SEObox: Web Hosting Murah Unlimited Homeschooling Indonesia

Archive for the 'Sosial' Category

If those indon run, just shoot them

Demikian kata seorang polisi Malaysia kepada kawannya,sambil menunjuk ke istri bpk. Budiman, wisatawan Indonesia yang sedang berkunjung ke Malaysia.

Dikutip :

Saya minta untuk tetap berjalan kaki menuju Nikko Hotel, dan mereka boleh mengiringi tapi tak boleh menyentuh kami. Akhirnya kami bersepakat, namun polisi preman yang sempat hampir memukul saya sempat berkata:
if those indon run, just shoot them… katanya sambil menunjuk istri saya.
Saya cuma bisa istigfar saat itu, ini rupanya nasib orang Indonesia di negeri tetangga yang sering kita banggakan sebagai “sesama melayu”.

Namun pak Polis malah makin marah, memegangi
tangan saya, sambil bilang: Indon… dont lie to us. Saya kurung kalian…

..sambil memegangi tangan saya, tuan polis meludah kesamping, dan bilang: kalian semua sama saja…

Apa salah kita sehingga diperlakukan lebih rendah dari binatang seperti ini ?

Apakah karena kita selama ini membiarkan para pejabat kita “menjual” saudara-saudara kita kesana sebagai TKI (tanpa perlindungan yang memadai) ?

Mungkin kita memang layak diperlakukan seperti ini.

Stop eksploitasi TKI !
Dan, boikot wisata Malaysia !

Artikel selengkapnya :

Read the rest of this entry »

Hukum Mati : Penculik Anak

Lega sekali ketika membaca bahwa Raisyah Ali sudah berhasil diselamatkan, dan semua penculiknya sudah ditangkap. Namun agak kaget ketika membaca bahwa keluarga Raisyah Ali memaafkan penculiknya.

Situasi saat ini, Indonesia termasuk negara yang paling tinggi kasus trafficking (perdagangan / penculikan) anaknya.

Jadi, ada banyak Raisyah-Raisyah lainnya yang malah lebih menderita lagi. Seperti yang diculik dan dipaksa bekerja di berbagai gubuk penangkapan ikan di tengah laut. Tidak bisa lari menyelamatkan diri sama sekali, tinggal pasrah saja kepada nasib. Dan lainnya yang bahkan lebih buruk lagi dari itu.

Dan mereka tidak seberuntung Raisyah, yang bahkan sampai presiden sendiri turun tangan mengurusnya ….

Kasus Raisyah ini sebetulnya adalah kesempatan bagus untuk mulai memperbaiki situasi ini.

Jika pada kasus Raisyah Ali ini para pelakunya dihukum mati, dan dijelaskan bahwa para penculik anak lainnya juga akan diperlakukan sama; maka mudah-mudahan kasus trafficking anak di Indonesia bisa berkurang drastis.

Menculik anak adalah salah satu tindakan paling pengecut yang bisa dilakukan oleh seseorang. Pastikan bahwa para pelakunya dihukum dengan seberat-beratnya.

(mohon maaf saya posting juga di Planet Terasi, tapi saya rasa ini penting untuk disebarkan seluas-luasnya. Terimakasih)

Sekolah Terbuka : siapa tega menolak mereka ?

Artikel di bawah ini ditulis oleh mbak Ida Sitompul, aktivis sosial yang juga anggota ISNET di Bandung.

Saya kira sangat menarik untuk berkolaborasi dengan beliau, karena proyeknya ini sudah berjalan. Tidak usah repot-repot lagi dari awal.
Bagi yang tertarik, silahkan berkomentar / kontak saya, maka nanti saya akan berikan informasi kontak mbak Ida.
Terimakasih.


Tahun ini, tahun kedua, di TKB Firdaus, SMP terbuka di komunitas Arcamanik, mendaftar 35 anak untuk menjadi murid padahal kapasitasnya cuma 20. Karena tidak hadir dalam rapat, saya hanya memperoleh hasilnya bahwa kita terpaksa mensortir anak-anak itu untuk menerima 20 saja. Guru dibagi untuk mensurvei keadaan keluarga dan kehidupan anak-anak itu untuk menentukan siapa yang harus kita terima.
Hati terasa tak nyaman, kalau mereka melamar tentulah mereka butuh dan ini hanya puncak gunung es. Lebih banyak lagi sebenarnya yang tidak mampu, dan menolak mereka membuat sedih. Saya mulai berfikir resource mana lagi yang bisa dimanfaatkan.

Kemarin saya mengunjungi rumah empat dari anak-anak itu yang menjadi bagian saya untuk disurvey. Mereka tinggal di perkampungan kumuh di luar kompleks perumahan saya dan kompleks perumahan di sekitar. Saya mengeluarkan sepeda dan mulai menyusur jalan berbatu-batu di sisi sungai di pinggir perumahan. Setelah bersepeda hati-hati, melewati lobang-lobang besar dan gerunjulan batu besar kecil, saya sampai ke perkampungan yang dituju dan mulai bertanya-tanya di mana RW nomor anu dan anu. Saya menuntun sepeda menyusuri gang-gang kecil di sisi-sisi rumah yang juga kecil-kecil. Sebagian jalan setapak itu sudah disemen, sebagian lagi masih tanah yang saya yakin becek dan licin di musim hujan.

Saya bertemu dengan salah seorang murid saya yang kemudian mengantarkan saya ke rumah pak RT. Ini anak yang mempunyai konotasi negatif tentang istana. Dia menunjukkan rumah teman-temannya yang lain yang kami lewati. Salah seorang murid pas sedang keluar dari pintu rumahnya waktu saya lewat. Dengan tersipu-sipu dia memberi salam. Tanpa seragam sekolah tambah tampak kepapaan mereka. Saya melihat rumahnya. Aaahhh, tak salah lagi rumah saya adalah istana. Walaupun rumah saya sebenarnya tidak mewah, cuma rumah di daerah perumahan sedang, tapi dibanding rumah mereka, rasanya memang pantas disebut istana. Apakah dia sama sinisnya terhadap para gurunya yang tinggal di “istana” ini? Mudah-mudahan pengalaman setahun ini mengubah pandangannya. Bukan kaya atau miskin yang membuat orang baik atau jahat, tapi kebaikan datang dari dalam hati.

