Monthly Archives: November 2007

Ngadino, Pembersih Jamban yang Mampu Pergi Haji

Saya telah ditampar, secara virtual, pada hari ini. Setelah membaca berita yang terlampir dibawah. Menentang semua logika & perkiraan, seorang pegawai negeri bagian kebersihan bisa pergi berangkat menunaikan ibadah haji.
Walaupun saya sudah naik haji, namun istri saya belum. Jadi masih ada “hutang” juga sebetulnya.

Mudah-mudahan saya bisa meniru teladan Pak Ngadiono ini dengan baik. Amin.

Republika – Kamis, 22 Nopember 2007
Ngadino, Pembersih Jamban yang Mampu Pergi Haji

Pekanbaru-RoL–Ngadiono (47) hanyalah seorang penjaga sekolah dasar yang menyambil sebagai pembersih jamban di sebuah pasar tradisional di Ujungbatu Kabupaten Rokan Hulu (Rohul), Riau. Tapi siapa yang menyangka petugas kebersihan ini mampu pergi haji? Sebab gaji sebagai penjaga sekolah dan upah membersihkan kakus tidaklah seberapa.

“Dia mampu karena niat dan keinginannya yang kuat,” ujar Kepala Dinas Pendidikan Rokan Hulu Hj Efie di Ujungbatu seperti dilaporkan Antara, Kamis. Saat melepas jamaah calon haji (JCH) di lingkungan Dinas Pendidikan Rokan Hulu, Efie tidak mampu membendung air matanya, ikut menangis bersama Ngadiono, ayah tiga anak itu. Ngadiono akan berangkat ke embarkasi Batam melalui lapangan udara Pasir Pengaraiyan pada 25 November bersama 346 JCH asal Rohul.

Warga transmigran yang gigih itu merupakan pegawai negeri sipil golongan 1C sebagai penjaga SDN 002 Kecamatan Ujungbatu sejak 1993. Gaji yang kecil dan tidak cukup untuk menghidupi keluarganya tidak mematahkan semangatnya untuk pergi ke Tanah Suci Mekkah untuk menunaikan ibadah haji, keinginan yang telah lama tertera di hatinya.

“Saban siang, sepulang dari sekolah saya membersihkan jamban di Pasar Ujungbatu. Bertahun-tahun pekerjaan ini saya jalani dan uangnya saya kumpulkan untuk haji. Insya Allah lusa saya berangkat,” katanya dengan mata berkaca-kaca. (pur)

Indahnya Opensource

Memangnya cuma pengguna Friendster yang bisa testimonial? Jangan salah, pengguna opensource juga bisa.

Dibawah ini adalah salah satu dari sekian banyak yang telah saya dengar. Terimakasih kepada ibu Titik untuk sharingnya. Semoga kita bisa menarik manfaatnya.

From: Titik
To: KOMPUTER-TEKNOLOGI@yahoogroups.com
Subject : Alangkah indahnya dunia Opensource

Saat ini saya merasakan banyak hikmah ketika memutuskan untuk
berpindah jalur atau aliran. Saat ini saya lagi banyak menggunakan
linux (walaupun di notebook saya masih pakai windows :D). Berikut ini
adalah aplikasi yg sehari-hari saya gunakan

Pengganti Windows : Linux Mint
Linux Mint adalah Linux yang ditujukan untuk desktop dengan
menitikberatkan pada kenyamanan, ke-up-to-date-an dan juga elegannya.
Maklum diturunkan (remaster) dari Ubuntu.

pengganti Microsoft Office = OpenOffice
OpenOffice.org, sebuah program untuk pekerjaan kantor yang di dalamnya
terdapat word processor, spreadsheet, presentation designer, dan
database management yang handal. OpenOffice juga memiliki kompabilitas
dengan aplikasi kantoran lainnya, seperti Microsoft Office.

ERP : Compiere/Adempiere
Jujur saya katakan ini adalah program ERP yg luar biasa. Bagus sekali
dan saya pikir untuk UKM indonesia sudah memadai. bahkan lebih dari cukup

Sharepoint = Mindquarry
Mindquarry adalah perangkat lunak open source yang dapat digunakan
pada suatu proyek yang memerlukan kemampuan berbagi file dan
pengerjaan dokumen secara bersama-sama antar kelompok kerja. Apliksi
ini mirip seperti aplikasi yg ada yaitu Basecamp dan Microsoft
SharePoint tawarkan.

