Archive for the 'Open-Source' Category

Mobile Dev Joy : The Adventure with Mobile Browser

My post today will be rather technical, but I’m sure some will find it interesting because it’s about a topic that’s not as widely discussed as others. Some may even find it useful. It’s about my brief stunt with mobile development.

Some time ago I was asked to look at a web-based apps which is to be used with a mobile phone. A Nokia E70 to be exact. It’s based on Symbian S60 3rd edition platform. Basically, a Javascript which is supposed to run won’t. So I looked into it.

This piece of Javascript is vital for usability reasons. Without it, the input process will take up to 50% longer. So I thought, yeah I’ll set aside a bit of my time and hack this.

Then I realized that when I thought the browser situation on the PC / desktop platform is a mess; it actually look very tidy and well-ordered compared to the situation on the mobile platform 🙂

First, mobile platform is much more limited — in terms of CPU / processor power, memory capacity, secondary storage (hard disk / flash ram) capacity, power, etc. These limitations in turn must be taken into account by all mobile browsers. Which causes various quirks / incompatibilities to surface when you dig deeper into it.

Second, free(dom) software has not yet made as much impact here as it is on the desktop. Therefore we have plethora of proprietary technologies, which sometimes doesn’t work together / conform to the open standards.

Third, there’s not as many documentations available on the topic. As I googled around, I realized in horror that I may have to hack around much more than I thought necessary.

Back to the hack – first thing I tried was to install Opera mobile (not Opera mini). Yes, we’re willing very willing to pay Opera if it works. In short – the Javascript works on it.
Unfortunately, Opera mobile crashes around so much, it’s impossible to enjoy any kind of productivity with it.

Also there are a LOT of quirks with Opera mobile when used with keypad.
They are small things, but gets annoying very quickly. Which doesn’t help when you’re trying to accomplish good amount of work.

Maybe it’d be better if I try an older version of it, but seeing it consume too much RAM anyway; I thought I’ll give the built-in browser a try first.

Called “Nokia Mini Map Browser” because of its “mini map” feature, it’s speedier than Opera mobile and doesn’t use as much memory. However, the Javascript on our web-apps doesn’t work there.

So I thought, perhaps this browser doesn’t support the latest version of Javascript. Or worse, perhaps it has its own version of Javascript. That would suck greatly.
Anyway, I started to try looking for documentation on the topic, also for a tool to help me debug the problems there.

I found Nokia Mobile Browser Simulator 4.0. It’s Java-based. However, it seems to be hard-coded for Windows, with Windows installer too. Ok so I found a Windows machine, and set it up.

To my dismay, it doesn’t work very reliably. To be precise, it won’t even load the web-apps. While the actual browser in Nokia E70 will display it correctly.

With documentation on the subject (Javascript capabilities of Nokia Mini Map Browser) also very lacking, this is starting to look like a dead end.
Until I found out that the Nokia Mini Map Browser is actually an open source project !

Code named “S60browser”, or “S60Webkit”, it’s available from opensource.nokia.com
There’s hope – if there’s code available, then anything can always be traced / found out.

My sharp-minded readers will quickly realize another thing – yes, it’s basically the same as the Safari browser, the one on Mac OS X 🙂

Nokia Mini Map Browser aka S60browser aka S60Webkit is based on another open source project called WebKit. Which happens to be the foundation used as well by Apple to build their browser, Safari.

Now this is getting interesting 🙂

I dug deeper into these new clues, and began to feel sure that both browser’s cores are indeed identical. Which means that I’d be able to debug the problem with Safari browser.

safari-pref-advanced
I fired up Safari, invoked the Preferences screen, and clicked on Advanced icon. I enabled “Show Develop menu in menu bar”, then I restarted Safari. A new menu then showed up. I chose Develop – Show Web Inspector (also accessible via Cmd-Alt-i)

I got the detailed error message in no time. It’s “Object [object HTMLInputElement] (result of expression document.getElementById(“testForm”).submit) does not allow calls“.
As I already mentioned, the script works on Firefox and Opera, but somehow it doesn’t work on Safari. So it’s Googling time again.

Turn out it’s a generic error message whenever Safari have problems executing a function.
So it could be that the function doesn’t exist. Or the function name is mispelled. Or any other function-calling related problems.
Great, looks like this will cause more questions than it answers…

Thankfully I wasn’t on the wild goose chase for too long. A comment on a blog post gave me the hint I needed :

I gave a form button the *same name* as the function it was calling in its onclick. This error was the result.

Joshua, thank you. That’s exactly what happened in my case 🙂
A line in the script is as follows :

document.getElementById(“testForm”).submit();

While there’s also a button on the same script named, you guessed it, submit :

<input type=”submit” name=submit />

So Safari got confused, and threw this generic error message.

And it’s very easy to fix, I just need to change the button’s name value to something else – and it works now on Safari & Nokia Mini Map Browser, as well as on Firefox and Opera.

I love happy endings 🙂

Moral of the story ? Open source software empowers developers.

And this is not the first time – my MSc thesis was about to fail; when I found ping’s source code on the Internet. It gave me the hint needed to continue the project. The thesis got among the best mark at that year.

With availability of the source, we can learn from the brightest minds on Earth with ease. The knowledge and wisdom become available for all.
Even to the ones with feeble minds, like me.

Here’s another cheer for free(dom) software movement : May the source be with you 🙂

(oh, and also, all hail Google !)

Monty Python Goes Marketing 2.0

Beberapa waktu yang lalu, datacenter yang menghosting salah satu server saya mengirimkan sebuah surat yang mengejutkan – DMCA notice dari Lionsgate Films. 

Surat tersebut menuduh bahwa server saya telah terlibat dalam pembajakan salah satu film mereka, yaitu Transporter 3. Sebuah tuduhan yang sangat serius. Ditambah lagi bahwa server saya tersebut berada di Amerika, sehingga bisa diproses berdasarkan hukum mereka (yang ngawur berat itu).

Masalahnya :

(1) Saya tidak pernah membajak film tersebut 😀

(2) Server tersebut masih kosong, jadi tidak mungkin hal tersebut dilakukan oleh customer saya

Sekedar meyakinkan, saya lakukan search terhadap seluruh isi hard disk server tsb, dan hasilnya memang bersih. Lalu sambil nyengir, saya kirimkan hasilnya ke datacenter saya, yang menerimanya sambil nyengir juga 🙂 sepertinya ini bukan kejadian yang pertama kali, he he.

Ajaib – memang IP address yang tercantum di surat tersebut adalah milik server saya. Tapi padahal kan tidak ada pelanggaran yang saya lakukan. Ha ha ha…  😀  sekedar mendeteksi IP address saja tidak becus. 

Jadi bergidik membayangkan kalau saya adalah warga Amerika – dan kena tuduhan yang keliru seperti ini. Hidup saya bisa hancur berantakan (untunglah nenek Sarah mendapat bantuan dari EFF), walaupun saya tidak melakukan kesalahan apapun.

Anyway, ini adalah salah satu alasan saya sangat mendukung gerakan Creative Commons. Nyaris seluruh foto saya di flickr.com berlisensi bebas. Juga seluruh artikel di blog ini.

Konten yang bebas bisa sangat bermanfaat bagi sangat banyak orang. Saya sudah merasakannya sendiri. Dan karena itu juga berusaha memberikan kontribusi dalam hal ini. 

Tidak itu saja – konten yang bebas juga menguntungkan pemiliknya secara finansial. Ini sudah terbukti berkali-kali selama puluhan tahun.

Contoh: dulu para pemilik kontek protes bahwa VHS / betamax adalah sarana pembajakan. Kemudian mereka menyadari bahwa ini adalah pangsa pasar baru.

Maka  kemudian selama puluhan tahun, mereka meraup keuntungan yang sangat besar dari sini.

