali kalau ybs sudah tidak sabar ingin di recall :P

Dan kenyataan juga sudah terlalu sering membuktikan - WAKIL RAKYAT LEBIH PANTAS DISEBUT SEBAGAI WAKIL PARTAI !!!
(tuh pentungannya sampai ada 3 biji, hehehe :D)

Namun di lain pihak, perlu ada sistem yang robust **dan** masyarakat yang tercerahkan agar sistim calon independen bisa berhasil. Kalau tidak, maka kita seperti terlepas dari mulut harimau ke mulut anjing (yah, mati sih enggak, tapi tetap masih berdarah-darah juga, begitu)

OK, any comments ? (sambil pakai baju tahan api) :D

If those indon run, just shoot them

Demikian kata seorang polisi Malaysia kepada kawannya,sambil menunjuk ke istri bpk. Budiman, wisatawan Indonesia yang sedang berkunjung ke Malaysia.

Dikutip :

Saya minta untuk tetap berjalan kaki menuju Nikko Hotel, dan mereka boleh mengiringi tapi tak boleh menyentuh kami. Akhirnya kami bersepakat, namun polisi preman yang sempat hampir memukul saya sempat berkata:
if those indon run, just shoot them… katanya sambil menunjuk istri saya.
Saya cuma bisa istigfar saat itu, ini rupanya nasib orang Indonesia di negeri tetangga yang sering kita banggakan sebagai “sesama melayu”.

Namun pak Polis malah makin marah, memegangi
tangan saya, sambil bilang: Indon… dont lie to us. Saya kurung kalian…

..sambil memegangi tangan saya, tuan polis meludah kesamping, dan bilang: kalian semua sama saja…

Apa salah kita sehingga diperlakukan lebih rendah dari binatang seperti ini ?

Apakah karena kita selama ini membiarkan para pejabat kita “menjual” saudara-saudara kita kesana sebagai TKI (tanpa perlindungan yang memadai) ?

Mungkin kita memang layak diperlakukan seperti ini.

Stop eksploitasi TKI !
Dan, boikot wisata Malaysia !

Artikel selengkapnya :

Read the rest of this entry »

Hukum Mati : Penculik Anak

Lega sekali ketika membaca bahwa Raisyah Ali sudah berhasil diselamatkan, dan semua penculiknya sudah ditangkap. Namun agak kaget ketika membaca bahwa keluarga Raisyah Ali memaafkan penculiknya.

Situasi saat ini, Indonesia termasuk negara yang paling tinggi kasus trafficking (perdagangan / penculikan) anaknya.

Jadi, ada banyak Raisyah-Raisyah lainnya yang malah lebih menderita lagi. Seperti yang diculik dan dipaksa bekerja di berbagai gubuk penangkapan ikan di tengah laut. Tidak bisa lari menyelamatkan diri sama sekali, tinggal pasrah saja kepada nasib. Dan lainnya yang bahkan lebih buruk lagi dari itu.

Dan mereka tidak seberuntung Raisyah, yang bahkan sampai presiden sendiri turun tangan mengurusnya ….

Kasus Raisyah ini sebetulnya adalah kesempatan bagus untuk mulai memperbaiki situasi ini.

Jika pada kasus Raisyah Ali ini para pelakunya dihukum mati, dan dijelaskan bahwa para penculik anak lainnya juga akan diperlakukan sama; maka mudah-mudahan kasus trafficking anak di Indonesia bisa berkurang drastis.

Menculik anak adalah salah satu tindakan paling pengecut yang bisa dilakukan oleh seseorang. Pastikan bahwa para pelakunya dihukum dengan seberat-beratnya.

(mohon maaf saya posting juga di Planet Terasi, tapi saya rasa ini penting untuk disebarkan seluas-luasnya. Terimakasih)

Sekolah Terbuka : siapa tega menolak mereka ?

Artikel di bawah ini ditulis oleh mbak Ida Sitompul, aktivis sosial yang juga anggota ISNET di Bandung.

Saya kira sangat menarik untuk berkolaborasi dengan beliau, karena proyeknya ini sudah berjalan. Tidak usah repot-repot lagi dari awal.
Bagi yang tertarik, silahkan berkomentar / kontak saya, maka nanti saya akan berikan informasi kontak mbak Ida.
Terimakasih.


Tahun ini, tahun kedua, di TKB Firdaus, SMP terbuka di komunitas Arcamanik, mendaftar 35 anak untuk menjadi murid padahal kapasitasnya cuma 20. Karena tidak hadir dalam rapat, saya hanya memperoleh hasilnya bahwa kita terpaksa mensortir anak-anak itu untuk menerima 20 saja. Guru dibagi untuk mensurvei keadaan keluarga dan kehidupan anak-anak itu untuk menentukan siapa yang harus kita terima.
Hati terasa tak nyaman, kalau mereka melamar tentulah mereka butuh dan ini hanya puncak gunung es. Lebih banyak lagi sebenarnya yang tidak mampu, dan menolak mereka membuat sedih. Saya mulai berfikir resource mana lagi yang bisa dimanfaatkan.