BI : Pentaho
Pentaho Open Source Business Intelligence.

Report: JasperReport
Walaupun tidak selengkap Crystalreport tapi ini program yg sangat bagus

itu sekedar aplikasi yg sering saya gunakan, dan saya merasa nikmat
sekali. karena sekarang banyak aplikasi2 yg hebat sudah ada
alternatifnya di dunia opensource

maju terus opensource

Open Source hackers : Anda mau bekerja di Nokia / Finlandia ?

I’m LinkedInDi berbagai seminar saya selalu menyampaikan bahwa skill di bidang open source bisa membawa kita ke berbagai pelosok dunia. Ini adalah salah satunya lagi – informasi didapatkan dari MDAMT, yang sudah lebih dahulu berada di negara tetangga (jauh) tersebut.
.
.
.
Kutipan :

Your focus will be on user interface enablers, building blocks and frameworks. You will leverage your expertise in this domain as an expert, coach and key contributor to user interface software in our Internet Tablets, particularly the Hildon Application Framework, which is based on the GNOME Mobile platform.

Untuk melamar lowongan ini, silahkan klik disini.

Semoga sukses!

Wink : SWF to FLV

I looked around on how to do this (converting Wink‘s SWF output into FLV / other video format), but to no avail.
Apparently, the SWF produced is not really a video file (however, in return, the size is usually much smaller than if saved into a video file). Both mencoder & ffmpeg failed to convert Wink’s SWF file into FLV, both giving error message “No media found in SWF”.

But of course if you’re going to upload them to YouTube or other video sites, you’ll need the Wink screencasts in video format.

There’s a workaround for this.

**WARNING** I don’t claim to be the expert on the topic (video encoding / transcoding) and comments to make this guide better is most welcome. Make backups before proceeding with this short tutorial. Although the steps are safe to my knowledge if you’ve made backups of your original files, I give no warranty whatsoever.

1. In Wink, choose menu File – Export As HTML
2. Save As : /tmp/sss.htm (for example), then on “file type to save images” choose JPEG. click OK.
3. Get mencoder. If you’re using Ubuntu, it’s as simple as “aptitude install mencoder”
4. Now we’re going to convert it. Type mencoder “mf:///tmp/sss_files/*.jpg” -mf fps=2 -o /home/harry/cool.flv -ovc lavc -lavcopts vcodec=mpeg4 (pretty simple eh?)
5. Done !

Notes:

  1. Sharp-eyed reader may noticed the vcodec=mpeg4 parameter and wonder why it’s not vcodec=flv. Reason is because the resulting file can’t be played, with both VLC & Totem confused looking for flv codec. And they both play flv files from YouTube with no problem. Since vcodec=mpeg4 gives a playable file, so I used that.
     
  2. There’s a slight problem where Wink saved the screencast as 1.jpg … 10.jpg … 100.jpg, and so on. As you can imagine, they’re listed as the following :

    (snipped)
    -rw-r–r– 1 helen helen 84658 2007-08-20 11:20 sss09.jpg
    -rw-r–r– 1 helen helen 52921 2007-08-20 11:20 sss100.jpg
    -rw-r–r– 1 helen helen 53043 2007-08-20 11:20 sss101.jpg
    -rw-r–r– 1 helen helen 53345 2007-08-20 11:20 sss102.jpg
    (snipped)
    -rw-r–r– 1 helen helen 53382 2007-08-20 11:20 sss108.jpg
    -rw-r–r– 1 helen helen 98914 2007-08-20 11:20 sss109.jpg
    -rw-r–r– 1 helen helen 84702 2007-08-20 11:20 sss10.jpg
    -rw-r–r– 1 helen helen 98681 2007-08-20 11:20 sss110.jpg

    The naming convention messed up the order of the files, and as the consequences, mencoder’s output also got messed up.