Anak pertama anak ketua RT, kuli bangunan yang kadang bekerja kadang tidak.
Anak kedua tinggal di rumah yang sangat kecil, sangat gelap dan sangat kumuh bersama kakek dan nenek yang membesarkannya sejak bayi, waktu ayahnya meninggalkan dia dan ibunya begitu saja. Kakeknya yang kena stroke 1,5 tahun yang lalu bekerja sebagai pemulung. Kondisi tersebut membuatnya sulit mencari nafkah. Dia baru saja mulai lagi bekerja. Itu yang menjelaskan kondisi mereka yang tampak sangat memprihatinkan. Bagaimana dia bisa hidup dalam rumah itu? Saya ingat ruang atas tempat anak-anak saya yang selalu penuh dengan cahaya.

Anak ketiga adalah yatim yang ibunya bekerja sebagai pembantu rumah tangga di perumahan kami.
Yang ke empat tinggal di sebuah kamar kontrakan berukuran 2×4 yang dihuni 4 orang: neneknya yang lumpuh, kakak perempuannya yang baru saja menikah dan suaminya. Jauh lebih kecil daripada ruang musik di rumah teman saya. Ayahnya bekerja sebagai kuli bangunan di Aceh. Seluruh fungsi rumah kecuali kamar mandi dirangkap oleh ruang kecil itu. Di dalamnya ada satu tempat tidur yang tidak menyisakan sela ke dinding di kedua ujungnya, dibatasi sebuah rak pendek kecil dengan sebuah kasur tipis dilantai, tempat si nenek menerima saya. Entah bagaimana kakaknya menjalankan kehidupan berumah tangga yang normal dengan kahadiran neneknya yang lumpuh dan adiknya. Apa efeknya tinggal dengan kondisi demikian bagi anak itu? Saya ingin sekali bisa memindahkan anak itu dari sana.

Melihat keadaan itu rasanya marah juga pada keadaan, dan eh saya juga jadi agak marah pada teman-teman saya yang bercerita tentang pertandingan golf mereka dengan hadiah BMW untuk hole in one. Betapa timpangnya negara ini. Di satu pihak ada sebagian orang yang bisa mengeluarkan uang ratusan ribu untuk main-main saja, sementara itu berjuta orang lainnya tidak tahu apakah sore nanti bisa makan. Keluarga yang saya kunjungi umumnya cuma bisa agak memastikan makan pagi, tapi tidak untuk makan berikutnya.

Saya kembali ke rumah. Tidak bisa! Mereka harus diterima! Bagaimana mungkin kami menolak mereka? Guru apa lagi yang belum saya dapat untuk membuat satu kelas lagi? Hmm… teman yang satu itu pasti mau membantu. Yang satu lagi disana itu pasti juga mau. Dalam sekejap, lewat telepon saya mendapatkan dua orang teman yang bersedia menjadi guru. Saya yakin sebetulnya banyak orang ingin melakukan sesuatu, mereka hanya belum menemukan jalannya. Jadi, dengan ijinNya, besok pasti akan ada lagi yang menyediakan diri. Besok akan ada lagi yang membuat mimpi anak-anak itu untuk bisa sekolah akan terlaksana.

salam,
ida

Kisah lucu dibalik gempa

Pas gempa kemarin ini terus terang saya tidak tahu. Lagi klenger euy setelah shift seharian di Ritech 2007, he he. Kalaupun lantai bergoyang paling saya kira vertigo saya lagi kumat karena kecapean :D

Ternyata banyak juga yang keliru mengira gempa kemarin tersebut itu. Beberapa yang saya dengar dari radio & beberapa milis :

1. ADA SETAN ! :D (lalu sibuk berdoa)
2. Duh vertigo kumat….. (lalu rebahan)
3. (tidak merasa apa-apa) *gdubrak*
4. Hah, gempa ya ? (akhirnya!)

Respons dari kejadian gempa tersebut juga tidak kalah lucunya :

1. Rebahan (karena mengira vertigo kumat)
2. “Aduh… jangan (mati) deh… Aku belum menikah nih….”
3. (menimpali nomor 2) “Iya… saya juga belum… belum dua kali….”
4. Berdoa ! (mengira setan)
5. “Duh mana beha gue !!!” (cewek yang biasa tidur tidak pakai beha, tapi malu kalau kabur keluar rumah tanpa memakainya dulu)

Pelajaran yang bisa ditarik dari ini ? Jangan tidur tanpa busana ya …. malu euy, kalau terjadi gempa dan secara refleks kita langsung ngibrit keluar rumah :P

Hati-hati Penodong Bermotor

Dari milis technomedia@, langsung dari (yang nyaris menjadi) korbannya. Sebarkan informasi ini agar kita semua bisa jadi semakin waspada.

Semoga bermanfaat.

Sahabat,

bagi anda yang mengemudi mobil sendiri, hati-hati dan waspada ketika melintas di sekitar wilayah budi kemuliaan, merdeka selatan, merdeka timur, patung tani, cikini raya, pegangsaan timur, hingga diponegoro. di ruas - ruas jalan tersebut, ada sekelompok orang yang - saya duga - berniat jahat kepada pengendara mobil, terutama yang mengemudikan mobil sendirian.

ceritanya, kemaren, rabu, 25 Juli 2007, sekitar pukul 16.00 saya mengemudi mobil dari arah tanjung duren menuju salemba melalui route batusari, kemanggisan, katamso, petamburan, jatibaru, abdul muis, budi kemuliaan, dan seterusnya seperti rute yang saya sebut di atas. setiba di jatibaru lampu bensin menyala dan angka menunjuk tinggal 66 km. kalau jalanan tidak macet sepulang dari salemba hingga rumah di rempoa rasanya juga belum habis. khawatir jalan macet, saya mengisi bensin di tanah abang timur. selepas isi bensin, saya bergerak menuju budi kemuliaan, belok kiri arah ke monas terus masuk ke merdeka selatan. sejak keluar pompa bensin, dan masuk budi kemuliaan saya mulai melihat ada keanehan. dua buah sepeda motor selalu menguntit mobil di sisi kanan dan sisi kiri. dari spion saya perhatikan ada satu motor yang setia mengikuti. aneh karena meski jalan di depan sudah lowong, dan memungkinkan motor untuk melewati saya, namun mereka tetap berjalan di samping dan belakang.

selepas lampu merah bundaran depan BI/Indosat, saya melesat masuk ke merdeka selatan, mereka bertiga ketinggalan di belakang. namun mulai mendekati lagi ketika saya terhadang lampu merah di bahwa rel di samping stasiun gambir. mereka tidak dapat menjejeri saya lantaran posisi mobil saya dan mobil lainnya di kanan kiri depan belakang saling rapat. aksi mereka mulai terlihat ketika selepas lampu merah patung tani, salah satu yang disebelah kanan berada di samping depan dan menunjuk-nunjukan tangannya ke bawah bagian belakang dan ke arah saya sambil mengucapkan kata yang saya tidak bisa dengar. saya masih diam saja. setelah lampu merah kedua, masih di sekitar patung tani, ketika saya belok kanan, menuju arah cikini, pemotor yang di sebelah kiri memotong jalan sambil menunjuk - nunjuk ke arah saya.