Ketika stasiun radio mulai bermunculan, para pemilik konten protes. “Ini adalah pembajakan konten kami, untuk keuntungan para pemilik stasiun radio!“, begitu kira-kira protes mereka.
Belakangan mereka menyadari bahwa ini adalah promosi gratis.  Lagu yang sering diputar di radio cenderung mengalami peningkatan penjualan. Maka kemudian malah terjadi kongkalikong antara pemilik konten dengan pemilik/jaringan stasiun radio – untuk mendongkrak penjualan lagu tertentu.

Walaupun tetap saja mereka berusaha mendapatkan “uang preman” dari stasiun radio…. *sigh*, human’s greed know no bound, indeed.

Di tengah berbagai kekonyolan ini, sebuah kelompok yang terkenal dengan kekonyolannya malah melakukan sesuatu yang brilian. 

Luar biasa – kru Monty Python menyediakan berbagai klip videonya di Youtube.com, dan mengakibatkan peningkatan penjualan DVD Monty Python sampai 23000% !

Di zaman elektronik ini, ada banyak kesempatan. Dan yang akan menang adalah mereka yang kreatif. Kru Monty Python mungkin konyol, tapi mereka bukan orang bodoh & rakus. Maka mereka bisa meraup keuntungannya.

Posting ini saya cantumkan juga di kategori OpenSource, karena ini adalah juga bagian dari keterbukaan. Open software, Open content, malah juga Open hardware — keterbukaan adalah hal yang penting bagi peradaban manusia. 

Selama beribu-ribu tahun, manusia selalu saling membagi penemuan mereka. Sehingga peradaban manusia bisa berkembang tanpa perlu mengulang-ulang melakukan hal yang sama. Dan semua penemuan jadi bisa bermanfaat bagi semua pihak – bukan cuma untuk segelintir orang saja. 

Selamat dan salut sekali lagi kepada kru Monty Python. Semoga teladan yang baik ini bisa ditiru oleh kita semua !

Terlampir adalah surat DMCA dari Lionsgate Films 🙂 

 

Read the rest of this entry »

WordPress, dan blogging, di Indonesia

Satu acara yang saya terpaksa lewatkan dengan penuh sayang adalah Wordcamp Indonesia. Tapi namanya deadline harus dikalahkan terlebih dahulu. Jadi saya gembira sekali ketika ada laporannya di blog Kun.co.ro.

Beberapa informasi yang menarik :

  1. B.Indonesia menduduki rangking ke #3 di WordPress.com, hanya kalah dari b.Inggris & Spanyol
  2. B.Indonesia adalah yang tumbuh tercepat nomor #2 di WordPress.com
  3. Pengguna WordPress.org dan WordPress.com cukup berimbang : ini kejutan yang cukup menarik. Ternyata cukup besar pengguna WordPress yang bisa memasangnya sendiri (download dari wordpress.org, lalu setup)
  4. Update: Ma.tt Mullenwegg mengatakan bahwa kini lebih besar kemungkinan kita mendapatkan uang KARENA blog – bukan DARI blog. Akur sekali, ini juga pengalaman saya selama ini.

Banyak kesimpulan menarik dan potensi peluang yang bisa ditarik dari beberapa data ini.
Satu contoh, jika traffic WordPress.com dari Indonesia menyamai traffic Detik.com (dan mengalahkan Kompas.com), maka dengan data dari poin 3 – berarti traffic WordPress.com DAN WordPress.org bisa 2x lipat dari traffic Detik.com. Wow.

Update: Detil & informasi lebih lanjut bisa dibaca di kanal Wordcamp di Twitter (trims mas Koen dkk).

Inilah kekuatan platform blog yang dimungkinkan dengan software open source. Beberapa dari kita mungkin masih ingat bagaimana blog dulu tidak terlalu meledak ketika toolsnya masih proprietary dan/atau mahal dan/atau tidak terbuka. Kini ketika platform blog telah dibebaskan dengan berbagai software blog open source yang nyaman digunakan, maka kita semua yang meraup manfaatnya.

Terus nge-Blog ! 🙂

Virus di Linux

Salah satu pertanyaan lainnya yang paling banyak ditanyakan di berbagai seminar mengenai Open Source / Linux adalah tentang virus – apakah ada virus di Linux ?

Secara teknis, ya, ada virus di Linux. Itu adalah fakta yang tidak bisa dibantah.
Namun itu belum menjelaskan – karena SEMUA sistim komputer pasti bisa dibuatkan virusnya. Yang lebih penting untuk diketahui adalah kemudahan penularannya. Karena jika ada banyak virus, namun tidak menyebar, maka sama saja seperti dengan tidak ada virus kan?

Karena itu mari kita ubah pertanyaannya :
Apakah mudah bagi virus untuk menyebar di Linux ?

Jawabannya : Tidak 🙂
Bagi seekor virus, sangat sulit untuk menyebar di platform Linux.
Apalagi sampai pada level epidemik, dimana bisa ada jutaan komputer yang terinfeksi setiap harinya. Ini akan sangat sulit terjadi di Linux, dan memang belum pernah ada yang berhasil melakukannya.

Terlampir adalah sebuah email diskusi soal ini dengan kawan saya :

menurut saya linux tidak kebal terhadap virus, hanya bedanya dengan
windows:
– windows sudah lebih banyak yang pakai (pembuat virus tentu saja ingin
“ketenaran” semakin banyak yg terinfeksi akan membuatnya lebih bangga)
– varian linux terlalu banyak –> capek bikin virus yang bervariasi per
distro

beberapa reference:
http://www.desktoplinux.com/articles/AT3307459975.html
http://www.theregister.co.uk/2003/10/06/linux_vs_windows_viruses

Artikel2 ini sudah dibuat sejak tahun 2003. Dan saat ini (desktop) Linux jelas sudah JAUH lebih populer daripada 5 tahun yang lalu – sehingga mustinya sudah jauh lebih menarik untuk menjadi target .

Pertanyaannya: dimana virus Linux ? 🙂

Ada beberapa penyebab kenapa virus sulit berkembang di Linux :

(1) Secure default install : closed services :
Berbagai distro Linux sekarang sudah jauh lebih bijak daripada 5 tahun yang lalu. Misalnya, default install Ubuntu bahkan tidak menjalankan SSH server. Default install berbagai distro Linux sekarang tidak ada menghasilkan open listening port.

(2) Secure default install : non-admin default access :
Berbagai distro Linux sekarang mempraktekkan hal ini dengan baik, dan berimbang dari segi kemudahan vs keamanan : dengan implementasi sudo, maka sehari2 user bisa bekerja dengan produktif dengan aman karena bukan sebagai root user.

(3) Application-level firewall :
Merupakan software terpisah di Windows — di beberapa distro ini adalah layanan yang sudah disertakan secara default. Misal: AppArmor di Suse/Imunix/Ubuntu/dll.

App-firewall kini makin penting, karena makin banyak security hole di aplikasi yang di eksploit — bukan lagi di level operating system.

Dan masih ada beberapa hal lainnya.
Bagi pemerhati topik computer security, sangat menggembirakan melihat bahwa ada tindakan-tindakan proaktif dari berbagai vendor Linux. Dan karena disandarkan pada pondasi security yang solid, Unix/Linux, maka hasilnya juga cukup menggembirakan.
Yaitu tercapainya keseimbangan antara security dengan kemudahan pemakaian.

Menilik semua faktor tersebut, saya kira akan sulit bagi sebuah virus untuk dapat berkembang sampai ke level epidemik — sebagaimana yang terjadi dengan berbagai virus di platform Windows.

Salam, HS

Satu lagi pendapat yang menarik adalah dari John Stewart, Chief Security Officer Cisco. Pada pidatonya di konferensi AusCERT 2008, John menyatakan bahwa karena anti-virus yang ada tidak efektif (komputer tetap bisa terinfeksi), maka sebetulnya sia-sia / tidak ada gunanya.