    We’ll need to rename these files so the filenames order will be similar to this :

    (snipped)
    -rw-r–r– 1 helen helen 84658 2007-08-20 11:20 sss07.jpg
    -rw-r–r– 1 helen helen 84658 2007-08-20 11:20 sss08.jpg
    -rw-r–r– 1 helen helen 84658 2007-08-20 11:20 sss09.jpg
    -rw-r–r– 1 helen helen 52921 2007-08-20 11:20 sss10.jpg
    -rw-r–r– 1 helen helen 53043 2007-08-20 11:20 sss11.jpg
    (snipped)

    The easiest way is to use mmv tool. Again in Ubuntu this is as simple as “aptitude install mmv”. Then execute the following commands :

    ## assuming number of files reaching thousands
    mmv -v “sss?.jpg” “sss000#1.jpg”
    mmv -v “sss??.jpg” “sss00#1#2.jpg”
    mmv -v “sss???.jpg” “sss0#1#2#3.jpg”

    That should fix it in a few seconds.

     

  3. There’s a discussion here saying that this (SWF to FLV) can be accomplished with a command as simple as ./edit.py -o cool.flv cool.swf

    However, again VLC unable to play the resulting flv file, complaining about missing “undf” codec.

Insiden lift Ratu Plaza

Baru membaca di blog Paman Tyo bahwa ada insiden lift di Ratu Plaza. Baru naik sejauh satu setengah lantai, lift tersebut jatuh.

Saya jadi penasaran, karena rasanya dulu pernah membaca mengenai fitur security lift, sehingga hal ini seharusnya tidak terjadi. Googling sebentar, dan ketemu link ini.

Ternyata, pada tahun 1854, Otis telah mendemonstrasikan lift yang tidak bisa jatuh.

Lha jadi bingung saya. Mosok sih Ratu Plaza menggunakan lift dengan teknologi pra-1854 ?
Tapi naik lift di Jakarta memang ngeri banget; saya pernah ketemu lift yang pintunya terus menutup walaupun tangan saya sudah menekan pintu-pintunya. Untung saya cepat tarik tangan saya tersebut, kalau tidak bisa terjepit dan saya ikut ditarik ke atas …

Mungkin ada yang bisa mencerahkan. Anyway, syukurlah jatuhnya tidak terlalu tinggi, jadi juga tidak ada korban nyawanya.

Welcome Pak Yusril

Walaupun dengan resiko diteriaki “basbang” πŸ™‚ tapi saya dengan gembira tetap akan menyampaikan “selamat datang” kepada pak Yusril Ihza Mahendra.

Kelihatannya beliau ini pandai menuangkan pikirannya ke dalam tulisan, sebuah keahlian yang baik untuk kita tiru. Karena dengan itu maka pengetahuan kita jadi dapat bermanfaat juga untuk orang lainnya; dan tidak cuma terpendam sendiri di benak kita.

Saya pribadi amat terkesan dengan posting yang berjudul “akhirnya semua kita akan pergi“, terutama perspektif malaikat yang diangkat oleh beliau. Betapa singkat & tidak berartinya kita di mata mereka.
Walaupun demikian, amat menakjubkan bahwa ternyata tetap ada kesempatan, kita bisa membuat hidup kita yang sekilas ini bernilai mulia di mata Allah swt. Pilihannya ada di tangan kita sendiri.

Very much looking forward to the future posts.

Bersama ini saya kembali mengucapkan terimakasih kepada semua kawan-kawan yang telah memungkinkan Pak Yusril bergabung di blogosphere Indonesia; Vavai, Priyadi, Jay, Thomas, dan rekan-rekan lainnya yang mungkin belum saya ketahui kontribusinya.
Dengan komunitas blogger yang sangat positif seperti ini, saya kira akan banyak yang jadi bisa mendapatkan manfaatnya. Terimakasih.

IGOS Center @ Be Mall, Bandung

Kembali dari acara kopdar dengan kawan-kawan ubuntu-id di Blok M Plaza, saya menemukan ada banyak kabar gembira di Inbox saya. Antara lain adalah diresmikannya IGOS Center di Bandung, tepatnya di Be Mall, lokasi acara pameran Bandung Comtech s/d tanggal 18 November ini.
Detailnya terlampir di posting ini.

