Archive for the 'Talks/Seminars' Category

Talk @ WordcampID 2010 : High Performance WordPress : done quick, cheap, and easy

Untuk para pembaca setia dari Indonesia : Silahkan klik tombol Google Translate di atas artikel ini.
Terimakasih πŸ™‚

Last year I was contacted by Valent Mustamin, whom I started to be acquainted with by Twitter. He asked me if I’d be interested to speak in WordcampID 2010. My response was “HELL YES!” – well, ok, not exactly like that πŸ™‚ but, you get the idea.

Before we continue, I must say it was very nice of him to get in touch with me quite that far in advance. Usually, sometimes, I was called and asked, “hey, how about speaking in this seminar which, by the way, is gonna be held tomorrow?”. Ouch. Sometimes I have problems booking a date even for the next week.
With WordcampID 2010, I was able to prepare the material well, and also booked the date of the event (30 January 2010) before I got other appointments. Zero conflict. Peace on earth.

Back to the topic – I proposed to speak about “High Performance WordPress”, which, of course, discusses ways to speed up WordPress. My talk will adhere to 3 main criterias : easy, cheap, faster.
Easy : it’s easy to do, kinda drop-in solution which you can do in 15 minutes flat.
Cheap : it’s not gonna cost you the arm & the leg. Basically, a dedicated server (dual core, 2 GB RAM) will suffice. It’s not some kind of highly complex, multiple-servers setup.
Faster : it will speed up your WordPress installations by multiple times AND will increase its capacity as well – capability to serve multiple concurrent visitors at the same time.

This solution is aimed to the websites in “growing-pains” period : too big for shared webhosting, but still too small in revenue to afford multiple-servers infrastructure.
In my experience, these websites usually are ranked between 10000 to 100000 in Alexa.

With the solution presented, I hope to be able to help these websites to grow their traffic significantly, and finally move up to the elite leagues with no problem.

You may ask, why another discussion on this topic? Isn’t this already discussed in many blog postings everywhere?

Indeed, however, soon I spotted a problem. When I was helping my friend, Mr Romi, to speed up his WordPress-based website, the highly popular IlmuKomputer.com, I noticed that the tutorials on this topic are :

(1) Suggests the hardest way with the least gain – first, and/or
(2) Only works for lesser websites (eg: Alexa rank > 200.000), and/or
(3) Potentially will your website to become buggy / to lose data, and/or
(4) It may cost you your first unborn child, and your arm, and your legs, and/or
(5) Did I mention that the methods are sometimes pretty hard to do ?, and/or
(6) Oh, did I already mention that it sometimes only offer 25% performance gain ?

The method I discussed can give 100000% performance gain. With 15 minutes of work.
And with very minimal messing (only normal config changes) with current installation of Apache/PHP/MySQL.

In a server, I tested its LAMP (Linux – Apache – MySQL – PHP) stack performance, and I got 2 requests / second.
After I finished optimizing it, I got 2000 requests / second. No kidding.

I know that in the audience there are several people from webhosting companies, who can get financial gain from this. Not just poor webmasters having problems with their ever-popular websites. But I don’t care. I love to share knowledge, and I believe only good things will come out from sharing them.
So there πŸ˜€

Anyway, enough rambling – on to the goodies !

[ High Performance WordPress – OpenOffice format ]
[ High Performance WordPress – PDF format ]
[ High Performance WordPress – Flash format ]

Note: The slides here have been updated with the excellent suggestion from Simon Lim regarding DNS.

Also, at the moment I’m working on another solution which is as easy, but offers even MUCH faster performance gain. Stay tuned.
Enjoy ! πŸ™‚

Seminar – Visual & 3D Programming dengan Open Source

20 September 2008, 09:00 @ Universitas Budi Luhur.

Narasi menyusul.

Presentasi :

[ File OpenOffice ] (484 KB)

[ File PDF / Adobe Acrobat ] (1.9 MB)

AOSI – Asosiasi Open Source Indonesia

Alhamdulillah, setelah bekerja selama sekitar 1 bulan (sesuai dengan target yang diberikan), akhirnya AOSI (Asosiasi Open Source Indonesia) resmi terbentuk pada tanggal 30 Juni 2008 kemarin ini. Pada acara di gedung Depkominfo tersebut hadir 15 anggota pendiri berikut tim formatur, dan juga jajaran pejabat Depkominfo serta Depristek. Acara berlangsung ringkas, penuh semangat dan komitmen.

Ini bukan hasil akhir, namun adalah awal dari perjuangan kawan-kawan di AOSI. Mohon doa restunya agar mereka bisa mengemban amanah ini dengan baik, dan bisa mencapai berbagai tujuan AOSI tanpa masalah yang berarti.

