SEObox: Web Hosting Murah Unlimited Homeschooling Indonesia

Archive for March 17th, 2007

Kilas balik: Hidup tanpa TV

Ketika kami sekeluarga pindah ke Bintaro beberapa waktu yang lalu, momen ini kami manfaatkan untuk mencoba merasakan hidup tanpa televisi. Waktu di Birmingham sebetulnya juga sudah mulai mencoba eksperimen ini; TV masih ada, namun aksesnya sangat kami batasi. Hanya acara anak-anak, dan itu pun tertentu saja. Sebagai kompensasinya kami menyediakan berbagai activity kit/toys, pilihan film yang cukup banyak di video, dan satu komputer untuk setiap anak.

Kini kami ingin mencoba menghilangkan TV sama sekali dari rumah kami. Apa yang kemudian terjadi ?
Berikut ini adalah beberapa kesan yang kami rasakan dari eksperimen ini.

Keakraban antara anggota keluarga : Hubungan kami terasa menjadi lebih baik lagi. Tidak lagi ada kejadian anggota keluarga yang marah karena merasa terganggu ketika sedang menikmati acara TV favoritnya. Sering ada komunikasi yang hangat antara anggota keluarga. Anak-anak kami menjadi lebih dekat dan tidak ragu-ragu untuk menceritakan berbagai hal & curhat kepada kami.

Lebih banyak waktu bebas : Biasanya, setiap hari ada beberapa jam waktu di keluarga kami yang diambil oleh TV. Tidak terasa lama ketika itu, namun ketika TV menghilang, kami baru menyadari bagaimana satu hari jadi terasa lebih panjang. Jadi ada lebih banyak waktu untuk mengerjakan berbagai hal. Sehingga tidak perlu lagi terburu-buru mengerjakannya (dan tidak lagi mengalami berbagai masalah yang terjadi karena ketergesa-gesaan itu).

Rasa tenang : Hidup jadi terasa lebih tenang. Tidak lagi ada perasaan gelisah, seperti “aduh nih sinetron XX habis pas lagi tanggung! duh minggu depan lama amat, sudah gak sabar mau nonton lanjutannya nih!”.
Rasa tenang juga didapat dari kebebasan seperti tidak adanya rasa cemas takut lupa / terlewat acara favorit, dst.

Kreatif & aktif : Anak-anak kami terlihat menjadi lebih kreatif dan aktif. Mereka senang menjelajah lingkungannya bersama kawan-kawannya. Kebetulan lingkungan sekitar masih cukup asri dan masih banyak perkampungan di dekat cluster kami. Setiap anak kami sediakan sepedanya masing-masing.
Kreatifitas mereka juga menjadi lebih jelas. Sarah sudah berkali-kali membuat comic strip. Anisah ketika sakit justru asyik membuat kerajinan tangan untuk adiknya. Aminah (2 tahun) sangat senang menggambar. Hasil karya mereka semua sudah terlalu banyak dan ada beberapa yang jadi terpaksa kami buang (note to self: beli album & lemari untuk penyimpanan).

Kehilangan acara TV favorit ? Tadinya kami kira kami akan sangat kehilangan berbagai acara yang ada di TV. Tapi ternyata setelah melakoni ini, kami tidak merasa kehilangan apa pun. Tanpa terasa kami jadi bisa lebih menikmati berbagai hobi dan kegiatan yang tadinya sulit untuk dilakukan karena kekurangan waktu.
Kalau kami kebetulan sedang mampir ke rumah kakek & neneknya anak-anak kadang saya memang menonton Discovery channel, tapi santai saja dan tidak ada rasa kehilangan ketika kemudian kami kembali ke rumah kami sendiri - mungkin karena sudah ada sangat banyak situs-situs Internet (seperti DamnInteresting.com, HowStuffWorks.com, dll) yang tidak kalah menariknya.
Lagipula kini sudah mulai ada seperti AntaraTV.com - kita jadi bebas mau menonton yang kita mau; bukan apa yang kebetulan saat ini sedang ada di TV kita.

Hemat waktu & sakit kepala : Ada banyak acara televisi yang sangat tidak pantas untuk ditonton oleh anak-anak, namun tetap disiarkan pada waktu-waktu mereka bangun & berada di rumah. Ada kenalan kami yang rajin mengawasi acara yang ditonton anak-anaknya - namun luput beberapa kali saja, dan anak-anaknya langsung dapat menirukan berbagai contoh yang tidak baik dari acara-acara tersebut. Jadi tidak boleh luput sama sekali.
Kami tidak dipusingkan dengan hal-hal seperti ini, and can concentrate on things that matters instead.