Ada beberapa komentar miring seputar IGOS Center ini. Tapi dari pengalaman saya, produk v1.0 pasti biasa ada saja kekurangannya.
Lalu saya cek dengan kawan yang tahu sedikit banyak ceritanya di balik layar, saya mendapat gambaran rencana kerja mereka s/d tahun 2008 saja, dan sudah sangat mengesankan.
Ada banyak kegiatan yang bisa menjadi pendobrak perkembangan open source di Indonesia.

Jadi dengan ini, saya ucapkan selamat kepada rekan-rekan di IGOS Center Bandung. Semoga ini menjadi awalan yang baik bagi kita semua.

Continue reading IGOS Center @ Be Mall, Bandung

Bridge Blogging

This past several weeks I’ve been put under so much work, I’ve been unable to post a blog article. Thank God I usually have a few posts set on drafts, so the posts will still show up for a while in this blog. So you thought I blogged routinely? Ha ! πŸ™‚ oops…

Anyway, just now I realized I’ve missed a very interesting topic – bridge blogging. Yay, now everyone knows that I didn’t blog routinely πŸ˜€

Back to the topic, I agree with Unspun that he’s not the first to propose the idea. Personally I was told about it by Budi Putra, and according to Unspun it’s already proposed by Fatih Syuhud before that.
And since the first time I’m in fully agreement with the idea.

Why is it a good idea ? Because blogging in other language (in this case, English) can be really useful & helpful to others. It helps one to widen his/her perspective.

Two excellent examples :
[ The beautiful Iran ] : Most wouldn’t know Iran as potrayed here – btw, we’re talking about photoblogging here (ok, ok, so I’m really stretching even that term, but hopefully you got the point πŸ™‚ )
[ The Real Myanmar ] : Truth-spreading blog (no, it’s not a happy one)

Also from personal experience – at the time of 9/11, we (muslims) have been subjected to ridicule because we have not spoken against the terrorists.
Well guess what, we DID. But at the time, the media chose not to air it – effectively silencing us; thus creating the impression of approval of terrorism from us. We suffered a lot, up to personal level : my wife even got harassed.
So then I made a vow to try spread any useful information & knowledge as much as possible. Blog has made it easy for us to share our thoughts, and Google has made it possible for others to easily find it.

I think most of you by now will agree that bridge blogging is indeed a good, and important, idea.

So what’s left is the problem of its execution – how should we do it ?

Personally I say : up to you !
Say whatever you want to say (except, of course, things that breaks the law: stealing others contents, libel, harassment, etc). In whatever language, English or Indonesian.
Positive or negative, blog them all. The single most important criteria is : try to post (even what may seem remotely) useful things.
(of course it’s still okay to post other stuff than that, but at the moment we’re talking about an idea which goal is to benefit others)

Anyway – however, for maximum reach, do try to blog in English too sometimes. I’ve had contacts with people from all over the Earth because of this; Middle East, USA, Morocco, France, Italy, and so on.
They’ve been able to benefit from me because of my English blog posts / articles.

That’s just too cool.
Without Internet/Google/Blog, we’ll be busy with just ourselves under our own rock (hi Patrick!)

Also people have been very surprised when I told them how it is in Indonesia. The fact that I don’t have to live underground. From what they’ve seen in news, they thought it’s riots & disasters & misery all over the place.
Well, sorry, but no πŸ™‚ It’s mostly very peaceful here, as my recent holiday to the corners of beautiful West Sumatera proved. I was very much recharged from it.

I just found that nadia febina share similar sentiment. Yes guys, Indonesia looked **really** bad from the outside.
When you’re out there, indeed you’ll know (and personally experience) too about what (the heck) is it that I’m talking about.

About blog politics : I could NOT care less πŸ˜€

I’m blogging to share (whatever that can be shared), not to play some games. As the result, I’ve been targeted quite several times, especially in the open source topic (so far I’ve had to disable 2 blog posts to avoid collateral damage).
People are angry with me and calling me (really) bad names. Some call me naive. In return, I’m calling people to blog.
I don’t care if you’re from this community or that community (high five with treespotter) – just blog the truth. We are bound to the same universe anyway (so yes, I’m calling you too, my Martian & Plutonian friends).
So there πŸ™‚

I’d like to offer my opinion on 2 things while we’re on the subject. First, if I’m Unspun, I’d rather not use the word “most” in the sentence most of them are droll, since, if you haven’t done a proper research, it’d be way too close to generalization. “Some” would be much more closer to truth.
Still I’m very thankful to him for bringing us the term “bridge blogging”. It’ll make further conversations on the topic with fellow bloggers easier for me πŸ™‚

Second; I feel really sorry to what happened to Jennie. It seems like she’s been in quite some hardship, she found it hard to talk about Indonesia positively.
No worries there Jennie, do speak out about it, and be happy knowing that you’ve contributed in creating the big picture !