Liputan mengenai acara pendiriannya saya kira sudah banyak dibahas oleh berbagai media massa, beberapa saya lampirkan di akhir posting ini. Jadi disini saya akan lebih banyak berbagai mengenai berbagai cerita di balik layar dan di seputar pendirian AOSI saja.

Awalnya adalah usulan saya mengenai pembentukan Aliansi Open Source Indonesia (AOSI), yang saya sampaikan kepada ibu Lolly Amalia / Depkominfo pada tanggal 26 Mei 2008. Di luar dugaan, ternyata ide tersebut langsung disambut dan ditindak lanjuti dengan sangat cepat, dan langsung diberi bentuk yang lebih riil – yaitu sebagai Asosiasi (Open Source Indonesia).
Pada tanggal 28 Mei 2008 kemudian langsung diadakan forum diskusi di acara IGOS Summit 2, dimana AOSI disepakati. Dan terus dilanjutkan dengan acara penutupan IGOS Summit 2, yang sekaligus juga mengumumkan mengenai AOSI untuk pertama kalinya, serta menunjuk 5 orang sebagai tim formaturnya; ibu Betti Alisjahbana, Bpk. Rusmanto, Bpk. Sumitro Roestam, Bpk. Teddy Sukardi, dan saya sendiri.

Sedikit kilas balik – sebetulnya ide Asosiasi ini sudah lama. Kawan-kawan aktifis Open Source lainnya seperti Effendy Kho (Ase) dan juga yang lainnya sudah menyuarakan ide ini sejak 5 tahun yang lalu. Pak Sumitro Roestam malah sudah mengusulkan nama AOSI di tahun 2003. Kalau tidak salah, beliau malah sudah sempat langsung mencadangkan domain name aosi.org πŸ™‚

Jadi sebetulnya ide saya ini tidak orisinil. Cuma saja mungkin situasi ketika itu belum memungkinkan, sehingga belum bisa diwujudkan pada saat tersebut.

Kembali ke beberapa minggu yang lalu – meeting pertama tim formatur AOSI diadakan di kantor PANDI, gedung Arthaloka lt. 13.
Sedikit melenceng lagi – disitu kita juga sempat membahas sekilas mengenai PANDI. Sangat menarik karena saya tahu beberapa sejarah pengelolaan .ID – sejak pertama kali didapatkan berkat usaha dari pak Samik, kemudian dikelola oleh para aktivis Internet, sampai kemudian terjadi konflik yang cukup mengenaskan. Pak Budi Rahardjo dan rekan-rekannya mengalami berbagai kerugian (waktu, pikiran, tenaga, dst) pada masa konflik tsb. Pada intinya PANDI adalah bantuan solusi dari pemerintah untuk menyelesaikan konflik pengelolaan TLD .ID tersebut. Kalau saya tidak salah dengar, bentuk PANDI adalah yayasan, sehingga non-profit (CMIIW)
Mudah-mudahan dengan demikian maka PANDI bisa banyak berperan aktif dalam memajukan dunia Internet di Indonesia.

Acara pertemuan pertama AOSI tersebut berjalan cukup lancar, dan semua tim formatur alhamdulillah bisa hadir. Pada pertemuan-pertemuan selanjutnya tidak pernah bisa lengkap lagi seperti ini, karena memang tim formatur ini isinyaΒ orang sibuk semua (kecuali saya yang sok sibuk πŸ™‚ ); ibu Betti setelah lepas dari IBM pada tanggal 1 April 2008 kemudian membentuk PT Quantum Business International, yang membawahi beberapa bisnis. Pak Rusmanto menjabat posisi di berbagai lembaga seperti Nurul Fikri, Infolinux, YPLI – dan juga sering berkeliling Indonesia untuk mempromosikan Open Source. Pak Sumitro Roestam juga aktif mempromosikan Open Source serta menjabat sebagai Ketua MASTEL. Pak Teddy memiliki beberapa perusahaan dan juga adalah ketua FTII (Federasi Teknologi Informasi Indonesia), dimana nanti AOSI akan menginduk kesini pula.

Sebagai pimpinan rapat secara otomatis kami menyerahkan kepada ibu Betti. Dan tidak salah, terlihat jelas pengalaman beliau memimpin di IBM selama bertahun-tahun pada meeting tersebut. Rapat yang biasanya di Indonesia lazim menyasar keluar dari topik dan memakan waktu lama dan tanpa hasil yang jelas, kali ini bisa berlangsung dengan efisien serta tetap menarik.