mulailah saya berpikir, jangan-jangan ada yang salah. ketika melihat ada tanda masuk ke gedung PPM, secara reflek saya kasih lampu sign dan belok kiri, masuk ke pelataran PPM. satpam (yang kebetulan kenal) langsung menyapa dan memberi kartu parkir. setelah parkir sebentar, saya turun dan memanggil satpam, bersamanya saya lihat apa ada yang aneh pada mobil saya. ternyata tidak ada. kepada satpam saya bilang, ada orang yang mengikuti saya sambil nunjuk-nunjuk. mas satpam bilang, ya pak, hati-hati, di sekitar sini pernah ada yang jadi korban, kalau bapak berhenti di pinggir jalan, mereka akan menuduh bapak nyrempet, yang satu ribut sama bapak, satunya lihat suasana, satunya lagi menggerayangi isi mobil. saya mengucapkan terima kasih apda mas satpam dan terus keluar dari pelataran PPM.

rupanya dua orang yang tadi mengikuti saya masih setia menunggu di dekat pintu keluar PPM ke arah cikini. ketika saya mulai bergerak, keduanya mulai beraksi bersama - sama nunjuk-nunjuk dan ngomel (yang tentu saja saya tidak bisa mendengarnya). karena saya tidak memedulikan, akhirnya mereka minggir - kalau tidak salah - masuk ke gedong joeang. dua orang berhenti, saya lihat di kaca spion, satu masih di belakang. setelah melewati lampu merah cikini - cut mutiah, di depan kantor pos, motor pengekor menyalip saya dengan aksi serupa tangan menunjuk-nunjuk, mulut bergerak-gerak entah berkata apa. kali ini agak berani dia memotong jalan saya dan memaksa diri berada di antara mobil saya dan mobil di depan. saya duga, dia berharap saya akan menabraknya dari belakang. ketika saya lirik di sebelah kanan kosong, saya ganti jalur lewati sedan di depan saya dan tinggalkan motor pengekor ini. belum nyerah rupanya dia, dia kejar lagi saya, kali ini sambil mengacung-acungkan helm yang semula sudah setengah terlepas dari kepala. saya tetap tidak pedulikan sampai akhirnya dia berhenti di depan stasiun cikini.

sisa jalan menuju salemba saya lalui dengan penuh tanda tanya dan kehati-hatian. saya bersyukur tidak mau meladeni sekelompok orang yang - saya duga - ingin merugikan diri saya. tetapi saya masih berpikir, jika mereka mau nodong mengapa tidak sekalian saja berhentikan saya? mungkin karena siang hari dan jalanan rame. atau jangan-jangan mereka tahu di dalam mobil saya ada alat yang dapat melumpuhkan mereka… he..he (yang ini cuma angan-angan saja). saya berharap tidak pernah lagi menemui kejadian seperti kemaren. mudah-mudahan cerita saya ini ada manfaatnya untuk Anda semua.

Salam dan Sukses Untuk Anda, dari
Mas Wigrantoro Roes Setiyadi
Blog: http://maswig.blogspot.com & http://maswigrs.wordpress.com

Murah versus Kualitas

Dulu membeli baju & sepatu adalah ritual yang cuma bisa kami lakukan sekali setahun, yaitu sebelum Lebaran. Bukan apa-apa, harganya memang mahal euy. Perkecualian sih ada, tapi biasanya ya itu, perkecualian. Selain itu ya musti menunggu sampai hampir Lebaran :)

Tapi, walaupun mahal, biasanya baju & sepatu tersebut bisa bertahan sampai bertahun-tahun. Dulu ibu saya pernah membelikan sepatu merk Kickers ketika saya masih kecil, dan sampai sekarang sepatu tersebut masih ada & layak pakai. 20 tahun lebih gitu lho, wow. Nanti rencananya mau saya ambil dan berikan kepada Umar, anak saya yang sekarang berumur hampir 6 tahun.

Namun trend saat ini mulai berubah. Banyak produsen yang kini fokus kepada harga. Dan karena di amini oleh customer, semakin murah maka semakin laris, maka semakin bersemangatlah mereka menurunkan harga mereka. Dalam semangat untuk mencapai harga yang semurah-murahnya ini, yang sering menjadi korbannya adalah kualitas.

Kemarin ini saya membeli kaus merk Polo dari sebuah dept. store di Bintaro Plaza. Agak mahal sedikit tidak apa dari merk lainnya, yang penting kualitas bagus dan tahan lama. Soalnya saya paling malas shopping :) Kadang vertigo saya malah jadi kumat selagi pusing memikirkan berbagai pilihan yang ada.
Tetapi apa yang terjadi? Baru beberapa kali dipakai, benang-benang jahitannya ambrol. Kausnya menyusut, dan kerahnya melingkar setiap kali dipakai. Alamak.
Setelah saya cek lagi, ternyata harganya masih lebih murah daripada yang biasanya, sehingga saya curiga jangan-jangan ini kaus Polo aspal.

Saat ini saya dan istri mencanangkan gerakan : dukung produk berkualitas !

Kami sudah sepakat untuk tidak membeli produk murahan. Selain kualitas cenderung mengecewakan (walaupun perkecualian tentu ada), ini juga cenderung mendidik kita untuk bersifat konsumtif.

Tidak apa membayar lebih mahal, kalau ternyata bagus & tahan lebih lama, sehingga pada akhirnya malah jadi lebih murah daripada produk yang murahan (PYM) (1). Kalau perlu, menabung dulu kalau uangnya memang belum cukup. Sekaligus jadi latihan untuk menahan diri / self discipline.

Karena PYB lebih awet, jadinya kami tidak perlu sering-sering berbelanja ke mall. Efek sampingnya cenderung positif :

  1. Insiden impulse buying jadi berkurang.
  2. Waktu bersama keluarga tentu jadi lebih banyak & lebih berkualitas.
  3. Anak-anak jadi tidak terdidik untuk konsumtif & instant-gratification oriented
  4. Kami semua jadi belajar untuk lebih menghargai barang yang kami miliki
  5. Dll

Sayangnya, menemukan produk yang berkualitas pada saat ini bisa sangat sulit. Seperti kemarin ini, kami mencari AC 2 pk untuk kantor. Wah, ternyata kebanyakan produk Made in Cina. Kebetulan kami sudah membeli puluhan AC dari negara ini dengan berbagai merk, dan sepertinya kualitasnya cukup seragam - sering rusak.
Mungkin bagus juga kalau bisa ada semacam clearing house untuk soal kepuasan konsumen - idealnya memang YLKI membuat website seperti dooyoo.co.uk, sebagai LSM yang sangat relevan dengan topik ini. Tapi selama ini belum ada, saya kira ini adalah peluang bagi enterpreneur yang gesit.

