Luthfi Assyaukanie – Al-Quran sudah tidak asli lagi

Satu lagi dari grup Jaringan Islam Liberal / Paramadina – menurut salah satu tokohnya, Al-Quran yang kita pegang pada saat ini sudah tidak asli lagi.

Pada posting ini saya akan lampirkan tulisan Luthfi selengkapnya yang saya kutip dari milis INSIST net. Kemudian saya akan posting juga bantahannya dari Fahmi Salim.

Semoga bermanfaat,


Dikutip dari:
Luthfi Assyaukanie.
Dosen Sejarah Pemikiran Islam
Universitas Paramadina
Jakarta

Sebagian besar kaum Muslim meyakini bahwa Alquran dari halaman pertama hingga terakhir merupakan kata-kata Allah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad secara verbatim, baik kata-katanya (lafdhan) maupun maknanya (ma’ nan). Kaum Muslim juga meyakini bahwa Alquran yang mereka lihat dan baca hari ini adalah persis seperti yang ada pada masa Nabi lebih dari seribu empat ratus tahun silam.

Keyakinan semacam itu sesungguhnya lebih merupakan formulasi dan angan-angan teologis (al-khayal al-dini) yang dibuat oleh para ulama sebagai bagian dari formalisasi doktrin-doktrin Islam.

Hakikat dan sejarah penulisan Alquran sendiri sesungguhnya penuh dengan berbagai nuansa yang delicate (rumit), dan tidak sunyi dari perdebatan, pertentangan, intrik, dan rekayasa.

Alquran dalam bentuknya yang kita kenal sekarang sebetulnya adalah sebuah inovasi yang usianya tak lebih dari 79 tahun. Usia ini didasarkan pada upaya pertama kali kitab suci ini dicetak dengan percetakan modern dan menggunakan standar Edisi Mesir pada tahun 1924. Sebelum itu, Alquran ditulis dalam beragam bentuk tulisan tangan (rasm) dengan teknik penandaan bacaan (diacritical marks) dan otografi yang bervariasi.

Hadirnya mesin cetak dan teknik penandaan bukan saja membuat Alquran menjadi lebih mudah dibaca dan dipelajari, tapi juga telah membakukan beragam versi Alquran yang sebelumnya beredar menjadi satu standar bacaan resmi seperti yang kita kenal sekarang.

Pencetakan Edisi Mesir itu bukanlah yang pertamakali dalam upaya standarisasi versi-versi Alquran. Sebelumnya, para khalifah dan penguasa Muslim juga turun-tangan melakukan hal yang sama, kerap didorong oleh keinginan untuk menyelesaikan konflik-konflik bacaan yang muncul akibat beragamanya versi Alquran yang beredar.

Tapi pencetakan tahun 1924 itu adalah ikhtiyar yang luar biasa, karena upaya ini merupakan yang paling berhasil dalam sejarah kodifikasi dan pembakuan Alquran sepanjang masa. Terbukti kemudian, Alquran Edisi Mesir itu merupakan versi Alquran yang paling banyak beredar dan digunakan oleh kaum Muslim.

Keberhasilan penyebarluasan Alquran Edisi Mesir tak terlepas dari unsur kekuasaan. Seperti juga pada masa-masa sebelumnya, kodifikasi dan standarisasi Alquran adalah karya institusi yang didukung oleh –dan menjadi bagian dari proyek– penguasa politik. Alasannya sederhana, sebagai proyek amal (non-profit), publikasi dan penyebaran Alquran tak akan efektif jika tidak didukung oleh lembaga yang memiliki dana yang besar.

Apa yang telah dilakukan oleh pemerintah Saudi Arabia mencetak ratusan ribu kopi Alquran sejak tahun 1970-an merupakan bagian dari proyek amal yang sekaligus juga merupakan upaya penyuksesan standarisasi kitab suci. Kendati tidak seperti Uthman bin Affan yang secara terang-terangan memerintahkan membakar seluruh versi (mushaf) Alquran yang bukan miliknya (kendati tidak benar-benar berhasil), tindakan penguasa Saudi membanjiri pasar Alquran hanya dengan satu edisi, menutupi dan perlahan-lahan menyisihkan edisi lain yang diam-diam masih beredar (khususnya di wilayah Maroko dan sekitarnya).

Agaknya, tak lama lagi, di dunia ini hanya ada satu versi Alquran, yakni versi yang kita kenal sekarang ini. Dan jika ini benar-benar terwujud (entah kapan), maka itulah pertama kali kaum Muslim (baru) boleh mendeklarasikan bahwa mereka memiliki satu Alquran yang utuh dan seragam.

Edisi Mesir adalah salah satu dari ratusan versi bacaan Alquran (qiraat) yang beredar sepanjang sejarah perkembangan kitab suci ini. Edisi itu sendiri merupakan satu versi dari tiga versi bacaan yang bertahan hingga zaman modern. Yakni masing-masing, versi Warsh dari Nafi yang banyak beredar di Madinah, versi Hafs dari Asim yang banyak beredar di Kufah, dan versi al-Duri dari Abu Amr yang banyak beredar di Basrah.Edisi Mesir adalah edisi yang menggunakan versi Hafs dari Asim.

Versi bacaan (qiraat) adalah satu jenis pembacaan Alquran. Versi ini muncul pada awal-awal sejarah Islam (abad pertama hingga ketiga) akibat dari beragamnya cara membaca dan memahami mushaf yang beredar pada masa itu. Mushaf adalah istilah lain dari Alquran, yakni himpunan atau kumpulan ayat-ayat Allah yang ditulis dan dibukukan.

Sebelum Uthman bin Affan (w. 35 H), khalifah ketiga, memerintahkan satu standarisasi Alquran yang kemudian dikenal dengan “Mushaf Uthmani,” pada masa itu telah beredar puluhan –kalau bukan ratusan– mushaf yang dinisbatkan kepada para sahabat Nabi. Beberapa sahabat Nabi memiliki mushafnya sendiri-sendiri yang berbeda satu sama lain, baik dalam hal bacaan, susunan ayat dan surah, maupun jumlah ayat dan surah.

Ibn Mas’ud, seorang sahabat dekat Nabi, misalnya, memiliki mushaf Alquran yang tidak menyertakan surah al-Fatihah (surah pertama). Bahkan menurut Ibn Nadiem (w. 380 H), pengarang kitab al-Fihrist, mushaf Ibn Mas’ud tidak menyertakan surah 113 dan 114. Susunan surahnyapun berbeda dari Alquran yang ada sekarang. Misalnya, surah keenam bukanlah surah al-An’am, tapi surah Yunus.

Ibn Mas’ud bukanlah seorang diri yang tidak menyertakan al-Fatihah sebagai bagian dari Alqur’an. Sahabat lain yang menganggap surah “penting” itu bukan bagian dari Alquran adalah Ali bin Abi Thalib yang juga tidak memasukkan surah 13, 34, 66, dan 96. Hal ini memancing perdebatan di kalangan para ulama apakah al-Fatihah merupakan bagian dari Alquran atau ia hanya merupakan “kata pengantar” saja yang esensinya bukanlah bagian dari kitab suci.

Salah seorang ulama besar yang menganggap al-Fatihah bukan sebagai bagian dari Alquran adalah Abu Bakr al-Asamm (w. 313 H). Dia dan ulama lainnya yang mendukung pandangan ini berargumen bahwa al-Fatihah hanyalah “ungkapan liturgis” untuk memulai bacaan Alqur’an. Ini merupakan tradisi popular masyarakat Mediterania pada masa awal-awal Islam.

Sebuah hadis Nabi mendukung fakta ini: “siapa saja yang tidak memulai sesuatu dengan bacaan alhamdulillah [dalam hadis lain bismillah] maka pekerjaannya menjadi sia-sia.”

Perbedaan antara mushaf Uthman dengan mushaf-mushaf lainnya bisa dilihat dari komplain Aisyah, isteri Nabi, yang dikutip oleh Jalaluddin al-Suyuthi dalam kitabnya, al-Itqan, dalam kata-kata berikut: “pada masa Nabi, surah al-Ahzab berjumlah 200 ayat. Setelah Uthman melakukan kodifikasi, jumlahnya menjadi seperti sekarang [yakni 73 ayat].” Pandangan Aisyah juga didukung oleh Ubay bin Ka’b, sahabat Nabi yang lain, yang didalam mushafnya ada dua surah yang tak dijumpai dalam mushaf Uthman, yakni surah al-Khal’ dan al-Hafd.

