Pendidikan Tinggi : merugikan mahasiswa ?

Sebuah tulisan di International Herald Tribune kembali mengingatkan saya akan sebuah pertanyaan yang muncul di benak saya sejak beberapa tahun yang lalu; apakah pendidikan tinggi kita justru merugikan mahasiswa ?

Tulisan yang berjudul “For many Indians, higher education does more harm than good” menyimpulkan bahwa demikianlah halnya untuk sebagian mahasiswa. Dengan perkecualian untuk beberapa universitas di India yang memang peduli, universitas-universitas lainnya lebih berfokus kepada kuantitas daripada kualitas.
Hasilnya adalah sebuah paradox – para sarjana mengeluh kesulitan mencari pekerjaan, sedangkan perusahaan mengeluh kesulitan mencari tenaga kerja yang berkeahlian.
Sering jugakah kita mendengar hal seperti ini di Indonesia ?

Beberapa kutipan dari artikel ybs :

most of the 11 million students in the 18,000 Indian colleges and universities receive starkly inferior training, heavy on obeisance and light on marketable skills

Mirip sekali dengan yang saya alami sendiri, dimana saya sering terpaksa bolos kuliah karena sibuk mempelajari berbagai aspek komputer, yang tidak diajarkan di kampus, namun dibutuhkan di “dunia nyata”.

The problem, experts say, is in a classroom environment that infantilizes students well into their mid-20s, emphasizing silent note-taking and discipline at the expense of analysis, debate and persuasion.

Students at second- and third-tier colleges suffer not because of a dearth of technical ability or intelligence, critics note. Most simply lack the “soft skills” sought by a new generation of employers but still not taught by change-resistant colleges: the ability to speak crisp English with a placeless accent, to design and give PowerPoint presentations, to write in logically ordered paragraphs, to work collegially in teams, to grasp the nuances of leadership.

Walaupun kemampuan teknis juga penting, namun “Soft skills” adalah kuncinya. Seperti semangat untuk maju & tidak takut dengan hal-hal yang baru, kemauan untuk mempelajari hal-hal yang baru. kemampuan bekerjasama di dalam suatu tim; secara umum, berpikir dan bertindak positif.

But even as graduates complain of the paucity of jobs, companies across India lament a lack of skilled talent. The paradox is explained, experts say, by the poor quality of the undergraduate experience. India’s thousands of colleges are swallowing millions of new students every year, only to spit out degree holders that no one wants to hire.
.
“It’s when you practice the skills that you actually learn them,” Cherian said.

Saya pikir akan baik sekali jika institusi-institusi pendidikan tinggi di Indonesia mulai menyertakan marketable & soft skills ke dalam kurikulum S1-nya (lebih bersifat praktis). Biarlah kurikulum yang bersifat akademik difokuskan pada level S2 dan S3.
Dengan demikian, mudah-mudahan lulusan universitas akan lebih mudah untuk menemukan / membuat lapangan kerja; dan para akademisi tetap dapat berprestasi di jenjang S2 dan S3-nya.

Bagaimana menurut Anda ?

9 thoughts on “Pendidikan Tinggi : merugikan mahasiswa ?

  1. Gak setuju dengan saran anda.
    Kalau kubilang, karena kita butuh keahlian praktis, seharusnya tingkat2 D3 digalakkan.

    Seringkali karena kebebasan memilih mata kuliah, akhirnya kemampuan D3 dan S1 tidak terlalu berbeda.

    Almarhum J. Drost pernah menulis hanya 30% lulusan SMU yang layak masuk perguruan tinggi. Diprotes memang.. tetapi ada benarnya.

    Di tulisan lain, dia juga menyatakan, seharusnya yang diperkuat adalah pendidikan menengah.

  2. mengingat bahwa kecenderungan bahwa setelah S1 ingin bekerja, dan biasanya juga company membutuhkan that kind of people, saya setuju dengan pendapat Mas Harry

  3. It’s when you practice the skills that you actually learn them,” Cherian said.
    ———

    what a word.

    ini bukan masalah setuju atau tidak setuju, but what this article say is a fact.

    mirip dengan post saya terakhir di milis indo-svjobs tentang lacking of feasibility for generalist.

  4. kunderemp – tadinya saya pikir juga demikian.
    .
    Tapi kemudian saya menemukan beberapa proyek, dimana bahkan untuk pekerjaan yang “remeh” sekalipun, mereka menuntut lulusan S1. Lulusan D3 jadi tidak ada harapan.
    .
    Jadi kalau S1 sudah beres kualitasnya, saya kira D3 jadi ada kans untuk dilirik kembali.
    .
    Saya setuju sekali dengan J.Drost. Sebetulnya secara fisik, siswa SMU itu sudah dewasa, dan sudah layak untuk mulai bekerja. Jadi sekarang tinggal pendidikannya; bagaimana agar pikirannya juga menjadi dewasa pada umur tersebut.
    .
    Lalu diarahkan agar siap kerja, atau membuka lapangan pekerjaan sendiri.
    .
    Yang terakhir ini agak sulit sih pada saat ini, karena uang yang berputar di masyarakat semakin sedikit. Yang kaya makin kaya, dan yang miskin makin miskin. Biaya hidup juga terus meningkat.
    Makin jelas terlihat fenomena makin banyak penjual daripada pembeli. Pada tahun 1970 dulu, memiliki 1 buah toko sudah memungkinkan pemiliknya untuk memiliki rumah dan mobil. Sekarang ini sudah sulit sekali untuk begitu.
    .
    Melantur ya, ok kira-kiranya begitu saya pikir. Trims untuk urun rembug semuanya.

  5. wah, kalau kayak gini harusnya ada standarisasi antara satu Pt dgn PT lainnya.
    Sy merasakan, kok kadang2 suatu PT gampang bgt lulusnya 🙁
    menyedihkan

  6. Masalahnya di Indonesia pendidikan itu bisnis yang kaya jualan kacang goreng. Pengendalian kualitasnya, evaluasi kerjanya asal-asalan.

  7. Saya lebih prefer para lulusan SMU untuk masuk ke politeknik atau pendidikan kejuruan yang mempersiapkan mereka untuk siap bekerja atau berbisnis.

    Universitas idealnya adalah tempat para researcher/calon researcher menelorkan ide-ide baru untuk dikembangkan di Industri.

    Pendidikan tinggi juga harus mempersiapkan mahasiswa tidak hanya menjadi pekerja, tapi menjadi entrepreneur.

  8. lulusan s1 cenderung hanya menerima pelajaran, sedangkan lulusan s2 dan s3 terkondisikan untuk melakukan penelitian,
    makanya sarjana s1 belum sepenuhnya bisa menghadapi dunia kerja

Leave a Reply

Your email address will not be published.