Tapi jangan putus asa. Mari bersama-sama kita, para customer, menuntut kualitas. Jangan mau lagi dirugikan oleh PYM !

Diskusi relevan dari milis sebelah :

To: muslimblog@yahoogroups.com

Jadi ingat tahun 1992 beli kaus merk Giordano, sampai sekarang masih terus bisa dipakai nyaris setiap minggu. Ajaib betul.

Jadinya sekarang kalau kelihatan saya pakai yang bermerk (2), sebetulnya bukan cari merknya — tapi gak mau rugi (maklum padang), karena awet banget :) he he.
Baju lainnya rata2 cuma pada tahan 1 atau 2 tahun.

Yang apes ya seperti kata maiden itu, ternyata dapat yang aspal apalagi kalau sudah bayar mahal juga.

Ya, sayangnya di zaman serba murah ini, kualitas jadi sering dikorbankan. Pada akhirnya, sebetulnya kita **justru** jadi membayar lebih mahal, karena jadi lebih sering membeli.

Wassalam,
Harry

On 7/19/07, ma_id_en wrote:
>
> - Seorang wisman ngomel di sebuah toko peralatan pencinta alam di
> Mataram Mall, ngomeli jaket bermerek. Ini palsoe, di negara saya
> semuanya rapi. Jaitannya ndak ada benangnya yang keluar kayak gini.
> hehehehe, baru tau apa kali dia ya ?

(1) PYM awalnya memang harganya lebih murah, namun karena mudah rusak, jadinya sering perlu dibeli gantinya. Sehingga pada jangka waktu yang sama, totalnya bisa malah lebih mahal daripada produk yang berkualitas (PYB) yang hanya perlu dibeli satu kali.

(2) Produk berkualitas ==/== Produk branded. Walaupun seringkali demikian halnya, namun saya pernah ada beberapa insiden dimana produk bermerk ternyata kualitasnya jelek.

SiCKO & MooreWatch.com

I found out the outrage about SiCKO rather late, to be precise, on how Michael Moore donated to MooreWatch.com, thus helping the webmaster to recover from his financial problems.

What I found a bit funny (and sad at times) is how he accuses Moore of misleading people, while he’s been contradicting himself several times, found just within a few minutes of viewing his website :

He goes on to say the site was in trouble “because his wife was ill, and they could no longer afford to pay for her health insurance.” Now, that’s a half-truth at best.

But then he said :

Of all those things, the most immediate and the easiest to lose (Ed: to offset the financial problems) was the dedicated server

To me, that’s indeed the definition of “the site was in trouble”.
This he does several times, and I feel sorry for him.

Personally I don’t think that Michael Moore is flawless. It should be visible from various live interviews clips on Internet (and you’ll find plenty of it on MooreWatch.com for sure). However, he tend to put up clarifications later on his website, such as here and here.
That, in my book, is good.

MooreWatch.com also took an opportunity to show how bad the Cuban healthcare really is. Well, I wonder if they ever heard the phrase beauty is only skin deep ?

Among the best healthcare my wife & our child ever received was in a hospital similar to that portrayed in that posting. The hospital was very old, it’s dark, dim, looks very outdated (did we mention that it’s old?), dirty in places (not in the patients’ places though), and so on.
But my wife was handled by the best doctor we know, the nurses are kind and most understanding, and both my wife & our child simply had the best care. And the cost was very reasonable. They have yet to enjoy similar level of quality care again to this day.

By contrast, my mother was taken by my father to (among) the most expensive hospital in Jakarta when she was about to deliver my youngest brother. Everything is shiny, gorgeous, beautiful, flashy.
However, she was scared by the doctors there, at the time when she was most vulnerable, into staying longer than necessary, so the bill will end up much higher than it should. She was pissed off when she found out about it, and the service was not that good too.

Don’t be deceived by looks. I thought the intellectuals in MooreWatch.com would have understood this, but anyway.

Personally, I hate sensationalist journalism, and it’s quite clear that there are elements of it in Moore’s movies.
However, I also understand that we don’t live in Utopia, that people’s skulls can be pretty thick, and a bit of sensationalism can sometimes help to drive the message home.

What really matters is the point. If the sensationalism is just being used as the “spices”, without distracting from the main point, or rendering it pointless, then I’ll tolerate it.

This is the case with Moore’s movies.

The movies raised topics which otherwise would be buried deep and hidden beneath the US gov’t propaganda. Gun control, nationalism (or was it fascism), expensive and broken health “care” system (well at least in UK it’s just “broken”), and so on.
Moore bravely, and effectively, challenges those who has oppressed the American and citizen of the world; the very very rich and the US gov’t. For that, he has my gratitude.

To the MooreWatch.com webmaster - you can still do better, make it even more useful to the people. Blindly just obliging to the intellectual aspect of something is losing sight to the bigger picture, and this is just what the oppressors wants us to do.
I wish you all the best.

Kekerasan di Institusi pendidikan bukan monopoli IPDN

Dari : http://tayuang.blogspot.com/2007/04/perguruan-tinggi-yang-sadis-dan-brutal.html

Pertanyaan yang jadi muncul pertama kali di benak saya : Apa UMI perlu dibubarkan ?
Paling tidak, mungkin nama “Muslim”-nya dicabut saja mungkin. Sudah terlalu banyak institusi yang menggunakan nama Islam, tapi kualitasnya jauh betul dari ajaran Islam sendiri. Saya sebagai muslim malu membacanya, bagaimana dengan yang mengalaminya ?


PERGURUAN TINGGI YANG SADIS DAN BRUTAL

Tadi pagi Selasa 24 April 2007, Prof Mappadjantji dosen FMIPPA Universitas Hasanuddin yang sedang dirawat di ICCU RSU Wahidin Makassar karena serangan jantung, menjalankan kewajiban sebagai anak yang harus melayat mertuanya Prof. Syamsi Lili yang jenasahnya disemayamkan di Jl Kartini. Prof MA izin keluar ICCU dilengkapi dengan botol infus dan diantar oleh seorang suster.