Dikutip :

By Liam Tung, ZDNet Australia
Posted on ZDNet News: May 21, 2008 5:41:27 AM

Companies are wasting money on security processes–such as applying patches and using antivirus software–which just don’t work, according to Cisco’s chief security officer John Stewart.

Speaking at the AusCERT 2008 conference in the Gold Coast yesterday, Stewart said the malware industry is moving faster than the security industry, making it impossible for users to remain secure.

“If patching and antivirus is where I spend my money, and I’m still getting infected and I still have to clean up computers and I still need to reload them and still have to recover the user’s data and I still have to reinstall it, the entire cost equation of that is a waste.

“It’s completely wasted money,” Stewart told delegates. He said infections have become so common that most companies have learned to live with them.

Jadi kuncinya adalah pencegahan. Jika suatu sistem sulit untuk ditembus, maka virus akan sulit untuk bisa menyebar. Dan pada pembuat virus pun jadi kehilangan minat.

Dengan menggunakan Linux, kita sudah secara efektif memblokir berbagai macam virus / trojan / spyware. Kita jadi bisa bekerja dengan tenang tanpa perlu memusingkan soal virus lagi. Sangat menyenangkan bukan ?

Open Source Software : Terbuka, jadinya tidak aman ?

Hampir pada setiap seminar open source saya mendapatkan pertanyaan-pertanyaan yang menarik. Mulai dari yang lugas & tanpa basa-basi (halo Medan!), sampai yang menanyakan “udang di balik batu” dari gratisnya software Open Source 🙂
Salah satu yang paling berkesan adalah pertanyaan dari seorang peserta yang kebingungan : “kalau source code programnya dikasih, gimana datanya bisa aman?”

Para peserta kemudian mulai bergumam satu dengan lainnya. Mungkin mereka menganalogikan software seperti rumah, dan data seperti isi rumahnya ya. Kalau pintu rumahnya terbuka – bagaimana isi rumahnya mau aman ?

Dan pertanyaan ini bukan cuma muncul satu-dua kali. Salut sekali bisa ada banyak yang mampu berpikir kritis seperti ini. Mereka langsung bisa menyadari hal yang paradoks / bertolak belakang ini.
Kita perlu lebih banyak lagi orang-orang yang bisa berpikir – dan bukan cuma menelan mentah-mentah semua perkataan orang lain.

Saya ucapkan terimakasih untuk pertanyaan tersebut, dan kemudian mulai menjelaskan.

Dimulai dari fakta. Bahwa, beberapa software paling aman di dunia justru adalah yang open source.
Seperti OpenBSD, sistim operasi yang sangat terkenal dengan securitynya. OpenSSH, yang memungkinkan kita mengontrol server-server kita dari jarak jauh dengan sangat aman. Juga jangan lupa OpenSSL, yang memungkinkan jutaan transaksi elektronik setiap hari berjalan tanpa was-was.

Nampak beberapa wajah terkesiap di tengah hadirin. Aneh lho, softwarenya terbuka, tapi kok bisa tetap aman ya?

Saya tersenyum, dan kemudian melanjutkan dengan penjelasan dari fakta tersebut. Agak sulit, karena audiens saya awam / non-teknis, jadi saya musti mencoba jelaskan dengan sesederhana mungkin.
Nah, karena kebetulan audiens kali ini adalah kalangan akademis, jadi saya pakai analogi jurnal ilmiah.

Saya jelaskan, bahwa jurnal ilmiah yang bagus itu adalah yang ada peer review nya kan? Banyak kepala mengangguk, tapi masih bingung apa maksud saya dengan menyebutkan ini.
Jadi saya lanjutkan – bahwa software pun demikian. Jika banyak yang melakukan peer review terhadap software ybs; maka kualitasnya pun juga akan jadi bagus.
Dan, ini bisa terjadi pada software open source, karena source codenya tersedia.

Serempak ada terdengar nada “Oooh” dari hadirin 🙂

Berbagai software open source, terutama yang berurusan dengan soal enkripsi data / cryptography, di review dengan sangat ekstensif oleh para pakarnya. Algoritma cryptography yang bagus memang di desain agar walaupun algoritma dan softwarenya terpublikasi secara luas, namun datanya sendiri tetap aman.

Keterbukaan di open source juga menyebabkan satu fenomena menarik lainnya — jika ada ditemukan security hole, maka biasanya bisa ditutup dengan sangat cepat.
Ini karena semua orang bisa turut berkontribusi untuk membuatkan solusinya.

Berbeda sekali dengan software proprietary, dimana kita musti menunggu vendor ybs dulu untuk membuatkan solusinya. Sementara infrastruktur IT kita sedang diserang melalui security hole tersebut. Beberapa kali kejadian security holes di software proprietary belum juga di patch walaupun sudah diketahui keberadaannya selama bertahun-tahun.
Paling fatal kalau vendornya sudah tidak ada lagi (misalnya: bangkrut). Ya, tamatlah sudah, tidak ada lagi yang bisa menambal lubangnya 🙂

Belum lagi masalah trojan/spyware — pernah kejadian ada “bom” yang disisipkan di software proprietary oleh CIA. “Bom” software tersebut kemudian menyebabkan ledakan pada jaringan pipa gas di Siberia. Kekuatan ledakannya sangat dahsyat (3 kiloton) sampai terlihat dari luar angkasa dan terdeteksi oleh jaringan satelit badan intelijen Amerika sendiri. Mereka sendiri sempat terkecoh & bingung, mengira ada ledakan nuklir di Rusia — tapi kok tidak ada terdeteksi radiasi radioaktif? Ternyata sebetulnya bukan ledakan nuklir, tapi adalah hasil sabotase mereka sendiri 🙂

Pada software open source, karena source code nya tersedia, maka kita bisa melakukan audit untuk meyakinkan bahwa software yang diserahkan tidak ada sisipan “bom” di dalamnya.

Jadi kalau kita serius dengan soal keamanan, lebih selamat menggunakan berbagai solusi open source yang ada. Semoga bermanfaat.

Linus Airways !




Linus Airways !

Originally uploaded by hsufehmi

Here’s something you don’t see everyday – apparently, there’s an airline named Linus. And it’s an Indonesian company. How cool is that ?

Linus Torvalds might chuckle if he finds out about this 🙂

Sorry for the quality of the shot – I was late to realize it, and had only very little time to took the shot. If you can’t see clearly – the Linus Airways banners are the middle and bottom ones.

Linus Airways FTW !

Gartner : 85 persen Perusahaan pakai Open Source

Just stating the obvious that we / FOSS activists have known for a while, anyway this will still very useful to inform people – Open Source sekarang sudah dipakai dimana-mana.

Pengalaman saya, Gartner itu cenderung menyatakan sesuatu yang sudah merupakan kelaziman (stating the obvious). Jarang mereka menyatakan tren-tren baru.
Jadi, sebetulnya ini (penggunaan Open Source sudah merata di mana-mana) sudah terjadi cukup lama.

Hari gini belum pakai Open Source ?
Rugi besar lho 😉

Berita selengkapnya : Gartner : 85 persen perusahaan pakai Open Source

Seminar : Open Source untuk Industri Media

Hari ini AOSI (Asosiasi Open Source Indonesia) mengadakan acara seminar dengan judul “Open Source untuk Industri Media”.

Seminar ini berlokasi di JCC, board room 6, pada pukul 13:00 s/d 15:30, tanggal 12 November 2008.

Jika Anda aktif di bidang media, baik konvensional maupun online, silahkan bisa hadir di acara ini untuk menemukan bagaimana Open Source bisa membantu media Anda.

Pembicaranya adalah Betti Alisjahbana dan Mario Alisjahbana. Mario Alisjahbana adalah Presiden Direktur PT Dian Rakyat dan PinPoint Publications. Betti Alisjahbana adalah Presiden Direktur IBM Indonesia selama 8 tahun, sebelum keluar untuk mendirikan Quantum Business International.

