SBY and friends

Saya senyum-senyum membaca postingan si gombal soal teleconference-nya SBY. Sama seperti si gombal, saya tidak mengerti logika para pengkritik teleconference ini.

Kalau dibilang mahal, jalan-jalannya DPR lebih mahal lagi dan hasilnya lebih tidak jelas.
Kalau dibilang sok mengatur, saya rasa masih jauh lebih mendingan daripada salah satu presiden kita yang hobi jalan-jalan ke luar negeri tapi cuek urusan dalam negeri.
Kenapa tidak pakai Y!M/VoIP/Skype – well, saya sudah pernah pakai Y!M untuk teleconference dari luar negeri ke Indonesia, dan saya menikmati tampilan slow motion di monitor saya dengan sepenuh hati 🙂
Ini padahal sudah menggunakan koneksi broadband 512Kbps dan kualitas webcam maksimum yang didukung Yahoo.

Tapi kemudian muncul rencana interpelasi dari DPR karena ini. “What ?!”, kontan pikir saya.

Rencana Interpelasi DPR dulu pernah muncul biasanya karena hal-hal yang sangat serius; misalnya karena kasus Buloggate dan Bruneigate pada zaman Gus Dur.
Tapi interpelasi karena seorang Presiden ingin mengontrol kinerja kabinetnya ? Saya baru dengar lho.

Kemudian saya membuka-buka koran (saya paling malas membaca koran, karena sering bias, tidak akurat, dll). Saya kaget ketika melihat soal ini sudah di blow up habis-habisan.
Lho, dimana bahasan korupsi 8.8 trilyun nya Pertamina….? Justru pemakaian dana yang 0.006% nya, dan untuk kepentingan negara (!), yang dibahas habis-habisan. Menjadi topik halaman depan.

Where’s common sense in this day’s media ….??

Tapi saya kemudian baru sadar, looks like SBY has stepped on too many toes. Toes that belongs to the powerful and elites.

Sejauh ini, SBY telah berhasil melakukan suatu hal yang jarang bisa dilakukan oleh presiden-presiden sebelumnya:
Menghukum yang kuat, menyantuni yang lemah

Contoh:

1. Menghukum yang kuat:
Korupsi / kebocoran 8.8 trilyun per TAHUN di Pertamina, membabat perjudian, pertama kalinya pejabat level gubernur dihukum karena korupsi (Abdullah Puteh), nyaris semua anggota KPU terbuka skandal KKN-nya, KPTPK actually able to do its job. Lalu anggota DPR yang “ngobyek” di ekspos di depan umum (ini jarang terjadi). Berani mencari sumber energi alternatif (biodiesel, PLTN, dll). Juga di Bea cukai kini para pegawainya tidak berani melanggar prosedur (jadi tahunya karena kaget ketika prosedur impor dilaksanakan secara ketat). BPK mulai bergigi dan bisa menjalankan tugasnya. Dst.

2. Menyantuni yang lemah:
Program tunjangan desa miskin, tunjangan keluarga miskin, tunjangan pendidikan, pengobatan gratis, dll.
Totalnya mencapai puluhan trilyun rupiah.
Membawa perdamaian di Aceh – kesan yang saya tangkap di level grassroot, rakyat amat bahagia karena ini.
Dst.

SBY memang masih ada kekurangan-kekurangannya, saya justru akan curiga kalau dia sempurna (jangan-jangan malaikat yang menyamar); namun kita perlu lihat kekurangan dan kelebihannya dalam menilai dia. Jangan cuma salah satunya saja.

Kalau kita melakukan itu, maka saya kira Anda akan setuju bahwa kalau dari perspektif kepentingan rakyat, SBY layak untuk dipertahankan. Dan dari perspektif kelompok elit Indonesia, SBY adalah orang yang mengesalkan.

Saya dulu bukan pendukung SBY, tapi saya selalu mendukung pemimpin yang berpihak kepada rakyatnya.
I can only pray that our people will get the best outcome from all of these brouhaha.

4 thoughts on “SBY and friends

  1. setuju… SBY itu yang terbaik di antara presiden-presiden Indonesia lainnya. mungkin could be better, tapi at least sudah jauh lebih baik daripada pendahulunya 🙂

  2. sayangnya SBY senang sekali dengan WACANA. Semua gerakan ‘perbaikan’ negara yg ditulis di blog ini baru sebatas pernyataan. Kasus pertamina? ya, rame, tapi hasilnya? Coba cek di banyak kasus yg diekspos dan apa hasilnya/endingnya? Jadi SBY tak lebih dari PRESIDEN WACANA bagi saya.

  3. #2 – Pejabat selevel gubernur dihukum – itu baru sekedar wacana ? Perjudian dibabat habis – baru sekedar wacana ? Pungli berkurang drastis – cuma sekedar wacana ? Dst.

Leave a Reply

Your email address will not be published.