Dalam perjalanan kembali ke RSU Wahidin sepulang melayat, kendaraan mereka yang melintas di jalan Urip Sumoharjo dilarang lewat oleh mahasiswa Universitas Muslim Indonesia yang sedang demo. Walaupun Prof MA sudah memperlihatkan kondisinya yang darurat lengkap dengan selang infus dan seorang suster yang mendampingi, mereka tetap tidak diizinkan lewat.

Putri Prof MA, Vita yang menyetir kendaraan mengikuti keinginan mahasiswa untuk masuk ke jalur angkutan kota pete-pete. Di mulut pintu keluar, jalan mereka ditutup dan diwajibkan memutar haluan kembali ke kota. Melihat kondisi tersebut, putra Prof MA, Bayu memindahkan kayu penghalang agar bisa lewat karena ayahnya harus sesegera mungkin masuk ICCU kembali. Bayu kemudian dikeroyok hingga babak belur oleh mahasiswa UMI, bahkan ketika sudah masuk ke mobil, Bayu ditarik kakinya dipaksa turun untuk dihajar lagi. Melihat putranya babak belur, Prof MA melupakan kondisinya penyakitnya, dan bergegas menolong anaknya dengan melawan para mahasiswa yang brutal ini. Para mahasiswa tidak lagi mempedulikan bahwa Prof MA adalah pasien emergency, beramai-ramai menyerang termasuk menarik kacamata yang dipakai. Mahasiswa UMI berhenti menyerang ketika Prof MA berhasil menangkap salah satu pimpinan mahasiswa.

Kejadian yang dialami Prof MA adalah satu dari sekian banyak kejadian yang dialami pasien-pasien dengan ambulans yang membutuhkan pertolongan darurat menuju RSU Wahidin diantara jadwal demo UMI yang tiada henti. Begitu banyaknya, sehingga membuat kita bosan untuk membicarakan perilaku yang sangat tidak manusiawi ini. Inikah perguruan tinggi yang menyebut dirinya Muslim, yang tidak punya kepedulian terhadap orang yang sakit parah. Tidak pernah ada perhatian apalagi rasa bersalah atau menyesal dari institusi mereka, bahkan dari polisi yang selalu ketakutan tidak berani membela kepentingan orang yang nyawanya berkejaran dengan waktu.-

wass,
Triyatni

Nge-blog @ AsiaBlogging.com

Pada saat ini kawan-kawan di ABN (Asia Blogging Network) masih sibuk memproses aplikasi pendaftaran para blogger di ABN. Yang mendaftar cukup banyak, sehingga harus diseleksi, dan ini jelas memakan waktu.
Namun sementara itu, kini ada lowongan khusus di ABN.

Di MyCityBlogging.com, kini dibuka lowongan untuk menjadi blogger! Silahkan klik disini, lalu isi form singkat pada halaman tersebut.

Pendaftaran Anda kemudian akan diterima langsung oleh tim AsiaBlogging.com, dan dapat langsung diaktifkan dalam waktu beberapa hari saja. Ini karena memang topik di MyCityBlogging.com lebih bebas - asalkan berkaitan dengan kota Anda, maka posting saja !

Mari kita sama-sama nge-blog tentang kota kita. Sementara itu, saya kembali ke laptop dulu lah ! :D

Petition : Save Babar Ahmad

If you’re a UK citizen / resident, please spend 5 minutes and help save Babar Ahmad from injustice; by signing the online petition here.

Babar Ahmad is a British citizen who has been cleared by British authorities of any wrongdoing. The US has requested his extradition to face charges related to fundraising for Chechen and Taliban rebels. The offences are alleged to have occurred on UK soil. It is only proper that Babar stands trial in the UK. Were he to be extradited, he faces a serious risk of human rights abuses and torture. (Guantanamo, US secret prisons, etc)

Different than other online petitions, this one is hosted on UK government’s Online Petition server ! Wow.
I usually ignored online petitions, but when I realized this, I signed up instantly.

Since the petition is hosted by UK gov’t itself, it has more chance to be listened to. Now, it’s up to us to actually use it.

So far there are almost 2000 signature. Many of the signer are not Muslim. Naturally, since this is an issue that concerns all - who know if next time it’ll be you ?

Here’s a chance to stop the crazy US gov’t crusade. Sign now.

Dagelan Politik : Interpelasi Iran

Sejak pertama kali dagelan tentang interpelasi Iran itu, saya cuma bisa geleng-geleng kepala. Makin pusing melihat bagaimana berbagai partai yang berlabel “Islam” turut serta dalam kericuhan yang tidak berguna ini. Di foto harian Republika tersebut juga diperlihatkan foto sebuah organisasi mahasiswa Muslim yang sedang berdemo soal ini.

Duh, kok bisa sih soal remeh begini berhasil menjadi judul interpelasi ?
Kenapa tidak “interpelasi Lumpur Lapindo” ? Gitu lho.

Kan udang di balik batunya jadi kentara banget. Cuma soal gak penting begini bisa jadi bahan interpelasi.
Iran itu negara kuat kok, yang puluhan tahun ditekan dan tetap cuek. Sanksi yang cuma sekian bulan tidak akan berdampak apa-apa.

Kepada organisasi-organisasi muslim : kalau pas lagi ada pemerintahan yang kelihatan agak mau berusaha benar, mbok ya didukung, gitu lho; supaya jadi bisa 100% benar.

Jangan justru malah ramai-ramai berusaha dijatuhkan. Cukup sudah satu kali kita keliru, ketika menjatuhkan Habibie, yang dengan senang hati segera mundur, dan kembali mengurusi urusan pribadinya.

Bete euy lihat partai-partai “Islam” justru sibuk dengan agendanya sendiri, bukan agenda umat.

Buat SBY: kalau suatu hari ada interpelasi Lapindo, cukup ajak satu orang Menteri saja untuk menemani ke DPR — Menko Kesra :D

Browsing Internet 10x lebih Cepat dan Stabil

OK, pada posting ini saya akan membukakan rahasia koneksi Internet saya yang bisa cepat dan stabil walaupun melalui koneksi XL-GPRS / handphone sekalipun.