Secara ringkas demikian. Sejauh ini kami merasa sangat puas, dan merencanakan untuk terus meniadakan TV dari rumah kami.

Beberapa catatan : Awalnya yang keberatan justru pembantu kami. Namun setelah kami komunikasikan dan beri pengertian, sekarang dia juga sudah senang saja tanpa TV sehari-harinya. Malah jadi bisa lebih sering bersosialisasi dengan kawan-kawannya.

Tentang komputer: sekarang komputer tidak lagi ada untuk setiap anak; karena dari pengalaman kami ini ternyata cenderung menjadikan anak egois. Dengan 2 komputer di rumah untuk 4 orang anak, mereka jadi terpaksa belajar berbagi dan bersabar.
Awalnya jelas mereka berkelahi dan ribut berebutan menggunakan komputer :)
Tapi dengan trik jam, maka mereka jadi bisa bergilir - sekaligus jadi belajar membaca jam sejak usia dini. Trik jam adalah cara dimana mereka sendiri yang bersepakat mengenai jatah pemakaian komputer, contoh: “umar main sampai angka 6 ya, trus kakak sampai angka 9, lalu sarah sampai angka 12″.
Dengan ini, kita juga tidak pusing menengahi mereka, karena mereka bisa menyelesaikannya sendiri. Jadi juga sekaligus mengajari mereka untuk mandiri dan memiliki inisiatif.

Sekilasan

TV seperti pisau - dia adalah alat yang bisa sangat bermanfaat, atau sangat merusak. Pendapat kami pribadi, pada saat ini, kebanyakan TV di Indonesia lebih cenderung berdampak negatif. Dengan adanya alternatif seperti VCD, komputer, dan tentu saja lingkungan sekitar kita; maka sejauh ini kami tidak merasakan masalah dengan ketiadaan TV di rumah kami.

Demikian sekilas kesan kami, semoga ada manfaatnya.

Commodore is back

Commodore was part of the home computing revolution back in the 80s. Their C64 was a big hit back then, because of its low price and high capabilities. C64 owners were enjoying their games in the fast hardware-accelerated graphic and high quality sound from its 3-channels sound chip. The sound chip was said to be so good and produces unique sound, it has quite a dedicated community, and even a special product based on it.

Another phenomenon on the 80s was the demoscene. I think it’s safe to credit C64 for starting this.
These guys produces stunning graphic demos, by pushing the hardware to maximum and utilizing undocumented features. These demos are usually accompanied by no less stunning music. The music is so good, I’ve read news where they’re plagiarized for commercial artists’ songs.

C64 isn’t only good for games though. About 10.000 applications were available for it, including business software. Quite impressive for a console-like computer.

The next of Commodore’s success is Amiga. Its main edge over the competitors are various custom co processors - a chip for each task; graphic, sound, etc. This enable Amiga to perform much better than others, sometimes spectacularly so. This machine was way, WAY ahead of its time; there’s still communities based on it. A lot of famous artists / public figures are keen Amiga users. And many TV series / movies are utilizing Amiga for its production.

Then Commodore went bankrupt. I don’t know the details, but it seems that Commodore wasn’t able to market it effectively, and got lost in the competition over PC makers. The loss was mourned by many.
Several attempts were made to revive it, but none made it as a world wide success. Now, a bunch of people are giving it a try again with Commodore Game PC.

Commodore XX is its current top of the line.
Featuring : Intel® Core™2 Extreme Quad-Core processor QX6700, ASUS® P5N32-E motherboard, 4GB Corsair® Dominator memory, and 2 (two!) NVIDIA® 8800 GTX SLI graphics cards. True to its Commodore roots, it’s also preloaded with a C64 emulator, containing more than 50 classic games.

Commodore was known as an innovative company, and the new Commodore is continuing this tradition with the C-Kin. Currently there isn’t anything really stunning in its choices, but I’m sure overtime we can expect some awesome designs making its way to the C-Kin collection. Also C-Kin may not seem to be much of an innovation, but one can hope that this is the start of a torrent of wonderful ideas from the new Commodore.

The PC scene is getting more and more interesting nowadays. I’d like to be among the first to welcome the comeback of Commodore.