Setelah Uthman melakukan kodifikasi dan standarisasi, ia memerintahkan agar seluruh mushaf kecuali mushafnya (Mushaf Uthmani) dibakar dan dimusnahkan.

Sebagian besar mushaf yang ada memang berhasil dimusnahkan, tapi sebagian lainnya selamat. Salah satunya, seperti kerap dirujuk buku-buku ‘ulum al-Qur’an, adalah mushaf Hafsah, salah seorang isteri Nabi, yang baru dimusnahkan pada masa pemerintahan Marwan ibn Hakam (w. 65 H) beberapa puluh tahun kemudian.

Sebetulnya, kendati mushaf-mushaf para sahabat itu secara fisik dibakar dan dimusnahkan, keberadaannya tidak bisa dimusnahkan dari memori mereka atau para pengikut mereka, karena Alquran pada saat itu lebih banyak dihafal ketimbang dibaca. Inilah yang menjelaskan maraknya versi bacaan yang beredar pasca-kodifikasi Uthman. Buku-buku tentang varian-varian bacaan (kitab al-masahif) yang muncul pada awal-awal abad kedua dan ketiga hijriah, adalah bukti tak terbantahkan dari masih beredarnya mushaf-mushaf klasik itu.

Dari karya mereka inilah, mushaf-mushaf sahabat yang sudah dimusnahkan hidup kembali dalam bentuk fisik (teks tertulis).

Sejarah penulisan Alqur’an mencatat nama-nama Ibn Amir (w. 118 H), al-Kisai (w. 189 H), al-Baghdadi (w. 207 H); Ibn Hisyam (w. 229 H), Abi Hatim (w. 248 H), al-Asfahani (w. 253 H) dan Ibn Abi Daud (w. 316 H) sebagai pengarang-pengarang yang menghidupkan mushaf-mushaf klasik dalam karya masahif mereka (umumnya diberijudul kitab al-masahif atau ikhtilaf al-masahif). Ibn Abi Daud berhasil mengumpulkan 10 mushaf sahabat Nabi dan 11 mushaf para pengikut (tabi’in) sahabat Nabi.

Munculnya kembali mushaf-mushaf itu juga didorong oleh kenyataan bahwa mushaf Uthman yang disebarluaskan ke berbagai kota Islam tidak sepenuhnya lengkap dengan tanda baca, sehingga bagi orang yang tidak pernah mendengar bunyi sebuah kata dalam Alquran, dia harus merujuk kepada otoritas yang bisa melafalkannya. Dan tidak sedikit dari pemegang otoritas itu adalah para pewaris varian bacaan non-Uthmani.

Otoritas bacaan bukanlah satu-satunya sumber yang menyebabkan banyaknya varian bacaan. Jika otoritas tidak dijumpai, kaum Muslim pada saat itu umumnya melakukan pilihan sendiri berdasarkan kaedah bahasa dan kecenderungan pemahamannya terhadap makna sebuah teks. Dari sinilah kemudian muncul beragam bacaan yang berbeda akibat absennya titik dan harakat (scripta defectiva). Misalnya bentuk present (mudhari’) dari kata a-l-m bisa dibaca yu’allimu, tu’allimu, atau nu’allimu atau juga menjadi na’lamu, ta’ lamu atau bi’ilmi.

Yang lebih musykil adalah perbedaan kosakata akibat pemahaman makna, dan bukan hanya persoalan absennya titik dan harakat. Misalnya, mushaf Ibn Mas’ud berulangkali menggunakan kata “arsyidna” ketimbang “ihdina” (keduanya berarti “tunjuki kami”) yang biasa didapati dalam mushaf Uthmani. Begitu juga, “man” sebagai ganti “alladhi” (keduanya berarti “siapa”). Daftar ini bisa diperpanjang dengan kata dan arti yang berbeda, seperti “al-talaq” menjadi “al-sarah” (Ibn Abbas), “fas’au” menjadi “famdhu” (Ibn Mas’ud), “linuhyiya” menjadi “linunsyira” (Talhah), dan sebagainya.

Untuk mengatasi varian-varian bacaan yang semakin liar, pada tahun 322 H, Khalifah Abbasiyah lewat dua orang menterinya Ibn Isa dan Ibn Muqlah, memerintahkan Ibn Mujahid (w. 324 H) melakukan penertiban. Setelah membanding-bandingkan semua mushaf yang ada di tangannya, Ibn Mujahid memilih tujuh varian bacaan dari para qurra ternama, yakni Nafi (Madinah), Ibn Kathir (Mekah), Ibn Amir (Syam), Abu Amr (Bashrah), Asim, Hamzah, dan Kisai (ketiganya dari Kufah). Tindakannya ini berdasarkan hadis Nabi yang mengatakan bahwa “Alquran diturunkan dalam tujuh huruf.”

Tapi, sebagian ulama menolak pilihan Ibn Mujahid dan menganggapnya telah semena-mena mengesampingkan varian-varian lain yang dianggap lebih sahih. Nuansa politik dan persaingan antara ulama pada saat itu memang sangat kental. Ini tercermin seperti dalam kasus Ibn Miqsam dan Ibn Shanabudh yang pandangan-pandangannya dikesampingkan Ibn Mujahid karena adanya rivalitas di antara mereka, khususnya antara Ibn Mujahid dan Ibn Shanabudh.

Bagaimanapun, reaksi ulama tidak banyak punya pengaruh. Sejarah membuktikan pandangan Ibn Mujahid yang didukung penguasa itulah yang kini diterima orang banyak (atau dengan sedikit modifikasi menjadi 10 atau 14 varian). Alquran yang ada di tangan kita sekarang adalah salah satu varian dari apa yang dipilihkan oleh Mujahid lewat tangan kekuasaan. Yakni varian bacaan Asim lewat Hafs. Sementara itu, varian-varian lain, tak tentu nasibnya. Jika beruntung, ia dapat dijumpai dalam buku-buku studi Alquran yang sirkulasi dan pengaruhnya sangat terbatas.

** Apa yang bisa dipetik dari perkembangan sejarah Alquran yang saya paparkan secara singkat di atas? Para ulama, khususnya yang konservatif, merasa khawatir jika fakta sejarah semacam itu dibiarkan diketahui secara bebas.

Mereka bahkan berusaha menutup-nutupi dan mengaburkan sejarah, atau dengan memberikan apologi-apologi yang sebetulnya tidak menyelesaikan masalah, tapi justru membuat permasalahan baru. Misalnya, dengan menafsirkan hadis Nabi “Alquran diturunkan dalam tujuh huruf” dengan cara menafsirkan “huruf” sebagai bahasa, dialek, bacaan, prononsiasi, dan seterusnya yang ujung-ujungnya tidak menjelaskan apa-apa.

Saya sependapat dengan beberapa sarjana Muslim modern yang mengatakan bahwa kemungkinan besar hadis itu adalah rekayasa para ulama belakangan untuk menjelaskan rumitnya varian-varian dalam Alquran yang beredar. Tapi, alih-alih menjelaskan, ia malah justru mengaburkan.

Mengaburkan karena jumlah huruf (bahasa, dialek, bacaan, prononsiasi), lebih dari tujuh. Kalau dikatakan bahwa angka tujuh hanyalah simbol saja untuk menunjukkan “banyak,” ini lebih parah lagi, karena menyangkut kredibilitas Tuhan dalam menyampaikan ayat-ayatnya.

Apakah kita mau mengatakan bahwa setiap varian bacaan, baik yang berbeda kosakata dan pengucapan (akibat dari jenis penulisan dan tatabahasa) merupakan kata-kata Tuhan secara verbatim (apa adanya)? Jika tidak terkesan rewel dan simplistis, pandangan ini jelas tak bertanggungjawab, karena ia mengabaikan fakta kaum Muslim pada awal-awal sejarah Islam yang sangat dinamis.

Lalu, bagaimana dengan keyakinan bahwa Alquran dari surah al-Fatihah hingga al-Nas adalah kalamullah (kata-kata Allah) yang diturunkan kepada Nabi baik kata dan maknanya (lafdhan wa ma’nan)? Seperti saya katakan di atas, keyakinan semacam ini hanyalah formula teologis yang diciptakan oleh para ulama belakangan. Ia merupakan bagian dari proses panjang pembentukan ortodoksi Islam.