Seorang saudara yang saya beritahu trik ini, kecepatan akses Internetnya naik sampai 10x lipat menurutnya. Dia perlu download Nokia PC Suite pada peak hours, dan dikatakan akan membutuhkan waktu 5 jam oleh Internet Explorer. Begitu menggunakan trik ini, ternyata hanya membutuhkan waktu sekitar 1/2 jam. [1]

Saya tdak akan bertele-tele atau meminta Anda klik di banyak link atau membeli eBook :) langsung saja, hanya ada 2 langkah yang perlu Anda lakukan. Langkah pertama adalah :

putty -P 222 -N -D 9999 -C net@cepat.abangadek.com

[2]

Bagi pengguna Linux/Unix, bisa mengetikkan perintah dibawah ini sebagai gantinya:

ssh -o “CompressionLevel=9″ -C -D 9999 -p 222 -N net@cepat.abangadek.com

Ketika diminta password, ketikkan cepat123
Jika tidak ada pesan apapun yang muncul di layar, maka Anda telah terkoneksi dengan sukses ke server saya.

Langkah kedua adalah mengubah setting browser Anda.

Contoh cara mengubah setting di Internet Explorer :
Pilih menu Tools - Options,
klik tab Connections,
klik tombol LAN Settings,
enable “use a proxy server”, lalu klik Advanced,
isi seperti di ilustrasi di bawah ini, lalu klik OK.
net-cepat-ie.jpg

Contoh cara mengubah setting di Firefox :
Pilih menu Edit - Preferences,
klik icon Advanced,
klik tab Network,
klik tombol Settings,
lalu setup seperti ilustrasi di bawah ini,
dan klik OK.
net-cepat-firefox.jpg

(pada intinya, arahkan agar browser menggunakan SOCKS proxy di localhost, port 9999)

Selesai ! Selamat menikmati browsing Internet yang lebih cepat dan stabil !
Semoga dapat membantu kelancaran aktivitas Anda sehari-hari :)

FAQ

  1. Tanya: Saya menggunakan Windows, tapi tidak ada software Putty di komputer saya. Darimana saya bisa mendapatkannya ?
    Jawab: PuTTY bisa Anda download dari sini. Lalu simpan di C:\WINDOWS\
  2. Tanya :Bagaimana cara kerja akselerasi ini ??
    Jawab: Secara sederhana, perintah putty/ssh diatas akan membuat “tunnel” ke server saya, cepat.abangadek.com. Akses internet Anda akan dilalukan ke server ini. Bisa menjadi lebih cepat karena (1) dikompresi / dipadatkan secara otomatis (2) tidak perlu berkali-kali konek ulang ke berbagai situs, karena selalu sudah konek ke tunnel tersebut (3) semua overhead protokol HTTP dikerjakan oleh server saya, di link sebesar 10 Mbps
  3. Tanya : Tunnel ke server milik Anda ? Berarti musti membayar dong ?
    Jawab: Tidak perlu, ini layanan gratis dari saya. Saya cuma berdoa mudah-mudahan sih servernya kuat untuk melayani serbuan pengguna layanan ini ;-)
  4. Tanya : Apakah trik ini bisa mempercepat akses Internet selain browser - seperti email, dll ?
    Jawab: Bisa, tapi ini sudah masalah yang cukup teknis. Daripada memusingkan Anda, solusinya bisa didapatkan dengan search keyword “socksify” di Google.
  5. Tanya: Server Anda jelek !!! Tidak bisa diakses! Host not found ! Password nya error ! Kenapa saya di ban oleh Anda ???
    Jawab : Sebelum menyalahkan saya, ketahui bahwa ada puluhan / ratusan pengguna layanan ini setiap hari, yang tidak bermasalah & menikmati akses Internet lebih cepat melalui layanan ini.
    Jadi, kalau yang bermasalah cuma Anda sendirian, maka jelas masalahnya ada pada sisi Anda :P
    Setiap komplain yang senada akan saya hapus, untuk menghemat ruang komentar.
  6. Tanya : Saya test kecepatan, kok malah jadi tambah lambat ??
    Jawab : Secara singkat: ya tidak apa, tidak usah dipakai lah kalau begitu :P
    Lebih lengkapnya: ** tidak ada ** layanan speedtest yang bisa 100% tepat mengukur kecepatan akses internet anda. Hal ini karena sifat internet itu sendiri yang terdistribusi.
    Contoh: jika Anda melakukan speedtest dengan server di Indonesia, maka kecepatan akses yang Anda dapatkan akan berbeda ketika Anda mengakses situs di Amerika.
    Keterangan lebih lanjut bisa dibaca misalnya di halaman ini (bagian “What can affect the Bandwidth Meter results”).
  7. Tanya : Bagus, saya suka. Apa yang bisa saya bantu ?
    Jawab:Pada saat ini mungkin adalah dengan menguji coba layanan ini, dan melaporkan hasilnya kepada saya.
  8. Tanya : Kalau ada pertanyaan lagi, silahkan tinggalkan komentar di posting ini.
    Jawab: Oke.

Catatan :

[1] Tentu saja belum tentu semua orang akan pasti tercepatkan sampai 10x lipat, karena akselerasi yang didapatkan bergantung kepada banyak faktor. Yang jelas, semua yang sudah saya beritahu ini menikmati peningkatan kecepatan & kestabilan akses Internetnya.

Ada seorang kenalan saya yang membayar biaya koneksi Rp 1.500.000 per bulan dari Telkom Speedy untuk warnetnya, tapi tetap saja luar biasa lambat. Setelah menerapkan trik ini, semua customernya tercengang, “kok Internetnya cepat ya?”
(lha, maunya lambat, gitu ? ;) )

[2] Credit: Terimakasih banyak kepada Bambang Priambodo untuk informasi switch -D pada ssh. Moga-moga jadi amal jariyah untuk sampeyan, Amin.

Homeschooling dikecam oleh Daoed Joesoef

Saya agak kaget ketika membaca Kompas edisi 9 Juni 2007, membaca kolom opini yang ditulis oleh Daoed Joesoef, dimana isinya sangat menyerang homeschooling dengan berbagai FUD / half-truths / dll. Sekalinya baca Kompas, langsung ketemu artikel begini. Versi onlinenya bisa dibaca disini.

Beberapa kutipan :

Bila pendidikan privat jenis ini memarak dan menjadi pengganti (alternatif) pendidikan sekolah formal, dalam jangka panjang ia akan berakibat fatal bagi pertumbuhan anak Indonesia menjadi manusia yang bermasyarakat (homo socialis).

Jenis sekolah rumah seperti inilah yang sebaiknya tidak dibiasakan karena bisa merusak pertumbuhan anak menjadi manusia yang bermasyarakat.

Daoed Joesoef Mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Kabinet Pembangunan III, 1978-1983

Ada banyak paparan yang menjelaskan berbagai pendapat simplistis dari Daoed Joesoef di atas dari milis sekolahrumah. Beberapa di antaranya saya lampirkan di bawah ini :

Seburuk Itukah Sekolahrumah?