Semoga bermanfaat.

Selamat ulang tahun ke 25, GNU & Free Software (software bebas) !

OK ini memang telat, tapi lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali 🙂

Pada tanggal 2 September, 25 tahun yang lalu, Richard Stallman memulai gerakan Free Software (software bebas – bukan software gratisan). Dulu hanya mempengaruhi komunitas developer, ternyata, sejalan dengan semakin meratanya penggunaan komputer di segala aspek kehidupan, kini Free Software telah semakin dikenal oleh masyarakat umum.

Termasuk oleh Stephen Fry, aktor Inggris yang terkenal dengan perannya di film-film sukses seperti “A fish called Wanda” dan “V for Vendetta”. Perannya di “V for Vendetta” cukup terkenal – disitu dia tewas dihukum mati oleh rezim diktator karena nekat menyimpan sebuah karya literatur terlarang di zaman tersebut, yaitu Al-Quran 😀
Cukup unik (and, at the same time; weird, amused, amazed) mendengar bagaimana karakternya di film tersebut, Gordon Dietrich, yang homoseksual, memuja Quran (this is the second time I’ve encountered such thing) karena “bahasanya yang indah”. Dan dia lebih memilih tewas daripada mengorbankan kebebasannya (untuk menghargai semua hal yang dilarang oleh rezim tersebut).

Hadiah dari Stephen Fry adalah sebuah video khusus yang merayakan hari ulang tahun Free Software yang ke 25. Pada video tersebut, Stephen menjelaskan tentang Free Software & GNU dalam bahasa yang sangat mudah dipahami. Cukup mencengangkan melihat orang tua yang lucu ini (Stephen Fry terkenal sebagai komedian di Inggris) ternyata memahami berbagai konsep dan filosofi dibalik gerakan Free Software. This guy is truly awesome.

Dan dia ternyata merasa tergerak untuk turut mempromosikan soal Free Software ini kepada masyarakat luas.
Saya jadinya tergerak juga untuk menyebarkan video yang unik ini kepada masyarakat kita 😀

Silahkan video Ulang Tahun 25 GNU bisa Anda download dari sini (7 MB)

Jika Anda menggunakan video player yang mendukung subtitle, seperti V L C, silahkan download subtitle Bahasa Indonesia disini. (8 kb)

Versi lainnya :

[ Selamat Ulang Tahun 25 GNU Medium Quality ] (21 MB)

[ Selamat Ulang Tahun 25 GNU High Quality ] (33 MB)

[ Selamat Ulang Tahun 25 GNU Best Quality ] (125 MB)

File video ini adalah dalam format Ogg, yaitu format video yang, tentu saja, bebas tersedia untuk siapa saja. Tanpa batasan apapun.
Panduan untuk setup driver/codec untuk format video Ogg ini bisa dibaca disini.

Selamat menikmati, dan, selamat ulang tahun 25 untuk GNU & Free Software !

Jonathan Schwartz : Open-Source Business Strategy

Now here’s something you don’t see every day – an article about business strategy utilizing open-source, written in clear and no non-sense language. Very easy to understand.

In summary; he recognizes the value of the community behind the open-source movement. He realized that with open-source, it may not be a quick sell. But within several years later, people will be coming at you in droves.

Understandably, this is not something that’s easy to be grasped by average company executives. But Schwartz realized this years ago, and able to explain it in ways that makes it easy to understand.
If you’re in IT business, do NOT miss this article.

Quoted :

All of which is to say – no amount of fear can stop the rise of free media, or free software (they are the same, after all).

The community is vastly more innovative and powerful than a single company.

And you will never turn back the clock on elementary school students and developing economies and aid agencies and fledgling universities – or the Fortune 500 – that have found value in the wisdom of the open source community.

Open standards and open source software are literally changing the face of the planet – creating opportunity wherever the network can reach.

I’m also starting to like this guy.
When his business was threatened by the competitions from open-source camp, he didn’t litigate. He didn’t choose the (seemingly, easy & safe choice). He choose to innovate.

And he’s reaping the benefit now. Even at the times of this financial crisis.

Well done Schwartz. Here’s hoping to the continued success of Sun in the future.

Seminar – Visual & 3D Programming dengan Open Source

20 September 2008, 09:00 @ Universitas Budi Luhur.

Narasi menyusul.

Presentasi :

[ File OpenOffice ] (484 KB)

[ File PDF / Adobe Acrobat ] (1.9 MB)

Cara mudah blokir situs porno dengan Ubuntu – gratis

Saya bersyukur sekali bahwa di cluster saya ada akses Internet unlimited murah-meriah, hasil gotong-royong para warganya. Sudah sangat sering saya terbantu dengan fasilitas ini. Anak-anak pun jadi mendapatkan akses ke dunia yang sangat luas dan bisa menambah wawasan mereka kapan saja.

Namun di balik itu semua, selalu ada aspek negatif yang musti kita waspadai. Tanpa disengaja pun kadang kita bisa nyasar mendarat di situs yang tidak diinginkan. Apalagi jika memang disengaja, amat mudah untuk menemukan situs-situs porno, kekerasan, dan lain-lainnya. Ditambah dengan sifat anak yang selalu ingin tahu, maka kita perlu untuk selalu waspada.

Ada cara yang sangat mudah untuk memblokir situs porno, yaitu dengan memanfaatkan OpenDNS.
Namun kadang, dalam beberapa kasus, ini masih belum mencukupi; kadang masih ada situs yang lewat, dan kadang jadi sering gagal membuka website yang diinginkan (karena OpenDNS agak lambat jika digunakan dari Indonesia).

Jika Anda mengalami masalah-masalah tersebut, dan/atau ingin menikmati fleksibilitas ekstra, dan/atau alasan-alasan lainnya; maka bisa mencoba berbagai software internet filtering yang ada.

Pada saat ini saya sudah setup filter internet dengan memanfaatkan software DansGuardian, di komputer Ubuntu Linux.  Dan daftar situs yang diblokir di update secara otomatis, dengan memanfaatkan daftar blacklist dari Shalla.

Caranya mudah saja :

Read the rest of this entry »

Shard-ing made easy : Scale-out your web-apps to infinity with no code rewrite

I’ve always believed that the best solution is the simplest one. They tend to be more fool-proof, reliable, and easier to maintain in the long run.
That said, I had a hard time believing my own eyes when I found what might be the holy grail of High Availability (HA) and High Performance Computing (HPC) : easy & transparent (no apps recode) sharding, with HSCALE.

A bit about sharding : also known as “shared nothing architecture”, this will enable almost infinite scalability to any system. Google, Facebook, Flickr, MySpace – you name any high-traffic website, and there’s very good chance that they already implemented it in one way or another. Whenever they need more performance, they only need to throw another box into the system, and that’s it. Instant performance gain.
However, there’s a significant drawback – to most, sharding means a total rewrite of your application.

I’ve been providing consultation services to several high-traffic websites. They’re doing pretty well now, but some are about to go to the next level. Where their current standard 4 tier architecture; edge server – webserver – apps server – database, no longer suffices, and will need to scale up (bigger server), or scale out (more servers).
Most, however, could not rewrite their apps for sharding for various reasons; number of resources needed, development time, potential reliability issues, and so on.

Let’s back up a bit (this can be very helpful; sometimes we’re to busy charging forward, as fast as we can – thus missing all the hints we encountered along the way).
If we examine this infrastructure, almost all aspects of it are already easily scalable. Edge servers: check, you can throw another box and instant performance gain. Webserver & Apps server: checked as well, especially with PHP where it already implements the shared-nothing architecture. We can even load-balance them using software and have it outperform and out-feature the hardware load-balancers [1].
So that leaves the database as the bottleneck.