Saya cenderung meyakini bahwa Alquran pada dasarnya adalah kalamullah yang diwahyukan kepada Nabi tapi kemudian mengalami berbagai proses “copy-editing” oleh para sahabat, tabi’in, ahli bacaan, qurra, otografi, mesin cetak, dan kekuasaan. Proses-proses ini pada dasarnya adalah manusiawi belaka dan merupakan bagian dari ikhtiyar kaum Muslim untuk menyikapi khazanah spiritual yang mereka miliki.

Saya kira, varian-varian dan perbedaan bacaan yang sangat marak pada masa-masa awal Islam lebih tepat dimaknai sebagai upaya kaum Muslim untuk membebaskan makna dari kungkungan kata, ketimbang mengatribusikannya secara simplistis kepada Tuhan. Seperti dikatakan seorang filsuf kontemporer Perancis, teks –dan apalagi teks-teks suci, selalu bersifat “repressive, violent, and authoritarian.” Satu-satunya cara menyelamatkannya adalah dengan membebaskannya.

Generasi awal-awal Islam telah melakukan pembebasan itu, dengan menciptakan varian-varian bacaan yang sangat kreatif. Jika ada pelajaran yang bias diambil dari sejarah pembentukan Alquran, saya kira, semangat pembebasan terhadap teks itulah yang patut ditiru, tentu saja dengan melakukan kreatifitas-kreatifitas baru dalam bentuk yang lain.

54 thoughts on “Luthfi Assyaukanie – Al-Quran sudah tidak asli lagi

  1. Assalamualaikum wr,wb.

    Saya masih percaya bahwa “Allah yg menurunkan Al’Quran dan Allah juga yang menjaganya”….dan… “Apabila Jin dan Manusia bersekutupun tidak akan sanggup membuat yang serupa dengan Al-Quran”…serta “Apabila Allah menghendaki segala sesuatu didunia ini terjadi maka cukup Allah berkata JADI MAKA TERJADILAH”…amin…semoga Allah melindungi kita dan selalu memberikan hidayan NYA…amin

  2. Assalamualaikum wr,wb.Segala sesuatu yang terjadi saat ini hanyalah godaan belaka, saya berpendapat bahwa semua itu belum tentu adanya kebenaran. Saya selalu percaya kepada Allah pencipta alam semesta, dia tidak akan membiarkan umatnya untuk mengaduk – aduk Alquran. Apalagi bisa bertahan sampai saat ini dan dipergunakan untuk kepentingan umatnya. Semoga Allah mengampuni kalian, amin

  3. Assalamu’alaikum Wr. Wb.
    Saya masih percaya lo ama alquran sampai sekarang, selebihnya hanya kepada Allah gitu lo!!!!!

  4. Tulisan As-Syaukanie cukup bagus menurut saya. Hanya saja saya perlu menyarakankan agar beliau lebih memperluas lagi tulisannya dengan menyertakan referensi yg cukup dan jelas, sehingga tulisan tersebut benar-2 bisa ilmiah, insya Allah. Kemudian saya juga menyarakankan agar beliau bisa membaca lebih lanjut dan mendetail seputar sejarah penulisan al-Qur’an yg sudah disepakati oleh para ulama kaum muslimin dan seputar keragamaan qir’aah sejak zaman nabi saw. Sekian semoga bermanfaat.

    Al-Qur’an sudah dijanjikan oleh Allah akan tetap seperti sebagaimana diturunkan kepada Nabi dan tidak akan berubah sampai akhir zaman,
    dan apabila anda masih bersikeras dengan sifat anda seperti itu, saya tidak dapat berbuat apa-apa dan hanya dapat mendoakan agar anda kembali kejalan yang benar.
    Karena apabila anda sudah tidak percaya Al-Qur’an itu kalam Allah dan janji Allah terhadap kalam tersebut saya tidak ikut campur dengan yang akan terjadi pada anda.
    Kita lihat saja bagai mana akhirnya anda atau kami kaum muslimin yang benar.
    sekian saya
    Wassalamualaikum

  5. masih murni lho, makanya bljr bahasa arab, lagipula pe4maparan argumen sich kurang ilmiah(tdk dicantumkan sumber yang jelas)dan bisa dibilang pendapatnya itulah yang kurang asli.

  6. Assalamualaikum,

    Tuan penulis ini cuba menyogokkan tulisan dengan menyelitkan dongen sejarah supaya nampak ilmiah, siapa siapa pun boleh mencerita sesuatu hikayat yang disaluti sejarah supaya di percayai, masukan sedikit sedikit istilah arab, nama nama tokoh arab, soal nya benarkah sejarah pengumpulan Al Qur’an begitu? Kerana perkara tuduhan ini berat, sepatut nya tuan penulis menulis sejarah dengan lebih detail terperinci beserta dengan rujukan, Sepatutnya beliau membawa naskah sekarang yang tercetak dengan naskah purba tulisan tangan untuk perbandingan. Sepatutnya beliau juga memberi perhatian kepada Al Qur’an yang di hafal.

    Ini bukan lah kali pertama Al Qur’an cuba di ragukan, tetapi percaya lah, yang benar tetap benar, matahari tetap bersinar walau pun cuba di selubungi awan.

    Alhamdulillah, Allah menurunkan kalam terakhir nya dengan bahasa arab yang terperlihara, mudah di baca dan di hafalkan oleh bangsa bangsa seluruh dunia meski pun tidak di fahami semua erti nya. Cuba lah baca Al Qur’an dengan bacaan yang silap sedikit sahaja pun didepan bangsa Cina, batak, negro, jepun atau siapa saja yang muslim, pasti dapat dikesan, meski pun mereka tidak memahami erti nya.

  7. Asslamualaikum wr wb,

    Alhamdulillah masih banyak umat Muslim yang tetap berpegang teguh atas keaslian Al-Quran, namun setelah sya teliti tulisan Sdr. Luthfie Assyaukani ini tidak jauh berbeda dengan yang ditulis dalam Situs Indonesia Faith Freedom (IFF) yang memang secara jantan menyatakan bahwa situs itu bertujuan memurtad kan umat Muslim (tertulis jelas tujuan situs FFI). Penulis dengan Inisial Adadeh menguraikan sejarah penulisan Al-Quran yang intinya nyaris sama dengan yang diuraikan Sdr. Luthfie Sy. Silahkan periksa.

  8. Assalamu’alaikum wr. wb.

    Saya sependapat dengan saudara Alias Ibrahim, pada sisi lain, saya berpendapat memang kedetailan sumber rujukan termasuk bahasa Arabnya sengaja tidak ditulis, karena semuanya itu ditujukan semata-mata untuk meragukan keimanan bahkan bisa memurtadkan kaum muslimin yang awam dan baru belajar. Sperti halnya dengan FFI, sama bahkan juga faithfreedom.org (yg bukan indonesia) juga bertujuan sama, dengan dimotori oleh Dr. Ali Zain, jadi website2 itu memang direkayasa untuk menimbulkan keraguan kepada umat muslim, termasuk menu comment dan menu debate kelihatan direkayasa. Sebagai bandingan telah dibuat website faithfreedom.com yang memberikan informasi tentang agama Islam dengan obyektif. Saya usul dibuat juga website indonesia.faithfreedom.com buat bandingan indonesia.faithfreedom.org. Saya juga orang awam dalam pengetahuan Islam, dan saya bisa mengambil ilmu yang bermanfaat dari FFI, yg membuat sedih adalah kata-kata hujatan yang luar biasa terhadap Allah SWT-Tuhan Semesta Alam, dan Baginda Rasulullah Nabi Muhammad SAW. Kata-kata hujatan mereka menunjukkan rohani yang tidak sehat, dan penuh nafsu dan provokasi. Jadi memang bukan ajang diskusi yang sehat, saya sarankan tidak usah terlibat diskusi, karena tiap kita melihat jawaban2 yg anti Islam kata2 hujatan itu terbaca oleh kita tanpa sengaja. Tentu saja hal itu seperti menyayat-nyayat hati. Masha Allah. Saya sebagai muslim, tidak pernah ingin menghujat Yesus, Budha, Dewa-Dewa org Hindu, karena Allah memerintahkan umat muslim untuk berdiskusi dengan sebaik-baiknya. Saya juga mengalami proses dalam meyakini Islam, dari tidak percaya dengan Tuhan, jadi percaya adanya Tuhan, dari ragu akan perlunya agama, lalu yakin bahwa hanya ada satu jalan hidup (agama) yang pasti diberikan oleh Tuhan., Islam, agama semua Nabi. Dan Insha Allah sampai akhir hayat saya tetap beriman kepada Allah dan Rasulullah dan semua Nabi-Nabi Utusan Allah. Sebaiknya forum semacam FFI dihindari, tapi kalo sudah terlibat diskusi jangan setengah-setengah, cari jawaban tanpa emosi dan nafsu, jangan lupa bismillah dan istighfar, cari sumber-sumber terpercaya dari internet atau tanyakan kepada ustadz sekitar anda, bandingkan, renungkan, dan simpulkan, jangan ragu, itu adalah ilmu, kita akan bertambah dewasa dan bisa memaklumi pandangan dan pemikiran orang lain. Allah akan memberikan petunjuk dan akan menambah iman kita. Islam akan terus bercahaya walaupun dicoba ditutup dengan awan gelap. Insha Allah. Semoga kita berjumpa bersama dengan Allah SWT kelak. Amin. Wassalam.

