SEObox: Web Hosting Murah Unlimited Homeschooling Indonesia

Archive for September 24th, 2007

Kita Bisa Bersatu

Oleh : Dr. T. Djamaluddin
Diposting pertama kali di milis Isnet.org

Peneliti Utama Astronomi dan Astrofisika, LAPAN Bandung
Anggota Badan Hisab Rukyat Jawa Barat dan Depag RI

Silahkan disebarkan seluas-luasnya. Terimakasih.

Alhamdulillah, Wapres JK telah memfasilitasi pertemuan dua pimpinan ormas Islam terbesar di Indonesia, NU dan Muhammadiyah pada Senin 14 September 2007. Ini menjadi awal sangat penting sebagai komitmen tingkat tinggi dalam mencari titik temu penentuan awal bulan Islam, khususnya terkait penentuan awal Ramdhan, Idul Fitri, dan Idul Adha.

Mari kita upayakan mencari titik temu dengan masing-masing pihak maju selangkah menujuk kriteria baru yang disepakati. Kini disadari, masalah utama bukanlah perbedaan hisab (perhitungan) dan rukyat (pengamatan), tetapi kriterianya. Saat ini sesama penganut hisab bisa berbeda keputusannya karena beda kriteria. Muhammadiyah dengan kriteria wujudul hilal dan prinsip wilayatul hukmi telah mengumumkan Idul Fitri jatuh pada 12 Oktober 2007. Sementara Persis dengan kriteria wujudul hilal di seluruh Indonesia memutuskan Idul Fitri 13 Oktober 2007. Sementara itu dengan kriteria beda, sesama penganut rukyat juga bisa berbeda keputusannya. Kasus 1998 dan 2006 menunjukkan terhadap kesaksian rukyat, ada pihak yang menerimanya dan ada yang menolak, karena perbedaan
kriteria.

Mari kita belajar pada kesepakatan kriteria jadwal shalat. Kasus penentuan jadwal shalat sangat mirip dengan penentuan awal bulan.
Dalilnya berdasarkan pengamatan (rukyat) fenomena di langit yang menunjukkan waktu-waktu shalat. Setelah ilmu hisab berkembang, maka dirumuskan fenomena di langit itu terkait dengan posisi matahari. Ada berbedaan kriteria soal posisi matahari itu, misalnya untuk waktu shubuh
ada yang menyebutkan jarak zenit 110 derajat atau 108 derajat. Perbedaan waktunya bisa sekitar 10 menit dan itu bisa terkait dengan batal tidaknya puasa ketika mengakhiri sahur.

Tanpa kita sadari bersama, semua ormas Islam di Indonesia sudah bersepakat dengan kriteria jadwal shalat yang ditetapkan Departemen Agama. Kini ada yang masih melihat fenomena langit seperti fajar, terbit, zawal (tengah hari), panjang bayangan, terbenam, dan syafak merah untuk menentukan masuk waktu shalat atau belum. Banyak pula yang sepenuhnya percaya pada jadwal yang sudah dihitung. Rukyat dan hisab sama-sama dihargai dan dengan kriteria yang sama, kita bisa bersepakat dalam penentuan waktu shalat.

Belajar pada kesepakatan itu, kita juga bisa mengupayakan kriteria awal bulan yang berlaku bagi metode hisab dan rukyat. Secara astronomis itu mudah, hanya perlu kesepakatan dan penyesuaian dengan syariat. Bila tidak ada kendala aturan organisasi, pada dasarnya kriteria tersebut bisa segera ditetapkan untuk menentukan Idul Fitri mendatang. Tetapi bila ada kendala aturan organisasi, maka penerapan kriteria baru bisa ditunda tahun mendatang. Tetapi kita pun masih punya peluang bersatu dalam merayakan Idul Fitri mendatang.

Penentuan Idul Fitri adalah masalah ijtihadiyah. Ada satu dalil yang menyebutkan Rasulullah mengajarkan kemungkinan menunda shalat Idul Fitri. Pada hari terakhir Ramadhan Rasulullah SAW masih berpuasa. Pada siang hari datanglah informasi bahwa hilal awal Syawal telah terlihat. Rombongan yang datang tahu bahwa itu sudah masuk 1 Syawal, tetapi menunda shalat Idul Fitri sampai besoknya sesuai perintah Rasulullah, walau puasa sudah dibatalkan.

Analogi dengan dalil itu, dengan dasar menjaga ukhuwah (persaudaraan) bisa saja saudara-saudara kita yang meyakini Idul Fitri 12 Oktober pada hari itu tidak berpuasa. Tetapi shalat idul fitri bisa bersama menunggu keputusan pemerintah. Bila itu diterima, shalat Idul Fitri bisa seragam, syiar Islam bisa diperkuat, dan ukhuwah dapat terjaga.

Camino : fastest web browser for Mac ?

Sometime ago I ranted about the fact that Firefox sucks when opening loads of ajax-ed websites. The posting, however, tend to draw more flame than discussion for its solution, unfortunately. Maybe I titled the post too harshly, as you can read the flame that ensued in a forum thread regarding this topic. But anyway, it’s still a fact.

A few days ago however I found a possible solution for it - Camino.
The description from Apple’s download site is “Mac OS X native web browser combining the Gecko rendering engine with Aqua user interface.”

I found this interesting.
Firefox uses XUL for its user interface, which is rendered by its internal Javascript engine which also renders the opened websites. Therefore, a slow ajax-ed website will also slow down Firefox’s user interface, or even making it “hang”.

Since Camino uses Mac OS X’s Aqua for its user interface, I guessed it will not suffer from the same problem as Firefox.

So far, I think it’s been proven true :D
I’ve been browsing heavily with Camino v1.5.1 for several days now, and it’s on par with Opera, if not faster.

Here’s saying a big THANK YOU to the people at the Camino Project team.
What a relief it is to be able to browse with the Gecko rendering engine again, without the slow down of Firefox.

Gripes

No product is perfect, of course. Camino, for example, doesn’t support Firefox extensions. This is only natural, since it doesn’t have XUL, which is required by the extensions.

However, feature-wise, it’s already quite fully loaded. And you can add some more features to it via the nice PimpMyCamino.com website.

Now I’m happily browsing at full speed on this 512KB internet connection :)

Summary

If you’re using Mac OS X, do give Camino a try. If you are not, you can try Opera,

By the way; Safari sucks. Apple says that it’s the fastest browser - hello ? No bloody way :)
While Firefox usually chokes up when I opened about 25 websites simultaneously, Safari already choked on about 10 websites, or less. And while Firefox will recover after a while, or restore your session if it crashed, this is not the case with Safari.
Only use it for light browsing, or avoid it altogether.