For the database, my requirements are simple (cough) :

  • Scale out, not up : There’s a limit to how big a server can be. Several high-traffic websites (YouTube, MySpace) had chosen this path and they’ve experienced the pain when they hit the dead-end – no more server bigger than what they already have. So it definitely will have to be a scale-out (more boxes) solution.
  • Transparent : No application recode.
  • Easy to maintain : I want a system that doesn’t need constant babysitting. I (we all) have better things to do with my (our) time.
  • Works for MySQL : it’s the most used database for web-apps, currently.
  • Affordable : at least, provides several pricing schemes. Not just one. We all have different needs and budgets.

Yeah, I’m picky. And that caused me serious headache – for weeks I was not able to find anything.

Several that I looked into :

  • MySQL cluster : NDB = memory/RAM-only tables? Full backup/restore everytime we add new server? No thanks.
  • MySQL replication : I looked into single/multiple master – multiple slaves setup. Doesn’t like it (1) I have systems which will need scalability for write ops as well (2) for read ops, caching (especially memcache) can provide better performance gain with less headache (3) It’s Asynchronous – meaning: the user edited his profile, clicked save; and lo, the old profile is still there (because the update hasn’t reached the slaves yet) (4) multiple master scheme seems only safe for up to 2 masters; I don’t fully understand the risks with more than 2 masters (not enough case studies).
  • MySQL partition : Good idea (although doesn’t do vertical / column-level partitioning yet, but that’s ok [2]). There are limits, but it’s not a showstopper for most. However, it doesn’t scale-out.
  • Various MySQL load-balancers, replication, HA solutions : Pick any / several of these : unproven, costs an arm and a leg, proprietary, needlessly complex, need loads of maintenance work, etc.

So it was with great disbelieve when I read the description of HSCALE by Michael Shadle : “Sharding pushed from application level, to transparent DB proxy”.

Here’s the beauty of its simplicity : It’s just a plugin for MySQL-Proxy 🙂
MySQL-Proxy is a high-performance proxying daemon for (guess what) MySQL, created by Jan Knesche – also well-known for Lighttpd: one of the fastest webserver on Earth. Then Peter Romianowski decided that he’ll build his sharding-proxy upon this great foundation.
So we have HSCALE.

Amazing, this solution to high-performance database (HSCALE) is similar to high-performance Apps server (HAproxy) : through proxying 🙂

Configuration is dead simple. Ability to spread queries to multiple backend servers (with some minor limitations, but it’s being actively worked on) – transparent to the application. Version 0.3 will enable us to run multiple instances of HSCALE (to avoid it becoming the bottleneck). And it’s free (do remember to contribute back if your website becomes successful because of it). With MySQL-Proxy’s scripting capability, it provides an easy & clean way to extend it to fulfill your own requirements. Etc.

Currently not many people knows about HSCALE’s existence, so I’m writing this article to let more people know about it.
At the moment HSCALE’s is already making great progress. I’m sure it’ll become better at much faster rate if more people know that it existed. So here it is.
And kudos to Peter Romianowski & Jan Knesche for their software. Here’s cheering for great future of both MySQL-Proxy & HSCALE.

A small FAQ for now, no doubt the list will be bigger as I (and you) found out more about this :

  • Q: So, come again, how does HSCALE works?
    A: First you define the partitioning scheme on HSCALE’s config file. Then it’s all automatic from there, HSCALE will partition / regroup the rows – not your application.
  • Q: What’s the difference then with MySQL’s partition feature ?
    A: You can spread HSCALE’s partitions to multiple databases (meaning: multiple backend servers), while MySQL’s only works on a single database.

OK, my head still hurts from doing marathon reading of so much documentations on this topic (transparent sharding) ! Chances are great that there are errors in this article. If you do find them, please leave a comment so I can fix it. Thanks !

In the meantime, shall we play with HSCALE in the Sandbox? Have fun !

[1] HAproxy seems indeed is the leader of the pack (apps/web server high availability + load balancers) at the moment. It can load-balance 20 Gbps with the CPU 85% idle, have loads of great features, and secure. Even 37signals.com swears by it (and so does several Forbes 500 companies).

[2] MySpace found out that vertical-partitioning does not scale.

AOSI – Asosiasi Open Source Indonesia

Alhamdulillah, setelah bekerja selama sekitar 1 bulan (sesuai dengan target yang diberikan), akhirnya AOSI (Asosiasi Open Source Indonesia) resmi terbentuk pada tanggal 30 Juni 2008 kemarin ini. Pada acara di gedung Depkominfo tersebut hadir 15 anggota pendiri berikut tim formatur, dan juga jajaran pejabat Depkominfo serta Depristek. Acara berlangsung ringkas, penuh semangat dan komitmen.

Ini bukan hasil akhir, namun adalah awal dari perjuangan kawan-kawan di AOSI. Mohon doa restunya agar mereka bisa mengemban amanah ini dengan baik, dan bisa mencapai berbagai tujuan AOSI tanpa masalah yang berarti.

Liputan mengenai acara pendiriannya saya kira sudah banyak dibahas oleh berbagai media massa, beberapa saya lampirkan di akhir posting ini. Jadi disini saya akan lebih banyak berbagai mengenai berbagai cerita di balik layar dan di seputar pendirian AOSI saja.

Awalnya adalah usulan saya mengenai pembentukan Aliansi Open Source Indonesia (AOSI), yang saya sampaikan kepada ibu Lolly Amalia / Depkominfo pada tanggal 26 Mei 2008. Di luar dugaan, ternyata ide tersebut langsung disambut dan ditindak lanjuti dengan sangat cepat, dan langsung diberi bentuk yang lebih riil – yaitu sebagai Asosiasi (Open Source Indonesia).
Pada tanggal 28 Mei 2008 kemudian langsung diadakan forum diskusi di acara IGOS Summit 2, dimana AOSI disepakati. Dan terus dilanjutkan dengan acara penutupan IGOS Summit 2, yang sekaligus juga mengumumkan mengenai AOSI untuk pertama kalinya, serta menunjuk 5 orang sebagai tim formaturnya; ibu Betti Alisjahbana, Bpk. Rusmanto, Bpk. Sumitro Roestam, Bpk. Teddy Sukardi, dan saya sendiri.

Sedikit kilas balik – sebetulnya ide Asosiasi ini sudah lama. Kawan-kawan aktifis Open Source lainnya seperti Effendy Kho (Ase) dan juga yang lainnya sudah menyuarakan ide ini sejak 5 tahun yang lalu. Pak Sumitro Roestam malah sudah mengusulkan nama AOSI di tahun 2003. Kalau tidak salah, beliau malah sudah sempat langsung mencadangkan domain name aosi.org 🙂

Jadi sebetulnya ide saya ini tidak orisinil. Cuma saja mungkin situasi ketika itu belum memungkinkan, sehingga belum bisa diwujudkan pada saat tersebut.

Kembali ke beberapa minggu yang lalu – meeting pertama tim formatur AOSI diadakan di kantor PANDI, gedung Arthaloka lt. 13.
Sedikit melenceng lagi – disitu kita juga sempat membahas sekilas mengenai PANDI. Sangat menarik karena saya tahu beberapa sejarah pengelolaan .ID – sejak pertama kali didapatkan berkat usaha dari pak Samik, kemudian dikelola oleh para aktivis Internet, sampai kemudian terjadi konflik yang cukup mengenaskan. Pak Budi Rahardjo dan rekan-rekannya mengalami berbagai kerugian (waktu, pikiran, tenaga, dst) pada masa konflik tsb. Pada intinya PANDI adalah bantuan solusi dari pemerintah untuk menyelesaikan konflik pengelolaan TLD .ID tersebut. Kalau saya tidak salah dengar, bentuk PANDI adalah yayasan, sehingga non-profit (CMIIW)
Mudah-mudahan dengan demikian maka PANDI bisa banyak berperan aktif dalam memajukan dunia Internet di Indonesia.