  9. Beliau yang dengan jabatan dan kedudukannya, sudah tidak percaya lagi pada keaslian Al Qur’an, padahal Allah jelas sudah menegaskan posisi dan pemeliharaannya pada Al Qur’an.

  10. Salam,
    Wah…ini mungkin firqah ke 74 :D…

    belajar lagi yg dalam Kang. TQ.

  11. Aku heran bagaimana mungkin buku yang berisi hasutan dan kebencian itu masih dianggap kitab dari Tuhan. Apa iya Tuhan itu begitu jahatnya dan begitu haus darah?

  12. iNNA nAHNU nAZALNA zIKRO WAINNA LAHUU LAHAFIDZUUN, ” KAMI YANG MENURUNKAN PERINGATAN (AL QUR’AN) DAN KAMI PULA AKAN MENJAGA (kEMURNIA, KEUTUHANNYA).
    APAPUN PENDAPATNYA, KITA hanya boleh menganggapnya sebuah pendapat, tapi keimanan tentang keaslian alqur’an tetap harus tertanam dalam hati sanubari kita. Al ladziina yu minuuna bia unzila ilaika wamaa unzila men qoblika (al baqarah 1-5), tidak ada keraguan di dalam al qur’an; dan al qur’an pasti terjaga dari hal-hal yang membuat keraguan dan penjaga mushap ini tidak lain adalah penurun/ pemilik wahyu itu sendiri yakni Allah SWt. semoga kaum muslimin tidak menjadi ragu dengan pendapat as-syaukany.

  13. assalamualaikum..liman amanallahu ila akhiri nafsih
    Saya mandukung yang terhormat bapak Lutfi, karena apa yang ia cita-citakan sama seperti apa yang saya cita-citakan yakni ingin menjadi merasa terhormat atau terpandang walau dengan cara bagaimanapun. Nah, menurut saya (menurut Lutfi juga) membuka wacana mengenai hal ini mungkin akan jadi sangat menarik. Seandainya wacana ini bisa membuka karir,nama terhormat,terpandang atau keuntungan lain maka dengan segala rencana dan upaya lain mungkin (pasti) saya mempromosikan menjadi nabi. Ini adalah kebebasan yang hakiki menurut kami. Dan seandainya sukses (banyak pengikut dengan segenap keyakinan) mungkin (pasti) saya akan membuat proposal untuk mendirikan agama baru. Namun sebelum berdiri sendiri agama yang kami bangun numpang dulu ama agama islam (bolehkan…..??). Nah, setelah kedua-duanya sukses bisa gak yah kami berusaha menjadi tuhan (tapi saya belum musyawarah ama Lutfi, kira-kira yang pantes jadi tuhan saya atau Lutfi). Sah-sah sajakan? Hidup Lutfi.

  14. Hanya orang yang mempunyai kepentingan sendiri yang mengatakan Al-Quran tidak asli lagi, jikalau dia mengatakan hal seprti itu berarti dia orang yang harus diberikan siraman rohani kembali. ilmunya selama dia belajar agama telah luntur hanya karena kepentingan materil semata

  15. Kebanyakan makan uang haram tuh. Liat aja wajahnya persis seperti preman yang sering wara wiri di pasar.si luthfi ini asal ngomong aja.Sama aja lo sama bos mu si Gusdur dan setali tiga uang sama si Yenny wahid.Sama2 tukang fitnah dan pembohong,yang rela menjilat sana sini hanya untuk sekedar uang, baik dari barat maupun Jahudi.Kasihan orang tuamu ,jauh2 sekolah sampai ke Jordania hasilnya seperti kamu sekarang ini.Setelah gusdur dilaknat menyusul kamu dan pengikut JIL lainnya.Liat aja .Tak ada yang kekal di dunia ini.Gusdur aja hancur apalagi kamu.Krtahuan kan sekarang busuknya JIL ini.Pembohong dan rakus duniawi.

  16. Assalamualaikum

    karscirebon sedang meneliti bahwa ternyata Al_Quran yg turunnya berangsur angsur, mempunyai pola tertentu yang bila dimasukkan komputer dapat menghasilkan grafik mujizat alquran.

    Apakah abang bisa menolong saya, dengan cara ikut meneliti dari segi keilmuan abang?

    Abang bisa search:

    “karscirebon” di google untuk jelasnya.

    Trimakasih.
    Wassalamualaikum wmwb.

  17. Upaya ?merongrong? Al-Qur?an terus terjadi. Jika dahulu banyak dilakukan kalangan orientalis yang benci Islam, kini, justru dilakukan para ?santri? pondok pesantren setelah mengaji di kalangan orentalis ?Usaha ?Utsman bin Affan r.a. mengumpul-susun al-Qur?an akan senantiasa dijunjung tinggi, karena hal itu merupakan sumbangannya yang paling besar. Memang di kalangan orang-orang yang menyeleweng ada yang mencelanya, namun justru malah kecacatan mereka yang tersingkap.? (Abu ?Ubayd)

    Kata-kata Abu ?Ubayd (224 H/ 838 M) ini muncul lebih dari seribu tahun yang lalu dalam rangka menanggapi usaha sia-sia para perongrong kewibawaan Al-Quran Mushaf Uthmani ketika itu. Ulama yang mempunyai otoritas ilmiah dalam berbagai disiplin ilmu Islam ini, termasuk ?Ulum al-Qur?an, mengisyaratkan bahwa setiap bantahan terhadap Mushaf Utsmani akan senantiasa dijawab-balas oleh para ulama Islam, dan dibongkar kecacatan serta kelemahannya.

    Satu abad kemudian, seorang sarjana Al-Quran yang bernama Abu Bakr al-Anbar (328 H/ 939 M), dalam pembelaannya terhadap Mushaf Utsmani pernah menulis buku, al-Radd ?ala Man Khalafa Mushaf ?Utsman(Sanggahan Terhadap Orang yang Menyangkal Mushaf Utsmani). Begitu juga di abad ke tujuh Hijriyah , al-Qurthubi (671 H/ 1272 M), seorang ahli tafsir yang berwibawa dan masyhur, dalam mukadimah kitab tafsirnya menyediakan satu bab khusus mengenai hujah-hujah untuk membalas dakwaan bahwa dalam Mushaf Utsmani terdapat penambahan dan pengurangan.

    Perbedaan Riwayat Mengapa ada yang berupaya menyangkal kebenaran Mushaf Utsmani? Jawabannya terdapat pada sejarah Al-Quran itu sendiri, dimana terdapat riwayat ataupun berita-berita mengenai proses penyusunannya yang mengandung perbedaan. Di antaranya adalah berita mengenai adanya beberapa mushaf yang dimiliki Sahabat yang tidak sama dengan Mushaf Utsmani, seperti Mushaf Ubay bin Ka?ab dan Mushaf Ibnu Mas?ud yang satu sama lain agak berbeda dari segi susunannya. Begitu pula dari segi kelengkapan surah-surahnya. Misalnya pada Mushaf Ibnu Mas?ud tidak terdapat surat an-Nas dan al-Falaq. Sementara pada Mushaf Ubay bin Ka?ab ada sejumlah kecil tambahan. Ada juga yang menyusunnya berdasarkan tanggal penurunannya. Misalnya Mushaf Sayidina ?Ali, yang diriwayatkan berawal dengan ?iqra? bismi rabbika? yaitu awal surah al-?Alaq.