Dengan cepat; tujuan, target, visi & misi AOSI selesai didefinisikan. Demikian pula agenda untuk pertemuan berikutnya. Kami semua kembali dengan semangat yang tinggi, karena kini sudah semakin jelas kelihatan berbagai manfaat yang bisa dicapai oleh AOSI.

Pertemuan-pertemuan selanjutnya terus berlangsung seperti itu. Sangat menyenangkan. Lokasi pertemuan juga kemudian ada dilakukan di kantor ibu Betti. Namun, waktu terus mendekat ke batas waktu 1 bulan yang telah diumumkan.

Tanpa terasa, tiba-tiba kami sudah sibuk secara cukup intens mengenai penyelenggaraan acara peresmian AOSI ini. Sampai menit-menit terakhir saya masih menerima revisi daftar anggota pendiri. Demikian juga pak Sumitro masih terus mendapat masukan-masukan untuk revisi AD/ART nya. Menilik intens nya persiapan acara tersebut, sangat melegakan ternyata kemudian acara dapat berlangsung dengan sangat baik tanpa masalah. Bahkan Pak M. Nuh / Menkominfo yang baru diberitahu juga kemudian langsung menyanggupi untuk hadir. Tentu ini sangat memberikan semangat kepada semua an

ggota pendiri dan hadirin, apalagi ketika dengan jelas Menkominfo menyatakan bahwa komitmen dukungan Depkominfo kepada AOSI adalah dukungan moral dan riil. Depkominfo akan berpartner & bekerjasama secara aktif dengan AOSI.

Di balik itu tetap saja ada beberapa kekurangan pada acara ini. Misalnya, beberapa institusi Open Source di Indonesia sempat nyaris tidak diundang sebagai anggota pendiri, seperti Linuxindo. Beberapa malah akhirnya tidak sempat kami undang πŸ™ seperti Β Bajau, Indolinux, Ardelindo, Meruvian, dan banyak lagi yang lainnya. Mengkoordinasikan 15 anggota pendiri itu saja kami sudah cukup pontang-panting.
Mudah-mudahan keterbatasan kami tersebut dapat dimaklumi dan tidak mengecewakan. Anyway, status anggota pendiri sebetulnya sama saja dengan anggota biasa, cuma saja anggota pendiri itu hadir pada acara peresmian AOSI ini – itu saja. Tidak lebih.

Tentunya masih ada banyak sekali pertanyaan seputar AOSI ini.
Misalnya, saya mendapat pertanyaan mengapa komunitas JUG (Java User Group) tidak diundang pada acara peresmian AOSI. Saya jawab karena keterbatasan waktu kami, sehingga ada banyak pihak yang seharusnya diundang namun tidak sempat kami undang; dan saya pribadi minta maaf untuk hal tersebut. Jawaban tersebut sepertinya cukup memuaskan kawan kita tersebut, dan beliau mengucapkan selamat atas telah diresmikannya AOSI.

Namun saya sendiri baru sadar belakangan – Asosiasi ini adalah format untuk institusi komersial. Jadi, selama ini sudah ada banyak komunitas non-profit Open Source di Indonesia. YPLI, KPLI, JUG, Yayasan Ubuntu Indonesia, dan seterusnya. Tetapi, komunitas Open Source yang komersial belum ada. Pada gilirannya, ini adalah suatu kekosongan yang perlu diisi, karena telah terbukti menyebabkan berbagai ketimpangan dan masalah pada berbagai implementasi open source di Indonesia.

Nah, dengan adanya AOSI, bersama-sama dengan para aktivis Open Source, Akademisi, dan Pemerintah; maka diharapkan ekosistem Open Source Indonesia sudah menjadi lengkap. Dan karena itu gerakan Open Source di Indonesia bisa jadi semakin efektif lagi.

Mudah-mudahan kami (tim formatur) dan (nantinya) pengurus Asosiasi dapat melayani semua pertanyaan & harapan-harapan dari semua pihak dengan baik.

Terlampir di akhir artikel ini adalah definisi AOSI, kriteria sukses, serta rencana program kerja.

Artikel terkait :

Bersatunya para pendukung open source
AOSI resmi terbentuk
Komunitas Open Source Indonesia ‘Merapat’
Asosiasi open source dibentuk
Asosiasi Open Source Indonesia resmi berdiri

AOSI – perhimpunan organisasi pencinta, penggiat, pengembang, pemakai, pendidik dan pendukung open source yang bekerja sama membangun sinergi untuk mencapai sukses bersama

Ukuran Keberhasilan AOSI

1.Citra open source di mata masyarakat yang positif

2.AOSI menjadi sumber terpercaya dalam menentukan strategi TIK nasional

3.Indonesia melakukan adopsi open standard secara konkret (ODF dll)