Acara pertemuan pertama AOSI tersebut berjalan cukup lancar, dan semua tim formatur alhamdulillah bisa hadir. Pada pertemuan-pertemuan selanjutnya tidak pernah bisa lengkap lagi seperti ini, karena memang tim formatur ini isinya orang sibuk semua (kecuali saya yang sok sibuk 🙂 ); ibu Betti setelah lepas dari IBM pada tanggal 1 April 2008 kemudian membentuk PT Quantum Business International, yang membawahi beberapa bisnis. Pak Rusmanto menjabat posisi di berbagai lembaga seperti Nurul Fikri, Infolinux, YPLI – dan juga sering berkeliling Indonesia untuk mempromosikan Open Source. Pak Sumitro Roestam juga aktif mempromosikan Open Source serta menjabat sebagai Ketua MASTEL. Pak Teddy memiliki beberapa perusahaan dan juga adalah ketua FTII (Federasi Teknologi Informasi Indonesia), dimana nanti AOSI akan menginduk kesini pula.

Sebagai pimpinan rapat secara otomatis kami menyerahkan kepada ibu Betti. Dan tidak salah, terlihat jelas pengalaman beliau memimpin di IBM selama bertahun-tahun pada meeting tersebut. Rapat yang biasanya di Indonesia lazim menyasar keluar dari topik dan memakan waktu lama dan tanpa hasil yang jelas, kali ini bisa berlangsung dengan efisien serta tetap menarik.

Dengan cepat; tujuan, target, visi & misi AOSI selesai didefinisikan. Demikian pula agenda untuk pertemuan berikutnya. Kami semua kembali dengan semangat yang tinggi, karena kini sudah semakin jelas kelihatan berbagai manfaat yang bisa dicapai oleh AOSI.

Pertemuan-pertemuan selanjutnya terus berlangsung seperti itu. Sangat menyenangkan. Lokasi pertemuan juga kemudian ada dilakukan di kantor ibu Betti. Namun, waktu terus mendekat ke batas waktu 1 bulan yang telah diumumkan.

Tanpa terasa, tiba-tiba kami sudah sibuk secara cukup intens mengenai penyelenggaraan acara peresmian AOSI ini. Sampai menit-menit terakhir saya masih menerima revisi daftar anggota pendiri. Demikian juga pak Sumitro masih terus mendapat masukan-masukan untuk revisi AD/ART nya. Menilik intens nya persiapan acara tersebut, sangat melegakan ternyata kemudian acara dapat berlangsung dengan sangat baik tanpa masalah. Bahkan Pak M. Nuh / Menkominfo yang baru diberitahu juga kemudian langsung menyanggupi untuk hadir. Tentu ini sangat memberikan semangat kepada semua an

ggota pendiri dan hadirin, apalagi ketika dengan jelas Menkominfo menyatakan bahwa komitmen dukungan Depkominfo kepada AOSI adalah dukungan moral dan riil. Depkominfo akan berpartner & bekerjasama secara aktif dengan AOSI.

Di balik itu tetap saja ada beberapa kekurangan pada acara ini. Misalnya, beberapa institusi Open Source di Indonesia sempat nyaris tidak diundang sebagai anggota pendiri, seperti Linuxindo. Beberapa malah akhirnya tidak sempat kami undang 🙁 seperti  Bajau, Indolinux, Ardelindo, Meruvian, dan banyak lagi yang lainnya. Mengkoordinasikan 15 anggota pendiri itu saja kami sudah cukup pontang-panting.
Mudah-mudahan keterbatasan kami tersebut dapat dimaklumi dan tidak mengecewakan. Anyway, status anggota pendiri sebetulnya sama saja dengan anggota biasa, cuma saja anggota pendiri itu hadir pada acara peresmian AOSI ini – itu saja. Tidak lebih.

Tentunya masih ada banyak sekali pertanyaan seputar AOSI ini.
Misalnya, saya mendapat pertanyaan mengapa komunitas JUG (Java User Group) tidak diundang pada acara peresmian AOSI. Saya jawab karena keterbatasan waktu kami, sehingga ada banyak pihak yang seharusnya diundang namun tidak sempat kami undang; dan saya pribadi minta maaf untuk hal tersebut. Jawaban tersebut sepertinya cukup memuaskan kawan kita tersebut, dan beliau mengucapkan selamat atas telah diresmikannya AOSI.

Namun saya sendiri baru sadar belakangan – Asosiasi ini adalah format untuk institusi komersial. Jadi, selama ini sudah ada banyak komunitas non-profit Open Source di Indonesia. YPLI, KPLI, JUG, Yayasan Ubuntu Indonesia, dan seterusnya. Tetapi, komunitas Open Source yang komersial belum ada. Pada gilirannya, ini adalah suatu kekosongan yang perlu diisi, karena telah terbukti menyebabkan berbagai ketimpangan dan masalah pada berbagai implementasi open source di Indonesia.

Nah, dengan adanya AOSI, bersama-sama dengan para aktivis Open Source, Akademisi, dan Pemerintah; maka diharapkan ekosistem Open Source Indonesia sudah menjadi lengkap. Dan karena itu gerakan Open Source di Indonesia bisa jadi semakin efektif lagi.

Mudah-mudahan kami (tim formatur) dan (nantinya) pengurus Asosiasi dapat melayani semua pertanyaan & harapan-harapan dari semua pihak dengan baik.

Terlampir di akhir artikel ini adalah definisi AOSI, kriteria sukses, serta rencana program kerja.

Artikel terkait :

Bersatunya para pendukung open source
AOSI resmi terbentuk
Komunitas Open Source Indonesia ‘Merapat’
Asosiasi open source dibentuk
Asosiasi Open Source Indonesia resmi berdiri

AOSI – perhimpunan organisasi pencinta, penggiat, pengembang, pemakai, pendidik dan pendukung open source yang bekerja sama membangun sinergi untuk mencapai sukses bersama

Ukuran Keberhasilan AOSI

1.Citra open source di mata masyarakat yang positif

2.AOSI menjadi sumber terpercaya dalam menentukan strategi TIK nasional

3.Indonesia melakukan adopsi open standard secara konkret (ODF dll)

4.Meningkatnya pangsa pasar dan jumlah pengguna Open Source (perusahaan, perorangan, pemerintah)

5.Tersedianya produk dan jasa open source untuk berbagai kebutuhan utama

6.Tersedianya piranti pendukung peripherals untuk produk open source (drivers, utilities)

7.Pemerintah memberikan prioritas pengadaan pada open source

8.Unggulnya kompetensi nasional TIK dengan memanfaatkan open source khususnya di bidang jasa dan pengembangan software

9.Adanya program dan regulasi di departemen terkait di pemerintahan  untuk mendukung open source

10.Pendidikan IT di sekolah dilakukan berbasis open source

11.Menurunnya kesenjangan digital di Indonesia sebagai hasil pemanfaatan open source

12.TIK lebih murah dan terjangkau sebagai hasil dari persaingan yang lebih sehat

13.Indonesia bisa mengeksport software aplikasi berbasis

14.Ketersediaan infrastruktur dukungan untuk pengguna open source

15.Bisnis TIK berbasis open source tumbuh secara sehat dan maksimal

16.Terjadi sinergi yang kuat antar  lembaga-lembaga anggota AOSI

17.Layanan publik dari pemerintah maupun swasta tersedia/mendukung open source (antara lain internet banking, pajak, pemesanan tiket, perijinan)