    Walau bagaimanapun semua itu hanyalah riwayat yang bersifat ahad atau berita-berita yang disampaikan oleh segelintir orang yang disebutkan dalam kitab-kitab tertentu, seperti kitab Tafsir, Lughah, dan Qiraat. Sejauh mana kebenaran riwayat itu memang dapat ditelusuri dari Ulum al-Hadits dan hal itu sudah diperkirakan oleh para ulama Islam. Oleh karena itu mereka tetap melayani kritikan-kritikan yang ditujukan kepada Mushaf Utsmani, selagi ada dasar periwayatannya.

    Sebagai contoh, menurut Ibnu Hajar riwayat yang mengatakan bahwa Mushaf Ibnu Mas?ud itu tidak mengandungi Surat al-Falaq dan Surat an-Nas adalah sah. Sementara bagi Fakhruddin ar-Razi dan an-Nawawi, riwayat itu batil. Ar-Razi diantaranya berhujah bahwa jika benar bahwa di dalam Mushaf Ibnu Mas?ud itu tidak terdapat kedua surah tersebut, maka hanya ada dua kemungkinan. Pertama, jika periwayatan Al-Quran secara mutawatir telah tercapai di zaman Sahabat, maka pengurangan itu membawa kepada kekufuran dan tidak mungkin Ibnu Mas?ud berbuat kufur seperti itu. Kedua, jika periwayatan secara mutawatir belum tercapai di zaman Sahabat, ini bermakna al-Qur?an tidak diriwayatkan secara mutawatir sejak awalnya, maka hal ini juga tidak dapat diterima. Oleh karena itu bagi ar-Razi hanya ada satu jawaban yang mungkin, yaitu riwayat yang mengatakan bahwa Mushaf Ibnu Mas?ud itu tidak mengandung al-mu?awwidzatain itu adalah riwayat yang tidak sah.

    Ibnu Hazm juga mengatakan bahwa riwayat itu dusta. Ia mengemukakan riwayat lain dari Ibnu Mas?ud sendiri bahwa dalam mushaf beliau terdapat kedua surah tersebut. Al-Bazzar juga menambahkan bahwa tidak ada seorang Sahabat pun yang mengikuti Ibnu Mas?ud jika benar mushafnya begitu. Sedangkan telah sah riwayat yang mengatakan bahwa Rasulullah SAW membaca kedua surah itu dalam shalat.

    Ibnu Hajar walau bagaimanapun tetap mempertahankan bahwa riwayat ketiadaan dua surah itu sah. Dan bagi beliau, mereka yang mencela riwayat yang sah tanpa sandaran yang kukuh adalah tertolak. Walaupun begitu, demi mempertahankan Mushaf Utsmani beliau menerima takwil. Ibnu Hajar, yang mengambil takwil Ibnu al-Abbas, mengakui bahwa riwayat kedua surah sebagai bagian dari al-Qur?an memang telah tercapai secara mutawatir dikalangan Sahabat. Tetapi ia sendiri menganggapnya tidak mutawatir, sehingga beliau tidak memasukkannya dalam mushafnya. Begitulah contoh hujah-hujah para ulama Islam yang mempertahankan Mushaf Utsmani.

    Mushaf Utsmani, yaitu mushaf yang digunakan oleh seluruh umat Islam sampai hari ini, baik Ahlu Sunnah di kebanyakan negeri-negeri Islam ataupun Syiah di Iran. Ia merupakan mushaf yang disandarkan kepada riwayat yang mutawatir, yaitu suatu jalan periwayatan dari generasi umat Islam terawal kepada generasi umat Islam yang lain yang tiada terputus dari semenjak zaman Khalifah ?Utsman sampai hari ini. Namun perlu juga disebutkan di sini bahwa Mushaf Utsmani ini pun bukan hanya yang terdiri dari satu mushaf saja, tetapi ada beberapa mushaf yang disebut sebagai al-Masahif al-?Utsmaniyah.

    Sejarah mengatakan bahwa Khalifah Utsman telah menghantar beberapa naskah mushaf itu ke seluruh kota-kota besar Islam pada ketika itu, yaitu ke Mekah, Syam, Yaman, Bahrain, Basrah, Kufah dan satu disimpan di Madinah sendiri. Walaupun ada perbedaan kecil pada mushaf-mushaf tersebut, seperti kebeadaan dan ketiadaan huruf-huruf tertentu pada masing-masing mushaf itu, para ulama tetap menerima perbedaan itu, dan tetap mengakuinya sebagai Mushaf Utsmani.

    Mengapa pula perbedaan-perbedaan itu muncul? Jawabannya ada pada tafsiran mengenai sabda Rasulullah SAW yang mengatakan bahwa Al-Quran itu diturunkan di atas tujuh huruf. Para ulama memang berbeda pendapat mengenai tafsir ayat itu. Imam as-Suyuti, misalnya menyebutkan sekitar empat puluh tafsiran. Pada pokoknya, Rasulullah (s.a.w.) sendiri memberi kebenaran dan kelonggaran akan adanya perbedaan bacaan untuk memudahkan umatnya dalam membaca al-Qur?an. Perkataan ?tujuh? pada ?tujuh huruf? itu menurut para ulama tidak menunjukkan bilangan tertentu, tetapi menunjukkan banyaknya perbedaan itu sendiri. Walaupun begitu perbedaan-perbedaan itu tetap mempunyai batas tertentu yang dibincangkan oleh para ulama.

    Berpegang pada tafsiran ?tujuh huruf? tersebut, sebagian mereka berpendapat bahwa ketujuh huruf itu telah terkandung di dalam Mushaf Utsmani, dan sebahagian yang lain pula mengatakan bahwa mushaf itu merupakan satu diantara tujuh huruf tersebut. Namun mereka sepakat bahwa Mushaf Utsmani itu bersandarkan kepada bacaan terakhir yang dikemukakan Jibril kepada Rasulullah sebelum beliau wafat.

    Perlu juga dijelaskan di sini bahwa Mushaf Utsmani mengandung keseluruhan bacaan yang disepakati, karena mushaf ini ditulis mengikut bacaan yang mutawatir. Walau begitu ada pula bacaan-bacaan yang kurang disepakati, bergantung pada cara periwayatannya. Para ulama telah membagi bacaan Al-Quran kepada bacaan mutawatir (tidak mungkin salah), bacaan masyhur (terkenal), bacaan ahad (segelintir perawi), bacaan syadz (cacat), bacaan mawdhu? (palsu), dan bacaan mudraj. Bacaan masyhur dan ahad yang sah periwayatannya pada umumnya diterima oleh para ulama sebagai sebahagian dari makna tujuh huruf. Adapun bacaan syadh, mawdhu?, dan mudraj tidak dianggap sebagai bacaan yang sah dan tidak termasuk bagian dari tujuh huruf al-Qur?an.

    Para perongrong al-Quran selalu mengemukakan riwayat yang syadz, mawdhu? atau mudraj, tetapi umat Islam tidak mempedulikan riwayat tersebut, sehingga tinggallah riwayat itu dalam lipatan buku-buku yang hanya dibaca oleh para sarjana yang memang tahu bagaimana menyikapinya. Berbeda dengan dahulu, dimana para pengkritik itu terdiri dari orang-orang Islam sendiri, kini golongan perongrong ini didukung pula oleh para pengkaji dari Barat (orientalis) yang telah berputus asa terhadap keaslian kitab suci mereka sendiri.

    Golongan orientalis itu, baik yang berpegang teguh dengan agama mereka ataupun yang hanya semata-mata bersimpati tetapi tidak teguh dengan ajaran agama mereka, memang menginginkan agar nasib al-Quran itu sama dengan nasib kitab suci mereka (banyak cacat). Selain menggunakan riwayat dan berita-berita yang telah kita sebutkan di atas, mereka juga mencari dan menggunakan manuskrip-manuskrip al-Quran yang mereka temukan. Kajian dan olahan mereka inilah yang digunakan oleh pengkritik Mushaf Utsmani dari golongan orang Islam untuk menguatkan lagi riwayat dan dakwaan mereka. Karena itu peperangan ilmiah ini masih akan berlanjut sampai hari ini.