I’d like also to comment on her comment here :

I was able to see how β€œparochial” Indonesian bloggers are based on that incident. Why can’t they just show one small sympathy?

Well, similar thing has happened before in the past. Curious what fellow Indonesians have to say to the accusation, I asked several of them.
To my surprise, some of the responses are rather amusing – they thought America is the land of the rich, and therefore very much able to help themselves in case of disasters like this.

Guess how surprised they were when I told them how bad it’s over there – unemployement, 50% spending budget allocated for military, there are hungry & poor people, how they’ve been screwed so bad by their own government (Bush has cancelled the children’s health safety net, and the latest he tried to cancel the budget for critical water projects. Even after Katrina, can you believe that? Cruel, indeed he is)

So Jennie, it’s down to our naivety. Hopefully you (and others) can forgive it.

Back (again) to the topic – I strongly believed that knowledge wants to be free, and still do.
Blog has enabled us to do so easily. Let’s make full use of it !

Let us build the bridges to better understanding.

FYI – others posts on the topic :
[ Unspun ] – [ 2 ]
[ Jakartass ]
[ Jennie S Bev ]
[ Marisa Duma ]
[ augustmist ]

Indonesia Linux Conference 2007

Setelah Pesta Blogger 2007 usai, masih ada lagi perhelatan akbar yang, bagi saya, sangat menarik. Yaitu Indonesia Linux Conference 2007.

Tapi memang nasib saya, sudah tidak bisa hadir di Pesta Blogger, kini di ILC 2007 ini juga tidak bisa hadir; karena sudah lebih dulu commit untuk mensukseskan booth Ubuntu Indonesia di pameran Bandung Comtech 2007.
Padahal di ILC 2007 itu kita bisa ketemu dengan para aktivis Linux dari seluruh penjuru Indonesia :

Yuda Nugrahadi
Mon, Nov 5, 2007 at 11:35 AM
To: linux-aktivis@linux.or.id

Semenjak pendaftaran KPLI meeting ILC 2007 yang dibuka pada tanggal 25 Oktober hingga 3 November, sudah ada banyak sekali yang mengkonfirmasikan untuk bersedia menghadiri acara KPLI Meeting. Daftar pesertanya kurang lebih sebagai berikut:

KPLI:
– Aceh
– Bali
– Balikpapan
– Bandung
– Bogor
– Cilacap
– Cilegon
– Depok
– Gorontalo
– Jakarta
– Kediri
– Makassar
– Padang
– Pekalongan
– Serang
– Surabaya
– Tangerang

Organisasi/Komunitas Linux:
– Asosiasi Warnet Linux Indonesia
– Bengkel Open Source Cirebon (CITC) (masih dalam konfirmasi)
– IGOS Nusantara
– Komunitas Pengguna Linux dan Opensource Semarang (KLISSE)
– OpenSUSE-ID
– Slackware-ID
– Ubuntu-ID
– Yayasan Penggerak Linux Indonesia

Dari daftar tersebut, bagi rekan-rekan yang ingin mengirimkan wakilnya melebihi dari jumlah yang tertanggung, mohon untuk menginformasikan paling lambat 10 November. Kepastian jumlah kehadiran ini akan kami gunakan untuk menyiapkan penjemputan, penginapan, dan konsumsi.

Atas perhatian dan respon rekan-rekan sekalian, kami ucapkan terima kasih.

NB : konfirmasi mohon dikirim ke ilc@jogja.linux.or.id

Seperti dengan Pesta Blogger, saat ini cuma bisa berharap untuk dapat ikutan di ILC 2008.

Anyway, semoga acaranya sukses !