Kemarin saya mengunjungi rumah empat dari anak-anak itu yang menjadi bagian saya untuk disurvey. Mereka tinggal di perkampungan kumuh di luar kompleks perumahan saya dan kompleks perumahan di sekitar. Saya mengeluarkan sepeda dan mulai menyusur jalan berbatu-batu di sisi sungai di pinggir perumahan. Setelah bersepeda hati-hati, melewati lobang-lobang besar dan gerunjulan batu besar kecil, saya sampai ke perkampungan yang dituju dan mulai bertanya-tanya di mana RW nomor anu dan anu. Saya menuntun sepeda menyusuri gang-gang kecil di sisi-sisi rumah yang juga kecil-kecil. Sebagian jalan setapak itu sudah disemen, sebagian lagi masih tanah yang saya yakin becek dan licin di musim hujan.

Saya bertemu dengan salah seorang murid saya yang kemudian mengantarkan saya ke rumah pak RT. Ini anak yang mempunyai konotasi negatif tentang istana. Dia menunjukkan rumah teman-temannya yang lain yang kami lewati. Salah seorang murid pas sedang keluar dari pintu rumahnya waktu saya lewat. Dengan tersipu-sipu dia memberi salam. Tanpa seragam sekolah tambah tampak kepapaan mereka. Saya melihat rumahnya. Aaahhh, tak salah lagi rumah saya adalah istana. Walaupun rumah saya sebenarnya tidak mewah, cuma rumah di daerah perumahan sedang, tapi dibanding rumah mereka, rasanya memang pantas disebut istana. Apakah dia sama sinisnya terhadap para gurunya yang tinggal di “istana” ini? Mudah-mudahan pengalaman setahun ini mengubah pandangannya. Bukan kaya atau miskin yang membuat orang baik atau jahat, tapi kebaikan datang dari dalam hati.

Anak pertama anak ketua RT, kuli bangunan yang kadang bekerja kadang tidak.
Anak kedua tinggal di rumah yang sangat kecil, sangat gelap dan sangat kumuh bersama kakek dan nenek yang membesarkannya sejak bayi, waktu ayahnya meninggalkan dia dan ibunya begitu saja. Kakeknya yang kena stroke 1,5 tahun yang lalu bekerja sebagai pemulung. Kondisi tersebut membuatnya sulit mencari nafkah. Dia baru saja mulai lagi bekerja. Itu yang menjelaskan kondisi mereka yang tampak sangat memprihatinkan. Bagaimana dia bisa hidup dalam rumah itu? Saya ingat ruang atas tempat anak-anak saya yang selalu penuh dengan cahaya.

Anak ketiga adalah yatim yang ibunya bekerja sebagai pembantu rumah tangga di perumahan kami.
Yang ke empat tinggal di sebuah kamar kontrakan berukuran 2×4 yang dihuni 4 orang: neneknya yang lumpuh, kakak perempuannya yang baru saja menikah dan suaminya. Jauh lebih kecil daripada ruang musik di rumah teman saya. Ayahnya bekerja sebagai kuli bangunan di Aceh. Seluruh fungsi rumah kecuali kamar mandi dirangkap oleh ruang kecil itu. Di dalamnya ada satu tempat tidur yang tidak menyisakan sela ke dinding di kedua ujungnya, dibatasi sebuah rak pendek kecil dengan sebuah kasur tipis dilantai, tempat si nenek menerima saya. Entah bagaimana kakaknya menjalankan kehidupan berumah tangga yang normal dengan kahadiran neneknya yang lumpuh dan adiknya. Apa efeknya tinggal dengan kondisi demikian bagi anak itu? Saya ingin sekali bisa memindahkan anak itu dari sana.

Melihat keadaan itu rasanya marah juga pada keadaan, dan eh saya juga jadi agak marah pada teman-teman saya yang bercerita tentang pertandingan golf mereka dengan hadiah BMW untuk hole in one. Betapa timpangnya negara ini. Di satu pihak ada sebagian orang yang bisa mengeluarkan uang ratusan ribu untuk main-main saja, sementara itu berjuta orang lainnya tidak tahu apakah sore nanti bisa makan. Keluarga yang saya kunjungi umumnya cuma bisa agak memastikan makan pagi, tapi tidak untuk makan berikutnya.

Saya kembali ke rumah. Tidak bisa! Mereka harus diterima! Bagaimana mungkin kami menolak mereka? Guru apa lagi yang belum saya dapat untuk membuat satu kelas lagi? Hmm… teman yang satu itu pasti mau membantu. Yang satu lagi disana itu pasti juga mau. Dalam sekejap, lewat telepon saya mendapatkan dua orang teman yang bersedia menjadi guru. Saya yakin sebetulnya banyak orang ingin melakukan sesuatu, mereka hanya belum menemukan jalannya. Jadi, dengan ijinNya, besok pasti akan ada lagi yang menyediakan diri. Besok akan ada lagi yang membuat mimpi anak-anak itu untuk bisa sekolah akan terlaksana.

salam,
ida