    Namun ada perbedaan, bila dahulu para ulama kita tinggi kedudukannya dan banyak jumlahnya serta peradaban Islam begitu menguasai kehidupan untuk menghadapi para pengacau, hari ini kita kekurangan para ulama yang berwibawa untuk menghadapi para penentang moden yang kini semakin banyak. Lebih-lebih mereka juga disokong oleh para orientalis dengan kekuatan peradaban Barat yang mendominasi dunia. Kondisi itu membuat kaum muslimin makin rendah diri dengan Islam.

    Diantara orang-orang Islam yang lemah imannya dan dangkal ilmunya ada yang keluar dari Islam dan dengan serta merta melancarkan serangan terhadap Islam sambil menyerang al-Quran. Misalnya seseorang yang menggunakan nama samaran Ibnu Warraq, yang konon asalnya seorang muslim, menulis sebuah buku Why I am not a Muslim serta mengkritik Al-Quran dengan mengumpulkan kajian-kajian orientalis yang telah lapuk dalam bukunya The Origins of the Koran.

    Dikalangan pemikir muslim ada Mohammed Arkoun, yang berasal dari Algeria dan mendapat Ph.D. dari Universitas Sorbonne. Ia mengkritik, menghakimi dan mencanangkan pembaharuan (tajdid) terhadap Mushaf Utsmani, dan dengan bantuan faham deconstruction Derrida, salah seorang pemikir post-modernism. Arkoun berusaha membongkar (deconstruct) al-Quran.

    Taufik Adnan Amal, dari Indonesia juga berusaha mengeluarkan Al-Qur?an Edisi Kritis. Usaha itu sebenarnya terpengaruh dan meniru-niru para orientalis tua yang dahulunya pernah mempunyai ambitious project yang sesungguhnya gagal.

    Kini dari Moroko di Afrika Utara hingga ke Merauke di Indonesia kita menyaksikan secara langsung kemunculan penentang Mushaf Utsmani di kalangan orang-orang Islam sendiri. Mudah-mudahan kata-kata keramat Abu ?Ubayd di awal tulisan ini sekali lagi akan menjadi kenyataan pada hari ini, sebagaimana pada masa-masa yang lalu.

    Dr. Ugi Suharto, Asisten Profesor Universitas Islam Antarbangsa (UIA), Malaysia (dari majalah Hidayatullah, edisi April 2004)

  18. mas ga sebaiknya mas bicara di forum umum terbuka ama umat muslim indonesia aja jgn dunia. jgn menggonggong d dalam gelas….. berani ga sampean!!!!
    gw sih insyaallah masih menjunjung al qur’an yg anggap mas sesat itu, makanya belajar mengaji ama ustad jgn ama murid dazjal oke….. berani ga mas!!!!

  19. Bagus sih buat wawasan, sejarah walau pahit ya harus di buka, gak usah ditutupi, kita mesti arif menyikapinya. Tapi kalau saya yakin Al Quran yang sekarang ini adalah yang sudah benar dan hak setelah melalui proses menuju kemurnian sejati, ya, lewat sejarah itu, dan itu adalah yang di janjikan dan dijaga sama Alloh SWT. ngono kok repot.

  20. Assaalamualaikum wr. wb,

    Astaghfirullahalazim, pertama-tama saya ucapkan karena terbaca tulisan yang apapun alasan ilmiahnya tetapi pada dasarnya dapat memesongkan aqidah. Sebagai muslim yang merasa mempunyai iman dan keyakainan akan kebenaran agama Islam menyimpan tanda tanya besar terhadap mahluk-mahluk Allah yang mengaku dirinya Islam tetapi merasa ragu didalamnya, sehingga mengakaji hal-hal yang bukannya untuk memperkuat rasa keimanan malah sebaliknya. Namun demikian sebagai sesama muslim walau mereka tersesat jauh pun tetapi tidak sampai ketahap syirik marilah kita do’akan semoga Allah memberi keinsyafan pada mereka, semoga mereka-mereka itu ingat dan sadar akan hari akhir nanti dimana mereka akan diminta pertanggung jawaban atas apa-apa hasil pemikiran mereka selama berada di dunia yang hanya sementara.

    Wassalam

    Atang

  21. Dosen sok tahu mas. Semoga Allah tidak menciptakan makhluk yang serupa..

  22. meskipun ga layak saya berucap salam ke pada anda(JIL),tp apa salahnya saya saya mendoakan anda(JIL), Asalamu’alaikum ….

    atas dasar apa anda mengatakan bahwa al-Qur’an yang ada pada zaman sekarang dan yang akan datang sudah tidak asli lagi?????
    tolong kasih saya bukti dari apa2 yang sudah dirubah,bagaimana bentuk (lafadz) aslinya, terus apa alasannya merubah alqur’an,pada zaman apa dirubahnya. seblum anda dengan gagahnya mengatakan al-qur’an dirubah, tolong tunjukin bukti2 yang saya minta,!!!!

    klo anda tidak percaya sama kalamulloh, berarti anda tidak percaya sama Alloh SWT,yang saya takutkan, jangan2 anda menyangka Alloh SWT, di rekayasa juga????klo gitu tuhan anda Alloh yang mana??

    saya menangkap dari pembicaran JIL bahwa manusia seiring berjalannya waktu maka polapikir dan kecerdasanya makin berkembang pula, saya tantang anda untuk merubah ayat2 yang ada di Al-qur’an,klo anda merasa bahwa anda salah satu manusia yang polapikirnya berkembang,
    wass

  23. Assalamualaikum bang adank,

    Bank, perlu Abank tahu Orang-orang JIL itu mendapat biaya hidup dari orang kafir. namun adanya kesepakatan antara mereka yaitu berupa usaha untuk mengacak-acak islam.

    Biar lebih jelas Abang ikuti terus perlajalanan mereka. Pelajari pula biografi mereka. Trims

  24. Assalamuallaikum Wr.Wb.

    Hari ini saya membaca Tabloid Media Umat, hal. 19, edisi 5, 23 Jan, dengan tajuk “Awas Zionisasi Terselubung”.

    Pada tulisan tersebut saya sangat kaget karena ada ulasan mengenai orang yang bernama “Luthfi Assyaukanie” menulis di Facebook bahwa orang ini lebih pro-Yahudi dengan menyatakan kebanggaan nya terhadap Israel dan juga menyudutkan Palestina, dunia Arab, bahkan dunia Islam secara keseluruhan dengan sebutan “dungu”.
    Ini orang saya duga sebentar lagi akan mati sia-sia kalau masih hidup di Indonesia.

    Si Luthfi Assyaukanie ini ternyata termasuk pendiri dari organisasi bernama Jaringan Islam Liberal (JIL) yang saya pun nggak jelas apa visi dan misi organisasi tersebut.

    Disebutkan pula pada Tabloid tersebut : … setali tiga uang dengan Lutfie, adalah dosen Paramadina “Abdul Moqsith Ghozali”, ia begitu bersemangat dan menginginkan Indonesia membuka hubungan diplomatik dengan Israel seperti yang terungkap di tayangan diskusi Barometer-SCTV, Rabu, 7 Jan 2009 itu.
    Disamping itu, tabloid ini juga menyampaikan beberapa nama lain termasuk orang2 yang kita kenal baik kalau dengar nama nya. Astagfirullah!!

    Coba Anda perhatikan lagi bahwa orang-orang ini dilansir sebagai si antek nya Yahudi!!. Satu media-massa (entah sudah berapa banyak media lainnya) sudah men-cap orang ini sebagai Zionis, tentunya dengan bukti otentik di FB dari sumber yang dipercaya.

    Waspada!!!
    Terima kasih.

    Wassalamuallaikum Wr. Wb.

  25. hebat betul si luthfi itu? siapa dia? namanya aja lutfhi (Kelembutan) tapi sangat kasar kata-katanya yang berani mengatakan Al-Qur’an tidak asli lagi, coba apakah ia berani mengatakan “saya tidak asli anak ibu saya”, al-qur’an sumber utama kehidupan umat islam, berani sekali ia mengatakan demikian, lihat aja mukanya yang item tanpa cahaya sama sekali, mudah-mudahan tamabh item karena mencaci wahyu ilahi.