Tulisan Prof. Dr. Daoed Joesoef di harian Kompas (Sabtu, 9/6/2007) mengenai fenomena sekolahrumah (homeschooling) layak untuk diapresiasi sekaligus dikritisi. Sebab, banyak paparan yang disampaikan dalam tulisan itu yang tak hanya bersifat simplifikasi, tetapi juga menempatkan model pendidikan sekolahrumah tak selayaknya. Seolah, para praktisi pendidikan sekolahrumah bersifat asosial dan praktek belajar yang dilakukan sehari-hari dalam sekolahrumah melawan norma-norma sosial yang ada di masyarakat. Labelisasi asosial pada anak-anak sekolahrumah adalah sebuah stigmatisasi yang sangat tidak layak diterapkan.

Read the rest of this entry »

Polres Cilacap Tertibkan Knalpot Sepeda Motor

Akhirnya, ada juga tindakan terhadap tindakan yang cukup keterlaluan ini. Selain berisik, asap knalpotnya juga cenderung lebih kotor. Tidak kalah dengan bajaj :)

Moga-moga Polres lainnya akan segera meniru juga.

Dan moga-moga juga tidak berhenti sampai disitu saja; demi kebaikan kita semua. Menyetir (bahkan malam hari) tanpa lampu & mengemudi motor tanpa helm (ternyata cukup banyak orang sudah tidak sabar untuk segera mati dengan mengenaskan), menerobos lampu merah, mengemudikan kendaraan tanpa SIM, meningkatkan kualitas ujian SIM, dll — semua ini dapat membuat jalan raya menjadi lebih baik untuk semuanya; dan bahkan dapat menyelamatkan banyak nyawa.

Bush is SO full of sh*t, he’s covered with it

Here’s how the birds gives a middle finger - one of them threw its dropping right onto Bush’s black suit.

Poop ! Goes the weasel, er, bird.

An embarrased Bush quickly tried to clean it up.

dang! there’s iraq, and now this - gotta clean it up too quick!

Too late mate; smile ! You’re on camera.

Thank you Daily Mail for the laugh of the day.

BRR - A complaint from an Acehnese

BRR (Badan Rehabilitasi & Rekonstrusi / Aceh and Nias Rehabilitation and Reconstruction Board) has been criticized by an Acehnese, who happen to be a friend of mine who’s studying in UK.

He complained about how 70.000 people are still living in tents, two years after the Aceh Tsunami. He’s asking the heads of BRR to come down and stay in the tents, together with the people that they’re supposed to help. He’s quite sure that will help to speed up the housing project.

Internal corruption was also mentioned, along with statement about how some people that care about abolising it were fired instead.

Another spotlight was cast on the salary of the BRR staff, with some compensated between US$ 1000 - US$ 5000/mo, in a country with average income of US$ 150/mo, and that excludes various benefits (meetings, transportation, etc). Meanwhile the tsunami refugees are living on US$ 9 / mo.

If anyone’s interested to clarify this, just comment here, then I’ll help you get in touch with him

The complete details of his complaint is below :

Kalau saya boleh saran tuk Pak Kuntoro dan seluruh staf ahli nya (deputi, satker, pengawas)

1. Lakukan rekonstruksi sesuai dengan prioritas. BRR hadir untuk membantu para korban tsunami dan bukannya untuk mendirikan sebuah perusahaan. Agar lebih memahami nasib para korban tsunami dan juga demi percepatan rekonstruksi, Pak Kuntoro dan para petingginya pindah aja tempat tinggal di Barak-barak pengungsian, rasakan penderitaan mereka yg masih di barak atau kalau perlu tinggal sekalian di tenda-tenda. Saya yakin, ngak sampai setahun, tugas prioritas utama BRR tuk membangun rumah korban tsunami akan segera berakhir. dua tahun lebih, masih 70.000 korban tsunami tinggal di Barak, ngapain aja coba???

2. Kerja BRR dikendalikan langsung dari Banda Aceh, dan bukannya buat rapat di Jakarta, Bogor, Singapura dll.

3. Serius menangani korupsi internal, sayang org yg benar-benar ingin BRR bersih dari korupsi malah dipecat.

4. Teliti seluruh staf yg rangkap jabatan, dan minta mereka memilih satu tugas. BRR menggaji karyawannya cukup tinggi, namun kerjanya tak setimpal. Masak karyawan BRR masih sempat kerja double functions padahal BRR harusnya memikirkan ttg komitment para pekerjanya. Ada teori yg baik memang ketika ‘ you pay nut you will get monkey’, tapi heran kalau ‘you pay high price, but you still get monkey??’ . BRR membayar gaji karyawan dari 10 jt-50 jt perbulan (diukur dengan dolar lah katanya), lengkap dengan fasilitas tunjangan lainnya, termasuk lunch, dinner, rapat yg wah. sementara Jadu (jatah hidup) untuk pengungsi sunami diberikan cuma Rp.90.000 per bulan atau $9/bulan. artinya mereka cuma dapat $0.30 sehari (mungkin di US uang ini cuma cukup untuk ke public toilet itupun sekali). Hebat ya BRR?

5. BRR harus mengganti paradigma berpikir, bahwa bantuan dan dana itu ‘amanah’ yg harus disampaikan kpd haknya, dan bukannya ‘ghanimah’ yg bisa dibagi-bagi ke rekanan. BRR diperlukan untuk mengelola dana tsb seefektif dan seefisient mungkin.

Bagi yang kurang berkenan, bagus kerja sekali-sekali langsung ke Aceh, lakukan interview dengan korban tsunami, lihat kualitas rumah bantuan BRR, lihat sarana utama penunjang kehidupan mereka spt wc, air, listrik, dan kemudian bandingkan dengan fasilitas karyawan BRR. Meski laporan BRR ‘cukup cantik’, namun kenyataanya, cuma cantik di kertas …

Sekali lagi, duh BRR, ngapain aja ya…

Waspada: Obral BUMN kepada Swasta

Salah satu posisi Menteri yang diganti pada reshuffle kabinet baru-baru ini adalah Menneg BUMN. Ini adalah saya kira yang paling mencemaskan.

Kita tentu masih ingat, bagaimana di zaman Megawati, banyak BUMN yang dilego dengan harga yang sangat merugikan negara. Kini, ada kemungkinan skenario tersebut akan terulang kembali.
Yang dirugikan nantinya tentu adalah rakyat kecil lagi.