4.Meningkatnya pangsa pasar dan jumlah pengguna Open Source (perusahaan, perorangan, pemerintah)

5.Tersedianya produk dan jasa open source untuk berbagai kebutuhan utama

6.Tersedianya piranti pendukung peripherals untuk produk open sourceΒ (drivers, utilities)

7.Pemerintah memberikan prioritas pengadaan pada open source

8.Unggulnya kompetensi nasional TIK dengan memanfaatkan open source khususnya di bidang jasa dan pengembangan software

9.Adanya program dan regulasi di departemen terkait di pemerintahan Β untuk mendukung open source

10.Pendidikan IT di sekolah dilakukan berbasis open source

11.Menurunnya kesenjangan digital di Indonesia sebagai hasil pemanfaatan open source

12.TIK lebih murah dan terjangkau sebagai hasil dari persaingan yang lebih sehat

13.Indonesia bisa mengeksport software aplikasi berbasis

14.Ketersediaan infrastruktur dukungan untuk pengguna open source

15.Bisnis TIK berbasis open source tumbuh secara sehat dan maksimal

16.Terjadi sinergi yang kuat antar Β lembaga-lembaga anggota AOSI

17.Layanan publik dari pemerintah maupun swasta tersedia/mendukung open source (antara lain internet banking, pajak, pemesanan tiket, perijinan)

PROGRAM KERJA

Program 30 hari

1. Mendata Para Pebisnis Open Source

2. Terbentuk Kepengurusan Sementara

3. Mengembangkan Keanggotaan

4. Portal AOSI.or.id

Program 100 hari

1. Kepengurusan tetap terbentuk

2. Sosialisasi Open Source by application & industry

3. Training : Technical & Business Skill

4. Focus Group Discussion dengan Pemerintah : Kominfo, Ristek, Diknas, Keuangan Pajak, Depdagri, Deperin Telematika untuk membahas program & regulasi untuk mendukung berkembangnya open source

5. Roadshow, Exhibition & Publikasi Perkembangan Open Source

6. Ensure more drivers availability

7. Membangun Data Base Organisasi pengguna open source

Program 1 Tahun

1. Demo Center di kantor AOSI untuk berbagai aplikasi FOSS

2. AOSI sebagai marketing hub dari open source

3. AOSI go International

Tambahan – DAFTAR PENGURUS AOSI

Ketua Umum – Betti S Alisjahbana
Wakil Ketua 1 – Rusmanto
Wakil Ketua 2 – Sutiono Gunadi
Sekretaris Jenderal – Sumitro Roestam
Bendahara – Soegiharto Santoso

Bidang Di Bawah Wakil Ketua 1

Bidang Regulasi dan Hukum – Aulia Adnan
Bidang Pendidikan dan SDM – Nurlina
Bidang Pengembangan Teknologi – Harry Sufehmi
Bidang Dukungan Teknis dan Layanan Publik – Adi Siswanto

Bidang Di Bawah Wakil Ketua 2

Bidang Kerja-sama Luar Negeri – Gunawan Rianto
Bidang Riset Pasar dan Promosi – Widjaja
Bidang Pengembangan Model Bisnis – Akmaloni

Seminar: All about Ubuntu – FKI @ JCC

Iseng-iseng pagi ini saya melihat-lihat kumpulan draft yang ada di blog saya, lha ternyata saya belum posting soal hasil seminar ini tho ! πŸ˜€ Alamak…. kirain sudah, hihihi.
Padahal sudah banyak event selanjutnya, hehe… termasuk seminar Ubuntu lagi di JHCC dengan jumlah peserta yang jauh lebih banyak lagi daripada yang ini.

sufehmi @ FKI

Anyway, ya inilah kebiasaan saya yang terpaksa dilakukan karena keterbatasan waktu yang ada — ketika ada waktu luang, saya langsung posting banyak sekaligus. Nah, kemudian posting tersebut akan terus muncul satu per satu secara otomatis, walaupun sebetulnya pada saat tersebut saya sedang tidak menyentuh blog saya. Sangat membantu sekali.
Cuma ya jadinya begini, kadang-kadang ada posting yang belum selesai, tapi lupa saya follow up πŸ˜€

OK, kembali ke seminar Ubuntu; yang saya masih ingat adalah keterkejutan saya karena ramainya peserta. FULLY BOOKED, sejak ***beberapa hari*** sebelum acara πŸ˜€
Absolutely awesome !
Alhamdulillah respons dari masyarakat sangat antusias. Kami jadi bertekad untuk berusaha melayani dengan sebaik-baiknya agar tidak mengecewakan.