  26. Kalau saya simple aja : klau memang luthfi mengatakan al-quran sekarang tidak asli, lantas apa usaha dia untuk membuat asli nya bisa didapat kembali, kenapa tidak ada artikel mengenai itu. Jangan pengecut hanya bisa lempar masalah ke tengah masyarakat yang mengakibatkan perpecahan dong

  27. Yth. Sdr. Lutfie Assyaukanie

    Ane tau bang Lutfie, Lumayankan honor dari Mossad & CIA, ‘good pay’ ? apa sih yang dicari dari buat kontroversi paling ujung-ujungnya duit, salam dari agen minyak sayur

  28. Assalamualaikum

    Bertobatlah …perusak Islam…anda memang pandai .tetapi kepandaian anda malah menjadi …musuh Islam..mudah2an anda
    dapat petunjuk

  29. Sdr. Lutfie Assyaukanie
    Astaghfirullah…. segera bertobat temanku, sesungguhnya Alloh Maha Memaafkan, Semoga Alloh Sang Maha Pencipta memberikan taufik dan hidayah kepada anda. Saya rasa anda akan sangat membantu Islam apabila anda menggunakan segala kemampuan yang telah dengan baik hati diberikan oleh Alloh SWT kepada anda. Saya akan mendo’akan semoga anda tidak dilaknat Alloh SWT atas apa yang telah anda lakukan…

  30. Pak Luthfie..
    Masih mengaku sebagai muslim..? di ktp anda juga masih tertera begitu..? Sekalian aja pak..keluar dar Islam..toh menurut anda semua agama itu sama kan..?
    Silakan bermakar menentangNya..Makar Alloh lebih canggih !!

  31. Apa yang ditulis Luthfi Assyaukanie diatas, kalau dimasukkan ke dalam hati, keyakinan, dan keimanan akan menumbuhkan emosi, kebencian dan perpecahan.

    Saya seorang muslim yang mencoba berfikir jernih, tidak mengedepankan emosi (walau sedikit gundah dengan tulisan diatas), dan mencoba memberi tanggapan:

    OK, Kalau dinalar secara jujur memang harus saya akui bahwa Al Quran telah melalui perjalanan yang cukup panjang selama berabad-abad. Dimana belum adanya percetakan dan tidak semua orang bisa membaca menyebabkan terjadinya kerentan terhadap “perubahan dan perbedan”.

    Seandainya teknologi waktu itu sudah seperti sekarang, tentu “kemungkinan itu” dapat ditiadakan sama sekali, sehingga kita bisa tenang beribadah (kan tinggal di copy paste).

    Tapi mau bagaimana lagi???

    Kita jangan memperuncing suasana, apalagi yang memberi komentar hanya berdasarkan emosi. Sebaiknya berkomentar yang menyejukkan, yang memberikan solusi.

    Jadi menurut saya:
    Kalau anda menggunakan ukuran hati dan iman sebagai dasar, maka jangan percaya dengan tulisan ini percayalah saja dengan keimanan mu itu. Karena tidak akan ada titik temu itu antara rasa dan nalar.

    Semoga setelah ini tidak ada komentar yang EMOSIONIL, OK? Peace man…. ha..ha..ha…

  32. @Abbas – Seandainya teknologi waktu itu sudah seperti sekarang, tentu “kemungkinan itu” dapat ditiadakan sama sekali, sehingga kita bisa tenang beribadah (kan tinggal di copy paste).
    .
    He he… justru di zaman sekarang ini ada sangat banyak cara untuk kehilangan data yang shahih.
    .
    Contoh: tahun 80-an BBC membuat Doomsday book, dalam format Laserdisc. Media penyimpanan ini terkenal awat dan bisa bertahan dalam waktu yang sangat lama.
    .
    Tahun 90-an, Doomsday book tersebut berhasil diselamatkan dari kepunahan, dengan memanfaatkan laserdisc player terakhir yang ada. Sehingga isinya masih bisa dibaca. Setelah itu, segera dipindahkan ke media penyimpanan yang lainnya lagi.
    .
    Tradisi menghafal dan menyampaikan informasi secara lisan, seperti yang digunakan oleh para hafidz dalam menyampaikan Quran dan Hadits itu sudah bagus — karena dipadukan dengan metodologi pemeriksaan dan crosscheck-ing yang sangat robust (apa ya b.Indonesia dari kata ini?)

  33. wah……hebat ya…mas luthfi, ternyata otak nya kritis banget ya…bisa ngomentari Al-Quran sedemikian dahsyat hebat mas top abis!!! acung dua jempol buat mas luthfi ( TAPI MAAF JEMPOL NYA NUNGGING KE BAWAH !!!!) kalo perlu pant…(sensor) saya nungging ke muka nya sekalian,

    and selamat juga kalo besok hari ada interview sama malaikat mudah-mudahan bisa jawab dengan lancar. Lumayan mas hadiahnya….tiket plus voucer penginapan gratis tuk nginep di NERAKA paling bawah……!!!!

  34. sekali lagih…(ambil dari atas)

    iNNA nAHNU nAZALNA zIKRO WAINNA LAHUU LAHAFIDZUUN, ” KAMI YANG MENURUNKAN PERINGATAN (AL QUR’AN) DAN KAMI PULA AKAN MENJAGA (kEMURNIA, KEUTUHANNYA).
    APAPUN PENDAPATNYA, KITA hanya boleh menganggapnya sebuah pendapat, tapi keimanan tentang keaslian alqur’an tetap harus tertanam dalam hati sanubari kita. Al ladziina yu minuuna bia unzila ilaika wamaa unzila men qoblika (al baqarah 1-5), tidak ada keraguan di dalam al qur’an; dan al qur’an pasti terjaga dari hal-hal yang membuat keraguan dan penjaga mushap ini tidak lain adalah penurun/ pemilik wahyu itu sendiri yakni Allah SWt. semoga kaum muslimin tidak menjadi ragu dengan pendapat as-syaukany.

  35. salam
    Sdr Assyaukanie
    kalau anda menulis ini cuma untuk memberitahukan bahwa alquran itu udah ngga asli, buat apa Anda memperjuangkan JIL? jaringan Islam Liberal…?dari namanya aja udah ‘Islam”, cuma kok setelah saya lihat-lihat situsnya…isinya terlalu teoretik dan berbelit-belit, padahal untuk menyampaikan dakwah, jangan berbelit2 dan bikin orang makin bingung dan meragukan islam.
    Hmmm, saya tahu ada sejumlah kepentingan dibalik tulisan Anda, juga catatan perjalanan Anda ke Israel, okay, tapi dari tulisan Anda, sepertinya anda malah membuat semakin banyak perpecahan?
    coba bicaralah dari hati anda yg paling dalam, apa yg anda cari dlm hidup ini, sebuah pembenaran harus disertai bukti-bukti yang akurat, relevan dan manfaat. dan akhir dari sebuah pembenaran itu adalah kebaikan buat semua orang yang membaca tulisan anda, bukan malah membuat mereka semakin bingung…mengapa anda islam tapi malah meragukan keyakinan anda sendiri.

  36. eh mas oran islam kan ????
    menurut mas semua agama sama ????
    tapi kenapa hanya alqur’qan yang mas bilang bukan wahyu allah….kitab-kitab agama lain yang tidak mas komentari mengapa hanya alqur’an ????
    orang islam kok ragu sama agama.a sendiri.
    keluar aja dari islam !!!!!!!!

  37. Mosok sih???
    Beberapa tulisan anda mungkin bersumber pada referensi yang Anda baca…
    Namun, tambahan pemikiran Anda yang ikut tertuang dalam artikel di atas adalah salah satu penyebab semakin terpuruknya Islam.
    Ingat! Semua yang anda lakukan akan dimintai pertanggungjawaban di akhirat kelak…

    Nb:Misi utama anda apa sih?Kok tega-teganya ya.

  38. Komen buat LutHfi, udah gila kali tuh, atau kesurupan ya atau bukan Muslim, aneh kok bisa jadi dosen , belajarnya dimana,

  39. luthfi mungkin dapat keuntungan dr tulisan2nya yg sensasional, mungkin juga diwaktu kecil n remaja dia ngalamin banyak hal yg ga enak dr orang2 islam disekelilingnya yg mengatasnamakan islam,padahal mungkin mereka juga ga ngerti islam. ungkin dr situlah dia banyak berkontemplasi n ketemu ma orang2 yg berpikiran beda n menyimpang, yg disatu sisi meyakini islam, tp disisi lain meremehkannya. Mungkin orang2 ini + pengalaman hidup luthfi yg membuat tulisannya menyakiti banyak umat muslim yg sebetulnya baik2 aja. Saya gak tahu apa dugaan ini bener tapi setahu saya banyak orang membuat tulisan yg sensasional krn pengalamannya masa lalunya ga enak.