Software Bebas & Proprietary

Diskusi di milis kom-tek, topik yang cukup menarik :

To: KOMPUTER-TEKNOLOGI@yahoogroups.com

On 10/31/07 :
> Cuma setelah sempat ikut implementasi desktop management dan
> enterprise solution untuk top management di satu Bank besar, saya
> cukup terperangah juga dengan solusi Microsoft. Bagaimana Group Policy
> dalam Desktop Management di push ke setiap client via domain
> controller serta top management (para VIP bank) diberi feature
> Microsoft Virtual Shadow Copy Services untuk self-automatic
> backup-restore semua file critical yang di-synchronize ke server.
> Masih banyak lainnya yang tidak cukup saya ceritakan. Sayangnya saya
> belum sempat ikut tim-nya Sun atau IBM mendeploy sistem mereka yang
> UNIX-based (walau juga mungkin tidak open source). Apalagi deploy
> total enterprise solution yang benar-benar open source. Jadi cara
> memperbandingkan memang tidak terlalu komplit.

Saya pribadi justru jadi berpaling ke software bebas setelah “kenyang” dengan software-software enterprise ini.

Beberapa contoh masalahnya bisa dibaca misalnya disini.

Ini baru satu software enterprise πŸ™‚ padahal tim saya me manage beberapa. Dan semuanya sama; ketika ada masalah, kita (tim teknis) yang habis jadi bulan-bulanan manajemen, sementara vendornya bisa santai-santai saja.

Ketika akhirnya mereka tidak bisa memecahkan masalah, dengan santai para konsultan tersebut bilang “oh, gak bisa nih”, dan pergi.
Kita terperangah, stress berat…. ha ha. Pontang-panting deh cari solusinya (yang para konsultannya sendiri tidak tahu)

Just another day at the IT SWAT team.

Moral of the story ?
Ketika memilih solusi IT untuk suatu masalah, seperti biasa, get the best tool for the job. Tapi, pastikan bahwa kriteria “best” ini tidak hanya untuk short term, namun juga long term.
Nah, biasanya ketika scope nya diperluas seperti ini, berbagai solusi software bebas jadi bisa diperhitungkan.

Oh ya, untuk solusi manajemen desktop, bisa coba juga ZENworks.

Salam,
Harry

Sebuah tambahannya :

To: KOMPUTER-TEKNOLOGI@yahoogroups.com

On 10/31/07 :
> Point-nya adalah bahwa Open Source tetap sangat perlu didukung dan
> terus dikembangkan terutama untuk solusi Enterprise (paling tidak di
> level middle). Top level company cukup punya banyak uang untuk beli
> yang branded (Microsoft, IBM, Sun, dll). Coba kita lihat pemerintahan
> dan perusahaan skala sedang, mungkin mereka tidak punya budget untuk
> license. Tapi mereka perlu solusi hingga level enterprise. Bukan
> sekadar bisa simpan file, browsing, dan mainkan MP3/film. Tapi sampai
> file & backup management, document management and collaboration,
> security, intrusion prevention, application integration, dsb.

Oh ya, sekadar sharing, berbagai solusi dari topik-topik diatas sudah cukup banyak yang berupa software bebas.

Kini penggunaan software proprietary sudah bisa menjadi exception; terutama pada topik-topik very high-end / niche, yang memang kebetulan belum ada versi bebasnya.
Contoh: high-end ERP, lead retrieval system, dst

Salam,
Harry

ISNET, Starbucks, dan Kekuatan Brand

Tadi malam saya meeting dengan beberapa kawan-kawan ISNET seputar revitalisasi organisasi yang termasuk paling senior di Internet ini (ISNET sudah exist di Internet sejak tahun 1989). Kami berkumpul di The Financial Club (Graha Niaga), setelah pak Budi Rahardjo selesai memberikan presentasi di acara BoykeMinarno.com.

Ada beberapa kawan-kawan ISNET lainnya seperti pak Laurel, mas Pungkas, mas Sindhu, dan mas Deden. Diskusi berlangsung cukup panjang, dan kami cukup sepakat bahwa pondasi Isnet ada pada infrastruktur IT nya, jadi ini yang musti dibenahi terlebih dahulu. Berikut juga perlu dibuat proposal untuk sustainability & pengembangannya di masa depan. Kemudian saya kebagian tugas untuk memformulasikan draft proposal tersebut, untuk kemudian dikirim ke para hadirin meeting & di matangkan lebih lanjut.
Acara berlangsung sampai sekitar pukul 23:30, sebelum kemudian kami pamit ke rumah masing-masing.