Acara dibuka oleh Andi Darmawan, ketua komunitas Ubuntu Indonesia. Pada sesi tersebut diperkenalkan mengenai Ubuntu, serta demonstrasinya secara live. Mungkin kita sudah biasa menggunakan Ubuntu sehari-hari, namun bagi banyak orang ini masih merupakan sesuatu yang baru dan sangat menarik. Tidak lupa juga didemokan berbagai efek 3D built-in dari Ubuntu — yang juga bisa dinikmati bahkan tanpa perlu ada 3D accelerator card di komputer Anda !
Sangat memikat tentunya.

edi setiawan @ FKI

Kemudian dilanjutkan dengan selingan ringan yaitu film Elephants Dreams, film pertama di dunia dengan lisensi open source (creative common), dan juga dibuat 100% dengan software open source.
Hasilnya tidak kalah dengan film-film dari raksasa Hollywood. Hadirin nampak menikmatinya, dan saya sendiri (karena dulu sempat berkutat di bidang 3D rendering / animasi secara amatir) sangat terpukau dengan apa yang saya saksikan.
Dulu bidang ini hanya bisa dilakoni oleh mereka yang memiliki akses ke software 3D dengan harga yang luar biasa mahal. Kini, siapa saja bisa menikmatinya.
Bravo open source !

Setelah itu acara dilanjutkan oleh Edi Setiawan dari KSL-UBL (Kelompok Study Linux – Universitas Budi Luhur), yaitu berupa tutorial Blender. Terus terang pada saat ini saya tidak terlalu bisa memperhatikan, karena sedang sibuk memeriksa ulang bahan presentasi saya.
Padahal saya juga ingin tahu secara lebih detail mengenai Blender sebetulnya. Nasib…. πŸ™‚

Terakhir giliran saya, dimana kemudian saya membawa materi seputar Ubuntu dan pemanfaatannya secara riil (perusahaan, institusi, dst), dan kemudian dilanjutkan dengan sesi tanya jawab.
Surprise – animo peserta sangat luar biasa. Sesi tanya jawab akhirnya terpaksa saya cut, karena kita melebihi batas waktu yang diberikan πŸ˜€
Sangat banyak pertanyaan yang disampaikan. Memang informasi seputar Linux/Ubuntu masih sangat diperlukan oleh masyarakat kita. Dan dari setiap pertanyaan, juga menjadi diskusi yang sangat menarik. Ini adalah salah satu tantangan kita, para aktivis open source, yaitu untuk bisa mendengar pertanyaan mereka, dan kemudian menyampaikan jawaban/solusi yang mereka butuhkan.

Tidak mudah, makanya namanya adalah “tantangan” πŸ™‚

Setelah melewati batas waktunya, akhirnya seminar ini berakhir. Tidak lupa kami menyampaikan banyak terimakasih kepada tim majalah CHIP Indonesia yang telah berkenan mengundang kami untuk mengisi acara tersebut.
Semoga selanjutnya makin banyak kerjasama yang bisa kita lakukan, Amin.

Dan tentu saja terimakasih kepada semua peserta & tim ubuntu indonesia yang telah hadir. Semoga acara-acara kita selanjutnya terus semakin sukses.
Maju terus open source Indonesia !

Seminar Ubuntu/Linux @ Megabazaar, JHCC

Alhamdulillah beberapa hari yang lalu sudah confirmed untuk sesi seminar Ubuntu ini di JHCC. Lumayan dapat sesi 3 jam πŸ™‚

Dimana? Kapan? Gimana??

Minggu, 16 Maret 2008, Jam 15.00 – 18.00,
Ruangan Workshop Megabazar Computer Lower Ground
JHCC, Jakarta

Pembicara : Tim Technical Ubuntu Indonesia

Pendaftaran, hubungi;
Ph : 021. 5851473-74 ( Ibu Desy / Wiwi )

Biaya Investasi : Rp. 30.000,- ( termasuk makalah )

Ada tambahan sedikit dari informasi diatas – pada sesi 3 jam tersebut paling tidak akan ada 3 topik yang akan dibahas, yaitu Akunting dengan Linux (Waraqah), Linux untuk Pendidikan (Toosa), dan Migrasi dari Windows ke Linux (Harry).

Acara ini dapat terselenggara berkat kerjasama dari rekan-rekan di Majalah Chip Indonesia. Bersama dengan email ini saya menghaturkan banyak terimakasih kepada mereka..

Sampai jumpa di lokasi acara !

Seminar @ Indocomm IT, 12 September 2007

Sampai lupa kalau besok ini acaranya πŸ™‚ saya akan menjadi pembicara pada seminar “All about security & virus” di Merak Room, Jakarta Convention Centre, 12 September 2007.

Pada seminar itu juga akan ada kawan-kawan lainnya seperti Anton R. Pardede, mas Romi, Alfons, dan Koro.