PROGRAM KERJA

Program 30 hari

1. Mendata Para Pebisnis Open Source

2. Terbentuk Kepengurusan Sementara

3. Mengembangkan Keanggotaan

4. Portal AOSI.or.id

Program 100 hari

1. Kepengurusan tetap terbentuk

2. Sosialisasi Open Source by application & industry

3. Training : Technical & Business Skill

4. Focus Group Discussion dengan Pemerintah : Kominfo, Ristek, Diknas, Keuangan Pajak, Depdagri, Deperin Telematika untuk membahas program & regulasi untuk mendukung berkembangnya open source

5. Roadshow, Exhibition & Publikasi Perkembangan Open Source

6. Ensure more drivers availability

7. Membangun Data Base Organisasi pengguna open source

Program 1 Tahun

1. Demo Center di kantor AOSI untuk berbagai aplikasi FOSS

2. AOSI sebagai marketing hub dari open source

3. AOSI go International

Tambahan – DAFTAR PENGURUS AOSI

Ketua Umum – Betti S Alisjahbana
Wakil Ketua 1 – Rusmanto
Wakil Ketua 2 – Sutiono Gunadi
Sekretaris Jenderal – Sumitro Roestam
Bendahara – Soegiharto Santoso

Bidang Di Bawah Wakil Ketua 1

Bidang Regulasi dan Hukum – Aulia Adnan
Bidang Pendidikan dan SDM – Nurlina
Bidang Pengembangan Teknologi – Harry Sufehmi
Bidang Dukungan Teknis dan Layanan Publik – Adi Siswanto

Bidang Di Bawah Wakil Ketua 2

Bidang Kerja-sama Luar Negeri – Gunawan Rianto
Bidang Riset Pasar dan Promosi – Widjaja
Bidang Pengembangan Model Bisnis – Akmaloni

IGOS Summit 2 : Penghargaan untuk Yayasan Ubuntu Indonesia




PHOT0006

Originally uploaded by hsufehmi

Zahris dengan bangga memamerkan sertifikat penghargaan untuk Yayasan Ubuntu Indonesia, atas berbagai kiprah dan sumbangsihnya di bidang open source Indonesia.

Selamat untuk semua kawan-kawan yang telah memungkinkan ini ! You’re the best ! 😀

BONUS : [ Foto-foto dari acara IGOS Summit 2 ]

War Stories : LinkedIn.com

Cerita dari garis depan selalu menarik untuk dibaca. Tidak terkecuali cerita-cerita dari garis depan para praktisi IT; dan cenderung lebih menarik karena tidak ada korban jiwa 🙂
Paling korban server, hehe… anyway.

Beberapa hari yang lalu saya menemukan kisah detail mengenai “jeroan” LinkedIn.com
Saya langsung tertarik – LinkedIn.com adalah satu-satunya social networking website yang saya ikuti. Ya, saya tidak punya account Friendster / Facebook / Orkut / dst. So sue me 🙂
Sekilas situs LinkedIn.com terlihat sederhana. Namun saya yakin detail internalnya pasti sangat kompleks. Dan saya tidak keliru.

Oren Hurvitz menemukan 2 presentasi dari tim teknis LinkedIn.com di situs SlideShare.net, yaitu sbb :

Oren kemudian membuat ringkasan dari presentasi-presentasi tersebut di blognya.
Dikutip dari http://hurvitz.org/blog/2008/06/linkedin-architecture :

Site Statistics

  • 22 million members
  • 4+ million unique visitors/month
  • 40 million page views/day
  • 2 million searches/day
  • 250K invitations sent/day
  • 1 million answers posted
  • 2 million email messages/day

Software

  • Solaris (running on Sun x86 platform and Sparc)
  • Tomcat and Jetty as application servers
  • Oracle and MySQL as DBs
  • No ORM (such as Hibernate); they use straight JDBC
  • ActiveMQ for JMS. (It’s partitioned by type of messages. Backed by MySQL.)
  • Lucene as a foundation for search
  • Spring as glue

Salah satu komponen di infrastruktur mereka yang paling mencengangkan adalah “The Cloud” :

The Cloud

  • The Cloud is a server that caches the entire LinkedIn network graph in memory.
  • Network size: 22M nodes, 120M edges.
  • Requires 12 GB RAM.
  • There are 40 instances in production
  • Rebuilding an instance of The Cloud from disk takes 8 hours.
  • The Cloud is updated in real-time using the Databus.
  • Persisted to disk on shutdown.
  • The cache is implemented in C++, accessed via JNI. They chose C++ instead of Java for two reasons:
    • To use as little RAM as possible.
    • Garbage Collection pauses were killing them. [LinkedIn said they were using advanced GC’s, but GC’s have improved since 2003; is this still a problem today?]
  • Having to keep everything in RAM is a limitation, but as LinkedIn have pointed out, partitioning graphs is hard.
  • [Sun offers servers with up to 2 TB of RAM (Sun SPARC Enterprise M9000 Server), so LinkedIn could support up to 1.1 billion users before they run out of memory. (This calculation is based only on the number of nodes, not edges).

Luar biasa ! 😀

Presentasi teknis LinkedIn.com kemudian ditutup dengan beberapa scaling tips :

  • Can’t use just one database. Use many databases, partitioned horizontally and vertically.
  • Because of partitioning, forget about referential integrity or cross-domain JOINs.
  • Forget about 100% data integrity.
  • At large scale, cost is a problem: hardware, databases, licenses, storage, power.
  • Once you’re large, spammers and data-scrapers come a-knocking.
  • Cache!
  • Use asynchronous flows.
  • Reporting and analytics are challenging; consider them up-front when designing the system.
  • Expect the system to fail.
  • Don’t underestimate your growth trajectory.

Detail selengkapnya bisa ditemukan di blog Oren Hurvitz, dan di file asli presentasinya.

Selamat menikmati !

Seminar: All about Ubuntu – FKI @ JCC

Iseng-iseng pagi ini saya melihat-lihat kumpulan draft yang ada di blog saya, lha ternyata saya belum posting soal hasil seminar ini tho ! 😀 Alamak…. kirain sudah, hihihi.
Padahal sudah banyak event selanjutnya, hehe… termasuk seminar Ubuntu lagi di JHCC dengan jumlah peserta yang jauh lebih banyak lagi daripada yang ini.

sufehmi @ FKI

Anyway, ya inilah kebiasaan saya yang terpaksa dilakukan karena keterbatasan waktu yang ada — ketika ada waktu luang, saya langsung posting banyak sekaligus. Nah, kemudian posting tersebut akan terus muncul satu per satu secara otomatis, walaupun sebetulnya pada saat tersebut saya sedang tidak menyentuh blog saya. Sangat membantu sekali.
Cuma ya jadinya begini, kadang-kadang ada posting yang belum selesai, tapi lupa saya follow up 😀

OK, kembali ke seminar Ubuntu; yang saya masih ingat adalah keterkejutan saya karena ramainya peserta. FULLY BOOKED, sejak ***beberapa hari*** sebelum acara 😀
Absolutely awesome !
Alhamdulillah respons dari masyarakat sangat antusias. Kami jadi bertekad untuk berusaha melayani dengan sebaik-baiknya agar tidak mengecewakan.

Acara dibuka oleh Andi Darmawan, ketua komunitas Ubuntu Indonesia. Pada sesi tersebut diperkenalkan mengenai Ubuntu, serta demonstrasinya secara live. Mungkin kita sudah biasa menggunakan Ubuntu sehari-hari, namun bagi banyak orang ini masih merupakan sesuatu yang baru dan sangat menarik. Tidak lupa juga didemokan berbagai efek 3D built-in dari Ubuntu — yang juga bisa dinikmati bahkan tanpa perlu ada 3D accelerator card di komputer Anda !
Sangat memikat tentunya.

edi setiawan @ FKI

Kemudian dilanjutkan dengan selingan ringan yaitu film Elephants Dreams, film pertama di dunia dengan lisensi open source (creative common), dan juga dibuat 100% dengan software open source.
Hasilnya tidak kalah dengan film-film dari raksasa Hollywood. Hadirin nampak menikmatinya, dan saya sendiri (karena dulu sempat berkutat di bidang 3D rendering / animasi secara amatir) sangat terpukau dengan apa yang saya saksikan.
Dulu bidang ini hanya bisa dilakoni oleh mereka yang memiliki akses ke software 3D dengan harga yang luar biasa mahal. Kini, siapa saja bisa menikmatinya.
Bravo open source !