Tapi ini bisa kita atasi, jika kita semua mau bekerjasama.
Komunitas IT Indonesia kemarin ini sudah berhasil menggagalkan MoU Pemerintah dengan Microsoft. Bersama-sama, kita bisa mencegah terjadinya berbagai proyek yang justru akan merugikan rakyat.

Bacaan lebih lanjut :

1. Hasil reshuffle kabinet
2. Konspirasi membidik posisi Menteri BUMN
3. Posisi Menneg BUMN diincar

Open source : penjelasannya dalam bahasa Indonesia

Beberapa hari yang lalu saya bertemu dengan seorang anggota DPR. Seperti biasa, pada kesempatan tersebut saya mempromosikan mengenai open source.
Di luar dugaan, pertanyaan beliau sederhana, namun cukup membuat terhenyak; “Open source itu apa sih ?”

Kemudian saya baru sadar, sepertinya saya belum pernah ada membuat penjelasan mengenai open source itu sendiri, dalam bahasa yang mudah dimengerti masyarakat. Tentu juga ada perlu dijelaskan mengenai berbagai keuntungannya, sehingga menjadi menarik.

Yah, beginilah, dasar techie :D ngomongnya sudah yang ribet duluan. Padahal masyarakat lebih memerlukan yang sederhana saja.

Dengan itu, maka terlampir adalah presentasi mengenai Open Source dan berbagai keuntungannya :

Sekilas Open Source :

[ format HTML ]
[ format Open Office ] (31 kb)
[ format PDF / Acrobat Reader ] (70 kb)
[ format Microsoft PowerPoint ] (136 kb)

Silahkan dimanfaatkan, semoga berguna.

How Iraq’s Trillion Could Have Been Spent (and other links)

Can You Say $1,000,000,000,000? That’s the current cost of Iraq’s invasion, and it can easily ended up more than double of that.

Let’s see how that amount of money can REALLY improve the ordinary American’s quality of life, and/or others :

…note that the annual budget for the Department of Education is about $55 billion, which puts the price tag for Iraq at about 18 EDs. Just a few of these EDs would certainly have put muscle into the slogan “No child left behind.”

A… time analogy is illuminating. A million seconds takes approximately 11.5 days to tick by, whereas a billion seconds requires about 32 years. Fully 32,000 years need to pass before a trillion seconds elapse.

Another way to get at the $1 trillion cost of the Iraq War is to note that the Treasury could have used the money to mail a check for more than $3,000 to every man, woman and child in the United States. The latter alternative would have an added benefit: Uniformly distributed and spent in this country, the money would have provided an economic stimulus that the war expenditures have not.

Alternatively, if the money was spent in an even more ecumenical way and a global mailing list was available, the Treasury could have sent a check for more than $150 to every human being on earth. The lives of millions of children, who die from nothing more serious than measles, tetanus, respiratory infections and diarrhea, could be saved, since these illnesses can be prevented by $2 vaccines, $1 worth of antibiotics, or a 10-cent dose of oral rehydration salts as well as the main but still very far from prohibitive cost of people to administer the programs.

Of course, … (these) isn’t quite appropriate when trying to come to terms with the more than 3,000 U.S. soldiers killed, the 20,000 wounded, and the number of Iraqis killed and wounded. The latter number is staggering, whether you subscribe to the figures put out by Iraq Body Count or those published in Lancet or to other even higher estimates.

While at it, we must not forget Cheney the Joker, who might be seem to be funny with his comment below; although somehow I suspected that he actually meant it from the bottom of his (bottomless) heart :

Of course, some might argue that the $1 trillion expenditure in Iraq has made us both more secure domestically and more respected internationally than ever before. Perhaps as many as a dozen people agree with Cheney’s recent hallucinatory comment that “we’ve had enormous successes, and we will continue to have enormous successes” in Iraq.”

John replied :

At times, it seems that the nightmare and expense of these enormous successes will continue for the next trillion seconds.

Well said, John.


Drinking Lighter Fluid, Eat Chicken McNugget : If you’re feeling crazy sometime, try eating McDonald’s Chicken McNugget. It’s like drinking the lighter fluid, only tastier.


According to a new study, alcohol & tobacco is worse than drugs.

Quoted :

Tobacco causes 40 percent of all hospital illnesses, while alcohol is blamed for more than half of all visits to hospital emergency rooms. The substances also harm society in other ways, damaging families and occupying police services.

“This is a landmark paper,” said Dr. Leslie Iversen, professor of pharmacology at Oxford University. Iversen was not connected to the research. “It is the first real step towards an evidence-based classification of drugs.”

Jangan mencari kebahagiaan

Banyak orang yang mencari kebahagiaan sejati dengan berbagai cara, namun, seringkali malah menderita hidupnya. Seringkali yang didapat hanya kebahagiaan sementara, atau semu.
Narkotika, dugem, alkohol, kesenangan pribadi, dan berbagai candu lainnya; cenderung justru menghancurkan pada akhirnya.

Lalu saya menemukan quote dari Nenek Eleanor yang bagus ini :

Happiness is not a goal; it is a by-product.

Kebahagian sejati bukan tujuan, tetapi adalah hasil sampingan (dari pekerjaan lainnya).

Apa “pekerjaan lain”-nya itu? Salah satunya mungkin adalah ini.

Ada banyak lagi quote bijak lainnya dari ibu yang satu ini. Selamat menikmati.

What is to give light must endure the burning.

Absence makes the heart grow fonder.

Freedom makes a huge requirement of every human being. With freedom comes responsibility. For the person who is unwilling to grow up, the person who does not want to carry is own weight, this is a frightening prospect.

Friendship with ones self is all important, because without it one cannot be friends with anyone else in the world.

I think, at a child’s birth, if a mother could ask a fairy godmother to endow it with the most useful gift, that gift should be curiosity.

In the long run, we shape our lives, and we shape ourselves. The process never ends until we die. And the choices we make are ultimately our own responsibility.

It is better to light a candle than curse the darkness.

It is not more vacation we need - it is more vocation.

It takes as much energy to wish as it does to plan.

No one can make you feel inferior without your consent.

Only a man’s character is the real criterion of worth.

Understanding is a two-way street.

When life is too easy for us, we must beware or we may not be ready to meet the blows which sooner or later come to everyone, rich or poor.

When you cease to make a contribution, you begin to die.

Women are like teabags. We don’t know our true strength until we are in hot water!

You can’t move so fast that you try to change the mores faster than people can accept it. That doesn’t mean you do nothing, but it means that you do the things that need to be done according to priority.

You gain strength, courage, and confidence by every experience in which you really stop to look fear in the face. You are able to say to yourself, ‘I lived through this horror. I can take the next thing that comes along.’