Detail lebih lanjut bisa didapatkan di http://www.agenda-wifi.com/

Sampai ketemu di acara tersebut.

Update: foto-fotonya sudah bisa dilihat di photoset IndocommIT 2007.

File presentasi seminar bisa di download sbb :

[ Format PDF ] (132 KB)
[ Format PPT ] (440 KB)
[ Format OpenOffice ] (370 KB)

Harry @ Seminar IndocommIT 2007

Seminar/Kuliah umum Sistim Informasi

Beberapa minggu yang lalu saya diminta untuk menjadi pembicara pada acara Kuliah Umum di Fasilkom UI, dengan tema “Sistim Informasi”.
Acara ini telah diselenggarakan pada hari Sabtu kemarin, tanggal 15 April 2006.

Materi nya bisa di download dari sini:
[ Format Open Office 2 (ODP) ]
[ Format Power Point 97 (PPT) ]

Kuliah ini memperkenalkan Sistim Informasi kepada target audiens awam/umum, dengan berbagai studi kasus dan contoh di lapangan.

Beberapa pertanyaan dari sesi tanya-jawab :

  • Q: Dosen S2 di beberapa Universitas, di salah satu Universitasnya sudah ada Sistim informasi yang bagus. Namun di Universitas yang satu lagi belum ada. Ingin membuat SI yang bagus, tapi ada keterbatasan resources; dana dan sumber daya manusia. Bagaimana solusinya ?

    A: Ada beberapa alternatif solusi yang bisa dicoba: [ 1 ] Opensource: Hubungi kampus-kampus lainnya dengan masalah yang sama (butuh SI, terbatas resources), dan ajak bergabung di sebuah proyek SI kampus yang open source. Semua resources yang ada dikumpulkan di proyek tersebut. Hasil proyek kemudian bisa dimanfaatkan oleh semua partisipan.
    [ 2 ] Mahasiswa skripsi : Cari mahasiswa jurusan komputer yang sedang akan skripsi, lalu tawari untuk mengerjakan sebuah modul dari SI tersebut. Dengan membagi proyek SI menjadi modul-modul, maka bisa dibagi ke beberapa mahasiswa untuk menjadi skripsi mereka, dan kemudian proyek jadi bisa diselesaikan.
    [ 3 ] Mahasiswa magang: Jadikan proyek ini sebagai kesempatan magang bagi mahasiswa. Kompensasi / gaji nya memang mungkin lebih kecil daripada standar perusahaan, namun mahasiswa jadi dapat pengalaman kerja. Pengalaman kerja ini kelak akan dapat sangat membantunya pada saat melamar kerja setelah lulus – dimana berbagai lowongan biasanya mensyaratkan pelamar untuk telah memiliki pengalaman kerja.
    [ 4 ] Atau, bisa juga kombinasi dari ide-ide yang telah disebutkan di atas.

  • Q: Pada bagian personalia, seringkali ada mesin absensi, yangtersambung ke PC. Bagaimana format datanya, apakah perlu dikonversi atau tidak ?
    A: Format datanya bisa berbeda-beda, tergantung dari mesin absensinya, tidak ada standarisasi.
    Salah satu pengalaman saya adalah dengan mesin absensi berumur 20 tahun, yang konek ke komputer via serial port, dimana kemudian datanya diterima oleh software yang (tentu saja) berusia 20 tahun juga. Kemudian terjadi musibah – hard disk komputer tersebut rusak, sedangkan backup software tersebut tidak ada, bahkan dari pembuatnya sendiri sekalipun (saking tuanya). Akhirnya hard disk di-recover oleh pakarnya, dan dibuat backup nya; dan kini terus berjalan dengan baik.
    Pelajaran yang bisa diambil disini: [ 1 ] Solusi yang baik BUKAN yang canggih / mahal / rumit; tapi adalah solusi yang menyelesaikan masalah. Disini solusi kebutuhan absensi perusahaan tersebut telah berusia 20 tahun, namun kalau telah memenuhi kebutuhannya, ya selesai masalah. [ 2 ] Backup ! pekerjaan dan mengontrol backup adalah hal yang membosankan, namun dampaknya bisa sangat fatal.
  • Q: Pemilik UKM (Usaha Kecil/Menengah) di bidang produksi modul hardware, ingin mengembangkan usaha / jangkauan pasar ke Internet. Ada keterbatasan dana & resources. Bagaimana caranya membuat SI yang bisa mendukung usahanya ini ?