Setelah itu acara dilanjutkan oleh Edi Setiawan dari KSL-UBL (Kelompok Study Linux – Universitas Budi Luhur), yaitu berupa tutorial Blender. Terus terang pada saat ini saya tidak terlalu bisa memperhatikan, karena sedang sibuk memeriksa ulang bahan presentasi saya.
Padahal saya juga ingin tahu secara lebih detail mengenai Blender sebetulnya. Nasib…. 🙂

Terakhir giliran saya, dimana kemudian saya membawa materi seputar Ubuntu dan pemanfaatannya secara riil (perusahaan, institusi, dst), dan kemudian dilanjutkan dengan sesi tanya jawab.
Surprise – animo peserta sangat luar biasa. Sesi tanya jawab akhirnya terpaksa saya cut, karena kita melebihi batas waktu yang diberikan 😀
Sangat banyak pertanyaan yang disampaikan. Memang informasi seputar Linux/Ubuntu masih sangat diperlukan oleh masyarakat kita. Dan dari setiap pertanyaan, juga menjadi diskusi yang sangat menarik. Ini adalah salah satu tantangan kita, para aktivis open source, yaitu untuk bisa mendengar pertanyaan mereka, dan kemudian menyampaikan jawaban/solusi yang mereka butuhkan.

Tidak mudah, makanya namanya adalah “tantangan” 🙂

Setelah melewati batas waktunya, akhirnya seminar ini berakhir. Tidak lupa kami menyampaikan banyak terimakasih kepada tim majalah CHIP Indonesia yang telah berkenan mengundang kami untuk mengisi acara tersebut.
Semoga selanjutnya makin banyak kerjasama yang bisa kita lakukan, Amin.

Dan tentu saja terimakasih kepada semua peserta & tim ubuntu indonesia yang telah hadir. Semoga acara-acara kita selanjutnya terus semakin sukses.
Maju terus open source Indonesia !

Firefox shortcuts

Salah satu hal yang menyenangkan dalam menggunakan Firefox adalah kelebihannya dari segi accessibility — Anda bisa dengan mudah menggunakannya baik dengan mouse maupun keyboard.
Ada banyak shortcut keyboard maupun mouse di Firefox, sehingga Anda bisa browsing dengan nyaman dengan menggunakan browser ini.

Beberapa yang biasa saya gunakan adalah sbb :

  • Ctrl-T : buka tab baru
  • Ctrl-W : tutup tab
  • Ctrl-PgUp/PgDn : pindah ke tab sebelum/sesudah
  • Alt-D : memindahkan cursor ke address bar, lalu langsung ketik URL yang ingin Anda buka
  • Ctrl-T lalu Tab : membuka tab baru, dan memindahkan cursor ke search bar. Ketikkan keyword yang ingin Anda cari, tekan Enter, dan langsung dapatkan hasilnya
  • Ctrl-[left click] : membuka link di tab baru, di background (tab yang sedang aktif tidak berubah)
  • Ctrl-Shift-[left click] : membuka link di tab baru, dan tampilkan tab baru tersebut
  • Ctrl-F : membuka search bar, ketik keyword yang ingin Anda cari dan tekan Enter. Untuk menemukan yang berikutnya, tekan Alt-N
  • Ctrl-F5 : hard reload — memaksa Firefox untuk reload ulang halaman ybs dari server, bypass cache. Kalau Anda berkali-kali menekan tombol reload tapi yang muncul masih halaman yang lama, coba tombol ini, pasti akan berhasil memaksa server membuat ulang halaman tsb.
  • Alt-[kiri /kanan] : Back / Forward
  • Ctrl-[mouse wheel] : mengubah ukuran huruf / font dari website ybs
  • F7 : membuat kursor muncul di halaman ybs, dan memungkinkan kita untuk memilih teks dengan menekan tombol Shift-[panah]. Tekan F7 lagi untuk menghilangkan kursor.
  • Tab : pindah dari field yang ada ke field yang lain

Semoga membantu Anda untuk semakin produktif dalam menggunakan browser yang canggih ini.

Games @ Linux

Secara pribadi, games kini bukan masalah lagi di Linux. Ada sangat banyak pilihan game berbasis Flash di Internet. Banyak yang kualitasnya bahkan lebih bagus daripada game yang berbayar !
Walaupun mungkin gambarnya tidak terlalu bagus, tapi dari segi gameplay, sangat banyak game Flash yang jauh lebih superior.

Edit : Berikut ini adalah beberapa situs game Flash yang bisa Anda coba :
(1) Kongregate.com
(2) Games.co.id

Anyway, tentu saja masih ada yang mencari software game di Linux. Sekarang ternyata zaman sudah sangat berubah. Dulu Linux biasa saya gunakan hanya untuk bekerja atau untuk menjalankan komputer server, ternyata kini sudah sangat banyak games berkualitas bagus yang bisa dijalankan di Linux.

Chris telah mencantumkan dan mereview 25 games paling bagus yang berjalan di Linux. Wah, bagus-bagus euy 🙂
Dan daftar tersebut semakin lengkap dengan informasi-informasi tambahan di komentar para pengunjung.

Masih ada game Windows yang ingin Anda mainkan di Linux ? Tidak masalah, pasang saja PlayOnLinux.
Gitu aja kok repot 🙂

OK, kembali ke… laptop Village Defense !

The Future : Open Source HARDWARE

We owe a lot of the latest advancements of IT to the open source movement. There’s no question now that without open source software, we would be so much backwards, and various computer-based enhancements would not be as widely spread & used in our daily lives as today.
Because open source software are free from various limitations (legal, secrecy, etc), it can be used in more places and more situation than the proprietary ones.

So what’s next ? Actually, or ideally, this should be the predecessor to the open source software movement, but I guess, as always, better late than never — open source hardware. Let’s welcome it together.
There are not too many of it at the moment (especially when compared to its software-based ones), but as the concept spreads, expect more to show up.

Personally, I was first attracted to Open Hardware because of the OpenBIOS project. BIOS is the small chip which boots up your computer. But back in the DOS era, you’ll also need it to access various hardware in your computer.
With proprietary BIOS, it was quite unpleasant. Some BIOS are unstable. Some are low performance, dragging the whole computer with it. And when you need it (for your software to perform), it’s a royal pain.

OpenBIOS enable bios to be robust, stable, (screaming) fast (can you say “my cluster boots in 3 seconds” in three seconds ?).
It single-handedly confirmed the need for & benefit of open source hardware.

More and more people are working on various open hardware projects. But the one most interesting today is the RepRap 3D printer.

A 3D printer by itself is already a very interesting stuff. Since these printers prints in 3D, not 2D, the results can be, well, anything.
Then there’s this feature where RepRap (REPlicating RApid Prototyper) can replicate / create itself. No kidding.
AND the hardware is open source. Way too cool.

I want one ! (too predictable 🙂 )

And we can expect more on this topic. OScar, OScav, OSGV, and several others are all projects aiming to create open source car. Yes, car. Those 4 wheeled vehicles 🙂
For the disabled, there’s OpenProsthetics.org.
Fancy yourself a robot? Here’s an open source one, Leaf.
And if you’re looking for world domination, OpenStim and their open source brain stimulator might fit the bill.

Looks like it will be big pretty soon. And when it does, we will benefit from it as well.
Kudos to them all.

Further reading : [ Open source hardware @ Wikipedia ]

            








SEObox: Web Hosting Murah Unlimited Komik Indonesia Homeschooling Indonesia