Sekitar pukul 01:00 saya iseng-iseng membuka Planet Terasi, lha ternyata pak Budi sudah nge-blog duluan soal pertemuan tersebut πŸ™‚ bapak yang satu ini memang luar biasa semangat bloggingnya. Salut !

Saya tidur sekitar pukul 02:00, bangun sekitar pukul 04:00, lalu setelah selesai berbenah kemudian berangkat ke lokasi client di Cikini. Meetingnya pukul 10:00, tapi saya sengaja berangkat lebih awal, supaya bisa bekerja dulu di lokasi; di parkir mobil dengan memanfaatkan adaptor universal yang ditancapkan ke colokan pemantik rokok di mobil.
Di perjalanan saya baru sadar, lho kok adaptornya tidak ada di mobil ? Ternyata, adaptor tersebut ditaruh di rumah oleh istri. Maka kemudian saya membelokkan arah mobil ke Starbucks (summoning spell : Koen.co.ro) 24 jam di Sarinah, dan mulai membuka laptop saya disitu.

Saya jadi teringat pertanyaan retorik pak Laurel pada pertemuan Isnet tadi malam.
Kok Starbucks bisa charge kopinya, yang made in Indonesia, seharga Rp 50.000; sedangkan warung kopi ibu beliau, yang sama-sama di Indonesia, cuma mengenakan Rp 5000 untuk beberapa orang ?

Ada beberapa faktor yang saling berkaitan dalam hal ini.

Pertama, lokasi.
Hampir bisa dipastikan bahwa semua outlet Starbucks berada di lokasi yang strategis & mudah dijangkau. Lokasi adalah salah satu faktor paling penting dalam bisnis.

Kedua, visibility.
Ketika banyak warung kopi lainnya menampilkan papan nama yang kecil & tersembunyi, Starbucks (dan brand-brand lainnya) menampilkan logonya dengan ukuran raksasa & sevulgar mungkin.
Jika kebanyakan customer anda adalah pengendara / mobile, yang akan melintas dengan kecepatan sekitar 10 meter per detik, hanya ada waktu sepersekian detik bagi ybs untuk melihat papan nama usaha Anda. Make that count.
The big brands ini selalu berani menginvestasikan banyak uang agar menjadi visible, dengan hasil yang juga sudah bisa kita tebak.
Brand yang visible juga jadi memperbesar kemungkinan mereka untuk diingat customer ketika customer sedang memikirkan layanan yang mereka butuhkan tsb.

Dari 2 ini saja, seringkali sudah cukup untuk menjamin kesuksesan bisnis.
Sebagai contoh, saya pribadi lebih senang makan klenger / blenger burger daripada McDonald / KFC / dll. Burger McDonald terus terang tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan blenger burger.
Namun, karena mereka sering bermasalah pada 2 poin di atas, sehingga akhirnya seringkali lagi-lagi kami sekeluarga nyangkut lagi di big brands tsb.

Tapi, big brands tidak berhenti disitu saja. Ada segudang lagi trik di kantung mereka.

Seperti uniformity. Jika seseorang menyebutkan / saya memikirkan brand Starbucks, maka saya tahu bahwa saya akan menemukan :

1. Lokasi yang nyaman & representatif untuk meeting dengan client
2. Bebas asap rokok
3. Staf yang ramah
4. Kopi yang mahal (ha ha)
5. Colokan listrik untuk laptop & HP saya.
6. Air conditioned
7. Dll

Kepastian pada gilirannya memberikan kenyamanan. Bahkan kalaupun produk yang ditawarkan sebenarnya inferior dari kompetitornya – karena kita sudah tahu akan menemukan produk yang inferior tersebut, maka jadinya sudah menurunkan ekspektasi kita sendiri sebelum tiba di lokasi πŸ˜‰

Jadi, kapan kiranya saya bisa mulai meeting di salah satu franchise Setarbak Kopi, dan tidak lagi di Starbucks ?
Hayo, jangan mau kalah dengan para big brands ini. Mari …