    A: Kebutuhan SI untuk UKM ini nampaknya akan bisa dipenuhi oleh [ osCommerce ]. Instalasinya cukup mudah; atau cukup mendaftar ke paket webhosting yangtelah menyediakan ini.
    Yang lebih perlu diperhatikan justru adalah dari sisi marketing-nya — bagaimana cara agar ada orang yang mampir _dan_ membeli di situs tersebut.

Seminar: Strategi Karir IT – tanya jawab

Seperti yang telah saya janjikan sebelumnya, di posting ini saya akan menuliskan berbagai pertanyaan yang sempat saya catat pada seminar karir IT, berikut dengan jawabannya.
Namun sebelum itu, saya ingin menyatakan bahwa saya memiliki keprihatinan yang sama dengan pak Budi Rahardjo disini : kualitas sdm kita menyedihkan.

Berikut ini adalah beberapa pertanyaan yang sempat saya catat, berikut dengan jawabannya:
(slide seminar bisa dilihat disini: http://harry.sufehmi.com/archives/2005-09-01-989/)

Tanya:
Mana yang lebih penting, IPK/prestasi akademik atau koneksi ?

Jawab:
Kalau untuk mencari kerja/berkarir: koneksi cenderung lebih penting.
Contoh ekstrimnya, ada kenalan yang dulu lulus dengan IP nyaris 4. Tapi, memprogram dalam bahasa Basic saja kesulitan. Juga, tidak sempat membangun jaringan. Sehingga mengalami kesulitan setelah lulus kuliah.
Contoh kebalikannya, ada kenalan yang tidak lulus SMA, tapi jabatannya lebih tinggi daripada saya, karena memang ahli dan jaringannya bagus.

Tapi bukan berarti lantas Anda boleh mengabaikan kuliah Anda ! Ingat, Anda punya tanggung jawab kepada orang tua Anda, yang telah berusaha keras agar Anda bisa kuliah.
Jadi berusahalah untuk berprestasi sebaik-baiknya, sambil berusaha juga untuk membangun jaringan Anda.

Tanya:
Anda mengatakan banyak materi kuliah yang kurang relevan dengan dunia kerja, contohnya apa?

Jawab:
Dulu ada mata kuliah kewiraan. Lalu, berbagai mata kuliah yang sangat teoritis / tidak jelas bagaimana penerapannya, atau memang cuma sekedar teori yang sulit diterapkan.
Kemudian, terkadang juga ada mata kuliah yang sudah kadaluarsa – saya pernah mendapat mata kuliah Assembler, namun tidak jelas untuk platform apa (yang jelas, bukan PC)

Selain itu, yang mungkin juga mengejutkan adalah suasana yang sangat berbeda.
Ketika kuliah, kalau kita gagal mengerjakan suatu tugas, resikonya paling adalah tidak lulus dari mata kuliah tersebut.
Di dunia kerja, kegagalan menyelesaikan tugas bisa berdampak kerugian jutaan rupiah atau lebih dari itu. Dan berbagai tekanan-tekanan lainnya.

Mungkin bidang IT kelihatan sebagai suatu yang glamour. Kenyataan yang sebenarnya seringkali jauh dari demikian. Beban pekerjaan yang sangat banyak, deadline yang tidak masuk akal, lembur kerja di akhir pekan, dst; ini kadang merupakan kelaziman.
Tapi sebagaimana juga bidang-bidang lainnya; jika Anda tekun, tidak takut tantangan, dan punya jaringan yang bagus – maka IT bisa menjadi bidang karir yang bagus dan menarik.

Tanya:
Bagaimana cara untuk membangun jaringan? Tips?

Jawab:
Jika Anda kuliah di universitas seperti UI, ITB, dll; maka bersyukurlah karena biasanya jaringan alumni mereka bagus.

Cara lain adalah dengan aktif berorganisasi.
Jika tidak ada organisasi yang menarik – buat saja sendiri. Misal: Study Club Campus (SCC), yang terdiri dari banyak study club (SC). Setiap SC fokus ke topik tertentu (misal: Java, Python, Linux, dll), dan anggotanya adalah mahasiswa yang berminat ke topik tersebut. Tiap SC punya rencana kerja (misal: Maret – instalasi Linux, April – setup webserver, dst). SC sangat berguna untuk membantu mempercepat proses belajar suatu topik (karena belajar bersama jauh lebih cepat daripada sendirian).

Jadi pada intinya; harus aktif berinteraksi dengan pihak-pihak yang relevan. Maka mudah-mudahan ketika lulus kuliah nanti, jaringan Anda juga sudah bagus; sehingga mudah untuk berkarir di bidang IT.

Tanya:
Bagaimana cara untuk mendapatkan berbagai keahlian IT yang relevan ?

Jawab:
Tidak ada cara lain kecuali dengan banyak praktek.
Bisa sendirian, namun lebih baik jika ada kawan yang minatnya sama. Lihat ke bahasan mengenai Study Club di poin sebelum ini.

Tanya:
Untuk urusan kuliah saja kita sudah sibuk; menghadiri kuliah, mengerjakan tugas, dll. Lalu sekarang ternyata kita (mahasiswa baru) harus lagi berusaha membangun jaringan, dan menambah keahlian IT praktis.
Bagaimana caranya untuk dapat mengerjakan ini semua ?

Jawab:
Tiap orang berbeda-beda cara yang cocok untuk me-manage waktunya.
Ada yang cuma perlu menuliskan target-target dan deadlinenya, dan menaruhnya di tempat yang sering dilihat (dinding, di balik pintu, dst)
Ada juga yang bisa mengingat semuanya.
Ada lagi yang perlu menuliskannya secara rinci.
Ada lagi yang perlu menambah waktunya, dengan mengurangi jam tidurnya. (kawan saya ada yang cuma perlu tidur 1-2 jam saja dalam suatu hari)
Dst.

Tapi semuanya kembali ke satu hal – disiplin. Tanpa ini, maka semuanya akan kacau balau. Dan waktu tidak pernah terasa cukup.

Tanya:
Saya pikir, sebaiknya kita tidak melakukan spesialiasi. Namun, cukup menguasai dasar dari berbagai bidang IT (networking, programming, dst). Dan lalu baru didalami jika ada waktu / tuntutan untuk itu.
Dengan demikian, maka kita dapat meng-cover sebanyak-banyaknya bidang, membuat lebih banyak lowongan terbuka bagi kita, dan menjadikan kita sebagai pekerja yang fleksibel.
Bagaimana menurut bapak tentang strategi ini ?

Jawab:
Ini strategi yang selama ini saya sendiri lakukan πŸ™‚

Tapi tiap orang berbeda-beda. Ada yang cocok dengan cara ini.
Namun, ada pula yang lebih senang mendalami satu bidang saja.

Yang penting saya kira, adalah kita untuk menikmati itu semua. Kalau kita bisa menikmatinya, maka apapun yang kita pilih / harus kerjakan akan menjadi terasa ringan.
Kalau sesuatu itu tidak terasa sebagai beban bagi kita, maka akan lebih memudahkan kita untuk berprestasi di bidang tersebut.

Seminar: Strategi Karir IT

Kemarin (31 Agustus 2005), saya diundang oleh kawan-kawan di Fasilkom UI untuk menjadi pembicara di seminar mereka. Saya lupa judul seminarnya (duh, pikunnya kumat), tapi yang jelas saya diminta untuk membagi sedikit pengalaman dalam berkarir di bidang IT.
Apa yang kira-kira penting untuk diperhatikan bagi para mahasiswa, bagaimana agar kans untuk sukses menjadi lebih besar, dan seterusnya. Maka, kemudian saya buat sebuah presentasi singkat berjudul [ Strategi Karir IT ]

Pada kesempatan tersebut saya mengingatkan bahwa masa kuliah itu bukan waktu untuk bersenang-senang. Ini adalah awal dari masa perjuangan kita, jadi mulai belajar untuk bekerja keras. Karena seringkali dunia kerja lebih keras lagi daripada itu. Disampaikan beberapa tips untuk mempersiapkan diri (saya lupa mengingatkan untuk belajar b.Inggris – tips: ikut milis-milis berbahasa Inggris dan aktif), untuk mencari kerja (sayang saya lupa memberikan beberapa tips untuk membuat CV yang bagus), dan kemudian membangun karir.

Peserta cukup membludak dan sesi tanya-jawab terus berlanjut bahkan setelah acara usai. Anak-anak UI memang beda ya πŸ™‚ pertanyaan-pertanyaannya sangat kritis. Malah ada yang dengan yakin mengatakan bahwa saya salah dalam salah satu poin presentasi saya. Ha ha… sambil nyengir, kemudian saya jelaskan lebih lanjut mengenai poin yang bersangkutan.
Ada juga yang komplain, kenapa pembahasannya cuma mengarah kepada karir sebagai pegawai, bukan wiraswastawan. Saya tersenyum dan mengatakan bahwa topik itu bisa menjadi topik seminar tersendiri. (cuma itu yang sempat saya katakan karena waktu seminar sebetulnya sudah lama habis)
Tapi saya kagum dengan keberanian mereka. Semoga sukses semuanya.

Bagian kedua dari posting ini akan menampilkan beberapa pertanyaan yang sempat saya catat, berikut dengan jawabannya.
Stay tuned.

            








SEObox: Web Hosting Murah Unlimited Komik Indonesia Homeschooling Indonesia