    Menurut saya, Luthfi dosen, tapi mungkin dia atheist. Tulisan2nya menunjukkan hal itu. Tulisan2 nya yg lain juga menunjukkan betapa dia menyamaratakan semua orang islam, padahal disetiap agama kan, ada yg anarkis, ada yg baik. dan saya tahu, didunia ini kalau orang mau nunjukin kebencian m islam, dia akan dapat banyak sekali dukungan dari gerakan anti-islam, gerakan2 ini memang tujuannya 1. membuat orang ragu, 2.memurtadkan roang islam, 3. memperoleh kesenangan dengan menjelek2an islam yg mereka anggap jelek selamanya.

    Mungkin Luthfi bergaul dengan orang ini dan terpengaruh, bisa jadi karena kepribadiannya labil.

  40. Saya fikir, Lutfi As syaukani itu di gaji Ratusan Juta oleh pihak asing (Kafir) untuk sengaja mengobrak-abrik agama Rahmatanlil alamin (Islam) dan Akidah para Umat Islam!!! Mari kita semua umat islam bersatu untuk menghancurkan musuh-musuh Allah SWT.

  41. Dari jaman nabi Adam sampe nabi Muhammad seh banyak orang orang ga bener. makanya baca Bismillah setiap baca Al Quran. Setan tuh diciptakan Allah untuk selalu memurtadkan manusia dari Allah. Setan manusia. Ati-ati aja. dajjal ada di antara kita. fitnah dajjal paling bahaya sepanjang jaman. dajjal inilah yang bisa menyerupai nabi, ulama. itulah dajjal. jadi dari orang Islam sendiri yang munafik yang ga percaya Al Quran ya itulah temennya setan. dajjal sarat dengan teknologi. ilmu agamanya melebihi ulama. gitulah cara menyesatkan & murtadkan Islam. Buat temen yang buka faithfreedom.org. jika buka situs baca saja. ga usah komen, semakin anda komen semakin suka dia karena banyak yg buka situsnya. ntar lama2 bosen2 juga ga ada komen di situsnya. ok buat moslem entah moslem KTP, moslem awam, moslem taat pokoknya sesama moslem bersatu. bacalah selalu Al Quran karena Al Quran adalah penyelamat kita dari setan, iblis dan dajjal dan di hari kiamat. Semoga sampe mati kita tetap iSlam. Jangan pernah ada keraguan. Manusia emang terlalu sombong dengan ilmunya. coba ciptakan alat deteksi tsunami dan gempa bumi. coba ramal meteor akan jatuh. coba beritahu saya matahari sudah bersinar sejak kapan. jadii manusia jangan sombong ah. diberi ilmu sedikit aja udah sombong. yg pake gelar PHD, DR, DOsen.

  42. Lutfi Assaukanie Lo Tuh Di Buru sama FPI . . .

    Ati Ati lo klo cuap cuap, jangan asal ceplas ceplos
    belajar dulu yg bener
    Belajar Fiqih Islam GA Perlu Nyandang Gelar Phd atau Doktor . . .

  43. Sebetulnya apa yang disampaikan oleh Saudara Luthfi Assyaukanie adalah sejarah. Ada pepatah yang mengatakan, bangsa yang besar adalah bangsa yang memelihara dan belajar dari sejarahnya. Begitu juga dengan Agama. Menurut saya, apa yang disampaikan oleh Saudara Luthfi adalah motivasi untuk kita semua sebagai Umat Islam untuk selalu berpikir, mencari kebenaran dan tidak hanya berdiam diri sambil menunggu disuapi.
    Menurut saya, umat islam masih menjalani agamanya hanya berdasarkan ‘katanya’. Kata guru, kata orang, kata ulama, kata sufi dan belum mempelajari dan menggali lebih dalam mengenai Islam. Hal inilah yang dipicu oleh Saudara Luthfi. Agar kita lebih pintar.

  44. lutfi..saya salut sama anda..pemikiran anda sangat berlian..hebat..hebaaaaaat…hidup lutfi,semoga anda cepat mati nyawa anda di cabut dengan sekasar kasar nyo oleh malaikat…anda benar2 yahudi,..anda biki aja agama lain jangan pakai embel2 islam segal..dasar murtad..ibliss…dajjal….

  45. Yang asli ada di Lauhul Mahfuz…….Intinya telah diturunkan didalam sanubari tiap manusia.jadi janganlah kita pertengkarkan soal cetak mencetaknya ..apa makna diturunkannya .Siapa yang TAAT DAN PATUH kepada ALLAH dialah yg beragama ISLAM.yg diredoi olehNYA…Islam bukan kelompok ,bukan suatu benda,atau sesuatu.

  46. Saya kira tulisan di atas biasa aja, g ada yang baru cz jauh sebelumnya memang sudah banyak intelektual muslim yang menyinggung masalah ini cuma kitanya saja yang-belum banyak membaca tentang khazanah Islam- merasa terkejut, lagi2 alasannya karena mereka tidak banyak membaca. ingat! membaca yg saya maksud bukan membaca al-Qur’an untuk memperoleh pahala, tapi membaca studi-studi al-Qur’an yang telah lama diperbincangkan oleh Ulama kita dulu (ingat! ulama yang saya maksud bukan MUI, kalo MUI mah sama saja “tolol”)

  47. lumayan banyak komentatornya, tapi dari sekian banyak itu kayaknya g ada yang berBOBOT. saya kira siapapun boleh berbicara selama dia punya data (tidak ngibul), termasuk Luthfi. apalagi kalo kita pahami tulisan di atas, dia cukup punya data untuk berbicara tentang sejarah al-Qur’an.
    dia mencoba mengkaji sejarah al-qur’an dengan pendekatan ilmiah (bukan dogma). karena dia menggunakan pendekatan ilmu maka sangat wajar jika tulisan itu menakar sejarah al-Qur’an secara jujur (apa adanya) dalam sejarah. sesuai dengan artinya, (“ilmu” sofistifikasi terhadap persoalan yang sederhana).
    beda lagi kalau kita mau memahami al-Qur’an ini secara dogmatis. memahami Qur’an dg pendekatan ini tidak ribet dan relatif simple. ia mencoba melakukan simplifikasi terhadap persoalan yang sebenarnya rumit. orang-orang semacam ini biasanya memahami al-Qur’an sebagai sesuatu yang murni tanpa sentuhan sejarah, sehingga harus diyakini apa adanya.
    sehingga, wajar dong mereka agak terkejut bahkan cenderung mengkafirkan penulis di atas, toh mereka hanya bergerak dalam kedok DOGMA

  48. “kami percaya bahwa teks2 dalam Alquran telah ditransmisikan ke generasi2 sekarang,tak berubah seperti zaman Muhammad saw hidup…. “[Schwally, Geschichte des Qorans, Leipzig: Dieterich’sche Verlagsbuchhandlung,1909-38, Vol.2, p.120.]

  49. QS AlHijr ayat 9 menyatakan bahwa Allah SWT dirinya sendiri telah menjamin otentisitas/keaslian ayat-ayat Qur’an dari masa di wahyukan, di kumpulkan, dibukukan oleh tangan siapapun, telah di jamin dengan kekuasaan Allah swt.

    Kalau Luthfi yg bertitel PhD tetapi bertitel SD atas ilmu Qur’an pasti tidak yakin dan tidak percaya atas jaminan kemurnian ayat-ayat Qur’an tsb.

    Orang spt ini tidak perlu di dengar semua ucapan2nya, tidak perlu di baca buku2nya, tidak perlu di ajak bicara, diajak sebagai teman, karena dia sendiri telah berani menantang Allah SWT dan Qur’anNya, berarti di telah kaafir, keluar dari Islam. Buat apa kita mendengarkan ucapan2 dan bergaul dengan orang kaafir spt ini.

  50. Hi! I’ve been reading your website for a while now and finally got the courage to go ahead and give you a shout out from Humble Tx! Just wanted to mention keep up the fantastic work!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *